6. Accident
Mundur beberapa hari pasca insiden
Rose-Scorpious, Scorpius-Albus
Aula besar di pagi hari.
Rutinitas Hogwarts berjalan normal. Di sela waktu sarapan, burung-burung hantu keluar masuk sambil menjatuhkan surat atau bingkisan pada tuan masing-masing. Rose mendapat dua surat, dari ayah dan ibunya. Surat dari ayahnya di buka lebih dulu karena diluar amplop sudah tertulis 'Buka punya dad, first.'
'Dear my Rose.
Dad sehat dan masih cool seperti biasa, terimakasih sudah bertanya'. Rose terkekeh sebentar.
'Kau sendiri baikan honey? Oh ya, soal kau yang menolak jabatan prefek dan memilih belajar pengobatan di hospital wings, dad sih okey saja. Dad yakin kau bisa menjalani pilihan mu dengan penuh tanggungjawab. Mungkin akan ada saat kau terpuruk, tapi jika masa itu datang Dad juga Mom pasti akan memeluk mu dan mendorong mu bangkit. So just do what you want to do, selama itu positif. Dan.. baca surat Mom nanti saat kau senggang. Dia tak menulis surat tapi easy. Well, sebagai bocoran sebenarnya Mom masih kecewa dengan keputusan mu. Jadi persiapkan dirimu sayang'.
Rose mengernyit sebentar dan meremas pelan surat ibunya. Damn. Berapa lembar sebenarnya perkamen yang di habiskan ibunya? Ia mendengus tak habis pikir. Kembali ke surat ayahnya.
'PS. : Jangan ikut-ikut Albus berteman dengan Malfoy JR, meski kau dan Albus sangat dekat.
With full of love. Your greatest Daddy.'
Rose menelan ludah membaca barisan terakhir. Well, sebenarnya sejak pertengkaran terakhirnya dengan Malfoy, Rose mati-matian menghapus keberadaan Malfoy dari pandanganya. Saat di aula besar, Rose memilih duduk membelakangi meja Slytherin. Jika pelajaran mereka sama, Rose berusaha tidak membuat kontak apapun dengan Malfoy. Dan segala macam informasi mengenai Malfoy yang tidak sengaja terdengar, langsung di pentalkan mentah2. Entah beruntung atau apa, sejak itu Malfoy juga tidak lagi mencari masalah.
"Rose." suara Lily menarik Rose dari renunganya.
"Hem?" Rose melipat kembali suratnya dan memasukkannya ke tas bersama surat satunya.
"Kau sudah dengar soal Malfoy?"
Ugh. Rose meremas mata. "Stop!" cegah Rose mengangkat sebelah tangan. " Jangan bicarakan nama itu lagi!"
"Tsk. Dengar dulu dong!"
Rose langsung menutup kupingnya rapat rapat, saat Lily masih ingin membicarakan M...itu. Tapi Lily tidak menyerah. Dengan cukup tenaga, diturunkanya paksa tangan Rose dan langsung bicara tepat di kuping Rose.
"Kalau begitu soal Albus!"
Mendengar nama Albus baru Rose menurunkan kedua tangannya.
"Albus?" ulangnya dengan satu alis naik. Lily mengangguk angguk.
"Kenapa Albus?"
"Aku dengar rumor, Albus memukul Scorpius Malfoy, dan sekarang mereka kembali jadi musuh." jelas Lily sambil berbisik.
"Hah?" Rose menatap tak percaya
"Serius?" Lily hanya mengangkat bahu. Rasanya Rose ingin sekali melihat ke arah meja Slytherin, tapi...
"Kurasa itu benar" sahut James yang tau tau masuk ke pembicaraannya dengan Lily. Ternyata bisikan Lily cukup jelas untuk di dengar James yang duduk di sebelah kirinya. Baik Rose maupun Lily menatap James dengan wajah penasaran.
James meletakkan potongan daging sapi di garpunya dan berbalik ke arah meja Slytherin. "Lihat itu."
Di sana, Scorpius Malfoy dan Albus Potter, duo yang dimanapun selalu bersama bagai kembar siam tak terpisahkan kini duduk dengan jarak yang cukup jauh. Melihat itu Rose kembali ke arah James.
