5. Step Away

Cerita ini dibuat dengan character di buku seri Harry Potter karya J.K Rowling. Selamat membaca dan terimakasih bagi yang telah meluangkan waktu untuk membaca karya saya..

Scorpius harusnya segera pergi menemui teman2 nya. Tapi kini dia malah terpaku menatap jauh ke arah danau dengan menumpukan kedua tangannya di gazebo. Beruntung koridor ini sepi, sehingga untuk sementara tak ada yang mengganggunya untuk merenung. Tapi pikirannya buyar saat suara Rose kembali merasuki pendengaran nya.

"Malfoy." Cewek itu berdiri sekitar 2 meter darinya.

"What else, Weasley?" tanya Scorpius tak berminat. Rose memilin kedua tangannya gelisah. Melihat atmosfer saat ini, sepertinya mood Malfoy sedang buruk. Tapi kalau mundur sekarang juga ngga mungkin. Lebih cepat selesai, lebih cepat tidak lagi berurusan dengan Malfoy, lebih baik.

"Well... Soal kemarin. Kau tau... emm.. sebelumnya terimakasih sudah menyelamatkan Lily. Juga... sssoal aku yang hampir memantraimu..."

"Kau sudah dan sering memantraiku by the way." potong Scorpius.

Rose menggigit pipi dalamnya. "Yang benar kita sering saling melempar mantra Malfoy." balas Rose tak terima. Kenapa sih mereka tidak bisa bicara tanpa sinisme?!

Malfoy mengibas tangannya malas. "Katakan saja apa urusanmu, Weasley!"

Rose bersedekap, menatap lurus kearah Malfoy. "Aku hanya ingin minta maaf atas kesalahan pahamanku kemarin. Juga maaf sudah menuduhmu menyakiti Lily." Terucap juga akhirnya. Ternyata tidak sesulit yang dia kira.

Lama mereka saling bertatapan. Rose masih menunggu Malfoy merespon ucapan permintaan maaf-nya. Tapi ketika dia merasa mereka bahkan hampir menghabiskan satu menit tanpa kata, Rose memilih mengakhiri keheningan ini.

"Hanya itu yang ingin kukatakan." Rose berbalik pergi.

"Untuk ukuran permintaan maaf tidakkah itu terlalu arogan bagi seorang Rose Weasley?!" Scorpius bicara tanpa menatap ke arah Rose. Baru ketika si Gryfindoor berhenti berjalan dan berbalik padanya, dia mengerling sekilas.

"Maksudmu?" tanya Rose tak mengerti.

"Kubilang, kau tak terlihat tulus ingin minta maaf, Weasley."

Tidak terima dengan tuduhan sepihak itu Rose membantah, "Atas dasar apa kau bilang aku tak tulus?"

"Oh." Scorpius menyeringai. "Jadi kau menjamin 100% kau minta maaf karna memang merasa bersalah. Bukan hanya untuk ketenangan dirimu sendiri Weasley?"

"... setidaknya aku tidak searogan itu, hingga masih punya kesadaran diri jika aku memang bersalah Malfoy. Tak seperti dirimu." balas Rose tajam.

" Dan Aku tak suka terlalu berusaha terlihat very very kind dan tak bercela, Weasley. Tak seperti dirimu"

Rose memejamkan mata lelah. "Terserah. Apapun anggapanmu bukan urusanku. Jangan sok bicara ketulusan ketika kau bahkan ngga punya!"

Cepat- cepat Rose berbalik pergi. Merasa bodoh sempat berfikir jika ini akan berakhir baik. Rose bertekad segera menjauh dari pirang brengsek itu sebelum hilang kendali. Harusnya. Harusnya dia pergi secepat mungkin tanpa sudi berbalik lagi.

Tapi, Rose berhenti melangkah. Kenapa? Kenapa Malfoy selalu mencari cara untuk berkonfrontasi denganya. Memikirkan hal itu membuat perasaannya sesak. Ada perasaan tidak terima atas perbedaan perlakuan Scorpius. Dan itu mendorong Rose kembali ke tempat tadi.

