Cerita ini dibuat dengan character di buku seri Harry Potter karya J.K Rowling. Selamat membaca dan terimakasih bagi yang telah meluangkan waktu untuk membaca karya saya..
4. Between right and wrong
Rose bergegas merapikan peralatan ramuannya begitu pelajaran berakhir. Dia ingin cepat cepat ke kantor kepala sekolah dan mendapatkan jawaban dari profesor Mcgonagall mengenai permintaan nya tempo hari. Oh. Juga janjinya dengan Lily setelah ini.
"Hai Rose". Albus menepuk keplanya pelan. Sekelas dengan Slytherin memang tak menyenangkan, tapi Albus, itu lain soal.
"Hai." balas nya singkat sambil menggulung beberapa perkamennya.
"Kau buru buru?"
"Yap." Memastikan semua barangnya sudah masuk tas, Rose memanggul tasnya, mengikat rambutnya cepat, dan memperbaiki sedikit seragam nya, baru menghadap Al.
"Aku duluan. Later." Rose berniat pergi tapi Al masih menahannya.
"Kau mau kemana?" tanya Al. Serius dia penasaran melihat Rose yang grasak-grusuk seperti itu.
"Ke ruang kepala sekolah." jawaban yang sangat tidak memuaskan. Rose tau Al menuntut penjelasan lebih. Tapi dia benar-benar harus segera pergi. "Aku akan memberitahu mu nanti. Datang saja ke ruang rekreasi Gryfindoor setelah makan malam. Oke." putus Rose.
Lagi-lagi Scorpius tanpa sadar memperhatikan semua itu dari awal sampai akhir. Dan sialnya rasa penasarannya cukup tergelitik melihat Rose Weasley terburu-buru. Tapi jangan harap dia akan mencari tahu lebih lanjut. Tidak! Rose Wesley bukan hal penting. Persetan dengan Rose Weasley. Scorpius mencoba mensugestikan kata2 itu pada dirinya sendiri. Pride huh?!
Tiba di depan pintu ruang kepala sekolah Rose membisikan kata. "Butterbear." Seketika pintu batu bergeser.
"Permisi Profesor.." ucap Rose sambil berjalan masuk?
"Miss Weasley?" Terdengar suara Mcgonagall bergaung.
"Ya Profesor."
"Come in. Miss Weasley."
Tampak Profesor Mcgonagall tengah membaca suatu berkas. Ketika Rose sampai di depannya, dia menaruh berkas itu dan mempersilahkan Rose duduk.
"Mengenai permintaan mu untuk 'magang' di hospital wings.." Mcgonagall memulai. Rose tampak antusias mendengar lanjutan kalimat kepala sekolah nya.
"Apa kau sudah membicarakan dengan orang tuamu?"
"Ya Profesor." jawab Rose. "Mereka mengizinkan selama itu tidak mengganggu studi saya."
"Well. Fine. Dan apa itu tidak mengganggu studi mu?"
"Sure. Belajar adalah naluri saya profesor." Rose menjawab dengan sedikit candaan.
Itu membuat profesor Mcgonagall agak terkekeh. "Yeah. I admit it girl."
Sedikit berdehem Mcgonagall kembali ke nada seriusnya. "Masalahnya, tahun ini aku ingin kau masuk sebagai anggota prefek, sebenarnya?"
Mcgonagall berhenti sejenak untuk melihat reaksi Rose. Sesuai dugaannya. Rose nampak terkejut.
Ada dua alasan di balik keterkejutan itu. Pertama, ini baru tahun kelimanya , dan prefek umumnya di isi anak tahun ke 6 dan 7.
Kedua, setelah Rose sadar bahwa minatnya pada dunia healing sangat besar, dia sama sekali lupa bahwa jabatan prefek dan ketua murid di akhir tahunnya ada dalam perencanaan hidupnya. Bukannya sombong tapi Rose percaya diri dia punya kualifikasi untuk itu. Dan sekarang dia dalam dilema.
"Ms Weasley aku tau kau terkejut, tapi ya itu benar. Dewan guru sepakat, menambah jumlah personel prefek, dinilai akan sangat membantu beban kerja Prefek dan efektif mengurangi jumlah pelanggaran murid. Selain itu bulan April nanti lagi kita akan mengadakan pesta peringatan kemenangan melawan pengeran kegelapan sekaligus mengenang pahlawan perang. Berkaca pengalaman yang lalu anggota prefek cukup kewalahan mengorganisir acara itu." jelas Mcgonagall panjang lebar.
