7. Nursing Enemy
Well, just for your information cerita ini juga di upload di wattpad dengan chapter yang lebih jauh. Untuk kedepannya ff ini akan di lanjut disana. Anyway thanks buat yang udah baca ff gaje ini...
***""
Rose, berjalan bersama profesor Mcgonagall menuju hospital wings sembari menjelaskan kondisi Malfoy dan penanganan yang telah dia lakukan. Sedangkan profesor Davis akan menyusul setelah kelasnya di angkatan 7 Slytherin dan Hufflepuf lama mereka sampai di ruang rawat hospital. Di sana ternyata sudah ada Timothy Nott, Calbert Goyle dan Quinn Zabini yang menempel erat pada Scorpius Malfoy. Rose menatapnya sekilas tak peduli pada aura permusuhan yang secara gamblang di tujukan Quinn padanya. Dengan tenang Rose berjalan dan berdiri disamping Albus yang menyapa Profesor Mcgonagall sekilas.
"Bagaimana keadaanmu Mr. Malfoy ?" tanya Mcgonagall.
"Saya baik Profesor. Setidaknya lebih baik."
Profesor Mcgonagall mengangguk lega. "Syukurlah. Apa aku perlu mengabari orang tuamu?" tawarnya.
"Tidak perlu Profesor." Tolak Scorpius. Rose diam-diam mengangkat alis salut, karna dia pikir Scorpius bakal merengek minta di panggilkan orang tuanya.
"Apa maksudmu tak perlu, Scorpie? Tentu kita harus. Ibumu pasti cemas." tukas Quinn.
"Tidak. I'm fine, oke. Lagipula aku pasti cepat sembuh. Jangan lakukan yang tak perlu. Mengerti?!" pinta Scorpius. Quinn mengerucut bibirnya, tapi dia mengedikan bahu, tanda terserah..
"Kau yakin Mr Malfoy.?"
"Ya Profesor. Biar saya kabari lewat surat saja dan mengatakan agar mereka tidak perlu khawatir" Jawab Scorpius meyakinkan. Well ini melegakan jika wali murid tak perlu terlibat.
"Baiklah. Semoga kau cepat sembuh, pihak sekolah akan semaksimal mungkin melakukan perawatan." Ucap Mcgonagall sambil menatap Rose. Dan Rose mengangguk siap.
Kemudian dari pintu muncul lagi dua orang, Profesor Davis dan Viktor Webster kapten Quidditch Slytherin. Mereka saling menyapa dengan Profesor Mcgonagall sebentar lalu mendekat ke ranjang Scorpius. Quinn cukup tau diri untuk berdiri dan bergeser memberi tempat bagi Wali Asramanya. Rose juga bergeser memberi tempat untuk Viktor. Albus dan Viktor saling menyapa lirih.
"Boy." Profesor Davis, meremas pelan pundak Scorpius yang tak terluka.
"Profesor." Balas Scorpius.
"Mate." Giliran Viktor menyapa. Scorpius mengedikan dagu dan membalas 'Yo'.
"Bagaimana keadaanmu?" lanjut Profesor Davis. Same question, same answer. Tapi mendadak Scorpius tampak teringat sesuatu. Itu pasti salah satu alasan kenapa Viktor sampai menjenguknya.
"Wesley. Kira2 berapa lama sampai aku bisa benar-benar pulih.?" Tanya Scorpius.
Rose yang mendadak di tanya dan jadi pusat perhatian, agak tergagap.. "Emh itu.. karena kakimu cedera ringan mungkin dalam seminggu kau sudah bisa berjalan. Dislokasi bahumu cukup parah, jadi mungkin perlu di gips 2-3 minggu. Untuk benar-benar pulihnya kurasa harus menunggu sampai 1 bulan. Tapi untuk pastinya, lebih baik kita menunggu hasil pemeriksaan madam Pomfrey dulu."
