Pagi itu Luhan terbangun karena suhu dingin yang menusuk kulit bahunya yang telanjang. Luhan menggeliat‚ menenggelamkan diri pada pelukan Sehun yang nyaman dan menarik selimut supaya benda itu membungkus tubuhnya dengan benar. Beberapa detik berlalu‚ dan kemudian ia membuka mata dengan cepat.
Astaga‚ kenapa ia baru sadar?
Dengan perlahan dan berdebar‚ Luhan memutar tubuh. Kulitnya bersentuhan dengan kulit Sehun dan itu membuat seluruh darahnya berlomba-lomba mengalir ke wajahnya. Dapat dilihatnya Sehun sedang tertidur dengan wajah damai‚ serta memeluknya dalam tidur. Luhan tidak bisa menahan senyum lebar mengingat apa yang terjadi semalam. Ya Tuhan… Kenapa sekarang Luhan teringat akan hal itu?
Dengan segala rasa gembira yang sudah membeludak kemana-mana‚ Luhan memeluk Sehun erat. Sehingga Sehun yang tadinya masih lelap dengan tidurnya‚ jadi terbangun karena Luhan. Sehun mendengung bingung sembari mengernyit ketika dengan perlahan ia membuka mata. Kemudian yang pertama kali ia lihat adalah senyum Luhan‚ juga tatapan mata perempuan itu untuknya.
"Kau sudah bangun‚ hm?" tanya Sehun serak‚ khas suara seseorang yang baru saja bangun tidur.
Lantas Luhan melebarkan senyumnya. "Lalu sedang apa aku sekarang ini kalau tidak melihatmu? Apakah kau melihat aku sedang tertidur?" tanya Luhan balik. Ia ikut tertawa ketika Sehun tertawa karenanya.
Luhan sudah kembali menjadi Luhan yang dulu. Dan nyatanya‚ waktu hanya membuat suasana menjadi canggung‚ bukan mengubah Luhan menjadi Luhan yang dilihatnya kemarin.
"Luhan‚" panggil Sehun pelan. Luhan berdengung singkat sebagai tanggapan. "Aku merindukanmu." bisiknya lembut.
Luhan mendengus pelan‚ tersenyum. "Ya. Aku mendengarmu selalu berkata demikian tadi malam."
"Oh‚ kau mengingatnya?" Sehun tersenyum geli. Ia menatap Luhan dengan senyum jenaka yang entah mengapa‚ membuat Luhan kesal sendiri. "Kau benar-benar mengingatnya?"
Seketika wajah Luhan berubah merah semerah tomat busuk.
"Aish‚ jangan menggodaku." kesal Luhan. Dicubitnya pinggang Sehun sehingga lelaki itu mengaduh pelan karenanya.
Sehun tertawa disela-sela rasa sakit di pinggang. Rasanya menyenangkan karena bisa membuat Luhan kesal karenanya lagi. Astaga‚ sudah berapa lama ia tidak menggoda Luhan? Dua tahun? Rasanya lebih dari belasan tahun.
Dan Sehun rindu akan semua hal yang pernah ia lakukan dengan Luhan dulu.
"Sakit‚ tahu." ujar Sehun sembari menangkap tangan Luhan yang tadi berhasil mencubit pinggangnya. Lelaki itu menyelipkan jemarinya pada sela-sela jemari Luhan‚ lalu menggenggamnya. Ia tersenyum saat melihat Luhan tersenyum memandangi tautan tangan mereka. Tapi kemudian senyumnya luntur‚ ketika melihat Luhan juga melunturkan senyumnya.
Seketika suasana berubah menjadi canggung.
Luhan menarik tangannya‚ berbisik‚ "Aku mandi dulu." sebelum perempuan itu turun dari ranjang setelah memakai kemeja Sehun yang kebesaran. Luhan meninggalkan Sehun sendirian. Yang lelaki itu lakukan hanyalah memandangi Luhan sampai perempuan itu menghilang dari jarak pandangnya‚ dan berdecak pelan pada cincin yang ia pakai di jari manisnya.
…
Sehun melihat Luhan sedang menata rambutnya setelah lelaki itu keluar dari kamar mandi. Sehun menghela napas pelan. Ia berderap mendekati Luhan‚ dan membantu menata rambut panjang Luhan yang halus dari belakang. Luhan menoleh padanya‚ tersenyum singkat‚ dan kembali pada cermin. Ia biarkan Sehun menata rambutnya dengan sisir sementara ia memperhatikan pekerjaan lelaki itu lewat cermin.
"Aku bisa mengikat rambutmu dengan baik. Jangan mengawasiku dengan tatapan seperti itu." kata Sehun masih sibuk dengan aktivitasnya.