Rose masih belum bisa memberikan reaksi atau komentar. Sampai Mcgonagall kembali menegurnya.
"Jadi bagaimana menurut mu Ms. Weasley? "
"Y-ya profesor. Sa.. saya.." Rose benar benar bingung. Jadwalnya akan sangat mengerikan kalau dia harus magang di hospital, ambil bagian di prefek, dan juga mengikuti semua pelajaran. Memang ada pelajaran pelajaran pilihan yang tidak harus diambil semua. Tapi naluri belajarnya akan meraung raung untuk setiap ilmu pengetahuan. Well kalaupun ada pelajaran yang tidak akan dia ambil itu adalah Ramalan.
Mcgonagall yang tau Rose kebingungan mencoba memberi pilihan. "Ms. Wesley, kau adalah murid yang sangat potensial di Hogwarts. Kau mungkin ingin melakukan semua sekaligus, tapi percayalah semua orang punya batasan. Termasuk dirimu. Akan lebih bijak mendalami satu bidang dengan sungguh-sungguh dari pada beberapa bidang dengan atensi yang terbagi- bagi."
"Jika kau ingin dengar opini pribadi ku, aku ingin kau memilih prefek. Dan bila nanti kau punya sertifikasi sebagai ketua murid, peluang bekerja di kementerian akan lebih besar. Mencoba belajar kepemimpinan akan sangat membantu di kehidupan sosialmu nanti. Tapi jika kau positif ingin menjadi seorang healer maka aku akan memberi ijin magang di hospital wings."
Rose merenungkan saran Mcgonagall. Tapi dia tidak bisa memutuskan itu sekarang juga. Dia masih belum tau seberapa besar tekadnya untuk menjadi healer. Rose takut jika perasaan meluap saat itu hanya bentuk euforia semata yang bersifat sesaat. Hal itu akan membuatnya gegabah mengambil keputusan.
"Profesor. Bisakah anda memberi saya sedikit waktu untuk berfikir dan berkonsultasi ulang dengan orang tua saya?"
"Tentu Ms Weasley. Kau punya waktu seminggu untuk berfikir. Berfikir lah dengan tenang dan rasional." pesan Mcgonagall.
"Ya profesor. Permisi."
Dengan pikiran yang masih kemana mana, Rose kembali menelusuri koridor. Saat sadar dia sudah ada taman luar sambil menggigiti jempol nya. 'Apa yang harus kulakukan?' Mendadak Rose terserang ragu akan pilihannya. Apa healer benar benar pilihan akhirnya?! Tidakah ia naif dengan memutuskan hal ini terlalu dini? Bagaimana jika ternyata kemudian ia mengalami titik jenuh dan perasaan meluap nya saat ini hanya euforia semata.? Bagaimana jika kemudian ia menemukan hal lain yang lebih ia sukai.?
Arrrggh. Rose mencengkeram kepalanya. Ini tidak bisa ia putuskan sendiri. Sambil mengepalkan tangan di udara Rose memutuskan untuk kembali berunding dengan orang tua nya dan mungkin beberapa saudara nya. Berniat ke aula besar, atensinya tersita oleh kerumunan di dekat danau. Penasaran, Rose melangkah mendekat mencari tau apa yang tengah mereka kerumuni.
Menyelipkan diri agar bisa sampai di depan Rose berteriak "Permisi... Permisi..". Begitu melihat objek dari kerumunan ini, dia merasa jantungnya seketika turun ke lambung. Scorpius Malfoy tengah mengayunkan tongkat sihir pada sepupu tersayangnya Lily Potter. Di tambah kondisi Lily yang tambak kacau. Sekujur tubuhnya basah dan menggigil kedinginan.
Rose yang hanya punya pikiran buruk akan Scorpius, spontan menyeruak antara Lily dan si junior Malfoy. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari akal sehatnya dan kini tongkat sihir nya sudah menempel erat pada kerongkongan Scorpius.
"Beraninya kau! Apa yang kau lakukan pada sepupu ku BRENGSEK?!"
