"Cintaku Mantul di Lapangan Basket"
by. Yagi Ar_Zyilxiuse
Disclaimer: anime Naruto milik Masashi Kishimoto.
Genre: Romance, Sport, Comedy, Family, etc.
Note: Typo (s), No Eyd, AU/Non Canon, OOC (maybe), No plagiat, etc.
Don't Like Don't Read!
.
.
-Happy Reading-
Chapter 03,-Sakura pov on-
Sudah hampir jam delapan malam, Sasuke masih terus berlatih tanpa beristirahat sejak ia menawarkan tumpangan kepadaku. Kuperhatikan ia dari sudut lapangan tanpa merasa bosan sedikitpun. Rasanya sangat ... doki doki, hihi!
"Fyuhh~"
Kulihat ia menghembuskan nafas sembari memejamkan matanya sejenak dan mendongak. Keringat menetes dari pelipis menuju bingkai wajahnya dan turun ke leher. Pemandangan yang benar-benar eksotis, wuhuiii!
"Cewek aneh, Lu gak mau skalian latihan?"
"Ah?" Aku tersadar dari lamumanku ketika Sasuke tiba-tiba mengajakku bicara. Kulihat ia kembali memungut salah satu bola dilantai. "Aku mau, tapi ... nanti malah ngeganggu. Lagipula Aku belum ngerti apa-apa, hehe ..."
"Hn. Udah ngabarin ortu-mu kan? Gue bakal lama disini."
"Oh iya, lupa. Aduh gimana nih! Mana gak bawa hape lagi." Aku segera bangkit berdiri dan kelabakan. Aku beneran lupa jika Sasuke tidak menanyakannya. "Mereka pasti cemas sekarang, Aku harus bagaimana ini?" gumamku.
"Hah~"
Ku dengar suara helaan nafas Sasuke dan melihatnya menjatuhkan bola yang ia pegang, lalu berjalan mendekatiku. "Sasuke?" Apa dia marah padaku? Wajahnya terlihat sedang kesal atau semacamnya.
"Hn, bakka. Seharusnya Kau katakan itu tadi," ujar lelaki itu dan dia benaran marah kayaknya.
"M-maaf," gumamku menyesal.
Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yang ternyata sebuah ponsel. "Hn, pakai ini." Ku terima ponsel yang ia sodorkan padaku dan ia kembali ke tengah lapangan begitu saja.
Baik sekali lelaki idamanku ini, duhh ... jadi doki doki lagi karnanya. Dari luar Sasuke terlihat seperti pria kasar, tapi aku tahu sebenarnya Sasuke memiliki hati yang lembut; selembut lemparan 3 point-nya.
Aku menelpon ke nomor telepon rumahku. Tak butuh waktu lama hingga seseorang menjawab panggilanku. Kudengar suara ibuku menjawab dari seberang telpon dengan nada cemas.
"Halo?" jawab ibuku.
"Halo. Mam, ini Sakura."
"Sakura?! Kamu kemana saja? Kenapa belum pulang? Apa terjadi sesuatu sama Kamu? Kamu gak pa pa kan?" sahutnya dengan serentetan pertanyaan.
Yah seperti dugaanku, ibu pasti cemas. Aku jadi merasa bersalah, hufftt!
"Iya, Ma. Sakura ga pa pa kok. Maaf, tadi Sakura lupa ngabarin Mama kalau Sakura ikut kegiatan klub."
"Hmm. Ya sudah, ini sudah malam banget, kamu dimana? Biar Papa mu jemput."
"Eh nggak perlu, Ma. Sakura nanti ada yang anterin kok ..."
"Anterin?! Siapa? Cowok apa cewek? Oh iya ini sudah jam 8, masa iya kegiatan klub nya sampai malam banget. Kamu bohongin Mama ya?! Hikss ... Sakura... Mama tidak menyangka Kamu ..."
"Mamaa, bukan begitu ..."
'Hap!'
"... eh? S-sasuke-kun?" Belum sempat kuberi penjelasan ke ibuku yang mulai menangis salah paham, Sasuke merebut ponselnya dari tanganku.
-Normal pov on-
Sasuke mengambil alih telpon yang masih tersambung dengan ibu Sakura saat itu. "Hn. Tante, ini Sasuke."
"Sasuke? Kamu juga disana?" sahut suara dari lawan bicaranya ditelepon yang terdengar agak sendu.
"Sakura tidak bawa ponselnya, jadi kupinjamkan punyaku."
"Oh begitu ..." Suara kecemasan ibu Sakura telah berubah menjadi nada lega.
"Dia juga bodoh tidak memberitahuku tadi. Ku fikir Tante akan cemas, jadi ku kabarin Tante kalau dia aman."
"Hahaha. Tante juga berfikir begitu, Sakura terkadang memang agak bodoh. Tapi, trimakasih ya nak Sasuke. Kalau dia bersamamu, Tante jadi tenang sekarang."
Sasuke sedikit menyunggingkan senyumannya yang khas ketika mendengar suara tawa ibu Sakura. Sementara Sakura tampak penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan lewat ponsel itu. Ia berusaha mendekatkan telinga kirinya ke ponsel Sasuke yang sedang menempel di telinga kanannya.
