"Siapa wanita yang bersamamu tadi?"

"Kau tak perlu tahu."

"Siapa?!"

"Jangan berteriak padaku!"

"Aku bertanya dan kau menjawab hal lain. Apa susahnya menyebutkan nama wanita jalang itu?!"

"Jangan sebut dia jalang!"

Sehun kecil menutup telinga bersamaan dengan suara pekikan ibunya di dalam sana. Ia tak tahan mendengar suara-suara itu‚ serta pekikan sakit dan benci dari kedua orang tuanya. Ia bersembunyi di balik pintu kamarnya‚ berharap suara yang membuatnya menangis itu menghilang dan ia bisa tidur dengan nyenyak. Namun pertengkaran itu tak juga usai. Bahkan Sehun kecil merasakan hantaman sebuah benda ke pintu kamarnya‚ yang membuatnya semakin bergetar ketakutan.

"Apa salahku? Kuberikan semua yang kumiliki untukmu tapi kenapa kau memilih wanita lain?"

"Kau salah karena sudah memberiku semuanya. Bukankah dari awal aku sudah bilang ka―"

"Jangan sakiti ibuku!"

Oh Jae Ho menoleh pada sosok Sehun kecil yang mengintip di balik pintu. Bocah kecil berumur lima tahun itu terlihat takut menatapnya‚ sedikit marah juga mengancamnya. Tatapannya yang lucu itu membuat Oh Jae Ho mendenguskan tawa. Diliriknya lagi Song Jung Ha yang mengisyaratkan Sehun kecil untuk kembali bersembunyi di balik pintu. Dan Oh Jae Ho menyeringai.

"Kupikir kau sudah tidur‚ sayang." ujar Oh Jae Ho lembut. Ia mendekat pada Sehun yang kini menatapnya tajam. "Kenapa kau terbangun?"

"Karena ayah memukul ibu." jawab Sehun.

"Kapan ayah memukul ibumu‚ hm?"

"Jangan sentuh Sehun!" peringat Jung Ha. Perempuan itu menepis tangan Jae Ho yang hendak mengusap pipi putranya. Diperlakukan seperti itu oleh istrinya‚ Jae Ho menatap nyalang Jung Ha‚ menegakkan tubuh‚ dan kembali menampar pipi Jung Ha.

Suara tamparan itu terdengar nyata. Sampai Sehun terbangun dari mimpi buruk yang selalu ia dapati beberapa hari terakhir ini.

Memandang langit-langit kamarnya‚ Sehun mencoba untuk menenangkan diri. Rasa marah dan takut masih saja terasa sampai sekarang. Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Kemudian ia mendudukkan diri‚ waktu menunjukkan pukul lima pagi saat ia memeriksa jam digital di jam dekat tempat tidurnya.

Sehun menghela napas. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi setelah ini. Ia berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya dan bayangan kejadian setelah tamparan ayahnya untuk ibunya yang tiba-tiba terlintas begitu saja. Sehun kembali menghela napas.

"Astaga…" ia bergumam sembari mengusap wajahnya dengan kesal. "Jangan berpikiran macam-macam dan tidur saja." sugestinya pada diri sendiri. Ia mengangguk kecil‚ setuju dengan sugestinya. Kemudian Sehun membaringkan tubuh dan memejamkan mata untuk kembali tidur.

"Aduh‚ aduh‚ panas‚ panas."

Sehun mengernyitkan kening.

"Aduh‚" suara barang-barang jatuh terdengar kemudian. "Astaga‚ aku akan membuatnya terbangun."

Sehun tersadar. Lelaki itu menahan tawa dan ia kembali membuka mata. Suara pelan milik Luhan yang ia dengar beserta suara berisik dari luar sana mendadak menarik perhatiannya. Sehun turun dari tempat tidur‚ mengintip sedang apa Luhan di apartemennya pagi-pagi sekali. Luhan sedang mengibas-ibaskan kedua tangan pada salah satu kakinya. Sehun tersenyum. Ia membuka pintu dengan pelan‚ keluar dari kamarnya‚ lalu sengaja menutup pintu dengan suara keras. Luhan tersentak kaget karenanya.

"Aduh‚ jantungku." gumam Luhan mengelus dada. Ia mendongak dan melihat Sehun sudah berada di depannya. Dengan refleks Luhan menutup wajah‚ berkata‚ "Kau mengagetkanku‚ ya ampun."

Sehun nyengir. "Kau yang membangunkanku."

Giliran Luhan yang nyengir. "Hehe‚ maaf sudah membangunkanmu." ujarnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Kau tadi bilang panas." ujar Sehun. Ia memeriksa kedua tangan Luhan dan tak menemukan bekas apapun di sana.

