17 tahun sejak jatuhnya rezim biadab Tom Marvolo Riddle, a.k.a Voldemort. Dalam 17 tahun ini dunia sihir harus bekerja keras membangun kembali kehidupan damai mereka. Berkat kepahlawanan golden trio kini status darah resmi di hapus. Hermione Granger jelas membawa pengaruh besar dalam resmi nya penghapusan ini, karna dia seorang muggleborn. Dan brilliant of course.

Hampir semua orang tak anti lagi dengan hal hal berbau muggle. Yah mungkin masih beberapa yang tetap menyanjung darah murni, meski tak terang2an. Yang jelas kini semua masa kegelapan itu terbayar.

Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger, hidup dengan masa depan gemilang dan nama mereka tercatat pada sejarah dunia sihir London. Berumah tangga, berkarir, dan bersosialisasi. Harry menikahi Ginny Weasley, dan mempunyai 3 anak. Sedang Ron dan Hermione menikah, dikaruniai sepasang putri dan putra.

Ketiganya kini bekerja di kementerian sihir Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Ron dan Harry sebagai Auror setelah sebelumnya mereka sempat bergabung dengan tim nasional Quidditch. Sedang Hermione bekerja di balik meja dan berhasil mereformasi hukum hukum yang pro darah murni dan terkesan saklek.

Well apapun itu kini dunia sihir tenggelam dalam kedamaian yang kadang terasa menjenuhkan. Tapi jangan coba-coba berharap akan muncul Voldemort2 lainnya.

Diagon Alley lebih ramai dari hari biasa. Liburan musim panas hampir usai dan Hogwarts akan kembali beroperasi. Ada yang lulus, ada yang naik tingkat, dan ada yang akan masuk untuk pertama kalinya. Jadi banyak dari mereka yang ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sekolah.

Scorpius Hyperion Malfoy satu dari banyak anak yang berbelanja di hari itu. Berjalan bersama sang ibu Astoria, Scorpius menimbang apalagi yang harus di beli.

Seragam?

Cek

Tongkat sihir?

Cek

Burung hantu?

Dia sudah punya dari dulu.

Beberapa gulung perkamen?

Cek

Sepaket tinta dan pena bulu?

Cek

Buku buku?

Cek

Firebolt?

Oh yeah. Scorpius menyeringai. Untung kali ini jalan sama ibunya. Lebih mudah membujuk ibunya untuk membelikan sapu itu dari pada ayahnya.

Baru saja ia ingin meminta ibunya untuk membeli sapu, sebuah suara melengking mirip banshee memanggil ibunya. "Tooriii..."

"Oh hai, Pans." balas Astoria.

Malfoy JR, memutar mata dan mengumpat dalam hati. Hell! Pansy Zabini. Istri Blaise Zabini. Keduanya teman orangtuanya sejak di Hogwarts. Jujur, Scorpius sedikit tidak suka pada teman ayah ibunya ini. Well bagaimana bilangnya ya. Err.. terlalu over acting dan norak mungkin.

Tapi demi kesopanan seorang Malfoy, mau tak mau ia menyapa teman orang tuanya itu.

"Hello bibi Pansy." Sedikit mengulum senyum.

" Ohh hai.. little drakiee..." Ourghh Scorpius berusaha menahan ekspresi jijiknya. "Shopping, heh?"

Scorpius mengangguk sekali.

"Mommy..." oh shit! Satu lagi teriakan sejenis. Tentu saja dari peranakan yang sama.

Quinn Zabini. Gadis seusianya dengan tingkat lebay yang 11-12 dengan ibunya. Terburu Scorpius mundur kebelakang Astoria. Dia harus segera kabur dari sini atau image sopan dan gentleman seorang Malfoy akan tercoreng. Scorpius tidak bisa menghadapi dua banshee yang selalu memanggilnya little drakiee atau my Scorpiieee?! What the heck!

Hermy library. Papan nama yang tertangkap matanya tepat 2 toko di belakang. Tempat kabur yang bagus. Segera dengan perlahan Scorpius melangkah ke bangunan itu, sebelum si Quinn melihat nya.

Tringgg! Suara lonceng mengalun saat dia membuka pintu. Aroma buku segera menyapa Indra penciumnya. Matanya menjelajahi tempat itu. Berak-rak buku terjejer rapi. Cukup besar dan luas. Walau tidak sebesar perpustakaan di manor. Dan sepi. Well apa perpustakaan ini bahkan berpenghuni? Mengingat tak ada satupun orang yang datang.