Cowok itu masih di sana dan juga menatapnya. Rose mendekat sampai jarak mereka tinggal 1 meter

"..."

"Kenapa...?"

"Hah?" Scorpius mengernyit. Tak mengerti konteks dari 'kenapa' yang di lontarkan tiba-tiba oleh Rose. Gadis itu seenaknya datang, pergi, dan bicara semaunya.

"Kau berteman dengan Albus. Menyelamatkan Lily. Menerima rasa terimakasih Lily bagai gentleman rendah hati. Tak pernah mencari masalah dengan saudaraku yang lain. Jadi kenapa? Kenapa hanya aku?"

Rose tahu, tidak seharusnya dia bersikap sentimentil terhadap Scorpius. Dia sudah belajar bahwa itu sia sia. Tapi tetap saja. Ini semua menyakitkan. Atas dasar apa dia harus menerima segala perlakuan yang sarat akan kebencian dan sinisme. Awalnya dia berfikir, mungkin itu warisan dari buruknya hubungan orang tua mereka. Ayahnya sendiripun demikian. Namun saat kemudian dia sadar itu hanya di tujukan padanya. Hanya padanya, bahkan tidak Hugo. Rose merasa harus mendapat kejelasan. Rasa benci Scorpius terlalu jelas dan lugas. Bukan hal konyol semacam cowok yang bertingkah mencari perhatian.

Melipat bibir yang agak bergetar Rose kembali berucap,"Beberapa saat tadi aku bahkan berfikir kau tidaklah seburuk yang kukira. Tapi aku salah." Menatap Scorpius dalam, "Setidaknya padaku. Am I?" Nada Rose merendah di akhir kalimat.

Scorpius masih membisu. Menatap mata yang selalu berbinar tampak redup.

"... Ya. Aku bisa baik dengan siapapun yang kumau, tapi- tidak dengan mu Weasley."

"Kenapa?" pertanyaan penuh tuntutan kembali terlontar.

"Oh. Hentikan mengulang frasa itu! Dan berhenti bicara omong kosong." Kesal Scorpius.

"Tidak! Aku masih tidak mengerti atas alasan apa aku harus menanggung kebencianmu lima tahun ini. Sampai kapan? Sampai kapan Malfoy?!" Rose mendorong Scorpius. Keduanya mulai kehilangan ketenangan.

Dengan kasar Scorpius menahan tangan Rose, "Jangan lancang Weasley! Kau pikir kau siapa, huh?!"

Mata Rose berkilat marah, "Kau sendiri? Kau pikir kau siapa bisa terus memperlakukan ku seperti ini?"

Mengempas kasar Rose, jarak mereka kembali satu meter. "Aku bisa melakukan apa yang kumau." Scorpius menunjuk dadanya. "Benci, suka, marah, bosan, tertarik, menyakiti, apapun." Scorpius menekan setiap ucapannya.

Benar. Malfoy yang di kenalnya adalah makhluk egosentris. Rose tahu itu. Hanya kali ini dia sudah muak, lelah.

Bodoh sekali dia sempat berfikir untuk berteman dengan Malfoy. ~Hah~ Rose sangat ingin mengubur dirinya dalam dalam.

"Kau memuakkan." ucap Rose tajam.

Scorpius tertawa, "Like i care. Kaupun bisa lebih membenciku jika kau mau Weasley. Berhentilah pura-pura menjadi pure white."

Sungguh, rasanya Rose masih ingin membantah. Lantas apa yang akan dia dapatkan? Debat kusir tanpa ujung? Pertengkaran ini sia-sia. Tapi harga diri masih menahannya di sana. Dia juga tidak mendapat kejelasan alasan Malfoy memulai permusuhan tunggal dengannya. Setidaknya satu pertanyaan terakhir akan menentukan langkah selanjutnya.

