Story by SlimeID

Disclaimer :

Naruto by Masashi Kishimoto

High School Dxd by Ichie Ishibumi


-- Mine --

•••


Bagian satu : Tradisi dan Syarat Kelulusan

"IKUZE TEMEYAROU!!!."

Suara teriakan menggema di sebuah lapangan luas yang nampak panas karena terik matahari siang.

Pemuda bersurai coklat si peneriak suara nampak berlari menuju ke arah sekumpulan orang-orang berjas coklat yang berada di seberangnya. Pemuda tersebut tak sendiri, di belakangnya banyak orang-orang berjas warna putih yang setia mengikutinya.

Bugh Bugh

Pemuda bersurai coklat tersebut tanpa ragu menendang orang-orang berjas coklat yang merupakan musuhnya.

Sett Duak

Pemuda itu menarik jas salah seorang musuhnya kemudian memukul dagunya. Tak berhenti disana, pemuda itu berlari dengan kencang dan menendang musuh-musuh lain yang menghadangnya.

Puk

Pemuda tersebut memegang tangan musuh yang ingin memukulnya kemudian memelintirnya. Menundukkan badan musuhnya, iris pemuda coklat itu beralih menatap ke setiap penjuru tempat yang menjadi arena pertarungan tersebut.

"Apa tak papa membiarkan Kiba mengurus para kecoak dari Suna itu, Naruto?"

Tanya seseorang bersurai hitam diikat ke atas mirip nanas pada pemuda bersurai pirang di sebelahnya. Ternyata dari sekian banyak orang yang mengikuti pertarungan, ada tiga orang yang hanya melihat berada tak jauh dari sana.

Pemuda bersurai pirang bernama lengkap Namikaze Naruto itu nampak melirik sejenak. Atensinya beralih kembali melihat ke arah pertarungan yang tengah terjadi.

"Kau tak perlu khawatir, Shikamaru. Kiba sedikit lebih kuat darimu kau tahu." jawab pemuda tersebut dengan tenang.

"Cih, aku tau itu."

Pemuda nanas bernama Shikamaru itu mendecih tak suka. Memang benar jika Kiba sedikit lebih kuat darinya, namun itu hanya dari segi stamina. Shikamaru tak menampik jika itu karena kemalasannya sendiri.

"Apa kau tak ingin turun tangan, Dobe?"

Kali ini pemuda bersurai hitam dengan tampang datar membuka suara. Pemuda itu bernama Uchiha Sasuke, sebenarnya ia juga ingin turun ke pertarungan namun dia tak diijinkan oleh Naruto.

"Mungkin, tidak."

•••

Bugh Bugh Duakk

Terlihat seorang pemuda bersurai coklat kemerah-merahan memukul dua orang sekaligus tepat di pipi mereka. Tak hanya itu, pemuda tersebut menendang musuh di belakangnya dengan tendangan berputar.

Pemuda tersebut bernama lengkap Sabaku no Gaara. Siswa dari Suna High School dan pemimpin Suna High School yang berada di Kota Suna yang tak jauh dari Kota Konoha.

Set Set Bruaghh

Gaara menghindar dari pukulan musuhnya kemudian memegang tangan musuh tersebut dan membantingnya ke tanah. Pemuda bermata mirip panda itu tersenyum tipis dan menatap dengan puas.

Scene berpindah ke arah pemuda lain yang juga merupakan murid dari Suna High School.

"Hora, Hora!!."

Set Bugh Dakk

Pemuda bersurai hitam nampak menahan pukulan dari satu orang musuhnya. Pemuda itu Menekuk lengan kiri musuhnya kemudian menendang perut dan menghantamkan sikunya ke hidung musuh itu.

Pemuda itu bernama Sabaku no Kankurou, merupakan saudara dari Gaara. Mereka menguasai Suna High School bersama-sama.

Pemuda bernama Kankurou tersebut berlari ke arah musuh yang tersisa dan menendang satu persatu para musuhnya itu.

.

.

"Aku ingin turun, kalian mau ikut?"

Tanya pemuda bersurai kuning yang terlihat meregangkan otot tangannya dan berjalan menuju ke area pertarungan.

"Baru sekarang kau menyuruh kami?!."

