Don't come to farewell
Please tell me to wait for a while
My heart will only bear for you
―EunHa GFRIEND – Don't Come to Farewell―
…
Pagi itu‚ Sehun sengaja menyempatkan diri untuk masuk ke kamar penginapan Luhan hanya sekedar untuk melihat aktivitas perempuan itu di pagi hari. Ia sudah masuk ke dalam kamar tersebut namun ia melihat Luhan sedang sibuk dengan beberapa barang dan kopernya. Sehun mengerutkan kening‚ bersandar pada dinding untuk memperhatikan Luhan sejenak.
"Kenapa kau mengemasi barang-barangmu?" tanyanya.
Lantas Luhan menoleh pada Sehun yang tiba-tiba suaranya terdengar dari arah pintu. Kemudian Luhan menatap Sehun yang berjalan mendekatinya seraya berdecak kecil. "Kenapa kau selalu bisa masuk ke kamar hotelku dengan mudah?" tanyanya kesal.
Sehun bergidik singkat. Merasa pertanyaan itu tidak perlu ia jawab. "Kau mau kemana?" tanyanya lagi‚ mengabaikan kekesalan Luhan.
"Aku harus kembali ke kantor kalau tidak mau Ayahmu curiga." jawab Luhan seadanya.
"Kau baru lima hari di sini."
"Aku hanya mengambil cuti selama seminggu‚ Sehun."
Sehun merengut. "Tetaplah di sini. Kau tega meninggalkan kedua orang tuamu di sini?"
Luhan hanya tersenyum. "Mereka yang meminta untuk tetap di sini‚ Sehun. Ayah dan Ibuku ingin menemani Ibumu sampai beliau pulih."
Sehun menatap Luhan tepat di manik setelah itu. Luhan juga balas menatapnya. Hanya saja Luhan tak tahu apa maksud tatapan mata itu untuknya. Luhan hanya memberikan Sehun senyum simpul. Jika saja pertahanan Sehun lengah‚ maka Sehun sudah mengecupi bibir Luhan berkali-kali. Namun Sehun berusaha untuk tidak membuat pipi perempuan itu merona karena tindakannya.
"Aku menahanmu supaya kau tetap di sini dan kau tidak suka?" tanya Sehun.
Luhan melebarkan senyumnya. "Harusnya aku senang karena kau menahanku untuk pergi." katanya‚ menelengkan kepalanya sedikit kemudian. "Tapi aku harus kembali ke kantor kalau tidak mau dicurigai Ayahmu."
Sehun menghela napas pelan. "Ya sudah kalau begitu." ia berkata dengan tidak rela‚ dan jujur itu membuat Luhan tersenyum geli padanya.
"Yang benar?" goda Luhan. Ia tertawa geli saat melihat Sehun merengut karena pertanyaannya. "Aku akan menghubungimu. Tidak peduli kau mau membalasnya atau tidak‚ aku akan tetap menghubungimu. Toh nantinya kau juga balas menghubungiku karena aku terus saja menghubungimu."
Seketika Sehun tertawa kecil. Ia mencubit ujung hidung Luhan dengan gemas. Luhan berdengung manja‚ sehingga Sehun tak bisa menahan diri untuk memeluk tubuh Luhan. Melihat Luhan tersenyum seperti ini membuat Sehun ingat saat pertama kali ia melihat senyum Luhan. Oh‚ Sehun selalu melihat wajah muram Luhan waktu itu. Perempuan itu lebih sering melamun di dekat jendela kafe‚ dan tanpa sadar selalu menarik perhatian Sehun. Sehun bahkan dulu bertanya-tanya‚ mengapa perempuan berwajah muram itu terus menari-nari di pikirannya seolah ia adalah sosok yang penting bagi Sehun? Mungkin karena Sehun penasaran; mengapa ia bisa berwajah muram‚ atau masalah apa yang dihadapinya sampai-sampai ia berwajah muram?
Setelah itu‚ Sehun tahu bahwa masalah yang dihadapi Luhan saat itu bukanlah masalah yang lebih besar dibanding dengan masalahnya. Luhan hanya sedang berduka‚ tidak bisa melepas kepergian orang terkasihnya‚ dan merasa butuh sandaran walaupun ia tidak ingin bersandar pada siapapun saat itu. Luhan hanya berusaha untuk tegar‚ tapi rasanya sia-sia saja karena setelah itu Sehun datang padanya dan meruntuhkan seluruh rasa menyesalnya pada Yifan.
Sementara masalah Sehun sendiri? Sehun juga berusaha untuk tegar. Ia menutupi rasa sedihnya karena masalah Ayah dan Ibunya dengan menjalani kehidupannya seperti biasa. Sehun bahkan terlihat seolah tidak memiliki beban apapun. Ia hanya membuka topengnya pada Ayahnya dan Soo Hyun. Sehun tidak bisa untuk tidak terlihat baik-baik saja di depan kedua orang itu.
Kini‚ Sehun jadi tidak ingin membeda-bedakan masalahnya dengan Luhan. Karena masalah mereka berdua‚ tentu saja sama-sama sulit. Mungkin sekarang Luhan saja yang sudah bangkit dari rasa terpuruknya. Tapi Sehun masih berusaha untuk berdiri‚ dan Luhan yang akan membantu dan menopangnya.
Sehun senang bisa bersama Luhan lagi. Karena Sehun merasa seluruh kekuatannya ada pada Luhan. Jadi Sehun merasa mampu hidup karena Luhan. Berlebihan memang. Tapi memang kenyataannya begitu.
Setelah beberapa detik berlalu‚ Sehun melonggarkan pelukannya pada Luhan. Dipandanginya wajah cantik Luhan tersebut‚ lalu ia berkata‚ "Kurasa aku akan merindukanmu lagi kalau kau pulang ke Korea."
Luhan tersenyum. "Kurasa aku juga akan begitu." balasnya. "Tapi kurasa merindu juga bagus untuk kita berdua. Daripada dekat-dekatan terus."
Sehun terkekeh pelan. Hendak ia membalas namun tiba-tiba urung karena getaran ponsel di saku celananya. Sehun berdecak pelan sembari merogoh ponselnya. Ada satu panggilan masuk untuknya. Dari Joonmyeon.
"Ya?"
"Berita buruk." ujar Joonmyeon terburu-buru di seberang sana. Sehun mengerutkan kening.
"Ada apa memangnya?" tanya Sehun.
Butuh waktu beberapa detik bagi Joonmyeon untuk menjelaskan berita buruk yang tadi ia sebutkan. Dan butuh beberapa detik pula bagi Sehun untuk mengerti dan paham akan situasi dari berita buruk yang baru saja didengarnya dari Joonmyeon. Setelah ia paham akan inti dari berita buruk tersebut‚ Sehun memutuskan panggilan secara sepihak‚ tidak peduli pada Joonmyeon yang hendak memberinya masukan sebelum bertindak.
Sehun tidak peduli. Ia yakin sekarang waktu yang tepat untuk mengubah berita buruk itu menjadi berita bagus. Jadi sedetik setelah ia menyimpan ponsel di saku celana‚ Sehun menarik Luhan untuk ikut dengannya. Membuat Luhan yang masih bingung‚ jadi semakin kebingungan karena sikap Sehun.
"Ada apa‚ Sehun?" tanya Luhan pada akhirnya. Kakinya melangkah lebih lebar untuk menyamai langkah cepat Sehun. Luhan terengah-engah.
"Kita selesaikan ini semua." jawab Sehun semakin membingungkan Luhan. "Sekarang."