Rose tidak tau apa yang salah dengan penjelasannya, sampai-sampai para penghuni Slytherin itu mendadak terlihat frustasi. Dia melihat Malfoy berkata 'damn it' tanpa suara, dan Albus yang mengerang kesal. Bahkan muka dingin Profesor Davis tampak goyah sesaat.
"Kita bicarakan ini besok, setelah mendapat kepastian dari madam Pomfrey terkait kondisi Scorpius. Sekarang kita biarkan dia istirahat." titah Profesor Davis pada murid asramanya. Mereka mengangguk setuju.
"Baiklah. Aku juga harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Profesor Mcgonagall menyela. "Miss Weasley. Untuk selanjutnya aku serahkan padamu."
"Baik Profesor." Jawab Rose.
"Oh ya. Berhubung madam Pomfrey tidak ada, dan ada pasien inap disini, apa kau bersedia bermalam disini malam ini?" lanjut Mcgonagall.
Bloody hell. Memang sih, dia tak punya alasan untuk bilang tidak. Terlebih ini juga bagian dari tugasnya. Tapi... Berada satu malam di ruang yang sama... dengan Malfoy? Tidak.. tidak. Ini buruk. Tak terbayangkan. Tidak bisa...tidak bisa...
"Tidak bisa!"
Wait. Apa suara hatinya baru saja keluar? Apa Rose tanpa sadar menyuarakan pikirannya?
"Saya keberatan Profesor." Oh ternyata pemuja no wahid Malfoy. The Queen -Quinn Zabini-.
Thanks God. Rose lega karna kewarasannya masih utuh hingga pikiran penolakannya tak keluar. Bisa habis kredibilitasnya di depan Profesor Mcgonagall.
"Kenapa Miss Zabini?" tanya Profesor Mcgonagal tapi bukan dalam artian dia akan menyetujui keberatan Quinn.
"Profesor. Biar saya saja yang menemani Scorpius malam ini." Quinn mengajukan diri. Membuat semua orang menatapnya.
"Tidak. Miss Weasley yang akan melakukannya karna itu tugasnya. Dan aku tidak akan mengambil resiko menyerahkan perawatan siswa yang sakit pada seorang yang bukan ahlinya." Tolak Mcgonagall.
Rose meneguk ludah kaku. Sebagai orang yang selama ini berseteru dengan Malfoy dia lega jika bisa menyerahkan perawatan Malfoy pada orang lain. Tapi sebagai calon healer dia juga tidak bisa sembarangan lepas tanggung jawab. Karna itu Rose dibuat bingung dengan perasaannya yang lega sekaligus gelisah. Saat mengerling ke arah Malfoy, dia bersumpah melihat Malfoy bertampang lega atas penolakan Profesor Mcgonagal. Hal itu membuatnya mengernyit heran. Apa itu berarti dia sendiri tak ingin dirawat Quinn? Tapi kenapa? Bukankah mereka dekat? Bahkan mungkin mereka couple?
"Tapi Profesor. Saya tidak percaya Weasley akan merawat Scorpius dengan baik. Bagaimana jika dia malah memanfaatkan kesempatan saat Scorpius lemah seperti ini untuk berbuat buruk padanya. Anda tau sendiri bagaimana hubungan mereka selama ini." Kata Quinn bersikeras.
Rose memicingkan mata. Jelas tersinggung. Harap dicatat, kalo dia adalah Gryfindoor bermartabat yang pantang melakukan hal-hal picik macam itu. Seandainya tidak ada kedua Profesor disana, Rose pasti sudah melontarkan opugno pada Quinn.
"Miss Zabini." Suara Mcgonagall tenang tapi dingin. Ada intimidasi tersirat dalam caranya berbicara. "Biar aku luruskan. Alasanku bertanya, bukan karna aku ingin dan akan mempertimbangkan penolakanmu. Itu hanya bentuk kesopananku pada kepala Asramamu." Mcgonagall berhenti sebentar melihat ke arah profesor Davis yang tampak sungkan. "Terlebih mendengar alasanmu yang tidak berdasar dan tampak dibuat-buat. Jadi tidak ada alasan merubah keputusan. Lihat! Miss Weasley menangani Mr. Malfoy dengan baik. Benar?" Profesor Mcgonagal meminta klarifikasi dari si pasien. Dan Malfoy mengangguk sekilas.