Ujar lelaki bernama Shikamaru kemudian mengikuti pemimpinnya tersebut sedangkan Sasuke hanya diam dan mulai mengikuti langkah kedua pemuda itu.

Naruto dengan santai berjalan ke tengah-tengah pertarungan. Iris birunya menatap datar ke arah murid-murid yang sedang bertarung sama lain.

"Horaa!!!!." teriakan dari musuh yang datang dari samping kanan Naruto terdengar.

Naruto menghindari serangan tersebut dan memegang lengan musuhnya dengan kedua tangannya kemudian menariknya memutar dengan kencang hingga musuhnya terperosok jatuh.

Grep

Duak Bugh

Naruto mencengkram kerah musuh lain yang ingin menyerangnya kemudian menendang teman musuh itu. Menatap sebentar ke arah musuhnya dengan dingin lalu memukul pipinya.

Naruto berjalan melewati orang-orang dari Suna High School tersebut yang nampak terkapar di tanah. Jas putihnya nampak berkibar saat angin berhembus.

.

Dengan Sasuke, pemuda bertampang datar nan dingin itu sekarang sedang berada di kondisi yang cukup sulit. dimana ia dikeroyok oleh lima orang sekaligus. Namun dari iris pemuda tersebut tak menunjukkan raut ketakutan sedikitpun.

Tap Bugh

Tap Duakk

Pemuda beriris hitam itu menahan pukulan dua orang yang menyerangnya dan memukul pelipis dan kepala musuhnya.

Sasuke menahan tendangan musuhnya dengan kedua tangan kemudian mengangkat tangannya membuat si penendang terjengkang jatuh. Pemuda tersebut menghindari pukulan lain yang menuju ke arahnya dengan berjongkok.

Duak

Kepalan tangan kanan Sasuke tepat mengenai dagu salah satu musuhnya. Pemuda itu menatap satu orang sisa musuhnya dengan dingin.

"Hm, tak buruk juga." ucapnya kemudian berlari ke arah musuhnya.

.

Di sisi lain yaitu di tempat pemuda bersurai nanas bernama Shikamaru.

Bugh Bugh Bugh

Pemuda itu memukul pipi masing-masing musuh yang berlari ke arahnya. Musuh lain yang berada di belakangnya nampak bersiap dan ingin menendang Shikamaru.

Duak

Shikamaru sedikit terdorong karena tendangan musuh di belakangnya kemudian berbalik ingin melihat siapa yang berani menendangnya.

"Apa kau yang terkuat di Konoha High School?."

Shikamaru menatap malas ke arah pemuda bersurai hitam yang ternyata adalah Kankurou dari Suna. Sedikit menguap, Shikamaru menaikkan bahunya.

"Entahlah, mari kita cari tau."

Dengan itu Shikamaru dan Kankurou berlari menuju satu sama lain. Shikamaru menendang ke arah pemuda itu namun bisa dihindarinya.

Tap Bugh

Kankurou menahan pukulan tangan kanan Shikamaru yang menuju pelipisnya dan menendang perut pemuda tersebut dengan lututnya.

Set Bugh

Shikamaru mendorong Kankurou dan memberikan sebuah pukulan di perut bagian kiri Kankurou. Kankurou menahan tangan Shikamaru yang menempel di perut bagian kirinya dan mencengram pergelangan tangan shikamaru dengan erat.

Duak

Kankuro menekuk tangan lengan Shikamaru ke atas kemudian mendorong siku kanannya mengenai pelipis pemuda dari Konoha itu.

Shikamaru lantas terdorong mundur. "Mattaku, sepertinya ini akan lama."

Shikamaru berjalan menuju Kankurou yang bersiap menyerangnya. Tubuh pemuda tersebut menghindar dengan cekatan setiap serangan yang diberikan Kankurou.

Pemuda bernama lengkap Nara Shikamaru tersebut menahan tangan kanan Kankurou yang ingin menyerang pipinya dengan lengan kirinya.

Bugh

Namun naas tangan lain pemuda Suna itu berhasil bersarang di pipi kanannya. Shikamaru nampak tak bergeming,

Bugh

Set Brakk

Shikamaru memukul tepat di hidung Kankurou. Tangan kirinya memegang lengan Kankurou kemudian menarik dan membanting tubuh pemuda Suna itu ke tanah.