Luhan menggeleng sembari menarik kedua tangannya. "Aku tidak bilang begitu."

"Iya‚ kau tadi bi―"

"A-aduh‚" Luhan membekap bibirnya setelah itu.

Sehun menaikkan kedua alis. Ia menatap Luhan bingung sementara mata perempuan itu sesekali melirik ke bawah. Sehun pun menunduk. Dan ia menemukan lututnya yang menyentuh kaki Luhan yang memerah. Sehun kembali mendongak. "Kakimu?" tanyanya. Luhan mengangguk pelan dan Sehun menghela napas. Dilihatnya kondisi dapur setelah itu. Kursi dekat kompor dan laci atas yang terbuka. Ia kembali menatap Luhan‚ dan perempuan itu tersenyum kekanakan setelah itu.

"Apa yang kau lakukan pagi-pagi sekali di sini?"

"Aku hanya membuatkanmu makanan." aku Luhan pelan. Ia menunduk dan melirik-lirik Sehun yang mengoleskan salep di kakinya. "Kyungsoo bilang kau tak pernah sarapan. Kau hanya makan roti untuk mengganjal perutmu."

Sehun meliriknya‚ tersenyum dalam tundukan.

"Kau punya apartemen yang luas tapi kenapa sarapan saja kau hanya makan roti?" tanya Luhan‚ ia melirik Sehun dan menunduk lagi saat Sehun menatapnya.

"Aku hanya tidak biasa sarapan."

"Tapi tetap saja." Luhan bergumam pelan. "Badanmu kurus." lanjutnya seraya menunjuk tubuh Sehun dengan ujung jari.

Sehun tertawa mendengarnya. "Sudah kubilang aku tidak biasa."

"Jadi biasakan saja." ujar Luhan cepat. "Biar aku yang membuatkannya untukmu."

"Haruskah kau datang pagi-pagi sekali dan mengganggu tidurku?"

Luhan mengerjap. "I-itu‚ aku bisa―"

"Pakai saja kamar kosong di sana." Sehun menunjuk sebuah pintu di belakangnya dengan ibu jari. "Supaya kau bisa membuatkanku sarapan seperti yang kau mau tanpa membuat ribut."

Luhan menggeleng dengan cepat. "Tidak‚ tidak. Bukan maksud―"

"Kau hanya perlu di sisiku." ujar Sehun pelan. Ia memeluk Luhan yang kebingungan seraya bergumam. "Aku bisa memelukmu kalau aku ketakutan."

Luhan terdiam sejenak. Ia melirik Sehun dan lelaki itu terlihat lelah. Luhan bingung. Memangnya apa yang dilakukan Sehun setelah bangun tidur sehingga ia terlihat lelah? Karena melihatnya terluka? Luhan menghela napas pelan. Begitu Luhan memutuskan untuk membalas pelukan Sehun‚ ia mencoba untuk bertanya‚ "Memangnya apa yang membuatmu takut?"

Sehun diam tak menjawab. Justru Sehun makin menenggelamkan diri dalam pelukan Luhan yang terasa nyaman. Bukannya tak ingin jujur pada Luhan. Hanya saja Sehun tak ingin Luhan khawatir‚ juga tak ingin ia terlalu bergantung pada Luhan. Kalau saja itu terjadi‚ maka Sehun tak bisa menerima resiko dari apa yang ia lakukan selama ini.



Sudah lebih dari dua bulan. Tak ada yang berubah‚ semuanya baik-baik saja. Luhan selalu tersenyum di sebelahnya‚ memeluknya‚ bahkan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja kalau Sehun bermimpi buruk.

Seperti sekarang misalnya. Malam itu waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Sehun terbangun karena mimpi buruk itu datang lagi dan lagi. Sehun membuka mata‚ menatap langit-langit‚ lalu mendengus. Lelaki itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan menyusup ke dalam kamar Luhan lagi. Terserah‚ kalau ia mendengar Luhan mengomel-omel lagi karena mengganggu tidurnya‚ Sehun akan mendengarkan. Toh omelan itu juga akan berhenti karena Luhan bakal tertidur setelahnya.

Sehun hendak membuka pintu kamar Luhan pelan-pelan. Namun tiba-tiba pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka dari dalam. Sehun melompat ke belakang‚ terkejut karena melihat Luhan membuka pintu dengan mata terpejam.

Luhan mengintip Sehun dan menguap. "Mimpi buruk lagi‚ hm?" tanya Luhan serak. Perempuan itu berjalan melewati Sehun menuju dapur.

Sehun mengangguk atas pertanyaan Luhan. "Aku belum masuk ke kamarmu tapi kau sudah bangun duluan." ujar Sehun.