"Scorpius. Kau ingin cewek itu disini bersama mu semalam?" tanya Quinn sengit. Berharap Scorpius berpihak padanya.
"Tidak masalah Quinn." Jawab Scorpius tenang. 'Dari pada bersamamu' lanjutnya dalam hati.
"Scorp!" Quinn berseru tak trima.
"Cukup! Aku tidak akan membuang waktu lebih lama lagi untuk perdebatan sia-sia ini." Potong Profesor Mcgonagal.
"Profesor..." protesan Quinn terhenti oleh isyarat tangan Profesor Davis.
"Cukup." Perintah Profesor Davis tak ingin di bantah. Image Slytherin tak boleh tercoreng dihadapan kepala sekolah. Dan itu akhir dari pertemuan hari itu. Satu persatu mereka pamit meninggalkan hospital wings. Quinn yang sebelumnya masih bersikeras tinggal terpaksa pergi karna ada kelas yang masih harus dihadiri. Dan dia tidak mungkin bisa bolos karna itu pelajaran Profesor Davis. Beruntung kelas Rose sudah selesai pagi tadi untuk hari ini. Jadi dia bisa berjaga di hospital wings sampai akhir hari.
***"""
Setelah di tinggal berdua, keadaan canggung tak terelakkan. Tapi tampaknya mereka berdua sama-sama sedang tak ingin bersitegang. Jadi ketika Rose menyarankan Scorpius untuk tidur agar efek obatnya bekerja. Scorpius hanya mengangguk. Saat Scorpius bersiap memejamkan mata, Rose memberitahu, "Aku akan berada di bilik pembuatan obat. Panggil saja kalau kau butuh sesuatu."
"Hem." Scorpius menggumam sebagai jawaban.
Scorpius menggeliat pelan, rasa kantuknya sudah terpuaskan. Melihat lampu yang menyala, sepertinya hari sudah gelap. Efek obat membuatnya tidur cukup lama. Dia merotasi pandangannya ke sekeliling dia menemukan Rose Weasley yang sudah berganti baju bebas, duduk bermeja ranjang di seberang. Beberapa buku tertumpuk di satu sisi dan ada beberapa gulung perkamen. Gadis itu tampaknya sedang mengerjakan salah satu prnya. Scorpius mencoba bangun. Suara derit dan erangan pelannya membuat atensi Rose teralih.
"Kau sudah bangun?" Rose berjalan mendekat. "Butuh sesuatu?"
"hm. Air." Bisik Scorpius lirih. Tenggorokannya terasa sangat kering. Rose meninggalkan Scorpius sebentar dan kembali dengan gelas berisi air. Scorpius menerimanya dengan tangan kiri meski agak kikuk.
"Jam berapa sekarang?" tanya Scorpius usai menenggak habis airnya.
"Sekitar jam 6" Rose mengambil gelas dari tangan Malfoy. "Mau makan sesuatu? Kupikir kau melewatkan makan siangmu. Dan ini sudah hampir jam makan malam. Kit- maksudku kau bisa makan malam lebih awal kalau mau." Tawar Rose canggung. Dia lalu berjalan ke bilik untuk menaruh gelas.
"Tidak. Aku tak punya nafsu makan saat ini." tolak Scorpius.
Rose kembali ke sisi ranjang, "Yeah oke. Tapi tubuhmu tetap harus terisi sesuatu." Rose lalu memanggil peri rumah yang bertugas menyiapkan makan malam.
Bunyi 'pooff pelan bergema diikuti munculnya peri rumah. "Hei Doria." Sapa Rose.
Sang peri rumah menundukkan kepala sekilas. "Selamat malam Miss Weasley. Anda butuh sesuatu.?"