Semua tersentak atas spontanitas Rose Weasley, tak terkecuali Scorpius dan juga Lily Potter. Namun nampaknya malah Scorpius yang lebih dulu menyadari perubahan situasi di banding lainnya. Mengambil jarak selangkah ke belakang untuk memberi jarak kerongkongannya dengan tongkat sihir Rose. Ekspresi kagetnya kini berubah sekalem sebelumnya. Ups.. bukan. Tapi lebih tenang sampai muncul seringai di wajahnya, seolah menantang Rose untuk segera melontarkan mantra apapun yang ada di kepala cewek bar-bar itu.
Ohh.. Rose benci sekali wajah menyeringai itu. Tanpa ragu Rose merapalkan mantranya.
"Depul-"
"Rose! Stop!" secara mengejutkan Lily berdiri disamping menahan tangannya. Suara 'syuhhh' dengan percikan kecil di tongkat pertanda mantranya tidak selesai. Rose menantap Lily tak habis pikir. What the hell Lils...?
"Kau salah paham. Scorpius hanya menyelamatkan ku saat jatuh ke danau dan dia hendak mengeringkan tubuhku." Lily berkata dengan gigi bergemeretak menahan dingin.
Begitukah?..~Heh~ What?! Rose mendadak ragu dengan pendengaran nya. Sorry?! Scorpius? Scorpius yang sangat ingin Rose tenggelamkan kepala pirangnya itu? Membantu?! Lily Potter?! Omong kosong jenis apa ini?
Tapi mata besar Lily menyiratkan kalau dia sungguh sungguh.
Menelan ludah yang terasa seperti biji salak, perlahan Rose mengembalikan atensinya pada makhluk pirang yang batal dia kutuk.
Shit! Apa Rose pernah bilang dia benci wajah menyeringai kepala pirang ini? Biar dia tegaskan sekali lagi. Saat ini Rose sangat amat ingin melempar kotoran troll ke wajah itu. Demi jenggot Dumbledore, biarpun penyihir juga tempat salah dan khilaf, kesalahan seperti ini adalah hal terakhir yang ia harapkan jika dia harus membuat kesalahan.
"Permisi."
"Minggir-minggir"
"Beri jalan please"
"Lils, Lily..."
Untuk kedua kalinya kerumunan tersibak memberi jalan pada gerombolan Potter dan Weasley yang tiba. Mereka mengerubungi Rose dan Lily sambil berisik bertanya, 'Apa yang terjadi'? Rose berterima kasih mereka datang di waktu yang tepat. Sementara dia bisa menyelamatkan mukanya dan segera membawa Lily keruang perawatan.
Sebelum benar-benar meninggalkan area danau, Rose memberanikan diri menengok ke belakang. Sialnya, itu sebuah kesalahan. Karna ternyata Scorpius juga tengah menatap kearahnya. Untuk beberapa mereka bersaing untuk tidak lebih dulu menurunkan pandangan, sampai Scorpius mengangkat telapak tangannya sambil melempar wink yang menurut para hawa Hogwarts 'uh sexy'. Tapi 'uh shit' bagi Rose. Damn you MAlFOY.
Ternyata kondisi Lily lebih parah dari yang mereka duga. Man... tak ada yang lebih buruk tercebur ke danau di bulan Januari. Karna itu dia butuh berada di hospital Wings beberapa waktu. James membawa masalah ini ke kepala sekolah dan mencari penanggung jawab atas insiden Lily.
Elaine Higgins teman satu angkatan Lily yang menyaksikan insiden itu, menceritakan kronologi jatuhnya Lily ke danau pada Potters dan Weasleis.
Garis besarnya, Lily di jahili oleh beberapa kakak tingkatnya. Well, tentu saja mungkin awalnya, mereka tidak berniat membuat Lily jatuh ke danau. Tapi begitu insiden tak sengaja itu terjadi, mereka malah lari meninggalkan Lily. Elaine yang panik hanya bisa berteriak meminta tolong.
Dan -sialnya- well.. untungnya, Scorpius Malfoy yang ada di TKP, dengan baik hatinya menolong Lily.
Dengan sangat enggan Rose mengulang kembali cerita Higgins di kepalanya. Merlin... Dari semua orang, -tidak -, dari semua makhluk kenapa harus mahkluk pirang ituuuu?!
