Musim panas tahun ke 5
Asrama Slytherin
Scorpius Malfoy melambaikan tongkatnya, membuat beberapa barang datang padanya. Kemeja putih, celana panjang, dan dasi hijau berlogo Hogwarts dengan simbol ular. Mulai mematut diri di depan cermin besar sambil menggerakkan beberapa sendi di bahu. Sepertinya ia bertambah tinggi lagi. Tumbuh tinggi memang menyenangkan, tapi dia benci proses nya. Membuat tubuh sakit semua.
Anggap Scorpius punya sisi narsisme yang lebih tinggi dibanding kebanyakan anak. Ia suka mengamati raut wajahnya yang berubah. Kini dia tumbuh jadi remaja tanggung yang menawan nan seksi kata anak perempuan. Dengan dagu runcing, mata abu abu kehijauan warisan ayahnya, tulang rahang yang tegas, bahu bidang. Well sepertinya semua mimpi anak laki-laki ada pada. dirinya.
5 tahun. Tentu banyak yang berubah.
"Scorp, shampoo ku habis, bagi punyamu!" Dan ini adalah salah satu perubahan. Perubahan yang cukup besar. Albus Severus Potter menjadi teman kamar Scorpius Hyperion Malfoy. Jika memutar awal tahun, kemungkinan Albus dan Scorpius menghirup udara yang sama dalam radius 1 meter hampir tidak ada. Katakan saja 1%?! Tapi sekarang bukan sekedar menghirup udara, berbagai kamar sampai berbagi hal hal pribadi layaknya saudara bukan mustahil lagi.
"Aku akan mengambil desert mu untuk ini, mate." kata Scorpius sembari mengayunkan shampoo nya dengan sihir ke arah Albus.
Albus memutar matanya,"Ugh, ya ya ya. Seolah ada yang gratis dari mu."
Scorpius menaikan bahu cuek dan kembali menghadap cermin. "Setidaknya kau gratis melihat wajah tampan ku tiap hari."
"Jangan gila Scorp. Aku jelas lebih tampan darimu." Sahut Al dari dalam kamar mandi.
10 menit kemudian Al keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Scorpius yang memilah buku. Al menyisir rambutnya dengan tangan dan memakai sedikit gel rambut.
"5 tahun dan penampilan mu masih seperti itu?!" komen Al sambil melihat Scorpius memakai sepatunya dari dalam cermin.
Scorpius menatapnya sekilas dan kembali membuat simpul rumit untuk sepatunya. Tampak tak peduli dengan komentar Al. "Apa masalahnya? Toh aku tetap tampan."
Al terkekeh, "Old school tau. 5 tahun lagi kalau kau tetep berpenampilan seperti itu, aku akan menyebutmu pak tua."
Scorpius berniat melontarkan balasan saat kemudian merasakan ada tangan yang bermain-main dengan rambut nya. "Hei, jangan sentuh!" Di tampiknya tangan Al yang ia asumsikan tengah menjaili rambutnya.
"Diem deh. Kau pasti akan lebih tampan setelah ini." Scorpius memutuskan membiarkan Al. Toh kalau ternyata Al hanya mengerjainya, dia akan membalasnya nanti.
Setelah beberapa saat Al menurunkan tangannya. Scorpius melangkah ke arah cermin. Well ternyata tidak buruk juga. Al memberinya gel rambut dan menurunkan poni rambut, mengerahkan nya ke sisi kiri. Dia terlihat lebih.. em.. gaul?! Oh Scorpius tidak akan mengatakan apa yang ia pikirkan. Albus hanya akan membawa bawa hal ini untuk jadi bahan olokan.
Tanpa memberi komentar apapun Scorpius mengambil tasnya dan bergumam "aku duluan."
"Hei. Memang tidak ada yang ingin kau katakan?" tuntut Al. Scorpius tau Al pasti ingin dia bilang terimakasih.
"Like what..?" Tanyanya pura pura bodoh.