"Aku sudah hafal kalau kau mimpi buruk. Ini sudah jadi kebiasaan untukku." ujarnya. Ia menghela napas pelan. "Haruskah aku membuatkanmu susu supaya kau tak mimpi buruk lagi?" tanyanya setengah kesal.

"Hei‚ aku sudah dewasa tahu."

"Terserah. Mulai besok aku akan membuatkanmu susu."

"Tapi kan―"

"Diam." celetuk Luhan dengan nada seperti seorang ibu yang kesal pada anaknya. Lantas Luhan memeluk Sehun dan kembali melanjutkan‚ "Kau harus tidur bayi besarku…" sembari mengusap-usap punggung Sehun.

Sehun berdecih pelan. Namun ia menahan tawa karena punggungnya terasa geli. Ia balas pelukan Luhan‚ lalu menggendong tubuhnya sehingga Luhan berteriak kecil. Sehun membawa Luhan ke sofa‚ dan membaringkan tubuh mereka di sana. Dilihatnya wajah Luhan saat berada di atasnya‚ lalu Sehun mengecup bibirnya sekali. Luhan tertawa kecil karena itu.

"Jangan terlalu sering menciumku." ujar Luhan. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Sehun sehingga Sehun harus bergeser untuk berbagi tempat. "Aku jadi ingin kau menciumku terus-menerus."

"Bukankah itu bagus?"

Luhan mencubit Sehun. "Bagus apanya?" tanyanya setengah kesal. Ia tersenyum melihat Sehun meringis karena cubitannya. "Sudahlah. Cepat tidur. Kalau kau tidak tidur sekarang‚ kau akan dapat omelan dari dosenmu lagi."

Sehun menggerung seperti kucing‚ menggemaskan sekali suaranya. Ia memeluk Luhan‚ dan tersenyum kekanakan. Luhan tak bisa menahan tawa karenanya. "Aku senang bisa seperti ini." gumamnya pelan. Sehun menatap Luhan dan mengecup keningnya singkat. "Bersamamu‚ aku merasa sangat-sangat bahagia."

Luhan tersenyum mendengarnya. "Jangan bicara saja. Cepatlah tidur." ujarnya. Ia mengecup ujung hidung Sehun‚ balas memeluknya‚ lalu memejamkan mata. Sehun tersenyum dan ikut memejamkan mata setelah itu.

Tapi kemudian Luhan bertanya‚ "Sebenarnya apa yang kau mimpikan?" dan itu membuat Sehun mendengus dalam pejaman matanya.

"Kau memintaku untuk diam dan tidur tapi kau yang mulai mengajakku berbicara." protes Sehun. Luhan tertawa pelan. "Aku mimpi tentang ibuku."

"Lalu?"

"Dia terluka. Dan aku merasa takut."

"Hm?" Luhan bingung. "Kenapa bisa takut?"

"Karena aku merasa buruk pada diriku sendiri‚ jadi aku ketakutan."

"Apa yang membuatmu merasa buruk? Kau baik‚ banyak orang yang menyuk―"

"Aku tak bisa menjaga ibuku dengan baik. Jadi aku merasa buruk."

Lantas Luhan membuka mata dan menatap Sehun yang masih saja memejamkan mata. "Kupikir kau bermimpi tentang hantu." gumamnya. Giliran Sehun yang tertawa pelan.

"Karena masih kecil‚ aku tak bisa melakukan apapun untuk menjaga ibuku yang terluka." Sehun terdiam sebentar. "Ya… Seperti itulah…"

Luhan diam sebentar memikirkan balasan cerita Sehun. "Kau masih kecil‚ jadi wajar kalau kau tak bisa menjaga ibumu dengan benar." katanya. Ia kembali mengusap-usap punggung Sehun dengan halus. "Tidak apa-apa. Ibumu akan baik-baik saja."

Sehun mengangguk pelan. Ia mengamini hal itu dalam hati. Semoga saja ibu baik‚ baik‚ dan selalu baik-baik saja.

Kemudian yang Luhan lihat adalah Sehun yang tertidur. Lelaki itu sudah memasuki alam mimpi‚ dan Luhan menyadarinya. Luhan tersenyum‚ memandangi wajah damai Sehun sejenak‚ lalu ikut tertidur.



"Luhan‚"

Si pemilik nama menoleh pada Yixing yang memanggilnya. "Ada apa?" tanyanya.

"Kurasa ada yang menunggumu." jawab Yixing. Ia kelihatan berpikir saat Luhan menatapnya tak mengerti. "Atau mencarimu? Aku tak tahu pasti."

"Hei‚ apa yang kau maksud?" tanya Luhan. Ia tertawa garing sebelum Yixing menggeleng padanya.

