Bagi kalian yang kemarin bingung dengan alur cerita chapter 17‚ aku akan meringkasnya di sini.
…
Ringkasan Chapter 17
Setelah kencan terakhir mereka‚ Sehun memutuskan untuk pergi dari Luhan. Sehun harus mengurus beberapa hal tentang Ibunya supaya ia bisa menjalin hubungannya kembali dengan Luhan. Sehun berusaha untuk membuat Luhan mengerti‚ bahwa tempat Ibunya memang jauh dari Korea‚ yakni Kanada. Jadi Sehun berangkat ke sana‚ tanpa bilang secara gamblang ke Luhan.
Setelah berbulan-bulan‚ Luhan tak mendapat kabar dari Sehun. Luhan berusaha untuk tak peduli‚ ia yakin Sehun akan baik-baik saja sebab Luhan juga baik-baik saja di sini. Luhan sudah tahu kalau Sehun berada di Kanada dari Yixing yang notabenenya adalah kekasih dari orang kepercayaan Sehun. Luhan tak berniat menagih kabar. Toh suatu saat nanti ia akan bertemu dengan Sehun entah dalam keadaan yang bagaimana.
Meskipun begitu‚ Luhan juga merasa kesal. Luhan butuh kabar dari Sehun namun lelaki itu tak kunjung memberinya kabar. Kekesalannya memuncak sampai ia tak ingin bertemu dengan Sehun. Kesabarannya mulai habis karena menunggu. Sehun tahu kalau Luhan benci menunggu tapi lelaki itu membuatnya menunggu selama dua tahun. Luhan bahkan berkeinginan kalau ia bertemu dengan Sehun nanti‚ Luhan akan memberi Sehun hukuman yang setimpal. Supaya Sehun mengerti rasa sakitnya menunggu‚ juga bosannya menunggu hal yang tak pasti.
Tapi disisi lain‚ Luhan juga takut. Jikalau ia bertemu dengan Sehun nanti‚ Luhan tak bisa menahan diri untuk tak memeluk Sehun dan menangis di depannya. Luhan hanya tak ingin ia terlihat seperti benar-benar berharap Sehun pulang padanya. Mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Jadi Luhan tak berhak pula menuntut Sehun pulang karena dirinya.
Jadi Luhan hanya mampu menahan diri‚ entah sampai kapan.
Namun tiba-tiba‚ Luhan bertemu dengan Sehun di suasana yang tak terduga. Luhan melihat Sehun bersama perempuan lain yang tak Luhan kenali dengan baik. Sehun juga menjadi pusat perhatian banyak orang dengan perempuan itu. Rasanya Luhan ingin kabur dari sana‚ namun di sisi lain ia ingin berhambur memeluk Sehun erat-erat; bertanya bagaimana keadaannya‚ bertanya tentang kenapa Sehun tak memberi kabar sama sekali‚ juga kenapa Sehun tak kunjung pulang padanya.
Namun semuanya terurung. Luhan terlalu kalut dan tak mengerti situasi. Jadi Luhan memutuskan untuk melarikan diri saja. Ia harus menenangkan dirinya sendiri sebelum ia kembali pada Sehun untuk menuntut kejelasannya.
…
Chapter 18
dan hujan; ada yang memberi isyarat kita
untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun
tentang langit yang tiba-tiba buram‚
untuk tetap diam dalam riuh hujan
Sea Life Park‚ Honolulu; 1971; Sapardi Djoko Damono
…
Mobil hitam itu melaju‚ membelah jalanan kota Vancouver. Di dalamnya terdapat tiga orang yang salah satunya adalah seorang perempuan manis yang sIbuk dengan ponsel. Sementara seorang lelaki di sampingnya‚ hanya memandangi pemandangan luar dengan diam. Pikirannya melayang‚ pada sesosok wanita yang kala itu memandangnya sendu. Lelaki itu menghela napas pelan.
"Jangan pikirkan Ibumu terlalu berat." ujar si perempuan manis setelah menyimpan ponsel ke tas tangannya. "Ibumu akan baik-baik saja."
Lelaki itu hanya mengangguk sebagai tanggapan sebelum ia menghela napas. Ia kembali fokus pada pemandangan luar‚ memblokir pikirannya supaya ia bisa menyingkirkan pandangan sendu Ibunya kala itu. Begitu sIbuknya dengan usahanya sendiri‚ lelaki itu sampai tersentak kecil ketika merasakan getaran dari ponselnya. Ia meraih ponsel‚ melihat ada satu pesan masuk untuknya.
Kris : Aku sudah mengantarnya sampai ke hotel. Jangan sampai membuatnya terkejut tentang keberadaanmu. Kau tahu sendiri kalau Luhan tak ingin melihatmu untuk sementara waktu.
Lelaki itu‚ Oh Sehun‚ menghela napas pelan. Diketiknya balasan singkat untuk Kris itu kemudian.
Sehun : Ya. Aku akan mencoba untuk tak melihatnya.
Kemudian ponselnya tak lagi menunjukkan adanya notifikasi pesan balasan dari Kris untuknya. Justru terdapat tanda 'read' disebelah pesan terakhir untuk Kris tadi. Kris sudah membacanya‚ dan Sehun kembali memasukkan ponsel ke saku. Namun lagi-lagi gerakan itu berhenti di udara. Ada satu e-mail yang masuk dari temannya‚ Kim Jongin.
From : jonginkim…..
Subject : kabar penting!
Kudengar dari Kyungsoo kalau Luhan cuti dari kantor dan berangkat ke Kanada kemarin malam. Kau tahu itu?
Sehun mengerutkan kening. Sehun sudah tahu dari Kris yang selama ini menghubunginya‚ memberinya kabar tentang Luhan meski Jongin juga mendapat sebagian besar andil untuk memberi kabar tentang perempuan itu. Kris dan Jongin memang berbaik hati memberitahunya tentang berbagai hal yang Luhan lakukan selama perempuan itu jauh darinya. Setidaknya Sehun masih merasa bersyukur karena Luhan masih ada yang menjaga.
To : jonginkim…
Subject : (none)
Ya. Aku sudah tahu kabar itu dari Kris.
