Siang itu‚ Sehun sedang malas masuk ke kelas berikutnya. Ia hanya duduk-duduk santai di kantin sendirian. Jongin meninggalkannya demi kelas pertamanya di hari ini. Sementara Kyungsoo? Perempuan itu dengan teganya berkata‚ "Kudoakan skripsimu diundur dua tahun lagi karena sudah membolos." dan pergi mengikuti Jongin.
Aduh‚ kepalanya cenut-cenut seketika mengingat kelimat Kyungsoo satu jam yang lalu. Skripsinya diundur dua tahun lagi? Ya Tuhan… Doa macam apa itu?
Sehun mencibir kemudian. Ia merogoh ponsel dan sudah melihat ada satu pesan masuk untuknya. Dari nomor asing pula. Dengan ragu Sehun membuka pesan itu dan membacanya.
Hei‚ kau ada di kampus‚ tidak?
Sehun mengerutkan kening. Pesan itu masuk setengah jam yang lalu. Ini orang salah kirim atau bagaimana? Hendak Sehun mengabaikan pesan itu‚ namun satu pesan lagi dari nomor yang sama masuk. Kali ini ada senyum di wajah Sehun.
Aku Jennie Kim. Kau membuatku menunggu lama di depan‚ tahu.
Ah‚ jadi gadis itu sudah kembali dari Amerika? Sehun tak membalas pesan itu namun tubuhnya dengan cepat berdiri. Ia membereskan beberapa buku di meja dan memeluknya. Setelah itu Sehun berlari kecil menuju depan kampus. Menyusul gadis bernama Jennie Kim.
Ketika sudah di depan‚ Sehun memutar kepala melihat sekitar. Ia mencari-cari di mana sosok Jennie yang menunggunya. Gadis berkemeja putih dengan rok kelabu selutut itu pun menjadi pusat perhatian Sehun. Gadis itu melambaikan tangan dan tersenyum lebar padanya. Style nya ternyata masih sama seperti dulu‚ sederhana dan Jennie sekali.
"Hei‚ Sehun!"
Sehun tersenyum lebar. Ia menghampiri Jennie yang berada di seberang kemudian. "Hai‚" sapanya balik.
"Kau membuatku menunggu lama." Jennie cemberut waktu itu. Sehun tertawa. "Setengah jam!"
"Ya‚ ya‚ ya. Aku tahu." Sehun mengusap puncak kepala Jennie dengan gemas. "Maaf‚ oke. Aku baru tahu kalau kau mengirimiku pesan. Sorry..."
Jennie menggidikkan bahu sekilas. "Whatever." gumamnya setengah kesal. Kemudian ia memperhatikan Sehun dari ujung sepatu sampai ujung kepala. Jennie tersenyum lebar. "Oh‚ kau semakin tinggi saja."
"Memang aku sudah tinggi dari dulu." giliran Sehun yang menggidikkan bahu. "Oiya. Kapan kau kembali ke Korea?"
"Kemarin." jawab Jennie seadanya. "Seharusnya bulan depan. Tapi karena ayahmu memaksa‚ jadi aku datang cepat-cepat. Kukira ada hal penting tentangmu yang membuatnya mendesakku. Jadi aku kemari." Sehun terdiam tak menjawab mendengar penjelasan itu. Jennie mengerutkan kening. "Ada apa?" tanyanya.
Sehun menggeleng. "Tidak apa-apa." elaknya.
Jennie mengangguk-angguk kecil. "Baiklah." gumamnya dengan helaan napas panjang. "Bisakah kau antar aku ke tempat ayahmu? Aku harus bertanya padanya."
Sehun memandang Jennie sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Enggan sebenarnya. Ini siang‚ jam kantor juga. Kalau ia bersama Jennie ke kantor sekarang‚ kemungkinan besar Luhan akan melihatnya. Sehun belum siap untuk bertemu dengan Luhan. Bukan karena sakit hati atau bagaimana‚ tetapi kali ini Sehun datang bersama Jennie. Luhan pasti salah paham kalau perempuan itu melihat Sehun bersama gadis lain.