"And, so..?" tanya Rose masih belum yakin. Ketika James bertampang 'Seriously Rose?', ia buru buru menambahkan, "Ya bukan berarti something happened kan?"
James meniru kebiasaan Rose memutar mata, "Yang jelas di kalangan tim Quidditch kabar itu sudah tersebar. Dan melihat mereka seperti itu, 80% kabar itu benar. 20 % sisanya coba kau cari tahu sendiri."
"Kenapa aku harus?" tolak Rose.
"Karna kau terlihat penasaran." Jawab James.
"Aku tidak."
"Yes you are."
James dan Rose masih terus berselisih tanpa menyadari Lily yang masih diam-diam melihat ke arah Scorpius. Tanpa di duga, pandangan nya bertemu dengan si platina. Gelagapan, Lily membalik badan dan menundukkan wajahnya yang memanas, dalam. Sial. Lily merutuk.
Qqqqqq
"Terjemahkan halaman 102 sampai 106 kumpulkan minggu depan!" Ucap Profesor Babbling, guru Rune Kuno, yang di sambut rentetan protes para siswa baik Gryfindoor maupun Slytherin. "Baiklah. Enough for today. Sampai jumpa minggu depan kids." lanjut profesor Babbling.
Rose sedang mengemas barangnya ketika usapan ringan sambil lalu mampir di kepala. "Bye Rose."
Sontak ia mengangkat wajah, melihat Albus yang baru saja melewati nya bersama Tony Blake dan Lewis Romery. Rose terburu memasukkan barang-barangnya dan segera melesat keluar.
"Al." Panggilnya pada Albus masih belum jauh dari kelas.
"Hem?" Albus berbalik.
"Aku mau mengerjakan Rune Kuno sekarang di perpustakaan." ucap Rose.
Albus menelengkan kepala bingung. "... O..key." jawab Albus lamat lamat.
"Kubilang. Aku mau ngerjain Rune Kuno, N.o.w." Rose kembali menekan ucapannya seolah Albus harus benar-benar mengerti.
Awalnya Albus sama sekali tak paham maksud Rose mengulang omongannya, tapi mata Rose menyiratkan sesuatu. Dan itu artinya dia harus ikut dengannya ke perpustakaan. Mendesah pasrah Albus mengangguk mengerti.
"Baiklah." Mereka berjalan bersama ke perpus setelah Albus pamit dengan teman-teman nya.
Di perpus Rose benar benar hanya mengerjakan Rune Kuno, dan Albus memutar pena bulunya bosan.
Tak tahan, Albus mengetukan pena bulunya ke buku yang sedang di baca Rose membuat gadis itu mendongak menatapnya. Tapi dengan polosnya Rose bertampang 'Apa'?
Ck. Lama lama Albus beneran kesal. Apalagi dia bukan Rose yang bisa betah lama-lama ngerjain tugas di perpustakaan. Karna dia tipe yang H-1 baru cari contekan.
"Rose. Jangan main main! Katakan apa yang ingin kau katakan." desak Albus.
Rose tau dia tak bisa berkilah jika Albus sudah menatapnya dengan pandangan penuh tuntutan begitu. Yah lagipula memang dari awal niatnya mengajak Albus, karna ada hal yang perlu dia konfirmasi.
Bohong kalau Rose engga penasaran soal rumor yang tadi pagi di bicarakan Lily. Tapi rasa penasarannya makin besar ketika dengan mata kepalanya sendiri , Rose melihat Albus dan Scorpius saling mengabaikan di kelas Rune Kuno. Dan ada selentingan yang tak sengaja ia dengar jika dirinya adalah sumbu pemicunya. Karna itulah.
" Err..." Rose menutup buku dan melipat bibirnya sekilas. "..Aku dengar rumor soal kau-" ia merotasikan matanya sebentar "...dengan Malfoy."
Albus tidak langsung merespon. Dan itu cukup membuat Rose gugup. Takut dia bertanya di waktu yang tidak tepat.