From : jonginkim…
Subject : (none)
Baguslah. Jangan membuatnya terluka lagi. Kau tahu kalau Luhan sedang tidak ingin bertemu denganmu entah karena alasan apa. Kau akan bertemu dengannya di waktu yang tepat kalau memang takdir kalian segaris.
Sehun hendak mengetik balasan untuk Jongin namun seseorang yang mengemudikan mobil ini bilang kalau mereka sudah sampai di hotel yang mereka pesan. Sehun melihat ke luar‚ terdapat banyak wartawan di sana. Lelaki itu menghela napas‚ melihat perempuan di sampingnya yang bernama Jennie Kim itu dengan decakan kesal.
Sehun tahu kalau Jennie itu seorang model yang terkenal di Vancouver. Perempuan muda itu baru eksis di dunia entertain berkat keluarganya serta kerja kerasnya. Jadi selama Sehun berada di sekitar Jennie‚ ada banyak wartawan yang mengikuti mereka. Sehun jadi merasa kalau dia artis padahal dia benci dengan pekerjaan itu. Ah‚ Sehun pusing sendiri.
Mereka keluar dari mobil‚ lalu serbuan kilat jepretan kamera dari wartawan mulai menyilaukan mata. Sehun menunduk seraya menarik Jennie untuk segera masuk dibantu oleh bodyguard Jennie yang melindungi dan memberi jalan untuk mereka berdua. Dengan cepat Sehun dan Jennie masuk‚ berjalan menuju lobby. Namun tiba-tiba ia mendengar suara aduhan seorang perempuan yang bersamaan dengan suara tubuh yang jatuh. Sehun berhenti melangkah‚ berbalik‚ melihat keadaan.
Kau akan bertemu dengannya di waktu yang tepat kalau memang takdir kalian segaris.
Sehun sungguh tak mempercayai pengelihatannya. Ia melihat perempuan itu sedang berusaha untuk berdiri sendiri tanpa bantuan salah seorang bodyguard Jennie yang tadi menabraknya. Pandangan mata mereka sempat bertemu‚ dan ia bisa melihat mata bening itu berkaca-kaca setelah melihatnya. Mungkin ia terkejut karena pertemuan tak terduga ini.
Sepertinya memang Tuhan mempermainkan pertemuan mereka.
"Sehun‚" Jennie menyadarkan Sehun dari keterkejutannya. "Itu Luhan 'kan?"
Sehun mengangguk melihat Luhan yang kini sedang berdiri menunggu lift. Ia tak mengatakan apapun pada Jennie. Sehun hanya berderap mendekati Luhan‚ mengikuti magnet kehidupannya‚ dan mencegah Luhan untuk masuk ke dalam lift.
Dan saat itu serasa kehidupan Sehun berhenti berjalan. Ia melihat Luhan menangis. Perempuan itu hanya menatapnya dengan mata basah karena air mata sebelum menghempaskan tangannya. Sehun dipaku bayangannya sendiri. Melihat Luhan berada di dalam lift‚ menunduk untuk menghindari tatapannya‚ juga membiarkan Luhan pergi bersama lift‚ entah menuju ke lantai yang ke berapa‚ rasanya seperti seluruh dunianya dihempaskan begitu saja ke tanah. Sehun tak dapat mempercayai matanya sendiri bahwa ia bisa bertemu dengan Luhan kembali di sini. Begitu kesadarannya sudah kembali‚ ia hanya melihat Jennie yang menariknya masuk ke dalam lift kosong‚ tanpa ada Luhan di sana.
"Luhan ada di lantai tujuh. Kau bisa kesana nanti atau besok‚ terserah. Selamat karena kalian sudah bertemu kembali." ujarnya dengan senyum lebar.
Sehun mendengus kecil. Ia mendorong kening Jennie pelan tanpa menanggapi apapun.
…
Luhan sedang menekan-nekan pergelangan kakinya yang terasa sakit. Ia diam saja‚ tak menunjukkan ekspresi kesakitan karena perbuatannya sendiri. Justru karena rasa sakit di pergelangan kakinya itulah‚ Luhan bisa menyaingi rasa sakit di hati. Setelah merasa lebih baik‚ Luhan memutar-mutar pergelangan kakinya pelan untuk merenggangkan otot-ototnya. Ia baru meringis setelah itu. Otaknya kembali memproses rasa sakit dengan benar.
Menghela napas‚ Luhan meluruskan kakinya di tempat tidur. Ia bersandar pada kepala ranjang sembari memperhatikan kerlap-kerlip lampu gedung di malam hari. Kemudian perhatiannya teralihkan‚ pada getaran ponsel di meja. Ia bisa lihat ada satu e-mail masuk untuknya. Luhan meraih ponsel itu‚ dan membaca notifikasi untuknya.
From : dokyung…
Subject : have a nice day?
Bagaimana harimu di Kanada? Baikkah? Aku tak tahu sekarang di Kanada jam berapa‚ tapi kau harus memberitahuku apa saja yang kau alami di sana.
To : dokyung…
Subject : I have a nice time today
Di sini menyenangkan‚ Kyungsoo. Kau harus kemari untuk refreshing‚ kekeke. Hari ini aku ke rumah Ibunya Kris sampai malam dan baru saja sampai di hotel.
Luhan menimang-nimang ketika jarinya hendak mengetik kalimat lain. Ingin ia bercerita pada Kyungsoo kalau baru saja ia bertemu dengan Sehun. Apakah Kyungsoo terkejut? Atau justru ikut bergembira karena bisa mendengar kabar ini?―ah‚ jujur‚ Luhan juga senang bisa bertemu dengan Sehun. Tapi disisi lain‚ ia merasa sakit hati pula. Mereka bertemu lagi setelah dua tahun dipisahkan jarak‚ dan Luhan melihat Sehun bersama perempuan lain yang Luhan tidak begitu kenal.
Luhan menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dengan enggan‚ Luhan kembali mengetik.
...di hotel. Dan aku juga baru bertemu dengan Sehun. Bukankah dunia ini sempit sekali?
Luhan terus memandangi ponsel‚ berharap Kyungsoo segera membalas e-mail nya. Tidak berapa lama‚ Luhan tersentak kecil karena getaran dari ponselnya. Ada balasan e-mail dari Kyungsoo.
From : dokyung…
Subject : really?
