Ketika kau entah di mana dalam urat nadiku

kudengar lengking suara itu

seperti asing rasanya matahari senja

tak ingin tenggelam di ufuk sana

-Ketika Kau Entah Dimana‚ Sapardi Djoko Damono-



Luhan bangun pagi sekali waktu itu. Ia tak mengerti kenapa semalam ia tak bisa tidur setelah Sehun mengantarnya pulang dari acara kencan seharian mereka. Mungkin karena Luhan terlalu senang sebab Sehun bersamanya kemarin. Atau mungkin juga Luhan masih memikirkan apa saja yang terjadi di hari itu bersama Sehun. Rasanya Luhan tak ingin melupakannya barang sedetik. Itu ingatan yang bagus.

Begitu menurunkan kaki pada lantai‚ Luhan meraih ponselnya. Tak ada pesan dari Sehun. Mungkin lelaki itu masih tidur.

Kembali meletakkan ponselnya‚ Luhan memilih untuk menyeduh kopi. Ia menuangkan air panas ke dalam gelas. Uap mengepul dan aroma kopi lantas tercium. Luhan tersenyum ketika menghirup aromanya. Matanya kembali melirik pada layar ponsel yang baru saja menghitam. Entah mengapa‚ mata Luhan tak ingin lepas dari ponsel. Mungkin karena Luhan sudah merasa rindu pada Sehun dan ingin dihubungi lelaki itu.

Ah‚ baru beberapa jam bertemu saja rasanya sudah rindu sekali. Luhan ingin bertemu Sehun lagi.

Baiklah‚ mungkin nanti siang Luhan bisa mengajak Sehun untuk bertemu.

Yah… Semoga Sehun ada waktu untuk berduaan lagi dengannya.



Siangnya‚ Luhan masih menunggu. Belasan menit yang lalu ia mengirim pesan pada Sehun meminta untuk bertemu. Namun sampai sekarang Luhan belum mendapat balasan. Sembari mengetik pekerjaannya di komputer‚ Luhan sesekali melirik ponselnya. Berharap segera ada notifikasi atas balasannya dari Sehun.

Satu menit‚

dua menit‚

bahkan sepuluh menit‚

Luhan mulai kesal dibuat menunggu. Jadi perempuan itu meraih ponselnya‚ lalu menelpon Sehun. Terdengar nada sambung yang lama sebelum suara operatorlah yang terdengar. Luhan mendesah keras. Ia coba lagi menelpon Sehun‚ dan balasannya tetap dari operator sialan itu.

Rasanya Luhan ingin menghajar perempuan yang pekerjaannya mematahkan semangat Luhan hari ini.

"Sehun masih kuliah‚ ya?" monolog Luhan bergumam. Ia mengingat-ingat‚ lalu melirik jam dinding di ruangannya. Pukul setengah dua siang. Seingatnya di hari ini dan jam segini‚ Sehun sudah bersantai-santai ria di apartemennya.

"Apa ponselnya lowbat?" tebak Luhan‚ berusaha untuk berpikiran positif. Lama berpikir‚ spekulasi-spekulasi lain justru bermunculan di pikirannya. Membuat Luhan berdecak keras dan kembali fokus pada pekerjaannya.

"Terserahlah. Kalau dia menghubungiku‚ aku tak akan peduli." Luhan menggidikkan bahu sekilas setelah itu.



Ponsel itu berputar-putar diantara jepitan jemari Luhan. Luhan memandangi layar ponselnya yang masih saja hitam itu dengan bibir manyun. Ini sudah malam. Dan Sehun sama sekali tak memberi balasan tentang ajakan bertemunya tadi siang.

Luhan kembali melihat chat terakhirnya dengan Sehun. Belum ada tanda 'read' disana‚ dan Luhan menghela napas pelan. Ia menjatuhkan ponselnya di kasur lalu menyembunyikan wajahnya pada bantal. Luhan memekik keras untuk menyalurkan rasa kesalnya pada Sehun.

