Yuno's side
Bodoh.
Itu adalah yang terlintas di benak Yuno ketika pertama kali menjumpai Asta di sekolah menengah. Mereka berada di klub tenis, Yuno juga tidak terlalu mengenalnya. Tapi yang namanya Asta itu selalu saja teriak-teriak. Membuat telinganya sakit saja.
Semua berubah ketika studi tur ke Osaka. Ia tersesat, dan Asta yang menemukannya. Lalu membawanya kembali ke rombongan. Waktu itu Yuno pikir debaran di hatinya hanyalah sebatas wujud terima kasih.
Seiring waktu, lama-lama memperhatikan Asta membuatnya sungguhan jatuh cinta. Ada banyak sekali sisi Asta yang jarang diketahui orang. Dimulai dengan traktiran dari Yuno atas kebaikannya, lalu mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Asta suka sekali mendengarkan lagu. Ia bisa berada lama sekali di toko CD, memuji penyanyi-penyanyi favoritnya.
Yuno juga ingin mewujudkan harapannya.
"Bagaimana kalau aku jadi penyanyi juga, Asta? Sebenarnya, dari dulu aku ingin menjadi seperti itu."
"Terdengar bagus, Yuno. Kau pasti bisa!"
Senyuman Asta sangat cerah, membuat Yuno selalu teringat. Bahkan dalam mimpinya. Berada di sisinya begitu menenangkan. Yuno belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tapi ... itu sangat hangat.
"Yuno, kita harus siap-siap."
Tapi dua tahun lalu, semuanya berubah. Mereka bertengkar hebat karena dirinya meminta putus. Demi kebaikan Asta, Yuno tak ingin melibatkannya. Ketika namanya semakin terkenal, selalu selurus dengan para wartawan yang haus mencari berita. Mereka akan berlomba-lomba mencari masa lalunya, begitu kata manajernya.
Yuno tidak mau Asta terlibat dengan hal-hal seperti itu.
Dua tahun ini ia belum pernah mencoba lagi untuk menghubungi Asta. Lagipula, mereka sudah berakhir. Apa ia masih pantas untuk memanggilnya? Semua terjadi karena kesalahannya sendiri. Tidak ada yang harus disesalkan, bukan?
Meski demikian, setiap malam ia selalu mendoakan Asta. Walau jauh, tak bisa lagi bertemu dengannya ... ia harap Asta baik-baik saja. Cukup sehat dan bahagia, permintaannya tidak banyak.
Namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa rindunya sudah menumpuk. Ia ingin menemui Asta, memeluk dan mendapat ciuman seperti dahulu kala. Asta suka sekali memanjakannya, membelikannya hadiah meski harganya tidak seberapa.
Dia juga suka mengajaknya berjalan-jalan di kota, menikmati hari-hari sebagai pasangan. Lalu keduanya akan menutup hari dengan menyatukan raga. Yuno merasa begitu dicintai, tak ingin waktu berlalu dengan cepat.
Tapi ... sampai kapan ia harus menahannya?
Ketika sedang mempromosikan lagu barunya di televisi, ia jadi teringat dengan Asta. Lagu yang menceritakan tentang pertengkaran sepasang kekasih yang berakhir tidak bisa bersama kembali. Apakah dia juga bisa memperbaiki segala sesuatunya dengan Asta?
Adakah waktu yang tersisa?
Itu adalah sebuah hari di musim dingin pada tahun ke-lima tanpa Asta. Yuno menerima paket tahun baru. Namun ia terkejut melihat siapa yang mengantar. Itu Asta, juga terlihat tidak menyangka. Yuno yang senang langsung menariknya masuk ke dalam.
Tidak perlu kata-kata, cukup dibuktikan saja. Begitulah cara Asta mencintainya. Punggung Yuno menabrak dinding, terjebak oleh Asta. Ciuman tidak terhindarkan, Yuno menyambut dengan rasa bahagia. Satu menit berlalu dan Asta menarik diri.
"Aku tidak tahu ini tempatmu sekarang."
Yuno tersenyum. "Ya, kalau memesan sesuatu aku memang tidak memakai nama asli, sih. Aku ... "
Tunggu.
Kenapa Asta tidak terlihat marah padanya? Harusnya ia memukulnya, atau apapun itu. Namun Asta di sana, hanya tersenyum seperti biasa. Perasaan bersalah tak bisa dipungkiri, Yuno mengingat bagaimana dia mengakhiri hubungannya dengan Asta.
