Saat itu sudah larut malam. Di dalam kamar bernuansa putih itu‚ hanya terdapat seorang wanita yang meringkuk di tempat tidur. Matanya tak terpejam‚ ia masih terjaga sepanjang hari ini. Ada kantung mata samar di bawah matanya. Ia tak bisa tidur sepanjang hari karena pikirannya selalu melayang‚ entah pada memori yang mana. Semua yang terjadi dalam hidupnya berputar terus-menerus di kepala‚ seperti film lama.

Wanita bergaun tidur putih itu menghela napas‚ mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Bayangan seorang anak lelaki yang sedang tertawa terlintas dibenaknya. Lalu berganti menjadi anak lelaki yang menangis dipelukannya. Gumaman‚ "Kenapa ibu pergi?" terdengar sayup. Suara anak kecil itu membayanginya.

Dari dulu‚ sampai sekarang.

"Bisakah ibu tetap tinggal? Aku tak ingin ayahku direbut hyung."

Permintaan itu… Ia tak bisa menjawab iya saat itu. Sosok kecilnya membuat ia harus rela melepaskan. Demi kebaikannya‚ demi kelangsungan hidupnya. Ia tak mau jika putra kesayangannya itu kesakitan karena dirinya. Saat itu dia masih terlalu kecil. Si wanita tak tega menukar kebahagiaan putranya hanya demi kebahagiaannya sendiri.

Memang pada dasarnya dia egois. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan pria itu supaya mereka bisa tetap bersama. Ia tak peduli jika apa yang ia punya habis hanya untuk pria itu. Ia terlanjur mencintainya. Sangat amat mencintainya. Cinta membutakannya‚ membuatnya jatuh tanpa sadar ke jurang yang dalam. Sampai ketika pria yang telah terbuai akan kasih sayangnya itu berpaling kepada wanita lain‚ ia masih tetap egois. Pria inilah yang menaungi hatinya. Ia tak akan pernah rela jika cintanya dibagi dengan wanita lain.

Bukankah semua wanita juga begitu?

Tapi begitu melihat binar polos putranya yang bertanya‚ "Apa tadi ayah memukul ibu? Apakah ibu kesakitan? Apakah aku harus menjadi superman nya ibu?" sisi egoisnya mengalah. Entah mengapa‚ ia ingin putranya tak berkata demikian padanya. Putranya masih tak tahu apa-apa. Belum waktunya ia tahu tentang pertengkaran kedua orang tuanya dan membuat masa depannya suram karena hal itu.

Tidak. Wanita itu tak ingin putranya seperti itu.

Si wanita kembali menghela napas. Ia memperbaiki posisi tidurnya‚ menjadi menghadap jendela dengan tirai yang tertembus cahaya bulan. Pikirannya masih melayang kemana-mana‚ dan ia tak bisa mengendalikan pikiran-pikiran itu kali ini.


...


Luhan baru saja keluar dari ruang meeting bersama Shin Soo Hyun saat ia merasa kembali diawasi. Meski Luhan masih bisa menjawab pertanyaan Soo Hyun dan tersenyum padanya‚ diam-diam Luhan memperhatikan sekitar. Tak ada orang yang mencurigakan. Luhan merasa sedikit lega. Mungkin itu hanya perasaannya saja.

"Apakah kau ada waktu luang?"

Luhan menoleh pada Soo Hyun‚ bertanya‚ "Memangnya ada apa?"

"Kau harus bertemu dengan seseorang."

"Siapa?"

"Lihat saja nanti." Soo Hyun tersenyum setelahnya.

Luhan menaikkan sebelah alis tak mengerti. Dia harus bertemu dengan seseorang? Siapa memangnya? Luhan pikir tak ada yang tak beres akhir-akhir ini. Semuanya baik-baik saja. bahkan hubungannya dengan Sehun.

"Setelah ini ke kafetaria‚ ya? Kurasa dia sudah menunggu." ujar Soo Hyun. Ia mendahului Luhan kemudian. "Oiya. Kau hanya perlu memperhatikannya. Kalau dia tahu aku datang bersamamu‚ mungkin dia akan marah. Aku hanya perlu pendapatmu." lanjutnya. Ia berbisik di akhir kalimat.

Kalau Luhan datang bersama dengan Soo Hyun‚ mungkin dia akan marah?

Dia?

Maksudnya Soo Hyun ingin dirinya bertemu dengan perempuan incarannya‚ begitu? Luhan tersenyum melihat Soo Hyun berjalan di depannya. Tadi Luhan mengira kalau Soo Hyun mulai lagi mengejar-ngejarnya. Ah‚ Luhan terlalu percaya diri.