"Kalau kau tak ingin bertemu denganku‚ ya sudah!" teriak Luhan masih dengan wajah tertutup bantal. "Aku juga tak akan merindukanmu!"

Lalu hening sebentar sebelum Luhan kembali memekik sembari melempar bantalnya.

"Akan kubunuh kau kalau tak mengangkat telponku kali ini!" kesalnya.

Luhan kembali meraih ponsel. Sebelum menelpon Sehun‚ Luhan berdoa dalam hati supaya kali ini Sehun akan menerima panggilannya. Jemarinya bahkan sampai bergetar saat Luhan hendak menyentuh ikon telpon di layar ponselnya. Luhan menunggu nada sambung.

Dan…

Suara operator lagi.

Sialan!

Luhan yang sungguhan kesal akhirnya melempar ponselnya entah kemana‚ lalu menggulung diri dengan selimut tebal sampai ia ketiduran.



Luhan pikir Sehun memang hilang ditelan bumi. Pasalnya lelaki itu tak kunjung membalas pesannya yang lalu‚ apalagi memberi kabar. Bahkan ini sudah hari ke delapan Luhan menunggu!

Sebenarnya bocah itu tersesat di hutan bagian mana?!

Entah Luhan yang terlalu over atau memang ia khawatir sungguhan. Luhan sudah memeriksa apartemen Sehun dan hasilnya adalah nihil. Tak ada tanda-tanda kehidupan Sehun di sana. Lalu Luhan juga sudah berkali-kali menghubungi Sehun‚ tetap sama saja si operator yang menjawab. Luhan gemas ingin berlari ke seluruh dunia hanya untuk mencari Sehun. Lelaki itu kadang kalau sudah menghilang ya terus saja menghilang sampai membuat Luhan kelimpungan sendiri. Sehun pintar sekali membuat Luhan seperti orang gila.

Kembali memeriksa ponsel dan tak ada tanda-tanda notifikasi Sehun untuknya‚ Luhan menghela napas. Ia mengetuk-etuk layar ponsel yang sudah menghitam itu dengan pipi yang menempel pada meja kerja. Bibirnya bergumam tak jelas memanggil nama Sehun.

"Soo Hyun akan memarahimu kalau kau bermalas-malasan lagi." celetuk Yixing yang membuat Luhan tersentak kecil.

Luhan bangun dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja. "Aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku bisa menyumpal mulutnya dengan alasan itu." sahutnya malas. Ia kembali melirik ponsel dan memperhatikan Yixing yang baru saja datang itu dengan heran. "Kapan kau pulang dari Cina? Kau tak memberitahuku."

Yixing tertawa. "Joonmyeon bilang kalau ada kau‚ kau akan mengganggu istirahatku." dan itu membuat Luhan mendengus dan mencibir Joonmyeon.

Oiya‚ soal Yixing tadi‚ perempuan berlesung pipi itu baru saja mengambil cuti untuk liburan ke Prancis bersama kekasih barunya yang bernama Kim Joonmyeon. Mereka liburan hanya berdua‚ ke Prancis‚ ke Negara yang terkenal dengan modenya‚ juga Negara yang memiliki ibukota yang identik dengan kata romantis. Mereka sudah saling mengenal sekitar setengah tahun yang lalu. Tepat setelah Luhan memberi tahu pada Yixing kalau Kris sudah punya kekasih bernama Huang Zitao‚ Yixing langsung dapat jackpot!―dia mendapatkan Kim Joonmyeon‚ orang kepercayaan Sehun‚ yang dikenalkan Sehun saat melihat Yixing tak ingin bicara sama sekali karena kabar Kris dan Zitao.

Eh‚ omong-omong‚ Joonmyeon tahu tidak ya tentang keberadaan Sehun?

"Yixing‚" spontan Luhan memanggil. Ia tak melihat ke arah Yixing yang berdeham sebagai tanggapan‚ melainkan menatap kosong depannya. "Apa Joonmyeon cerita padamu soal Sehun waktu kalian di Prancis?"