Luhan tidak tahu apa maksud Sehun namun ia tetap mengikuti Sehun. Ia yakin apa yang dijawab Sehun dengan yakin tadi adalah titik terang dari masalah Sehun.
…
Tapi sepertinya tidak.
Luhan merasa kepalanya hampir pecah lantaran pening melihat bagaimana tajamnya tatapan pria di depannya saat ini. Sebenarnya‚ pria itu tidak menatap tajam padanya. Pada Sehun lebih tepatnya. Namun Sehun nampaknya biasa-biasa saja. Justru lelaki itu dengan wajah datarnya berdiri di sebelah Luhan‚ sembari menggenggam tangan Luhan tanpa ragu. Luhan yakin jika saja pria di depannya ini mulai mengeluarkan kalimat entah apa itu‚ kepalanya bisa pecah berhamburan kemana-mana. Luhan hanya mampu diam melirik-lirik Sehun ketika pria di depannya yang juga berstatus sebagai Ayahnya Sehun itu pun menatapnya sesekali.
"Aku baru saja ingin memanggilmu kemari tapi tiba-tiba kau yang datang duluan padaku." ujar Oh Jae Ho mengawali perbincangan. Nada suaranya terdengar biasa saja‚ tidak seperti bayangan Luhan. Mungkin sedari tadi Jae Ho diam meredam amarahnya sendiri. Diam-diam Luhan mendesah lega karenanya.
Sehun terlihat menggidikkan bahu. "Anggap saja ini penyambutan Ayah yang tiba-tiba datang kemari."
Jae Ho mengangguk-angguk kecil. "Baiklah. Terima kasih sudah menyambutku." pria itu mulai bersedekap. "Tapi aku sedikit keberatan dengan penyambutanmu. Kenapa kau membawanya kemari?" fagunya tergidik ke arah Luhan.
Seketika Luhan melirik Oh Jae Ho yang menatapnya datar namun sirat akan rasa tidak suka. Luhan melipat bibir‚ mendongak pada Sehun yang tiba-tiba mengeratkan genggaman tangan mereka.
Ada yang menyengat Luhan ketika melihat betapa bersungguh-sungguhnya Sehun saat lelaki itu berujar‚ "Memangnya tidak boleh aku membawa kekasihku sendiri?"
Raut wajah Oh Jae Ho berubah mengeras. Sepertinya memang pria itu tidak bisa menahan amarahnya sendiri.
"Jennie tunanganmu. Semua orang sudah tahu itu‚ dan kau tiba-tiba―"
"Ayah 'kan tahu sendiri kalau itu perjanjian." Sehun bahkan menggidikkan bahunya santai. "Bukankah perjanjian ada untuk dilanggar?"
Luhan sungguh tidak ingin melihat bagaimana reaksi Ayahnya Sehun setelah Sehun membalas demikian. Lelaki yang menggenggam tangannya ini seolah tidak kenal takut. Padahal sebentar lagi bom waktu akan meledak tepat di depan mereka berdua.
"Oh Sehun." pria yang berstatus sebagai seorang Ayah itu menekankan nama putranya keras-keras. "Bawa kekasihmu itu keluar." pintanya geram.
Sehun menyeringai samar. "Ada apa? Aku hanya ingin bersama Luhan dan aku tidak ingin jauh-jauh darinya lagi."
"Oh Sehun!"
Luhan berjengit mendengar gelegar suara Oh Jae Ho sementara Sehun hanya mengeratkan genggaman tangan mereka untuk sesaat. Luhan melirik Sehun takut-takut. Lelaki itu masih bisa mempertahankan wajah datarnya sementara Ayahnya sendiri sudah hampir meledak. Jadi entah karena tidak berani atau gelisah‚ Luhan berbisik memanggil Sehun‚ meminta‚ "Biarkan aku keluar‚ Sehun. Tidak apa-apa."
Lantas Sehun menunduk pada Luhan yang meliriknya takut-takut. Kemudian ia menatap Ayahnya dengan tajam sebelum kembali pada Luhan. "Tidak akan." Sehun berkeras kepala.
"Sehun…" Luhan merengek. Ia tahu ini bukan saatnya untuk melakukan hal-hal yang lucu supaya Sehun luluh. Hanya saja Luhan butuh itu untuk melarikan diri. Biar masalah ini dibicarakan oleh Sehun dan Ayahnya saja. Luhan tidak ingin ikut campur.
Sehun menatap Luhan sejenak‚ kemudian menghela napas pelan. "Tunggu aku di luar." putusnya berbisik. Luhan tahu ada nada tidak rela di sana. Tapi mau bagaimana lagi? Masalah ini harus Sehun dan Ayahnya saja yang menyelesaikan. Luhan benar-benar tidak ingin ikut campur.
Luhan tersenyum pada Sehun yang melepaskan tautan tangan mereka. Menyatakan bahwa ia akan baik-baik saja‚ begitu pula dengan Sehun. Setelah itu Luhan keluar dari sana tanpa mengatakan apapun. Ia pun tidak tahu bagaimana reaksi Oh Jae Ho karena Sehun membiarkan dirinya pergi begitu saja.
Tidak ada yang Luhan dengar setelah ia menutup pintu. Namun isi kepala Luhan serasa penuh karena pertanyaan-pertanyaan selepas ia meninggalkan Sehun sendiri. Meski Luhan yakin Sehun dan semua milik lelaki itu akan baik-baik saja‚ namun Luhan tidak yakin kalau masalah ini bisa selesai hanya karena bicara empat mata.
Luhan berusaha mengabaikan fakta bahwa ia juga cemas.
Sementara di dalam sana‚ Sehun jadi tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya selepas Luhan keluar. Wajahnya juga ikutan mengeras‚ hanya sebentar‚ dan setelah itu kembali berusaha untuk biasa saja setelah ia menghela napas kasar.
"Untuk apa Ayah kemari?" tanya Sehun memulai pembicaraan.
"Untukmu." jawab Jae Ho sembari menggidikkan bahu sekilas. Nada suaranya terdengar lebih tenang dari yang sebelumnya. "Kurasa seperti itu." lanjutnya.
Kening Sehun berkerut samar. Ia tidak ingin bertanya lagi karena percuma saja‚ Ayahnya hanya akan menjawab dengan jawaban yang membingungkan. Sehun diam ketika pria yang berada pada ruangan yang sama dengannya itu berjalan mendekatinya‚ berhenti di depannya.
"Kau masih membenciku?"
Tidak ada jawaban dari Sehun. Lelaki itu bungkam melihat tatapan mata pria di depannya ini untuknya. Entah mengapa Sehun menerjemahkan tatapan itu sebagai tatapan penuh rasa sesal dan sedih. Tapi Sehun yakin itu bukan Ayahnya. Ayahnya tidak akan merasa kasihan hanya karena situasi seperti ini. Tidak‚ Sehun tidak akan goyah.
Dan benar saja. Beberapa detik setelah itu‚ terbitlah seringai dari pria di depannya dan Sehun rasanya ingin meninju wajah Ayahnya sendiri.
"Jika saja kau tidak dilahirkan‚ maka aku tidak akan sesusah ini."
Sehun mengepalkan kedua tangannya keras-keras. Dalam hatinya ia ingin berteriak‚ bahwa pria di depannya ini bukanlah Ayahnya. Ayah mana yang akan berkata demikian pada anaknya? Sehun pikir pria ini sudah sinting karena harta‚ atau yang lebih parahnya‚ dia bukan Ayah biologisnya selama ini.
Tapi kemudian Sehun membalas lain.