Rose menarik nafas berat. "Biarkan aku bertanya satu hal." Menatap lurus ke arah dada Scorpius, "Kau... sungguh sangat membenciku?"

"..."

"..."

Scorpius tak kunjung menjawab. Wajah yang selalu terangkat menatap lurus padanya tanpa rasa takut itu tampak sangat jauh di bawah. Pertanyaan yang sangat sederhana. Jawabannya pun telah bergaung di seluruh nadinya. Satu kata. Scorpius hanya perlu satu kata itu untuk mengakhiri omong kosong melelahkan ini. Tapi entah faktor apa yang membuat lidah nya mendadak kelu.

Akhirnya Scorpius memilih pura-pura tak pernah mendengar pertanyaan terakhir itu. Tanpa basa-basi dia memilih pergi. Rose tersentak Malfoy pergi begitu saja tanpa menjawabnya.

"Malfoy..." Rose mengikuti dan terus memanggil nya.

"Enyahlah Weasley!" tukas Scorpius tetap berjalan.

"Jawab pertanyaan ku!" tuntut gadis itu.

"..."

"Kenapa Malfoy? Tak bisa menjawab?! Kau ragu, huh?!"

"Pertanyaanmu menggelikan. Berhenti membuang waktu ku!"

Mereka saling menyahut sambil terus berjalan.

"Akui saja Malfoy. Kau tidak yakin membenciku. Jadi katakan! Katakan kenapa kau sebegininya padaku. Katakan!" Rose menaikan suara.

Tap! Malfoy berhenti melangkah, membuat Rose limbung dan hampir menabraknya. Tanpa menunggu Rose kembali seimbang, Scorpius merenggut kasar kerah jubah Rose dengan sebelah tangan. Rose terbelalak saat jarak wajah mereka hanya beberapa centi.

"Kubilang pertanyaanmu menggelikan. Saking jijiknya, aku berfikir bodoh sekali sampai harus membuang waktu menjawab pertanyaan konyol mu." desis Scorpius dengan rahang mengeras.

"Kau menginginkan jawaban?! Maka dengar ini baik-baik. YA. Aku SangaT MembenciMu." Kilatan amarah di mata hijau keabuaan Scorpius membekukan Rose.

Malfoy masih belum berhenti bicara. "Apa kejeniusan mu mulai tumpul. Kau pikir ada alasan lain kenapa aku sangat ingin melihat mu menderita. Itu karna aku membencimu Weasley. Benci! Puas?!"

Rose terluka. Dia bukanlah tipe cewek melancholy, tapi tak disangka ucapan benci Malfoy yang sepenuh hati terasa bagai belati tak kasat mata. Menghujam tanpa ampun. Sialnya lagi, Rose tidak bisa menahan matanya yang memanas. Secepat mungkin di putusnya kontak mata mereka.

Sebelum terjadi hal yang paling tak diinginkan Rose, dia mencoba melepas cengkraman Malfoy. Tapi Malfoy bergeming.

"Lepaskan."ujar Rose pelan. Berharap suaranya masih normal.

Malfoy membawa wajah Rose mendekat, tapi Rose bertahan dengan semakin menunduk. Menggunakan rambutnya yang terurai panjang menjadi satir diantara mereka.

"Lepaskan aku!" Rose berusaha lebih keras untuk melepaskan diri. Dan berhasil. Kini keduanya kembali berjarak.

Digunakan momen itu untuk segera angkat kaki. Sayangnya kali ini Scorpius tak membiarkan. Tak ada yang boleh bersikap semaunya di hadapan Scorpius Malfoy. Di tariknya tangan Rose hingga berbalik kasar.

"Kau tak bisa bertingkah seenak jidat, sialan!" geram Scorpius. Rose tak menjawab. Dia sibuk berusaha membebaskan tangan yang tertawan. Juga berusaha tidak menatap Malfoy Jr.