Lantas Luhan tersenyum miring. Ia tak ingin membalas kalimat Sehun sampai lelaki itu selesai dengan pekerjaannya. Setelah itu‚ Luhan berbalik‚ memasang senyum manis untuk Sehun.
"Aku tahu kau selalu baik dalam hal apapun." balas Luhan kemudian. Ia menatap Sehun sejenak‚ mengamati setiap inchi wajah lelaki itu‚ lalu memberi ciuman lembut di bibir Sehun. Sementara Sehun akan membalasnya dengan lembut pula‚ sehingga Luhan akan terbuai dan enggan untuk mengakhiri apa yang ia mulai sendiri.
Tapi bukankah ada beberapa hal yang harus mereka selesaikan? Tentang beberapa masalah yang tiba-tiba saja menjadikan hubungan mereka menjadi rumit. Luhan ingin segera mengerti‚ dan Sehun juga sebenarnya ingin sekali meluruskan hal itu.
Jadi Sehun mengakhiri tautan itu. Ia yang pertama kali menatap Luhan dan berkata‚ "Mari kita selesaikan semua masalah kita." dan menarik tangan Luhan untuk duduk di sofa tidak jauh dari tempat mereka berada.
Namun Luhan tetap bertahan di tempatnya. Ia membuat Sehun kebingungan dan kembali melangkah mendekat.
"Ada apa?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng. "Kau tidak perlu membicarakannya karena aku sudah mengerti."
Ah‚ bibirnya suka sekali mengeluarkan kata-kata bohong untuk menenangkan suasana.
"Serius?" Sehun bertanya‚ dan Luhan mengangguk sebagai jawaban.
Tapi sebenarnya Sehun tahu kalau Luhan sedang berbohong untuk terlihat baik-baik saja. Jadi lelaki itu diam saja‚ pura-pura tidak tahu lebih tepatnya.
Sejenak Sehun menatap kekasihnya ini‚ sebelum ia melepas cincin di jari manis. Ia bisa lihat bagaimana ekspresi Luhan ketika benda itu kini berada di atas meja. Luhan seperti terkejut‚ tidak mengerti‚ dan senang secara bersamaan. Ekspresinya yang campur aduk itu membuat Sehun tersenyum.
"Kuputuskan begini supaya kau juga tidak merasa sedih." kata Sehun kemudian. Ia tersenyum pada Luhan yang kini menatapnya penuh tanda tanya.
"Kenapa kau lakukan ini? Sudah kubilang kalau aku baik-baik saja. Bukannya itu juga untuk kebaikanmu?"
"Aku tidak bodoh―"
"Dan Ayahmu juga tidak bodoh."
"―kalau baik-baik sajanya seorang perempuan itu untuk menutupi rasa sakit." tuntas Sehun‚ membuat Luhan diam tanpa ingin membalas. "Kulepas cincinnya supaya kau tidak sedih lagi‚ dan begini lebih baik."
Luhan menatap Sehun sejenak. Ia merasa senang karena Sehun mengerti bagaimana perasaannya setelah melihat cincin itu masih tersemat di jari manis Sehun. Tapi disisi lain Luhan merasa egois jika dirinya membiarkan hal ini terjadi. Sebab tidak seharusnya Sehun melakukan itu untuknya. Luhan juga ingin masalah ini segera berakhir. Jika saja Ayahnya Sehun tahu kalau Sehun tak lagi memakai cincin itu‚ maka masalah ini tak akan pernah berujung. Jadi Luhan mengalah saja. Ia pikir mengikhlaskan Sehun untuk sementara waktu bukanlah hal yang buruk. Toh untuk sekarang dan esok‚ Sehun adalah miliknya.
"Tidak‚ kau tidak perlu melakukannya." bisik Luhan pelan. Ia menunduk‚ memandangi cincin di meja‚ meraihnya‚ lalu kembali menyematkan cincin itu di jari manis Sehun sama seperti semula. Luhan tak perlu repot-repot untuk menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang ini. Sehun sudah paham dan tahu ketika lelaki itu menatap manik Luhan lekat-lekat.
Ada yang merasa cemas‚ mencoba untuk percaya‚ dan membangun ketegaran tersendiri. Begitulah Luhan.
"Aku percaya padamu. Jadi selesaikan masalah keluargamu‚ dan berlarilah padaku. Aku akan menunggu sampai semuanya baik-baik saja." kata Luhan final. Ia tersenyum untuk mendukung kalimat itu‚ supaya Sehun juga percaya padanya. Bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sementara Sehun harap-harap cemas‚ Luhan akan baik-baik saja‚ selama ia berjuang untuk menyelesaikan masalah sederhana yang tiba-tiba menjadi rumit ini.