"Serius. Aku melihat―" Yixing menoleh ke segala arah‚ lalu mengerutkan kening bingung. "―tadi―aku―"

"Apa maksudmu?" tanya Luhan semakin bingung. Ia ikut menoleh ke segala arah‚ dan tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sini.

Yixing tercenung sebentar. "Ah‚ lupakan saja." ujarnya sembari mengibaskan sebelah tangan ke udara. "Mungkin aku salah lihat." gumamnya pelan.

Luhan memilih untuk percaya akhirnya. Ia mengangguk kecil dan menikmati capuchinonya siang ini.

"Oiya. Kulihat akhir-akhir ini Direktur Shin bersikap biasa saja padamu." ujar Yixing. Luhan menatapnya sejenak‚ lalu tersenyum.

"Ya. Dia memutuskan untuk melupakanku." jawab Luhan seadanya.

"Lalu Kris?" Luhan mengangkat sebelah alis heran mendengar Yixing menyebutkan nama mantan adik iparnya itu. Yixing berdeham kecil‚ menggaruk belakang lehernya gelagapan‚ lalu melanjutkan‚ "Eh‚ maksudku―aku tak lagi melihatnya bersamamu akhir-akhir ini."

Luhan menahan senyum. "Ada yang harus Kris lakukan di China. Jadi Kris tak bisa bersamaku." jawab Luhan. Ia tertawa saat Yixing mengangguk-angguk dengan wajah merona malu. "Kau sering memperhatikannya?"

"Tidak juga." Yixing menggeleng pelan. "Aku hanya tidak sengaja selalu melihatnya."

"Selalu?" tanya Luhan dengan nada menggoda. Wajah Yixing makin memerah macam tomat busuk.

"Hanya tidak sengaja!" ketus Yixing setengah kesal‚ sisanya malu-malu kucing. Luhan tertawa setelah itu.

Namun kemudian tawanya berhenti karena getaran dari ponselnya. Ada panggilan masuk untuknya. Jadi Luhan segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut setelah tahu kalau Sehun yang menghubunginya. Ada senyum di wajahnya saat Luhan memulai percakapan dengan kata‚ "Halo?"

"Luhan‚ kau ada di mana?"

Luhan mengerutkan kening. Kenapa suara Sehun terdengar tergesa-gesa?

"Hei‚ kau ada dimana sekarang?"

"Aku bersama Yixing di kafe." jawab Luhan. "Memangnya kenapa?"

"Pulanglah sekarang."

"Hah?"

"Cepat kembali ke apartemenku."

Luhan makin bingung. "Tapi aku ha―"

"Aku akan bilang ke Soo Hyun hyung agar sisa pekerjaanmu diambil alih oleh pegawai yang lain." Sehun kembali bicara dengan tergesa-gesa. Luhan yang mendengarnya akhirnya mengiyakan meski ia bingung. Sehun ini kenapa‚ sih?

"Ya‚ baiklah. Aku akan kembali."

"Pastikan jangan sampai ada seseorang pun yang melihatmu keluar dari kantor." pesan Sehun.

Meski ia tak mengerti mengapa Sehun berpesan demikian‚ Luhan mengangguk. Ia menghela napas pelan setelah Sehun memutus panggilan kemudian.

"Apa? Ada apa?" tanya Yixing.

Luhan menggidikkan bahu sekilas sebagai jawaban.

Sementara di tempat lain‚ Sehun tak henti-hentinya membuat Jongin ikut bingung. Apalah temannya yang satu itu. Setelah mendapat telepon dari seseorang yang tidak ia tahu siapa namanya‚ Sehun mulai kelihatan seperti orang sinting yang mengkhawatirkan kucing kecil yang hendak menyeberang jalan besar. Astaga‚ Sehun membuatnya pusing melihat lelaki itu mondar-mandir setelah menelpon Luhan.

"Hei‚ hei." Jongin menginterupsi‚ Sehun sama sekali tak berhenti dari kegiatan mondar-mandir tak jelasnya. "Hentikan itu. Kau seperti nyamuk yang berdengung-dengung di telingaku. Berisik."

"Kau yang berisik." balas Sehun. Ia menghela napas.

"Apa? Dari tadi aku hanya diam. Kau saja yang berisik‚ bergumam tidak jelas pula. Bahkan kutanya saja kau malah mengerang." bela Jongin. Ia mendengus saat Sehun menatapnya kesal. "Apa? Kau ingin menyuruhku berhenti bernapas karena sedari tadi aku bernapas dan itu mengganggumu?"

"Sinting‚" gumam Sehun. Ia tak tahu kata itu sebenarnya untuk dirinya sendiri atau untuk Jongin yang mulai menggerutu karenanya.

