Stasiun kingscross senantiasa terselimuti kabut. Tahun ini pun penuh seperti tahun-tahun sebelumnya. Libur panjang telah selesai. Saatnya kembali ke Hogwarts. Ini tahun pertama Rose dan Albus
Keduanya sama-sama gugup. Apalagi Albus. James tak berhenti mengejek nya, kalau dia akan berakhir di Slytherin. Meski ayahnya sudah menenangkan nya. Slytherin bukan hal buruk. Tapi setidaknya ia tidak ingin sendirian tanpa mengenal seorang pun di tahun pertamanya. Apalagi bagi para orang tua di keluarganya, mereka musuh abadi Slytherin. Bagaimana kalau dia di tindas?
Hermione memeriksa segala keperluan Rose, takut ada yang tertinggal. Padahal mereka sudah mengecek nya 2 kali di rumah.
"Taati peraturan dan berusahalah di setiap pelajaran sayang. Makan teratur, tidur teratur, jangan banyak makan daging nanti kau gemuk. Jangan makan banyak coklat dan berminyak nanti kau jerawatan.."
"Mom..." Rose memelas mendengar rentetan petuah ibunya.
Hermione nyengir. "Oke terakhir sampaikan salam ibu pada Nevile dan Hagrid."
Rose membelalak. "Di sana mereka Professor mom."
"Baiklah baiklah." Hermione mengalah. Dia menyenggol Ron untuk ikut mengucapkan kata-kata perpisahan. Ketika Ron bereskpresi 'apa?' Hermione memelototi nya. Saat itu Rose terkikik, kedua orang tuanya memang menghibur, terutama ayahnya. Rose lebih dekat dengan ayahnya yang santai cenderung ceroboh dari pada ibunya yang sangat strict.
"Yeah. Baiklah. Jaga dirimu Rose." Ron berniat hanya menyampaikan hal itu saja, saat kemudian dia melihat keluarga Malfoy di sisi lain. "Oh. Itu Scorpius Malfoy. Kalahkan dia dalam semua mata pelajaran." Ujar Ron setengah bercanda, yang kemudian Hermione memukul dan menegurnya. Mereka tak sadar pada pandangan kaget Rose.
Tanpa ada yang tau keduanya bertemu mata. Rose hampir melambaikan tangan, saat dengan sengaja Scorpius melengos. Mengabaikannya. Rose bengong. Apa-apaan itu tadi?
"Kakek Weasley tidak akan memafkanmu, kalau kau menikahi darah murni Rose. Jadi pastikan jauhi dia." Kembali ayahnya berkata.
Rose mengerjap bingung. "Jauhi siapa?"
"Tentu saja Scorpius Malfoy." ayahnya menatap serius. Rose tidak merespon. Kemudian ayahnya tersenyum dan memeluk nya. Tapi Rose tidak bisa membalas senyum maupun pelukan ayahnya. Dia masih di ombang ambingkan tanda tanya besar.
Shorting hat menyeleksi satu persatu murid. Dan Rose sudah ada di meja Gryfindoor, bersama James, Fred, dan Victory. Albus tinggal satu satunya yang akan di seleksi. Entah kenapa mereka dapat urutan terakhir.
Keluarga Weasley harap harap cemas dengan hasil Albus. Termasuk Rose. Hanya James yang terlihat santai. Well bukannya meragukan ke Gryfindoor an Albus. Tapi kadang Albus memang terlihat sangat ambisius. Apalagi dalam masalah balas dendam, jika dikerjai James. Dia bisa membalas 2 kali lipat lebih baik dari James.
Dan akhirnya si topi bicara meneriakan "Slytherin!"
Hening. Bahkan Slytherin tidak ada yang bertepuk tangan seperti sebelumnya. Mereka hanya... Shock...?! Anak dari si legend Boy who lives, Harry James Potter masuk Slytherin? Pasti Albus adalah orang pertama yang masuk Slytherin dalam sejarah keluarga Potter apalagi Wesley.
Albus turun dan berjalan kaku ke meja Slytherin. Plok...plok...plok... Terdengar suara tepuk tangan tunggal dari tempat para profesor. Hagrid yang memecah keheningan mencekam itu. Untungnya yang lain mengikuti. Albus memberikan tatapan terimakasih pada Hagrid yang di balas kedipan mata.
"I knew itu." celetuk James cuek. Seolah bukan hal penting, James meminum jus labunya. Rose menyenggol James kuat. Baru mau protes Rose sudah mendelik padanya.