"Kenapa aku masih sudi memanggilmu Ayah?" entah ia bertanya pada pria di depannya atau menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. "Karena kupikir kau tidak akan berkata seperti itu pada anakmu sendiri. Tapi ternyata…" Sehun mendengus geli. "…kau memang bukan Ayahku."
Memang Sehun sudah biasa menyebut pria di depannya ini sebagai 'bukan Ayahnya'. Rasanya sama seperti kau bernapas setiap kali‚ benar-benar biasa saja. Hanya saja ketika Sehun mengatakannya tepat di depan Ayahnya sendiri‚ Sehun merasa sesal. Entah mengapa‚ tapi memang ia merasa sesal. Mungkin karena selama ini Sehun masih merasa pria ini adalah Ayahnya. Sehun yakin Ayahnya akan berubah setelah ini. Tapi nyatanya tidak juga. Sehun jadi sangsi dengan keyakinannya sebelumnya.
Sementara itu‚ wajah Oh Jae Ho perlahan melunak. Ia tidak membalas apapun dan ia membiarkan Sehun pergi dari hadapannya. Pria itu berdiri di tempat‚ memandangi punggung putranya yang kemudian menghilang di balik pintu.
Tanpa tahu kalau mata Sehun sudah merah dan berair‚ entah menahan emosi atau karena memang menahan air mata.
Air mata itu jatuh tepat ketika Sehun memeluk Luhan di luar. Membuat Luhan kebingungan setelah ia menunggu Sehun lalu menemukan lelaki itu terlihat benar-benar rapuh selepas keluar dari ruangan tadi.
Luhan bertanya-tanya‚ apa yang terjadi?
…
Sehun langsung masuk ke kamar setelah ia bilang pada Luhan bahwa ia lelah. Luhan mengiyakan‚ memandangi Sehun yang kemudian menutup pintu‚ lalu melangkah kembali menuju kamar Ibunya Sehun. Ia harus bertemu dengan wanita itu sebelum pulang ke Korea. Dan ia tidak ingin mengganggu pikiran Sehun untuk saat ini.
Luhan membuka pintu pelan-pelan‚ mengintip. Ia dapat melihat Song Jung Ha sedang duduk sendirian di tepian tempat tidur. Luhan selalu melihat wanita itu berada dalam posisi demikian―memandangi jendela yang sebenarnya hanya terlihat hamparan kebun bunga Freesia kuning yang masih menguncup‚ tidak ada indah-indahnya sama sekali‚ tapi Song Jung Ha terkadang tersenyum melihatnya.
Setelah masuk‚ Luhan mendekati Song Jung Ha yang tidak menyadari keberadaannya. Wanita itu baru sadar bahwa Luhan ada di sekitarnya ketika Luhan duduk di sebelahnya. Song Jung Ha menoleh pada Luhan‚ memandangnya sejenak. Kemudian senyum samar pun tertoreh di wajah pucat lesunya. Luhan jadi ikut tersenyum meski Luhan tahu bahwa senyum milik wanita ini adalah senyuman lemah.
"Setelah Ibu dan Ayah kemari‚ Bibi merasa baik?" tanya Luhan. Tidak ada jawaban dari Song Jung Ha. "Kupikir begitu karena Bibi sudah bisa tersenyum padaku."
Kemudian hening yang tersisa. Song Jung Ha sudah kembali memandangi hamparan kebun bunga Freesia‚ sementara Luhan sibuk memandangi Song Jung Ha dari samping. Wanita ini begitu mirip dengan Sehun. Matanya‚ hidungnya‚ juga bibirnya. Mungkin sebagian besar wajah Sehun adalah hasil fotokopi dari wajah Song Jung Ha‚ dan sifatnya Sehun adalah turunan dari Oh Jae Ho. Luhan tersenyum kemudian. Merasa bersyukur karena Sehun telah lahir di dunia ini dari rahim seorang Song Jung Ha‚ meski kehidupan mereka benar-benar berat.
"Bibi cantik sekali." celetuk Luhan tiba-tiba‚ membuat Jung Ha kembali beralih padanya. "Bibi cantik‚ benar-benar cantik. Apalagi saat Bibi tersenyum. Aku akan jatuh cinta pada Bibi kalau saja Sehun tidak datang padaku terlebih dahulu."
Lantas senyum yang sedikit lebih lebar dari sebelumnya‚ terukir cantik di wajah Jung Ha. Luhan tersenyum lebar karena berhasil lagi membuat wanita ini tersenyum. Rasanya Luhan ingin lagi dan lagi membuat Ibunya Sehun ini tersenyum. Senyum wanita ini seperti zat adiktif yang membuatnya kecanduan.
Benar apa kata Sehun. Senyum milik Ibunya adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Sesudahnya Luhan meraih kedua tangan Jung Ha‚ lalu menggenggamnya lembut. Ia merasa nyaman begitu jemari Jung Ha melingkupi telapak tangannya.
"Aku kesini untuk pamit pada Bibi. Besok aku pulang ke Korea untuk bekerja. Jadi mungkin aku akan sangat merindukan Bibi." kata Luhan pelan. Ia menunduk sejenak. "Ayah dan Ibuku akan tetap di samping Bibi sampai Bibi pulih. Jadi Bibi jangan khawatir‚ semuanya akan baik-baik saja. Lagipula akan ada Sehun yang menjaga Bibi. Sehun akan ada di sisi Bibi. Sampai kapanpun."
Hening lagi. Memang tidak ada respon dari Jung Ha. Tapi Luhan bisa melihat ada kilat bahagia di mata wanita ini. Mungkin wanita ini tidak bicara lewat tutur katanya‚ tapi bicara lewat tatapan matanya yang teduh. Luhan senang mendapat jawaban itu dari Jung Ha. Sampai tidak sadar bahwa ia meneteskan air mata haru. Luhan segera menghapusnya setelah tersadar. Ia tidak boleh terlihat cengeng di depan Jung Ha.
Setidaknya Luhan bisa membuat posisi Jung Ha begitu spesial diantara mereka yang sangat menantikan wanita ini kembali seperti semula.
…
Kaki berbalut sneekers putih itu berhenti melangkah‚ kemudian berbalik‚ berhadapan dengan sepatu sneekers biru dongker yang ukurannya lebih besar. Luhan‚ pemilik dari sepatu sneekers putih‚ tersenyum pada Sehun yang menjadi pemilik dari sepatu sneekers biru dongker.
"Terima kasih sudah mengantar." kata Luhan. Ia mengambil alih kopernya dari tangan Sehun kemudian.
Sehun hanya mengangguk. Kemudian ia bertanya‚ "Kenapa Ayah dan Ibumu tidak mengantarmu ke bandara? Padahal kalian jarang bertemu."
"Aku yang minta agar mereka tidak mengantarku‚ itu sudah jadi kebiasaanku." jawab Luhan seadanya. "Lagipula mereka harus merawat Ibumu supaya Ibumu cepat pulih. Ibu pernah cerita kalau mereka teman lama dan dulu orang tuaku sering membantu Ibumu saat Ibumu merasa kesulitan."
Sehun menaikkan alis‚ dan Luhan tertawa kecil karena ekspresinya.
"Kau tidak perlu mengantarku sebenarnya."
"Apa itu juga kebiasaanmu‚ meminta orang terdekatmu untuk tidak mengantarmu ke bandara?"
Luhan tertawa lagi. Sembari meredakan tawanya‚ Luhan memeluk Sehun. Dan Sehun akan membalas pelukannya.
"Luhan‚"
"Hng?"
"Tunggu aku ya?" kata Sehun. Lelaki itu menyamankan pelukannya sesaat. "Aku tak ingin pergi darimu lagi‚ membuatmu menunggu dan menangis karenaku‚ aku tidak akan melakukan hal-hal yang membuatmu mencemaskanku lagi."