"Hah?" jawaban Yixing membuat Luhan menatapnya‚ menanti jawaban. Yixing terlihat mengingat-ingat saat itu. "Tidak sama sekali. Kenapa memangnya?"

Luhan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa." ia tersenyum kecil. "Ya sudah‚ kembalilah ke pekerjaanmu."

Yixing mengerutkan kening melihat Luhan kembali pada pekerjaannya. Perempuan itu sesekali melihat ke arah ponsel di meja alih-alih mengerjakan pekerjaannya di komputer. Yixing menghela napas. Setelah meletakkan tasnya di meja‚ Yixing berkata‚ "Kemarin aku tak pulang bersama Joonmyeon. Dia harus ke Kanada."

Luhan berhenti mengetik‚ menatap Yixing yang berjalan kepadanya kemudian.

"Dia bilang dia harus mengerjakan pekerjaannya lebih baik lagi mulai sekarang di sana. Mungkin Joonmyeon membantu Sehun di sana. Sehun tak bilang padamu dia kemana?"

Luhan menggeleng pelan. "Dia hanya bilang kalau tempatnya bakal jauh dariku." jawabnya pelan.

Yixing menghela napas lagi. Ia mengusap bahu Luhan dengan halus. "Mungkin Sehun tak ingin kau khawatir."

"Dengan menghilang dan tak memberiku kabar justru membuatku sangat-sangat khawatir."

"Kukira Sehun sudah memberimu pengertian dari awal sebelum dia pergi. Semua laki-laki pasti begitu. Dia tak akan pergi tanpa pamit padamu."

Memang benar‚ waktu itu Sehun sudah memberinya pengertian. Bahwa lelaki itu akan jarang menemui dan menghubunginya. Seharusnya Luhan bisa paham dan maklum‚ dia memang bilang seperti itu pada Sehun. Lagipula itu juga untuk kebaikan hubungannya dengan Sehun.

Jadi pada akhirnya‚ setelah berpikir berulang-ulang‚ Luhan tak akan mengkhawatirkan Sehun lagi. Lelaki itu pasti baik-baik saja. Luhan meyakini hal itu. Maka ia akan menerima keadaan. Sehun pasti memikirkannya di sana.

"Sudahlah‚" suara Yixing kembali terdengar dan itu membuat Luhan berjengit kecil. Perempuan berlesung pipi itu tersenyum saat menepuk-nepuk puncak kepala Luhan dua kali. "Jangan dipikirkan terlalu berat. Kau akan bertemu dengannya cepat atau lambat."

Luhan menyetujui hal itu dalam hati.



Luhan mencoba untuk tak memikirkan lelaki yang keberadaannya masih belum Luhan ketahui itu. Luhan memutuskan untuk tak mengkhawatirkan Sehun. Luhan yakin kalau Sehun akan baik-baik saja. Di sini saja keadaan masih baik-baik saja‚ bahkan Luhan bisa memenuhi janjinya dengan Sehun untuk tetap berkeadaan baik.

Sampai dua tahun berlalu. Dan rasanya waktu berjalan begitu cepat.

Pagi itu‚ Luhan bangun. Kebiasaan pertamanya adalah mengecek notifikasi ponsel. Tak ada kabar apapun dari orang yang diharapkan. Luhan meletakkan kembali ponselnya sebelum ia turun dari tempat tidur.

Meski Luhan berusaha untuk tak memikirkan‚ pada akhirnya kebiasaan itu tak bisa dihilangkan. Luhan masih berharap Sehun memberinya kabar lewat pesan atau apapun itu. Setidaknya itu bisa mengobati rasa rindu yang telah menumpuk tinggi.

Luhan membersihkan diri‚ sarapan‚ dan mengunjungi Kyungsoo yang meminta bantuannya semalam. Tepat pukul tujuh pagi‚ Luhan berangkat menuju tempat di mana Kyungsoo berada. Memang cukup jauh. Luhan harus naik bus dan menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di sana.