"Itu bukan rumor kok" sahut Albus akhirnya dengan bahu mengedik ringan. Gesturnya seolah tak ada yang penting soal rumor- fakta-itu.
"Jadi kau dan Malfoy..." Rose tak menyelesaikan pertanyaannya tapi dia menggunakan kepalan tangan sebagai isyarat.
"Yap." Albus mengangguk sekilas.
"Dan benar juga,jika itu karena..." takut takut Rose menunjuk dirinya.
"Well.." sekali lagi Albus membenarkan. Mendadak Rose memerosotkan tubuhnya. Melihat reaksi Rose yang terlihat bersalah Albus buru buru menenangkan.
"Hey,,hey.." diraihnya sebelah tangan Rose. "Jangan dipikirkan. Dia memang pantas mendapatkan satu dua pukulan."
"Ayolah Rose, dunia tidak berakhir hanya karna ini." Tambahnya saat Rose masih belum menunjukkan respon.
Rose tak memungkiri bahwa dia membenci Malfoy dan juga fakta Albus akhirnya berteman dengan cowok itu. Tapi, dia juga bukan anak anak yang suka ikut campur masalah pertemanan orang lain, termasuk saudaranya sendiri. Albus terlihat menikmati pertemanannya dengan Malfoy. Dan ketika ikatan persahabatan itu putus, Rose ternyata sama sekali tidak merasa senang. Tidak. Terlebih ia adalah penyebabnya.
"Al. I'm sorry." Lirih Rose
"Sudahlah Rose. Don't be." Albus membujuk.
"Tapi kau kehilangan teman mu."
"Well, Aku tak butuh teman yang menyakiti keluarga ku." Ucap Albus tersenyum tulus.
Itu ucapan termanis yang pernah Albus katakan padanya. Dan Rose tak punya pilihan lain selain membalas senyum Albus.
"Al, sungguh kau bisa berteman dengan Malfoy jika kau mau. Aku baik baik saja." Rose mengela nafas sebentar. "Setidaknya mulai sekarang."
Karna mulai sekarang Rose Weasley- Scorpius Malfoy tak akan lagi berada di medan yang sama. Itulah yang dia tekadkan.
"Sudahlah, kita bicarakan hal lain saja. Kudengar ada perekrutan prefek, sudah pasti kau terpilih kan?"
Albus mengganti topik karena enggan membahas masalah Malfoy. Lagipula tak ada yang bisa di lakukan. Berteman dengan Malfoy itu pilihan, tapi membela keluarganya adalah kewajiban. Ada sedikit rasa kehilangan tapi, itu bukan apa-apa. Darah lebih kental dari air, right.
"Err.. aku belum bilang ya?"
"Bilang apa?" Albus tak mengerti.
"Aku memilih tidak masuk prefek."
"What? Kau serius?" oke, reaksi Albus ini sudah kesekian kali Rose hadapi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, Rose menceritakan bagaimana dia bisa mengambil keputusan. Tapi pada Al, Rose ikut menceritakan soal Malfoy yang sedikit punya pengaruh soal keputusannya.
"Jadi..." Albus berkata dengan main main "Secara ngga langsung Scorpius membantu mu mengambil keputusan, hem?"
Rose menatap Albus tak percaya, "Kau serius berifkir seperti itu.?"
"He hem.." Albus dan cengirannya yang menyebalkan.
"Yeah, whatever. Yang jelas aku yakin ini adalah pilihan terbaik untukku."
"Yes, yes Ma'am." Albus masih menggoda Rose. Dan Rose hanya memutar matanya.
Rose baru ingin kembali ke bukunya saat sebuah deheman menghampiri mereka. Evan Kim berdiri di samping meja. Cowok ras keturunan Korea Selatan-Amerika, penghuni Gryfindoor dan seangkatan dengan mereka. Dan anak anak memanggilnya Kim.
"Hei."
"Hei, Kim" balas Rose setelah sebelumnya mengerling Albus sekilas.
"Potter." Sapanya pada Albus.
"Kim." Albus mengedikan dagunya.
"Emm.. sorry for distur..."