Luhan tersenyum. "Ya‚ aku akan menunggumu." jawabnya. "Dan kuharap aku tak akan mengganggu pikiranmu lagi setelah ini."
Sehun mengangguk-angguk kecil di bahu Luhan. "Aku berharap hal yang sama padamu." bisiknya halus. Luhan tertawa kecil karena kegelian.
Pelukan itu melonggar. Mereka saling tatap sebelum menyatukan diri dengan sebuah ciuman lembut tanda perpisahan. Oh‚ seharusnya Luhan menghentikan Sehun karena sekarang mereka berciuman di bandara. Jujur ia malu. Tapi ia tidak akan peduli pada orang-orang yang melihat adegan ciumannya dengan Sehun.
Masa bodoh. Sehun 'kan pacarnya.
Begitulah mereka sebelum Luhan naik ke pesawat dan kini berada di langit yang entah menaungi negara yang mana. Luhan tak bisa menahan senyum senang selama ia memandangi awan putih dan langit biru dari jendela. Jika kemarin-kemarin ia berangkat ke Kanada karena terpaksa‚ berharap tidak ingin bertemu dengan Sehun lagi‚ kini ia pulang dari Kanada juga karena terpaksa‚ dan berharap bisa bertemu dengan Sehun lagi.
Luhan akan sabar menunggu Sehun. Tidak apa-apa jika itu membutuhkan waktu yang lama. Yang penting ia sudah tahu bagaimana situasi Sehun. Luhan akan lebih sering berdoa supaya masalah Sehun cepat selesai‚ dan mereka bisa kembali bersama.
…
Dari hari menjadi minggu‚ dan minggu menjadi bulan. Sudah hampir dua bulan berlalu‚ dan Luhan belum mendapat kabar apapun dari Sehun‚ sama seperti sebelumnya. Lelaki itu sama sekali tidak memberinya pesan untuk memberi kabar atau hanya sekedar menyapa. Begitu pun dengan Luhan yang juga tidak ingin menagih kabar Sehun karena ia punya alasan sendiri; ia tak ingin Sehun teringat akan dirinya di sana dan membuat semuanya kacau.
Jika dulu Luhan kesal setengah mati‚ maka sekarang Luhan sudah mengerti. Ia tahu apa alasan Sehun yang tidak menghubunginya selama lelaki itu berada jauh darinya. Sehun hanya tidak ingin meruntuhkan pertahanannya sendiri untuk tidak berlari pada Luhan saat itu.
Pagi itu‚ suasana di kantor masih biasa-biasa saja. Para pegawai masih melakukan aktivitasnya masing-masing. Tapi begitu menjelang makan siang‚ suasana kantor tiba-tiba kacau. Luhan yang saat itu berada di ruangannya bersama Yixing‚ tidak bisa menahan diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Sekelompok orang berjumlah puluhan orang‚ memakai setelan jas rapi‚ dan membawa kotak biru besar bertuliskan 'Badan Pajak Nasional'‚ tiba-tiba datang. Badan pemerintah itu mendatangi ruangan-ruangan penting untuk membawa barang-barang yang sekiranya bisa mereka selidiki. Ruangan Luhan juga kena. Luhan dan Yixing harus keluar untuk sementara waktu selagi orang-orang pemerintah itu mengambil beberapa barang di sana.
"Apa yang terjadi?" bisik Yixing kebingungan. Perempuan itu tidak henti memperhatikan kerja orang-orang di dalam sana dengan cemas.
Luhan apalagi. Ia hanya menjawab‚ "Tidak tahu‚" dengan pelan. Ia tidak berhenti memainkan jemari karena juga ikut cemas.
Kemudian tiba-tiba terlintas nama Soo Hyun di pikiran Luhan. Tanpa dikomando lagi‚ Luhan mundur perlahan dan berderap cepat menuju ruangan lelaki itu. Ia tidak peduli pada Yixing yang memanggil namanya. Luhan hanya perlu melihat bagaimana kondisi Soo Hyun setelah tahu hal ini terjadi.
Sesampainya‚ Luhan dapat melihat lelaki yang dicarinya itu sedang berdiri di sebelah salah satu orang dari Badan pemerintah tersebut di dekat pintu ruangan Soo Hyun. Soo Hyun Nampak biasa saja‚ bahkan ia mengobrol dengan orang dari pemerintah tadi tanpa ekspresi marah atau apapun itu. Luhan mendesah lega. Ia berjalan mendekat dan membuat Soo Hyun tersadar akan kehadirannya.
"Oh‚ Luhan?" Soo Hyun berbalik pada Luhan yang memberinya bungkukan sopan setelah itu‚ kebingungan. "Kenapa kau kemari?"
"Kau baik-baik saja?" tanya balik Luhan. Lantas Soo Hyun mendegus geli.
"Aku baik‚ tentu saja." jawabnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Kau tahu sendiri kalau keadaannya sekarang sedang kacau." Luhan menilik keadaan ruangan Soo Hyun dari balik bahu lelaki itu. "Kau sungguh baik-baik saja?"
Soo Hyun terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. Luhan ikut mengangguk-angguk. Kemudian perempuan itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Soo Hyun‚ bertanya‚ "Kau tahu kenapa mereka bisa kesini?" dalam bisikan.
Soo Hyun menaikkan kedua alis‚ mencerna pertanyaan Luhan‚ tertawa sesudahnya. Membuat Luhan menatapnya dengan kebingungan.
"Mereka bilang seseorang yang lebih berkuasa di kantor ini meminta mereka untuk menyelidiki seluruh isi kantor." jawab Soo Hyun seadanya. Ia menerawang sejenak‚ menghela napas. "Mungkin bocah itu sudah bisa menjatuhkan keluargaku dengan mudah hanya karena masalah sepele. Wah… Tak kusangka ia bisa tumbuh kuat dengan cepat…"
Luhan mengerutkan kening mendengar bisikan Soo Hyun yang entah sedang berbicara dengannya atau sedang membicarakan siapa itu. Luhan hanya dengar beberapa‚ dan jujur itu juga membuatnya penasaran meski ia tidak begitu peduli. Begitu Soo Hyun kembali menatapnya dan tersenyum padanya‚ Luhan yang hendak bertanya‚ jadi terurung karena Soo Hyun sudah terlebih dahulu bersuara.
"Kembalilah ke ruanganmu. Aku baik-baik saja di sini."
Luhan diam saja dan akhirnya mengangguk kecil. Perempuan itu membungkuk sopan‚ dan pergi kembali ke ruangannya. Menyisakan Soo Hyun yang memandangi punggung Luhan dengan dengusan geli.
"Huh‚ dia bisa khawatir padaku rupanya."
Sementara itu‚ Luhan masih tidak bisa menahan rasa penasarannya sendiri. Sedari tadi ia duduk memegangi ponselnya‚ berharap lebih ia bisa mengirim pesan pada Sehun untuk bertanya kalau saja kekacauan di kantor hari ini memang karena ulahnya. Namun dirinya yang lain berpikir bahwa apa yang terjadi di kantor bukanlah hasil perbuatan Sehun. Lagipula Soo Hyun tadi bilang kalau semua ini akibat permintaan seseorang yang memiliki kekuasaan lebih di kantor ini.
Ayahnya Sehun?
Hah‚ mana mungkin pria itu mempertaruhkan perusahaannya demi kepentingannya sendiri? Luhan sangsi atas tebakannya sendiri.