Sesampainya di sana‚ Luhan memandang sebuah gerai baru yang masih saja tutup itu dengan senyuman. Segera Luhan masuk ke sana. Bunyi lonceng kecil terdengar bertepatan setelah Luhan membuka pintu. Mendengar suara lonceng itu membuat Luhan bersemangat hari ini. Apalagi setelah itu Luhan melihat Kyungsoo keluar dari balik pantri‚ dan tersenyum cerah padanya.

"Hai‚ Luhan. Kau benar-benar datang." ujar Kyungsoo seraya menghampirinya.

Luhan tersenyum. "Kau yang meminta bantuanku‚ Kyungsoo. Jadi aku kesini untuk membantumu." sahutnya ringan. "Oiya‚ di mana Jongin? Seharusnya dia juga membantumu."

"Ah‚ Jongin sedang memeriksa biji kopi di dalam." jawab Kyungsoo seadanya. Luhan manggut-manggut mengerti.

"Apa yang bisa kubantu?" tawar Luhan. Senyum Kyungsoo bertambah cerah. Perempuan bermata bulat itu menarik Luhan untuk mengikutinya.

Sebenarnya‚ saat ini Luhan sedang berada di calon kafe milik Jongin yang dibuka nanti siang. Kafe ini berada di pusat kota‚ cukup dekat dengan kantornya Luhan. Pun berdesain minimalis yang nyaman‚ dengan kaca lebar di sisi yang langsung menghadap jalan sehingga memberi kesan luas. Ada belasan meja kosong di dalam yang disiapkan untuk para pelanggan‚ sedangkan di luar‚ terdapat tiga meja kosong dengan payung besar sebagai tempat berteduh ditiap-tiap meja.

Sebenarnya‚ Jongin pernah bilang kalau kafe ini dibangun karena ia dan Sehun pernah membicarakannya berkali-kali. Jongin juga bilang kalau Sehun ingin kafe ini segera dibangun‚ entah apa maksudnya‚ Jongin sendiri juga tak mengerti. Sementara itu‚ Luhan merasa tak ingin tahu apa alasan Sehun meminta Jongin demikian.

Untuk mengawasinya? Hah‚ Luhan tak ingin berharap terlalu tinggi pada orang yang tak ia ketahui kabarnya sampai sekarang ini. Lagipula yang mengelola semua manajemen kafe ini bukan Sehun‚ tapi Kyungsoo. Sehun hanya meminta begitu‚ tak langsung campur tangan memboyong kafe ini menuju kesuksesan.

Selesai membantu Jongin dan Kyungsoo untuk memilah biji kopi terbaik‚ Luhan pamit untuk ke kantor. Ia harus bekerja kalau tak ingin Soo Hyun mengomel-omel tak jelas lagi. Jadi Kyungsoo mengiyakan‚ dan Luhan berjanji nanti malam ia akan datang untuk membantu lagi.

Luhan berangkat ke kantor‚ mengerjakan pekerjaannya dengan baik‚ mengikuti meeting‚ dan sebagainya. Kehidupannya berjalan baik. Sangat baik tanpa lelaki itu. Hanya saja‚ Luhan merasa kosong dan kesepian. Tak ada Sehun di sampingnya‚ maka kebahagiaannya juga ikut terbawa lelaki itu. Hampa sekali rasanya hidup Luhan saat ini.

Luhan berhenti menyesap kopi ketika melihat layar ponselnya menyala tiba-tiba. Tertera nama Kris sebagai pelaku menyalanya ponsel Luhan. Ada satu panggilan masuk dari lelaki itu. Luhan meletakkan cangkir kopi di meja‚ lalu menerima panggilan itu.

"Halo?"

Terdengar suara berisik sebelum suara Kris terdengar. "Oh‚ ya. Halo‚ Luhan."