Kesal, Scorpius mencengkeram wajah Rose dengan sebelah tangan. Memaksa gadis itu menatap nya. Dan Rose memilih memejamkan mata saat dia tak bisa lagi berpaling.

"Aku belum selesai bicara." sentak Scorpius. "Kuberitahu. Untuk membencimu aku tak perlu alasan. Hanya benci. Kalau bisa aku bahkan tak ingin melihat mu dalam jarak pandang ku!"

Rose tak tahan mendengar kata benci yang berulang dari Scorpius. Apa sungguh dirinya serapuh ini di hadapan Scorpius?! Merlin.

"Tatap aku jalang!"

Sialan. Malfoy benar benar makhluk tanpa darah dan air mata. Ini harus segera berakhir. Rose membuka mata pelan. Selebar mungkin. Tak peduli lagi walau air matanya jatuh bertetesan. Di balik pandangan nya yang buram Rose melihat Scorpius terhenyak. Si brengsek itu pasti akan makin mencemooh sisi lemahnya ini.

"Lepaskan aku, bajingan." desis Rose dengan suara tercekat. Yakinlah walau yang keluar umpatan tapi sesungguhnya dia sedang mengiba. Bagai terkena petrificus totalus, keduanya bergeming. Malfoy seakan kehilangan kemampuan motorik nya. Dan Rose? Dia terlalu lelah untuk kembali melepaskan diri. Hanya berharap Malfoy sendiri yang melepaskannya. Rose menyesal tidak menuruti Malfoy yang memintanya enyah sedari tadi.

"..."

Di tengah kebisuan itu terdengar suara langkah mendekat.

"Mr. Malfoy? Miss Weasley?" Profesor Mcgonagall berdiri dalam radius 20 langkah. Baik Rose maupun Scorpius serentak memisahkan diri.

"Profesor. " sapa Malfoy dengan suara gamang.

Rose membelakangi sebentar untuk menghapus air matanya. Menarik dan menghembuskan nafas besar baru ikut menyapa profesor Mcgonagall.

"Profesor." lalu berdehem saat merasa suara paraunya masih tertinggal.

Profesor Mcgonagall berjalan mendekat. "What's going on here?" selidiknya.

Rose menggeleng dan tersenyum. "Tidak ada apa apa profesor." kilahnya.

Siapa yang akan percaya jika Malfoy- Weasley berada dalam jarak satu meter dan 'tidak ada apa-apa'? Bukan rahasia jika hubungan mereka buruk. Tapi Mcgonagall juga tidak bisa mengintervensi begitu saja hubungan sosial murid muridnya. Kecuali berkaitan dengan peraturan sekolah.

"Benarkah?"

"Ya. Kami hanya sedikit bicara." jawab Rose, sambil mengerling sedikit kearah Malfoy yang diam tanpa ikut memberi pernyataan.

Menghela nafas sebentar. "Baiklah. Kebetulan bertemu kalian disini."

Profesor Mcgonagall memilih untuk membicarakan hal lain.

"Mr. Malfoy." Panggilnya pada Scorpius.

"Ya profesor?"

"Mr. Abbott menyarankan kau untuk ikut perekrutan prefek tahun ini. Apa kau berminat? tanya Mcgonagall menyebut nama prefek Slytherin tingkat 7.

Scorpius tertegun sejenak, tapi tak perlu lama untuk menjawab "Tentu Profesor. With pleasure."

Sedangkan Rose terkesiap mendengar Scorpius mendapat tawaran yang sama dengannya. Mempunyai waktu lebih banyak dengan Malfoy adalah bencana. Itu jika dia juga memilih jabatan prefek.

"Ms. Weasley." Kini Mcgonagall beralih pada Rose.

"...Y-ya Profesor?"

" Aku menunggu kabar baik darimu segera." kata Mcgonagall.