…
Siang itu‚ Sehun membawa Luhan ke sebuah rumah besar bergaya Eropa. Rumah itu terletak dipinggir kota‚ tepatnya di dekat sebuah tempat yang masih hijau akan tetumbuhan. Luhan merasa damai ketika melewati jalan itu. Namun tiba-tiba merasa suram saat ia memasuki kawasan rumah bergaya Eropa ini.
Luhan berjalan mengekori Sehun setelah mereka turun dari mobil yang terparkir di halaman rumah. Kemudian seorang lelaki yang Luhan kenal dengan nama Kim Joonmyeon‚ datang menghampiri Sehun. Kedua lelaki itu membicarakan sesuatu sementara Luhan masih melihat-lihat keadaan sekitar‚ mencoba mencari tahu mengapa rumah ini jadi bersuasana suram.
"Oh‚ Luhan?"
Namanya terpanggil‚ dan Luhan tersenyum pada Joonmyeon sebagai pelaku terpanggilnya namanya. Kemudian Luhan berjalan mendekat‚ berdiri di sebelah Sehun.
"Kapan kau kemari?" tanya Joonmyeon kemudian.
"Tiga hari yang lalu." jawab Luhan. "Kau tak tahu? Kukira kau tahu dari Yixing."
"Ah‚ tidak. Yixing tidak memberitahuku tentang kau yang akan datang. Anak ini juga tidak memberitahuku." kata Joonmyeon sembari menunjuk Sehun dengan dagunya‚ membuat Sehun pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud Joonmyeon‚ dan Luhan melirik Sehun dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. "Asal kau tahu‚ Luhan. Sehun selalu mengawasimu semenjak ia berada di Kanada. Katanya dia benar-benar khawatir dan―auch!"
"Astaga‚ hyung. Kau ini bicara apa‚ sih?" tanya Sehun pada Joonmyeon yang membungkuk memegangi kakinya yang barusan diinjak Sehun. Joonmyeon mengibaskan tangannya di udara sebagai jawaban kemudian.
"Aku sudah tahu itu." sahut Luhan. Sehun dan Joonmyeon serentak menatap padanya. "Aku sadar tentang hal itu dan aku tahu." sambungnya.
Kali ini Sehun memandangi Luhan yang sedang mengetuk-etukkan ujung kaki pada tanah dan menunduk itu. Sehun menghela napas pelan. Ia meraih tangan Luhan‚ lalu menariknya untuk masuk ke dalam rumah besar tersebut. Luhan hanya mampu diam saja di belakang Sehun.
"Di sini tempat Ibuku berada." kata Sehun kemudian. Ia tersenyum pada Luhan yang menatapnya terkejut‚ lalu membuka sebuah pintu yang berada di depannya. "Tunggu di sini‚ ya."
Luhan hendak bersuara namun Sehun sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Lelaki itu membiarkan pintu terbuka‚ membuat Luhan dapat melihat seorang wanita bergaun tidur putih sedang duduk di tepian tempat tidur‚ menghadap ke arah jendela yang tirainya melambai-lambai karena angin sepoi. Luhan melangkah mundur‚ menyembunyikan diri di sebelah pintu.
Wanita itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Sehun yang menghampirinya. Ia baru mendongak pada Sehun setelah lelaki itu berada di depannya. Ada senyum lemah yang kemudian membuat Sehun memeluknya dengan erat. Luhan yang melihat adegan itu harus menahan diri untuk tak menangis.
Entahlah‚ Luhan merasa terharu. Mungkin karena dulu Sehun sering bercerita tentang hubungannya dengan Ibunya yang hancur karena Ayahnya‚ Luhan jadi merasa bahagia melihat Sehun kini bisa memeluk Ibunya sendiri. Sampai-sampai ia menangis seperti ini. Luhan menghapus air matanya sendiri dan menyematkan sebuah senyuman ketika melihat Ibu dan anak itu saling memeluk di depannya.
"Ibu rindu. Ibu rindu‚ Sehun." bisik wanita yang berada di pelukan Sehun. Sehun tersenyum mendengarnya.
"Aku juga rindu pada Ibu." sahut Sehun pelan. Lelaki itu mengendurkan pelukannya lalu menatap wajah Ibunya yang kini sudah mulai menua. Terdapat gurat-gurat lelah dan penuh kesedihan di wajah cantik Ibunya. Sehun melipat bibir‚ tersenyum kemudian. "Ibu ingat‚ tidak? Aku pernah bercerita pada Ibu soal perempuan yang selalu kurindukan."
Wanita yang dipanggil Ibu oleh Sehun itu mengangguk samar setelah terdiam lama.