Lama berpikir membuat Luhan menyerah. Ia pusing memikirkan hal-hal berat seperti ini. Agaknya memang Luhan juga tidak berpengaruh jika saja ia tahu siapa dan apa alasan seseorang yang melakukan hal ini pada perusahaan paling terpengaruh di Korea ini. Luhan menghembuskan napas keras. Baiklah‚ ia tidak akan ikut campur dalam urusan ini.
Setelah orang-orang dari pemerintah itu selesai dengan pekerjaannya‚ para pegawai di sini mulai berkasak-kusuk. Mungkin sebagian besar membicarakan suatu hal yang tak berguna‚ dan sisanya mengkhawatirkan diri mereka sendiri; semacam apakah perusahaan ini akan diberhentikan kinerjanya sehingga mereka menjadi pengangguran tidak lama lagi atau tidak? Namun kegiatan saling kasak-kusuk itu tidak bertahan lama. Sebab esoknya‚ semuanya kembali seperti semula.
Esoknya‚ esok‚ dan esoknya lagi‚ sampai dua minggu setelah itu lebih tepatnya‚ kantor kembali heboh. Benar-benar heboh dari yang sebelumnya.
Saat itu‚ Luhan baru saja memasuki pintu masuk dan menunduk sopan pada penjaga pintu. Namun lobi luas yang ada di depannya terlihat lengang. Beberapa pegawai yang ada di sana dan yang baru saja datang‚ memilih untuk melipir masuk ke lift dan tak ingin melihat insiden itu. Namun entah karena kakinya atau bagaimana‚ hanya Luhan sendiri satu-satunya pegawai kantor yang berada di daerah lobi yang luas dan lengang. Luhan serasa dipaku bayangannya sendiri setelah melihat siapa yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.
Di sana ada Oh Jae Ho dan seorang wanita yang membelakangi Luhan. Luhan tidak tahu wanita itu siapa. Tapi Luhan bisa melihat Oh Jae Ho sedang dalam keadaan terdesak bila dilihat dari ekspresinya.
Oh‚ ya Tuhan… Baru kali ini Luhan melihat seseorang bisa membuat Oh Jae Ho terdesak seperti sekarang.
Luhan terus memperhatikan. Tiba-tiba menjadi tuli oleh bisik-bisik beberapa orang yang memanggilnya dan memintanya untuk menyingkir dari daerah yang sudah ditandai berbahaya secara tak kasat mata itu.
"Mau kau apakan aku‚ aku tetap menjadi istrimu." suara wanita yang berhadapan dengan Jae Ho itu terdengar samar di telinga Luhan. Membuat Luhan membulatkan matanya samar.
…istrimu.
Istrinya Ayahnya Sehun?
Song Jung Ha?!
"Dan inilah pembalasanku untukmu‚ yang selama ini menyepelekanku dan juga Sehun." tandas wanita yang Luhan tebak sebagai sosok Song Jung Ha dengan kejam.
Rasanya Luhan ingin memekik dan memanggil nama wanita yang terus saja berputar di pikirannya saat ini. Namun Luhan kehilangan suaranya tiba-tiba. Ia tak tahu kenapa dia sekarang. Mungkin karena terlalu terkejut atau tidak mengerti situasi. Luhan bahkan tidak bisa berkata-kata setelah wanita yang menjadi pusat perhatian itu berbalik‚ sehingga Luhan bisa melihat siapa sebenarnya wanita itu.
Iya‚ wanita itu benar Song Jung Ha. Hanya saja keadaan Jung Ha sekarang ini benar-benar berbeda dari yang terakhir kali Luhan lihat. Terlihat lebih elegan dan cantik sekali.
Refleks Luhan menurunkan rahang bawah‚ menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya‚ dan mundur beberapa langkah. Kakinya gemetar dan rasanya Luhan ingin jatuh. Sementara Jung Ha menatapnya sejenak‚ lalu melayangkan senyum lembut untuk Luhan sehingga Luhan mampu mengumpulkan kesadarannya kembali.
"Bisa bicara sebentar‚ Xi Luhan?"
…
Kaki Luhan sedari tadi terketuk-ketuk lantai sementara jemari tangannya bermain-main di atas pangkuan. Luhan tidak bisa tenang barang sedetik atau mungkin ia masih belum bisa percaya. Sebab wanita yang terakhir dilihatnya waktu itu mampu membuat Luhan takut dan cemas secara bersamaan‚ kini sedang duduk di hadapannya dengan secangkir teh hangat yang baru saja ia seruput sedikit demi sedikit. Mengabaikan banyak pasang mata para pegawai yang berkusu-kusu disekitar mereka. Kira-kira mereka sedang menebak mengapa Luhan bisa duduk berdua dengan seorang wanita yang membuat Oh Jae Ho terdesak‚ atau bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita yang kini sedang bersama Luhan.
Luhan berdeham pelan‚ merasa pembicaraan mereka harus segera dimulai. Luhan mulai merasa perutnya dililit sesuatu dengan erat karena gugup.
"Bibi―"
"Ibu." potong Song Jung Ha kalem. "Panggil aku Ibu." terangnya sambil tersenyum.
Melihat senyum itu rasanya Luhan bisa sedikit merilekskan dirinya sendiri. Yah‚ meski sedikit.
Luhan berdeham lagi. "Kapan Ibu kemari?" tanyanya serak‚ mungkin karena gugup.
"Lusa lalu." jawab Jung Ha seadanya. Ia tersenyum. "Aku menantikan momen saat aku bisa mengobrol bersamamu seperti ini."
Luhan mengerjap kecil. "Eh‚ ya?" tanyanya tidak mengerti. Jung Ha tersenyum lagi melihat reaksi Luhan.
"Kau sangat cantik." puji Jung Ha. Luhan masih belum mengerti dengan arah pembicaraan wanita ini. "Kau cantik sekali sampai Sehun bisa jatuh cinta padamu."
Lantas pipi Luhan bersemu merah. Perempuan itu menunduk malu-malu dan itu membuat Jung Ha terkekeh kecil.
"Cinta pertamanya Sehun adalah Ibu. Aku bukan apa-apanya." balas Luhan masih dengan malu-malu.
Jung Ha tersenyum lagi. Entah sudah berapa kali Luhan melihat wanita itu tersenyum‚ tapi Luhan sama sekali tidak merasa bosan. Justru Luhan juga ikut tersenyum karena senyumannya Jung Ha. Senyum wanita ini menular.
"Kau bahkan mirip sekali seperti Ibumu. Maaf sudah memanggilmu Yuan saat itu." lanjut Jung Ha. Luhan pun mengibaskan kedua tangannya di udara seraya membalas‚ "Ah‚ tidak‚ tidak. Tidak apa-apa. Mungkin waktu itu Ibu sedang bingung sampai mengira aku adalah Ibuku."
Song Jung Ha kembali tersenyum. Kemudian matanya menerawang‚ membawa ingatannya untuk menjelajahi masa lalu.
"Aku mengenal Ibumu di rumah sakit waktu itu. Dulu aku memiliki kepanikan yang lebih saat aku menghadapi suatu masalah‚ entah itu masalah yang kecil atau yang sepele. Lalu Ibumu membantuku‚ mengaku bisa meredakan kepanikanku. Singkatnya kepanikanku bisa teratasi karena Ibumu seorang psikolog yang handal. Jadi setelah itu aku sering berkonsultasi padanya‚ dan akhirnya kami berteman." cerita Jung Ha tanpa diminta. Luhan hanya bisa menjadi pendengar sebab ia sudah tahu cerita itu dari Ibunya beberapa waktu yang lalu.