Duk...duk..duk.. 'shit.. shit' Rose membenturkan kepalanya ke dinding luar hospital wings. Sumpah deh, bikin frustasi. Bagaimana dia harus berhadapan dengan Malfoy nanti?!
1. Cuek bebek dan bersikap pura2 hal itu tak pernah terjadi?
~ No..no..no.. Malfoy dengan track record nya selama ini, pasti akan menjadikan hal ini bahan 'nyinyiran untuk berminggu-minggu kedepan. Lagi pula bersikap munafik dan pengecut seperti itu tidak ada dalam gennya. Untuk pertama kali, Rose sedikit berharap dia punya sedikit jiwa Slytherin.
What? Gila.. gila.. gila.. tempo Rose menjedukan kepalanya jadi naik 1/4 ketukan. Slytherin your ass!
2. Bilang maaf dan terimakasih?!
~Normalnya itu memang satu-satunya hal yang harus dia lakukan. Nurani- nya juga berkehendak demikian. Dengan catatan jika objeknya bukan mahkluk pirang yang masih sangat ingin dia tenggelamkan. Rose ngga akan repot berfikir 2 kali kalau itu orang lain. Tapi ini...?! Dua kali, 'Demi Merlin', minta maaf ke Kalajengking pirang itu, sama saja membuang separuh harga dirinya. Okee, berlebihan memang. Hanya saja, percaya deh berurusan dengan Scorpius Malfoy tidak pernah ada hal baik yang terjadi.
Argghhh... Rose makin mengerang frustasi dan menjadi2 menjedotkan kepalanya.
Tap! Sebuah tangan yang besar dan hangat menahan kepala Rose menganiaya tembok tak bersalah.
"Kau ngapain sih? Mau bikin kepalamu benjol?" Albus kini sudah menjulang di depannya.
"Hei Al." tanpa menghiraukan pertanyaan Albus, Rose berbalik lesu sambil mengusap dahinya yang mulai terasa nyeri.
"Bukan 'hei', bodoh! Aku tanya kenapa kau menjedotkan kepala mu di situ? Kau oke?" tuntut Albus.
Mengangkat bahu lemah dan helaan nafas berat, Rose menyenderkan tubuhnya, "Apa aku terlihat 'oke'?"
Albus ikut ikut menghela nafas. Yah.. setelah apa yang mereka dengar bersama tadi, sedikit banyak Albus cukup tau hal yang sedang di risaukan sepupunya ini. Itupun kalau pemikiran nya benar.
"Rose, kau takut Scorpius tambah mengganggu mu karna kau salah menuduhnya tadi?"
Ctik! Hah? Rose menyipitkan mata. Tak paham kok bisa-bisanya Albus berfikir dia takut, sama MALFOY?!
Melipat tangan di dada dan menegakkan punggung, Rose nyolot. "Kau ngigau ya? Kenapa aku harus takut sama teman pirangmu?"
"Eh? Bukan ya?" Albus cengar cengir sambil menggaruk kepalanya. Tak ambil pusing sikap Rose yang mendadak ketus.
"Bukan!" tegas Rose.
"Jadi bukan karna Malfoy kau galau gulana, sampai tembok itu jadi sasaran?" Ugh. Cara ngomong Albus yang innocent itu tambah bikin Rose naik darah.
Rose meniupkan angin kesal ke atas rambut nya. "Iya! Memang soal dia, tapi bukan karna alasan konyol seperti takut atau apapun itu." sewot Rose sambil memberengut.
"And so..?" Albus menopang kan tanganya sebelah di samping Rose.
"God... Albus! Pura pura bego ya? Temen pirangmu itu pasti makin punya bahan untuk terus mencari masalah denganku, karna masalah tadi. Dan bukannya takut, aku hanya malas harus meladeninya. Tapi aku pasti tidak tahan kalau tidak membalasnya. Memikirkan hal itu bikin kepalaku sakit" Rose menggeram kesal.
Mengganti posisi dengan menumpu sisi tubuhnya ke tembok sambil bersedekap, Albus mengangkat sedikit bahunya , "Yaa... kalau itu, masalahnya memang kau yang salah paham, Rose."
Rose memutar mata kesal. Albus itu bukanya bantu mikir malah cuma bikin Rose makin naik darah.