"Sekarang dia ada di sini." kata Sehun. Ia kembali menunggu respon Ibunya dan setelah itu‚ Sehun berkata‚ "Aku ingin Ibu mengenalnya dengan baik."
Tidak ada respon yang berarti dari Ibunya selama Sehun menunggu. Wanita itu hanya diam memandangi putranya dengan tatapan sayang. Begitu Sehun menoleh pada Luhan yang berada di dekat pintu‚ wanita itu mulai berekspresi. Kedua alisnya terangkat‚ dengan raut wajah kebingungan‚ wanita itu seperti baru saja tersadar dari lamunan. Mata si wanita pun mengikuti arah pandang Sehun setelah sadar bahwa lelaki itu terlihat cerah sekali di matanya. Setelah itu‚ ia bisa melihat seorang perempuan muda masuk dengan malu-malu menghampiri Sehun.
Mata wanita itu membulat samar. Melihat perempuan ini―Luhan― tiba-tiba mengingatkannya akan seseorang yang lama sekali tak ia lihat lagi. Seseorang yang dengan senang hati dan lembut memeluknya‚ membisikkannya kata-kata menenangkan‚ serta membuatnya damai seketika.
Sementara itu‚ Luhan yang sadar sedari tadi ditatap terkejut oleh Ibunya Sehun‚ mulai mengubah senyum ramah menjadi senyum canggung. Ia menyikut lengan Sehun yang berada di sampingnya‚ berbisik‚ "Kenapa Ibumu melihatku seperti itu?" pada Sehun.
Sehun yang juga tak tahu kenapa Ibunya menatap Luhan dengan terkejut di pertemuan pertama mereka‚ hanya bisa menggeleng sembari menggidikkan bahu. Luhan akhirnya memutuskan untuk bersimpuh di depan Ibunya Sehun‚ lalu memperkenalkan diri.
"Annyeonghaseo. Jo―"
"Yuan." suara Song Jung Ha‚ Ibunya Sehun‚ tiba-tiba terdengar.
Luhan berkedip beberapa saat karena tidak mengerti dengan wanita yang tiba-tiba saja menyebutkan nama orang lain ini. Sedangkan Sehun sendiri‚ ia terkejut karena baru kali ini Ibunya bersuara selain berbisik‚ pun tidak mengerti mengapa Ibunya menyebutkan nama seseorang yang tidak Sehun kenal. Begitu Sehun ikut bersimpuh hendak bertanya‚ Song Jung Ha kembali menyebutkan nama yang sama‚ lengkap beserta marganya.
"Yuan. Xian Yuan."
Serasa jantung Luhan berhenti berdetak untuk sesaat. Nama yang disebutkan Song Jung Ha‚ yakni Xian Yuan‚ adalah nama yang sangat-sangat Luhan kenal dengan baik. Nama itu dimiliki oleh seorang wanita yang berstatus sebagai Ibunya Luhan. Dan‚ juga―
"Xi Yowei."
―jantung Luhan kembali berhenti berdetak untuk sesaat. Nama Ayahnya Luhan baru saja disebutkan Ibunya Sehun. Luhan menatap wanita di depannya ini dengan kebingungan‚ terkejut‚ juga meminta penjelasan. Mengapa bisa nama kedua orang tuanya disebutkan Ibunya Sehun seolah wanita itu merindukan pemilik kedua nama tadi? Atau hanya kebetulan saja?
"Bibi‚ kenapa bisa―"
"Yuan." Jung Ha kembali menyebutkan nama Ibunya Luhan. Kali ini dengan tatapan penuh rindu serta mata basah karena air mata. Luhan mendongak‚ melihat Sehun yang juga kebingungan dan tidak mengerti. Sebenarnya ia ingin bertanya lagi‚ namun Song Jung Ha sudah terlanjur memeluknya dengan erat‚ menangis di pundak Luhan‚ sembari menggumamkan nama kedua orang tua Luhan.
Luhan semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?
…
Sedari tadi‚ Luhan hanya bertahan memandangi Ibunya Sehun yang baru saja terlelap ke alam mimpi. Sedari tadi pula‚ Luhan masih terus berpikir mengapa Ibunya Sehun menggumamkan nama kedua orang tua Luhan. Memangnya mereka saling mengenal? Seingat Luhan‚ hanya Ibunya yang pernah ke Korea untuk beberapa tahun sebelum kembali lagi ke Cina. Lalu kenapa tadi Ibunya Sehun menggumamkan nama Ayahnya juga?
Luhan menghembuskan napas panjang setelah ia menutup pintu kamar wanita yang tadinya selalu memeluknya itu. Kemudian Luhan melihat Sehun sedang berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya. Luhan pun menghampiri lelaki itu.