"Like, Thanks Albus yang ganteng?!"
"Nanti kalau salju turun di musim semi, baru aku akan mengatakan nya. Bye."
Al mendengus. Oh Albus, apa yang kau harapkan dari seorang Malfoy.
Sejak ia masuk usia remaja, hampir tiap cewek yang melihatnya akan menengok dua kali. Dan sekarang histeria itu makin menjadi. Cewek-cewek itu makin terang terangan melihatnya, sebagian mengerling genit, sebagian hanya terkikik manja bersama temannya. Terutama hari ini. Mungkin karna perubahan gaya rambut nya. Apapun, Scorpius menikmati hal itu. Menjadi pusat perhatian dan di tatap dengan rasa kagum.
Saat sampai di koridor terakhir menuju aula besar, Albus tau tau sudah menyusul. Tampilan Al selalu seperti ini, serampangan. Berantakan yang terlihat hot, dimata cewek.
Di depan pintu great hall duo ular Slytherin ini sengaja berdiri beberapa saat. Menikmati berpasang atensi yang di tujukan pada mereka.
Dukk! Merasa sebuah kepala mengatuk punggung Scorpius. Ia sedikit menengok kebelakang untuk melihat si empu kepala. Kepala merah khas Weasley.
"Rose!" seru Albus yang ikut menoleh. Rose Weasley, terlihat kacau. Dia memang bukan tipe cewek pesolek, tapi setidaknya dia tau cara tampil rapi. Dan saat ini, rambut merahnya hanya di cepol asal dengan anak anak rambut yang mencuat di sana sini. Mukanya tampak pucat dan lelah, dihiasi lingkaran hitam dan kantung mata yang semakin menurun. "Kau tampak kacau." komen Al.
Rose Mengusap dahinya yang tadi terbentur sesuatu dan menatap orang yang menjulang di depannya. Mendesis jengah begitu tau dia menabrakan wajahnya di tubuh Scorpius Malfoy.
"Hai Al." Berniat tidak mencari perkara, Rose memilih mengabaikan Malfoy dengan membalas sapaan Al.
"Lupa cara menggunakan mata, Weasley?!" cemooh Scorpius. Jelas dia merasa tersinggung dengan sikap Rose yang memperlakukan nya seolah tak kasat mata.
Ugh. Menyebalkan. Rose memeras matanya. Jujur, saat ini emosinya sedang tidak stabil. Ia lapar, haus, capek, ngantuk di tambah ini hari hari sensitif nya sebagai cewek. Kemarin Rose harus merelakan semua mapelnya karna nyeri haid yang tidak bisa diajak kompromi. Setelah minum ramuan dan tidur beberapa jam di hospital wings, kondisinya memang lebih baik. Rose berniat untuk pergi ke pelajaran yang masih ada saat kemudian dia mengamati Madam Pomrey kesana kemari merawat beberapa anak selain dia. Entah dorongan dari mana dia malah menawarkan bantuan. Walau awalnya madam Pomfrey menolak tapi Rose bersikeras. Itulah kenapa dia menghabiskan seharian di hospital wings.
Kemudian saat pergi tidur di malam hari, Rose menatap kedua tangannya. Tangan yang seharian ini ia gunakan untuk membantu membuat ramuan, mengayunkan mantra Ferula untuk pertama kali. Mengoleskan beberapa ramuan. Intinya hari ini ia menggunakan dirinya untuk membantu orang. Dan Rose merasa sangat takjub. Dadanya terasa penuh dengan rasa bahagia dan bangga. Bahkan melebihi saat dia mendapat nilai O di semua mapel. Healer. Satu kata terlintas yang akan menjadi masa depannya. Rose tau. Ia sudah tau apa yang ingin ia capai nanti. Dan saking senangnya, Rose tidak bisa tidur. Ia memutuskan membaca buku buku tentang ramuan dan kesehatan. Juga mempelajari beberapa mantra penyembuh yang belum pernah ia dengar. Bagi Rose buku-buku itu terlihat lebih menarik dari biasanya. Tanpa terasa dia bergadang hingga hampir subuh dan hanya tidur kurang dari 3 jam.