Sebelum melanjutkan‚ Jung Ha menghela napas pelan. "Tapi kemudian Oh Jae Ho tahu kelemahanku. Ia memojokkanku sampai aku merasa benar-benar tertekan supaya ia bisa menguasai hartaku. Saat itu aku sedang mengandung Sehun‚ dan tekanan yang diberikan Jae Ho membuatku hampir keguguran. Beruntung Ibumu bisa mengatasi semuanya‚ dan aku merasa baik-baik saja sampai Sehun lahir. Ia yang mengurus Sehun saat aku harus istirahat dan tidak boleh stres karena saat itu aku mengalami depresi ringan. Tapi setelah Sehun berumur satu tahun‚ Ibumu kembali ke Cina karena kontrak pekerjaannya di Korea sudah selesai. Dan kami kehilangan komunikasi. Aku mengalami depresi lagi lima bulan setelah Ibumu kembali ke Cina. Aku mengirim surat pada Ibumu‚ berharap aku kembali mendapat bantuan karena saat itu keadaanku benar-benar menyedihkan. Dan beruntungnya‚ yang datang adalah Ayahmu. Dia juga menjagaku dan Sehun untuk beberapa waktu. Tapi hanya sebentar‚ karena keberadaan Ayahmu pun diancam oleh Jae Ho. Aku memaksanya untuk kembali ke Cina dan jangan mengkhawatirkanku karena aku tahu‚ kedua orang tuamu pasti akan dalam bahaya kalau mereka membantuku."
Seketika Luhan tidak tahu harus membalas apa. Ia merasa hidup wanita ini sungguh berat karena tekanan yang suaminya berikan padanya. Keluarga Oh itu sungguh membuat Luhan geram dan sedih secara bersamaan. Ingin sekali ia marah pada Ayahnya Sehun karena keegoisan yang dimilikinya‚ juga Luhan ingin merengkuh Sehun dan Ibunya lelaki itu karena apa yang telah mereka lalui selama ini.
Sekarang keadaan sudah terbalik. Nampaknya Song Jung Ha bukanlah wanita yang penuh akan kepanikan seperti dulu. Kini wanita itu terlihat lebih kuat‚ bahkan bisa membuat sosok Oh Jae Ho yang dulunya selalu memojokkannya‚ hari ini terlihat menciut dalam balutan pakaiannya.
Luhan salut akan sosok Jung Ha. Benar-benar salut.
"Singkatnya‚ aku berakhir mengalami depresi berat karena tekanan-tekanan yang diberikan Jae Ho padaku. Lalu aku dikirim ke Kanada supaya aku bisa jauh dari Sehun. Makin parahlah depresiku. Tapi kemudian Sehun datang‚ lalu membawamu yang mengingatkanku tentang Xian Yuan dan Xi Yowei. Aku tak menyangka kalau kau putri mereka. Saat itu aku tidak tahu kalau itu kau karena terakhir kali aku melihatmu itu dari foto. Kau masih dua tahun saat itu‚ dan sekarang aku melihatmu saat kau berusia dua puluh tujuh tahun. Aku benar 'kan?"
Luhan tertawa kecil. Jadi Jung Ha pernah melihat sosoknya saat ia masih berumur dua tahun? Astaga… Luhan mulai merasa kalau kebetulan antara keluarganya dan keluarga Sehun‚ serta hubungannya dengan Sehun‚ memang sudah digariskan oleh Tuhan sedari awal. Boleh 'kan Luhan berasumsi demikian?
"Luhan‚" panggil Jung Ha kemudian. Senyum lembut yang sedari tadi terukir indah di wajahnya‚ berubah menjadi senyum manis ketika Luhan menyahut panggilan Jung Ha untuknya.
"Ya‚ Ibu?"
"Terima kasih banyak." kata Song Jung Ha kemudian. "Terima kasih karena sudah menemuiku‚ membuatku ingat pada kedua orang tuamu‚ dan akhirnya bisa mengobrol denganmu di sini. Aku juga berterima kasih‚ karena selama aku dalam keadaan tidak baik‚ kau ada untuk Sehun. Terima kasih banyak."
Lantas senyum Luhan melebar. Ia tidak tahu kenapa ia begitu senang tapi dengan refleks‚ Luhan membalas‚ "Terima kasih juga karena Ibu sudah melahirkan Sehun di dunia ini."
…dan kutemukan dia dari sekian milyaran orang di dunia ini sebagai seseorang yang kucintai‚ lebih dari apapun.
…
Mulai sejak saat itu‚ kehadiran Song Jung Ha diibaratkan sebuah peringatan bagi kebanyakan pegawai di sini. Sebab setelah Song Jung Ha keluar dari kantor‚ keadaan kantor menjadi tidak stabil. Sepertinya baik Oh Jae Ho maupun Shin Soo Hyun tidak bisa mengatasinya dengan baik. Banyak kabar burung yang masuk ke telinga Luhan selama dua hari terakhir setelah kedatangan Song Jung Ha kala itu. Kabar-kabar itu kebanyakan tentang kasus korupsinya Oh Jae Ho‚ lalu pemindahan hak milik secara tidak sah‚ dan sebagainya. Luhan tidak tahu itu benar atau tidak. Luhan hanya menjawab‚ "Tidak tahu." ketika beberapa pegawai bertanya padanya.
Luhan bahkan tidak paham kenapa mereka juga harus bertanya padanya. Mungkin mereka mengira Song Jung Ha sudah memberitahu banyak hal tentang sebab-sebab kekacauan kantor ini mengingat mereka juga menggosipkan hal itu akhir-akhir ini. Atau juga mereka mulai menganggap peran Luhan begitu penting?
Luhan tidak peduli. Ia memang tidak tahu apa-apa. Anggapan mereka biar mereka saja yang mengurus. Luhan tidak akan membuat masalah ini jadi rumit hanya karena menjelaskan sebagian kecil apa yang Song Jung Ha ceritakan padanya di kafetaria kantor.
Menjelang jam makan siang hari itu‚ Luhan sudah terlebih dahulu beranjak dari kantornya menuju kafetaria bersama Yixing. Pekerjaan mereka sudah selesai beberapa saat yang lalu dan mereka memutuskan untuk ke kafetaria terlebih dahulu sebelum tempat itu ramai.
Namun ketika berada di lobi‚ Luhan dan Yixing melihat ada banyak wartawan yang berada di pintu luar‚ sedang melihat-lihat keadaan dalam kantor‚ dan duduk menunggu seseorang yang pantas untuk diwawancarai.
"Hei‚ Luhan‚" Yixing berbisik padanya. Luhan berdengung sebagai jawaban. "Kenapa mereka ada di sini? Kemarin-kemarin 'kan tidak ada wartawan di sana."
"Aku tidak tahu." Luhan menggidikkan bahu sekilas.
"Atau mungkin mereka kesini karena kabar-kabar buruk tentang Presdir Oh dan Direktur Shin?" tanya Yixing tiba-tiba. Ia menepuk bahu Luhan sedikit keras hingga Luhan tersentak karena tindakan Yixing padanya.
Baru saja Luhan hendak membalas‚ tiba-tiba para wartawan itu masuk ke dalam. Luhan mundur beberapa langkah sehingga Yixing yang berada di belakangnya juga terdorong. Luhan benar-benar terkejut karena langkah para wartawan juga suara-suara mereka yang sedang melontarkan pertanyaan.
"Oh‚ astaga‚ astaga."