"Ya Doria. Bisa ambilkan kami makan malam? Untukku buatkan saja sandwich isi kalkun tanpa keju. Minumnya tidak perlu. Aku masih punya coklat panas disini. Kau mau apa Malfoy?"
"Aku sudah bilang tak nafsu makan. Apa kau benar-benar menderita kepikunan?" kesal Scorpius.
"Dan aku juga sudah bilang kau harus makan. Memang kau mau sakitmu bertambah gara2 malnutrisi? Cream mushroom soup bagaimana? Kau tak perlu mengunyah tinggal telan saja." Ucap Rose bersikeras.
Scorpius mendengus "Terserah." Dia harus menghemat energi daripada berdebat tidak penting.
"Oke." Rose kembali ke Doria si peri rumah. " Itu saja Doria dan tambahkan jus labu untuknya.. Terimakasih."
"Baik Miss. Tolong tunggu sebentar." Lalu suara pooff lagi dan Doria hilang meninggalkan sedikit asap.
Sembari menunggu makan malamnya Rose membuat segelas coklat panas. Beberapa menit berselang Doria kembali muncul dengan nampan berisi sepiring sandwich dan semangkuk cream mushroom soup yang mengepul. Aroma soupnya sungguh menggugah. Rose keluar sambil membawa meja kecil. Menaruhnya di atas ranjang Scorpius dan mengambil nampan dari tangan Doria untuk di letakkan pelan- pelan di meja kecil itu.
"Terimakasih Doria."
"Sama-sama Miss. Saya permisi."
"Sebentar." Tahan Rose. Dia mengeluarkan beberapa Snack dari kantong jaket nya. "Ini untukmu Doria."
Doria tampak sangat senang. "Terimakasih Miss Weasley. Terimakasih." Katanya berulang sambil membungkuk. Rose ikut tersenyum. Setelah Doria hilang, Rose berbalik masih dengan senyum diwajah. Lalu matanya bertatapan dengan Malfoy yang sedari tadi ternyata melihatnya. Perlahan senyumnya memudar dan dia berdehm singkat.
"Dermawan sekali." Cibir Scorpius. Rose memutar mata dan mendengus. Abaikan! Abaikan! Perintah hatinya.
Rose mengambil piringnya dan hendak membawanya ke ranjang sebrang tempat dia mengerjakan tugas sebelumnya. Saat kemudian melihat Scorpius sangat kikuk menyendok soup creamnya. Dia termenung sesaat. Kalau pasien lain dia pasti tanpa pikir panjang akan membantu menyuapinya. Tapi kalau Malfoy, alih alih membiarkannya membantu, sepertinya cowok itu malah mungkin akan marah2 dan mengamuk tidak jelas. Makhluk pirang satu ini kan hanya punya pikiran negatif padanya. Tapi melihat beberapa tetes soup yang tercecer Rose tidak bisa tinggal diam.
Rose menghampiri Scorpius dan mengeluarkan tongkatnya. "Apa yang mau kau lakukan pada makananku?" cegah Scorpius defensif, sambil menghalau tongkat Rose yang terarah pada ?!
Rose mengabaikan Scorpius, dan tetap bergumam. Sendok soup Scorpius kemudian bergerak perlahan sendiri. Menyendok sendiri tanpa tumpah dan melayang menuju sisi mulut Scorpius.
"Membantu." Jawab Rose agak ketus. Scorpius melihat sendok soupnya melayang sendiri.
"Hoi!" serunya tampak tak suka. "Hentikan ini.!" Perintahnya.
"Kenapa? Kau kan kerepotan menggunakan tangan kiri. Begini lebih mudahkan." Rose mencoba berargumen.
"Tidak! Aku tidak suka! Tidak mau. Ini menggelikan." Scorpius mati-matian menolak.
"Jangan keras kepala Malfoy. Lihat soupmu berceceran di mana mana kalau kau makan sendiri."