Serius?! Wah‚ congrats! Duniamu dan dunia Sehun benar-benar berada dalam satu garis yang sama! Cepatlah bertemu lagi dengannya dan berbaikkanlah dengannya. Tak baik juga menyimpan rasa marah itu sendirian.
Luhan tersenyum‚ membenarkan apa yang dikatakan Kyungsoo padanya. Tidak baik juga menyimpan rasa marah itu sendirian. Nanti ia bisa meledak kapan saja seperti bom waktu. Lagipula ia bisa melihat Sehun baik-baik saja tadi. Rasa khawatirnya selama ini menguap‚ Luhan lega.
Tapi juga…
Luhan memejamkan mata sejenak. Meski hatinya terasa sakit dengan berbagai alasan yang tak bisa ia mengerti‚ Luhan berusaha untuk meredam rasa sakit itu sendiri. Ia harus berpikir positif supaya rasa sakit itu hilang dengan sendirinya.
To : dokyung…
Subject : (none)
Ya‚ kuharap juga begitu. Aku harus tidur sekarang‚ Kyungsoo. Sampai jumpa besok.
Luhan kembali meletakkan ponselnya di meja. Ia membaringkan tubuh‚ benar-benar memutuskan untuk tidur. Tubuhnya lelah sekali. Luhan sudah memejamkan mata. Namun sedetik setelah itu‚ ponselnya bergetar. Luhan membuka mata dengan helaan napas kasar. Dengan segera Luhan mengangkat satu panggilan untuknya itu dengan malas.
"Halo‚ Luhan?" suara Kris menyapa gendang telinganya. Luhan mendesah pelan.
"Apa?" tanya Luhan setengah kesal. "Kau sudah sampai di rumah‚ ya‚ sampai menelponku saja masih sempat."
"Aku masih di jalan." jawab Kris. Ia melanjutkan‚ "Kau harus melihat artikel terbaru di internet sekarang. Tapi jangan terkejut dulu. Aku akan menjelaskan semuanya besok."
Luhan mengernyit bingung. Ia tak mengerti tentang apa yang Kris katakan tapi dengan spontan Luhan membuka internet dan menemukan berita terbaru. Ada banyak berita serupa yang membuat Luhan harus me-scroll timeline dengan seksama.
Luhan tak begitu mengerti dengan bahasa yang ada di sana. Tapi yang ia tahu‚ ada foto saat Sehun mencekal tangannya di depan lift‚ dan ekspresi Jennie yang diam saja melihat momen waktu itu. Luhan kebingungan. Ia kembali mencari-cari berita dengan bahasa yang mudah ia pahami. Setelah menemukan‚ rasanya Luhan berhenti bernapas.
Judul artikel itu aneh‚ serius! Luhan hanya tahu intinya kalau Jennie membiarkan tunangannya bersama perempuan lain.
Tunangan? Sehun itu… tunangannya Jennie?!
…
Hari itu Luhan tidak tahu harus berlaku bagaimana. Perempuan itu sama sekali tidak mempedulikan Kris yang menelponnya terus menerus‚ sepertinya lelaki itu meminta bertemu‚ menjelaskan semuanya pada Luhan. Pun sepertinya Kris tahu banyak hal tentang Sehun mengingat mereka berada di negara yang sama. Lalu kenapa Kris tidak memberitahunya tentang hal ini dari awal?
Luhan kecewa‚ sungguh. Saking kecewanya‚ ia tidak tahu harus marah pada siapa. Pada Kris‚ Sehun‚ atau pada dirinya sendiri.
Rasanya Luhan ingin segera pulang ke Korea. Ia ingin bercerita pada Kyungsoo‚ menangis pada Yixing‚ dan tidur saja di rumahnya. Luhan sudah lelah merasa dicampakkan begitu saja oleh lelaki yang selalu dicintainya. Entah itu Yifan‚ atau Sehun.
Luhan membuka kelopak matanya‚ tangannya terulur keluar dari selimut untuk meraih ponselnya. Ada puluhan pesan dari Kris‚ dan belasan panggilan tidak terjawab dari nama kontak yang sama. Luhan tidak peduli pada pemberitahuan itu. Luhan hanya peduli pada waktu yang sudah dia habiskan selama ia mengurung diri. Sekarang sudah pukul dua siang‚ dan ia mengurung diri setelah ia membuka mata tadi pagi.
Luhan mendudukkan diri‚ lalu turun dari tempat tidur dan berderap pelan menuju kamar mandi. Ia sudah lelah mengurung diri. Lagipula perutnya juga harus diisi. Luhan memutuskan untuk keluar mencari tempat makan untuk dirinya sendiri. Sekalian menjernihkan pikiran juga rasa-rasanya perlu sekali.
Luhan sudah siap untuk keluar dua puluh menit kemudian. Ia meraih tas selempang kecilnya‚ dan melangkah menuju pintu. Begitu ia membuka pintu‚ seseorang dari luar sana sudah terlebih dahulu mengetuk pintu. Luhan mengerutkan kening bingung sebelum ia membuka pintu. Tidak ada yang kenal dengannya selama ia berada di Vancouver. Kris? Lelaki itu bilang ia sudah menyerah dengan sikap Luhan yang tidak ingin bertemu hari ini. Pelayanan kamar? Luhan sudah menolak pagi hari tadi dan berpesan bahwa hari ini ia tidak meminta pelayanan kamar apapun. Lalu siapa?
Meski Luhan bertanya-tanya siapa yang mengetuk kamar‚ pada akhirnya Luhan juga membukanya. Kemudian dilihatnya seorang lelaki yang berdiri tepat di depannya‚ menatapnya dengan senyuman yang membuat Luhan benci sendiri dalam diam. Luhan kenal siapa lelaki itu. Ialah Oh Sehun‚ lelaki yang ingin ia hindari untuk sekarang ini.
Senyum yang ditorehkan Sehun secara perlahan luntur sebab Luhan sama sekali tidak menunjukkan wajah senang setelah bertemu dengannya. Ia berdeham pelan‚ lalu kembali mencoba mengulas senyum yang sama untuk Luhan.
"Hai‚" sapa Sehun canggung. Luhan tetap diam tidak menanggapi. "Kau… Ada apa?"
"Untuk apa kau kemari?" tanya Luhan bernada sarkasme. Wajahnya tetap tidak berekspresi. Ia menunggu kelanjutan jawaban Sehun.
