We will together for all times
I'll be on your side never turn again
I've been saving up my moments
But now‚ I'll spend them with you.
–Younha – You Who Come From Another Star–
…
EPILOG
"Bangun‚"
Sehun mengernyit mendengar suara samar itu dan tepukan pelan di lengannya.
"Bangun‚ Sehun…"
Kali ini Sehun dapat mendengar suara itu dengan jelas. Lelaki itu menggeliat kecil‚ lalu suara lembut itu berubah menjadi kekehan kecil. Sehun mengintip sebelum mengerjap. Yang ia lihat setelah itu adalah Luhan yang sedang tersenyum padanya.
Oh‚ sambutan di pagi hari yang indah sekali.
"Kau susah dibangunkan." kata perempuan itu sebelum ia duduk bersila di sebelah Sehun.
Sehun membenarkan letak bantal di bawah kepalanya‚ lalu memandangi Luhan.
"Aku capek." jawab Sehun serak. "Aku baru tidur…" matanya melirik jam dinding di belakang Luhan. Pukul delapan pagi. "…tiga jam yang lalu."
"Oh‚ aku mengganggumu?"
Sehun menggeleng pelan. Ia merentangkan sebelah tangannya lalu memberi isyarat pada Luhan supaya perempuan itu berbaring di sebelahnya dengan berbantalkan lengan. Luhan tertawa kecil sebelum menuruti Sehun. Mereka saling memandang untuk beberapa saat sebelum Sehun mencuri kecupan ringan di ujung hidung Luhan. Perempuan itu mengernyitkan hidungnya yang tiba-tiba terasa geli karena kecupan Sehun.
"Akhir-akhir ini kau sering mencium hidungku." kata Luhan‚ setengah kesal‚ setengah heran. "Kenapa?"
"Kau bertanya seperti itu karena kesal atau karena kau penasaran?" Sehun justru bertanya balik‚ membuat Luhan merengut. "Oh‚ jangan merengut‚ Sayang. Aku sudah menahan diri untuk tidak menciummu."
Luhan mengerutkan kening. "Kau menahan diri?" tanyanya‚ lalu tertawa. "Lucu sekali."
"Kenapa?" giliran Sehun yang mengerutkan kening. "Kau bilang begitu berarti aku boleh menciummu?"
Luhan menyipitkan matanya. "Memangnya siapa yang melarang?"
"Oh‚ baiklah." lengan Sehun yang dibuat bantal Luhan tiba-tiba tertekuk sehingga Luhan bisa dekat dengan Sehun. Mata Luhan mengerjap kecil‚ ia bisa merasakan hembusan napas Sehun tepat di ujung hidungnya. "Benar-benar boleh 'kan?"
"Ih‚ nanti kalau Ibumu tiba-tiba datang bagaimana?" Luhan mencoba menacari-cari alasan. Tangannya digunakan untuk mendorong dada Sehun namun Sehun justru memeluknya lebih erat. Luhan melotot kesal padanya. "Sehun…" ia merengek.
Sehun tertawa. Tanpa bisa Luhan cegah‚ Sehun sudah terlebih dahulu mengecup bibirnya kilat. Perempuan itu sampai mengerjap bingung karena saking cepatnya Sehun mencuri ciuman dari bibirnya. Sehun terkekeh geli. Ia mencubit ujung hidung Luhan gemas‚ lalu bangkit dari tempat tidur.
"Jadi melihat gedungnya 'kan?" tanya Sehun sembari berjalan menuju kamar mandi. Luhan mengawasinya sebentar.
"Ya." jawab Luhan setelah tersadar. Sedetik setelah itu‚ ia melihat Sehun menghilang dari balik pintu kamar mandi.
…
"Ibu mencari apa?"
Luhan yang baru saja keluar dari kamar Sehun‚ langsung kebingungan melihat Song Jung Ha mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Luhan mengerutkan kening sembari menghampiri wanita yang meringis menjawab pertanyaannya sebelum kembali mencari-cari sesuatu.
"Apa yang Ibu cari?" Luhan bertanya kembali‚ mengikuti gerak-gerik Jung Ha setelah itu.
