Drabble
Terlihat seorang pemuda yang berjalan pelan menuju ke sebuah bar yang ada di pusat kota. Bar itu berada di Kota Konoha, hiruk pikuk dan hingar bingar dari segala keributan di bar menyapa indera pemuda bersurai pirang itu. Dentuman musik yang menggema di setiap sudut bar mulai terdengar saat pemuda tersebut lebih jauh masuk ke dalam bar.Jas putih dengan celana putih disertai sepatu hitam, pemuda itu nampak menawan menggunakannya. Langkah pemuda beriris biru langit itu terhenti saat lima orang pria menghalangi jalannya.
"Yo, Na-chan. Mencari sesuatu?". Tanya pria yang ada di tengah, bersurai putih klimis.
Pemuda yang dipanggil itu menatap kelima orang yang di hadapannya dengan datar. Iris biru pemuda itu mulai menajam. Tanpa aba-aba pemuda itu berlari menyerang kelima pria itu.
Bugh
Sebuah pukulan dari pemuda bersurai kuning itu nampak mengenai pipi dari salah satu kelima orang itu. Pemuda itu menendang dua orang yang menuju ke arahnya. Pukulan lain dari belakang pemuda itu tepat mengenai punggungnya. Pemuda itu sedikit terdorong ke depan.
Bugh Duak
Pemuda beriris biru itu membalas memukul kemudian menendang pipi orang yang memukul punggungnya. Pemuda tersebut membenahi pakaiannya kemudian menatap tajam dua orang yang masih berdiri di hadapannya. Mata biru pemuda itu melihat ke arah sekitar bar yang nampak berpindah fokus ke arah keributan yang dibuatnya.
"Menyingkir".
Perintah pemuda itu dengan dingin pada dua orang yang masih berdiri. Dengan takut, dua orang tersebut menyingkir. Mereka tak mau bernasib sama seperti tiga orang temannya yang berhadapan dengan pemuda itu.
Sedangkan pemuda bersurai kuning itu nampak berjalan melewati mereka. Dirinya tak peduli dengan keributan yang dibuatnya. Jas putihnya nampak berkibar saat kedua tangannya berpindah pada saku celana putihnya.
"Mattaku, lemah. Bahkan itu tidak ada sepuluh detik". Gumam pemuda itu dengan dingin.
Nama pemuda itu adalah Namikaze Naruto. Bukan berandalan, tetapi anak SMA. Konoha High School, sekolah dimana anak paruh waktu dan penuh waktu berkumpul. Naruto adalah pemegang kuasa disana, atau lebih tepatnya dialah sang penguasa Konoha High School.
Pemuda bersurai kuning itu membuka di setiap ruangan yang ada di bar. Mata birunya nampak mencari sesuatu. Sudah tiga kali dia membuka ruangan yang ada di bar, dan semuanya hanya berisi para pemandu yang sedang menikmati kerjanya.
Naruto membuka ruangan yang terakhir. Irisnya dapat menemukan seorang gadis bersurai merah darah dengan dress merah sedang dipojokkan oleh seorang pria bersurai pirang pendek lurus.
Naruto segera menghampiri mereka, kemudian mencengkram pundak pemuda tersebut dan menghadapkan tubuhnya pada dirinya.
Buagh
Tangan kanan pemuda beriris biru itu sukses meluncur ke arah pipi kanan pemuda yang tadi memojokkan gadis yang ada di ruangan itu.
Pemuda yang dipukul nampak tak terima dan bangkit berdiri, "Kuso! Apa maksudmu memukulku, Sialan!!!". Teriaknya.
Sedangkan gadis bersurai merah yang melihat adegan barusan nampak terdiam. Mata hijau miliknya nampak melihat ke arah Naruto dengan takut.
"Jauhi gadisku, yakitori. Atau aku benar-benar akan membunuhmu". Ucap Naruto dengan nada membunuh.
"K-kau! N-naruto". Pemuda pirang yang diancam terlihat ketakutan saat melihat siapa yang memukulnya.
Iris biru Naruto menajam saat pria di depannya ketakutan saat mengetahui siapa dirinya. Naruto mengenal lelaki di depannya ini, jika tak salah namanya Riser. Dari Kuoh High School seperti gadis merah yang ada di belakangnya.
"J-jadi, dia milikmu yah". Ujar pemuda bernama Riser dengan sedikit terbata.
Naruto melirik ke arah gadis di belakangnya yang terlihat menunduk ketakutan. Mata biru pemuda itu dapat melihat tubuh gadis itu yang nampak bergetar.
"Hm, sudah cukup. Pergilah! Tentu kau tak ingin berurusan denganku, bukan?". Perintah Naruto dan membuat Riser segera meninggalkan Naruto dan gadis itu.
Tentu bagi Riser yang mengetahui siapa Naruto pastilah takut dengannya. Namikaze Naruto merupakan orang yang kejam dan tak mengenal ampun dalam pertarungan. Jika masalah ini sampai pada ke sekolahnya tentu Kuoh dan Konoha akan berperang. Masalahnya, Konoha memiliki tiga pemimpin dengan satu raja yaitu Naruto. Dan catatan lain mengatakan jika Konoha selalu menang dalam berperang melawan sekolah lain.
.
.
Naruto membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah gadis yang terlihat gemetar di depannya.
"Kau, baik-baik saja". Tanya pemuda itu dengan lembut.