Ponsel yang ada di saku tiba-tiba bergetar. Luhan merogoh dan mengambil ponsel. Ada panggilan masuk untuknya dari Sehun. Tanpa disuruh pun Luhan menerimanya. Ia tersenyum ketika menyapa‚ "Halo?"

"Luhan‚" Sehun memanggilnya‚ Luhan melebarkan senyum.

"Sedang tak ada kelas‚ ya?" tanya Luhan. Sehun berdengung dengan anggukan di seberang sana. Luhan mengernyitkan kening. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Ya‚ aku baik."

Luhan menghela napas lega. "Syukurlah‚" gumamnya.

"Kau ada di mana?" kini Sehun yang bertanya.

"Di kantor‚ tentu saja." jawab Luhan. Ia tertawa pelan. "Aku tidak sedang santai-santai di rumah‚ kau tahu."

"Kh‚ ya… Aku tahu itu."

"Eh‚ apa kau tahu kalau kakakmu punya pacar?"

Di seberang sana Sehun mengerutkan alis. "Hm? Tidak."

"Ah‚ bagaimana kau bisa tak tahu kalau kakakmu punya pacar?"

"Dia bukan kakakku." Sehun memutar mata kesal. "Kau tahu dia bukan kakakku."

"Ya‚ ya‚ ya… Aku tahu." balas Luhan jengah. Kemudian ia kembali berkata‚ "Sudah‚ ya… Aku harus ikut Soo Hyun dulu."

"Kemana?" tanya Sehun cepat. Suaranya terdengar tercekat‚ Luhan mengerutkan kening mendengarnya. "Halo? Kau mau ikut kemana?" tanya Sehun lagi. Terdengar tak sabar karena Luhan yang hendak menjawab pertanyaan pertama jadi terurung karena Sehun mengulang dengan cemas.

"Ke kafetaria."

"Jangan."

Luhan berhenti melangkah. Tepat di depan kafetaria yang ramai. Ia tak mendengar Sehun berbicara lagi setelah Sehun menjawab dengan pelan. Luhan memanggil nama Sehun dengan bingung‚ lelaki itu tak juga menyahut. Entah sudah kepanggilan yang keberapa‚ Luhan mendengar nada suara tanda panggilan terputus.

Luhan mengerutkan kening. Ada apa Sehun ini? Lelaki itu bertingkah seolah sesuatu akan terjadi. Padahal Luhan sendiri merasa ia sedang aman sekarang.

Ah‚ masa bodoh.

Luhan menggidikkan bahu acuh. Ia menyimpan ponsel dan kembali berjalan memasuki kafetaria. Di sana ia sudah melihat Shin Soo Hyun duduk bersama seorang perempuan yang tak Luhan kenali. Perempuan itu cantik‚ bermata kelinci‚ dengan rambut hitam sebahu yang ikal‚ juga senyum yang menawan. Luhan tersenyum geli melihat Soo Hyun tak bisa berkedip melihat senyum perempuan itu.

Astaga‚ Soo Hyun membuat Luhan tergelitik.

Luhan memilih duduk di salah satu meja kosong untuk memperhatikan‚ sesuai permintaan Soo Hyun sebelumnya. Tidak lama kemudian‚ ponselnya bergetar. Ada pesan untuknya. Begitu Luhan membacanya‚ perempuan itu tersenyum.

Soo Hyun : Namanya Park Siyeon

Soo Hyun : Dia cantik‚ bukan?

Luhan : Ya. Dia cantik.

Luhan tersenyum sendiri. Ia meletakkan ponsel di meja‚ lalu kembali memperhatikan Park Siyeon. Baru beberapa detik memperhatikan‚ bahu Luhan ditepuk beberapa kali oleh seseorang. Luhan mendongak‚ melihat seorang lelaki asing berpakaian formal.

"Nona Xi Luhan?"

Luhan mengerutkan kening. "Ya?"

"Kau dipanggil Presdir Oh sekarang."

Luhan belum sempat menjawab namun tangannya sudah terlebih dahulu ditarik dengan paksa. Luhan meronta tetapi ia gagal. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena setelah itu‚ lelaki asing ini membawanya menghindari keramaian dengan cepat.

Sampai-sampai Soo Hyun tak tahu kalau Luhan menghilang.