"Bela saja terus temen kalajengking mu itu!" semprot Rose senewen. Ya ampun Albus. Rose bukannya ngga tau kalau dirinya salah. Dia cuma ingin di saat seperti ini Albus membela nya. Malas berdebat lebih lanjut Rose memilih meninggalkan tempat setelah dengan sangat sengaja menubruk bahu Albus.
"Rose.. hei, tunggu.."
Bodo amat. Rose sama sekali tak menggubris panggilan Albus. Saat ini Albus bukan tempat yang cocok buat jadi tempat curhat.
Aula besar esok harinya.
Scorpius dengan wajah setengah kesal untuk sekian kalinya menolak Queen Zabini yang berusaha menyuapkan potongan ayam ke mulutnya.
"Seriously, Queen! Biarkan aku makan dengan tenang. Kau bisa makan sendiri daging mu."
"Kenapa sih~? Ini kan bentuk perhatian ku Scorpiee." rengekan Zabini benar-benar hal buruk untuk mengawali hari.
Kalau mau jujur Scorpius sebenarnya sudah sangat senewen dengan tingkah Queen yang suka bergelayut dan mengekornya kemana mana. Well bukannya benci. Biar bagaimanapun Queen adalah temannya dari kecil. Dan, sebagai rasa hormat pada kedua teman orangtuanya, Scorpius tidak bisa begitu saja bersikap tak acuh pada Queen.
Scorpius agak lega saat Queen berhenti menyorongkan apapun ke depan wajahnya dan kini sibuk bergosip dengan Katy Greenhill. Sendirinya, menyuapkan potongan ayam. Di tengah kunyahanya, Scorpius merasakan tepukan di pundaknya.
"Yo.. man." Albus dengan seragam tak rapinya baru saja mengisi tempat di sebelahnya. Scorpius membalas sapaannya dengan mengangkat sebelah tangan.
"Ah laparnya." Tangan Albus cekatan mengambil berbagai menu dan menumpuk nya di dalam satu piring. Scorpius meringis melihat piring Albus yang langsung penuh dalam sekejap.
"Kau kayak gembel yang gak makan tiga hari deh Al." komen Scorpius tanpa tedeng aling. Albus menoleh dengan pipi penuh.
Yacks.. Scorpius pasti akan langsung di cermahi neneknya panjang lebar jika etika makannya seperti Albus sekarang.
"Khau thak bherhak protes kharna inhi huga salah mhu!" sungut Albus dengan makanan yang belum di telan.
"Telan makananmu baru bicara, bodoh!" Scorpius menggeplak kepala Albus. Bener bener butuh kursus tata krama nih anak. Albus menurut,dan meminum jus labu untuk membantu mendorong makannya lebih cepat turun dari kerongkongan.
"Kalau saja kau mau kasih liat tugas arithmancy mu, energiku ga bakal terkuras pagi-pagi begini."
Scorpius menaikan sebelah alisnya. "Ngapain ribet sendiri? Biasanya kau juga dapet contekan sama sepupu jenius mu itu." balas Scorpius terkesan abai. Tepatnya Scorpius berusaha membuat gestur cuek saat menyinggung Si Jenius Rose Wesley.
...
Tak ada respon dari Albus, Scorpius menoleh dan melihat air muka sohibnya meredup.
"Bertengkar huh?" masih dengan nada tak acuhnya. Walau dalam hati dia cukup penasaran juga.
"Well.. yeaah.." Albus mengangkat sebelah bahunya.
Scorpius berhenti mengunyah dan mencengkeram pisau garpu nya erat. Pride sialanya mendengungkan alarm peringatan, agar tidak mengorek lebih lanjut apapun soal cewek merah nerd itu. Who the hell she is?? Kalau pun ia harus mendengar soal cewek itu, Scorpius ingin bukan dirinya yang harus memulai.
Menghela nafas pelan, Slytherin muda itu memutuskan untuk tidak melanjutkan topik ini. Albus juga kelihatan sedang tidak ingin hal ini di bicarakan.
Lain lagi di meja Gryfindoor. Rose sama sekali tidak bisa menikmati makan paginya dengan baik. Bahkan pie berry kesukaannya tak mampu menarik nafsu makannya keluar.
Kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Kabar baiknya Lily baik baik saja dan bahkan sekarang tengah menikmati makanannya dengan cerah ceria. Kabar buruknya, Lily memaksanya menemani bertemu Malfoy karna dia ingin berterimakasih. Dan dengan pure-innocent nya dia juga meminta Rose untuk minta maaf pasal salah paham kemarin.
Ugh! Rose sebenarnya masih belum siap ketemu Malfoy secepat ini. Tapi, dia juga tidak bisa menunjukkan sikap tak bertanggung jawab dan pengecut pada Lily. Dia ingin jadi contoh yang baik, terutama bagi Lily.
Saudara mereka yang lain mungkin menganggap Rose cewek bossy. Bukannya mereka tidak akrab. Hanya kadang sifat Rose yang suka mengatur dan terlalu kaku itu menyebalkan menurut mereka. Tapi Lily berbeda. Baginya Rose adalah role model nya. Rose bisa lebih diandalkan di banding kedua kakaknya. Dan Lily lebih bisa bergantung pada Rose dari pada dengan saudaranya yang lain. Pun sebaliknya, Rose sangat senang jika ada yang mengandalkan nya. Semacam simbiosis mutualisme kan?!
"Rose?" Albus lumayan terkejut saat melihat Rose menghampirinya di akhir kelas mantra.
"Malfoy." Ups ternyata bukan dia yang di tuju. Scorpius berhenti menggulung perkamen saat sebuah suara memanggilnya. Melirik sesaat ke arah Albus yang dengan sangat sengaja di abaikan sepupunya.
"Whoa.. kupikir aku punya masalah pendengaran. What a surprise, Weasley." Scorpius menampilkan seringai khasnya.
Rose menahan diri tidak memutar mata dan berusaha bicara tanpa terlihat gelisah. Yang sebenarnya sangat dia tahan. Juga menahan diri untuk tidak melihat Albus saat ini. Bagaimana pun ia belum bisa bersikap biasa pada Albus.
"Ehm. Mmm... Bisa bicara sebentar? ... hanya kalau kau ada waktu." buru buru Rose menambahkan.
Baru kali ini Rose berharap Malfoy mengeluarkan sikap arogan dan menolak ajakannya.
"Hell NO! Wessel! Scorpius ngga bakal sudi menghabiskan waktu berharga nya untukmu! Right, honey?" Suara menyebalkan Quinn menginterupsi tanpa permisi. Oh oke. Kali ini Rose tidak bisa lagi untuk tidak memutar matanya. Baru saja Rose berniat membalas, tapi lidahnya tertahan menyadari sesuatu.
Beneran ngga nyangka tiba waktunya untuk berterima kasih pada Quinn Zabini si cewek paling menyebalkan sepanjang hidup nya. Walau cuma dalam hati.
Menegakkan punggung tanpa basa-basi lagi Rose berucap, "Well, kurasa begitu. Baiklah! Bye!" Memutar tubuh cepat, Rose berniat segera meninggalkan kelas mantra.
"Weasley." Suara Scorpius mengentikan langkahnya untuk segera kabur.
"...hm?"
"Aku punya waktu." ucap Scorpius ringan sambil memasukkan barangnya ke dalam tas. Tak peduli reaksi orang-orang sekitar termasuk Albus dan Quinn, Malfoy memanggul tasnya.
Rose masih kaku di tempat walau Malfoy sudah hampir tiba di depannya.
"Scorpiiiee...!" Lengkingan Quinn menghentikan langkah Scorpius dan juga bisik2 sekelilingnya. Berderap, Quinn dengan cepat tiba di depan Scorpius dan merenggut jubahnya kasar.
"Kenapa?! Kenapa kau harus bicara padanya?" Lirikan super tajam Quinn membuat Rose menggenggam buku di dekapanya lebih erat. "Apa kau harus merendahkan diri hingga mau menuruti cewe ga penting ini?!" cerca Quinn bertubi tubi.
Scorpius mengusap sebelah kupingnya yang berdenging. Menghela nafas berat, di genggamnya tangan Quinn dan melepasnya perlahan.
"Ini urusanku. Oke?" ucap Scorpius sambil menepuk kepala Quinn.
"Ngga oke!" Quinn menyentak tangan Scorpius di atas kepalanya.
"Jangan pergi! Kau ngga boleh pergi Scorpiiiee! Nggak nggak ng..."