"Sebenarnya kau ini kenapa‚ sih?" tanya Jongin lagi.

Sehun menggeleng. "Bukan apa-apa." jawabnya.

Jongin mendengus‚ lagi. Ia bangkit dari duduknya‚ meraih jaket serta tasnya yang berada di sofa‚ lalu berkata‚ "Aku pergi saja kalau begitu. Kau membuatku makin pusing." dan pergi setelah Sehun mengiyakan pamitannya.

Seperginya Jongin‚ Sehun membaringkan diri di sofa. Ia menatap langit-langit‚ berpikir. Tadi ia mendapat telepon dari Kim Joonmyeon‚ orang kepercayaannya‚ bahwa Luhan sedang diawasi seminggu ini. Tanpa diberi penjelasan pun Sehun tahu kalau itu perbuatan ayahnya. Ia jadi ingat kalau dulu Baekhyun juga mengalami hal yang sama. Diawasi dan―Ah‚ ya Tuhan… Kenapa ayahnya jadi menyebalkan sekali‚ sih?

Sehun menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Memandangi langit-langit apartemennya membuat ia teringat akan masa lalu. Masa di mana ia belum mengenal Luhan maupun Baekhyun‚ sebelum ia tumbuh dewasa di dalam kekangan ayahnya‚ dan saat semuanya masih baik-baik saja. Sehun jadi menyesal mengapa ia selalu menangis saat ibunya terluka. Kalau ia bisa memutar waktu‚ maka Sehun akan berusaha menjadi anak yang kuat untuk melindungi ibunya.

Tidak berapa lama kemudian‚ Luhan datang dengan tergesa-gesa. Perempuan itu menutup pintu dengan keras‚ berlari menghampiri Sehun yang tersentak di sofa‚ lalu bertanya‚ "Apa? Apa? Ada apa? Kenapa kau memintaku datang?" dengan tergesa pula.

Melihat Luhan datang dengan kepala tertutup blazer‚ Sehun terkekeh pelan. Ia melambaikan tangan mengisyaratkan Luhan untuk mendekat. "Kemarilah‚"

Luhan berjalan mendekat meski ia bingung. Sehun menariknya untuk duduk bersama dan memeluknya. Tak ada wajah bersalah di sana. Luhan mengerutkan kening. "Apakah kau sedang mengerjaiku?" tanyanya curiga.

"Tidak." Sehun menggeleng. "Aku bersyukur kau baik-baik saja."

"Aku memang baik-baik saja." sahut Luhan. Sehun menjauh darinya tanpa melepaskan pelukan‚ lalu Luhan kembali bertanya‚ "Kenapa kau memintaku untuk pulang? Padahal pekerjaanku di kantor masih banyak."

"Apa akhir-akhir ini kau merasa terganggu?" Sehun bertanya balik. Luhan mengerutkan kening mendengarnya.

"Terganggu tentang?"

Sehun berpikir sebentar untuk memilih kata-kata yang tepat sebagai jawaban. "Tentang situasi di sekitarmu‚" Sehun ragu dengan jawabannya.

Luhan terlihat mengingat-ingat. "Kupikir… Iya." jawab Luhan‚ ikutan meragu. "Aku merasa ada orang yang mengikutiku. Tapi ketika aku melihat sekitar‚ tak ada orang yang mencurigakan." lanjutnya. Ia mengerutkan kening‚ lalu menatap Sehun. "Kenapa bertanya tentang itu? Memangnya kau tahu sesuatu?"

Sehun menghela napas pelan. "Itu orang-orang ayahku." ujar Sehun‚ Luhan menaikkan kedua alis terperanjat. "Mungkin ayahku sudah tahu tentang hubungan kita. Jadi dia mulai mengawasimu."

Luhan termenung sejenak. Ia bingung harus membalas apa karena reaksi ayahnya Sehun setelah mengetahui hubungannya dengan Sehun sungguh diluar dugaannya. Luhan kira Sehun akan dimarahi‚ mungkin juga Sehun atau ibunya yang disakiti. Tapi ini‚ kenapa jadi ia yang diawasi?

"Jangan terlalu terkejut." ujar Sehun menenangkan. Ia meraih salah satu tangan Luhan‚ lalu mengusap punggung tangannya dengan halus. "Kau akan baik-baik saja. Percaya padaku."

"Apa Baekhyun juga pernah mengalami hal ini?" tanya Luhan pelan. Sehun mengangguk sebagai jawaban dan Luhan menghela napas. "Mungkin itu alasannya memintamu agar hubungan kalian sebatas teman saja."

Sehun menggidikkan bahu sekilas. "Mungkin saja iya." jawabnya bergumam.