Luhan memang dibawa ke tempat Presdir Oh berada sekarang. Luhan mencoba untuk tenang selama perjalanannya kesana. Pria tua itu tak akan tahu hubungannya dengan Sehun‚ pria itu tak akan tega mencampuri urusan putranya sendiri‚ batinnya berkali-kali. Namun begitu ia masuk kesana‚ dan melihat siapa saja yang ada disana‚ Luhan tak bisa tenang.

Ada Sehun disana. Sedang menunduk‚ dan memalingkan wajah darinya.

Luhan mematung. Ia memandang Sehun dengan mata yang terasa panas‚ ia benar-benar tak bisa apa-apa sekarang. Selain tak percaya bahwa Sehun sekarang ada disini‚ tentunya. Kemudian Luhan tersadar. Saat Sehun menelponnya tadi‚ Sehun pasti sudah berada di sini‚ dan diawasi ayahnya. Luhan mencoba untuk terlihat tenang. Setidaknya ia tak perlu merasa takut karena ada Sehun disini.

"Ah‚ kau sudah datang nona Xi?" suara Oh Jae Ho membuat Luhan beralih pada pria itu. Luhan tersenyum‚ dan mengangguk padanya.

"Ya." jawab Luhan. "Kupikir ada hal yang penting karena orangmu menyeretku dengan tergesa-gesa tadi." sindirnya. Namun senyum masih tercetak jelas di wajah cantiknya.

Oh Jae Ho tertawa. "Maafkan mereka. Mereka benar-benar semangat bekerja denganku akhir-akhir ini." balasnya. Luhan tersenyum‚ dan Sehun mendecih pelan. "Kemarilah. Duduklah dengan Sehun."

Luhan beralih pada Sehun yang berwajah masam di sana. Perempuan itu menghela napas kecil. Meski ia tahu Sehun akan marah padanya jika Luhan menuruti apa kata Oh Jae Ho‚ Luhan tetap mendekat. Ini supaya Oh Jae Ho melihat tak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Sehun. Luhan berharap pria itu percaya walau kemungkinannya kecil sekali. Sehun pasti akan membuat kekacauan.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu‚ nona Xi." mulai Jae Ho seraya menegakkan punggung dari sandaran kursi. Pria itu melirik Sehun‚ lalu berkata‚ "Ah‚ Sehun‚ kenapa wajahmu seperti itu saat ada Luhan di sebelahmu?" dengan nada menyindir. Sehun mengalihkan wajah tak ingin menjawab. "Bukankah kalian baru saja bertelpon?"

Luhan mengerjap‚ melirik Sehun. Sementara Sehun sendiri masih saja bungkam dengan posisinya.

"Suaramu juga terdengar ceria‚ Luhan."

Ah‚ pria tua ini. Kenapa hobinya menyindir‚ sih?

"Lalu sekarang kenapa kalian bersikap seolah tak saling mengenal satu sama lain?"

Benar-benar…

"Beritahu aku‚ Sehun. Ayahmu ini benar-benar tak tahu."

Rasanya Luhan ingin menyumpal mulut pria ini dengan kaus kaki!

"Kalian tak berpacaran kan?"

Kali ini Sehun bereaksi. Lelaki itu menatap ayahnya dengan nyalang. Sementara ayahnya sendiri menunjukkan wajah tak berdosa yang menjengkelkan. Luhan benar-benar ingin menendang wajah pria ini kalau tidak ingat dia itu atasannya.

"Kenapa diam saja?"

Luhan memecah suasana tegang itu dengan tawa canggung. "Ah‚ aku hanya sudah menganggap Sehun sebagai adikku." ujarnya dengan ringisan kecil. Sehun meliriknya saat itu.

"Ah‚ begitu…" Oh Jae Ho mengangguk-angguk kecil. Pura-pura mengerti‚ mungkin?

"Memangnya kenapa?" tiba-tiba Sehun menyahut‚ membuat Luhan menatapnya seolah berkata‚ 'kau ingin membongkarnya?'. Sementara itu‚ Sehun kembali menatap nyalang ayahnya sembari menjelaskan‚ "Ya. Kami berpacaran. Memangnya kenapa?"

Lantas Oh Jae Ho tergelak. Entah menertawakan apa‚ baik Luhan maupun Sehun‚ sama sekali tak tahu dimana letak kelucuannya. Pria itu berhenti dari tawanya sedikit demi sedikit. Kemudian berkata‚ "Aigoo… Dugaanku benar. Seharusnya dari awal saja aku merasa curiga dengan kalian."

Sehun mendengus sinis mendengar kalimat enteng itu. "Mau apa lagi?" tanyanya‚ tidak peduli dengan basa-basinya Oh Jae Ho.