"Kau masih memikirkannya?" tanya Sehun setelah Luhan berada di depannya.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?" tanya Luhan balik. Ia merengut dan itu membuat Sehun tertawa kecil. "Memangnya kau tidak tahu kenapa Ibumu menyebutkan nama kedua orang tuaku?"
Sehun menangkup wajah kecil Luhan seraya menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Kau pernah melihat Ibumu bersama teman-temannya‚ tidak? Apakah kau juga―"
"Aku tidak pernah melihat Ibuku bersama teman-temannya selama aku masih kecil sampai sekarang‚ Luhan." jawab dan sela Sehun.
Luhan menghela napas pelan. Sehun merengkuhnya kemudian. Hening sejenak‚ karena Luhan masih berusaha untuk menenangkan pikirannya. Setelah itu‚ Luhan kembali membuka pembicaraan.
"Ayahmu tidak tahu kalau aku kemari?" tanya Luhan.
Sehun menggidikkan bahu sekali. "Entahlah‚ aku tidak tahu."
Luhan mengendurkan pelukan‚ menatap Sehun dengan mata menyipit yang kemudian dibalas Sehun dengan senyum kecil.
"Memang ada banyak orang disini. Dulunya mereka bekerja untuk Ayahku. Tapi karena Ayahku sudah mempercayakan aku pada Ayahnya Jennie‚ jadinya mereka yang tadinya bekerja untuk Ayahku‚ kini diambil alih oleh Ayahnya Jennie. Jadi mereka berada di pihakku. Tapi tidak tahu juga kalau Ayah meminta salah satu orang di sini untuk mengawasiku selama ada aku di sini." jelas Sehun.
Seketika Luhan melepas pelukannya‚ mundur dua langkah kemudian. Matanya menyipit melihat-lihat sekitar. Sehingga Sehun yang melihat reaksi Luhan yang lucu‚ tak bisa menahan tawa. Lelaki itu tergelak‚ membuat Luhan menatapnya kebingungan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Luhan‚ kemudian cemberut. "Kau tahu‚ sekarang ini situasinya serius! Kalau salah satu dari mereka tahu aku di sini dan melaporkannya pada Ayahmu bagaimana?"
"Tidak akan‚ Luhan Sayang." balas Sehun kalem. Lelaki itu mencubit kedua pipi Luhan dengan gemas kemudian. "Meski aku tahu mungkin diantara mereka akan melakukannya‚ Ayahku tak akan pernah berani menyakitimu lagi hanya karena aku."
Luhan menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
"Kau tahu‚ tidak? Kenapa dulu kau yang menjadi incaran Ayahku jika ingin menyakitiku?" tanya Sehun. Luhan menggeleng sebagai jawaban. "Karena kalau Ibuku tahu aku sakit hati atau menangis karena sesuatu‚ Ibuku jadi hilang kendali. Ibuku tak akan menceraikan Ayahku dalam keadaan depresi. Ibuku tak ingin terlihat begitu lemah karena Ayahku. Jadi dengan depresinya Ibuku‚ Ayahku bisa menguasai semua milik Ibuku dengan mudah."
"Tunggu‚ Sehun. Aku tidak mengerti. Kau tidak pernah bercerita padaku soal ini sebelumnya."
"Maaf aku baru bercerita soal ini padamu sekarang." tangan Sehun beralih mengusap pipi Luhan dengan lembut. "Sulit menceritakan keadaan keluargaku padamu. Terlalu rumit untuk diceritakan‚ dan―"
"Aku akan mencoba untuk mengerti." sela Luhan. Ia tersenyum pada Sehun. "Lalu kenapa Ayahmu tidak akan mengincarku lagi kalau saja beliau tahu keberadaanku disini bersamamu melalui orang-orangnya?"
"Ayah akan berpikir kalau itu percuma‚ sama saja masuk ke kandang buaya."
Luhan tertawa mendengarnya. "Memangnya ada kandang buaya di sini?" tanyanya jenaka. Giliran Sehun yang tertawa.
"Intinya Ayah tidak akan berani dekat-dekat dengan Ibuku selama ada aku di dekat Ibuku. Dia hanya seorang perampok di keluargaku. Dan perampok tidak akan pernah berani menunjukkan batang hidungnya pada si pemilik rumah yang ia rampok." ujar Sehun pelan. Berakhir dengan tundukan kepala‚ dan pandangan yang beralih dari Luhan.
Luhan menghela napas. "Kau membenci Ayahmu sendiri?" tanyanya ragu.