Luhan termenung sejenak. "Tapi Sehun. Kenapa ayahmu mengawasiku?" tanya Luhan dengan pelan. Ia menatap Sehun yang juga menatapnya. Kemudian Luhan merasa menggigil. Sehun membuatnya takut pada beberapa hal yang akan terjadi dan tak akan ia tahu kapan datangnya hal itu.

"Karena ia menunggu waktu yang tepat."

"Kenapa harus menunggu?"

Sehun menghela napas pelan. Sulit menjelaskannya secara gamblang pada Luhan cerita dari awal sampai akhirnya. In terlalu rumit. Luhan mungkin bingung kalau ia bercerita yang sebernarnya. Jadi ia berusaha untuk mencari perumpamaan supaya Luhan bisa paham.

"Anggap saja kau umpannya‚ aku ikannya‚ ibuku insangnya‚ dan ayahku adalah orang yang memancing ikan. Ayahku melempar umpan dan aku memakannya. Kemudian aku terjebak tak bisa meloloskan diri. Ayahku menarik kail‚ mengangkatku ke permukaan‚ dan aku mati karena insangku tak bisa membuatku hidup. Singkatnya seperti itu."

Hening sejenak. Luhan masih berpikir‚ mengolah penjelasan Sehun dengan benar. Mungkin yang dimaksud Sehun adalah ayahnya akan mengancam Sehun dengan dirinya―Luhan― tentang ibunya Sehun. Mengancam seperti‚ 'kalau kau blablabla pada Luhan‚ maka aku akan blablabla pada ibumu!' begitu? Mungkin seperti itu. Atau bisa lebih parah lagi? Karena Sehun tadi menyebutkan ia bisa mati karena isangnya―ibunya― tak bisa membuatnya bertahan hidup.

Ah‚ betapa beratnya masalah keluarga itu sampai Luhan saja masih setengah paham.

Melihat kilat aneh di bola mata Luhan‚ Sehun tersenyum. Ia mengecup bibir Luhan lalu berkata‚ "Kita akan baik-baik saja. Tidak apa-apa."

Luhan mengangguk kecil‚ mengamini kalimat itu dalam hati. "Kalau begitu aku harus lebih berhati-hati pada ayahmu." ujar Luhan pelan. Ia menyandarkan kepalanya pada dada Sehun‚ lalu membiarkan Sehun memeluknya.



Setelah hari itu‚ Luhan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Luhan berusaha meyakinkan Sehun bahwa lebih baik mereka hidup berpisah supaya ayahnya tak curiga. Jadi Sehun mengiyakan saja meski sejujurnya ia merasa berat. Sehun jadi tak bisa memeluk Luhan dan berduaan dengan Luhan lagi―Daripada Luhan dan ibunya berada dalam bahaya‚ ia bisa gila karena hal itu.

Pun setelah hari itu‚ Luhan merasa aman. Tak ada yang membuatnya terganggu. Selain itu‚ Sehun juga baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja. Sampai hubungan mereka hampir berumur setahun pun‚ semuanya masih baik-baik saja. Ayahnya masih belum tahu tentang hubungan mereka―mungkin. Atau pria itu belum ingin menyerang Sehun sampai sekarang.

Malam itu‚ Luhan ada di apartemen Sehun. Lelaki itu memintanya dan bilang bahwa ada sesuatu yang penting. Jadi setelah pulang dari kantor‚ Luhan segera melesat ke apartemen Sehun. Kiranya ada sesuatu yang tak beres dan Sehun butuh dirinya. Tapi nyatanya lelaki itu meminta Luhan untuk membantunya membuat tugas. Dengan wajah tak berdosa pula. Kurang ajar!

Begitu menghabiskan air putih dalam gelas‚ Luhan menatap Sehun kesal. Gelas itu diletakkannya di dekat laptop dan Luhan berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Sehun yang asyik memainkan ponsel di sana. Luhan meringis melihat Sehun sama sekali tak menyadari keberadaannya. Maka dengan kesal‚ Luhan merebut ponsel dari tangan Sehun‚ lalu menatapnya sembari berkacak pinggang.

"Apa?" tanya Luhan saat Sehun mengerutkan kening tak suka padanya. "Kau mau protes karena aku mangganggumu?"

"Kenapa kau mengambil ponselku?" Sehun bertanya balik. Luhan makin kesal.

"Lalu kenapa kau tega sekali membiarkanku mengerjakan tugasmu sementara kau sendiri asyik dengan ponsel?"

Sehun tersenyum. Ia meraih salah satu tangan Luhan‚ menariknya‚ dan membuat Luhan duduk disebelahnya. Dengan tenang Sehun mengambil lagi ponselnya sehingga Luhan makin geram dibuatnya. Sehun terkekeh pelan. Ia mengusak puncak kepala Luhan dengan gemas.