Oh Jae Ho menggeleng. "Kupikir kau masih ingat tentang beberapa hal yang kukatakan padamu dulu. Jadi aku tak meminta apa-apa sekarang ini."

Luhan tak mengerti kali ini. Ia beralih pada Sehun yang mencoba untuk tenang di sampingnya. Lelaki itu memejamkan mata sejenak sembari menarik dan menghembuskan napas perlahan. Begitu membuka mata‚ Sehun menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Luhan yang awalnya hendak bertanya‚ jadi mengurungkan niat. Sehun terasa berbeda‚ benar-benar bukan Sehun yang Luhan kenal.

"Jika memang kau ingin mengambil kebahagiaanku‚ sudah kubilang untuk langkahi aku dulu‚ baru bawa saja kebahagiaanku." jelas Sehun‚ ia tersenyum sinis. "Kau bisa mengambilnya‚ tentu saja. Tapi jangan jadikan mereka seperti aku. Kau akan mati bila melakukannya."

Oh Jae Ho terkekeh pelan. "Oh. Kau mengancam ayahmu sendiri?"

"Kau bukan ayahku."

Dan ekspresi angkuh di wajah Oh Jae Ho berubah menjadi marah setelah mendengarnya. Sehun menyeringai‚ kembali melanjutkan. "Kau hanya seorang perampok di keluargaku."

Oh Jae Ho mendengus. "Bagaimana bisa kau seperti ini pada ayahmu?"

Seringaian di bibir Oh Sehun makin lebar. "Apa kau mau kubeberkan semuanya?" tanya Sehun. Wajah Oh Jae Ho berubah antara jengkel dan ingin mencekik Sehun sekarang juga. Sehun makin memojokkan ayahnya sendiri.

"Kau…" sebut Oh Jae Ho dengan suara bergetar menahan marah.

Sehun tersenyum mengejek. "Bagaimana?"

Oh Jae Ho membuang napas setengah kesal. Ia kembali menatap Sehun. Kali ini tatapannya berbeda. Bahkan gelagatnya terlalu santai untuk berdebat dengan Sehun.

Sebenarnya yang dibicarakan kedua lelaki ini apa‚ sih? Luhan bingung memahami apa yang mereka bicarakan sedari tadi.

"Pergilah ke Amerika. Temui Irene atau Jennie atau juga Rosé‚ terserah. Aku akan memberitahu mereka bahwa kau akan meminang salah satu diantara mereka secepatnya."

Sehun menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Luhan melihatnya. Dan lelaki itu menghela napas seraya menatap ayahnya dengan sengit.



Siang itu langit terlihat mendung. Awan kelabu berarak-arak bersama angin yang lumayan kencang. Angin itu berhembus‚ mengenai wajah Luhan dan menghempaskan rambutnya yang terurai. Luhan menyipitkan mata‚ menghindari matanya kemasukan debu. Begitu angin tak lagi sekencang tadi‚ Luhan bangkit dari posisi duduknya di halte‚ dan memilih untuk meninggalkan Sehun sendirian.

Setelah keluar dari ruangan laknat itu‚ Luhan meninggalkan Sehun. Perempuan itu mengambil langkah lebar dan cepat guna memisahkan diri dari Sehun. Inginnya‚ sih‚ begitu. Namun setelah sadar bahwa Luhan marah dan kecewa padanya‚ Sehun mengekor. Lelaki itu menyeret Luhan keluar dari kantor dan mendudukkannya di kursi tunggu halte. Hanya ada mereka berdua di sana‚ dan tak ada perbincangan sama sekali setelah itu.

Sehun melihat punggung Luhan yang menjauh kemudian. Ia menghela napas. Berdiri‚ Sehun kembali menyusul Luhan. Kali ini ia menangkap pergelangan tangan Luhan dan menariknya. Luhan memberontak kecil. Namun itu hanya sebentar karena dengan segera Sehun menghentikan taksi dan memasukkan Luhan ke dalam sana.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Luhan kesal pada Sehun yang baru saja masuk ke dalam taksi. Ia mengusap pergelangan tangannya dengan mata memandang gedung-gedung tinggi di pinggir jalan.

Sehun tak menjawab. Lelaki itu hanya diam seribu bahasa kali ini. Entah apa yang merasukinya‚ Luhan tak tahu. Biasanya Sehun akan banyak bicara‚ sibuk menjelaskan ini dan itu kalau mereka ada kesalahpahaman meski itu masalah kecil.