Rose melihat ke arah meja Slytherin yang berjarak 1 meja Hufflepuf. Albus
menyalami orang orang itu dengan canggung. Kemudian seolah ada yang menyeret pandangan, sosok Scorpius Malfoy tertangkap retina matanya. Si kepala platina juga mengunci tatapannya.
Rose benar benar buntu dengan apa yang terjadi. Entah kenapa tatapan Scorpius tak seramah pertama bertemu. Ya bukan berarti menurut Rose dia orang yang ramah. Setidaknya tatapannya tidak semenyebalkan sekarang, seolah Rose adalah spesies langka berlendir menjijikan. Memang apa salahnya, di perlakukan seperti itu?! Dan, apa kabar dengan "sampai- bertemu- di- Hogwarts" dulu?
Hari pertama pengajaran resmi, di mulai dengan sarapan bersama di aula besar. Burung burung hantu menjatuhkan barang barang kiriman pada tuan mereka. Entah surat ataupun bingkisan2. Rose melihat barang barangnya. Ada surat dari ibunya. Wow bahkan dari Hugo. Dan juga Lily. Rose menyimpan surat dari orang tua dan adiknya untuk di baca nanti. Paling juga ucapan selamat dan beberapa petuah. Sedang dari Lily dia buka.
Dear Rose
Selamat tahun pertama mu. Aku menangis selama 3 jam. Rose aku kesepian.. i Miss you. Semoga satu tahun cepat berlalu.
Rose menemukan selembar kertas lainnya. Sebuah foto. Lily, wajah cantiknya nampak merah karna sembab. Kantung matanya membesar dan hidungnya benar benar merah. Dia melempar kiss bye dalam foto itu.
Ohh.. Lily yang malang. Rose ingat saat dia mengantar keberangkatan mereka ke Hogwarts. Lily terus terusan merengek, berkata ingin masuk Hogwarts juga. Padahal masih dua tahun lagi. Sedang Hugo bisa berangkat tahun depan. Bisa di bayangkan saat itu pasti Lily tambah histeris lagi karna dia satu satunya yang belum bisa berangkat.
Di lipatnya surat itu dan di masukan kedalam tasnya bersama dua surat lainnya. Tinggal satu lagi yang belum dia bukak. Kotak kayu yang lumayan ringan dan bercelah berukuran 25 cm. Sebuah pot beserta mawar putih kesukaannya. Ada card kecil yang tertancap di tanah.
Dear my sweetie Rose.
Selamat untuk tahun pertama mu di Hogwarts. Dad bercanda soal kau harus mengalahkan Malfoy. Dad tau kau memang suka belajar tapi tetap jangan lupa main oke.
Mawar putih kesukaanmu untuk mengawali tahun ajaran.
With love Dad
Rose tersenyum bahagia. Ayahnya benar benar tau kesukaannya. Segala kejutan ultah selama ini juga selalu di rencanakan ayahnya.
Jam pertama ramuan, bersama Slytherin. Rose berjalan cepat agar sampai di kelas paling awal dan mencari tempat paling depan. Padahal tanpa harus begitu bangku depan akan selalu di hindari kecuali oleh kutu buku seperti nya.
Hampir semua sudah masuk dan Professor Scott akan memulai kelasnya, ketika seorang anak masuk dengan tergesa. Pakaiannya masih belum rapi benar dan terlihat sekali rambut nya yang berantakan serta nafasnya yang naik turun cepat.
"Maaf saya terlambat Professor." Albus berusaha nampak se menyesal mungkin.
"Ini yang pertama dan terakhir kali Mr. Potter." Albus mengangguk cepat dan memandang berkeliling mencari tempat duduk. Rose melambai agar dia duduk di dekatnya.
Albus lega ada Rose, tapi kenapa juga harus di depan. Tapi itu lebih baik untuk saat ini.
"Kau terlihat mengerikan." Bisik Rose saat Albus mendaratkan bokong nya.
"Yeah. Aku tau." jawab Albus sekenanya. "Aku hampir tidak tidur semalam." lanjutnya. Satu lagi anak malang. Rose juga tidak dapat membayangkan jika dia yang masuk Slytherin. Mengerikan.
Mereka berhenti berbisik saat Mr Scott berdehem menyindir. Rose memanfaatkan semua pengetahuannya untuk merubah pandangan Mr Scott kalau dia bukan tong kosong. Dan Rose sama sekali tak merasakan tatapan tajam yang tertuju padanya dari arah belakang.
Masih ada jeda 1 jam untuk pelajaran berikutnya. Rose dan Albus berjalan bersama. Beruntung punya saudara, tak perlu gelisah jika belum dapat teman baru.