"Tetap saja! Aku tidak mau melihat sesuatu melayang-layang menghampiri wajahku!" Scorpius sedikit berteriak. "Jadi hentikan!"
Rose melipat bibir kesal. Sebelum suasana makin memanas dan mereka saling berteriak Rose membatalkan mantranya. Sendok itu berangsur turun. Air muka Scorpius mengendur.
"Terserah." Rose bergumam. Memutuskan tak mau tau lagi soal Scorpius dan soupnya. Rose membawa makan malamnya ke seberang ranjang. Mereka menikmati makan malam dalam diam.
"Tsk. Shit!" umpatan pelan dari Scorpius. Rose melirik sekilas, sepertinya ada tumpahan soup di bajunya. Tapi Rose tak peduli. Tetap menggigit sandwichnya dengan nikmat sambil membaca bukunya.
"Brengswek." Umpatan lain. Kal ini sepertinya soupnya masih terlalu panas. Rose masih tak peduli.
"Arghhj" itu erangan kekesalan. Lalu ada suara dentingan yang cukup menganggu. Sepertinya stok kesabaran Scorpius terlalu tipis, dan dia melampiaskannya pada makanan.
Yak cukup. Rose juga ternyata tidak punya kesabaran lagi. Di tinggalkannya sandwich yang masih separuh. Dan berjalan menghentak ke arah Scorpius. Melihat Rose yang mendekat dengan muka masam Scorpius memasang mode siaga.
"Ap.." pertanyaan Scorpius tak selesai melihat Rose tau tau sudah menyodorkan sesendok soup padanya.
Scorpius menatap ragu dan waspada. Rose lebih mendekatkan sendoknya dan mengisyaratkan agar Scorpius melahapnya.
"Cepatlah. Tanganku hampir mati rasa." desak Rose karna Scorpius tak kunjung membuka mulutnya. "Tak ada lagi sendok melayang, soup mu juga tidak tumpah, kau tidak kepanasan. Apalagi? Kau mau orang lain? Biar ku panggilkan. Siapa? Gimana dengan Quinn Zabini. Diakan..."
Hap. Rose berhenti nyerocos saat Scorpius melahap makanan yang ia suapkan. Lalu satu suap lagi diikuti suapan-suapan berikutnya. Keduanya menahan untuk tidak mengeluarkan komentar apapun. Karna mereka tau begitu salah satu bersuara akan tersulut sumbu kecil pertengkaran berikutnya. Mau gimana lagi, sinisme dan sarkasme adalah bentuk mutlak komunikasi mereka sampai hari ini. Ini kan bukan cerita roman dimana pagi hari mereka saling benci petangnya mereka jadi kekasih. Haha. Sepertinya Salazar dan Godric tengah minum teh bersama di alam sana.
Selesai makan Rose membereskan perkakasnya dan memanggil peri rumah lagi untuk mengambil. Setelah peri rumah hilang, keheningan kembali menyelimuti. Rose memilih kembali ke buku buku dan perkamennya. Scorpius sendiri tidak tau mau ngapain. Tidak mungkin dia kembali tidur saat baru bangun satu jam lalu. Tapi dengan kondisi sekarang apa yang bisa dia lakukan untuk mengusir kebosanannya. Lalu pandangannya tertuju pada Rose yang tengah serius.
"Weasley." Panggilnya.
"Hem." Jawab Rose bergumam sambil tetap fokus pada tulisannya.
"Weasley.." lagi.
"Tsk. Kenapa Malfoy?" tanya Rose agak terganggu, tapi atensinya masih sama. 'Gugusan bintang lahir bersebadan didalam awan molekul raksasa dan...'
"Weasly."
'... Weasley...' eh.
Aargh. Shit. Sialan..#$$##$$. Gara-gara Scorpius memanggilnya terus Rose jadi menulis namanya di laporan Astronominya. Brengsek. Setengah membanting pena bulunya Rose mengerang frustasi. Karna tintanya tinta khusus jadi tidak bisa diperbaiki dengan sihir. Rose mendeathglare Scorpius tajam.