Bukannya menjawab‚ Sehun justru bercerita lagi‚ "Perampok itu membawa serta perempuan lain sehingga si pemilik rumah terganggu. Karena perempuan lain itulah Ibuku jadi depresi seperti ini. Aku… Aku…" Sehun kesulitan untuk merangkai kata lagi karena dadanya sudah mulai sesak. Ia membersit hidung yang terasa geli dan mencoba untuk menahan air mata yang mendesak di pelupuk matanya. Sehun mencoba untuk tak terlihat rapuh di depan Luhan. Namun Luhan tahu sebesar apa derita Sehun sampai lelaki itu menangis di depannya. Padahal selama ia mengenal lelaki ini‚ Sehun bukanlah lelaki yang dengan mudah menangis karena suatu hal.
Sekarang lelaki itu rapuh sekali di mata Luhan. Jadi Luhan merengkuhnya erat‚ berusaha memberikan ketenangan untuk Sehun. Melihat Sehun seperti ini‚ sebenarnya membuat Luhan juga ikut merasa sakit. Tapi ia harus menahannya karena Sehun lebih butuh sandaran daripada dirinya.
Luhan mengusap punggung Sehun dengan halus seraya berbisik‚ "Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa‚ Sehun…"
Perlahan Sehun berhenti menangis. Ia membalas pelukan Luhan sembari berusaha untuk menenangkan pikirannya. Dalam hati ia bersyukur. Setidaknya ada Luhan di sisinya. Jadi Sehun tak akan merasa hidupnya berat sekali.
…
"Tumben kau menelpon Ibu."
Luhan tersenyum simpul. "Apa tidak boleh aku menelpon Ibu?" tanya Luhan.
"Kudengar kau ada di Kanada sekarang. Di sana sudah malam 'kan? Kenapa kau belum tidur?" justru Ibunya Luhan bertanya balik‚ membuat Luhan terkekeh pelan dengan jemarinya yang menelusuri setiap inchi wajah Sehun.
Hari sudah larut malam. Sekitar pukul sebelas malam‚ dan Luhan sama sekali tidak bisa memejamkan mata barang sebentar. Sementara itu‚ Sehun sudah tertidur lebih dulu setelah lelaki itu tenang dari tangisannya. Luhan tetap menemani Sehun di kamar. Hanya ada lampu tidur yang menerangi kamar luas tersebut.
"Aku tidak bisa tidur‚ Bu." sahut Luhan pelan. "Ada banyak pikiran yang membuat kepalaku jadi pusing."
Terdengar suara helaan napas pelan dari seberang sana kemudian. "Cerita saja pada Ibu. Mungkin Ibu bisa membantumu."
"Ibu sibuk‚ tidak?" Luhan bertanya‚ Ibunya menidakkan sebagai jawaban. "Lalu Ayah?"
"Kau tahu sendiri bagaimana dia kalau sedang bekerja meski tidak ada seseorang yang mampir ke kliniknya." jawabnya. Luhan terkekeh. "Jadi apa yang ingin kau ceritakan?"
Luhan diam sejenak‚ memandangi wajah Sehun yang damai. "Aku baru saja bertemu dengan seseorang. Tadi memang pertemuan pertama kami. Tapi…" Luhan menggantungkan kalimatnya‚ kebingungan.
"Tapi?" sahut Ibunya Luhan meminta Luhan untuk melanjutkan.
"Ah‚ astaga…" desah Luhan frustasi. Luhan mendudukkan diri‚ bergeser ke tepian tempat tidur supaya Sehun tidak terganggu karenanya. Kemudian Luhan berdecak pelan dengan rengutan karena kesal sendiri pada dirinya. Kenapa tidak langsung bertanya saja‚ sih?
"Luhan? Kau masih di sana?"
"Ibu bilang Ibu pernah ke Korea selama empat tahun saat aku masih kecil 'kan?" tanya Luhan sedikit tergesa-gesa. Ibunya mengiyakan pertanyaan itu dengan dengungan kecil.
"Kenapa memangnya?"
"Apa Ibu mengenal seorang wanita bernama Song Jung Ha?" tanya Luhan final.
"…"
Tidak ada jawaban dari Ibunya untuk sementara waktu. Luhan harap-harap cemas menunggu. Sepuluh detik‚ lima belas detik‚ dan berlalu menjadi dua puluh detik‚ Luhan benar-benar tidak tahan. Ia tak mengerti mengapa Ibunya tidak menjawab setelah Luhan bertanya demikian. Memangnya ada yang salah dengan pertanyaannya?
"Ibu?" panggil Luhan memastikan.
"Luhan‚" sahut Ibunya pelan. Desah suaranya pun terdengar cemas. "Siapa tadi yang kau tanyakan pada Ibu? Ibu takut salah dengar."
"Song Jung Ha." ulang Luhan. "Ibu kenal dengannya?" tanyanya lagi.
