"Cintaku Mantul di Lapangan Basket"

By. Yagi Ar_Zyilxiuse

Disclaimer: anime Naruto milik Masashi Kishimoto.

Genre: Romance, Sport, Family, Comedy, etc.

Note: Typo (s), No Eyd, AU/Non canon, OOC (maybe), No plagiat.

[Don't Like Don't Read!]

.

.

-Happy Reading-

Chapter 05,

-Kakashi pov on-

"Sudah lama Kita tidak bermain bersama. Ayo kita uji kemampuanmu, Sasuke." Aku menambahkan pernyataanku sebelumnya. Kulihat Sasuke masih tidak menanggapiku. Apa yang dipikirkan anak ini?

"Hn. Bukankah tidak lama lagi tim-mu akan mengikuti babak penyisihan interhigh? Sebaiknya Kau urus saja mereka." Sasuke mengacuhkan tantanganku, ia mengambil salah satu bola basket dan membawanya ke panggung. Adik Itachi yang dulu kutahu sangat aktif itu, kini hanya duduk di panggung dan memainkan bolanya.

Kuberikan instruksi kepada tim inti untuk melanjutkan latihan mereka. Sementara anggota cadangan lainnya kuperintahkan untuk lari keliling lapangan. Ku hampiri Sasuke lagi dan duduk disisi kirinya, berjarak sekitar 1 meter lebih.

"Apa Kau yakin tidak ingin bergabung dengan tim dan memenangkan kejuaraan inter-high? Kufikir Kau sangat menyukai basket." Kulihat Sasuke tampak fokus memainkan basketnya dengan tangan dan terkadang memutarnya diatas jari. Ia tidak menanggapiku sama sekali.

"Kau tau? Hingga akhir pertemuanku dengan Itachi, dia selalu membicarakan dirimu. Dia bilang kalau suatu saat Kau akan melampaui kami. Itu lucu, Aku tidak mengerti maksudnya apa." Kuceritakan masa laluku dengan Itachi kepadanya.

"Dia bekerja sangat keras, apa Kau tau kenapa? Dia bilang, 'jika bukan Aku yang mengurus bisnis Ayah, maka Sasuke lah yang akan melakukannya. Dan Sasuke sangat menyukai basket,' begitu katanya."

'Bug! Bug ... bug ...'

Kulirik bola basket yang terlepas dari tangan Sasuke. Raut wajahnya sulit ditebak, tapi mungkin aku sedikit paham perasaannya. "Apa Kau mengerti, Sasuke? Itachi ingin melihatmu menekuni basket yang Kamu cintai itu."

'Tap!'

Sasuke turun dari panggung dan memungut kembali bola yang jatuh itu. Di pandanginya bola tersebut dan terdiam. Aku tidak dapat menebak apa yang difikirkannya. Mungkinkah ia sedang mempertimbangkan untuk kembali bermain basket bersama tim?

'Tap!'

Aku pun turun dari panggung dan menepuk bahu kirinya. "Ayo kita bertaruh, bagaimana? Dulu kita sering melakukannya untuk membuat keputusan," Sasuke melirikku dari ekor matanya yang begitu tajam, "jika Aku menang, Kau harus bergabung dalam tim. Dan jika Kau menang, Kau bebas memilih. Aku tidak akan memaksamu lagi, bagaimana?"

"Hn," gumamnya lagi-lagi mengacuhkanku.

Ku ambil bola di tangannya dan berjalan ke tengah lapangan setelah membubarkan tim basket yang sedang berlatih.

"Sasuke, Aku menantangmu! Jika Kau lari, maka Kau akan menjadi pecundang selamanya! One on one, 5 lemparan!" seruku saat itu membuat seisi gym terkejut dan mengarahkan pandangan mereka ke arahku serta kearah Sasuke.

Sejujurnya, aku penasaran sejauh mana kemampuan Sasuke saat ini. Kenapa Itachi rela melepas basket demi adiknya ini? Dan kenapa Itachi mengatakan bahwa Sasuke akan melampaui kami? Aku ingin mengetahuinya, karna Itachi adalah rival bagiku dan aku masih tidak mengerti kenapa dia melepas basket demi bocah berandal ini.

"Sensei, apa yang Kau lakukan? Menantang seorang murid, itu bukan ide bagus!" Naruto memprotes, karena mungkin menurutnya itu hanya akan mengurangi wibawaku sebagai seorang pelatih. Tapi siapa peduli? Selama kau berada dilapangan, baik itu pelatih maupun muridnya adalah sama yaitu pemain basket.

"Hanya kebetulan Aku lebih tua beberapa tahun dari kalian bukan berarti Aku tidak boleh menantang kalian, bukan? Lagipula Aku hanya seorang pelatih pengganti sementara, bukan guru tetap kalian disini."