"Kau..!" geramnya. Rose menghampiri Scorpius dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. Tapi Scorpius tidak keder. Masih tetap kalem.
"Apa-apaan ulahmu tadi?!" Sembur Rose berkacak pinggang.
"Aku bosan Weasley." Keluh Scorpius tanpa rasa bersalah.
Urgh! Rose memijit dahinya. Pening dengan segala macam kelakuan eksistensi satu ini. RIP Malfoy yang kooperatif satu jam lalu. Dalam hati Rose bergumam. . Dia pasien Rose. Hadapi dengan kepala dingin. .
"Malfoy." Ucap Rose setelah satu hembusan besar. "Jadi kau butuh apa untuk menghilangkan kebosananmu?" tanyanya dengan bibir terkatup sambil tersenyum tak ikhlas.
"Entahlah." jawab Scorpius ambigu. Rose menggigit bibir bawahnya jengkel. "Coba lakukan sesuatu untuk menghiburku?"
"APA?!" habis sudah kesabaran Rose. Rasanya dia ingin menggunduli kepala pirang itu agar selicin jalanan bersalju.
"Jangan berteriak pada pasien." Scorpius memperingati. Oh ini menyenangkan sekali. Membuat Rose Weasley meledak-ledak tak pernah membuatnya bosan.
"Dengar Malfoy." Rose mencoba menahan emosi. "Kau bosan? Bagaimana kalau membaca? Walau dengan tangan kiri membaca bukan hal sulit tentunya. Aku bawa Astronomi tingkat lanjut, Pemeliharaan satwa gaib dan Sejarah sihir pasca pemberontakan di east end. Kau mau yang mana?" tawar Rose.
"Lawakanmu payah Weasley." Cemooh Scorpius.
"Aku serius." Balas Rose tegas. Scorpius mengerutkan dahi dan menaikkan sebelah alis, masih mempertanyakan keseriusan Rose. Tapi gadis itu benar-benar serius.
"Yang benar saja Weasley, aku ini butuh hiburan bukan pengajaran."
"Buku juga salah satu hiburan."
"Ya. Kalau buku prono." Kata Scorpius sambil menyeringai geli. "Pokoknya lakukan sesuatu atau kita bisa terus berdebat. Inipun cukup menghibur."
Rose mengusap lehernya lelah. Ahh. Sstress. Saat berusaha menenangkan syarafnya yang tegang, dia teringat sesuatu. Rose bergegas mengambil tasnya. Merogoh sebentar dan menarik sebuah buku yang kelihatannya lumayan lusuh. Covernya bergambar pohon dengan latar danau biru dan potongan 2 pulau di kedua sisi. Ada tulisan besar Nicholas Sparks. Di bawahnya tertulis a walk to remember. Menimbang sebentar, Rose seolah meyakinkan diri.
Dia akhirnya mantap membawa buku itu ke Scorpius. "Buku cerita. Bagaimana? Ini oke?"
"Bergambar?" Malfoy menyindir.
"Bukan. Semua tulisan. Mau coba?" Rose berharap.
"Ayolah Malfoy! Buat ini mudah. Aku harus mengerjakan laporan astronomi ku." Bujuknya lebih keras karna Malfoy masih tampak sok berpikir.
"Kemarikan.!" Scorpius mengulurkan tangannya. Buku itu hampir menyentuh tangan Scorpius, tapi Rose menariknya kembali.
"Dengar jangan macam-macam dengan bukuku. Segala jenis perusakan yang sengaja kau lakukan, akan menumbuhkan jerawat di seluruh wajah mulusmu itu. Mengerti.?!" Kata Rose memperingati.
"Ck. Cerewet. Jadi kau pinjamkan atau tidak?" ketus Scorpius.
Akhirnya serah terima buku itu terjadi juga. Rose menghela nafas lega walau agak tak rela buku kesayangannya di bawa musuhnya.