Haah~. Sekali lagi Scorpius menghela nafas. Ini bakal lama jadinya. Tanpa pikir panjang lagi Scorpius menangkup wajah Quinn dan mendaratkan kecupan kecil di bibir Quinn. Seperti dugaan Quinn berhenti berkicau dan membatu. Seketika semua hening, Rose pun sedikit terbelalak dan dengan cepat memalingkan wajahnya. Tindakan wajar sebenarnya jika yang melakukannya adalah Scorpius sang cassanova. Tapi entah kenapa Rose agak kurang nyaman melihatnya.
"Aku segera kembali, oke?" Quinn yang di tanya dalam keadaan setengah trans hanya mengangguk.
"Weasley." panggil Scorpius saat Rose masih melihat ke arah lain.
"Hem?" Dengan canggung Rose melihat Scorpius yang sudah di sampingnya. Scorpius memberikan isyarat leher 'ayo' dan Rose dengan tergagap mengikuti.
Suasana sangat tidak nyaman saat kedua lawan jenis yang selalu beradu mulut dan mantra itu berjalan berdekatan dalam hening.
"Jadi kau hanya ingin berjalan terus seperti ini dengan ku?" Scorpius memilih buka suara saat mereka bahkan sudah melewati dua koridor. Rose yang kurang fokus tersentak mendengar suara Scorpius. Dan berkat itu dia sadar kalau tempat tujuannya sudah hampir di depan mata.
"Malfoy, kau tunggu di sini sebentar."
"Tsk. Aku tidak menerima perintah Weasley. Terutama darimu." tolak Scorpius arogan.
Ugh. Tahan Rose, tahan. Kali ini kau yang punya kepentingan, batin Rose jengkel.
Memaksa kan diri sedikit tersenyum Rose berkata dengan mengeratkan gigi. "Tolong, tunggu sebentar Mr. Malfoy .Jr."
Sebelum Scorpius kembali bersuara Rose dengan cepat menghentakkan kakinya kedalam salah satu kelas. Tak lama kemudian dia kembali keluar dan berjalan kearah Malfoy. Keduanya kembali berhadapan. Satu dua detik yang terasa lama berlalu tanpa ada yang berbicara.
Scorpius menghela nafas kesal. Jujur dia tidak dalam mood untuk dipermainkan atau mempermainkan Rose Weasley saat ini. Alasannya ikut dengan Rose adalah... Adalah-?
Oh lupakan! Dia sendiri tidak tahu kenapa dia mau maunya ikut cewek ini. Mungkin akibat kebiasaannya membalikan apapun perkataan atau perbuatan Rose. Saat cewek Weasley itu terlihat lega karna tidak jadi bicara dengannya, Scorpius spontan mengatakan hal yang menghilangkan rasa kelegaan di wajah itu. - Atau setidaknya itulah yang dia pikirkan.
"Ayolah Lils." Rose menarik keluar sesosok dari belakang tubuhnya. Membuat Scorpius menelan kembali kata-kata yang tadinya sudah di ujung lidah.
Lily Potter tampak tercengang saat tubuhnya tereskpos. Mata besarnya membulat saat Scorpius Malfoy menjulang dihadapannya. Gadis itu terlihat sangat salah tingkah dan buru buru kembali ke belakang punggung Rose. Sebelum Rose sempat protes, Lily menyembulkan kepalanya.
"Mal..Malfoy..."lirihnya. Lily memandang takut takut. Yang di pandang hanya menaikkan sebelah alis. "...emmm... kemarin terimakasih sudah menyelamatkan ku."
Mengangkat bahu, "...yeah, its not big deal" jawab Scorpius. Wow. Rose lumayan terpaku dengan ke-humble-an Slytherin pirang ini.
Malfoy menatap Lily sebentar kemudian ke Rose. "Jadi ini keperluanmu?" Rose mengangguk. Scorpius sempat mendengus pelan dan kembali menatap Lily yang meremas gelisah jubah Rose.
"Well. Kalau hanya ini aku akan pergi sekarang. " Scorpius tak memerlukan jawaban atau tanggapan, langsung berbalik pergi. Di langkah ketiga suara Lily kembali menahannya.
"Tunggu!" Dengan segenap keberanian yang di paksakan Lily kini berhasil berdiri di depan Scorpius langsung. Menggerakan tangannya pelan dari balik punggung. Sampai sampai Scorpius merasa mereka sudah melewatkan satu jam hanya untuk menunggu tangan mungil itu mengulurkan sesuatu padanya. Sekotak coklat.