"Ponselku." jawab Jung Ha kemudian. "Aku harus ke pengadilan sekarang tapi aku tak bisa menemukan ponselku."
Luhan tersenyum. Ia melihat sekitar‚ lalu menghampiri sofa ruang tengah. Ia duduk di sana‚ dengan tangan yang merogoh celah sofa tersebut dan menemukan sebuah ponsel putih yang kemudian Luhan yakini sebagai ponsel milik Jung Ha. Luhan menghampiri Jung Ha yang masih mondar-mandir‚ lalu berkata‚ "Ini‚ ya?"
Jung Ha berbalik dengan cepat. Senyum lebarnya terbit kemudian. "Oh‚ terima kasih. Kau temukan dimana?"
Luhan menunjuk celah sofa dengan ujung jari. "Ibu pasti lupa."
Jung Ha meringis kecil. Oh‚ terkadang tingkah wanita itu justru terlihat seperti perempuan yang lebih muda dari Luhan. Seperti sekarang‚ misalnya. Luhan saja sampai gemas karena senyuman Jung Ha. Ingatkan Luhan bahwa wanita ini lebih tua dua puluh sekian tahun darinya.
"Kalian berdua jadi melihat-lihat gedungnya 'kan?" tanya Jung Ha kemudian‚ memasukkan ponsel yang baru saja ia terima ke dalam tas tangannya. Luhan mengangguk sebagai jawaban. "Maaf‚ ya‚ aku tidak bisa menemanimu. Aku harus ke pengadilan untuk melihat keputusan terakhirnya bagaimana."
Luhan tersenyum mafhum. "Tidak masalah. Kupikir Ibu harus tahu hasilnya bagaimana supaya Ibu dan Sehun tidak menderita lagi."
Hening sejenak.
"Kau berpikir kalau aku bisa menang atas Oh Jae Ho?" tanya Jung Ha tiba-tiba. Matanya menerawang‚ lalu kembali pada Luhan yang tidak memberi jawaban‚ melainkan tersenyum padanya.
Mungkin senyuman Luhan bisa dimaksudkan sebagai jawaban iya atas pertanyaannya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Luhan melipat bibir sebelum menjawab‚ "Karena beliau pantas mendapatkannya." jawabnya jelas. Membuat Jung Ha tersenyum lembut padanya‚ mengusap puncak rambut Luhan dengan lembut.
"Kuharap juga begitu." balas Jung Ha berbisik. Jung Ha menurunkan tangannya lalu pamit pada Luhan bahwa ia harus segera berangkat. Luhan mengangguk mengiyakan. Pikirnya‚ Jung Ha pasti tidak sabar mendengar keputusan hakim tentang perceraiannya dengan Jae Ho‚ juga kasus-kasus Jae Ho yang lain.
Yah‚ pria yang menyandang sebagai Ayah biologis dari Oh Sehun itu ditangkap oleh pihak berwajib karena tindakan-tindakan kotornya selama ini yang dilaporkan Sehun. Belum puas juga‚ Jung Ha melayangkan gugatan cerai pada pria tersebut. Entah seberapa sengsaranya Jae Ho sekarang‚ Luhan tidak tahu. Tapi Luhan yakin kalau Sehun pasti merasa apa yang Ayahnya alami saat ini sama sekali belum cukup. Jika Luhan bertanya tentang Oh Jae Ho pada Sehun‚ Sehun langsung menatapnya tajam‚ dan diam tidak menanggapi. Mungkin Sehun marah‚ mungkin juga kecewa karena selama ini‚ Ayahnya benar-benar membuatnya menderita.
Tapi kalau Jung Ha‚ Luhan tidak tahu. Wanita itu terlihat biasa saja jika Xian Yuan atau Xi Yowei bertanya tentang bagaimana Oh Jae Ho akhir-akhir ini. Luhan tidak pernah melihat Jung Ha mengerutkan kening tidak suka atau marah karena seseorang menyebut nama Jae Ho.
Entah Jung Ha masih mencintai Jae Ho atau bagaimana‚ Luhan tidak tahu.