"Ya Tuhan. Itu―"
Luhan mengikuti arah telunjuk Yixing. Perempuan itu terkejut‚ sama seperti Yixing. Sebab baru saja ia melihat Oh Jae Ho dan Shin Soo Hyun dibawa oleh beberapa lelaki berpakaian nonformal. Kepala Jae Ho dan Soo Hyun tertunduk‚ entah menghindari bidikan kamera atau karena malu. Luhan tidak tahu. Sedetik setelah Luhan sadar akan keberadaan dua orang penting di kantor ini‚ seluruh pegawai datang entah dari mana‚ melihat kekacauan kantor hari ini.
"Kenapa―bisa―astaga‚ Luhan. Kau tidak tahu―"
Luhan menggeleng-geleng kecil dan itu cukup membuat Yixing menutup bibirnya. Luhan juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikiran Luhan berkecamuk. Ia kebingungan sampai tidak bisa berpikir dengan baik.
Malamnya juga begitu. Pikiran Luhan masih belum bisa Luhan kendalikan. Jika Luhan berpikir tentang sesuatu‚ maka pikirannya akan bercabang banyak sehingga Luhan pusing sendiri. Sampai setelah Yixing mengiriminya pesan‚ pikiran Luhan mulai teralihkan.
Yixing : Besok kita harus berangkat ke kantor lebih awal.
Luhan : Memangnya ada apa?
Yixing : Aku juga tidak begitu tahu. Tapi yang lain bilang seperti itu.
Luhan mengerutkan kening‚ mendengus kemudian. Baiklah. Ia tidak akan penasaran.
Jadi sesuai apa yang dikatakan Yixing‚ esoknya Luhan berangkat ke kantor lebih awal. Sudah banyak pegawai yang berada di lobi yang luas itu. Anehnya‚ mereka selalu melihat ke arah pintu masuk. Luhan sampai menoleh ke belakang‚ pada pintu masuk lebih tepatnya‚ karena penasaran sebenarnya mereka ini sedang menanti siapa?
Luhan pun menghampiri Yixing yang juga berada di salah satu kerumunan pegawai yang lain. Luhan bertanya‚ "Ada apa? Siapa yang akan datang?" pada Yixing namun perempuan itu tidak menjawab‚ melainkan menggidikkan bahu sekilas. Yixing saja tidak tahu‚ apalagi Luhan.
Sepuluh menit berlalu‚ dan rasa penasaran mereka akhirnya terjawab. Beberapa karyawan yang tadinya berada di pinggir lobi‚ tiba-tiba berlarian menuju tengah lobi‚ membentuk sebuah jalan lurus dari pintu masuk ke dalam lift. Luhan yang tidak tahu menahu tentang project acara macam apa ini‚ hanya bisa berdiri di barisan belakang bersama Yixing. Secara refleks Luhan menoleh ke arah kaca besar di sebelah pintu masuk. Terdapat sebuah mobil hitam yang terparkir di sana‚ dan beberapa orang berpakaian formal membukakan pintu belakang mobil tersebut. Luhan meninggikan kepalanya‚ melihat siapa yang datang sampai-sampai para pegawai di sini menyambutnya seperti ini.
Jejeran pegawai dari ujung pintu masuk‚ membungkuk sopan ketika penjaga pintu membukakan pintu tersebut untuk si tamu yang datang. Luhan terus meninggikan kepalanya‚ bahkan mengangkat tumitnya sendiri karena penasaran. Mereka yang membentuk barisan seperti menyambut Raja Joseon yang masuk ke istana itu membungkuk sopan pada seorang lelaki muda yang berjalan disepanjang jalan yang dibentuk para pegawai di sini.
Saat kepala-kepala yang ada di depannya ikut membungkuk sopan pada si lelaki penting itu‚ Luhan mulai tahu siapa yang datang dan membuatnya tidak bisa bernapas seketika. Tidak sama seperti Yixing di sebelahnya yang ikut membungkuk sopan‚ Luhan tidak bisa melepas pandangannya pada lelaki penting itu. Bahkan Luhan tidak bisa berkedip. Tanpa ia sadari‚ hanya dirinyalah yang tidak membungkuk sopan pada lelaki penting yang terus saja berjalan lurus menuju lift itu.
Sebab yang ia lihat bukanlah lelaki asing. Lelaki penting itu adalah Oh Sehun‚ yang entah sejak kapan kembali lagi ke Korea.
Tepukan keras dari Yixing di lengannya membuat Luhan sadar dengan apa yang telah ia lakukan sedari tadi. Ia melihat sekitar dan ikut membungkuk meski Sehun sudah hampir memasuki lift. Luhan mengerjap‚ mencubiti punggung tangannya jikalau ini mimpi Luhan bisa segera bangun. Hanya saja Luhan merasakan sakit pada punggung tangannya. Ini bukan mimpi.
Sudah jelas Sehun kembali lagi ke Korea. Sudah jelas Sehun pulang!
Tapi kenapa Sehun tidak bilang padanya? 'Kan Luhan bisa menjemput lelaki itu di bandara dan bisa menuntaskan semua rasa rindu yang telah menumpuk selama dua bulan terakhir. Tapi kenapa mereka bertemu lagi di kantor? Saat pikiran Luhan sedang kacau karena masalah Ayahnya Sehun dan Soo Hyun pula. Sehun ingin menambah pikiran Luhan dengannya‚ ya? Ish!
Siangnya‚ selepas acara penyambutan yang membingungkan itu‚ Luhan menekuk bibir‚ lalu menghentak-hentakkan kakinya kesal pada lantai. Ia merasa kesal karena Sehun tidak memberitahunya kalau lelaki itu sudah ada di Korea. Ia juga merasa kesal karena mereka bertemu di tempat yang kurang tepat. Kenapa harus di kantor‚ sih?
"Luhan‚" Yixing memanggilnya sehingga Luhan mendongak padanya. "Presdir Oh memanggilmu." katanya dengan senyum mengembang sempurna.
Mungkin Yixing berpikir kalau akhirnya Luhan bisa bertemu dengan Oh Sehun―Presdir baru di kantor ini― lagi. Padahal Luhan sendiri sudah menahan kekesalannya karena kedatangan Sehun yang membuatnya terkejut itu.
Luhan bangkit dari duduknya‚ lalu keluar dari ruangannya tanpa bilang apa-apa pada Yixing. Langkah kakinya terdengar keras karena Luhan menghentaknya dengan kesal. Namun begitu ia sudah mencapai lantai dimana tempat Oh Sehun berada‚ Luhan berusaha serileks mungkin. Ia mengetuk satu-satunya pintu yang ada di sana‚ lalu terdengarlah suara Sehun yang mengijinkannya untuk masuk. Baru saat itu Luhan menunjukkan ekspresi kesal dan hentakkan keras di kaki setelah ia masuk. Membuat Sehun yang duduk di kursinya mengerutkan kening melihat sikap Luhan padanya.
"Kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Sehun‚ menatap Luhan yang tetap berdiri di belakang pintu. "Kau mengerikan."
"Dari sekian banyak kata‚ kau memilih untuk bertanya tentang kenapa wajahku kusut dan aku mengerikan di pertemuan pertama kita setelah dua bulan." Luhan mengangguk-angguk kecil. "Oh‚ aku paham."
Sehun sempat terdiam sejenak. Lantas lelaki itu terkekeh kecil. "Kau marah?" tanyanya lagi.
Luhan tidak menjawab‚ ia bersedekap kesal. Sehun pun bangkit‚ mengitari mejanya‚ dan menyandarkan kakinya yang panjang pada tepian mejanya. Lelaki itu memberi isyarat supaya Luhan mendekat. Sehingga mau tidak mau―meski sebenarnya Luhan mau―ia berjalan mendekat‚ masih dengan ekspresi kesalnya yang menggemaskan di mata Sehun.