Luhan mendengar Sehun menyebutkan nama kafe yang berada di dekat rumahnya sebagai tujuan. Luhan meliriknya‚ Sehun bahkan sama sekali tak memperhatikannya. Sehun sedang memandangi pemandangan luar saat itu. Luhan menghela napas pelan. Ia kembali pada aktivitas semula.

Begitu sampai‚ gerimis mulai turun. Luhan cepat-cepat keluar dan mencari tempat untuk berteduh. Tepat di teras kafe yang sepi. Kemudian Sehun menyusul‚ ikut berdiri di sampingnya.

Hening lagi. Ini seperti bukan mereka. Dan Luhan tak tahan dengan situasi seperti itu. Jadi setelah memantapkan hatinya‚ Luhan menghadap Sehun. Perempuan itu sudah bersiap untuk mengeluarkan suara. Namun tiba-tiba Sehun menyela‚ "Aku harus menjelaskan sesuatu padamu." dan membuat Luhan kembali menutup bibir.

Luhan mengangguk sebagai jawaban. Ia biarkan Sehun menggandeng tangannya dengan lembut‚ dan mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. Meja yang selalu menjadi tempat Luhan.

"Kau tak berpikir bahwa aku akan memilih salah satu diantara mereka kan?" tanya Sehun mengawali perbincangan.

Luhan menghembuskan napas pelan. "Entahlah." jawabnya dengan pandangan kosong. Ia melihat Sehun‚ dan melanjutkan‚ "Mana bisa kau menghindar dari ayahmu?"

"Bisa." Sehun tersenyum. Ia meraih tangan Luhan yang ada di meja‚ dan menggenggamnya lembut. "Kalau ada kau‚ aku punya kekuatan untuk menghindar."

"Sehun…" Luhan merengek‚ dan Sehun terkekeh pelan.

"Dengar‚ ayahku hanya mengancam. Dia tak akan melakukannya kalau aku tak ingin."

"Kurasa ayahmu akan tetap melakukannya."

"Tiap aku datang padanya‚ dia selalu menawariku tentang hal itu‚ Luhan. Dan aku sudah menolak berkali-kali." sela Sehun jengah. "Sekarang‚ lihat. Aku masih bersamamu. Dia tak akan melakukannya‚ Luhan."

Luhan menarik tangannya dari Sehun. "Ayahmu benar-benar serius‚ Sehun. Kau tak lihat bagaimana ayahmu tadi mengatakannya?"

"Luhan…"

"Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi?"

Sehun terdiam. Ia bisa melihat dirinya di mata Luhan yang berkaca-kaca. Sehun menghela napas. Ia kembali meraih tangan Luhan namun perempuan itu justru menarik tangannya ke pangkuan. Sehun menangkap udara. Lelaki itu menatap Luhan‚ dan berkata‚ "Sekarang apa yang kau pikirkan?"

Luhan termenung sejenak. "Kupikir hubungan ini tak akan berhasil." ujarnya dengan kepala menunduk.

Sehun tak bisa berbicara sepatah kata pun setelah itu. Luhan membuatnya takut untuk mencari sebuah kalimat sebagai balasan yang tepat. Situasi ini membuatnya ingin meledak saat itu juga.

"Kau tak bisa menghindar lagi‚ Sehun. Karena ayahmu sudah tahu tentang hubungan kita‚ kupikir kau akan mati kehabisan napas sama seperti ikan yang dipancing."

Sehun menghela napas berat. "Jadi kau ingin mengakhiri hubungan ini?" tanyanya. Luhan hanya menatap tanpa ingin membalas. "Luhan‚ kau bercanda? Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi hanya karena masalah seperti ini. Aku tak akan melepasmu begitu saja. Sampai akhir!"

"Tapi aku pernah menganggapmu sebagai adik!" sela Luhan hampir berteriak. Setiap pasang mata yang ada di dalam kafe jadi tertuju pada Luhan maupun Sehun. Namun begitu‚ Luhan tak peduli. Ia tetap bersuara dengan nada yang sama. "Jadi kupikir kalau aku menganggapmu adik‚ kau dan ibumu akan baik-baik saja."

Sehun memandang Luhan tak mengerti. Ia sama sekali tak bisa membaca pikiran Luhan lewat tatapan mata perempuan itu padanya. Terlihat teduh‚ cemas‚ sedih‚ juga… ah‚ entahlah. Sehun benar-benar tak mengerti jalan pikiran Luhan. Seolah mereka terpisah di jalan yang berkabut. Kehilangan arah‚ dan tak bisa mencari satu sama lain.

"Luhan‚" Sehun menggeleng setelah menyebut nama perempuan itu dengan pelan.