"Gghh, uhuk-uhuk." Kankuro nampak menahan sakit dan terbatuk-batuk.

Shikamaru mengelap ujung kanan bibirnya yang sedikit berbekas. Menatap malas ke arah pemuda yang sedang tiduran di tanah.

"Sebenarnya aku ingin mengetahui alasan dari surat tantangan dari Suna High School kepada kami?"

Kankurou mengepalkan tangannya, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk bangkit. Kedua tangannya menumpu tanah dan dengan usaha yang keras ia bangkit meskipun dengan sedikit menunduk.

"T-tidak a-da alasan khusus, kami hanya mengikuti tradisi di sekolah kami."

Shikamaru menaikkan alisnya menunjukkan kebingungan dalam ekspresinya. Tradisi? Pemuda bermarga Nara itu sedikit ingin tau tentang tradisi yang dimaksud.

"Gaara dan aku merupakan pemimpin baru di Suna High School dan kami ditantang kakak kelas kami untuk melawan kalian, Konoha High School."

Terjawab sudah rasa ingin tau Shikamaru. Yah, ternyata hanya itu. Jujur, pemuda tersebut sama sekali tak tertarik dengan alasan konyol itu.

"Kau memang payah, dasar bodoh."

Shikamaru berucap dengan tanpa beban. Dirinya juga sedikit menyesal menerima tantangan Suna karena alasan konyol itu. Yah tapi melihat hasilnya, bukanlah hal yang untuk disesali.

Shikamaru mengalihkan atensinya menuju ke penjuru lapangan dan matanya sedikit tersentak melihat sesuatu namun tak lama dirinya tersenyum tipis. Matanya beralih kembali menuju Kankurou.

"Jika kalian bertarung hanya dengan alasan konyol itu, kalian tak bisa mengalahkan Konoha mau bagaimanapun caranya."

Kankurou mengeratkan giginya sedikit, "Tem--."

"Lihatlah."

Kankurou berhenti dalam umpatannya dan melihat ke arah yang ditunjukkan Shikamaru. Mata pemuda tersebut melotot terkejut melihat Gaara tak sadarkan diri di bawah pemuda bersurai pirang yang nampak baik-baik saja, hanya luka kecil yang berada di wajah pemuda kuning tersebut.

"A-apa, b-bagaimana bisa?."

Shikamaru melirik dengan malas ke arah Kankurou, "Itulah yang kumaksud, kalian hanyalah sekumpulan orang bodoh yang bertarung hanya karena tradisi konyol."

Kankurou berlutut kemudian memukul tanah dengan tangan kanannya melampiaskan rasa kesal dan marah di hatinya.

Shikamaru meninggalkan Kankurou dan menuju ke arah Naruto yang nampak memandang datar Gaara yang sedang pingsan di tanah. Dengan itu sudah jelas kemenangan berada di tangan Konoha High School.

•••

Konoha High School

Naruto membasuh wajahnya dengan air yang berada di wastafel kamar mandi. Iris birunya melihat ke arah kaca. Tangannya membuka sebuah plester lalu menempelkan ke bekas luka kecil di pipi kanannya.

'Pemuda bernama Gaara itu, lumayan juga.' batin pemuda tersebut kemudian keluar dari kamar mandi.

Naruto melangkahkan kakinya melewati koridor-koridor di sekolah. Tujuannya sekarang adalah ruangan biasa ia dan teman-temannya berkumpul. Tak lama setelahnya pemuda bersurai pirang tersebut telah sampai di depan pintu ruangan yang dimaksud.

Kriett

Dengan segera membukanya, iris pemuda tersebut dapat melihat Shikamaru, Sasuke dan Kiba yang sedang berkumpul bersama gerombolan mereka masing-masing. Kedatangan Naruto sepertinya membuat atensi mereka menuju ke arahnya.

Dengan cepat gerombolan murid itu berbaris dan bersatu, di depannya terdapat pemimpin mereka masing-masing.

Naruto berjalan menuju ke tempat kebanggaannya yaitu sofa yang berada di tengah ruangan tersebut. Pemuda bermarga Namikaze itu berjalan dengan pelan, sesampainya kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa itu.

"Hah." ujar Naruto mendesah lelah.