Apalagi gadis itu semacam Jennie. Bisa mati Sehun nanti.
Sehun hanya tak ingin Luhan sakit hati. Sudah‚ itu saja.
Jadi Sehun hanya mengantar Jennie sampai di depan ruangan milik ayahnya saja. Sehun tak ingin masuk. Ia sudah tahu apa yang akan diperbincangkan ayahnya. Sehun hanya menunggu Jennie keluar dari ruangannya.
Beberapa menit berlalu‚ Jennie keluar. Ekspresinya tak dapat dibaca Sehun namun Jennie terlihat memaksakan sebuah senyum. Sehun menghampirinya‚ bertanya‚ "Ada apa?" seolah ia tak tahu apa-apa.
Namun Jennie hanya menjawab‚ "Bukan masalah yang besar."
Sehun percaya itu. Ini bukan masalah yang besar‚ sama seperti yang dikatakan Jennie. Jadi ia mengangguk sebagai tanggapan.
"Kau ingin aku mengantarmu ke suatu tempat lagi?" tawar Sehun. "Kau tahu‚ wajahmu ingin sekali kukirim ke laundry karena kelihatan kusut sekali."
Jennie merengut sebal. "Memangnya sekusut itu? Kau ingin mencuci wajahku di sana? Kau ini tak berperikemanusiaan sekali." protesnya. Sehun tertawa geli.
"Kau‚ sih‚ menggemaskan." ujar Sehun sembari mencubit kedua pipi Jennie serta menggoyangnya ke kanan dan ke kiri. Jennie berteriak kecil minta dilepaskan. Gadis itu merengut setelah Sehun melepaskannya dan itu membuat Sehun terkekeh geli. "Kau ingin kuantar ke taman? Dulu kau sering bermain kubangan lumpur di sana."
"Ya!"
Sehun tertawa geli.
"Siapa yang main kubangan lumpur? Bukankah itu kau?"
Sehun masih tak bisa berhenti tertawa. Perutnya terasa digelitik bulu‚ geli sekali. Sementara itu‚ melihat tawa Sehun‚ Jennie juga tak bisa menahan diri untuk tertawa. Baginya tawa Sehun itu menyenangkan. Dulu Sehun jarang tertawa entah karena apa. Jadi melihat Sehun tertawa kali ini‚ mungkin adalah suatu keajaiban yang baru Jennie lihat.
Ah‚ lelaki itu manis sekali.
Namun tiba-tiba tawa Sehun berhenti‚ lama-kelamaan memudar. Ia berdeham pelan dan membiairkan Jennie tertawa karenanya. Perempuan itu terlihat imut saat tertawa. Jennie tersenyum saja sudah membuat Sehun senang‚ apalagi tawanya.
Kemudian tanpa sengaja ia melihat ke arah lift‚ angka lantai yang dituju membuatnya penasaran siapa yang datang kali ini. Yang bisa datang ke lantai ini bukanlah orang-orang sembarangan. Jadi Sehun memperhatikan‚ memeriksa siapa yang akan menjadi tamu ayahnya siang ini.
Namun tatapan Sehun berubah menjadi sendu saat itu. Jennie menyadari hal itu. Bukan ke arahnya‚ namun ke arah lain. Jadi Jennie yang tak mengerti kenapa Sehun menghentikan tawa dan mengganti ekspresinya jadi seperti itu‚ akhirnya mengikuti arah pandang Sehun.
Ada seorang perempuan berwajah familiar yang Jennie lihat. Perempuan itu berdiri di dalam lift yang pintunya terbuka‚ sendirian‚ sedang menatap Sehun dengan tatapan mata yang sama dengan lelaki di sampingnya ini. Sama-sama sendu‚ juga sama-sama sakit. Entah apa yang dipikirkan kedua manusia itu‚ Jennie tak tahu. Mereka hanya beradu pandang tanpa ingin bersuara satu sama lain.
Bukankah itu Luhan?
"Sehun‚" Jennie mencengkeram lengan Sehun dan menggoyangnya pelan. "Itu kan…"
"Biarkan saja." sahut Sehun.