"Maaf." ujar Sehun lembut. Tatapan Luhan melunak setelah itu. "Aku tak bisa mengerjakan tugasku karena mataku benar-benar lelah. Kau tak bisa lihat kalau mataku merah?"

"Tapi kenapa kau malah bermain game di ponselmu?" tanya Luhan setengah kesal. Sehun kembali tersenyum.

"Untuk hiburan saja." jawab Sehun seadanya. Luhan mengerang kesal seraya menepuk lengan Sehun. Ia merengut kemudian. "Kenapa? Kau marah?"

"Tentu saja!" ketus Luhan. "Kau sudah membuat jari-jariku bengkok semua!" katanya. Luhan menunjukkan jemari lentiknya yang mencengkeram udara. Sehun tertawa melihatnya. "Kau harus bertanggung jawab!"

"Haruskah?"

Luhan menatapnya sebagai jawaban 'iya' atas pertanyaan barusan.

"Aku bisa meluruskannya." ujar Sehun. Ia meraih tangan Luhan yang katanya bengkok semua jemarinya itu‚ lalu menggenggamnya. Sehun menyelipkan jemarinya disela-sela jemari Luhan. Luhan menatapnya dengan rona di pipi‚ Sehun tersenyum geli melihatnya.

Aduh Sehun ini. Baru kali ini tangannya digenggam Sehun dengan rasa yang berbeda. Jika biasanya Luhan merasa istimewa karena tangan mereka berdua saling mengait‚ kini Luhan merasa luar biasa istimewa. Entahlah‚ mungkin karena Sehun menatapnya dengan tatapan kasih sayang yang mampu membuat Luhan meleleh macam es di kutub utara sana. Ada rasa tulus yang terselip diantara kasih sayang itu.

Luhan merasa―aduh jantungku‚ aduh hatiku‚ aduh mataku‚ aduh senyumku‚ aduh wajahku‚ aduh tubuhku‚ aduh! Kenapa kau bisa membuatku gila?!

"Bagaimana?" tanya Sehun tiba-tiba. Luhan mengerjap tersadar dari lamunan tak terarahnya dan menatap Sehun dengan alis terangkat.

"Apa?"

"Apakah sudah lurus?"

Dan Luhan dengan senyum lebar menjawab. "Mungkin jariku tak akan lurus sampai kau lelah menggenggamnya." dan ia tahu Sehun tak akan lelah menggenggam tangannya.

Sehun tertawa. "Mau jalan-jalan?"

"Kemana?"

Sehun memutar mata untuk berpikir. "Ah‚ sudahlah. Kita jalan-jalan saja. Aku jenuh di sini." katanya. Ia bangkit dari duduk dan menarik Luhan untuk ikut bersamanya.

Sementara Luhan merasa senang bukan main karena tangannya digandeng Sehun‚ lelaki yang menggandengnya ini sedang berpikir. Meski sekarang mereka masih baik-baik saja‚ mungkin suatu saat nanti mereka tak akan bisa seperti ini lagi. Sehun sudah tahu bahwa ayahnya hanya diam saja menonton perjalanan cintanya dengan Luhan saat ini. Tidak mungkin ayahnya tidak tahu bahkan sampai umur hubungannya dengan Luhan sudah mencapai kurang dari setahun. Sehun curiga‚ pasti ada yang direncanakan ayahnya. Pria itu pasti sedang menarik pelatuk pelan-pelan dan bersiap untuk menembak Sehun kapan saja.

Di luar ramai. Banyak pejalan kaki diantara mereka. Sedari tadi Sehun tak tahu harus berbicara apa meskipun Luhan menunjuk ini dan itu meminta responnya. Luhan masih sama‚ seperti anak kecil dan menggemaskan. Luhan memang lebih tua darinya‚ tapi sikap dan wajahnya seperti anak kecil. Babyface‚ Sehun menyukainya!

"Kenapa kau diam saja?"

Sehun menunduk melihat Luhan yang menatapnya heran. "Aku?" tanyanya menunjuk diri sendiri. Luhan mengangguk. "Aku hanya sedang melihat-lihat."

"Lihat apa? Trotoar?" Luhan mendesis pelan. "Kau mencari uang atau takut tersandung?"

Sehun hanya tersenyum. Tebakan Luhan membuatnya ingin sekali menggigit pipi perempuan itu dan mengunyahnya.

"Kau sedang memikirkan sesuatu ya?" tebak Luhan. Dari diamnya Sehun‚ ia bisa tahu kalau tebakannya memang benar. Luhan menahan senyum dan menghela napas panjang. "Kau selalu cerita padaku. Tak ingin bercerita?"