"Kau suka asramamu, little brother?" Entah dari mana James tiba-tiba sudah ada disamping Albus bersama beberapa temannya dan merangkul Albus sok akrab. Albus langsung badmood on. Di hentaknya rangkulan James yang membuat gerah.
"Shut up, James!" peringatnya.
"Tidak kah kakak mu ini hebat. Tebakan ku sangat tepatkan?! Mungkin aku akan dapat outsanding di pelajaran ramalan." Oceh James bangga. Albus makin manyun dan Rose memutar matanya.
"Leave him alone, James" Rose mencoba menghalau James yang ingin menjahili Albus. Mereka selalu seperti itu. Entah itu James yang mulai atau Albus yang mulai, dia akan selalu menjadi penengah nya, sebelum mereka membuat kerusuhan.
"Kenapa? Ini harus di rayakan kan? Albus mencetak sejarah di keluarga Potter dan Wesley. Slytherin pertama. Congratulation." Masih suka berkilah.
Jelas ucapan James penuh nada ejekan. Dia membuat Slytherin terdengar seperti aib. Dan Albus bagian dari aib itu. Sialan. James benar benar menjengkelkan. Albus menggenggam erat tongkat sihir nya. Berpikir kutukan apa yang bisa dia luncurkan. Tapi Rose dapat membaca keinginan Albus. Sebelum Albus benar-benar melakukan niatnya, Rose mengusir James.
"Cukup James. Urus urusanmu sendiri!" Rose menarik tangan Al, dan mengajaknya berputar arah. James hanya terkikik dan mulai menyenandungkan kata kata congratulation.
"James sialan." Berjalan ke kanan
"Al.." panggil Rose pelan
"Berengsek" jalan ke kiri
"..Al..". Naik satu oktaf.
"Brat. Idiot." Kanan
"Albus..! Nada peringatan.
"Aku pasti akan mengcrucionya suatu saat. Aku pasti..."
Menghela nafas. "Albus Severus Potter!" Tak! Rose menggeplak bahu Albus. Kesal.
"Apa..!" Sentak Albus jengkel.
"Berhenti menyetrika jalan! Dan berhenti komat kamit tidak jelas!" Sembur Rose galak. Telinga Albus berdenging. Shit. Rose bisa lebih mengerikan dari ibunya saat marah.
Bruk! Albus menghempaskan tubuhnya dengan keras di samping Rose. "Aku kesal!" erang Albus menjambak rambutnya.
Rose melunak. Kondisi Albus memang patut di simpati. "Calm down, oke." bisiknya lembut.
"Ayolah. Slytherin mungkin tidak seburuk rumornya.." bujuknya.
"Mungkin..?" Albus menyipit skeptis.
"Well..." Rose menelan ludah. Saat ini Albus sangat sensitif pada ketidakpastian.
"Al, mau apapun asramanya, itu bagian dari Hogwarts. Faktanya tak ada Hogwarts tanpa Slytherin. Seperti yang ayahmu bilang Severus Snape adalah salah satu penyihir terhebat, dan terberani dalam sejarah. Dan dia Slytherin. Mungkin suatu saat kau akan jadi salah satunya yang membanggakan Slytherin." Rose sok merangkai kata yang bijak. Ia rasa omongannya sangat masuk akal dan memotivasi.
"Ngomong ngomong soal sejarah. Aku sudah mencetaknya Rose. Penyihir pertama dari keluarga Potter dan Weasley yang masuk Slytherin. Remember?" sahut Albus masam.
Mengedikan sebelah bahunya, Rose tidak bisa membantah hal itu."Bukan berarti itu buruk Al."
Al menatap Rose sejenak. Menghela nafas pelan. "Menurut mu begitu?"
"Ya tentu." Rose mengangguk antusias. Akhirnya Al mulai menerima. Pikir Rose.
"Kau yakin?" Al masih meminta kepastian.
"Absolutely."
" Then, mau bertukar?"
"Of... What?" Rose melotot horor pada Albus.
"See... Kau juga pasti keberatan berada di Slytherin." Telak. Albus adalah lawan debat yang sulit.
Rose tergagap "..yeah.. ma.. maksud ku. Em.. itu..."
"Apa masalah mu dengan Slytherin, Potter?!." Suara lain tiba tiba masuk ke pembicaraan.
Rose dan Albus menoleh ke belakang. Scorpius Malfoy berdiri dengan melipat tangan. Tatapannya terlihat arogan dan penuh intimidasi. Di tempel Quinn Zabini yang bahkan terlihat centil untuk anak 11 th. Dan dua anak laki laki di kiri kanannya. Goyle dan Nott.