Luhan juga menggeleng. Namun dengan arti gelengan yang lain. "Lepaskan aku…"

"Tidak akan."

"Ini untuk kebaikan kita berdua‚ juga ibumu‚ Sehun"

Dan Sehun makin tak bisa mengelak setelah itu. Luhan ada benarnya. Jika mereka terus mempertahankan‚ maka salah satu dari mereka akan terluka. Entah itu Luhan‚ atau Sehun. Jadi setelah berpikir lama‚ Sehun memutuskan untuk mengiyakan keputusan Luhan. Setidaknya untuk sementara saja seperti ini. Tidak apa-apa. Waktu akan cepat berlalu dan semuanya akan baik-baik saja.

Sehun kembali menatap Luhan‚ ia menghela napas pelan sembari memantapkan hatinya ketika berkata‚ "Aku mengerti." dengan pelan.

Luhan balas menatap Sehun. Meski ia bergumam‚ "Maafkan aku‚" Luhan masih bisa tersenyum baik-baik saja di depan Sehun.

Ya… Setidaknya ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan lelaki yang ia cintai saat ini.



Sudah malam. Tinggal gerimis saja yang masih berjatuhan ke tanah. Kamar Luhan saat itu gelap. Hanya ada cahaya dari layar ponsel yang menerangi. Perempuan itu sedang melihat-lihat isi galerinya. Ada banyak foto tentang dirinya dengan Sehun. Bahkan Luhan juga baru sadar bahwa Sehun sering mengambil gambar dirinya saat dia tak sadar kamera.

Saat Luhan sedang tidur.

Saat Luhan sedang cemberut.

Saat Luhan sedang makan.

Saat Luhan sedang fokus dengan televisi.

Luhan tersenyum. Pedih rasanya melihat gambaran mereka berdua di sana. Ada senyum Sehun dan senyumnya di layar ponsel. Kemudian ada rengutan lucu‚ juga ekspresi jelek mereka. Banyak momen mereka yang ada di sana. Dan Luhan menyayangkan dirinya‚ saat dirinya meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.

Menyesal? Tidak juga. Lalu Luhan tak menyesalinya? Bohong kalau Luhan bilang tidak.

Entahlah. Luhan hanya berpikir bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja jika dari awal mereka seperti ini. Luhan tak pernah tahu bahwa masalah Sehun dan ayahnya bisa mengancam hubungannya dengan Sehun. Sehun bahkan tak pernah cerita secara mendetail apa sebenarnya masalah keluarganya.

Tidak‚ Luhan hanya tidak ingin tahu. Luhan takut kalau ia tahu nanti‚ Sehun akan terasa sangat jauh. Seperti sekarang‚ misalnya. Ketika Luhan tahu kalau Oh Jae Ho hanya mengincar Sehun sebagai umpan untuk istrinya‚ Sehun seolah berlari menjauhinya. Maksudnya Sehun berlari menuju ibunya‚ dan meninggalkan Luhan sendiri.

Itu terasa… Entahlah.

Luhan tahu bahwa sosok ibu sangat penting bagi Sehun‚ mengingat bagaimana lelaki itu mencari ketenangan saat bermimpi buruk tentang ibunya. Selain itu‚ Sehun sangat menyayangi ibunya. Sehun tahu dimana sekarang ibunya. Tapi Sehun menahan diri untuk melihat ibunya karena ayahnya pasti sangat-sangat marah. Bisa saja ibunya terluka‚ atau Sehun yang menderita. Jadi Sehun memutuskan untuk memilih waktu yang tepat untuk menjemput ibunya.

Sehun pernah cerita‚ kalau ibunya terkena depresi berat karena ayahnya. Sehun pernah kesana‚ sekali. Dan ibunya membaik setelah Sehun menemaninya beberapa hari. Namun itu akan mengancam posisi ayahnya. Jadi setelah mendengar kabar kalau istrinya membaik‚ Oh Jae Ho menyeret Sehun keluar dari sana‚ dan benar-benar menghukumnya. Kondisi ibunya semakin buruk sebab ia tahu putranya sedang disakiti sedangkan ia tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu Sehun tak ingin kesana. Ia tak ingin melihat ibunya terlihat menyedihkan hanya karena dirinya.

Waktu itu‚ Sehun pernah menunjukkan bekas luka yang diperolehnya karena ia mengunjungi ibunya. Luhan melihat ada bekas luka cambuk di punggung Sehun. Terlihat samar‚ dan menyakitkan. Luhan sampai tak tahu harus berkata apa setelah Sehun bercerita padanya.