"Baiklah. Kalian masih ada kelas kan. Sebaiknya kal- "

"Profesor." Rose memotong ucapan Mcgonagall.

"Sebenarnya saya sudah memutuskan."

"Benarkah? Jadi kau akan bergabung di prefekkan?"

"Tidak Profesor. Tanpa mengurangi rasa hormat, sayang sekali saya tidak akan bergabung." jawab Rose tegas.

Mcgonagall cukup terkejut. "Ms. Weasley, apa kau sudah benar-benar memikirkan hal ini?"

"Ya Profesor." tegas Rose.

Diam diam Scorpius mengernyit tak mengerti dengan alur pembicaraan Rose dan Mcgonagall. Juga tak mengira seorang Rose Weasley akan menolak tawaran ini. Demi jenggot Dumbledore, jabatan Prefek lho. Prefek.

"Ms. Weasley, kau masih punya waktu untuk berfikir dan cobalah untuk berunding dengan orang tua mu." Mcgonagall berusaha membujuk.

"Maaf Profesor, saya sudah memikirkan ini dengan baik. Dan saya harap anda menyetujui keputusan dan permintaan yang kita bicarakan waktu lalu."

Mcgonagall tampak kecewa dengan keputusan Rose. Dia sebenarnya masih ingin membujuk Rose untuk berubah pikiran. Tapi melihat tekad Rose yang sepertinya tak tergoyahkan kan Mcgonagall hanya bisa membuka tutup mulut tanpa suara.

Melihat Profesor nya kebingungan, Rose kembali meyakinkan. "Saya yakin orang tua saya akan menyetujui pilihan saya Profesor. Mereka akan mendukung selama itu baik untuk saya."

Beberapa saat kemudian Mcgonagall menghela nafas pasrah, " Baiklah. Tapi kalau kau mau tau, kau selalu punya kesempatan untuk bergabung Ms. Weasley. Sampai jumpa di jam makan siang."

"Sampai jumpa Profesor."

"Sampai jumpa Profesor."

Balas Scorpius dan Rose. Setelah Profesor Mcgonagall tak lagi terlihat, hawa tegang kembali menyelimuti kedua insan itu.

"Menolak, huh? Kejutan Weasley." sindir Scorpius sinis.

Rose memilih abai dan melangkah melewati Scorpius. Spontan Scorpius mengikuti dan berniat kembali meraih Rose. Tapi insting dan reflek Rose lebih cepat. Dihempasnya tangan Scorpius yang belum benar-benar mencengkeramnya dengan kuat.

"Jangan sentuh aku!" raungnya

Jejak airmata masih cukup jelas, tapi raut wajah Rose mengeras. Malfoy telat merespon karna terkejut.

"Kenapa kau menolak?" tanya Scorpius kepo.

Rose tau 'kenapa' itu untuk jabatan prefek yang ia tolak.

"Kenapa bertanya? Bukankah kau tak ingin aku berada dalam jarak pandangmu?!" sengit Rose.

Scorpius mendengus sangsi "Dan kau mengabulkan nya? Kau pikir dirimu ginie?"

"Hah" Giliran Rose tertawa jengah. "Jangan salah paham Malfoy. Layaknya kau yang tak ingin melihatku, maka akupun demikian. Kejutan lain bukan? Akhirnya kita sepakat dalam satu hal." Rose mengakhiri nya dengan senyum dingin.

"Tsk tsk..." Scorpius menggeleng kepala dengan gaya yang sungguh sangat menyebalkan. "Ku kira kau orang yang objektif. Ternyata kau tipe orang yang mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan, huh? Aku kecewa Weasley." ejek Scorpius memanasi.

Rose melipat kedua tangannya, menatap dinding kosong disamping. "Bukan masalah objektif atau tidak. Aku hanya mengambil jalan terbaik untuk diriku sendiri. Kenapa harus repot sengaja bersinggungan dengan kuman yang mengakibatkan penyakit, jika bisa menghindar. " sanggah nya.