Jennie mendongak‚ melihat bagaimana wajah Sehun saat ini. Jennie benar-benar tak percaya kenapa Sehun berkata demikian padahal di sana ada Luhan. Jennie mengenali wajah Luhan karena ia pernah melihat Sehun memposting foto Luhan di salah satu akun media sosialnya. Jennie yakin itu Luhan‚ tapi kok…
"Biarkan dia pergi."
Dan sedetik setelah itu‚ pintu lift kembali tertutup. Jennie memandang kepergian Luhan dan kembali menatap Sehun.
"Apa yang kau tunggu? Cepat susul dan jelaskan hubunganku denganmu padanya." kata Jennie tergesa-gesa.
Sehun menggeleng pelan. "Percuma." jawabnya. Ia menghela napas.
Jennie tak peduli. Ia menarik tangan Sehun menuju lift. "Jangan bercanda. Aku akan berada dalam masalah kalau Luhan marah dan―"
"Percuma‚ Jennie!" seru Sehun. Ia menghempaskan tangan Jennie dengan kasar serta menatap Jennie setengah kesal. Jennie tercenung dibuatnya. "Dia tak akan percaya kalau aku menjelaskan. Percuma!"
Jennie terdiam. Ia melihat Sehun tak mengatakan apapun lagi setelah itu.
…
"Ada apa?"
Luhan mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang tak ia mengerti dari Soo Hyun. Perempuan itu mendongak balas bertanya‚ "Apa?" padanya.
"Wajahmu ingin kusetrika." jawab Soo Hyun jenaka. "Apa ada masalah?" tanyanya lagi.
Luhan menggeleng pelan. "Tidak ada." jawabnya berbohong. Ia mencoba untuk tersenyum baik-baik saja saat Soo Hyun memicing padanya. "Serius‚ tidak ada masalah."
"Soal Sehun 'kan?"
Luhan mendengus. Kalau sudah tahu‚ kenapa bertanya‚ bodoh!
"Ah‚ ternyata benar." simpul Soo Hyun setelah melihat Luhan tak membalas tebakannya.
Luhan berdecak pelan. Ia mengibaskan sebelah tangannya seraya berkata‚ "Sudahlah. Aku tak ingin memikirkannya." dan membenarkan posisi duduk sebelum memeriksa beberapa berkas untuk Soo Hyun.
Soo Hyun menghela napas. Ia memandangi Luhan sejenak. Perempuan yang pernah menawan hatinya ini terlihat menyedihkan. Tadi saja Luhan sempat melamun beberapa saat sebelum kembali dengan pekerjaan. Soo Hyun khawatir‚ tentu. Apa masalah Luhan dengan Sehun sehingga Luhan terlihat banyak pikiran seperti ini?
"Kudengar tadi Sehun datang bersama seorang perempuan." pancing Soo Hyun. Luhan tetap pada pekerjaannya. "Aku juga sempat melihat. Aku kenal siapa perempuan itu."
Luhan hanya melirik tanpa minat.
"Namanya Jennie Kim. Dia teman kecilnya Sehun."
Oh… Teman kecil. Ya sudahlah.
"Jennie sudah lama tak ke Korea. Aku jadi bertanya-tanya kenapa Jennie kemari."
Kau saja tak tahu‚ apalagi aku.
"Kau sudah bertemu dengan mereka?"
Kali ini Luhan berhenti dari pekerjaannya. Ia bersedekap dengan punggung bersandar. Menatap Soo Hyun jengah‚ Luhan berkata‚ "Bisa tidak kau diam? Aku jadi tak bisa menyelesaikan tugasku karena ceritamu."
Soo Hyun menggidikkan bahu sekilas. "Aku hanya memberitahu."
Luhan berdecak pelan. Ia meletakkan pulpen dengan kasar sebelum mengalihkan pandangan pada jendela besar di sebelahnya. Langit terlihat mendung‚ hujan pertama di bulan Juni pasti turun setelah bulan kemarin hujan turun dengan harapan palsu. Akhir-akhir ini‚ tiap gerimis turun‚ Luhan teringat kembali tentang Yifan. Lelaki itu mampir berkali-kali. Mengganggu pikirannya karena Luhan juga masih kepikiran tentang Sehun.