Sementara Soo Hyun‚ lelaki itu terbebas dari tuntutannya karena ia terbukti tidak bersalah. Setahu Luhan‚ Soo Hyun tidak begitu mau ikut campur urusan Jae Ho. Lelaki itu hanya melakukan perintah Jae Ho tanpa ingin menyentuh apa saja yang berhubungan dengan Ayahnya sendiri. Mungkin Soo Hyun sadar bahwa apa yang dimiliki Ayahnya selama ini bukanlah hal yang baik untuknya. Jadi lelaki yang berumur tiga tahun lebih tua dari Sehun itu tidak ingin ikut campur. Setelah dibebaskan‚ Soo Hyun kini membuka bisnis baru bersama keluarganya. Ia memilih untuk merintis usahanya dari awal sampai nanti ia bisa menyaingi Sehun.
Oh‚ soal wanita simpanan Jae Ho yang tentu saja Ibunya Soo Hyun‚ Luhan tidak tahu kabarnya bagaimana. Soo Hyun juga begitu. Setelah tahu kalau Jae Ho ditangkap pihak berwajib dan seluruh uangnya hilang seketika‚ Ibunya Soo Hyun menghilang entah kemana. Soo Hyun masih mencari-cari sampai sekarang. Dan Luhan belum dapat kabar terbaru soal itu dari Soo Hyun.
Oh‚ iya. Sehun akhirnya memaafkan Soo Hyun dan menganggapnya sebagai 'kakak sungguhan' setelah mereka berdua melewati waktu yang sulit. Luhan senang sekali karena akhirnya dua saudara beda Ibu itu akhirnya akur. Setidaknya Soo Hyun masih punya tempat untuk pulang selain rumah karena Ibunya telah pergi entah kemana.
Luhan menatap pintu yang baru saja tertutup dari luar itu‚ lalu menghembuskan napas pelan. Kemudian Luhan memutar tubuh. Di sanalah ia melihat Sehun baru saja keluar dari kamar sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Luhan tersenyum melihat Sehun menenggak air putih tidak jauh dari tempatnya berada. Kemudian Luhan menghampiri Sehun‚ mengambil alih handuk putih tersebut‚ lalu mengeringkan rambut Sehun.
"Kyungsoo dan Jongin sudah menelpon belum?" tanya Sehun setelah menghabiskan segelas air putih dan meletakkan gelasnya pada meja di belakang Luhan.
Luhan menggeleng. Meski matanya masih fokus pada rambut Sehun‚ namun Luhan tetap menjawab‚ "Kupikir mereka sibuk dengan urusan mereka di gedung." kemudian matanya mulai beralih untuk menatap Sehun. "Nanti kita juga kesana 'kan?"
Sehun tersenyum. Tangannya memeluk pinggang Luhan‚ mempersempit jarak diantara keduanya. "Iya‚ nanti." balasnya. Kepala Sehun mendekat untuk memberi Luhan kecupan-kecupan singkat tepat di bibir Luhan. Perempuan itu sampai harus menghentikan gosokannya pada rambut Sehun karena Sehun membuatnya tak bisa menahan diri. Jadi entah pada kecupan ke berapa‚ Luhan menahan kepala Sehun dengan memeluk lehernya dan meninggikan tumit. Sehun tertawa kecil saat Luhan mencoba untuk melumat bibirnya.
Tapi tetap saja Sehun bisa menarik diri. Lelaki itu menatap Luhan yang merengut padanya‚ lalu Sehun menggigit ujung hidung Luhan gemas. "Hati-hati kalau mau menggodaku." katanya.
"Aku tidak menggodamu." sahut Luhan. Matanya mengerling jenaka. "Kau saja yang menggodaku."
Sehun menyipitkan mata‚ mencibir‚ "Alasan." yang membuat Luhan melonggarkan pelukannya pada leher Sehun. "Aku yang menahan diri‚ aku juga yang menggodamu? Oh‚ lucu sekali."
Lantas Luhan tertawa. Tumitnya terangkat lagi sehingga ia bisa mencapai bibir Sehun untuk kembali dikecupnya. "Sabar‚ ya‚ Sayang. Kau harus menunggu tujuh bulan lagi."
