Lucky 7!!!
by
Betelgeuse Bellatrix
Disclaimer: Monsta
Warn: elemental siblings! Typo(s), kata tak baku, dan lain kesalahan yang menjadi kekhilafan saya.
Bromance! Brotherly Love!
xxxxx
Amato mana tahu ia dan istrinya memiliki gen superior yang membawa mereka memiliki tujuh anak. Tiga kali kelahiran, tujuh saudara, laki-laki semua pula. Kelahiran pertama, mereka mendapat kembar tiga kemudian kelahiran kedua dan ketiga, kembar dualah yang menghiasinya.
Anehnya, mereka semua memiliki wajah yang nyaris mirip semua, tampan seperti Amato, hehe. Yang cukup membedakan mungkin mata mereka yang berbeda-beda. Iya, dia saja bertanya-tanya pernah makan apa istrinya hingga putra-putranya bisa begitu. Amato sering salah memanggil mereka, jadi istrinya selalu memakaikan baju yang berwarna khas seperti mata mereka.
Kembar terakhir mereka adalah Thorn dan Solar. Pada awalnya Amato ingin menamakan mereka Foto dan Sintesis, jangan tanya mengapa. Istrinya menolak mentah-mentah dan memberengut sebal karena Amato itu 'sense of name' nya sangat buruk. Habisnya mata Thorn itu hijau seperti daun dan Solar itu entah mengapa cahaya yang penuh percaya diri. Kan pas jika namanya Foto dan Sintesis. Jadi Fotosintesis, hehehe...
Menurut Amato, yang benar-benar mencerminkan bungsu hanya Thorn. Si polos yang baik hati dan menyenangkan. Kalau si Solar itu, apa ya? Jenius jelas seperti Ayahnya. Tetapi sedikit pongah dan agak narsis yang jelas bukan menurun dari Amato. Tapi keduanya Amato akui menjadi satu-satunya kembar yang akur-akur saja. Mana pernah Amato dengar mereka bertengkar. Saat masih kecil saja Thorn selalu memberikan jatah susu dan makanannya pada Solar-Amato yakin ini sebab dari Solar yang lebih jenius dari lainnya terutama Thorn- tanpa bertengkar. Damai lah mereka berdua itu pokoknya.
Solar itu jenius seperti ayahnya-Amato perlu mengulangnya ratusan kali biar jelas- bahkan bisa mengerjakan tugas-tugas kakak pertamanya yang lima tahun lebih tua. Keren, kan? Seperti ayahnya. Tetapi meski begitu, ia jarang menolak keinginan kekanakan Thorn meski ia lebih suka duduk di kamarnya dan membaca buku yang dibeli seminggu sekali. Terkadang Amato melihat mereka duduk berdua di hadapan tanaman-tanaman Thorn yang memenuhi halaman belakang-Amato sering terjaga ditengah malam karena memikirkan rumahnya suatu saat menjadi hutan hujan tropis- dan bicara berdua dengan damai. Tapi Amato yakin, saat itu Solar sedang mendongeng kisah fotosintesis dengan detail dan Thorn mengangguk iya-iya saja padahal masuk di otaknya saja tidak.
Kembar tengah adalah Blaze dan Ice. Awalnya sang istri ingin menamakannya Air dan Api seperti lagu. Tapikan lebih bagus Blaze dan Ice, keren gitu didengar-padahal Amato juga susah kadang memanggil mereka. Kedua anaknya ini apa ya? Kadang Amato susah mendeskripsikan mereka. Mereka itu benar-benar berbeda dari sifat, kepribadian, dan hobi. Tapi mereka nyaris tak terpisahkan, atau lebih tepatnya Balze-nah kan Amato saja menulisnya salah- yang terus menempel pada Ice. Padahal Ice lebih suka tidur dan makan dan tidur dan makan lagi bahkan hingga Ice sedikit obesitas. Blaze lah yang patut diberikan penghargaan karena berhasil membuat Ice jadi kembali langsing dan seksi(?). Sejak saat itu, Ice tak pernah menolak jika Blaze kemana saja.
Blaze itu benar-benar memiliki energi terlampau lebih-bahkan lebih dari kakak pertamanya dan Thorn- yang membuatnya susah diam. Sementara Ice itu, meski tidur dan makan saja hobinya tetapi energinya tak pernah terisi penuh. Keduanya juga merupakan kehamilan paling menyulitkan bagi istrinya karena heboh sekali mereka berdua di rahim-Amato tahu sekarang itu kerjaan siapa. Tetapi sebenarnya, Ice adalah satu-satunya yang dapat menenangkan Blaze. Ketika Ice benar-benar lelah-atau malas- dan Blaze masih semangat, maka Ice hanya akan memeluknya dan mereka berdua akan berakhir tertidur berpelukan dengan sangat manis. Mereka pula yang meminta untuk sekamar meski umur mereka telah menginjak remaja.
Blaze memang sering sekali membuat masalah bersama trio troublemaker, tetapi bersama dengan Ice, ia cukup tenang dan tak susah diatur. Amato nyaris tak ingin memisahkan mereka, karena keduanya sangat melengkapi. Dua saudara yang berbeda namun saling melengkapi.