Luhan jadi ingat. Saat hujan turun malam itu‚ teriakan kesalnya pada Yifan‚ juga suara rem mobil yang memekakan telinga. Semuanya bercampur jadi satu.
"Apa maksudmu? Kau benar-benar ingin membuatku menunggu atau bagaimana?"
"Luhan‚"
"Terserah‚ Yifan. Aku malas berdebat karena masalah sepele seperti tadi."
"Luhan‚"
"Jangan memanggil namaku!"
CKIIIT!
BRAAK!
Luhan terkesiap kecil mendengar suara rem mobil dalam bayangannya bersamaan dengan terbukanya pintu secara keras. Luhan menoleh ke sumber suara‚ ada Sehun di sana. Lelaki itu terlihat terengah-engah dengan tatapan mata tertuju padanya. Luhan bingung. Ia melirik Soo Hyun‚ dia juga bingung melihat Sehun tiba-tiba datang.
"Hei‚ apa masalahmu?" tanya Soo Hyun pada Sehun.
Sementara itu‚ Sehun tak menjawab. Lelaki itu mengambil langkah lebar untuk mendekati Luhan. Matanya masih menatap Luhan‚ dan Luhan tak bisa beralih karena tatapannya. Begitu Sehun menarik tangan Luhan‚ Luhan tersadar.
"Apa yang kau mau?" tanya Luhan setengah kesal. Sehun masih betah diam.
Ini Sehun mendadak bisu atau bagaimana?
Luhan hendak melepaskan diri. Ia sudah memutar pergelangan tangannya namun Sehun sudah terlebih dahulu mengencangkan cengkeramannya. Luhan menatapnya‚ meminta penjelasan. Tetapi Sehun justru menariknya untuk meninggalkan ruangan itu dan keluar dari kantor.
…
Buliran air yang membasahi jendela saat itu mengalir turun satu per satu. Mereka membuat garis yang kemudian menghilang secara perlahan. Buliran yang turun itu tergantikan oleh buliran lain yang menghantam jendela saat hujan turun. Mereka menutupi jendela‚ membuat kedua sosok manusia yang duduk tenang di balik jendela itu terlihat tak jelas.
Hari ini‚ hujan pertama di bulan Juni turun. Luhan memandangi fenomena alam itu dari dalam kafe dengan wajah suram. Pandangannya menerawang‚ sebab ia selalu ingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya selalu menatap hujan dengan sendu.
Ya‚ Luhan sudah bilang bukan kalau hujan selalu mengingatkannya tentang Yifan?
Luhan suka hujan. Tapi mengapa lelaki itu membuatnya membenci hujan yang disukainya?
Mungkin karena waktu itu Yifan pergi dari rumahnya tepat saat hujan turun dengan deras. Waktu itu sudah larut‚ ada pertengkaran kecil antara Luhan dan Yifan. Entah karena mengalah atau karena kesal‚ Yifan pergi tanpa sepatah kata pun. Ekspresinya sulit dimengerti Luhan saat itu. Setelah melihat Yifan menghilang dengan mobilnya‚ belasan menit kemudian‚ Luhan mendapat telepon‚ bahwa Yifan mengalami kecelakaan karena jalanan yang licin akibat hujan.
Yifan kritis‚ ia tak membuka mata sekalipun‚ tak mengijinkan Luhan mengatakan "Maaf‚" saat Yifan terjaga‚ dan meninggalkan Luhan dengan penyesalannya sampai saat ini.
Dalam diam yang terus berlarut‚ Sehun masih setia memandangi Luhan. Ada banyak hal yang harus ia katakan pada perempuan ini. Namun yang ada hanya hening. Setiap kalimat yang sudah ia siapkan sebelum berada di sini telah tersusun rapi. Kini kalimat-kalimat itu terhenti di ujung lidah. Lidah Sehun kelu. Apalagi ketika tahu bahwa Luhan sedang menikmati hujan yang turun hari ini.