"Nanti saja ceritanya." ujar Sehun kalem. Ia menarik kaitan tangan mereka dan memasukkannya ke saku jaket. "Tanganmu dingin. Kau ini gugup atau memang kedinginan?"

Kepala Luhan meneleng. "Bagaimana bisa aku gugup dengan pacarku sendiri?"

Sehun terkekeh. "Masih dingin?"

Luhan mengangkat tangannya yang lain seraya berkata‚ "Yang ini kedinginan."

Sehun meraih tangan Luhan itu dan memasukkannya ke saku jaket yang lain. Kini mereka saling berhadapan. Dan Luhan tak mampu menahan tawa senang karena Sehun ini benar-benar membuatnya panas luar dalam. Aduh‚ semoga Sehun benar-benar tak membuatnya meleleh seperti yang ada di kartun-kartun itu.

"Aish. Kau tak perlu menyimpannya di sakumu. Aku punya saku sendiri." kata Luhan sok tenang. Ia menarik tangannya yang baru saja disimpan Sehun itu namun Sehun menahannya. Luhan mendongak dan menemukan Sehun yang menunduk menatapnya.

"Kalau hanya di saku tidak akan terasa hangat. Lebih baik kugenggam saja." Sehun benar-benar menggenggam tangannya! "Supaya lebih hangat."

Aduh‚ Luhan mulai meleleh. Rona merah kembali memenuhi wajahnya. Luhan benar-benar malu dan salah tingkah. Namun dengan segera Luhan menunduk untuk menyembunyikan rona memalukan itu dari Sehun. Bisa benar-benar mati kalau Sehun meledeknya karena rona itu.

"Kau malu‚ heh?"

Tuh kan‚ Sehun sebentar lagi pasti meledeknya.

Terdengar kekehan pelan setelah itu. "Angkat kepalamu‚ lalu tatap aku."

Seperti tersihir‚ Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Sehun. Aih‚ tatapannya… Rasanya Luhan ingin mengubur diri sekarang juga.

"Aku ingin kau berjanji tentang sesuatu."

Luhan mengerutkan kening samar. "Tentang?"

"Kau harus baik-baik saja."

"Hanya itu?" tanya Luhan. Sehun mengangguk dan Luhan mendenguskan tawa karenanya. "Tentu‚ aku akan baik-baik saja."

"Janji?"

Luhan mengangguk. "Janji."

Sehun tersenyum seraya mengusap puncak kepala Luhan dengan pelan. Ia beralih memeluk Luhan‚ membuatnya merasa lebih baik. Segala beban yang terdapat di bahunya serasa menguap dan menghilang. Sehun merasa plong. Setidaknya Luhan sudah berjanji untuk baik-baik saja. Lega…

"Hei‚" Luhan menginterupsi diantara pelukan mereka. "Kau tidak malu apa? Banyak yang melihat‚ tahu."

"Untuk apa malu? Aku sedang bersama pacarku sekarang. Anggap saja mereka iri."

Luhan berdecak pelan. "Dasar‚" gumamnya.

Sehun tertawa pelan. Ia menyelipkan kepalanya pada bahu Luhan‚ dan berbisik disana. "Aku menyayangimu. Benar-benar menyayangimu."

Luhan tersenyum geli. Bukan kegelian karena Sehun yang berada di bahunya‚ mengendus lehernya‚ atau karena suara pelan nan berat itu berbisik di depan telinganya. Luhan merasa geli karena ungkapan itu. Sehun baru saja bilang kalau lelaki itu menyayanginya. Dan Luhan tergelitik karena hatinya terasa hangat. Angin nakal menggelitik perutnya‚ membuat seluruh darahnya naik ke wajah. Luhan sampai harus menyembunyikan wajahnya di dada Sehun.

"Aku tahu." Luhan balas berbisik. "Aku juga menyayangimu. Benar-benar menyayangimu."


To be continue…


haaaai! Maaf ya lama hehe. Soalnya pas liburan aku nggabisa megang laptop lama-lama. Laptopku dimonopoli adekku hehe.

Dichapter ini berasa aneh ya? HunHan semua‚ trus kukasih beberapa petunjuk soal masalah keluarganya Sehun. Semoga aja Luhan ngga kelibat yaaaa... :3

Sengaja kukasih alur cepet supaya ff ini cepet kelar hehehe. Aku harus nuntasin Lucky One ku karena udah banyak yang nagih minta dilanjut tuh ff :'')

Udah ah. Udah malem juga. Semoga nggaada typo yaaa... Aku udah ngantuk soalnya hehe.

Makasih udah baca. Mohon reviewnya :)))