Jadi, sekarang dia tidak butuh Scorpius Malfoy untuk merusak moodnya. "Bisa minggir Malfoy?!" pinta Rose malas. Sebenarnya lebih tepat perintah. Tapi bukan Scorpius Malfoy jika menuruti begitu saja permintaan-perintah- Rose. Jadi dia malah pasang badan. Melipat kedua lengan di dada, menaikan dagunya. Memandang rendah Rose yang jauh lebih pendek darinya, seolah liliput yang tiap saat bisa dia injak.
"Bukan kalimat itu yang harus kau katakan, Weasley."
Rose tersenyum mengejek, "Kau ingin aku bilang apa Malfoy?!"
"Menurutmu?" tantang Scorpius.
Rose menghela nafas dengan satu hembusan besar. Ia benar-benar hampir tidak punya tenaga saat ini. Scorpius jelas ingin dia mengucapkan kata maaf dan sebagainya. Tapi siapa sudi!?
"Dengar Malfoy, jika kau ingin aku minta maaf atau apapun, aku tidak melihat alasan aku harus melakukannya. Jadi hanya diam dan menyingkir dari situ. Mengerti?!"
"Uooo." Scorpius menaikan alisnya sok takjub. "Weasley, kurasa kau benar benar harus memeriksa daya ingatmu. Tawaran ku untuk membelikan remember ball masih berlaku. Berminat?" Scorpius puas. Dia berhasil menaikan tingkat amarah Rose Weasley. Selalu menyenangkan melihatnya jengkel.
Di sisi lain Albus yang dari tadi mengamati mulai mencoba masuk pembicaraan. Tiap kali Scorpius dan Rose mulai adu mulut, suasana akan sepanas ini. Dan bila tidak segera di lerai akan ada 1, 2 mantra yang berterbangan dan berakhir dengan detensi tentu saja. "Guys.." tegurnya sepelan mungkin. "Bisa kita sarapan sekarang? Kurasa terlalu pagi untuk acara obrolan tidak ringan kalian." tambah Al sok konyol.
Sayangnya tak ada satupun yang menanggapi Albus. Keduanya menolak menurunkan pandangan lebih dulu.
"Apa masalah mu Malfoy?!" Rose mulai kehilangan kesabaran.
"Kau yang menabraku duluan Weasley. Kau yang bermasalah."
"Aku tidak sengaja."
"Kau tidak minta maaf." pojok Scorpius.
"Merlin! Aku. Hanya. Menabrakmu. Bukan mencungkil satu matamu. Its not big deal." Rose membela diri.
"Ini jadi masalah karna itu kau Rose Weasley."
"So what? Kenapa aku harus peduli pada pendapatmu? Dasar konyol." sembur Rose jengkel.
"Dan lagi, menabrak punggung yang keras seperti batu itu membuat jidatku kesakitan. Punggungmu itu terbuat dari apa Malfoy? Hah? Besi dan beton?! Disini Aku korbannya. Aku!" Hilang sudah kendali Rose dan dia setengah tidak sadar dengan ucapannya.
Albus cukup tercengang dengan perkataan Rose, begitupun Scorpius, meski tidak sekentara Albus. Namun 2 detik setelahnya terbit seringai dibibirnya. Rose masih terengah-engah, mungkin karna emosi yang ia luapkan dan tampak tak menyadari saat Scorpius memangkas jarak mereka dengan menundukkan badan hingga jarak wajah mereka hanya 15 cm.
"Memujiku Weasley?" Scorpius menurunkan nada suaranya dan memasang wajah menggoda. Rose melotot jengkel.
"Aku apa..?!"