Sehun merengut. "Kurasa kurang dari itu juga tidak apa-ap―auch!" oh‚ Luhan berhasil mengahadiahinya sebuah cubitan keras di perut Sehun. Lelaki itu menatap Luhan kesal. "Sakit‚ tahu."
"Aku tahu kalau itu sakit." Luhan menjulurkan lidah. "Aku harus melahirkan dulu‚ Sehun."
Sehun menggerutu. Bibirnya bergerak-gerak kecil dan itu membuat Luhan gemas. Luhan tertawa‚ membuat pipinya yang semakin gembul itu terangkat dan terlihat seperti squishy yang cocok untuk diremas-remas. Sehun harus menahan diri untuk tidak menggigit pipi yang sudah layak disebut bakpao itu.
"Tak terasa aku sudah menikahimu‚ memilikimu‚ dan membuat kita berdua menadi calon orang tua." kata Sehun pelan. Ia menyingkirkan helai poni Luhan dan menyelipkannya di belakang telinga‚ tersenyum.
Yah… Sebenarnya‚ Sehun dan Luhan sudah menikah sekitar setengah tahun yang lalu‚ dan baru dua bulan ini Luhan mengandung benih cinta mereka.
"Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu‚ menjadi direktur sementaramu‚ dan menjagamu dari Kris." lanjut Sehun‚ masih sama pelannya.
Kalimat itu membuat Luhan balas tersenyum. "Aku juga begitu." sahutnya. "Rasanya baru kemarin aku membuka hati padamu dan jatuh cinta padamu."
Sehun masih belum bisa melunturkan senyum ketika ia membalas‚ "Sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"
"Entahlah." Luhan menggidikkan bahu setelah lama ia mengingat-ingat. "Seingatku aku hanya salah tingkah saat kau menatapku‚ lalu tiba-tiba kau jadi pacarku."
Sehun mendesah tidak percaya. "Wah‚ jawabanmu lucu sekali. Semudah itukah kau jatuh cinta denganku?"
Seketika Luhan tergelak. "Tanggapanmu yang lucu." sahut Luhan di sela tawanya. Begitu tawanya mereda‚ Luhan menatap Sehun yang memandangnya mendamba‚ tersenyum‚ dan bertanya‚ "Lalu sejak kapan kau jatuh cinta denganku?"
"Saat aku melihatmu di kafe untuk yang pertama kali." jawab Sehun sesaat setelah Luhan menutup bibirnya dari bertanya. Sehun menjawabnya tanpa ragu‚ seolah apa yang dia jawab selalu ia pikirkan setiap saat dan membuatnya bahagia.
Luhan juga bahagia sebenarnya. Benar-benar bahagia bisa dimiliki oleh Sehun dan mengandung benih cinta mereka selama dua bulan terakhir ini.
"Wah‚ cinta pada pandangan pertama‚ ya?" Luhan terkekeh kemudian. Rasanya geli ketika mengetahui Sehun begitu jujur padanya soal kapan mereka jatuh cinta. Meski Luhan sudah banyak sekali mendengar kalimat gombal dari Sehun‚ Luhan hanya suka dengan jawaban Sehun tadi. Saat Sehun mengaku bahwa ia jatuh cinta pada Luhan hanya karena melihatnya di kafe.
Rasanya seluruh kupu-kupu yang ada di dunia ini terbang di sekitar perutnya‚ menggelitik bagian itu sehingga Luhan kegelian dan merona sendiri.
"Ya‚ kau benar. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama." Sehun membenarkan. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Luhan. Kepala Sehun pun didekatkan dengan kepala Luhan‚ lalu Sehun menggesek-gesek kedua ujung hidung mereka dengan gemas.
Luhan terkekeh kegelian karena gesekan ujung hidung mereka. "Padahal waktu itu‚ kau masih berpacaran dengan Baekhyun." sahutnya kemudian.
Sehun berhenti dari aktivitasnya. Ia memandang Luhan‚ lalu tersenyum tipis. "Aku dan Baekhyun dulu tidak berpacaran‚ asal kau tahu itu." jelasnya. "Kami hanya berteman dekat."
