Black Clover © Tabata Yuuki
Story © Panda Dayo
Alternate Universe.

No commercial profit taken.


Asta's side


Bias cahaya senja masih terasa hangat. Jalanan terlihat ramai. Lampu kota mulai menyala, menyambut datangnya malam. Asta sedang memandang ke arah sungai, terkena embusan angin yang sedikit kencang. Rambut abunya tersibak pelan, di telinganya terpasang earphone. Mendengarkan sebuah lagu yang belakangan populer.

Merasa sudah cukup, ia memutuskan untuk pulang. Menyusuri trotoar ketika matahari sepenuhnya terbenam. Earphone ia lepas satu agar bisa sedikit fokus pada jalanan. Lantas ia terhenti di depan toko CD yang selalu ia lewati.

Tatapannya berubah sendu, namun ia kembali meneruskan langkah. Di kaca toko tertempel poster penyanyi yang sedang naik daun. Ada banyak dari mereka, tapi Asta tidak peduli. Prioritasnya saat ini adalah pulang sebelum gelap kembali merajai.

Hawa dingin membuat Asta sedikit menggigil, ia lupa ini hampir musim gugur dan tidak membawa syal. Sialnya, ia tertahan di keramaian. Orang-orang begitu banyak hari ini. Ketika lampu untuk pejalan kaki menjadi hijau, Asta menatap papan reklame di seberang.

Dingin sekali. Sedikit menunduk, Asta mendapati bahwa tangannya mulai gemetaran.

Sesampainya di rumah, Asta langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri. Persetan dengan makan malam, ia tidak butuh. Earphone serta MP3 Player di saku dikeluarkan, lantas ia duduk dan menyalakan televisi dengan remote yang terletak di meja nakas.

Di mana-mana hanya ada berita tentang Yuno Grinbellior, penyanyi yang terkenal akhir-akhir ini. Kabarnya ia akan kembali merilis album barunya. Asta memandang lama pada wajah di layar kaca, memeluk lutut.

Yuno terlihat manis ketika diwawancara. Ia duduk tenang sembari memberi senyuman tipis kepada pemirsa. Asta menjambak rambut secara tak sengaja, tampak frustrasi.

Asta mengenalnya.

Yuno adalah teman semasa sekolahnya—tapi Asta tidak yakin apa ia harus memanggilnya teman. Mereka pernah punya hubungan spesial. Tapi sekarang ini, apa status mereka? Hanya orang yang saling tahu nama semata?

Alasan mereka berpisah karena Yuno ingin mengejar mimpinya sebagai penyanyi. Ia bilang itu adalah cita-citanya sejak lama. Asta mendukung saja, membiarkan Yuno melakukan apa yang ia mau. Lagipula tidak ada salahnya.

Asta tidak tahu kenapa Yuno meminta putus waktu itu—menyakitkan sekali. Asta terus bertanya, tapi Yuno enggan menjawab secara jujur. Ia bilang karena ingin fokus meneruskan karir, tapi Asta tahu bukan itu alasan Yuno sebenarnya. Ia tidak tahu apa yang disembunyikan lelaki itu.

Sudah dua tahun mereka putus kontak. Nomor Asta diblokir. Apa salahnya sampai Yuno tidak mau lagi berkomunikasi dengannya? Asta tidak keberatan kalau alasan Yuno masuk akal. Tapi ia tak pernah mendapat penjelasan. Asta bahkan lebih terima kalau Yuno mengatakan ia sudah bosan padanya.

Sampai hari ini, ia tak mendapat jawaban.

"Lagu terbaru Anda menceritakan tentang sepasang kekasih yang bertengkar, ya? Saya tidak sabar menantikannya."

"Ah, saya sangat berterima kasih. Senang sekali mendengarnya."

Apa yang sedang dipikirkan Yuno sekarang? Di mana ia tinggal? Kenapa ia menjauhinya? Asta menutup wajah, merasa bodoh. Mungkin saja Yuno sudah tidak punya perasaan lagi kepadanya, namun tak bisa berkata gamblang seperti itu. Ia bisa mengerti, sangat memahami. Tapi ... tetap saja ...

Ia tidak ingin melepaskan Yuno.

Hari-hari tanpa Yuno terasa tidak lagi menarik. Terus terepetisi tanpa henti. Membuatnya merasa sedih lagi dan lagi. Kapan semua ini akan berakhir? Asta tidak tahu bahwa bisa bertahan saja sangat menyulitkan. Dua tahun dilalui dengan kehampaan. Penghibur satu-satunya hanyalah dari lagu yang dinyanyikan mantan kekasihnya.

Asta mematikan televisi, berniat untuk segera tidur. Walau tak ingin menghadapi esok.

Karena ia pasti akan sendirian lagi.