Malfoy terlihat membolak-balik buku itu sekilas. 'A walk to remember.' gumamnya pelan. Seperti de javu, rasanya ia pernah tau buku itu.
"Rasanya ini tidak asing." Gumam Scorpius. Di bukanya lembaran lembaran buku itu. Buku yang aneh. Tak tampak seperti buku di dunia sihir. Ah. Memang bukan buku dari dunia ini.
"Hei." Panggil Scorpius.
"Hm." Rose mendongak.
"Ini buku muggle yang waktu itu kan?" tanya Scorpius.
"Waktu' itu' kapan?" Rose balik tanya.
"Itu. Perpustakaan orang tuamu. Waktu kau nangis baca sesuatu sampai hidungmu merah besar. Buku ini kan?" raut wajah Scorpius tampak geli saat mengingat hal itu.
Rose terkesiap. "Kau ingat?" tanya Rose dengan nada gamang.
"Hem. Ya." Jawab acuh.
Dia ingat? Oh, dia ingat. Pikir Rose tak sangka. Scorpius Malfoy ingat. Lalu kenapa? Kenapa Rose merasa sesuatu berdesir di dadanya mengetahui jika Scorpius ingat pertemuan pertama mereka? Mengapa perutnya terlilit tak nyaman?
***"""
Tak pernah hospital wings seramai inj. Bukan karna ada wabah dadakan atau apa. Tapi ramai dengan tema 'kunjungan para pemuja Malfoy'. Udah ramai berisik-nya jangan di tanya. Kalau saja ada pasien lain yang dirawat Rose mungkin akan mengusir mereka karna mengganggu kenyamanan.
~Hah~. Rose malah yang capek melihat bagaimana mereka berjubelan untuk sekedar bertanya 'Scorpius kau baik-baik saja?'
Wait! Apa dia tidak salah lihat?. Ada sejumput rambut merah yang tampak di sela-sela kerumunan itu. Merah seperti rambutnya. Rose mendekat untuk lebih memastikan. Dan seperti sangkaannya, pemilik rambut merah itu adalah Lily.
Terkejut bukan main, Rose segera menarik tangan Lily keluar. "Lily! What the hell are you doing?"
Lily-pun sama terkejutnya. "Rose.. ak-aku hanya ingin menjenguk Malfoy." Lirihnya tampak salah tingkah.
Rose menepuk jidat. "Lils, lihat kumpulan itu, banyak ular betina disana. Kau bisa dalam masalah nanti." Gemas Rose cemas.
"Eum.. maaf Rose. Aku hanya ingin tau keadaannya. Diakan juga pernah menolong ku." Cicit Lily. Mungkin salah satu alasan memang karna dorongan nurani, sebagai seseorang yang pernah diselamatkan. Sejujurnya masih ada alasan lain. Tapi Rose akan mengetahuinya nanti. Saat itu mungkin akan terjadi perubahan besar dalam arus hidupnya.
"Jadi bagaimana keadaannya? Apa parah?" lanjut Lily .
"Well. Cukup parah. Tapi pasti sembuh. Yang lebih penting, jangan ulangi lagi perbuatanmu. Kau bisa menyapanya setelah cewek2 itu bubar. Oke?" arah Lily mengangguk patuh. Bukan tanpa alasan Rose cemas. Oknum insiden jatuhnya Lily ke danau juga ulah betina Slytherin tingkat 4. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan lagi. Lily masih belum mahir menggunakan sihir untuk pertahanan diri.
"Aku harap Malfoy segera sembuh." Ujar Lily pelan.
"Ya aku juga berharap demikian. Percayalah!" balas Rose sambil menatap Malfoy dari sela kerumunan. Sejak pembicaraan mereka semalam, Rose selalu merasa tak nyaman berada di sekitar Malfoy. Dan dia tak suka. Rasanya dia seperti hendak lari dari sesuatu. Entah apa itu.