"Tidak boleh aku datang?" Sehun bertanya balik. Kali ini senyumnya sudah benar-benar luntur‚ tergantikan dengan ekspresi serius. "Kau marah padaku?"
Bukannya menjawab‚ melainkan Luhan kembali menutup pintu. Luhan benar-benar tidak bisa menahan segala ledakan emosi yang berada dipuncak ubun-ubunnya. Luhan merasa kesal‚ entah pada Sehun yang tiba-tiba datang untuknya‚ juga pada dirinya yang terpaku sadar tidak sadar.
Sehun yang mengetahui tindakan Luhan‚ secara refleks ia menahan pintu itu. Sehun mencoba untuk membuka pintu itu kembali supaya ia bisa melihat wajah Luhan yang ia rindukan selama ini. Namun sepertinya apa yang Sehun inginkan‚ Luhan tolak secara mentah-mentah. Luhan berusaha keras mendorong pintu itu supaya benar-benar tertutup. Ia tidak ingin melihat Sehun lagi.
"Kumohon dengarkan aku dulu." ujar Sehun kesusahan karena masih berusaha untuk mendorong pintu yang ditahan Luhan dari dalam. "Tolong‚ Luhan. Aku harus―argh!"
Spontan Luhan melompat mundur sesaat mendengar teriakan Sehun barusan. Untuk sementara waktu Luhan masih belum bisa mencerna. Ia melihat Sehun meringis‚ perlahan berjongkok‚ dan memegangi ujung sepatunya. Luhan mengerjap‚ menyadari sesuatu.
Sehun mengganjal pintu tadi dengan ujung kakinya?
…
Selama waktu berjalan setelah Luhan menyadari tindakan Sehun tadi‚ yang ada hanyalah hening. Luhan dengan telaten melilit kaki Sehun yang memerah dengan perban. Ia tidak mengatakan apapun‚ tidak meminta Sehun untuk tidak bertindak aneh-aneh lagi‚ juga tidak merespon panggilan Sehun yang sebelum-sebelumnya.
Sementara Luhan sIbuk mengobati kakinya‚ sedari tadi Sehun memandangi Luhan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat perempuan ini berada di depannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan lembutnya telapak tangan Luhan yang menyentuh kulitnya. Rasanya sudah lama sekali. Dan Sehun benar-benar merindukan perempuan ini.
Selesai melakukan pekerjaan terakhir pada kaki Sehun‚ Luhan bangkit. Sehun mendongak mengikuti kemana perginya Luhan setelah itu. Perempuan itu menyimpan kotak P3K pada laci‚ lalu kembali berjalan menunju Sehun. Ekspresinya masih sama datarnya seperti tadi. Tapi sepertinya apa yang diucapkan Luhan kali ini berbeda dari yang tadi.
"Maaf sudah membuat kakimu terluka." ujar Luhan. Nadanya masih datar. "Kau bisa berjalan?" tanyanya.
Sehun tersenyum. Meski Luhan berkata dengan nada datar‚ tapi Sehun tahu kalau ada rasa cemas di dalam sana. "Entahlah." jawab Sehun sembari menggidikkan bahu sekilas. Ia mengulurkan kedua tangannya di depan Luhan‚ lalu berkata‚ "Bisa tolong bantu aku berdiri?"
Luhan memandangi uluran tangan itu sejenak. Ada yang mencubit dirinya secara perlahan dan menyakitkan. Ingin sebenarnya ia menerima uluran tangan itu. Namun tiba-tiba tubuhnya menolak. Luhan memasukkan kedua tangannya pada saku mantel tanpa peduli dengan uluran tangan Sehun. Sehun menarik kedua tangannya dengan kaku.
"Aku harus pergi. Jadi tolong pergilah dari sini."
Sehun menatap Luhan yang mengalihkan pandangan darinya saat ini. Lelaki itu menghela napas berat‚ dan ia mencoba untuk berdiri sendiri. Sehun meringis merasakan kakinya yang terasa perih saat menyentuh lantai. Astaga‚ kenapa ia bisa nekat mengganjal pintu dengan kakinya?
Sehun hanya mengangguk mengiyakan sebelum ia melangkah susah pAyah‚ menuruti apa yang diinginkan Luhan. Lelaki itu berjalan dengan terseok-seok‚ sama sekali tidak mengatakan apapun pada Luhan. Sementara Luhan‚ dia sendiri memandangi punggung Sehun sampai lelaki itu menghilang dari balik pintu. Semua yang ditahannya sedari tadi meledak seketika. Luhan luruh ke lantai yang dingin. Dibiarkannya air mata yang sudah ia tahan itu meluncur bebas dari kantung mata. Luhan menangis sendiri.
Benar-benar sendiri.
Sementara itu‚ di luar Sehun hanya bersandar pada pintu kamar Luhan. Ia bisa mendengar suara tangis Luhan dari sana. Sehun hanya diam‚ merasakan jantungnya yang bertalu nyeri. Ini memang salahnya. Alasan Luhan menangis adalah dirinya. Sehun hanya bisa menyalahkan diri sendiri dalam diam.
Jika dari awal ia memberi kabar‚ jika dari awal ia memberi Luhan kepastian‚ maka semuanya akan baik-baik saja. Sehun tahu jika keputusannya untuk tidak menghubungi Luhan‚ supaya ia juga bisa menahan diri untuk tidak kembali ke Korea dan menuntaskan masalah keluarganya di Kanada‚ adalah keputusan yang salah. Seharusnya ia menimang-nimang dulu apa yang akan terjadi jika ia mengambil keputusan itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Mau kau apakan bubur itu kalau tidak dimakan?
Sehun menghela napas berat. Ia sungguh tidak ingin terus-terusan seperti ini. Jadi dengan terpaksa Sehun memberanikan diri untuk berbicara pada Luhan. Ia meraih sebuah kartu berwarna hitam dari dalam saku‚ lalu masuk ke dalam kamar penginapan Luhan menggunakan kartu itu. Kartu yang ia gunakan adalah kartu yang bisa berguna untuk apa saja di hotel ini‚ termasuk memasuki salah satu kamar‚ karena kartu itu hanya dimiliki oleh pemilik dari hotel ini.