"Ya ya ya. Tubuhku memang keras Wesley. Beruntung nya jidatmu bisa merasakannya. Kau ingin lagi? Merasakan kerasnya tubuhku." Scorpius semakin melontarkan kalimat seduktif.
Butuh beberapa detik bagi Rose untuk memahami alur pembicaraan Malfoy yang melenceng jauh dari masalah awal mereka. Dasar cowok. Apa mereka hanya bisa membahas hal hal semacam itu!? gerutu Rose dalam hati. Tapi mau tak mau Rose merasa mukanya memanas dan dia menahan tangannya untuk tidak mengipasi wajahnya. Scorpius belum menarik diri, membuat parfumnya tercium terlalu kuat. Rose merasa makin pening. Berniat mendorong Scorpius mundur, tapi malah dia sendiri yang oleng dan kehilangan keseimbangan. Sepertinya kondisinya sudah mencapai limit, di tambah emosinya yang diaduk aduk Malfoy.
"Rose!" Albus berseru saat melihat Rose terhuyung. Namun tidak sampai jatuh karna dia merenggut jubah Scorpius kuat sebagai pegangan. Scorpius juga refleks menahan tubuh Rose.
Shit! Rose masih punya kesadaran kalau dia bersender pada musuhnya, tapi tenaganya benar2 hilang.
"Scorpiiiee..!" terdengar lengkingan banshee juga hentakan langkah yang mendekat. Ups.. masksudnya Quinn Zabini.
"Singkirkan tangan kotormu Wessel!" Quinn menyentak Rose dengan kasar. Rose sudah pasrah jika dia akan jatuh. Tapi dalam keadaan setengah sadar nya lengan Albus menangkapnya.
"Jaga tanganmu Zabini!" Rose mendengar Albus meneriaki Zabini.
"Kau yang jaga perempuan murahan itu dari my Scorpiiiee, Potty!" Zabini membalas.
Rose merenggut jubah Albus kuat sebagai peringatan agar tidak meladeni Zabini. Menghela nafas Albus membenarkan rangkulannya pada Rose.
"Aku akan mengantar Rose ke hospital wings. Kau duluan saja Scorp." Scorpius tak menjawab dan hanya memandangi punggung Albus yang menjauh. Jujur dia cukup shock melihat Weasley ambruk di depannya. Tidak begitu peduli pada Quinn yang menggelayut di lengannya dan menyeretnya masuk ke great hall.
Aroma hospital wings yang khas menyapa Rose saat dia bangun dari tidurnya. Mengerang pelan, Ia merasa seluruh tubuhnya basah oleh keringat, tapi itu justru membuatnya merasa lebih baik.
"Sudah bangun?" tanya sebuah suara maskulin. Albus duduk di ranjang sebelah sambil memakan muffin dan memeluk beberapa Snack. Rose mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali merebah.
"Berapa lama aku tidur?" tanya Rose.
"Sekitar 4 jam. Sekarang jam makan siang." jawab Al, sambil melirik ke arah jam dinding.
Rose mendesah kesal sambil memukulkan kepalan tangannya pelan ke kepala. Bagus. Dua kali dia bolos pelajaran. Rekor baru Rose. Tiba-tiba dia tersentak menyadari sesuatu. "Al. Jangan bilang kau tetap disini dari tadi. Dan kau bawa semua itu kesini?" Rose memicingkan mata melihat tumpukan makanan di samping Albus.
Albus menelan suapan terakhir muffin nya. "Oh ini, sebenarnya punyamu Rose. Lily yang membawanya untukmu. Dan ya aku di sini dari tadi."
"Kau bolos?"
"Yap. Untuk menunggu mu"
"Well... Thanks..." Rose berkata dengan suara serak.
"Kau mau minum atau makan sesuatu?" tawar Al.
"Minum." Rose merasa tenggorokan nya sangat kering. Al kemudian membantu Rose minum.
"Lebih baik?" tanya Albus.
"He hem." angguknya. "Mana yang lain?" Rose menanyakan saudara saudara mereka, karna seingat nya tadi Al menyebut nama Lily.