"No. Its oke. What's up?" Rose memotong.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan." Kim menunjukkan Rose, "Denganmu Rose."
Albus dan Rose saling pandang sebentar. "Well, kalau begitu aku pergi dulu." Albus berdiri dan bersiap pergi.
"Tidak perlu Potter, aku hanya sebentar.." Kim mencegah. Sepertinya dia merasa tak enak mengganggu waktu kedua sepupu itu.
"Chill dude. Aku memang sudah harus pergi. Udara di perpustakaan tak terlalu cocok untuk ku." Kelakar Albus menenangkan. Albus kemudian menghampiri Rose sebentar dan memeluknya. "He is hot." bisiknya menggoda Rose, dan di balas Rose dengan tabokan di bahunya.
"idiot." umpat Rose pelan. Albus hanya mengerling jenaka.
"Nikmati waktumu, Mate." Ditepuknya pundak Kim sebelum dia benar-benar berlalu.
"Thanks Potter." Albus hanya melambai tanpa berbalik.
Setelah Albus pergi, Kim duduk di tempat Albus tadi. Keduanya saling berbalas senyum simpul.
"Jadi...?" tanya Rose perihal keperluan Kim. Cukup awkward juga bicara dengan laki laki lain selain saudaranya. Dan mungkin ini pertama kalinya Kim dan dia bicara berdua, mengingat cowok itu cukup pendiam.
"Begini," Kim menangkup kedua tangannya. "soal prefek, aku dipilih sebagai kandidat laki laki diangkatan kita." Kim memulai.
Rose tidak begitu terkejut. Melihat track record Evan Kim, baik sikap maupun mapel dia termasuk yang terbaik di angkatnya.
"Well, selamat. Kau pantas mendapatkannya." Ucap Rose tulus.
"Thanks." Kim mengusap lehernya kikuk. "Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan. Kudengar kau menolak jabatan itu?"
"Ouh.. y-ya." Rose memperbaiki duduknya. God, harus berapa kali masalah ini di bahas?!
"Profesor Mcgonagall masih kecewa, jadi dia menyuruhku yang mencari pengganti mu. Masalahnya aku juga tak begitu yakin siapa yang pantas. Jadi, kau tidak mau mempertimbangkan sekali lagi." bujuk Kim.
Rose mendesah pelan dan memajukan tubuhnya, "Kim, sori jika karna ku kau jadi repot. Tapi keputusan ku tak mungkin berubah. Ada hal lain selain prefek yang lebih aku ingin lakukan." jelas Rose sungguh-sungguh.
"Baiklah. Aku mengerti." Kim mengalah. Rose terlihat tak akan mengubah keputusannya.
"Tapi, apa kau bisa membantuku mencari penggantinya. Maksudku, aku tak begitu mengenal cewek di angkatan kita yang bisa mengisi posisi itu."
"Jika kau tak keberatan tentu saja." tambah Kim cepat.
"Tidak tentu saja." Jawab Rose menyanggupi. Toh ini demi asramanya juga. Di dalam kepalanya ada beberapa nama tapi dia masih ragu mau memunculkan yang mana. Sampai kemudian matanya melihat ke lorong di depannya. Seorang gadis dengan rambut ikal hitam panjang nya, mengambil buku yang sama dengan buku di meja Rose sekarang.
"Bagimana dengan dia. Mackenzie Corton." Rose memberi pendapat.
"Corton?" ulang Kim sambil mengikuti arah direksi tatapan Rose.
"Well kurasa dia kandidat yang cukup baik. Dia cukup pintar, rajin, kulihat disiplinnya juga bagus. Anaknya seperti nya juga berdedikasi. Dan.. dia sangat cantik." ucap Rose setengah menggoda di akhir kalimat nya.
"Menurutmu begitu?" tanya Kim, mengabaikan godaan Rose.
"Coba saja. Nanti kalau dia menolak kita pikirkan calon lain. Oke."
Kim menatap Rose sebentar. "Oke." ucapnya setuju. "Aku akan bicara padanya."
Rose mengangguk mengiyakan. Kim berdiri dan berjalan ke arah Mackenzie, tapi seperti ada yang terlupa dia kembali ke meja Rose.