Bisa dilihatnya Luhan yang terkejut melihat Sehun masuk dengan susah pAyah karena kakinya. Luhan menghapus air mata dengan cepat‚ mengubah ekspresinya menjadi ekspresi marah sesaat sebelum Sehun menariknya untuk keluar dari kamar penginapan.
Luhan sama sekali tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba Sehun bisa masuk ke dalam kamarnya‚ dan mengapa pula lelaki itu terlihat menunjukkan wajah datar saat menarik tangannya?
Luhan seakan tersihir. Ia hanya bisa diam tanpa ingin memberontak karena Sehun yang datang padanya‚ lagi.
…
Hening. Begitulah suasana yang ada selama belasan menit berlalu mereka berada di bar lantai bawah hotel ini. Sehun hanya memandangi Luhan‚ sementara yang dipandangi sIbuk dengan satu botol wine yang isinya tersisa setengah saja‚ yang lain sudah meluncur ke saluran pencernaan Luhan.
Suara ketukan antara gelas dengan permukaan meja kali ini terdengar keras lagi. Sudah belasan kali Luhan meneguk wine dengan kadar alkohol tinggi itu. Dan sudah belasan kali pula Sehun menghela napas melihat Luhan nya jadi seperti ini. Jika hubungan mereka masih baik-baik saja‚ maka Sehun akan membujuk Luhan supaya perempuan itu tidak berkeras kepala menghabiskan satu botol wine sendirian. Sehun tahu Luhan tidak bisa minum. Perempuan itu sudah merasa mabuk kalau ia menghabiskan gelas ke dua puluhnya. Hanya saja saat ini hubungan Sehun dan Luhan sedang dalam kondisi yang buruk. Jadi ia hanya bisa diam melihat saja.
Ingin Sehun bersuara untuk memulai pembicaraan‚ tapi nampaknya Luhan sedang tidak ingin mendengarkan penjelasannya―dilihat dari caranya minum di awal yang terlihat malas‚ tatapan lelahnya‚ serta jarak duduk mereka yang dipisahkan oleh dua kursi.
Sehun menghitung dalam hati. Dan ini sudah gelas ke dua puluh. Dilihatnya Luhan meletakkan gelas itu di meja. Perempuan itu terdiam sejenak‚ Sehun masih menghitung dalam hati.
Satu‚ dua‚ tiga‚ empat‚ li―
Bruk!
Kepala Luhan jatuh membentur permukaan meja. Sehun menghembuskan napas keras melihat Luhan tertidur setelah meneguk wine ke dua puluhnya. Lelaki itu mendekati Luhan‚ merangkul bahunya‚ menegakkan tubuh Luhan sehingga kepala Luhan menjadi mendongak‚ berputar‚ dan akhirnya jatuh di dada Sehun. Sebelah tangan Sehun digunakan untuk menangkup pipi Luhan‚ membuat dirinya bisa melihat bagaimana wajah Luhan saat ini.
Bukannya wajah tidur damai milik Luhan yang Sehun lihat‚ melainkan wajah sendu yang basah karena air mata. Luhan memang memejamkan mata‚ tapi air mata turun dari sudut matanya‚ merembes melewati celah dan bulu matanya. Hidung Luhan memerah‚ kembang kempis‚ dan terdengar suara bersitan pelan. Perlahan Luhan membuka mata. Tatapan mata mereka beradu.
Sehun menatapnya pilu‚ sementara Luhan tidak bisa berekspresi karena ia sedang menangis saat ini. Ia terlalu kalut akan perasaannya yang campur aduk sekarang. Melihat Sehun sekhawatir dan sesakit ini menatapnya‚ Luhan jadi tidak bisa menahan gejolak perih yang mendera dadanya.
"Jangan sentuh aku."
Kalimat pendek itu terucap sebagai bisikan dari Luhan untuk Sehun. Ia mencoba untuk melepaskan diri. Dihempaskannya tangan Sehun dari pipi‚ lalu ia memutar bahunya supaya Sehun menyingkirkan rangkulannya. Luhan menatap Sehun setelah ia menghapus sisa air mata dari wajahnya.
Sehun menahan napas‚ mempersiapkan diri kalau-kalau Luhan mendadak memukulnya atau memarahinya. Sehun sadar jika akar dari permasalahan ini adalah dirinya. Jadi dia juga tidak ingin membela diri dari awal.
"Kau menggangguku." tandas Luhan sebelum kembali meneguk wine nya. Mengabaikan Sehun yang kali ini menatapnya penuh arti.
"Kau tidak bisa minum banyak wine." ujar Sehun kemudian. Tangannya terulur‚ mengambil alih botol wine yang isinya tinggal seperempat itu.
Luhan menatap tajam Sehun yang kini sedang menatapnya lembut. Sejujurnya bisa saja Luhan luluh karena tatapan mata Sehun untuknya. Hanya saja Luhan bukanlah perempuan bodoh yang dengan gembiranya tersenyum melihat senyum lembut milik mantan kekasihnya. Maka dari itu Luhan beralih. Perempuan itu lebih memilih memesan kembali wine pada seorang bartender. Membuat kening Sehun berkerut tidak suka karenanya.
"Sudah kubilang kau tidak bisa minum banyak wine‚ Luhan." ujar Sehun‚ sedikit marah. Namun Luhan tidak peduli.
"Hm." Luhan mengangguk saja. Ia tidak memprotes kalimat yang mengisyaratkan larangan dari Sehun itu. Ia hanya membalas‚ "Terima kasih sudah mengajakku kesini. Setidaknya aku bisa minum wine tanpa diprotes Kyungsoo lagi." dan berterima kasih kepada bartender yang baru saja mengantarkan satu botol wine pesanannya.
Sehun menatap Luhan tidak percaya. Perempuan itu bahkan dengan mudahnya menuangkan wine sampai gelasnya penuh. Tanpa bisa mencegahnya‚ Sehun hanya diam saja melihat Luhan menenggak wine‚ mengernyit merasakan sensasi alkohol yang meluncur ke kerongkongannya.
Ada yang memukuli hatinya sampai hancur lebur. Sehun sesak napas seketika melihat Luhan begitu mudahnya menenggak wine‚ yang tentu saja sangat berbeda dari Luhan yang dulu.