Tidak ada jawaban lagi. Yang terdengar adalah suara bersitan hidung Ibunya Luhan serta isakan pelan. Dalam diamnya‚ Luhan merasa cemas dan lega secara bersamaan. Leganya karena dengan suara isak dari Ibunya Luhan‚ Luhan tahu bahwa Ibunya itu mengenal Song Jung Ha‚ Ibunya Sehun. Namun cemasnya karena‚ Luhan takut ada 'apa-apa' karena respon Ibunya yang menangis setelah mendengar nama Song Jung Ha.
"Bagaimana bisa kau mengenalnya‚ Luhan?" tanya Ibunya setelah itu.
Luhan menoleh pada Sehun‚ kembali berbaring di sebelah lelaki itu‚ lalu menjawab‚ "Ibu masih ingat tidak dengan Sehun yang pernah kuceritakan pada Ibu?" tanyanya. "Song Jung Ha itu Ibunya Sehun. Dan beliau langsung memelukku sembari menyebutkan nama Ibu di pertemuan pertama kami."
"Ya Tuhan…" Ibunya bersuara seolah tak bisa menyebut kata lain lagi. Luhan tersenyum mendengar nada suara itu. "Apakah Jung Ha baik-baik saja?"
Kali ini senyum Luhan berubah menjadi senyum pedih. "Bisakah Ibu ke Kanada bersama Ayah? Aku ingin Ibu bersama Bibi Song dulu. Siapa tahu keadaan Bibi Song membaik."
Hening sejenak.
"Baiklah. Ibu kesana." putusnya. Luhan tersenyum lebar‚ rasanya lega sekali mendengar keputusan itu.
"Sampai jumpa di bandara‚ Ibu."
dan setelah itu panggilan terputus. Luhan meletakkan ponselnya di meja‚ lalu mematikan lampu tidur. Ruangan menjadi gelap seketika. Luhan bergeser memeluk Sehun‚ bergegas tidur.
…
Sedari tadi‚ Sehun sesekali melirik pandangan pada sosok wanita yang berada di jok penumpang belakang bersama Luhan. Wanita yang baru saja dijemputnya dari bandara bersama seorang pria yang kini duduk di jok penumpang depan‚ entah mengapa‚ selalu menarik perhatiannya. Semua yang ada pada diri wanita itu benar-benar mirip dengan Luhan. Ya Tuhan… pantas Ibunya memanggil nama wanita itu ketika pertama kali melihat Luhan. Luhan dan Ibunya bahkan terlihat seperti kakak dan adik karena saking miripnya.
Sementara itu‚ sedari tadi pria di sebelahnya lebih tertarik untuk melihat Luhan dan istrinya yang sedang bercanda di belakang. Sesekali pria yang memiliki sedikit kemiripan dengan Luhan itu menimpali dengan lelucon atau tertawa karena lucunya tanggapan istrinya.
Sehun sendiri? Ia hanya mendengarkan suara-suara disekitarnya sembari berkonsentrasi pada jalanan. Mendengarkan keluarga itu berbicara dalam bahasa Cina yang sebenarnya tak Sehun tahu‚ rasanya Sehun sudah senang. Mungkin karena mereka selalu tertawa dan tersenyum untuk berbagi kebahagian. Sehun jadi ikut bahagia.
"Oiya‚ Sehun." panggil Xian Yuan‚ Ibunya Luhan‚ setelah beberapa saat mobil hening tanpa suara keluarganya lagi. "Aku tak menyangka kau tumbuh dengan baik."
Sehun hanya membalasnya dengan tersenyum ketika melirik wanita itu dari spion dalam mobil. Sebab ia memang tak tahu harus membalas apa lagi pada wanita yang mengaku sebagai teman dari Ibunya tersebut.
"Dulu kau masih sering kugendong dan sekarang aku sudah melihatmu tumbuh dewasa. Aku bahkan masih ingat kalau kau pernah me―"
"Astaga‚ Yuan. Haruskah kau membicarakan apa saja yang sudah Sehun lakukan padamu sewaktu ia masih bayi?" potong Yowei‚ Ayahnya Luhan‚ dengan bahasa Korea. Yuan terkekeh karena sikapnya sendiri.
"Maafkan aku." kata Yuan dengan senyuman. "Aku hanya tidak menyangka kalau Sehun yang dulunya pernah kutimang kemana-mana sekarang jadi pacarnya putriku sendiri."
"Siapa yang bilang kalau Sehun itu pacarku?" sahut Luhan. Perempuan itu melirik Sehun yang meliriknya setengah kesal dari kaca spion‚ lalu menjulurkan sedikit lidahnya. "Aku tidak pernah menyebut Sehun itu pacarku waktu aku cerita pada Ibu."