"Aku... sangat menyayangkan kita tak bisa berpatner di prefek."
Setelah mengatakan itu baru Kim menghampiri Mackenzie. Alis Rose mengkerut dengan pernyataan terkahir Kim. What the hell was that? Tapi Rose memilih tidak ambil pusing dan menganggap itu hanya basa basi.
Tak lama setelah Kim bicara dengan Mackenzie, gadis itu tampak mengangguk-angguk. Rose sedikit tersentak saat dua orang itu menatap kearahnya. Kim tersenyum dan membuat tanda oke. Rose membalasnya, kemudian saling melempar senyum dengan Mackenzie Corton. Keduanya kemudian keluar dari perpus setelah Kim mengucapkan Thanks tanpa suara. Rose memberi isyarat oke.
$***"&
Dalam 15 tahun hidupnya, Scorpius selalu mendapat apapun bahkan saat dia tak menginginkan. Harta, image, charm appeal, popularitas. Dengan sendirinya orang-orang datang dan mengikutinya. Hadir begitu saja seperti aliran udara.
Mereka menempatkannya lebih tinggi, dengan harapan mendapat sedikit atau banyak keuntungan sebagai 'teman Malfoy'. Terdengar penjilat sekali bukan. Well, tapi Scorpius tak mempermasalahkan. We're Slytherin, right? Bagi Slytherin hal itu bisa di sebut bakat. Hanya saja semua itu semakin terasa membosankan.
Satu hal yang tak bisa di pungkiri. Yaitu keinginan mempunyai teman yang melihatnya sejajar. Bukan hanya mengikutinya dari belakang. Orang yang setara, punya prinsip dan kebanggaan. Dan Scorpius menemukannya pada sosok Albus Potter setelah beberapa tahun berselang.
Tahun pertama, Albus Potter melewatinya bagai neraka mengingat dia belum bisa menerima jika dia adalah Slytherin. Seiring waktu, jati dirinya mulai terlihat. Dia cerdik, ambisius, pandai bicara hingga menarik sekeliling nya, dan jangan lupakan manipulatif. Sendirian, dia mulai membuat tempatnya di Slytherin, dan orang-orang mengakui nya.
Hal-hal itu membuat Scorpius diam-diam menginginkan Albus dalam lingkaran pertemannya. Sayangnya Albus Potter sepupu Rose Weasley, itu membuatnya terlarang karna gadis itupun 'terlarang'. Sampai suatu momen membuat keinginan nya terwujud. Tepat seperti kiraanya, Albus adalah teman yang menyenangkan.
Meski akhirnya teman tetap hanyalah orang luar. Ikatan pertemanan mereka bisa terputus dengan mudah oleh yang namanya ikatan keluarga. Tanpa ragu Albus membela sepupunya dan memilih tak lagi berteman dengannya.
Apa Scorpius kecewa? Ya tentu. Merasa kehilangan? Sulit di akui, tapi ya. Itulah kenapa moodnya tak pernah tersetel dengan baik belakangan. Tapi dia Scorpius Malfoy. Ada image yang harus dia jaga.
Maka dia bersikap seolah tak terganggu dengan perubahan lingkaran pertemannya. Menanamkan, ada tidak nya Albus Potter, not big deal. Tapi sadar atau tidak, gairah nya tak lagi sama. Seringkali ia merasa jenuh. Jenuh menanggapi jokes teman2nya, walau sesekali dia masih ikut menyeringai. Jenuh dengan undangan nakal gadis2 yang kerapkali dilayangkan. Entah yang tersirat ataupun terang-terangan. Bahkan jenuh memancing pertengkaran dengan Rose Weasley. Apalagi jelas sekali cewek kutu buku itu mati-matian menghindari nya.
Terkadang kesunyian terasa lebih menenangkan. Beberapa waktu, Scorpius memisahkan diri dari kelompoknya, dan tenggelam dalam hening. Entah hanya berbaring di rumput dekat danau hitam, atau merasakan belaian angin dari atas pohon yang juga masih di dekat danau hitam. Atau seperti sekarang, di atap menara astronomi. Berbaring menatap arakan awan, tanpa perlu ada yang dipikirkan. Scorpius menikmati kekosongan dalam dirinya untuk saat ini.