Luhan menaikkan kedua alis tinggi-tinggi. Merasa sedikit kesal karena Sehun baru memberitahunya fakta ini setelah sekian lama mereka bersama.
"Awalnya memang aku menganggap apa yang kupikirkan tentangmu hanyalah angin lalu. Aku hanya penasaran tentangmu yang tiba-tiba saja mengganggu pikiranku. Waktu itu aku percaya hatiku masih untuk Baekhyun. Tapi setelah Baekhyun bilang kalau ia sudah jatuh cinta dengan Chanyeol‚ aku mulai sadar bahwa aku jatuh cinta padamu. Singkatnya begitu."
Luhan memandang Sehun setelahnya. Ia menekan senyumnya‚ lalu benar-benar memberi Sehun senyum lembut ketika lelaki itu menatapnya sembari berkata‚ "Itu masa lalu‚ Luhan. Jangan dibahas lagi‚ ya?"
Sepertinya Sehun enggan membahas hal ini.
"Baekhyun baru melahirkan anak keduanya dengan Chanyeol." kata Luhan kemudian. Ia jadi teringat kabar yang Baekhyun berikan padanya beberapa hari yang lalu.
Sehun menatap Luhan dengan kerutan kening‚ lalu tersenyum kemudian. Ah‚ Sehun lupa kalau Luhan dan Baekhyun akhirnya berbaikan dan mereka saling memberi kabar setelahnya.
Oh‚ sebenarnya Baekhyun sudah bersikap biasa saja dengan Luhan‚ begitu juga sebaliknya. Jadi mereka bisa saling berhubungan meski setelah menikah Baekhyun berada di Jepang bersama Chanyeol.
Perempuan yang sempat tidak suka dengan Luhan itu akhirnya menikah dengan Chanyeol tiga tahun yang lalu di Jepang‚ tepatnya beberapa bulan setelah Luhan melihat Baekhyun keluar dari kafe sembari menangis setelah bertemu dengan Sehun. Anak pertamanya itu lelaki‚ tapi mirip dengan Baekhyun. Manis sekali. Luhan sering mendengar Baekhyun memanggilnya; "Tae‚" dikala perempuan itu menghubunginya lewat video call.
Anak keduanya Baekhyun? Luhan sering mendengar Baekhyun memanggilnya; "Wonnie‚" Dia perempuan. Cantik sekali‚ masih mirip dengan Baekhyun. Tapi matanya lebih mirip ke Chanyeol―Sepertinya lelaki itu kalah gen dengan Baekhyun mengingat kedua anak mereka lebih mirip Baekhyun daripada Chanyeol. Luhan gemas sekali ketika melihat Wonnie mengerjap di depan layar ponsel ketika ia sedang video call dengan Baekhyun.
Mengingat betapa lucunya anak kedua Baekhyun‚ Luhan jadi tidak sabar sendiri untuk menimang bayinya dengan Sehun.
Ugh‚ ya ampun…
"Apa yang kau pikirkan sampai tersenyum-senyum begitu?"
Luhan tersentak kecil. Suara Sehun akhirnya membangunkan Luhan dari lamunan singkatnya. Ia mengerjap‚ menatap Sehun yang menatapnya heran‚ lalu membalasnya dengan senyuman. "Aku hanya tidak sabar menjadi seorang Ibu." jawabnya jujur.
"Benarkah?" Sehun memastikan. Luhan mengangguk mengiyakan. "Kukira kau sedang memikirkan seseorang."
Luhan menaikkan alis. Oh! Dia baru ingat seseorang setelah Sehun berkata demikian. Bayangan lelaki yang dulu pernah menjadi seseorang yang sangat berharga dalam hidup Luhan itu terlintas lagi. Bukannya merasa sakit hati karena bayangan mantan tunangannya‚ Yifan‚ melintas begitu saja dalam benaknya‚ Luhan justru tersenyum. Jujur saja‚ ia merasa lega‚ senang‚ bahagia‚ semuanya bercampur menjadi satu. Bahkan ketika Luhan menyebutkan nama Sehun untuk memanggilnya‚ Luhan tak bisa menyembunyikan suara bahagianya.