"Um.,". Gumam gadis itu dengan mengangguk pelan.
Grep
Sebuah pelukan dari Naruto pada gadis merah itu untuk membantu memberi ketenangan. Gadis bersurai merah panjang itu balas memeluk pemuda tersebut. Merasakan aroma maskulin dari pemuda di depannya.
"Yokatta. Aku sangat mencemaskanmu". Ujar Naruto yang tidak lagi menggunakan nada dinginnya.
Gadis bersurai merah itu nampak menangis dalam pelukan pemuda bermarga Namikaze itu, "Maaf". Hanya kata itulah yang terbesit di benak sang gadis.
"Aku akan melarangmu bekerja jika pekerjaan hina ini yang kau jalani".
Gadis merah itu sontak terkejut, "T-tapi Naru--".
Cup
Gadis itu tak dapat menyelesaikan kalimatnya saat bibirnya menyatu dengan pemuda itu.
"Emm., nghh~ ". Erang gadis itu saat Naruto menyumbat bibir gadis itu.
Naruto dapat merasa rasa stroberi dari bibir gadis itu. Kedua tangan gadisnya nampak mengerat mencengkram bagian depan jasnya. Naruto melihat ke arah gadis tersebut yang sudah tak kuat.
"Mmhh., nghhh~ ahhh.,". Beberapa menit kemudian, ciuman mereka berhenti dan Naruto menarik bibirnya menjauh dari bibir gadisnya.
"Hah., hah., hah., sudah cukup, Naruto-kun". Gadis itu berkata dengan nafas yang memburu.
Naruto menyeka bibirnya, "Baiklah, kita lanjutkan kapan-kapan".
"Ayo pulang, Rias". Ajak pemuda bersurai pirang itu pada gadis merah yang bernama lengkap Rias Gremory yang nampak mengangguk.
Naruto dan Rias keluar dari area bar itu dan menuju ke sebuah parkiran. Naruto memegang sebuah kunci mobil dan memencet sebuah tombol di tengahnya. Hingga sebuah suara terdengar dari mobil Cobalt berwarna jingga di dekat mereka.
Naruto berjalan menuju mobilnya sedangkan Rias terlihat melongo dan terkejut. Sejak kapan, Naruto punya mobil? Pikirnya sedikit pusing. Pemuda bersurai pirang itu berhenti berjalan dan menatap Rias yang sedang melamun ke arahnya.
"Mau sampai kapan kau disana? Ayo masuk". Perintah pemuda itu membuyarkan lamunan Rias.
"Aku akan mengantarmu pulang, sekalian menjelaskan sesuatu".
Dengan segera keduanya masuk ke dalam mobil milik Naruto. Memasang sabuk pengaman mengikuti anjuran pemerintah. Naruto mulai menjalankan mobilnya pelan meninggalkan area parkiran.
Dalam perjalanan, Rias tak henti-hentinya berpikir. Dirinya masih tak mengira dengan apa yang sudah terjadi.
"Bisa kau jelaskan?". Pinta Rias pada Naruto yang sedang mengemudikan mobilnya.
Pemuda bersurai pirang itu menghela nafas sekali, "Maaf, aku telah berbohong padamu. Namaku Namikaze Naruto, ayahku bernama Namikaze Minato yang merupakan CEO dari perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan komunikasi".
"Ibuku, Namikaze Kushina. Pemilik Butik ternama di Konoha, memiliki beberapa cabang di seluruh kota yang ada di Jepang". Jelas Naruto.
Rias masih shok, tak mengerti mengapa Naruto menyembunyikan identitasnya selama ini. Setaunya, Naruto adalah pemuda biasa yang sering berkelahi. Buktinya, pemuda itu dapat menjadi penguasa di salah satu sekolah SMA di kota Konoha. Melihat Naruto terluka saat menemuinya tentu bukan hal asing lagi bagi gadis bersurai indah itu.
"Hutangmu telah lunas. Baik pengobatan untuk kakakmu maupun masalah hutang keluargamu pada bank Konoha". Kata Naruto.
Rias menatap ke arah Naruto dengan tatapan tak percaya, "B-bagaimana b-bisa?".
Naruto melirik ke gadis itu sekilas, "Entahlah". Ucapnya dengan asal.
"J-jangan-jangan? K-kau?". Rias nampak menahan air matanya.
Naruto terkekeh, "Begitulah. Aku telah melunasi semua hutang keluargamu". Jelas Naruto mendapat tatapan tangis dari Rias.
Rias menunduk dan mengepalkan tangannya, "Kenapa? kenapa kau melakukan itu?". Tanya Rias dengan berlinang air mata.
"Karena aku ingin". Jawab Naruto masih memandang ke arah jalan.
"Tapi itu semua tidak gratis". Naruto menjeda kalimatnya.
Rias yang mendengar itu mendongak menatap ke arah Naruto. Apa yang diinginkan pemuda itu darinya? Rias masih terlalu terkejut memikirkan hutang yang telah lunas karena Naruto. Gadis itu harus tenang, dia bisa menggantinya perlahan jika Naruto meminta untuk mengganti uangnya. Naruto pasti akan dengan sabar menunggu uang yang akan ia kumpulkan nanti. Semoga permintaan lain tidak muncul setelah ini.
"Kau harus menikah denganku". Perintah Naruto dengan senyum tipis.
.
.
.
.
.
.
"E-eh?".
.
.
.
Sekian
Dan
Terima kasih
Jaa na