Luhan mengernyit. "Ada apa?" tanyanya. Sebenarnya mempertanyakan tentang apa yang terjadi di sana sampai suara berisik itu juga masih terdengar.

"Aku rindu." jawab Kris lain dengan nada jenaka. Ia terkekeh dan itu membuat Luhan merengut.

"Aku serius!" ketus Luhan. Kekehan Kris terdengar lebih menyebalkan setelah itu.

"Aku sudah mengirimkan tiket untukmu ke Kanada." sahut Kris. Nadanya serius‚ dan Luhan tak lagi mendengar suara berisik di sana.

Luhan terdiam sejenak mendengarnya. Hendak ia menanggapi‚ namun Kris terlebih dahulu melanjutkan.

"Ibuku merindukanmu. Ibu bilang ingin sekali bertemu denganmu setelah satu tahun tak bertemu." jelasnya.

Luhan menghela napas pelan. "Aku tak ingin ke Kanada." sahutnya pelan.

Di seberang sana‚ Kris ikut menghela napas. Ia tahu masalah Luhan. Setelah Kris berada di Kanada bersama ibunya selama setahun‚ perempuan itu bercerita padanya beberapa minggu yang lalu soal Sehun yang berada di Kanada entah melakukan apa. Bukannya Kris ingin Luhan melihat Sehun―yang jelas-jelas dirindukan Luhan itu― di Kanada. Kris hanya ingin menyampaikan apa yang ibunya minta. Jikalau Luhan tanpa sengaja bertemu dengan Sehun di sini‚ ya sudah‚ peluk-peluk sajalah lelaki itu. Apa susahnya‚ sih? Kris sendiri gemas pada tanggapan Luhan yang demikian. Perempuan itu merindukan Sehun tapi kenapa tak ingin bertemu‚ ya ampun…

"Terserah." ujar Kris acuh tak acuh. "Aku sudah mengirimkannya padamu. Kau harus datang untuk ibuku‚ Luhan. Beliau benar-benar merindukanmu. Kalau pun secara tidak sengaja bertemu dengannya‚ ya sudah‚ pura-pura tak tahu saja kalau kau belum ingin bertemu." lanjutnya asal. Kris sudah terlanjur gemas soalnya.

Luhan merengut. "Biaya telponnya mahal‚ Kris. Kututup saja." dan ia segera memutus panggilan tanpa peduli dengan Kris yang memprotesnya.

Masa bodoh. Luhan benar-benar tak ingin ke Kanada meski sebenarnya ia ingin. Luhan harus menahan diri. Ia tak ingin disangka benar-benar merindukan Sehun sampai harus menyusul lelaki itu ke Kanada. Biar Sehun yang datang padanya‚ menjelaskan semuanya‚ dan mendapat hukuman yang pantas dari Luhan. Luhan sudah kesal tapi ia juga harus lebih bersabar. Menunggu memang menyesakkan. Tapi ini juga untuk kebaikan hubungan mereka.

Luhan hanya harus menanam lebih banyak kesabaran. Sampai waktunya tiba‚ ia akan memukuli Sehun hingga lelaki itu kesakitan karenanya.



Luhan menutup resleting kopernya‚ lalu menurunkan koper dari tempat tidur. Di raihnya tiket di meja kecil sebelum Luhan keluar dari rumah.

Setelah semalaman penuh memikirkan hal itu‚ Luhan akhirnya memutuskan untuk berangkat juga. Luhan akan mencoba untuk tak peduli pada perasaannya. Jikalau ia bertemu Sehun‚ rasanya mustahil sekali. Kanada itu luas‚ lebih luas dari Korea Selatan. Jadi Luhan tak perlu mengkhawatirkan diri sendiri secara berlebih.

Luhan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melihat ramainya bandara saat itu‚ entah mengapa membuatnya gugup sendiri. Luhan menyemangati diri sendiri kemudian. Ia mengambil langkah tegas. Bagus‚ ini akan menjadi awal yang baik.

Setidaknya untuk beberapa waktu‚ biarkan Luhan lupa tentang Sehun meski nanti mereka berada di negara yang sama.