"Sebut saja aku..." Rose merotasikan pandangan nya tepat ke wajah Scorpius. "...realis."

Dan itu benar-benar menjadi akhir mereka hari itu. Scorpius tak lagi menahan Rose yang pergi dengan dagu terangkat. Tapi Scorpius tak tahu saat Rose menghilang di balik tikungan, airmata Rose kembali pecah.

Anak anak Slytherin yang tergabung dalam tim Quidditch saat ini berada di ruang ganti. Mereka baru saja selesai latihan untuk persiapan pertandingan dengan Ravenclaw minggu depan.

"Ritme mu kacau hari ini." komen Scorpius pada Albus yang sedang melepas pelindung lengannya.

"Yeah." jawab Albus singkat. Mendengar 'yeah' Albus yang menyebalkan, Scorpius tidak jadi menaikan kaosnya dan memilih menghadap sohibnya.

"Apa maksudnya 'yeah' ?"

Albus menghembuskan nafas kasar. "Yeah its yeah. Bagian mana yang tak kau mengerti?!" balas Albus ketus.

Brak! Scorpius menghempas pintu lokernya. Hawa disini mulai terasa menyebalkan. "Say it Al! Kau mau bilang sesuatu padaku kan? Itu kan yang dari tadi mendistract mu. Am i right?!" Scorpius bukannya sok pd, tapi terlihat sekali jika Albus dari tadi melihatnya dengan tatapan tak jelas. Seakan sedang menahan diri dari sesuatu.

Brak! Kali ini pintu Albus yang di hemas kasar. "Apa yang kau lakukan pada Rose?" tanya Albus to the point.

Air muka Scorpius tampak tertegun, tapi kemudian dia menyeringai sinis. "Oh.. sepupu tercintamu habis mengadu, huh?"

"Engga. Tapi aku melihat Rose menangis. Dan itu pasti karnamu. Am i right?" jawab Albus datar.

"Yah. Tak kusangka sepupu ternyata secengeng itu." Scorpius mengedikan bahu.

"Scorp. Berhentilah mengganggu Rose! Kau pasti sudah keterlaluan, jika dia sampai menangis."

"Jangan sok bijak Al. Selama ini kau bahkan diam saja melihat aku dan Wesley bertengkar di manapun. Kenapa baru sekarang kau terganggu?" Scorpius menolak.

"Karna Rose MENANGIS!" Albus menaikan suaranya.

Suasana mendadak hening. Atensi semua orang di ruang ganti tertuju pada dua cowok yang tengah bersitegang. Sadar semua orang memandangnya Albus menjambak rambut frustasi. Well dia memang kehilangan kendali.

Mengingat wajah Rose yang penuh air mata saat mereka tak sengaja bertabrakan tadi, membuat emosi Al naik.

"Aku membuat belasan bahkan lebih jalang menangis. Dan kau tidak pernah protes." Scorpius terlihat sengaja sekali menyebut kata jalang.

"Rose B.U.K.A.N Jalang!"

"She is. Itu yang kukatakan padanya."

Buagh! Albus tak berfikir lagi untuk melayangkan sebuah pukulan pada Scorpius. Pukulan lain hampir menyusul jika anak anak yang lain tidak menghalanginya. Dua anak lain membantu menahan Scorpius yang terhuyung jatuh.

"Cut it off!" Victor kapten tim mereka angkat bicara. Dia berdiri di antara Albus dan Scorpius. "Back off Malfoy!" Peringatannya saat Scorpius meringsek maju. "Kau juga Potter!" Kini pada Albus.

Scorpius mendecih, kemudian berkata geram. "Jika kau hanya merengek soal sepupu di sini, lebih baik kau keluar dari tim."

"Kau tak akan paham karna kau tak punya saudara. Bro." balas Albus. Well bukan maksud Albus berkata sebastard itu. Tapi jelas Scorpius tersinggung. Dia tidak pernah membiarkan seorangpun meremehkanya. Bahkan Albus.