Jadi setelah berpikir dan menimang-nimang keputusannya‚ ia rasa itulah jalan terakhir bagi hubungannya dengan Sehun. Luhan tidak apa-apa kalau statusnya sebagai seorang kekasih dari Oh Sehun tergantikan oleh seorang kakak untuk lelaki itu. Yang penting Sehun aman‚ ibunya Sehun juga aman. Jadi ia rela mengorbankan perasaannya untuk Sehun.

Supaya Sehun bahagia.

Sementara jauh di sana‚ Sehun juga sedang berpikir. Ia memandangi kerlap-kerlip lampu kota dari kaca besar di apartemennya. Pikirannya melayang‚ pada keputusan Luhan tadi sore.

Awalnya Sehun tak mengerti jalan pikiran Luhan. Perempuan itu memiliki tatapan mata berkabut saat itu. Sehun susah menelisik‚ dan membaca apa yang akan Luhan rencanakan setelah ini. Namun setelah banyak merenung dan berpikir‚ Sehun mulai menyadari sesuatu. Bahwa Luhan mengorbankan perasaannya untuk ibu dan dirinya.

Perempuan itu… Entah hati macam apa yang dimilikinya‚ Sehun tak tahu. Luhan terlalu baik dan tulus untuknya. Jika diumpamakan‚ maka hati Luhan seperti hembusan angin. Begitu lembut‚ sejuk‚ dan kasat mata. Atau buliran hujan yang tak merasa sakit saat jatuh dan mendamaikan hati orang lain. Atau lagi seperti bayangan matahari‚ seseorang tak akan pernah tahu dimana letak bayangan matahari sebagai sumber cahaya. Hati Luhan kasat mata‚ tak bisa Sehun mengerti dengan mudah.

Sehun tersenyum kecil. Ia merasa beruntung karena pernah memiliki seorang Luhan. Perempuan itu membuatnya mengalami banyak hal. Sehun pernah mencicip ampas kopi pahit dari hidupnya‚ menghirup aroma hangat dari hidupnya‚ juga pernah menggenggam hidupnya dengan lembut. Sehun jadi bertanya-tanya. Apakah Yifan menyesal karena telah meninggalkan Luhan sendirian di sana? Mungkin jawabannya iya.

Sehun terkekeh kecil. Merasa lancang sudah mengira-ngira jawaban orang yang sudah meninggal atas pertanyaannya. Kemudian matanya kembali memandang kerlap-kerlip kota. Pikirannya kembali dan Sehun berkata dalam hati; Luhan… Jika semuanya sudah berakhir‚ aku akan mendapatkan dirimu kembali. Janji.



Sudah satu bulan berlalu‚ terasa begitu cepat bagi Luhan. Setelah hari itu‚ semuanya terasa baik-baik saja. Luhan tak lagi merasa terganggu. Ia merasa tenang meski terkadang rasa rindu mampir sebentar untuk menguji kekuatan batinnya.

Sehun sendiri?

Luhan tak tahu. Sehun tak mengabarinya lagi. Luhan juga tak pernah bertemu dengan Sehun setelah hari itu. Mungkin Sehun sakit hati karena hubungan mereka terpaksa berakhir. Mungkin begitu. Jadi lelaki itu enggan untuk berkomunikasi dengannya.

Ah‚ maafkan aku‚ Sehun…

Hari itu‚ kantor ramai sekali. Banyak pegawai yang saling berbisik saat Luhan melewati mereka. Berisik‚ batin Luhan. Ia tak mengerti kenapa kebiasaan lama para pegawai ini padanya kembali lagi. Seingatnya tak ada yang salah dengan penampilannya dan orang-orang terdekatnya.

Atau Shin Soo Hyun berulah lagi?

Luhan berdecak pelan. Dasar direktur menyebalkan. Luhan masuk ke dalam lift kemudian.

"…kudengar Luhan juga pernah dekat dengan Sehun."

"Ah‚ benarkah?"

"Hu'um‚ aku pernah beberapa kali bertemu dengan mereka berdua di jalan."

"Tapi kan sejak Sehun ada di sini‚ Luhan memang dekat dengannya. "

"Jadi mereka berpacaran?"

"Kalau iya‚ kenapa ada yang lain?"

Luhan mengerutkan kening. Ia tak mengerti tentang bisikan beberapa pegawai yang didengarnya di lift. Mereka berada di depan Luhan dan baru saja masuk ke lift. Jadi mereka tak tahu kalau yang dibicarakan ada di belakang mereka.