Sehun tak tega. Ingin ia berkata‚ tetapi ingin pula ia tak tahu apa-apa.
"Maaf." akhirnya kata pertama dalam perbincangan itu keluar dari bibir Sehun. Ia masih melihat Luhan‚ masih menunggu reaksi perempuan ini.
Luhan meliriknya sejenak‚ menghembuskan napas panjang. "Kenapa harus?" tanyanya pelan. Ia kembali melanjutkan setelah memberi Sehun perhatian. "Kenapa harus kau? Kenapa harus kau‚ Sehun?"
"Maafkan aku."
Mata Luhan terasa pedih. Ia mengalihkan pandangannya dari Sehun‚ menunduk‚ memandangi kepalan tangannya yang mengerat di pangkuan. Air mata jatuh tiba-tiba dan membuat Luhan menghapusnya dengan cepat. Dadanya semakin terasa sakit. Ia tak berani menatap Sehun lagi.
Tidakkah kau sadar bahwa aku sangat menginginkanmu berada disisiku? Apakah kau tak menyadari bahwa aku sangat amat mencintaimu?
"Kupikir kau hanya kakakku‚ Luhan." Sehun berkata lagi. Suaranya terdengar pelan namun menusuk indera pendengaran Luhan. Luhan masih menunduk ketika Sehun terus bersuara.
"Aku adikmu‚ kan?"
Luhan mulai terisak. Bahunya berguncang seirama dengan isakan yang keluar darinya. Luhan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia benar-benar tak ingin melihat Sehun yang kini melihatnya dengan pandangan sakit. Cukup Luhan yang merasa bahwa perasaannya terasa rumit. Jangan sampai Sehun ikut merasakannya pula.
Sebab hubungan ini memang rumit. Serumit bola benang yang tak bisa terurai karena kusut.
"Kenapa kau tak mengerti juga?" keluh Luhan disela isakannya. "Dasar Sehun bodoh." umpatnya bergumam.
"Aku tahu‚ aku tahu." sahut Sehun tak sabar. Ia meraih kedua tangan Luhan‚ lalu menggenggamnya. Bisa ia lihat wajah Luhan yang basah karena air mata. Dada Sehun linu setelah itu. Sakit saat melihat Luhan menangis karenanya. "Aku tahu aku bodoh. Aku memang bodoh."
"Kau juga brengsek." tambah Luhan.
Sehun mengangguk mengiyakan. "Aku memang brengsek‚" setujunya. "Aku bodoh dan brengsek‚ kau puas?"
Luhan bertahan dengan isakannya. "Kenapa harus kau?" ulangnya dengan pelan. Ia melirik Sehun dan menunduk lagi ketika sadar bahwa Sehun masih menatapnya dengan sendu.
"Apa yang kau maksud?"
"Kenapa bukan Soo Hyun saja? Kenapa harus kau?" Luhan masih belum bisa menjelaskan dengan benar. Disela isakkannya‚ Luhan tetap meneruskan‚ "Seharusnya kau bersamaku. Seharusnya kau paham kalau aku tak ingin melepasmu. Seharusnya kau tetap bersamaku. Kenapa kau menerimanya?"
Sehun masih mencerna apa yang dikatakan Luhan sementara perempuan itu terus saja menangis. Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai mengerti setelah itu.
"Luhan‚ Soo Hyun bukan siapa-siapaku. Jadi ia tak tahu seberapa besarnya masalah ini‚ dan bagaimana cara menyelesaikannya. Aku paham‚ aku mengerti. Pun aku ingin bersamamu. Seharusnya memang kita tetap bersama. Tapi aku tak menerimanya‚ Luhan. Jennie datang hanya untuk mendengar‚ bukan untuk memutuskan. Toh kalau ia diminta memilih‚ maka pilihannya adalah menolakku."