"Ehm. Wellcome." Scorpius berjengit kaget saat menyadari suara itu menyembul dari balik meja besar di depan sana. Semacam tempat resepsionis. Gadis cilik? Sebaya dengannya kelihatannya. Rambut merah yang megar bagai singa. Bintik-bintik coklat di wajah mungilnya. Mata bulat besar. Entah warna apa karna jarak mereka masih jauh. Dan sembab. Menangis, heh?

"Kau baru pertama kemari?" tanya si cilik.

Scorpius memangkas jarak menjadi 2 meter dengan meja. "Kau menangis?" Tanpa sadar di ungkapkan kata hatinya. Alisnya naik terkejut dengan spontanitas nya sendiri. Terserah lah. Terlanjur juga.

"Eh? Uh..." Si rambut singa agak bingung awalnya, tapi kemudian dia paham maksud pertanyaan anak itu. Di usapnya sisa sisa air mata yang masih menempel di wajahnya.

"It's nothing. Aku hanya baru saja membaca walk to remember. Dan sampai pada bagian klimaks nya." jelas gadis itu

"Walk apa...?" Scorpius mengernyit mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar.

"Ini." Si gadis menunjukan sampul buku yang tadi ia baca.

Melangkah lebih dekat, Scorpius mengambil alih buku itu. Membolak-balik dan membuka beberapa bagian.

"Buku apa ini?" Sampul, dan tulisan nya sangat beda dengan buku2 sihir biasanya.

"Ini novel. Buku muggle."

Tersentak dengan kata muggle, Scorpius hampir menjatuhkan buku yang ia pegang. Agak kasar dia kembali kan buku itu pada gadis singa. Si gadis melotot dengan perlakuan kasar bocah klimis itu.

"Hei. Hati hati!" Sentak gadis singa.

"Kenapa ada buku muggle disini?" Scorpius membuat ekspresi agak jijik saat bertanya.

"Apa yang salah dengan muggle things. Sekarang barang muggle bukan hal yang aneh lagi." balas si merah.

"Well granny ku selalu melarang ku untuk mendekati hal hal berbau muggle." Scorpius mengangkat bahu. Meski sebenarnya dia tahu ayahnya punya satu anak perusahaan di dunia muggle yang sampe sekarang di tentang neneknya dan ibunya.

Scorpius melihat gadis itu mencebik. "Pureblood heh?"

Entah kenapa Scorpius merasa masalah 'muggle' ini akan membawa pada pertengkaran. Dan dia tidak dalam mood untuk hal itu.

"Aku baru tau ada perpustakaan di Diagon Alley." Mencoba mengalihkan topik.

"Well ini memang baru berdiri setahun lalu. Mom dan aku punya banyak buku yang hampir memenuhi rumah kami. Sekarang mom terlalu sibuk untuk membaca ataupun merawat buku-buku itu. Dad juga sering protes karna rumah jadi tampak seperti kuburan buku. Karna itu dia membuat perpustakaan ini. Dengan begitu kami bisa mempekerjakan orang. Dan orang orang yang tidak mampu membeli buku bisa membaca disini." Gadis itu tampak menggebu-gebu dan bercerita penuh rasa bangga.

Scorpius mengangkat alisnya tinggi. Cewek yang cerewet. Tapi dia suka suara gadis itu. Lebih baik dari pada mendengar kan lengkingan Quinn. Setelah beberapa detik Scorpius belum tau mau merespon seperti apa. Menarik napas panjang dan "... Wow.."?!

"Mau berkeliling?" tawar rambut merah.

"Tentu." Sambut Scorpius. Lega karena tampaknya gadis itu tidak mempermasalahkan respon nya. Gadis itu melompat turun dari kursi resepsionis dan keluar dari meja.

Setelah mereka berhadapan, gadis itu mengulurkan tangannya.

"Rose." ucapnya.

Scorpius menjabat tangan mungil itu. "Scorpius." Memutuskan mengikuti Rose yang hanya menyebutkan nama depannya.

Mereka mulai melangkah berkeliling.

"Kau bilang kalian punya pekerja?" tanya Scorpius. Dari tadi dia tidak melihat ada orang lain selain mereka.