"Ada apa?" tanya Sehun kemudian. Ia juga jadi tidak bisa menyembunyikan raut wajah geli karena suara bahagia Luhan dan tingkahnya sekarang ini.
"Nanti sore setelah kita melihat gedungnya‚ temani aku melihat Yifan‚ ya?" pinta Luhan. Sempat ada jeda yang diberikan Sehun dan Luhan menunggu. Sepertinya lelaki itu butuh berpikir. "Aku belum pernah melihatnya lagi setelah aku mengembalikan cincinku waktu itu. Mau‚ ya?"
Melihat senyum Luhan yang merekah ketika meminta dirinya untuk menemani perempuan itu nanti‚ Sehun juga ikut menyematkan senyum kecil. Sehun pikir ia tidak perlu repot-repot cemburu pada Yifan yang jelas sudah meninggal dan pernah menjadi bagian cerita hidup Luhan. Toh Luhan sekarang miliknya‚ Sehun tak perlu mengkhawatirkan hal lain.
Jadi kepalanya menggangguk sebagai respon atas permintaan Luhan. Membuat Luhan memekik senang‚ tertawa kecil‚ dan kembali meninggikan tumit untuk menciumnya. Oh‚ ya Tuhan… Setelah Sehun menahan diri supaya ia terbiasa untuk tidak menyentuh Luhan selama perempuan itu hamil‚ kini justru Luhan lah yang membuatnya ingin berbuat lebih. Tolong ingatkan dirinya supaya bisa menahan diri lagi‚ juga ada janin di dalam rahim Luhan sekarang ini.
Getaran ponsel di saku pun menjadi penginterupsi kegiatan keduanya. Luhan‚ si pemilik ponsel‚ meraih ponselnya yang bergetar untuk melihat siapa yang menelponnya kali ini. Nama Kyungsoo lah yang terpampang di layar ponsel. Jari Luhan hendak menggeser tombol terima ketika tiba-tiba saja Sehun membawa tubuhnya untuk duduk di meja di belakang. Luhan memekik‚ secara refleks bertanya‚ "Astaga‚ kau ini kenapa?"
Sehun menggidikkan bahu sekilas. Ia meraih ponsel Luhan‚ menerima panggilan dari Kyungsoo dan tak lupa mengaktifkan loudspeaker sebelum benda milik Luhan itu ia letakkan di atas meja. Luhan tertawa kecil menyadari apa yang akan dilakukan Sehun setelah ini. Ia jadi merasa gemas pada Sehun yang kini menatapnya mendamba.
"Hei‚ kalian berdua sudah di jalan atau belum? Kenapa kalian lama sekali?" suara Kyungsoo terdengar kemudian.
Sementara Kyungsoo mulai marah-marah tak jelas‚ Sehun asyik mengecupi bibir Luhan tanpa mempedulikan suara perempuan bermata bulat itu.
"Masih di apartemen." jawab Luhan kalem. Ia bisa mendengar suara dengusan Kyungsoo di seberang sana. Luhan tersenyum‚ bukan karena Kyungsoo sebenarnya. Tapi karena Sehun yang terus saja mengecupi bibirnya.
Ya Tuhan… Kalau begini 'kan urusannya bakal jadi panjang.
"Sabar‚ Kyungsoo. Aku ada urusan kecil di sini." lanjut Luhan. Ia cemberut pada Sehun yang tidak memberinya kesempatan untuk berbicara pada Kyungsoo sementara Sehun sendiri terkekeh pelan.
"Oh‚ ternyata ini ulah Sehun‚ ya?" tanya Kyungsoo kesal. Sebab barusan ia mendengar suara kekehan Sehun. "Ya! Oh Sehun! Akan kucincang kau kalau tidak segera melepaskan Luhan!"
Sehun tertawa. "Astaga‚ Kyungsoo. Ancamanmu menyeramkan sekali." sahut Sehun jenaka. Lalu ia dapat mendengar suara tawa Jongin disela-sela omelan Kyungsoo. Suara itu jugalah yang membuat Luhan ikut tertawa.
"Iya‚ Kyungsoo. Bersabarlah. Tidak perlu terburu-buru menikah dengan Jongin." kata Luhan setelah tawanya berhenti.