Luhan sudah sampai di Kanada satu jam yang lalu. Luhan benar-benar lelah setelah hampir lebih dari dua puluh empat jam penerbangan dari Korea sampai ke Vancouver‚ kampung halaman Kris. Luhan merebahkan tubuhnya pada kasur hotel yang empuk. Kerlap-kerlip lampu kota menjadi pelepas penatnya malam itu.

Getaran ponselnya membuat Luhan menghela napas pelan. Ia meraih ponsel‚ ada panggilan masuk dari Kris. Dengan malas‚ Luhan mengangkatnya. Setelah itu yang terdengar adalah suara cemas Kris yang bertanya‚ "Kau di mana? Sudah satu jam lebih aku menunggumu di bandara tapi kau tak kelihatan juga."

"Aku sudah di hotel." jawab Luhan seadanya. "Aku tak ingin menginap di rumahmu‚ Kris. Aku juga butuh privasi."

Kris mendesah keras. "Dasar keras kepala‚" cibirnya kesal. "Di hotel mana? Besok biar aku yang menjemputmu supaya bisa bertemu dengan ibu."

Luhan menyebutkan nama hotelnya‚ lalu bilang kalau ia butuh istirahat sekarang ini. Kris mengiyakan. Jadi setelah itu panggilan telepon terputus. Luhan memejamkan mata‚ sampai ia tertidur dengan nyenyak.



Sudah ada mobil Kris di depan hotel ketika Luhan melihatnya dari jendela kamar. Lelaki itu menunggu di luar‚ beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya. Luhan menghela napas. Setelah mendapat lima pesan yang mengatakan hal yang sama kalau ia harus segera turun dari hotel‚ Luhan memutuskan untuk keluar saja. Lagipula kenapa ia mengurung diri dengan alasan tak jelas ini‚ sih?

Luhan menemui Kris dan lelaki itu mencibirnya. Luhan hanya tersenyum melihat Kris mencibirnya dengan gaya Yifan sekali. Itu membuatnya secara refleks meninju dada Kris pelan‚ Luhan selalu melakukan hal itu jika Yifan mencibirnya dulu.

"Sudahlah‚ ayo berangkat." ujar Luhan mendorong-dorong Kris supaya masuk ke mobil. Kris berdecih pelan. Ia masuk ke jok kemudi‚ sementara Luhan duduk di jok penumpang depan. Mobil Kris membelah jalanan Vancouver yang ramai dengan kendaraan. Luhan mendekatkan wajahnya pada jendela mobil. Melihat-lihat kota Vancouver yang jauh berbeda dengan kota di Seoul membuatnya tersenyum. Di sini menyenangkan.

Mereka melewati Burrard Bridge yang menuju daerah bernama Kitsilano. Di sebelah utara setelah melintasi jembatan besar itu‚ Luhan melihat pantai yang ramai akan pengunjung. Pasirnya putih‚ dengan laut biru di tambah cuaca yang cerah. Senyum Luhan semakin lebar karenanya. Kris jadi ikut tersenyum ketika tanpa sengaja ia melirik Luhan di sebelahnya.

Mereka sampai di sebuah rumah bercat biru laut dengan pagar kayu berwarna putih. Kris memarkirkan mobilnya di depan rumah tersebut. Di beranda rumah yang terdapat tujuh undakan anak tangga itu‚ berdirilah seorang wanita yang Luhan kenali. Wanita itu tersenyum manis saat Luhan keluar dari mobil. Di belakang wanita itu‚ ada juga seorang perempuan muda yang memiliki senyum persis seperti bentuk bibir kucing. Luhan menghampiri kedua perempuan beda usia yang ia kenali itu.

"Halo‚ ibu." sapa Luhan senang. Ia memeluk wanita itu erat-erat untuk melepaskan rindu yang tercipta diantara mereka. "Senang bisa bertemu dengan ibu lagi. Bagaimana kabar ibu?"