"Hn. Kami akan segera pulang."
"Yaa bersenang-senanglah, jangan terburu-buru. Tidak perlu cemaskan Tante sekarang. Tolong jaga Sakura ya, jaa na."
"Hn."
Sambungan terputus, Sasuke menatap Sakura yang berusaha menguping itu dengan tatapan datar.
"He he. Udah slesai ya? Jadi ... Mama ku ngomong apa? Apa dia marah?" Gadis bermata emerlard itu nyengir salah tingkah.
'Ctikk!'
"Awh~" Sentilan pelan dari Sasuke mendarat di jidat lebarnya. Di usapnya bekas sentilan itu dan memajukan bibirnya serta mendumel pelan, "lagi-lagi disentil, ish~"
"Bakka. Bereskan bolanya, itu hukumanmu."
"Ehh? Tapi katanya masih lama ..."
"Ibumu cemas."
"B-begitu ya ..."
"Hn."
Sakura tidak dapat membantah, ia segera mengumpulkan kerucut serta memungut bola-bola yang berserakan ditengah lapangan dan menyimpannya. Sesekali mata hijaunya itu melirik ke arah Sasuke yang tengah memunggunginya. Dan ...
"Glukk!" Ia meneguk salivanya spontan ketika melihat Sasuke melepas kaos nya. Wajahnya memerah, matanya berbinar dan ia terpaku ditempat tanpa sadar.
"Oii!"
Sakura terperanjat kaget saat pemuda yang melintas dalam khayalannya itu sudah ada di dekatnya dan telah mengenakan kemeja putihnya (seragam sekolah). "Ssssasuke?! Prasaan tadi Kamu disana deh. Kok bisa cepet amat disini? Jangan-jangan kamu vampir yang bisa ber-teleport ya?! Kyaaaa kakkoiiii!"
"Astaga nih cewek," batin Sasuke. Dengan ekspresi aneh, Sasuke memandangi Sakura. "Sentilan Gue masih kurang ya? Cewek aneh, tukang ngayal, bakka lagi. Itu bola nya masih ada, beresin semuanya atau Gue tinggal ..." ucapnya.
"Ehhhhh jangan jangan jangan!" Sakura segera menyela dan membereskan sisa bola yang ada.
-Skiptime-
"Hn. Pakai ini." Sasuke menyodorkan jaketnya, setelah Sakura menyusul di depan pintu gym. Sontak wajah Sakura merona dan menganggap hal itu sebagai bentuk perhatian yang 'so sweettttt'.
"Cieee perhatian skali, jangan-jangan Sasuke-kun naksir ya sama Aku?" cetusnya dengan nada jahil.
Sasuke mendengus, "Heh cewek aneh, gak usah pede. Qua cuman gak mau nyokap Lo cemas, gak lebih."
Tentu saja Sakura tidak mau kalah, dan dia sangat yakin Sasuke memang menyukainya. "Bilang aja gak mau Gue sakit, iya kan? Iya kan? Cieee ngaku aja, Sasuke-kun pasti naksir sama Sakura yang cantik jelita ini, hihihi!"
Sasuke kembali mendengus geli dan berjalan keluar dari gym tanpa menanggapi godaan Sakura. "Hn. Tutup pintunya." Sakura masih tersenyum jahil melihat respon Sasuke yang seolah mengiyakan dengan mengalihkan pembicaraan. Ia menutup pintu, memakai jaket Sasuke dan menyusul.
"Sasuke-kun, tungguin Akuu ..." panggil gadis itu dengan suara manja dan bergelanyut di lengan kiri Sasuke segera. Pemuda yang terkenal sebagai berandalan itu tidak mencegahnya, ia biarkan begitu saja Sakura menempel padanya. "Hihi. Sasuke-kun diem aja berarti memang naksir sama Aku, eciee cieee ..."
"Hn. Cewek aneh."
'Kroookkkkk~~'
Ups! Suara apaan tuh? Sasuke menghentikan langkahnya dan memandangi Sakura dengan alis kiri terangkat. "Hnn?"
Gadis itu nyengir dan wajahnya memerah malu, "he he ... laper ..."
To be~
.
AN: Tinggalkan respon kalian untuk menghargai Author yang telah berusaha memikirkan dan mengetik cerita ini. (fuCk U sIdeR!:)
Bagi yang ingin/berminat memberi review, silahkan dengan syarat; tulis dengan jelas letak kesalahan dan bagaimana benarnya. Jika terlalu panjang atau banyak, kirim saja review nya langsung ke PM.
Utamakan review soal alur cerita, karna kalau PUEBI/EYD emang banyak typo-nya saat Author fokus membuat alur (kebiasaan *plaks). Author-nya rada malas ngedit (gomen, mungkin lebih butuh editor atau semacamnya), makanya di tulis dalam note diatas "No Eyd dan Typo(s)" :')
Jika merasa terganggu dengan PUEBI-nya yang kadang benar dan kadang salah, lebih baik jangan baca kelanjutannya supaya mata kalian tidak sakit. (Don't Like Don't Read!) tertera di atas.
Arigatou :)