"Memang iya kalau kau tidak pernah menyebut Sehun itu pacarmu. Tapi Ibu sudah tahu hal itu sewaktu kau menceritakannya dengan nada suara yang mampu membuat Ibu mual seketika." balas Yuan jenaka.
Luhan cemberut mendengarnya. Membuat Yowei yang sedari tadi mendengarkan‚ akhirnya tertawa juga. Sementara Sehun sendiri‚ ia tak mampu menahan senyum geli. Wanita ini begitu mirip dengan Luhan.
"Luhan ini pacarmu 'kan‚ Sehun?" tanya Yuan pada Sehun kemudian. Sehun mengangguk dengan senyum malu-mau sebagai jawaban. "Tuh‚ kau berani berbohong pada Ibumu sendiri?"
Luhan mencibir‚ melirik Sehun yang kini menjulurkan lidah padanya dari kaca spion dengan kesal.
Laju mobil perlahan memelan‚ kemudian berhenti di sebuah rumah bergaya Eropa yang besar dan luas. Yuan yang pertama kali keluar dari mobil‚ disusul Luhan dan yang lainnya. Sementara Sehun dan Ayahnya Luhan mengambil alih barang-barang bawaan dari bagasi‚ Luhan memilih untuk mengantar Ibunya pada Song Jung Ha. Luhan sudah tahu bahwa Ibunya itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu dengan Ibunya Sehun.
"Aku benar-benar khawatir‚ Luhan. Dari dulu Ibunya Sehun selalu meminta tolong padaku dan pada Ayahmu. Tapi semenjak aku kembali ke Cina‚ kami lost contact‚ dan aku tidak tahu bagaimana kabarnya sebelum kau tiba-tiba memberitahuku bahwa kau juga mengenal Ibunya Sehun." jelas Ibunya ketika Luhan bertanya tadi di bandara.
Mereka sudah sampai di depan sebuah pintu putih yang tertutup. Tangan Luhan sudah terulur hendak membuka pintu itu. Namun ketika Luhan sudah mendorongnya‚ suara Ibunya yang memanggil namanya‚ terdengar. Membuat Luhan urung melanjutkan aktivitasnya.
"Ada apa?" tanya Luhan pelan.
Yuan terlihat ragu setelah tadinya wanita itu nampak semangat dan percaya diri. "Kau yakin Jung Ha mengenaliku?" tanyanya pelan.
Luhan tersenyum‚ mengiyakan pertanyaan itu. "Bibi Song saja memanggil nama Ibu waktu beliau melihatku. Ibu masih tidak yakin kalau Bibi Song bisa mengenalimu?"
Yuan menunduk sembari menghela napas. Luhan merangkul wanita itu lalu kembali menyemangatinya.
"Bibi Song pasti mengenali Ibu. Aku yakin itu."
Tidak perlu mengulur waktu lagi‚ Luhan kembali mendorong pintu. Kemudian terlihatlah seorang wanita bergaun tidur putih sedang duduk di tepian tempat tidur. Ketika mendengar suara derit pintu yang terbuka‚ wanita itu menoleh. Sehingga pandangannya tertuju pada Xian Yuan. Untuk beberapa saat tidak ada suara sebagai reaksi pertemuan kedua wanita yang baru saja bertemu itu.
Namun pada akhirnya‚ Xian Yuan berlari mendekati Song Jung Ha‚ lalu memeluknya. Kedua wanita itu menangis kemudian.
Melihat pemandangan itu‚ Luhan jadi terharu. Serius. Ia tersenyum bahagia tapi matanya tak lelah menumpahkan air mata. Setelah itu bahkan Luhan berharap‚ bahwa semuanya akan selesai dengan cepat dan baik-baik saja. Semoga saja Tuhan mendengar harapannya‚ dan mengabulkannya.
…
To be continue…
Hai‚ gengs! Maaf lama sekali update nya. Karena aku harus nyelesaiin dua chapter terakhir fanfic ini supaya biar enak aja hehe.
TINGGAL SATU CHAP LAGI GENGS!
Untuk chapter ini‚ kurasa ceritanya cuma berfokus sama Sehun sama Ibunya Sehun meski pake sudut pandangnya Luhan. Dari sini emang udah ketauan kan‚ gimana masalahnya keluarganya Sehun? Semoga pahamlah yaa… Hehe
Selain itu‚ semoga ngga merasa bosen bacanya. Aku ngerasa chapter ini kurang greget soalnya.
Udahlah. Segini dulu aja. Thanks yang udah baca. Jangan lupa review!
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Mohon maaf kalo selama ini aku punya salah-salah kata sampe bikin kalian tersinggung. Ah‚ aku telat keknya minta maafnya hehe.
See you!