"Mungkin di aula. Makan siang. Tadi mereka sempat menungguimu saat kau tidur. Dan Lily sangat cemas. Dia bahkan berencana tetap menemanimu di sini sampai kau bangun.. Tapi James mengingatkannya.." ".. atau lebih tepatnya memaksa Lily masuk kelas." Rose merasa cara bicara Al berubah di saat terakhir.
"Something wrong, Albus?"
Albus mengerjap bingung dengan pertanyaan aneh dari Rose.
"Apa?" tanyanya tak mengerti.
"Aku merasa ada yang salah. Sesuatu terjadi?" ulang Rose.
Ada jeda dimana Albus, mengalihkan atensinya ke sudut-sudut lain. Menghela napas berat dan, "Nothing." jawab Al akhirnya.
"Albus Severus...?!" memanggil seperti itu adalah kebiasaan Rose saat ingin mengintimidasi Al. Atau saat ia merasa mulai marah.
Albus masih berusaha bertahan dengan bertampang polos dengan tulisan 'apa?' di dahinya. Tapi Rose adalah gadis yang keras kepala. Karna itu dia memberikan tatapan peringatan 'jangan sok bodoh'.
Mengerang pelan, Albus menyerah. Tidak ada gunanya pura pura bodoh di depan Rose. "Aku bertengkar dengan James. Tepatnya, dia mengomeliku seperti wanita tua. Dan kau tau-" menunjuk Rose, "- aku tidak tahan dengan omelannya. Selesai." Albus mengakhiri dengan menunjuk dirinya.
"Belum. Kalau kau tidak sebutkan alasan kalian bertengkar." sanggah Rose.
Sebenarnya Albus sangat tidak ingin membahas hal ini. Tapi dia sadar ini tidak akan selesai kalau Rose tidak diberitahu dengan detail.
"Kami bertengkar karna kau.." Rose mengernyit sambil menunjuk dirinya sendiri. "... dan Scorpius." lanjut Al.
Mendengar itu Rose makin heran. Tapi dia menyuruh Albus melanjutkan.
"James menyalahkanku yang tidak membelamu saat tau kau ambruk setelah bertengkar dengan Scorpius. Dan mungkin juga karna aku sedikit membela Scorpius. Sedikit. Hanya sedikit. " ujar Albus memastikan.
Rose yang mengerti arah pembicaraan ini, mendengus kesal. Ia jadi teringat lagi alasan kenapa ia kembali ke sini untuk kedua kalinya. Damn Malfoy! " Kali ini aku setuju dengan James." tegas Rose.
"Hey..!" Albus protes.
"Apa?!" tantang Rose.
"Kau harus jujur, jika itu bukan sepenuhnya salah Scorpius. Aku di beritahu madam Pomfrey kalau kau hanya kelelahan dan kurang tidur." Albus menyanggah.
Rose menatap kesal. " Ya. Tapi Malfoy adalah pemicunya. Dan kau benar benar membelanya?! Tidak bisa di percaya. Bahkan aku merasa baru kemarin kita bersama sama melempar mantra pada Malfoy. Membalas cemoohan nya bersama. And now?!"
"Rose. Kita sudah pernah bahas ini okey." Al berusaha se kalem mungkin.
Rose memutar bola matanya. " Ya.. ya..ya.. Quidditch bodoh itu."
"Quidditch tidak bodoh." Al mengeratkan gigi nya. Rose bisa sangat menyebalkan kadang.
Pertandingan musim dingin Quidditch di tahun ke tiga memang menjadi titik balik hubungannya dengan Scorpius. Seperti yang Rose bilang hubungan nya dengan Scorpius dulu sama buruknya hubungan Rose dan Scorpius. Bahkan berlangsung tiga tahun. Dalam Quidditch pun mereka lebih suka bersaing dari pada bekerja sama. Tapi kemudian di pertandingan tahun ke tiga melawan Gryfindoor, Al sangat ingin menang. Oke, semua orang ingin menang. Hanya saja Albus saat itu sangat muak dengan olok olok Jemes jika Slytherin sampai kapanpun tidak akan menang dari Gryfindoor.