Ini sudah satu jam setelah sekolahnya melawan Suna, dan Naruto sedikit terhibur dengan pertarungan yang telah terjadi tadi.

"Bagaimana pendapatmu dengan Suna yang sekarang?"

Tanya pemua bersurai coklat dengan sebuah gigi taring kecil yang muncul di mulutnya bernama Inuzuka Kiba.

"Lumayan dibandingkan Suna yang sebelumnya." jawab Naruto dengan bersandar nyaman di sofa.

"Mereka menantang kita hanya karena tradisi." Shikamaru mengungkapkan dengan nada bosan.

"Begitulah, aku tak terkejut. Pemimpin Suna sebelumnya yaitu Sasori juga pernah melawan kita karena hal yang sama."

Naruto nampak tak terkejut dengan tradisi aneh yang dijalankan oleh Suna High School. Apa mereka tidak bisa mencari lawan yang lain, jujur Naruto malas meladeni dan menerima perang akhir-akhir ini. Dirinya ingin bersantai-santai sebentar.

"Ngomong-ngomong, kapan kau berencana untuk lulus, Naruto?"

Naruto melirik ke arah Shikamaru yang bertanya kemudian mengalihkan atensinya menuju ke atas. Melihat ke arah langit-langit ruangan, dia juga memikirkan hal itu.

"Entahlah, mungkin sebentar lagi."

"Masalah Redrum itu bagaimana, Sasuke?"

Sasuke merogoh kantung jas kanannya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi beberapa pil merah kemudian meletakkannya di lantai.

"Aku mengambilnya dari seorang berandalan yang mencoba menawarkan ini ke sekolah kita."

Naruto beralih posisi menjadi duduk di lantai, menatap ke arah tabung haram itu dengan tampang berpikir.

"Begitukah? Apa mungkin kumpulan berandalan kota yang mengedarkan Redrum?"

"Itu mungkin saja, mengingat hanya merekalah orang-orang bermasalah di Kota Konoha." ujar Shikamaru nampak menyetujui pendapat Naruto.

"Yosh, sudah kuputuskan. Aku akan lulus saat masalah Redrum di kota ini selesai."

Shikamaru dan Kiba nampak terkejut mendengar penuturan tak masuk akal dari pemimpin mereka.

"T-tunggu-tunggu, apa maksudmu Naruto? Apa kau ingin menyelesaikan masalah Redrum itu untuk kelulusanmu?"

Naruto mengangguk mendengar pertanyaan Kiba. Sedangkan Shikamaru merasa aneh dengan pemikiran pemimpinnya itu.

"Apa kau tau apa yang ingin kau lakukan Naruto? Ini bukan masalah kita, kita hanya dapat melindungi sekolah kita agar tidak dimasuki Redrum. Namun jika kau ingin menyelesaikannya, itu sudah diluar kendali kita."

"Tenang saja, jika kalian tak ingin biar aku sendiri yang melakukannya." ucap Naruto sontak mendapat tatapan diam dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

"Masalah Redrum tidak hanya terjadi di wilayah Konoha namun beberapa kota lain juga mengalami hal serupa. Dan kudengar, beberapa sekolah di Konoha dan di kota lain telah berhasil ditembus oleh para pengedar Redrum." jelas Sasuke yang membuka suaranya.

"Apa Kuoh sudah..." Naruto menghentikan kalimatnya sebentar.

"Ya, Kuoh High School telah dimasuki oleh Redrum."

Naruto tersentak, dirinya merasa cemas sekarang. Mengingat jika Kuoh High School merupakan sekolah campuran, tentu berbahaya jika siswi-siswi Kuoh ikut mengonsumsi Redrum. Apalagi disana ada kekasihnya. Naruto menggertakkan giginya, dirinya ingin sekali menghajar para penyelundup Redrum itu.

"Kami akan membantumu sebisa kami, Naruto."

Perkataan Shikamaru membuat bersurai pirang itu tersentak kemudian menatap ke arah orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Naruto tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya. Naruto melepas jas putihnya dan mengganti dengan sweater putih tipis tak berhodie dan terbuka di bagian depannya.

"Kegiatan tambahan Konoha High School, dimulai."

Oke Cut!!

Thanks for Read

Jaa na