"Baik‚ Luhan sayang." jawab wanita yang berstatus sebagai ibu kandung Kris dan Yifan itu. Ia tersenyum haru di bahu Luhan. "Ibu selalu baik."

Luhan tersenyum lembut. Senang rasanya bisa kembali ke keluarga hangat ini.



Setelah mendengarkan cerita dan mengobrol banyak dengan ibunya Kris‚ Luhan memutuskan untuk pulang saja. Perempuan bersenyum kucing yang dikenalnya sebagai Huang Zitao itu‚ sebenarnya membuat Luhan tak ingin pulang ke hotel. Zitao manis sekali‚ ia juga menggemaskan meski umur Zitao hanya berbeda setahun lebih muda darinya. Luhan jadi ingat tentang Kyungsoo yang berada di Korea. Ah‚ setelah ini Luhan harus mengabari perempuan itu kalau ia masih bisa menghirup oksigen dengan bebas di sini.

Sesampainya di hotel‚ Kris langsung kembali pulang ke Kitsilano. Luhan jadi merasa tak enak karena membiarkan lelaki itu bolak-balik Vancouver–Kitsilano hanya untuk mempertemukannya dengan ibunya. Tapi Kris tak masalah. Justru lelaki itu membalas‚ "Apa pun untuk ibuku dan kau‚ aku senang-senang saja." dan itu membuat Luhan tersenyum simpul.

Baguslah‚ Kris sudah banyak berubah semenjak ia menjalin hubungan dengan Huang Zitao.

Luhan berjalan menuju hotel setelah Kris pergi dengan mobilnya. Baru beberapa langkah tercipta‚ Luhan kembai berhenti. Di depan hotel sudah banyak wartawan yang berbincang-bincang dengan rekan mereka. Luhan mengernyit bingung sembari kembali melangkah masuk ke dalam. Oh‚ apakah ia satu hotel dengan artis terkenal sekarang ini? Wah… Tapi Luhan tak peduli‚ sih. Jadi ia kembali melangkah untuk masuk ke dalam. Para wartawan itu juga tak mempedulikannya.

Lima langkah tercipta‚ suara gaduh para wartawan itu mulai terdengar. Kilat dari jepretan kamera mereka sampai membentuk bayangan Luhan yang sudah memasuki hotel. Luhan mengernyit‚ mereka berisik sekali untuk mewawancarai artis yang mereka tunggu. Luhan menoleh ke belakang‚ berdecih‚ dan mencibir mereka. Namun baru saja menoleh‚ sosok yang menjadi pusat perhatian para wartawan yang dilindungi oleh tiga orang lelaki berpakaian formal yang tinggi dan besar itu‚ membuat Luhan terdiam. Sosok yang dilindungi itu melewati para wartawan dengan tenang‚ serta menarik seorang perempuan yang Luhan kenal pula.

Luhan tak bisa bergerak. Sosok itu melewatinya tanpa tahu dirinya begitu saja. Luhan tiba-tiba merasakan tubuhnya disenggol seseorang yang membuatnya terjatuh. Luhan baru sadar atas lamunannya tentang sosok itu. Luhan mengaduh kesakitan‚ kakinya terasa sakit. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa pelakunya‚ Luhan benar-benar membisu. Seolah lidahnya dipotong dan dibuang entah kemana.

Pelakunya adalah orang yang melindungi sosok itu. Dan sosok itu‚ juga melihatnya‚ dengan pandangan terkejut‚ serta kebingungan. Luhan tak bisa melepas kontak mata dengan sosok lelaki berpakaian santai itu. Pikirannya tiba-tiba kemana-mana. Luhan tak bisa fokus.

"Ma'am?" pelaku terjatuhnya Luhan menepuk bahu Luhan beberapa kali. Luhan mengerjap‚ menatap orang yang berada di depannya. "Are you okay?"