"Stop! Kalian tak lagi menganggap ku kapten, huh?" Nada suara Victor yang mengancam membuat keduanya diam. Dan saling membuang pandangan.

"Potter, hari ini memang ritme kacau. Kuharap kau bisa bersikap objektif saat di tim ini. Tinggalkan masalah pribadimu saat kau melangkah ke lapangan."

Scorpius menyeringai. Tapi tak lama karna Victor juga mengkritik nya.

"Kau juga Malfoy. Kau pikir aku tidak sadar kau hampir oleng dua kali dan hampir menabrakan kepalmu ke bludger? Dan yang punya hak mengeluarkan anggota hanya aku." Tegas Victor.

"Segera berkemas dan dinginkan kepala kalian!"

Scorpius menghentak kasar lengannya yang tertahan.

Di ruang rekreasi Gryfindoor.

Rose duduk setengah berbaring dengan buku cukup tebal di tangannya. Di bawahnya Lily dan Molly asyik berceloteh. Hugo bermain catur sihir dengan Louis. Dan skor 5-2 untuk kemenangan Hugo.

Keasyikan mereka terganggu saat James muncul tiba-tiba dan berseru, "Rose!" Membuat Rose tersedak coklat hangatnya. Beberapa terpercik ke sweater kesayangannya.

"Apa sih?!" Rose mendelik jengkel. Tanpa adat James melangkahi papan catur Hugo dan menyingkirkan kaki Rose untuk dia duduki. Dia juga tak ambil pusing dengan protes dari berbagai pihak yang terganggu karena ulahnya.

"Mcgonagall bilang kau menolak jabatan Prefek. Benar?"

"Apa?"

"Yang benar?"

"Kau serius Rose?"

Mendadak Rose di hujani ungkapan ketidak percayaan oleh saudara saudaranya. Sulung Weasley itu memperbaiki duduknya. Oh shit, dia lupa memberitahu saudara saudaranya. Rose membasahi bibir dan tenggorokan baru menceritakan soal Prefek dan magang. Minus pertengkarannya dengan Malfoy yang ~sedikit~ ambil andil pada keputusan nya.

Setelah menceritakan kronologi secara runtut baru para saudaranya mengerti. Walau James masih kurang setuju. But, this is her own choice, own life, own risk. So, just let's go on.

Hampir satu bulan Rose secara resmi magang di hospital wings. Tepatnya 26 hari. Well, memang butuh penyesuaian di awal dengan jadwal pelajaran nya. Ini bukan magang yang formal banget sebenarnya, tapi Rose di beri izin untuk membantu madam Pomfrey jika ada siswa yang harus di rawat. Dan saat sengang Rose suka berkunjung untuk mempelajari soal ramuan obat, mantra penyembuh, dan teknik perawatan non mantra.

Kemajuannya cukup mengagumkan, sampai-sampai madam Pomfrey berani mempercayakan hospital wings satu hari padanya, karna beliau harus merawat ibunya yang mendadak sakit. Lagipula hari ini tak ada siswa yang perlu perawatan.

Jadi Rose menghabiskan waktunya di hospital Wings dengan ramuan coba cobanya. Semua berjalan lancar sampai seseorang dengan tak sopan mendobrak kasar pintu hospital dan berteriak memanggil madam.

Rose keluar dari bilik pembuatan obat untuk melihat siapa orang yang tak sopan itu. "Madam Pomfrey sedang tidak di tem... pat"

Apakah Merlin sedang mempermainkan takdirnya? Bolehkah dia mengumpat?

Di ujung lorong tepat depan pintu Albus berdiri dengan memapah...~Scorpius Malfoy.

...Tbc...

Maaf kalau emosinya kurang tersampaikan. Semoga ada yang berkenaan mereview. Tapi kalau cerita ini menghibur aku seneng banget.