Saat matahari kian terik dan terasa semakin membakar, Scorpius menarik diri. Matanya tak lagi mampu menantang sengatan sang Surya. Toh dia sudah harus kembali. Jadi Scorpius bangkit, menepuk jubah dan celananya. Time to great hall.
Menara astronomi terletak di bangunan yang berbeda dari menara utama. Karenanya dia harus menyebrang halaman jika ingin ke aula besar. Saat itu sosok Rose Weasley berjalan di sepanjang lorong bersama Evan Kim. Scorpius mendengus kesal lalu melanjutkan langkahnya ke menara utama.
Sialan! Tangga yang membawanya ke great hall mendadak bergeser. Membuat perjalanan nya lebih lama dari yang seharusnya. Dan di ujung tangga atas Scorpius melihat Albus Potter yang terlihat berkonsentrasi menuruni tangga sambil membawa pot lumayan besar. Sepertinya proyek herbology yang belum sempat dia pindahkan ke rumah kaca.
Baru saja Scorpius memutuskan untuk mengabaikan keberadaan Albus, rentetan suara gaduh segerombolan anak kelas 1 berlarian menuruni tangga.
Itu bukan apa-apa, kalau saja-. Kalau saja seorang anak tak terlihat kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya terdorong cepat membentur tubuh Albus didepan.
Sang anak berhasil menahan tubuhnya dengan berpegang pada pegangan tangga. Tapi naas bagi Albus. Tangan yang tidak bebas plus efek kejut yang masih dirasakan, membuatnya tak sempat mencari pegangan.
Scorpius mencelos dan instingnya memerintahkan untuk menyelamatkan Albus. Tapi insting juga menumpulkan rasionalitas nya. Alih-alih menarik tongkat, Scorpius justru melesat ke atas berusaha menahan tubuh Albus. Yang mana itu malah membuat keduanya terlempar jatuh tak terselamatkan.
Suara debamaman orang jatuh dan pecahan pot yang terlempar bergaung keras.
"Argghhh."
"Argghhh."
Dan pekikan kesakitan.
"Fuck." Albus mengumpat.
Buru buru Albus berusaha bangkit setelah sadar telah menjadikan orang di bawahnya matras darurat.
" Oh... God! Scorp!" Pekiknya kaget mengetahui jika orang ia timpa adalah Scorpius.
Scorpius terbaring dengan mata terpejam. Albus yang mengira Scorpius pingsan, berulang kali memanggil namanya panik. Juga menepuk-nepuk pipi Scorpius.
"Scorpius. Kau kenapa? Buka matamu, Scorpius. Sialan! Scorp.." nada kalut kental sekali.
Sebenarnya Scorpius bukannya pingsan. Dia masih sadar dan masih mendengar jelas suara panik Albus yang memanggil karna Scorpius sendiri masih shock atas tindakan spontan tadi, dia merasa harus menenangkan diri dulu. Berusaha mengembalikan rasionalitasnya.
"Cepat panggil bantuan, bocah-bocah sial!" Albus yang meneriaki oknum bocah-bocah tadi. Di susul suara derap langkah yang terburu.
"Scorpius..." Albus kembali memanggilnya.
"Shut up.." gumam Scorpius pelan masih dengan mata terpejam.
Albus terkesiap dan berangsur lega.
"Scorpius.. kau okey? Apa yang kau rasakan?"
Kali ini Scorpius membuka matanya perlahan. Bila tak ingat hubungan mereka saat ini, Scorpius pasti sudah melempar olokan, melihat ekspresi kalut Albus.
"Yeah. Kurasa oke." Jawab Scorpius. Melihat Scorpius berusaha bangun, Albus segera ikut membantu.
"Akhhh." Scorpius mengerang, merasakan bagian tubuhnya ada yang berdenyut nyeri. Semakin lama rasa sakitnya menajam. Oh shit. Di tekannya bagian yang menjadi sumber rasa sakitnya. Bahu kanan.