Isakan Luhan berubah menjadi sesenggukan kecil. Perempuan itu menaikkan pandangan‚ mulai berani membalas tatapan Sehun. Sehun sedang menatapnya serius dan tulus. Luhan bergetar dalam diamnya. Tiba-tiba ia tak bisa menegarkan hati setelah melihat tatapan itu untuknya. Luhan membiarkan Sehun menghapus jejak air mata di pipinya. Usapannya begitu lembut‚ Luhan tak bisa menahan diri untuk tak menangis lagi.
Luhan merasa… entahlah. Sisi lain hatinya merasa senang dan damai karena sudah tahu sedikit kejelasannya‚ namun sisanya masih merasakan sakit karena hubungan mereka.
"Sudah‚ jangan menangis." Sehun berucap lembut. Ia tersenyum pada Luhan dan seketika hati perempuan itu benar-benar damai. "Sekarang biarkan hari ini aku bersamamu. Kita habiskan waktu yang tersisa bersama-sama. Bagaimana? Mau?"
Luhan tak bisa menolak. Ia mengiyakan ajakan itu dengan senyum di wajah.
…
Ya‚ hari itu‚ mereka bersenang-senang. Sehun mengajak Luhan ke tempat yang menyenangkan. Ada banyak tawa diantara mereka. Tawa itu membawa kehangatan. Bahkan Luhan tak bisa melunturkan senyum selama ia bersama Sehun. Serasa bahagianya hanya bersama Sehun. Jika Sehun jauh-jauh darinya‚ maka senyum itu juga akan menghilang.
Pulangnya dari wahana bermain terbesar di kota‚ Sehun dan Luhan berakhir menonton film. Mereka di dalam mobil‚ menonton film yang ada di layar besar di depan mereka‚ bersama pasangan lain yang ada di mobil.
Saat itu Sehun tak bisa beralih dari Luhan. Entah mengapa‚ hari ini Luhan selalu menarik perhatiannya. Perempuan itu menonton film dalam diamnya‚ sesekali tertawa karena beberapa adegan di sana. Senyum dan suara tawanya terdengar begitu menyenangkan. Sehun hanya tersenyum mendengarnya. Namun begitu Luhan sudah kembali serius dengan film yang ia tonton‚ Sehun tak tahan untuk tak mencubit pipi Luhan.
Sehun tersenyum sekali lagi. Ia melirik jam digital di dashboard mobil‚ dan senyumnya luntur secara perlahan. Sehun kembali memandang Luhan‚ berdiam sebentar untuk memilih keputusan yang tepat‚ sebelum akhirnya menginterupsi Luhan dengan meraih salah satu tangannya untuk digenggam.
Luhan beralih pada Sehun‚ melihat Sehun yang sedang memandangi genggaman tangan mereka dengan heran‚ lalu bertanya‚ "Ada apa?"
Sehun menggeleng. "Tidak ada." jawabnya pelan. Ia mengangkat kepala untuk menatap Luhan‚ lalu tersenyum. "Senang rasanya bisa bersamamu seharian ini." akunya.
Luhan tersenyum. Ia membalas genggaman tangan Sehun yang terasa menghangatkannya. "Aku juga senang." sahutnya. Ia melebarkan senyuman sehingga membuat Sehun terkekeh karenanya.
"Kemarilah‚" ujar Sehun seraya menepuk-nepuk pahanya. Luhan mengerutkan kening‚ tertawa geli setelah menyadarinya.
"Itu memalukan."
Sehun balas tertawa geli. "Daripada tidak pernah merasakan sensasi duduk dipangkuanku‚" tawarnya dengan senyum menggoda. Luhan pias akan rasa malu namun ia tetap menuruti Sehun. Soalnya sedari tadi Sehun menarik-narik tangannya.
'Kan Luhan jadi tak bisa menahan diri. Jadi ia berpindah ke pangkuan Sehun setelah itu.
"Jadi apa maksudmu memintaku seperti ini?" tanya Luhan setelah menyamankan diri berada di pangkuan Sehun.
Sehun menggidikkan bahu sekilas. "Geunyang." balasnya dan tertawa karena Luhan cemberut. Kemudian Sehun memeluk pinggang Luhan seraya berkata‚ "Aku memintamu begini supaya aku bisa memelukmu. Apa itu salah?"