Jadi dia bertekad akan mati matian untuk mengalahkan Gryfindoor dan memberikan tamparan ke James. Al yang berada di posisi beater sekuat tenaga melindungi teman temanya dan bernafsu memukulkan bludger ke pemain Gryfindoor. Ada dua orang yang berhasil dia tumbangkan. Lumayan walau sebenarnya dia mengincar untuk menjatuhkan James.
Entah bagaimana feel tim mereka saat itu sangat bagus. Seeker memang masih mengejar golden snitch tapi skor mereka saling mengejar. Hal paling bagus untuk mengakhiri dan mendapat skor maksimal adalah keberhasilan menangkap snitch. Al sempat memutar pandangannya untuk melihat keadaan. Matanya tertuju pada Scorpius, seeker Slytherin yang berhasil mengetahui keberadaan bola itu dan sedang mengejarnya. Sementara James yang jadi seeker Gryfindoor ada di sisi lain. Tapi sebentar lagi James pasti akan menyadari dan ikut mengejar snitch itu. Albus berusaha mencari bludger agar bisa dia lemparkan pada James.
Sial! Satu dari bludger itu terlihat melayang ke arah Scorpius. Bloody hell. Tanpa sempat berfikir Albus melesat secepat mungkin ke tempat Scorpius. Snitch tinggal satu jengkal dari jangkauan Scorpius. Fokus Albus hanya pada bludger yang akan menghantam kepala Scorpius. Tidak menyadari James yang melesat di belakangnya.
"MAlFOY MERUNDUK!" Albus berteriak dan detik berikutnya dia berhasil memukul bludger itu kuat kuat. Menjauh dari kepala Malfoy.
Kemudian pertandingan mendadak hening. Tidak ada suara dari komentator, sorak sorai penonton, bahkan tiap orang seakan berhenti bergerak. Albus merasa nafasnya masih berat jadi dia belum peduli pada sekeliling.
Malfoy juga syok melihat Albus tiba tiba muncul dan mengayaunkan pemukul bludger di belakang kepalanya. Kemudian dia merasakan sesuatu bergerak, ada sayap mini yang menyembul dari genggamannya. Mengepak keras keras, berusaha melarikan diri. Snitch.
"I did it... I did it... Kita menang... Slytherin menang...!" Malfoy berteriak sambil mengangkat tangannya ke atas dan turun perlahan. Albus tersadar dan ikut turun di dekat Scorpius. Seketika euforia memenuhi tribun. Jack Handerson sang komentator kembali bersuara.
"Pertandingan berakhir. Pemenangnya SLYTHERIN!"
Kemudian terdengar riuh suara "Whooooooo... Yeah... Yesss... God... " dari tribun Slytherin. Anak anak Slytherin bersorak, bertepuk tangan, melempar syal, topi atau apapun sebagai wujud kegembiraan.
Para pemain Slytherin ikut turun dan beramai ramai menyongsong Scorpius dan Albus menepuk punggung mereka dan memberikan pelukan. Bahkan mengangkat keduanya
"Good job men.. you're fucking great..
Both of you.. both of you guys.. its really crazy and unbelievable." Para senior memuji mereka berdua. Albus merasakan kebahagiaan memenuhi dadanya. Ia merasa bahkan Dementor tidak akan mampu menyedot kebahagiaan nya saat ini.
Di tengah euforia itu, para pemain Quidditch Slytherin memeluk satu sama lain. Dan hal yang canggung ketika Scorpius maupun Albus akan berpelukan. Keduanya terhenti. Tapi kemudian Scorpius mengulurkan tangannya terlebih dulu.
"You save me Potter."
Albus membalas uluran tangan itu. " Aku tidak melakukannya untukmu Malfoy."