Kyungsoo mendengus. "Iya‚ Nyonya Oh. Tapi kalian sudah terlambat setengah jam dari janjinya."
"Salahkan Sehun setelah aku sampai di sana." Luhan menjulurkan lidahnya pada Sehun. Lelaki itu berdecak pelan. "Sampai jumpa di gedung!"
Setelah itu Luhan memutus sambungan secara sepihak. Ia tak peduli pada Kyungsoo yang kembali mengomel atau akhirnya mengalah. Sesudah itu Luhan hanya menatap Sehun dengan mata menyipit. Sehun merengut karena mengerti maksud Luhan. Perempuan itu juga kesal padanya.
Oh‚ padahal tadi mau-mau saja diciumi Sehun. Aish…
"Kita berangkat sekarang‚ dan bersiap-siaplah menerima omelan Kyungsoo." ujar Luhan sebelum ia beranjak meninggalkan Sehun yang menelan ludah susah payah.
Matilah kau‚ Oh Sehun.
…
Setelah telinganya dibuat panas karena omelan Kyungsoo‚ akhirnya Sehun bisa merasa baikan karena suasana di sini. Tak ada lagi ilalang di hamparan hijau ini‚ tidak seperti yang Sehun lihat beberapa tahun yang lalu. Hanya ada puluhan nisan yang Sehun lihat‚ serta hembusan angin sepoi. Luhan berjalan di depannya‚ dengan rambut hitam sepunggung yang terurai dan terhempas ringan karena hembusan angin. Sementara tangannya menarik pergelangan tangan Sehun untuk ikut dengannya‚ dan tangannya yang lain membawa sebuket bunga Krisan putih untuk Yifan.
Mereka pun berhenti di depan salah satu nisan. Sehun melihat ada nama Wu Yifan yang terukir di nisan itu. Luhan meletakkan sebuket bunga yang ia bawa di dekat nisan Yifan‚ tersenyum. Sehun dapat melihat senyum manis itu dari ekor matanya.
"Hai‚ Yifan." sapa Luhan. Suaranya terdengar bergetar tapi senyum masih tersemat di bibirnya. "Maaf karena baru datang lagi setelah aku mengembalikan cincinmu."
Hening sejenak. Sehun masih menemani di belakang Luhan.
"Oiya‚" Luhan tiba-tiba bersuara lagi. Kemudian terdengar suara bersitan hidung sebelum Luhan berkata‚ "Aku membawa seseorang yang sangat-sangat-sangat berarti untukku. Dia yang ada untukku selama kau tak ada. Dia juga yang membuatku bisa mengikhlaskanmu‚ menjagaku‚…"
Tak bisa lagi Sehun menahan senyum karena kalimat Luhan yang ia dengar. Sehun menunduk‚ menyembunyikan senyumannya sementara kakinya bermain-main dengan rumput untuk pelampiasan karena ia tidak bisa melompat riang sekarang ini. Meski tadi itu pernyataan sederhana Luhan tentangnya‚ tapi Sehun merasa bahagia sekali. Bagi Luhan‚ dirinya adalah orang yang sangat-sangat-sangat berarti di hidup perempuan itu.
Bukankah itu seperti Luhan mendeklarasikan diri bahwa ia sudah dimiliki orang lain pada mantan tunangannya? Oh‚ Sehun berharap Yifan tidak menghampirinya ke dalam mimpi dan meninjunya habis-habisan setelah ini.
Kemudian Luhan menarik tangan Sehun supaya lelaki itu berdiri di sebelahnya. "Ini‚ namanya Sehun. Dia lelaki yang kumaksud tadi." Luhan memberi jeda sejenak. Ia mendongak menatap Sehun dengan mata berairnya‚ lalu memberi Sehun senyuman manis. "Lelaki ini membuatku sangat-sangat bahagia."
Sehun tersenyum. Haruskah ia mencium Luhan sekarang ini?
"Jangan terlalu jujur. Bagaimana kalau Yifan marah-marah padaku nanti?" kata Sehun jenaka. Luhan terkekeh mendengarnya.