Luhan mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Matanya memanas tiba-tiba. Luhan berusaha untuk berdiri dengan pergelangan kaki yang terasa sakit. Ia meringis‚ berjalan dengan langkah senjang untuk menjauhi mereka. Bahkan Luhan menolak untuk dibantu lelaki berperawakan besar yang tadi menyenggolnya hingga terjatuh. Luhan harus pergi dari sana sebelum ia menangis di depan sosok yang tadi selalu memandangnya terkejut dan khawatir.

Sosok itu‚ Oh Sehun. Kenapa dunia terasa sempit sekali?

Luhan pergi menuju lift. Ia menunggu dan berharap semoga lift turun dengan cepat. Tanpa sadar ia sudah menangis karena menunggu lift yang baginya lama sekali itu. Luhan mengetuk-etukkan kakinya yang sakit‚ menggigit ujung ibu jarinya untuk menghilangkan rasa gugup. Ketika pintu lift terbuka dan Luhan hendak masuk‚ seseorang menarik lengannya dari belakang sehingga Luhan berhadapan dengannya.

Itu Sehun. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan yang tak Luhan mengerti. Sehun terlihat mencoba untuk menjelaskan namun Luhan segera melepaskan diri. Perempuan itu menghempaskan tangan Sehun begitu saja‚ dan masuk ke dalam lift. Dibiarkannya Sehun memandangnya sendu‚ dibiarkannya perempuan yang tadi bersama Sehun dan Luhan kenali sebagai Jennie Kim itu menatapnya dalam diam‚ dan dibiarkannya para wartawan yang terjebak karena pertahanan orang-orang besar di sekitar Sehun memotret ke arahnya.

Luhan yakin. Besok sosoknya masuk ke artikel tentang Oh Sehun dan Jennie Kim.

Setelah pintu lift tertutup‚ Luhan luruh. Ia menangis sendirian di sana. Dadanya berdebum keras‚ sakit sekali sampai bernapas pun rasanya sulit. Bertemu kembali dengan Sehun membuatnya terluka. Entah karena melihat lelaki itu bersama perempuan lain dan menjadi pusat perhatian‚ atau karena lelaki itu datang padanya di saat yang tak tepat.

Di saat Luhan harus menahan diri untuk tak bertemu dengan Sehun supaya ia tak marah-marah pada lelaki itu nanti‚ seperti saat ini. Luhan tak yakin jika setelah ini ia akan baik-baik saja. Sebab Sehun muncul dan memporak-porandakan pertahanannya selama ini. Luhan takut Sehun membuatnya terlihat lemah. Luhan takut Sehun membuatnya jadi kehilangan akal sehat untuk menghukumnya‚ sama seperti apa yang ia harapkan jika bertemu Sehun nanti.

Luhan tak akan memberi ampun untuk Sehun. Luhan tak peduli. Biar Sehun juga merasakan sakit yang sama dengan apa yang ia rasa selama dua tahun terakhir ini.


To be continue…


Haaaai! Aku datang lagi setelah kemarin update ff baru untuk HunHan project. Bisa langsung dicek deh. Semoga ngga bikin kalian nangis seember yhaa wkwk.

Hari ini aku lagi update barengan sama kak Baekbeeluxiugarbaby‚ sama lolipopsehun. Mohon dibaca cerita mereka yhaaa…

Oiya‚ ff ini mau tamat sekitar dua atau tiga chapter lagi. Biar Ibunya Sehun ngurusin masalahnya dulu‚ biar HunHan ngga ikut sengsara gara-gara masalah keluarga Oh itu. Maaf sekali jika kalian menunggu update nya ff ini kelamaan. Aku ada banyak tugas dan harus nyelesaiin tiga fanfic selama satu bulan :')

Maaf sok sibuk. Salahin real life saya aja (;

Menurut kalian‚ di chapter ini alurnya terlalu cepat atau justru malah sebaliknya? Kasih tahu aku yaaa (((:

Udah ah. Abaikan typo‚ tapi jangan abaikan aku :')

See you really soon! Don't forget to review!