"Tapi ini memalukan."
"Tapi kau sudah ada di pangkuanku sekarang." Sehun menaik-turunkan alis meledek Luhan. Luhan makin cemberut. "Jangan cemberut seperti itu. Kau ingin aku melakukan lebih‚ heh?"
"Aku akan mencekikmu kalau kau melakukannya!" ancam Luhan kesal. Di pipinya sudah ada rona merah yang menggemaskan karena malu. Sehun mencubit pipi itu dan mengecupnya sekilas. Makin menjadilah pipi Luhan karena kecupan manis Sehun di sana.
"Kau cantik sekali kalau dilihat dari dekat." puji Sehun dengan bisikan. Lelaki itu mengusap pipi Luhan dengan halus. Luhan diam menatapnya.
Luhan benar-benar terbius karena tatapan mata Sehun. Sebab Sehun menatapnya dengan tatapan istimewa‚ seolah hanya ada Luhan sebagai satu-satunya perempuan yang ada di dunia. Sehun seperti memuja‚ namun dengan kasih sayangnya‚ dengan caranya sendiri‚ yang mampu membuat Luhan merasa spesial. Dada Luhan berdebar‚ tersentuh lebih tepatnya. Ia mengulas senyum kecil. Pandangan Sehun jadi beralih dari meneliti setiap inchi dari wajah Luhan menjadi ke arah bibir Luhan. Sehun mengusap bibir bawah Luhan‚ tersenyum dalam dengusannya.
"Aku benar-benar rindu ini." aku Sehun. Dan ia mengaduh kecil karena Luhan menggigit ujung jari di bibir bawahnya.
"Kau rindu aku atau rindu bibirku?" sebal Luhan.
Sehun pura-pura berpikir. "Dua-duanya boleh?"
Luhan berdecih‚ pura-pura kesal dengan jawaban Sehun. Ketika ia melirik Sehun‚ Luhan tersenyum. Ia mencuri kecupan singkat di ujung bibir Sehun. Sehun mengerjap‚ menaikkan alis saat melihat Luhan tertawa kecil karena perbuatannya sendiri. Begitu tersadar bahwa Luhan sudah mencuri kecupan kecil dari bibirnya‚ Sehun menarik tengkuk Luhan‚ lalu mempertemukan bibirnya dengan bibir Luhan.
Awalnya hanya kecupan tiga detik yang berlangsung menjadi lumatan-lumatan kecil. Kemudian Sehun mengubahnya menjadi lumatan lembut. Bibir perempuan ini terasa manis bagi Sehun‚ seperti gula‚ seperti candu. Luhan jadi tak bisa diam saja karena Sehun membuatnya mengalir mengikuti arus. Perempuan itu mengalungkan kedua tangan di leher Sehun‚ dan membalas lumatan Sehun. Sehun tertawa kecil karena balasan Luhan. Ia mengecup lama bibir Luhan sebelum menarik kepalanya dan menatap Luhan.
"Kenapa?" tanya Luhan bingung.
"Kau membuatku ingin melakukan lebih."
Luhan memukul pundak Sehun dengan pelan‚ membuat Sehun tertawa karena reaksinya.
"Menyebalkan‚" cibir Luhan pelan. Hendak ia kembali ke jok semula namun Sehun menahannya. Ia menatap lelaki yang memangkunya ini dan bertanya‚ "Apa lagi?" dengan jengah.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
Luhan mengubah ekspresi. Perasaannya mendadak berubah menjadi tak enak. Ia mengulum bibir‚ mengangguk pelan. "Ya bicara saja. Aku akan mendengarkan."
Sehun menunduk sejenak‚ beralih memainkan jemari Luhan. "Besok aku harus menemui ibuku."
"Kau sudah berani?" tanya Luhan cemas.
Sehun mengangguk. "Aku akan mencoba untuk melindungi diri sendiri dan ibuku." ujarnya meyakinkan. "Supaya masalah ini cepat berakhir dan kita bisa bersama."