Kembar pertama adalah bencana. Kehamilan pertama sudah dapat langsung tiga. Karena menjadi yang pertama bagi Amato dan istrinya, maka segalanya terasa seperti bencana yang membawa kekacauan penuh warna. Mengurus mereka bertiga dengan kemampuan pemula sebagai orang tua merupakan pengalaman yang luar biasa.
Halilintar, Taufan, dan Gempa.
Amato dan istrinya membutuhkan waktu dua bulan setelah kelahiran mereka untuk menamainya dengan benar. Satu-satunya penamaan yang keduanya setuju secara bersama. Awalnya mereka hanya dipanggil sesuai iris mereka, hingga nama-nama itu tercipta. Tiga bencana yang membawa kehidupan Amato menjadi penuh tangis, tawa, bangga. Penuh warna.
Halilintar adalah anak pertama. Pembawaannya selalu terlihat marah, jarang tersenyum, dingin, dan kasar. Namun Amato lebih tahu dari siapapun bahwa sebenarnya putranya itu anak yang lembut dan penyayang. Sikapnya saja yang keras yang sebenarnya adalah tembok yang ia bangun dengan kuat untuk melindunginya dan adik-adiknya dari kejamnya dunia. Banyak orang bilang Halilintar itu sempurna-tentu saja, kan seperti ayahnya- karena pandai beladiri, pintar, cerdik, tampan, maskulin, keren, dan lain sebagainya. Tembok besar yang dibangunnya benar-benar mengelabui semua mata. Hanya sedikit yang bisa meruntuhkan temboknya, keluarga dan adik-adiknya terutama.
Setelah delapan menit, lahirlah Taufan. Si anak paling ceria dan berjiwa bebas. Hatinya begitu tangguh dan bersih dari banyak prasangka buruk. Ia menganggap seolah segalanya adalah hal yang positif. Berbeda dengan Thorn yang polos dan menerima apapun yang dikatakan orang lain namun bisa menjadi sangat marah dan mendendam ketika ada yang menyakiti hatinya. Taufan berbeda, ia percaya setiap orang memiliki kebaikan yang tersimpan rapi. Di matanya apapun selalu menjadi positif. Amato bisa melihat inilah yang kadang-kadang yang membuat saudara-saudaranya baik yang lebih tua maupun yang lebih muda cukup terlihat sedikit protektif.
Pandangan orang lain pada Taufan yang kadang tak benar juga menjadi alasannya. Mereka selalu menganggap apapun masalah di sekitar kompleks mereka pasti ada sangkut pautnya dengan Taufan. Berapa puluh kali Amato didatangi tetangga untuk melaporkan Taufan. Beberapa Taufan mengakuinya, beberapa ia bilang tidak. Amato selalu mempercayai Taufan dibanding orang lain. Kadang ia bisa melihat kemarahan mendidih di mata Halilintar dan Gempa ketika tuduhan orang-orang ini tak benar.
Meski begitu, bersama dengan Thorn dan Blaze, mereka adalah trio troublemaker yang bisa kompak bersama. Bersama dengan Ice, mereka berbagi warna yang sama dan sedikit sifat yang sama. Bersama Solar, mereka bisa saling berbagi kecintaan pada hal-hal kekinian. Bersama dengan Gempa, mereka berbagi dapur bersama dan hal-hal kecil di sana. Dan bersama Halilintar, entahlah, bagi Amato keduanya itu seringkali sulit akur namun keduanya tak bisa terpisahkan memiliki sesuatu yang membuat keduanya tak bisa terpisah. Taufan adalah seseorang yang dapat menjadi sahabat dan kakak bagi adik-adik dan kakaknya.
Lahir dua belas menit kemudian adalah Gempa. Anaknya yang membuat Amato yakin menyerahkan tanggung jawab. Seseorang yang membuat keyakinan di malam-malam Amato memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi pada putra-putranya. Ia yang membuat Amato tenang saat harus bekerja jauh dari anak-anaknya. Pokoknya Amato pantas mendapatkan Gempa setelah ia mendapatkan Hali, Taufan, Blaze, Ice, Thorn, dan Solar, titik.
Gempa adalah satu-satunya yang akan dituruti perkataannya oleh ke-enam anaknya yang bahkan susah di atur. Sejak istrinya meninggal, Amato mau tak mau harus bekerja di cabang luar untuk mendapat penghasilan yang lebih. Dan Gempa yang mengambil alih rumah sejak saat itu. Menjadikan rumah mereka tetap hangat dan nyaman ketika semua pulang. Dia anak yang sempurna; tampan, berwibawa, bertanggung jawab, pintar, baik, polos, bersih dari kejahatan, dan lain-lain. Ah, rasanya Amato seperti memuji dirinya sendiri, hehehe...
Mereka bertujuh adalah anugerah terindah yang pernah Amato dapatkan. Mereka adalah alasan Amato untuk menua. Alasannya untuk tetap bahagia di setiap waktunya. Bersama dengan mereka, Amato merasa hidupnya lebih berharga, membuatnya menjadi ayah yang harus lebih baik dari sebelumnya.
Baiklah, ini kan work untuk berkisah dengan tujuh anak-anak Amato, kenapa justru seperti menceritakan Amato yang memiliki tujuh anak? Karena tanpa Amato, kita tak akan bisa mendengar kisah anak-anak ini kan? Kita tak akan bisa mengenal Lucky Seven milik Amato yang paling berharga.
xxxxx
Long time no see :))