"Tidak akan. Aku sudah bilang pada Yifan kalau aku milikmu. Jadi dia tidak akan marah." balas Luhan. Ia kembali beralih pada nisan Yifan‚ tersenyum kemudian. "Aku pergi‚ Yifan. Senang bisa melihatmu lagi." ujarnya. Ia menarik tangan Sehun supaya mereka bisa segera pergi dari sana.
"Hanya begitu saja?" tanya Sehun. Kepalanya menoleh ke belakang‚ tepatnya ke arah nisan Yifan yang semakin jauh dari pandangannya‚ lalu menoleh pada Luhan di sampingnya. Sehun bingung. "Kupikir kau akan tetap di sana untuk beberapa waktu yang lama."
"Tidak perlu." jawab Luhan serak. Suara bersitan hidung terdengar lagi. Ia yang sedari tadi menunduk akhirnya mendongak. Membuat Sehun dapat melihat mata cantik Luhan yang berkaca-kaca‚ juga senyum baik-baik sajanya perempuan itu.
"Meski aku sudah melepasnya dan sekarang menjadi milikmu‚ aku masih belum bisa berlama-lama melihatnya." jelas Luhan pelan. Ia kembali membersit hidung lagi yang terasa basah‚ kali ini sembari menghentikan langkah. Tubuhnya menghadap Sehun kemudian. "Aku hanya… sedikit… ingat tentangnya."
Sehun terdiam sebentar. "Kau masih merasa menyesal?"
Luhan menggeleng. "Aku hanya merasa sedih. Sebab kami berpisah dengan cara yang menyakitkan." jelasnya pelan. Ia menerawang sebentar. "Tapi sekarang aku sudah bersamamu. Jadi aku merasa baik-baik saja."
Sehun memandangi perempuan yang dimilikinya ini‚ lalu menyematkan senyum. Sehun menghapus cairan di sudut mata Luhan dengan ibu jari‚ mengecup kening Luhan sayang‚ lalu menangkup wajah kecil Luhan dengan kedua tangannya.
"Mau pulang sekarang?"
Luhan mengangguk. Ia bisa melihat senyum Sehun yang membuatnya merasa nyaman. Luhan juga jadi tersenyum setelah itu. Jemarinya tertaut dengan jemari Sehun. Kemudian mereka berjalan bersama. Pulang‚ seperti apa kata Sehun. Karena di sisi mereka sudah ada orang yang mereka sayangi‚ jadi mereka tak perlu merasa cemas ataupun takut. Mereka akan saling menjaga‚ dan berharap bahwa kebahagiaan mereka bisa berlangsung lama. Sampai mereka menua? Semoga saja…
…
Finish!
Hai! Aku balik bawa epilognya YMC II! Semoga suka yaa… Dan semoga nggaada typo(s) hehe
Btw‚ ini epilog terbahagia yang pernah kubuat ((ngakak)). Sebelumnya juga ngga kayak gini. Chapter ini malah lebih mirip ke Bonus Chapter. Tapi aku lebih suka nyebutnya Epilog karena cerita di sini menyelesaikan semua hal yang belum kusampaikan di chapter terakhir kemaren.
Jadi si HunHan bahagia deh! Aku buatnya berharap kalian ngga nangis terharu trus ngabisin sekotak tisu dan berhenti nangis besoknya setelah baca epilognya. Haha. Aku kok malah jadi khawatir. :((
Trus niatku kemaren itu bikin fanfiksi ini bukan untuk memperbaiki YMC versi lama loya. Aku hanya membuat cerita baru‚ dengan genre baru‚ konflik yang baru‚ serta hal-hal yang baru. Jadi di YMC versi lama dan YMC II ini so pasti ada banyak perbedaannya. Plus‚ aku ngga niat bikin kalian nangis kejer baca fanfiksi ini. Aku ngga milih genre angst sebagai salah satu pondasi di fanfiksi ini. Semoga kalian ngerti lah ya. :)))
Udah‚ ah. Btw‚ thanks ya buat yang kemaren review. Buat yang baca juga‚ makasih. Meski kebanyakan dari kalian sider‚ aku tetep sayang kalian‚ hehe.
See you on next story! ((lambai cantik))