"I knew it." balas Scorpius. Sedetik terasa hawa tegang di antara mereka. Tapi kemudian keduanya berbalas senyum.
Sejak itu hubungan mereka mulai membaik. Dan sekarang mereka teman. Bahkan menjadi roomate. Tapi Albus juga tidak tau kenapa hanya hubungannya dengan Malfoy yang berubah. Salah. Hubungan Rose-Malfoy juga berubah. Lebih buruk.
Malfoy dan Rose masih selalu bertengkar di manapun mereka bertemu. Dan selalu di mulai oleh Malfoy. Albus berusaha. Sangat berusaha untuk selalu menjadi mediator di antara keduanya. Tapi belum pernah berhasil sampai sekarang. Kini dia berteman dengan Malfoy. Jujur itu menyenangkan. Tapi Albus juga tidak mau Rose membencinya. Dia adalah sepupu dan teman berharga.
Albus selesai mengenang, dan Rose masih memelototi nya. "Dengar. Aku akan coba bicara dengan Scorpius untuk tidak menganggumu lagi. Oke." Ucap Albus berharap Rose terbujuk.
"Baru sekarang?!" tanya Rose retoris.
Albus mengusap tengkuknya. "Yah... Kali ini ternyata berdampak buruk padamu."
Buru buru Albus menambahkan melihat Rose makin memicing. "Kau tau. Selama kalian bertengkar, kau lebih sering menang kurasa. Dan jujur, melihat pertengkaran kalian itu selalu menghibur." Albus menutup dengan cengiran di wajahnya.
"Al!" Bentak Rose galak. Dia heran, apa Albus tidak pernah bisa serius?!
"Oke..oke. Kali ini aku akan menegur Scorpius." putus Al.
"Sebenarnya aku lebih suka kau membalaskan dendam ku. Dengan menaruh kembang api kotoran di lemari pakaian Malfoy misalnya."
"Pfftt" Albus hampir menyemburkan tawanya. Melihat Malfoy si super bersih dan rapi bersanding dengan kotoran itu lebih langka dari mencari unicorn bertanduk 2.
Berusaha bertampang galak -walau tidak berhasil- Albus menegur Rose.
"Jangan jadi anak nakal Rose! Kau sepupu terdekatku dan Malfoy juga temanku sekarang. Aku tidak akan memihak satu di antara kalian. Jadi jangan memintaku memusuhinya hanya karna kalian bermusuhan. Oke" ujar Albus sok bijak
Kembali membuat Rose memutar matanya. "Terserah kau lah. Pastikan saja teman tercintamu itu berhenti berulah. Di depanku." Tegas Rose.
"Oke." jawab Albus singkat. Dia mendekat ke ranjang Rose. Memberikan pelukan ringan dan mengacak rambut merah sepupunya.
"Aku pergi dulu". pamitnya. Rose hanya merespon dengan anggukan.
Sambil berjalan keluar dari ruang rawat hospital wings, Albus memikirkan kalimat apa yang akan dia gunakan untuk bicara dengan Scorpius. Meski tadi dia begitu yakin di depan Rose, tapi sejujurnya Albus sangat sangsi. Masalahnya dulu dia pernah bertanya kenapa Scorpius terus mengusik Rose padahal hubungan mereka bisa diperbaiki. Dan Scorpius memberikan jawaban ambigu. "Aku dan Rose Wesley harus saling membenci. Kalau tidak aku akan terkena penyakit yang tidak bisa di sembuhkan."
Saat itu Al enggan memikirkan lebih jauh arti perkataan Scorpius. Dia hanya berfikir itu dampak sisi labilnya Scorpius. Mungkin bertengkar dengan Rose membuat Scorpius mendapat kepuasan tersendiri. Tapi apa iya, hanya itu?. Hal ini mulai menggelitik rasa penasaran Albus.
Well. Done untuk ch 3. Semoga terhibur reader sekalian.😆😆😆