Setelah tiga gelas Luhan habiskan‚ akhirnya Sehun menghentikan aktivitas Luhan dengan paksa. Lelaki itu merebut gelas dari genggaman tangan Luhan‚ serta menjauhkan botol wine yang tersisa dari Luhan. Sehun menatap Luhan serius‚ namun perempuan itu nampaknya masih biasa-biasa saja.
"Berhentilah minum. Ada yang harus kubicarakan denganmu." ujar Sehun mengawali pembicaraan.
Luhan mengernyitkan kening tidak suka. "Aku ingin minum!" balasnya ketus. Tangannya terulur untuk meraih botol wine di belakang lengan terjauh Sehun‚ namun Sehun kembali menjauhkannya. Luhan menghentak-hentakkan kakinya kesal. "Jangan mengganggu minumku!"
Ah‚ sepertinya Luhan sudah mabuk meski perempuan itu masih tetap bersikeras ingin minum lagi.
"Luhan‚" Sehun berusaha menyadarkan Luhan.
"Menyingkirlah!" dan nampaknya Luhan tidak peduli dengan Sehun.
"Luhan‚" lagi‚ Sehun mencoba untuk sabar.
Kaki Luhan kembali menghentak-hentak seperti anak kecil. Ia mulai merengek‚ "Kembalikan wine ku!"
"Luhan!" Sehun mengeraskan suaranya‚ membuat Luhan berhenti merengek‚ dan duduk kembali di kursinya. Sehun menghela napas. "Kau boleh minum lagi setelah kita selesai bicara."
Mata Luhan mengedip beberapa kali menatap Sehun. "Janji?"
Sehun mengangguk dan Luhan tersenyum lebar. Ia memposisikan diri untuk duduk dan mendengarkan Sehun. Membuat Sehun memandang Luhan dengan begitu tulus. Senyum Luhan dan binar matanya membuat Sehun ingin sekali memeluk perempuan itu dengan erat sekarang ini.
"Kau tahu siapa aku?"
Luhan mengangguk‚ kemudian wajahnya cemberut. "Oh Sehun‚" jawabnya pelan. Ia menghela napas pelan.
"Kenapa?" tanya Sehun. Luhan menggeleng pelan tidak ingin menjawab. "Kau tidak ingin bertemu denganku?" dan lagi-lagi Luhan tidak ingin menjawab. "Kenapa?"
Hening cukup lama. Luhan memilih untuk bungkam. Sepertinya perempuan itu sedang berusaha untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya saat ini. Sementara itu‚ Sehun masih menunggu. Ia biarkan Luhan menunduk‚ memandangi permukaan meja dengan pandangan kosong. Beberapa detik berlalu dan setelah itu Sehun melihat Luhan meneteskan air mata. Sehun menahan napas‚ membawa Luhan menuju dekapannya. Namun perempuan itu menolak. Keduanya saling berhadapan kemudian‚ tanpa memandang satu sama lain. Yang Sehun tahu‚ Luhan menangis karena dirinya. Sementara Luhan sendiri‚ dia menangis karena merasa kasihan pada dirinya sendiri.
"Kalau kau marah‚ marah saja padaku."
Luhan masih bertahan untuk diam.
"Maaf karena aku sama sekali tidak menghubungimu. Aku hanya harus menahan diri supaya aku tak berlari kembali padamu. Ada yang harus kuselesaikan di sini."
Ada yang mencubit sisi hati Luhan setelah mendengar kalimat itu. Ia sudah punya kesadaran yang cukup untuk mengerti. Namun entah mengapa‚ pikiran Luhan justru berbanding terbalik dengan hatinya. Meski Luhan merasakan hatinya mencelus sakit karena penjelasan singkat Sehun‚ Luhan justru menyindir‚ "Oh‚ kukira kau lupa dengan semua tentangku‚" dan memasang senyum miris baik-baik saja.
Luhan tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Apalagi Sehun.
Tadi itu Sehun sudah yakin kalau Luhan akan mengerti dengan dirinya. Luhan akan selalu mengangguk dan tersenyum ketika ia paham akan penjelasannya. Perempuan itu selalu begitu. Tapi rasanya Luhan sudah berubah. Waktulah yang mengubah semuanya.
Atau Luhan hanya tidak bisa menerima alasan itu karena saking lama ia menunggu?
"Bukan begitu‚" Sehun masih mencoba untuk menjelaskan. "Aku tahu waktu dua tahun itu lama. Tapi aku tidak akan melupakanmu dengan mudah."
Luhan menarik napas panjang dan menghembuskannya keras-keras. Ia tak tahu kenapa tiba-tiba ia bisa menatap Sehun tajam. Luhan hanya merasa ia tidak perlu menangis hanya karena lelaki yang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya ini. Luhan tahu sudah ada perempuan lain yang mengikat Sehun. Luhan juga mengerti bahwa tidak seharusnya ia mendengar penjelasan yang tidak ada gunanya ini. Meski Luhan merasa sedikit lega‚ namun hatinya tiba-tiba memberontak.
Luhan bangkit dari duduknya‚ tidak mengatakan apapun. Sebisa mungkin ia menjaga keseimbangannya saat berjalan menjauh dengan cepat. Namun efek wine yang diteguknya tadi itu membuat Luhan limbung. Luhan jatuh tersandung kakinya sendiri. Tiga detik setelah itu‚ sebelum Luhan berhasil bangkit‚ Sehun sudah membantunya berdiri. Lelaki itu merangkul Luhan‚ berkata‚ "Biar aku yang mengantarmu kembali ke kamar." dan menuntun Luhan untuk berjalan pelan-pelan‚ dengan kaki yang terseok-seok pula. Dipeluknya pinggang Luhan‚ dan ditahannya tangan Luhan supaya tetap merangkul lehernya.
Sikap Sehun yang begini justru membuat Luhan semakin kesal. Ia menyentak tangannya‚ sedikit mendorong Sehun sehingga ia bisa terbebas dari lelaki itu. Punggung Luhan membentur dinding dan ia hampir jatuh lagi. Luhan berusaha untuk menyeimbangkan diri lagi‚ namun sepertinya gagal. Luhan tak lagi bisa memberontak ketika Sehun menggendongnya di pundak‚ seperti mengangkat karung beras dan Luhan sebenarnya kesal digendong seperti ini.