"Oh.. Candice sakit. Jadi aku menggantikannya sementara." jawab Rose.

"Sendirian?"

Rose tersenyum. Cukup manis. Pikir Scorpius. "Aku sudah biasa. Lagian aku hanya perlu membuka tempat ini. Menunggu pengunjung. Membantu mencarikan buku. Melayani pinjaman dan pengembalian. Menaruh buku sesuai indeks. Tutup. And done." jelas Rose sambil menghitung dengan jarinya."

"Yeah. Terdengar mudah." Pendapat Scorpius. "By the way. Soal pengunjung, apa aku satu satunya pengunjung hari ini?" Ejeknya dengan nada bercanda.

Rose memutar mata. "Ini baru jam 9 bodoh. Bisanya orang orang datang lebih siang lagi. Lagipula, tempat baca ada di lantai dua. Kami juga menyediakan kopi dan cemilan ringan." balasnya. Baru kali ini Scorpius tidak tersinggung di sebut bodoh. Mereka lanjut berkeliling.

Rose menjelaskan pengelompokan buku buku di sana. Scorpius hanya mengangguk saja sambil sesekali melihat beberapa buku. Saat tiba tiba matanya tertuju pada suatu sudut. Sekitar 2 kali 3 meter ada sebuah spot yang berbeda. Tempat itu di buat agak tinggi dengan 2 anak tangga. Dinding di belakang berwarna hijau pastel dengan wallpaper daun gugur.

"Buku apa yang ada di sana?" Tanyanya penasaran. Rose mengikuti arah pandang Scorpius. Seketika ada ekspresi ragu di wajahnya. Tapi Scorpius tetap menunggu.

"Well. Kurasa kau tidak akan berminat kesana." Scorpius heran. Menatap Rose dengan pandangan. 'Kenapa?'

"Buku muggle." Rose berusaha berkata sekasual mungkin. Oh. Scorpius paham kenapa Rose enggan menunjukkan tempat itu. Tapi rasa penasaran merayap perlahan di pikiran Scorpius. Mengabaikan peringatan granny nya yang bergaung, tentang 'jangan- berurusan-dengan -muggle, Scorpius melangkah ke spot buku muggle.

Rose mengekor di belakangnya. Scorpius melihat lihat beberapa buku dan membaca sinopsis di belakangnya. Kebanyakan kisah cinta. Apa buku muggle hanya berisi kisah cinta? Tapi kali ini Scorpius memutuskan untuk tidak menanykannya. Dia masih sadar diri untuk tidak terlalu jauh terlibat dengan muggle things.

"Aku akan ke Hogwarts tahun ini." Entah kenapa Scorpius memberitahu Rose. Sekedar mengisi kecanggungan mereka barangkali.

"Oh ya? Aku juga. Dan sepupu ku juga." Seperti nya berhasil. Rose menjawab dengan antusias. Scorpius tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada orang asing. Meski hanya menarik beberapa mili ujung bibirnya.

"Aku akan masuk Slytherin." Kata Scorpius bangga. Rose menautkan alisnya.

"Kenapa kau sudah tau.? Shorting hat yang akan menentukan asrama kita." Rose memberitahu. Gadis itu memang suka memberi tahu orang lain.

Tapi Scorpius mengangkat bahunya acuh. "Well seluruh keluarga ku masuk sana. Jadi aku juga akan masuk Slytherin."

Baru saja Rose akan menjawab sebuah ketukan di jendela menginterupsi nya. Mereka serempak menoleh. Dan Scorpius langsung berwajah horor, karna ibunya sudah berdiri di luar sana dengan tatapan menghakimi.

Astoria berjalan cepat untuk masuk di mana Scorpius berada. Bunyi tringgg menggema saat pintu itu dibuka agak kasar. Kedua bocah itu, Scorpius terutama, berjalan cepat ke depan.

"Bagus sekali junior." Astoria menekan setiap kata untuk memberitahu Scorpius bahwa dia dalam masalah.

"Oh mom. Kau bisa mengomeli ku nanti di rumah. Jangan disini. Mom tau kan aku tidak suka bibi Pansy apalagi Quinn." Scorpius buru buru membela diri sebelum ibunya menghujaninya dengan berbagai macam omelan. Di sini. Di depan Rose. Tidak mau. Harga dirinya bisa hancur.