"Scorp..." Albus menatap khawatir. Scorpius memutar wajahnya ke arah Albus. Beberapa saat keheningan menyelimuti, sebelum akhirnya Scorpius mengumpat lunglai.
"Hell shit...!"
"Merlin. Al. Apa yang terjadi.?" Rose berjalan cepat ke arah Albus dan Scorpius. Keduanya terengah tapi Scorpius juga meringis kesakitan.
"Rose, please we need help." Ucap Albus kalut.
"Masuklah, cepat baringkan dia disini." Instruksi Rose yang ikutan panik.
Albus membantu Scorpius duduk bersandar di kasur terdekat dan melepasnya hati-hati.
"Mana madam Pomfrey?" Albus celingukan.
"Dia sedang izin cuti sehari. Apa yang terjadi?" Rose mengeluarkan tongkatnya dan mendekat ke Scorpius.
"Fuck!" Scorpius merasakan bahu kanannya ngilu. "Jadi aku akan sekarat sehari?! Fuck" umpatnya menahan rasa sakit.
Tenanglah Malfoy. Kau akan baik-baik saja. Sekarang katakan bagian mana yang terasa sakit?" tanya Rose berusaha tak terganggu dengan bahasa kasar yang begitu ringan mengalun.
"Kenapa? Supaya kau bisa memperparahnya?" sungut Scorpius sinis. Rose mendelik jengkel. Astaga.
"Albus.." panggil Rose dengan gigi bergemeretak, menahan emosi. Percuma menanyai Malfoy langsung. Tapi Rose harus tau kondisi detailnya dulu baru bisa mengambil tindakan. Dia tidak mau dianggap malpraktek saat madam Pomfrey sudah menaruh kepercayaan.
Albus yang tanggap situasi, langsung mengambil alih pembicaraan. Dia menjelaskan dengan cepat agar Scorpius bisa segera di obati.
Kesimpulannya, Scorpius mengalami cedera di bahu kanannya juga angkle kaki kanan, setelah jatuh tertimpa Albus.
Rose menatap ngeri pada penjelasan Albus, tapi ini bukan saatnya mengkonfrontasi sepupunya soal bagaimana insiden sial itu terjadi. Dia harus segera bertindak sebelum Malfoy kembali berujar...
"Argg. Fuck"
Damn it.
Setelah Scorpius melepas seragamnya di bantu Albus, Rose mengayunkan tongkatnya kebahu Scorpius dan menggumam episkey . Juga Ferula untuk kaki. Tak terdengar lagi ringisan dari Scorpius. Lalu Rose pergi ke bilik obat dan kembali dengan gelas berisi ramuan.
"Minum ini." ujarnya sambil menyodorkan gelas.
Scorpius tak langsung mengambilnya. Matanya menyipit menatap cairan gelap dan berbau tak sedap itu. "Ini racun? tanyanya skeptis. Rose tidak ingin memutar mata, tapi dia tidak bisa.
"Percayalah aku inginnya juga memberimu itu, tapi sayangnya ini bukan. Kau bisa menuntutku jika setelah kau minum ini terjadi sesuatu Malfoy. Bahkan jika itu satu bulu hidung mu rontok." jawab Rose malas.
Akhirnya dengan terpaksa Scorpius menenggak cairan itu. Tak hanya warnanya yang mengerikan, rasanya jauh lebih mengerikan. "Oghk., Shit."
Scorpius setengah membanting gelas itu untuk melampiaskan rasa tak enak di mulut nya. Albus ikut bergidik melihatnya. Merlin, jangan sampai dia masuk ke Hospital Wings.
Rose mengisi gelas lain air putih dengan jentikan tongkatnya. Setelah memberikan itu pada Scorpius, dia kembali masuk ke bilik dan kembali dengan piyama pasien.
"Dengar. Yang kulakukan tadi hanya meringankan rasa sakitnya. Belum sepenuhnya sembuh. Cedera di kakimu tak terlalu parah, tapi bahumu cukup parah. Sementara, kau harus rawat inap. Pakailah. Setelah itu aku akan men-gips tanganmu." jelas Rose.