"I..ini. Seb..agai ucapanterimakasihku." ucap Lily kacau. Jelas sekali Lily gugup. Tanganya bahkan sampai gemetaran dan berkeringat, berharap Scorpius segera menyambutnya. Scorpius mengerling sekilas pada Rose yang hanya diam terpaku, lalu ke wajah Lily yang menunduk.
Tak ingin lebih banyak membuang waktu lagi, segera diambilnya kotak coklat itu. "Thanks". Ucapnya singkat. Sontak Lily mendongak kearah Scorpius. Wajahnya terlihat sangat senang karna Scorpius menerima coklat nya.
"Bye." Scorpius berkata sambil menepukkan coklatnya ke kepala Lily. Kali ini Scorpius benar benar pergi. Tanpa dia tau tepukan sederhana itu ternyata berefek hebat pada gadis 13 tahun. Lily merasa hatinya berdebar. Debaran yang menyenangkan, sampai tanpa terasa pipinya bersemu merah. Sangat cantik bagi siapapun yang melihatnya saat ini.
Lagi, Scorpius sang cassanova menjerat seorang gadis belia dengan kemampuan lady killernya. Meski kali dari pihak Scorpius sama sekali tak bermaksud demikian.
Rose sendiri masih speechless melihat sisi Scorpius yang berbeda dari sebelumnya. Sungguh ini bukan sesuatu yang heboh sebenarnya. Bagi Rose image Malfoy tak lebih dari seorang 'cowok rese kurang akhlak'. Makanya hal sederhana macam ini bisa jadi sesuatu yang luar biasa.
Ketika punggung Malfoy tak lagi terlihat Rose menggelengkan kepalanya, untuk memupus adegan barusan. Melihat Lily yang tak bergerak satu centipun, Rose segera menghampiri nya.
"Lils." Disentuhnya pelan pundak Lily. Lily yang masih terpaku tersentak kaget.
"Hem..?" Lily dengan wajah bengong nya yang bersemu. Tapi Rose yang tidak berpikir macam-macam mengira wajah Lily, wajah yang tidak sehat.
"Kau oke?" tanya Rose sambil menempelkan tangan ke dahi Lily. Agak panas.
"Kau sakit Lils?" Rose menatap khawatir sambil meremas bahu Lily.
Lily menurunkan tangan Rose dan menggeleng. "Aku baik baik saja."
"Kau yakin?"
"Sungguh Rose." yakinnya.
"Well. Oke." kata Rose.
"Oh ya Rose. Kau sudah minta maaf pada Malfoy kan?" tanya Lily penasaran.
Ow.. ow. Rose nyengir canggung. Ngga nyangka Lily melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba.
Melihat gelagat Rose Lily bisa menebak. "Kau belum ya?" Lily memicingkan mata.
Rose mendesah kalah. "Lily, kau tau kan buruknya hubungan ku dengan Malfoy. Kau pikir jika aku melakukannya itu akan berakhir hanya dengan 'its okey Wesley?'. Hem?"
Mendengar alasan Rose, Lily melipat kedua tangannya. "Dan kau pikir lebih baik tidak melakukan nya?" balik Lily offensif. Rose hanya menaikan bahu.
"Siapa ya yang dulu bilang 'Minta maaf tidak akan membuat diri sendiri terlihat rendah'. Hem?" Oh lihat siapa yang dewasa di sini.
"Oke oke. Fine." Rose mengangkat satu tangannya. Dia tidak ingin menelan ludahnya lebih dari ini. Dirinya dimasa lalu pasi akan malu sekali padanya saat ini. Lagian melihat sisi Malfoy tadi, siapa tau memang bisa berakhir dengan 'its oke or what.'
"Aku akan mengejar Malfoy sekarang siapa tahu dia belum jauh." pamit Rose.
"Perlu ku temani?" tawar Lily diam diam berharap.
"Tak perlu. Kau masih ada kelas kan.
Sampai jumpa saat makan siang nanti." tolak Rose. Agak kecewa sebenarnya Lily, tapi dia pasti gila kalau terang2an menunjukan nya.
Tbc
Tolong kritik dan saran ya...