Luhan tersenyum. Perasannya berubah menjadi baik setelah Sehun berkata demikian. Ia mengangguk mengusap sebelah pipi Sehun sembari bergumam‚ "Baguslah."
"Kau masih ingat dengan janjimu?" tanya Sehun. Luhan mengangguk.
"Kalau aku harus baik-baik saja‚ apapun yang terjadi?"
"Ya." Sehun mengusap-usap puncak kepala Luhan dengan halus. "Kau harus terus memegang janji itu sampai akhir."
Luhan mengangguk semangat. "Tentu." Sehun terkekeh karenanya.
"Aku akan jarang menghubungimu karena urusanku. Jangan marah setelah ini."
Luhan mengangguk mengiyakan.
"Aku juga akan jarang menemuimu. Karena tempat ibuku lumayan jauh dari sini."
Luhan mengangguk lagi. "Tidak apa-apa. Kau harus menjaga ibumu sejauh mungkin dari ayahmu."
Sehun menatap Luhan sejenak‚ mencoba untuk menyingkap beberapa hal dari manik mata Luhan. "Apa kau akan baik-baik saja karena tidak mempermasalahkan itu semua?" tanyanya.
"Bukankah ini juga demi kebaikan kita?" Luhan menggidikkan bahu sekilas. "Kupikir aku akan baik-baik saja kalau kau memberi pengertian dari awal."
Sehun merasa bahwa ia mulai terlihat jahat untuk Luhan. Ia harus meninggalkan perempuan ini untuk menyelesaikan masalah ayah dan ibunya. Ia juga harus menahan rindu sampai masalah itu selesai. Sehun hanya akan membuat Luhan menunggu dan menunggu. Sehun takut Luhan akan kembali menjadi si perempuan berwajah muram yang ia lihat di kafe waktu itu. Luhan hanya akan memikirkan rasa rindunya pada orang terkasih yang berada jauh di sana.
Sehun takut ia gagal membuat Luhan lupa akan Yifan. Sehun juga takut ia membuat Luhan semakin larut dalam kesedihan karena menunggu.
Sehun tak tahu kapan pastinya masalah ini akan berakhir. Ia menanti-nanti waktu menyenangkan itu. Dan berharap waktu itu akan datang secepatnya.
"Sungguh kau akan baik-baik saja?" ulang Sehun cemas.
Luhan mengangguk‚ tersenyum menanangkan. "Ya‚ bayi besarku. Aku akan baik-baik saja‚ sesuai janjiku."
Sehun tersenyum. Ia menepuk-nepuk kedua pipi Luhan‚ mengecup ujung bibirnya sekilas. "Tunggu aku sampai semuanya berakhir‚ oke?"
Luhan tersenyum lebar. "Oke." balasnya. Dan ia membiarkan Sehun memeluknya dengan hangat.
…
To be continue…
Haaaai aku balik setelah sebulan ngilang hahahay. Maaf yha sebulan itu aku fokus lomba dan ngga bilang-bilang ke kalian. Maaf :(
Untuk chapter ini‚ mungkin pendek sekali. Mungkin juga bisa ngobatin sakit hati kalian setelah kemarin kubuat HunHan putus. Ini mereka ngga balikan loh yhaa… Sehun ato Luhan ngga bilang kalo mereka balikan heheh.
PENTING!
Ohya‚ bagi kalian yang ingin gabung grup line reader dan author HunHan‚ bisa hubungi idline : garinarahm15 . Grupnya terbuka untuk umum kok. Jadi kalian bisa ketemu dong ya sama temen-temen HunHan dari Sabang sampe Merauke heheh. Selain ada aku‚ juga ada banyak author lain kok. Di sana bakal seru karena kita bisa berbagi banyak informasi tentang HunHan. :)
Berminat? Yuk gabung ajaaa!
Follow ig ku yang namanya gerineeee yuk. Biar kalian bisa tahu jadwal update nya ffku dengan mudah :)
Hari ini aku double update‚ sesuai janjiku. Cek Lucky One ku yuk :))))
Juga lagi update barengan kak lolipopsehun. Cek story nya yhaaa :*
Jangan lupa review ya!
See you! :)