Scorpius masih terus menggerutu perihal rasa tak enak yang tak juga hilang dari mulutnya.
Memangnya dia anak-anak? Rasa begitu saja tidak bisa di tahan. Pikir Rose diam-diam.
Rose menurunkan tongkatnya, setelah merasa lengan kanan Malfoy tergips dengan baik. Lalu ia membereskan gelas ramuannya. Menaruh kembali di rak setelah mengayunkan mantra pembersih.
Tak sangaja matanya melihat ke kotak berisi permen yang dia bawa sebagai kudapan. Ragu, Rose melirik bergantian antara Scorpius dan kotak permennya. Kemudian Rose memutuskan memilah permen2 itu, dan mengambil satu.
"Malfoy." Rose berdiri di samping Scorpius. Cowok itu mendongak dengan wajah terganggu.
"Buka mulutmu."
Albus diam memperhatikan. Scorpius yang berpikir ini masih bagian dari pengobatan membuka mulutnya enggan.
"Tsk. Lebih lebar." Rose mendecak. Scorpius memelototi Rose kesal, tapi gadis itu tak peduli. Tetap pada tuntutannya.
Menahan arogansinya, Scorpius membuka mulutnya lebih lebar. Tuk! Sesuatu tiba-tiba melompat kedalam mulutnya dan membuatnya hampir tersedak. Brengsek! Cewek itu melempar sesuatu seperti kelereng kedalam mulutnya.
"What the f..." umpatan nya tak selesai begitu sesuatu seperti kelereng itu menguarkan rasa manis di mulut nya.
Permen? Rasa madu, kesukaannya. Scorpius menyesap permen itu lebih dalam. Mendesah lega saat rasa tak enak di mulut nya berangsur hilang. Dan dia mendapati Rose Weasley menyeringai padanya. Sialan! Demi melindungi pride-nya Scorpius membuang muka.
"Sama-sama Malfoy." ucap Rose sarkas dengan perasaan menang.
"Tutup mulutmu!" Scorpius mendengus. Albus menahan dirinya tidak tertawa.
"Aku akan memberi tahu Profesor Mcgonagall dan Profesor Davis (Guru pertahanan ilmu hitam sekaligus kepala asrama Slytherin)." Rose berkata sembari melepas dan melipat celemeknya.
Berlalu tanpa menunggu jawaban dari dua cowok itu. Sebenarnya bisa saja dia minta Albus yang melapor. Tapi jika itu berarti dia harus menghabiskan beberapa menit menghirup udara yang sama, dengan Malfoy..? tidak terimakasih.
Selepas kepergian Rose, suasana jadi terasa awkward. Yah setelah semua yang terjadi, back to normal its not that easy. Tapi Albus memutuskan duduk di ranjang samping Scorpius.
"Kau oke?" tanya Albus.
"Mmh mm". Scorpius mengangguk samar
"Malfoy,, dengar.. ak- aku..." menghela nafas "...sori... dan thanks." Albus menyerah merangkai kata.
Scorpius menarik nafas pelan. "Lupakan saja."
"Tapi...".
"Hentikan! Tingkahmu membuat ku merinding." Potong Scorpius sambil mengusap lengan dengan tangan yang tak terluka.
Keduanya bertatapan. Sama seperti saat kemenangan Quidditch mereka di tahun ke-3. Atmosfer berat yang menyelimuti berangsur menipis. Kemudian lenyap, saat keduanya saling menyeringai dan tertawa pelan.
To be continued
Well,, well... Ternyata lebih molor dari perkiraan. Entah deh, akhir-akhir ini inspirasi nya jadi agak buntu. Maaf-maaf aja kalau jelek. Karna itu kritik saran sangat di butuhkan.
Anyway, makasih buat yang udah baca. Dan semoga bisa jadi hiburan di tengah muramnya, musim pandemi.
Stay safe and healthy ya semua. jangan lupa review or fav or follow ya.
Makasih buat review nya pada missgranger26, Devo Granger, kanzaki27, YR. Sori review nya aki bales lewat PM. Pokoknya thank you banget deh. Seneng banget masih ada yang review cerita aku...