"Asta, aku minta ma—"
"Sudahlah, Yuno. Aku tahu kau punya alasan untuk itu. Melihatmu baik-baik saja sudah membuatku senang."
Tidak.
Yuno memeluknya, menyampaikan apa yang tersimpan dalam nurani. Asta tidak membalas, ia biarkan saja Yuno sampai puas.
"Aku juga senang melihat Asta lagi ... "
"Hei, Yuno."
Kedua pipinya ditangkup, Asta menatap lurus. Netra hijaunya menyiratkan kesedihan. "Kau tidak menghubungiku lagi, aku bertanya-tanya."
"Maaf soal itu, aku ... "
"Kau tidak perlu menjawab kalau tidak mau."
"Tidak, aku akan jelaskan semuanya! Aku ... aku hampir gila tanpamu, Asta. Aku merindukanmu, tapi ... aku tidak bisa melakukan semua hal semauku sekarang."
"Mau jalan-jalan sebentar, Yuno? Kebetulan hari ini hanya mengantar paketmu saja."
Musim dingin tahun ini berbeda dengan dua tahun belakangan. Meski ia harus menyamar, tapi Asta menggandengnya. Tangannya digenggam erat, enggan melepas. Yuno tersenyum, merasakan kehangatan yang mengalir darinya.
Hari itu juga sedang bersalju. Ketika mereka pertama kali resmi sebagai sepasang kekasih di kelas dua sekolah menengah. Asta yang pertama kali mengatakan, ia tertarik pada Yuno sejak bertemu di klub tenis bersama. Tidak ada penolakan, lalu mereka merayakan hari itu dengan berjalan-jalan sampai pegal.
Asta membelikan sekotak kue jahe dan bola kaca dengan salju di dalamnya. Yuno menerima dengan senang hati. Mereka kemudian makan malam di restoran, sedikit sulit karena Asta tidak bisa memanggil nama aslinya. Tapi Yuno tidak apa-apa.
Semuanya terlalu tiba-tiba, namun berjalan lancar. Ia bersyukur masih sempat memperbaiki semuanya.
Tengah malam, mereka ke Gereja yang sedikit jauh dari keramaian. Asta bilang ingin menjemput seseorang. Yuno pikir itu temannya. Yang dilihatnya di bawah pohon natal besar di halaman Gereja adalah seorang wanita cantik. Ia mengenakan mantel oranye, melambaikan tangan pada Asta.
"Asta-san!"
"Mimosa, maaf ... menunggu lama, ya?"
"Tidak, kok. Eh, dia temanmu, Asta-san? Maaf aku tidak menyadarinya tadi. Aku Mimosa, istrinya Asta-san."
"Oh, itu dia! Aku ingin bilang minggu depan kami akan pindah karena urusan pekerjaan. Hari ini juga hari terakhirku bekerja sebagai pengantar paket di sini!" Jelas Asta.
Tunggu. Tunggu sebentar ...
"Kami harus pergi esok pagi lewat stasiun dekat sini. Jadi aku menunggu Asta-san sekalian. Semoga Anda tetap berteman baik dengan Asta-san, ya!"
Ini tidak nyata, 'kan?
Yuno pulang dengan kalut. Asta dan Mimosa pergi duluan, meninggalkan Yuno di gereja sendirian. Ia menitikkan air mata di bawah pohon natal. Menangis tanpa ada seorang pun tahu.
Bodoh sekali. Dirinya ini.
Menyanderkan punggung ke daun pintu yang baru saja ditutup, Yuno menahan diri. Wajahnya sudah tidak karuan karena tadi menangis di luar. Bibirnya digigit agar tak mengeluarkan suara, tapi percuma saja.
Ia tidak bisa menerima kenyataan semudah itu.
Kenapa? Ia tak sadar waktu telah berlalu dengan cepat meski tanpa Asta di sisinya. Sudah berapa lama ia diam saja dan tidak melakukan apa-apa? Mengapa ia melewatkan semua kesempatan untuk sekadar berkunjung dan menjelaskan semua?
Pandangannya mengabur. Napasnya tersendat dan mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya ia jujur pada Asta, dengan begitu mungkin hubungan mereka masih bertahan meski sulit. Ia yang pergi dan tidak memberi kabar, pantas saja Asta mencari orang lain untuk menggantikannya.
Seharusnya Yuno tidak marah karena itu.
"Arrghhhh!"
Namun membohongi perasaan sendiri itu sulit, tahu?
Salju mulai turun di luar sana, menemani Yuno yang kini kehilangan asa.