Astoria mendelik galak. Pria pria Malfoy selalu se enaknya. Menyebalkan. Melipat dada, dan memberikan pandangan remeh pada bocah yang beberapa saat lalu membuatnya kalang kabut karna tiba tiba menghilang. Hampir saja dia akan menghubungi Draco Malfoy untuk segera mencari anak mereka. Bukan apa-apa. Sejak perang berakhir, menjadi titik balik bagi keluarga Malfoy. Sebagian masyarakat memandang mereka sebagai kuman yang harus di lenyapkan. Jadi tak heran jika ada yang berniat buruk pada keluarga mereka.

"Well. Mom baru akan membelikan nimbus terbaru sebagai hadiah kejutan. Tapi sekarang tidak lagi. Tidak ada sapu baru tahun ini junior!" Hah, jangan kira hanya pria Malfoy saja yang punya keahlian seperti ini.

Scorpius melotot. Sial! No firebolt?! Argghhh mimpi buruk.

Rose berusaha tidak terlibat dalam pertengkaran keluarga lain. Ketika dia hendak kembali ke meja resepsionis, Scorpius menahannya.

Menghela nafas pasrah, di perkenalkan nya Rose dengan lesu. "Mom ini Rose. Kami ngobrol sebelumya."

Rose mendelik. Ngapain Scorpius harus memperkenalkan nya. Mereka masih orang asing kan?! Atau hanya Rose yang berpikir demikian.

"Hello Mrs..." Menelan ludah, Rose baru sadar dia tak tahu nama keluarga mereka.

"Malfoy. Astoria Malfoy. Dan kau dear?" Sejujurnya di mata Astoria Rose tampak sangat familiar. Tapi dia belum bisa yakin sepenuhnya.

"Rose. Rose Weasley." Deg. Benar ternyata. Mimpi buruk. Astoria meremas matanya. Berusaha tetap berwibawa, dia segera menarik Scorpius kesisinya dan pamit pergi.

"Kami harus pergi sekarang. Selamat tinggal nona Weasley." Memaksakan seulas senyum formal yang kaku. Tanpa sadar di genggamnya tangan Scorpius kuat, menarik nya keluar. Nyaris menyeret. Scorpius terkejut dengan perubahan sikap ibunya.

Sebelum sampai di depan pintu di sempatkan nya berteriak. "Bye Rose. Sampai ketemu di Hogwarts."

Rose hanya mengangguk kaku. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Kenapa itu tadi? Mengedik acuh, dia kembali ke meja dengan bacaannya.

"Mom.." Astoria tetap menyeret Scorpius, tanpa menjawab panggilan anaknya.

"..Mom..!" Sedikit menaikan oktaf suaranya. Kesal, dengan segera di kibaskanya genggaman tangan mereka dengan kasar. Astoria tampak sangat kalut. Mencengkeram bahu Scorpius kuat, tak peduli Scorpius meringis. Lebih tepatnya tidak sadar.

"Dengar Scorp! Apapun yang terjadi jangan coba coba mendekati gadis Weasley itu." Di hentaknya bahu Scorpius.

"Apa?" Scorpius bingung. Ia tak mengerti apa yang di bicarakan ibunya.

"Jangan membantah, jangan bertanya, hanya ikuti apa kata mom. Mengerti!"

"Ta.. tapi.."

"Scorpius!" Astoria menaikan nada suaranya. Pertama kalinya Scorpius melihat ibunya seperti ini. Tak terkendali, tampak kalut dan kacau.

Dengan nada yang melunak cenderung mengiba, Astoria kembali berucap.. "Apapun. Apapun, keinginanmu akan mom berikan. Sebagai gantinya, mom hanya ingin kau tidak mendekati gadis itu. Kau paham."

Tatapan mata mereka saling bertemu. Astoria hampir menumpahkan air mata nya. Melihat mata ibunya Scorpius tanpa sadar bergumam "...oke.." pelan.

Baru Astoria mendapatkan kembali kendali dirinya. Mengusap matanya cepat. Memeluk Scorpius erat, dan mereka pulang.

... TBC...

Well. Entah kenapa akhir-akhir ini baca dramonie melulu. Jadi timbul inspirasi. Kacangan sih ceritanya... Hehe😁

Semoga bisa jadi hiburan. Tolong kritik dan saran ya guys..