"Scorpius..?" Panggil Rose ragu.
Quinn Zabini menghentikan kegiatan tidak penting nya memilih rambut, dan melotot pada Scorpius.
"Scorpiiiee... Kau mengenal rambut sapu itu?!" Quinn memekik heboh. Seolah Scorpius baru saja menyentuh kotoran troll.
Rose bertampang 'excuse me..?!' karna dia merasa baru saja di perlakukan seperti kuman.
"Jangan sok akrab, Weasley!" Scorpius berkata tajam.
"Apa? Kau-..."
"Diam! Aku tidak bicara padamu." Dia memotong ucapan Rose tanpa ampun.
Oke cukup. Rose sudah tidak berminat lagi beramah tamah. Jika Scorpius Malfoy ingin mereka jadi stranger, maka itu yang akan terjadi.
"Dengar Potter, jik kau berpikir Slytherin adalah aib, maka kau salah. Yang benar kau adalah aib bagi Slytherin, potthead." judge Malfoy.
"Jaga bicaramu Malfoy.." Rose memotong Al yang hendak membalas.
Scorpius menggulirkan matanya pada Rose dengan malas, "Aku tidak bicara padamu Weasley, kalau kau ingat." Rose menatap tajam, tapi seakan Scorpius peduli.
"Perlu ku belikan remember ball Weasley, sepertinya kau gampang pikun. Benda yang cukup mahal untuk keluarga Weasley ku kira." Malfoy menyeringai diikuti kikikan kroco kroco nya.
"How dare you, Malfoy!" Albus menodong kan tongkatnya. Scorpius cukup terkejut dan mundur satu langkah. Tapi dia tak takut, karena jika Albus bener benar mengutuknya itu hanya akan menjadi bumerang bagi Albus sendiri.
"Easy Potter. Kau mau memamerkan kekuatan dari anak seorang pahlawan, huh?" Scorpius memprovokasi.
"Setidaknya, orang tua kami pintar, untuk tidak di bodohi penyihir gila bernama Voldemort, Malfoy. Seperti nya keagungan darah murni yang kalian junjung tinggi, tidak disertai kecerdasan berfikir, heh?." Rose menemukan cara membalas. Bodo amat dengan pertemuan pertama mereka. Setelah ini ia akan meminta ibunya untuk mengobliviate nya, khusus pertemuan pertama nya dengan Malfoy.
"Kau! Lancang sekali sapu ijuk." Quinn Zabini melengking. Rose benar benar benci suara Zabini. "Aku tau siapa kau. Anak miskin keluarga Weasley. Campuran blood traitor.." Rose menggenggam tongkatnya kuat. Dia tahu kelanjutan kalimat berikutnya. Mungkin tanpa sadar dia akan melihat Zabini terdorong kebelakang jika kalimat itu selesai.
"... dan mud-"
"Stop itu Quinn!" Pegangan Rose pada tongkatnya mengendur saat Scorpius memotong ucapan Quinn Zabini. Pendangannya beralih pada Scorpius. Jujur, Rose tak menyangka Scorpius akan menghentikan ucapan Zabini. Ia pikir Scorpius justru akan menambah nambahi, ejekan Zabini perihal status darah.
"Scorp, kau membelanya?!" tatapan tak terima Quinn menghakimi Scorpius.
"Jangan bicara nonsense! Mengatakan hal seperti itu hanya memperburuk citra darah murni. Berpikir lah sedikit." jelas Scorpius jengah.
"Anyway, Potter. Jika kau merasa Slytherin adalah neraka, maka kau harus benar benar siap. Karna memang itu yang akan terjadi." Tanpa menghiraukan raut muka marah kedua sepupu itu, Scorpius berbalik penuh gaya.
"Scorpius Malfoy." panggil Rose di langkah ke tiga. Tanpa benar benar membalikan badan, Scorpius menolehkan kepalanya. "I-Hate-You." Rose menekan tiap suku katanya.
Scorpius menatap Rose sesaat, sebelum menyeringai "Same here, Wesley."
Ugh... albino menyebalkan. Mulai hari ini, Rose berniat akan benar benar mengalahkan Scorpius Malfoy di setiap mata pelajaran. Bukan lagi karna perintah ayahnya-meski dia bilang bercanda- tapi ini demi harga dirinya sendiri. Ayahnya benar, Scorpius Malfoy adalah orang yang harus di jauhi sejauh mungkin.
To be continued