Sehun terpaksa melakukan itu karena ia sudah tidak tahan lagi melihat keadaan Luhan yang masih setengah sadar dan setengah mabuk itu. Sehun benci melihat Luhan begitu menderita karena dirinya. Setahunya Luhan bukanlah perempuan yang suka minum wine selagi ia memiliki masalah. Luhan lebih suka menyeduh kopi‚ dan menghirup aromanya untuk menenangkan pikiran. Sehun jadi merasa ialah lelaki terbrengsek sedunia karena telah membuat Luhan berkubang bersama alkohol dan kawan-kawannya.
Lagi-lagi‚ Sehun masuk ke kamar penginapan Luhan dengan mudah. Ia yang memiliki wewenang terbesar di sini jadi ia bisa melakukan apapun. Sehun membaringkan Luhan dengan pelan-pelan ke tempat tidur. Sehun meringis‚ merasakan sakit di kakinya yang terluka. Namun bukan itulah sekarang masalahnya. Ia bisa melihat mata Luhan terpejam tenang. Wajah perempuan itu damai‚ pertanda bahwa Luhan sudah terlelap. Sehun melepas flatshoes Luhan‚ dan menyelimutinya sampai sebatas dagu. Dipandanginya lagi wajah Luhan yang seperti bayi itu‚ dan Sehun tak bisa menahan senyum kecil.
Meski beberapa sikap Luhan sudah berubah‚ setidaknya Luhan masih secantik dulu.
…
Hal yang pertama kali Luhan lihat setelah ia membuka mata adalah gelap. Luhan mengerjap-erjap pelan‚ mengubah posisi tidur menjadi menyamping. Kemudian yang dilihatnya adalah cahaya bulan yang menyusup ke celah-celah tirai kaca besar di dekat tempat tidurnya. Sudah malam‚ batinnya. Jadi ia kembali menutup mata‚ mencoba untuk tidur.
Beberapa menit terlewati‚ dan Luhan tidak bisa tidur lagi. Ia menghela napas pelan. Luhan menyibak selimut untuk mendudukkan diri. Sesaat ia merasakan pening mendera kepalanya. Luhan meringis. Ah‚ efek alkohol pada dirinya memang seperti ini meski ia hanya minum sedikit.
Luhan menurunkan kaki‚ menyentuh lantai yang dingin. Ia butuh air hangat untuk menetralkan rasa pening di kepala‚ serta beberapa makanan ringan untuk mengganjal perut. Karena tadi siang ia bertemu Sehun‚ Luhan jadi belum makan apa-apa selama seharian ini.
Omong-omong tentang Sehun‚ kemana perginya lelaki itu setelah membawanya kemari?
Luhan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi setelah ia digendong Sehun dipundak tadi sore. Mungkin karena ia tertidur atau bagaimana‚ Luhan jadi tidak ingat apa-apa. Yang ia ingat hanyalah gumaman Sehun untuknya.
"Kenapa kau bisa jadi seperti ini?"
Luhan mendengus. "Itu semua karenamu." jawabnya pelan dan ketus.
Luhan menuangkan air hangat dari teko ke dalam gelas‚ kemudian meminumnya. Setelah itu Luhan berjalan lagi menuju laci di pantri. Ada beberapa makanan ringan yang ia simpan di sini. Luhan meraih salah satunya‚ dan memakannya sendiri.
Tidak juga.
Karena setelah itu‚ terdengarlah suara‚ "Kau sudah bangun?" dari belakang tubuh Luhan.
Luhan tersentak‚ refleks menoleh ke belakang. Dilihatnya Sehun yang menguap dan merenggangkan otot-ototnya sebelum berjalan terseok-seok mendekat. Luhan masih kebingungan kenapa bisa ada Sehun di sini? Ini hanya halusinasinya saja atau bagaimana?
Tapi Sehun benar-benar nyata. Lelaki itu mengambil sebuah piring dari lemari pendingin dan meletakkannya begitu saja ke dalam microwave. Setelah itu Sehun mendekati Luhan‚ duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau―" Luhan berhenti bicara saat melihat senyum Sehun untuknya.
"Aku memanaskan pasta untukmu. Aku tahu kau belum makan sama sekali hari ini." ujar Sehun lembut. "Bagaimana? Kau sudah baikan?"
Luhan hanya bungkam. Ia kembali mengunyah makanan ringannya dan tidak peduli pada Sehun. Sementara itu‚ Sehun sendiri‚ diam-diam ia menghela napas pelan. Ia paham Luhan sedang tidak ingin mendengarnya berbicara atau apapun itu. Sehun hanya ingin Luhan mengerti. Jadi selagi menunggu pasta yang baru ia panaskan itu‚ Sehun kembali bersuara‚ menjelaskan semuanya.
"Aku pergi ke Kanada untuk menyusul Ibuku. Ibu dikirim Ayahku kemari‚ supaya Ibu bisa jauh dariku. Jadi sekarang aku menyusulnya." awal Sehun. Diliriknya Luhan‚ dan perempuan itu masih terlihat biasa-biasa saja. Sehun kembali melanjutkan. "Ayahku tak tahu untuk apa sebenarnya aku ke Kanada. Yang ia tahu‚ aku ke Kanada untuk menerima tawarannya. Tentang aku‚ tentang Jennie juga."
Luhan berhenti mengunyah makanan ringannya untuk beberapa saat. Sebenarnya ingin sekali ia bertanya pada Sehun. Namun semua kalimat tanyanya hanya berhenti di ujung lidah‚ dengan mulut yang enggan membuka untuk bersuara. Ketika Luhan menoleh pada Sehun‚ lelaki itu menatapnya sebentar sebelum menunduk. Sehun menghela napas.
Ada jeda cukup panjang kemudian. Suara microwave pun terdengar‚ tanda pasta yang dipanaskan Sehun sudah siap untuk dihidangkan. Sehun mengambil piring berisi pasta itu dengan sarung tangan tebal‚ lalu meletakkannya di depan Luhan.
"Makanlah. Jangan hanya makan makanan ringan. Pasta cukup membuatmu kenyang."