Begitu Luhan sudah ada di hadapannya‚ Sehun ikut bersedekap memandangi Luhan. Senyum kecil pun terukir di wajahnya. "Kau marah pada Presdir mu?"
Lantas Luhan mundur selangkah lalu membungkuk sopan pada Sehun. "Oh. Maaf‚ Presdir." katanya.
Sehun tertawa setelahnya. Lelaki itu menegakkan tubuh lalu membawa Luhan dalam pelukannya. Luhan tak langsung membalas pelukan itu. Wajahnya masih tertekuk‚ tapi perlahan ia memejamkan mata untuk menyamankan diri. Pelukan Sehun membuat rindunya selama ini menguap dengan mudah seketika.
"Katakan padaku‚ kenapa kau marah padaku?"
Luhan terdiam sebentar. "Kau tidak memberitahuku kalau kau pulang ke Korea. Dan tiba-tiba aku melihatmu di kantor pagi ini. Itu menyebalkan."
"Hanya itu saja?"
"Eung…" Luhan kini balas memeluk Sehun. "Aku juga jengkel karena aku merindukanmu."
Sehun terkekeh. Ia mengeratkan pelukan. "Ah‚ seharusnya aku memanggilmu ke sini karena ada banyak berkas yang ingin kuberikan padamu. Tapi kenapa malah jadi seperti ini?" katanya. Giliran Luhan yang terkekeh. "Kau masih marah padaku?"
Luhan hanya berdengung sebagai jawaban. Entah ia mengiyakan atau menidakkan pertanyaan itu.
"Maaf‚ ya‚ karena aku tidak memberitahumu kalau aku pulang. Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan. Dan kejutanku hari ini berhasil. Ekspresimu saat melihatku tadi pagi membuatku ingin tertawa saja. Kau lucu‚ Sayang."
Luhan mendongak. Ia menyipitkan mata kesal mendengar itu. "Kau melihatku?" tanyanya sangsi. Sehun mengangguk dan Luhan yang kesal lagi jadi mendorong Sehun untuk menjauh. "Lalu kenapa kau tidak datang padaku?"
"Memangnya kau mau kupeluk dan kucium di depan semua orang?" tanya Sehun balik.
Luhan mengerjap dengan bibir mengerucut. Pipinya merah merona entah karena malu atau salah tingkah. Dan itu justru membuat Sehun gemas. Lelaki itu tertawa kecil‚ lalu mencuri kecupan singkat di bibir Luhan. Luhan mengerjap lagi sebelum memberi balasan berupa cubitan kesal di perut Sehun. Lelaki itu meringis dan Luhan tersenyum puas sebagai tanggapan.
"Memangnya kau berani melakukan itu?" Luhan bertanya balik. Ia mencibir setelah Sehun meringis sebagai jawaban. Luhan biarkan Sehun memeluknya‚ dan perempuan itu ikut melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun.
Untuk beberapa menit kedepan‚ yang ada hanyalah hening. Mungkin mereka sedang menikmati kebersamaan sementara rindu yang ada selama dua bulan terakhir menguap secara perlahan-lahan.
"Luhan‚" Sehun memanggil‚ membuka kembali percakapan. Luhan pun menjawabnya dengan dengungan halus. "Kau masih menjadi sekretaris Direktur 'kan?"
"Ya." Luhan mengangguk‚ mendongak. "Memangnya kenapa?"
"Kalau jadi sekretaris Presdir mau‚ tidak?" tanya Sehun. Belum sempat Luhan menjawab‚ Sehun sudah geleng-geleng sendiri. Sepertinya lelaki itu merasa ada yang kurang pas dengan pertanyaannya tadi.
"Ada apa?"
"Tidak‚ tidak." gumam Sehun pelan. Ia melepas pelukan‚ kembali menyandarkan kaki panjangnya pada tepian meja kerja. "Kalau jadi istrinya Presdir‚ mau?"
Luhan mengerjap. Praktis matanya menatap mata Sehun yang juga menatap tepat di manik. Luhan merasa seluruh sendinya menghilang‚ kakinya bergetar kecil. Ia tidak tahu ini efek terkejut atau karena apa. Tapi barusan ia tidak salah dengar 'kan?
Melihat ekspresi wajah Luhan yang terkejut itu‚ membuat Sehun menggigit bibir dalamnya menahan tawa. Oh‚ astaga. Ia ingin meledakkan tawa tapi tidak bisa. "Kau tidak mendengarnya?" tanyanya menahan senyum lebar.
"Tidak―tadi―itu…" Luhan linglung.
"Daripada menjadi sekretarisnya Presdir‚ bagaimana kalau kau jadi istrinya Presdir saja?" ulang Sehun‚ masih dengan menahan tawa.
Luhan mengerjap lagi. Melihat ekspresi perempuan ini‚ Sehun jadi tidak bisa menahan tawa. Lelaki itu tergelak sembari kembali maju untuk mendekati Luhan. Ia menangkup wajah Luhan‚ mengamati wajah cantik itu‚ lalu kembali menerangkan‚ "Xi Luhan‚ mau menikah denganku?"
Kali ini seluruh kesadaran Luhan berkumpul menjadi satu. Otaknya berpikir cepat dan ia tak bisa untuk tak menggeleng sebagai jawaban. Kepalanya terangguk semangat‚ senyumnya berkembang cerah sekali. Bahkan ketika Luhan berkata‚ "Mau‚" suara perempuan itu terdengar menggelikan. Sampai Sehun tak bisa menahan senyum lebih lebar lagi‚ dan memeluk perempuannya dengan erat.
Dengan begini‚ semuanya selesai‚ dan ia bisa bersama Luhan kembali. Untuk sekarang dan seterusnya Sehun tak akan melepaskan Luhan karena alasan apapun. Sebab perempuan itu mimpinya‚ napasnya‚ dan hidupnya. Luhan… Intinya perempuan yang kini berada di pelukannya adalah segala-galanya bagi Sehun. Jadi Sehun tidak akan melepasnya dengan mudah.
Sehun akan mendeklarasikan pada dunia ini bahwa Luhan hanya miliknya seorang. Serius!
…
I knew I did from that first moment we met. It was… Not love at first sight‚ seriously! But I choose you. Cause I feel like: oh‚ helo‚ it's you. It's going to be you. Game over.
Mhairi McFarlane dan sedikit tambahan dari Beeya.
…
Finish
6‚8k words!
Selesai sudah kisah berat ini :')
Maaf karena ngga terlalu banyak HunHan momennya. Karena masalah di cerita ini cuma berfokus sama keluarganya Sehun doang. Jadi aku kudu kasih penyelesaian dulu ke keluarganya Sehun baru HunHan nya gimana hehe. Maaf yhaa...
By the way‚ thanks ya buat kalian yang selama ini membaca‚ ngikutin‚ sama nge-favorit-in cerita ini. Awalnya alurnya ngga bakal seberat ini. Tapi entah kenapa malah jadi berat banget. Aku sampe harus nyari-nyari info buat akhir cerita fanfiksi ini.
Menurut kalian‚ cerita ini gimana? Kasih jawabannya ya meski cerita ini udah tamat muehehe.
Terakhir‚ Thanks a lot guys! I love the way you review this story and make me so happy when I'm read your review hehe.
Sekuel? No. Thanks hehe. Epilog? Sementara segini dulu aja. Kalo ada epilog‚ kukabarin deeeeeh :)))
Jadi sekarang tungguin Howler versi editnya yhaaaaa! Insyaallah setelah lebaran aku bakal post Howler versi editnya. Ditunggu ditunggu!
Thanks for read this (freak) story. See you!
6112017