"Hus‚ sudah. Itu privasi mereka. Jangan dibahas."

Tepat setelah itu‚ pintu lift terbuka. Semua pegawai yang ada di sana keluar kemudian. Kecuali Luhan. Perempuan itu sedang berpikir mengenai perbincangan orang-orang tentang dirinya tadi.

Dan apa tadi?

"Kalau iya‚ kenapa ada yang lain?"

Maksudnya ada perempuan lain sekarang ini‚ begitu?

Hah‚ yang benar saja! Luhan yakin Sehun tak akan melakukan hal itu meski ia terus dipaksa ayahnya. Luhan juga percaya bahwa Sehun akan terus menjaga hatinya untuk Luhan. Luhan selalu percaya bahwa hati Sehun hanya untuknya. Jadi tak mungkin. Berita itu benar-benar salah.

Ah‚ Luhan lupa. Bukankah gossip tak selalu benar?

Atau…

Suara denting dari lift terdengar mengagetkan Luhan. Tanpa sadar Luhan tetap berada di lift dan naik ke lantai ruang paling atas. Begitu pintu lift terbuka‚ ia mendengar suara tawa seorang perempuan. Suara tawa itu terdengar menyenangkan dan renyah. Luhan menaikkan pandangan untuk melihat siapa pemilik dari suara tawa itu.

Kemudian Luhan tak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam di tempat‚ tanpa ingin mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.

Ya‚ di sana ada Sehun‚ juga seorang perempuan cantik yang tak Luhan kenali di sebelah lelaki itu. Sehun sedang menatap Luhan‚ senyum di wajahnya luntur seketika. Sementara mengetahui keanehan sikap Sehun‚ perempuan yang ada di sebelahnya juga mengikuti arah pandang Sehun.

Ketiga tatapan itu saling beradu. Ah‚ tidak-tidak. Luhan hanya menatap Sehun dalam diam dan lelaki itu juga menatapnya. Sementara si perempuan asing tadi hanya menatap heran ke arah Luhan. Kemudian hening.

Sehun bersama perempuan lain sekarang ini. Bahkan Luhan sempat mendengar tawa perempuan itu untuk Sehun. Luhan juga tahu kalau tadi Sehun menghapus senyum ketika melihatnya.

Luhan merasa… Sakit hati‚ tentu. Melihat lelaki yang dicintainya bersama perempuan lain dan menghapus senyumnya untuk perempuan lain ketika melihatnya. Bukankah itu berarti Sehun sudah bahagia bersama perempuan asing itu? Atau Luhan saja yang salah presepsi?

"Sehun‚" perempuan yang tak Luhan kenal itu mencengkeram lengan Sehun sembari menggoyangnya. "Itu kan…"

"Biarkan saja." sahut Sehun.

Luhan ingin berteriak‚ "Kenapa?" pada Sehun namun yang ada justru ia yang diam seribu bahasa. Luhan merasa dadanya bertalu nyeri. Lidahnya kelu bahkan untuk bernapas pun dadanya terasa sakit. Setiap rasa sakit yang didapatinya membuat matanya terdesak untuk mengeluarkan air mata. Luhan tak bisa menahan rasa sakit itu ketika Sehun berkata demikian.

Biarkan saja? ya?

Luhan rasa Sehun sudah melepasnya.

"Biarkan dia pergi."

Dan setetes air mata mengalir di pipi Luhan. Sehun tak melihatnya. Karena sedetik setelah Sehun mengatakan itu‚ pintu lift tertutup. Lift kembali turun.


To be continue…


Haluuuuuu~ Aku balik nih :))

Chapter ini panjang yhaa? Wkwk Emang kubuat gitu biar chapter depan aku bisa naik turunin feel nya kalian wkwk. Ngerasa alurnya kecepetan? Maaf sekali‚ emang chapter ini kubuat gitu :3

Trus bingung ngga sama penjelasannya soal masalahnya si keluarga Oh itu? Mudah-mudahan ngga yaaa :3

Kalian pilih Irene‚ Jennie ato Rosé yang bakal jadi saingannya Luhan? Pilih ya guys :))))

Oiya. Beberapa hari yang lalu aku udah update Lucky One lohh... Silahkan yang udah lama nunggu comeback nya ff itu bisa dicicip (?) setelah ini :v

Eh. Hari ini aku lagi update barengan sama kakak-kakak cimolq :3 Ada lolipopsehunPinkuPinkuHunnieHunjustforhanDark Eagle's EyeBaekbeeLu sama Cofioca4120. Check their story yhaaaa :*

Thanks btw. Jangan lupa review :))