Luhan memberanikan diri menatap Sehun dengan mata berair. Ia bertanya‚ "Kenapa?" dengan suara bergetar. Sehun hanya balas menatapnya‚ tidak ingin menjawab walau lelaki itu berkata‚ "Makanlah‚ Luhan."
Luhan kembali diam. Dibiarkannya pasta yang aromanya menguar membuat perutnya semakin lapar. Luhan hanya menatap Sehun‚ menanti kelanjutan kalimatnya.
"Awalnya aku mencoba untuk melihat Ibuku. Tapi orang-orang Ayahku ada banyak di sana. Aku bukanlah apa-apa di Kanada tanpa Jennie. Jennie dan Ayahnya tahu bagaimana posisiku. Jadi mereka membantuku. Dengan bantuan mereka‚ aku bisa mengunjungi Ibuku sesekali. Tapi dengan satu syarat."
"Bertunangan dengan Jennie." sambung Luhan. Ia mengalihkan pandangan‚ meraih sumpit dan memakan pasta. Lagipula ia sudah tidak bisa menahan lapar karena gengsi. Lambungnya butuh sesuatu untuk dicerna. Selain untuk menyembunyikan genangan air mata di matanya dari Sehun.
Lantas Sehun menatap Luhan sedikit terkejut. "Ka-kau‚ tahu?" tanyanya terbata-bata. Luhan yang tidak menjawab baginya adalah jawaban iya atas pertanyaannya. Sehun menghela napas. "Pasti Kris yang memberitahumu." tebaknya pelan. "Aku hanya―kau tahu‚ itu hanya soal bisnis."
"Dan tiba-tiba kau jatuh cinta pada Jennie."
Sehun tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk kecil‚ melihat betapa santainya Luhan menyahut demikian setelah perempuan itu menelan pastanya. Begitu rasa sakit pada tenggorokkannya mereda‚ Sehun kembali menjelaskan. "Tidak. Aku tidak akan semudah itu jatuh cinta pada perempuan lain disaat aku masih mencintaimu."
Dan kalimat itu cukup membuat Luhan tertohok. Ia hampir tersedak saus pasta kalau tidak segera mengontrol diri. Luhan sudah bangkit hendak meninggalkan Sehun sendiri. Namun lelaki itu menahannya‚ dengan cengkeraman lembut di pergelangan tangannya‚ yang tentu saja membuat Luhan enggan untuk pergi.
"Aku dan Jennie hanya berteman‚ dan status tunangan itu hanya untuk mengecoh Ayahku saja." sambung Sehun. Lelaki itu menarik Luhan dengan pelan‚ mendudukkan Luhan kembali di kursinya. Ditatapnya mata perempuan yang dirindukannya selama ini‚ dan ia merasa begitu lega. Sebab Luhan juga menatapnya‚ meski masih enggan untuk berbicara.
Sehun tersenyum. Ia menangkup wajah Luhan‚ dan perempuan itu sama sekali tidak masalah dengan apa yang kini ia lakukan. Senyum Sehun semakin lebar. "Sudah lama aku tidak melihatmu sedekat ini." bisiknya sembari mengusap sebelah pipi Luhan. Sehun mengecup kening Luhan lama. Sehingga Luhan dengan mudahnya terbuai untuk menikmati setiap detik yang terlewat. Kedua mata Luhan terpejam. Perasaannya damai.
"Setiap hari aku memikirkanmu. Aku selalu merindukanmu." kali ini Sehun memeluk Luhan dengan penuh kerinduan. Seolah ia memang baru bertemu dengan Luhan setelah puluhan tahun tidak bertemu. "Apa kau juga merindukanku?"
Luhan hanya menjawab dengan dengungan serta anggukan samar. Matanya masih terpejam‚ benar-benar menikmati momen ini.
"Kau masih ingin diam saja? Tidak ingin berbicara denganku?"
Lantas Luhan bergerak melepaskan diri dari Sehun. Lelaki itu mengendurkan pelukan‚ menatap Luhan yang juga sedang menatapnya.
"Sehun‚" panggil Luhan pelan. Kemudian ia tersenyum kecil‚ menis sekali. "Oh Sehun…"
Sehun tertawa kecil. "Bahkan kau menyebut namaku dengan tatapan rindu. Astaga…" kelakarnya. Sehun kembali memeluk Luhan. Mengeratkannya seperti tak ingin perempuan ini jauh darinya lagi.
Sungguh‚ Sehun benar-benar tak ingin kehilangan Luhan lagi. Kini Sehun bahagia. Serasa seluruh dunianya kembali padanya.
Ketika Sehun menunduk untuk kembali melihat Luhan‚ Luhan mendongak menatapnya. Dikecupnya bibir manis Luhan‚ berkali-kali‚ sampai berubah menjadi lumatan lembut‚ dan berakhir menanggalkan setiap helai benang dari tubuh keduanya malam itu.
…
To be continue…
Hai! Maaf lama sekali. Terakhir aku update ff ini bulan April dan sekarang sudah lebih dari sebulan hehe. Maaf aku php sekali wkwk.
Aku sibuk sebenarnya. Ada ujian kenaikan kelas dan nilaiku harus bagus kalau pengen masuk PTN impianku. Maaf maaf. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian.
Finally‚ dua chapter lagi ff ini selesai! Aku jadi ngga sabar nunggu berakhirnya ff ini hehe.
Oiya. Aku hanya update ff ini berhubung aku ada waktu luang. Jadi untuk chapter kedepannya‚ mungkin akan ku update setelah aku lepas dari semua tanggunganku. Aku ngga janji itu akhir bulan Mei atau pertengahan bulan Juni. Aku butuh waktu untuk menuntaskan cerita ini.
Sorry for typo(s)‚ sorry for a long time you guys wait this chapter.
Sekian aja dari aku. Semoga chapter ini sedikit lebih baik dari chapter yang kemaren‚ dan bisa mengobati rasa kesal kalian karena pilihannya Sehun.
Thanks for reading! Review?
Sorry karena sebelumnya aku udah update chapter 18 tapi masih ada beberapa dari kalian yang nggabisa buka chapter 18 ini. Jadi aku update ulang dan semoga kalian bisa buka chapter ini dan baca yaaaa... Kalau ada masalah, bisa deh bilang ke aku. Terima kasih udah bilang ke aku kalau ada masalah di chapter ini sebelumnya hehe. *bow