-Sasuke pov on-

Apa-apaan si Kakashi itu, beraninya menantangku dan mengataiku pecundang. Tapi... jika benar yang dia katakan, apakah aku akan melampauinya? Dulu hanya kakakku yang paling mengerti aku dan membuat keputusan untukku. Jika kakak ingin melihatku bermain, apakah itu berarti aku harus kembali bermain dalam tim?

Aku tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Mungkinkah harus kucoba cara lama kami? Tapi... percuma saja. Sudah terlambat untuk kembali bermain bersama mereka. Pada akhirnya aku memilih berhenti, ah... lebih tepatnya sejak awal aku memang tidak punya pilihan.

"Kau mempermalukan dirimu sendiri," ujarku setelah berbalik dan berjalan ke panggung untuk mengambil tasku disana, lebih baik aku meninggalkan tempat ini segera.

"Ini tidak lebih memalukan daripada melarikan diri seperti seorang pecundang. Apa Kau takut kalah? Ku fikir sehebat apa dirimu, ternyata yang dikatakannya hanyalah omong kosong. Benarkan?"

"Hn!" Aku mendelik tajam ke arahnya. Omong kosong? Beraninya dia menyinggung kakakku seperti itu. "Tarik kembali ucapanmu," kecamku tak terima.

"Kenapa? Apa Aku salah? Kau lari, artinya ucapan Ita ..."

"Baiklah, Kau akan menyesal!" sahutku memotong kata-katanya.

Ku lepas dasi yang terpasang dileherku dan meletakkannya bersama tasku di atas panggung. Ku gulung kemeja putihku setengah lengan dan melepas dua kaitan kancing atas. Saat berbalik, kulihat Kakashi tersenyum miring menungguku ditengah lapangan.

Aku maju menghampirinya tanpa ragu.

"Karin, kami butuh wasit." Kakashi memberikan bola itu pada Karin, manejer klub basket laki-laki. Sekilas ku lirik gadis pinky yang tengah berdiri di sudut, dan dia tersenyum dengan matanya berbinar-binar. Rasanya emosiku reda seketika saat melihat ekspresinya itu.

"Baiklah. One on one akan dimulai, setiap pemain akan mendapat 5 kesempatan membawa bola. Pemenangnya ditentukan pada pencetak terbanyak. Bola pertama oleh Sasuke Uchiha." Karin memberi instruksi sebelum akhirnya peruit di tiup ...

'Prriittt~'

... dan bola dilempar kearahku.

Kuterima bola itu dan segera melakukan crossover dengan gerakan cepat. Lalu maju ke sisi kiri Kakashi, namun tidak semudah itu melewatinya. Tentu Kakashi menghalangi, segera kuputar arahku dengan bola tertahan di tangan kanan. Sekilas ku lirik kebelakang ternyata Kakashi telah mengantisipasi pergerakanku dan ia bergerak ke sisi kanan pula untuk menutupi jalur langkahku selanjutnya.

Aku tersenyum spontan, sesaat setelah posisiku kembali berhadapan dengannya segera kupantulkan bola itu ke tangan kiriku lalu memantulkannya kembali segera ke tangan kananku dan bergerak kembali ke sisi kiri Kakashi sebelum ia sempat menyadari bahwa aku tidak bergerak ke arah sisi kanan yang ia jaga.

'Bug! Bug! Bug!'

"Huoooo sugoiiii! itu Fake yang luar biasa!"

Ku dengar riuh mereka yang menyaksikan one on one kami.

'Hup!'

Kumasukkan bola itu setelah berhasil melewati Kakashi dengan memaksakan gerakan spin barusan. Teknik itu kupelajari dari kakakku dulu, sepertinya Kakashi terkejut. Aku sempat melihat ekspresinya sekilas saat melewatinya tadi.

"Sasuke."

"Hn?" Aku menoleh ketika Kakashi memanggil namaku. Nafasku sedikit memburu, tapi ini belum seberapa.

"Tadinya Kufikir Kau telah berhenti bermain basket selama setahun ini. Apakah Kau masih melakukan latihan seorang diri?"

"Hn. Kita tidak pernah bermain bersama lagi sejak 4 tahun lalu. Kau akan menyesal jika masih menganggapku bocah SD."

"Kau benar, Aku tidak akan menganggapmu bocah. Tapi perkataan Itachi itu, Aku masih tidak mengerti. Jadi Sasuke, sekarang giliranku."

Ku pungut bola yang kumasukkan tadi dan berjalan ke sudut lapangan di sisi ring.

"Soal itu, Aku mungkin sudah paham maksudnya." Kakashi mengangkat sebelah alisnya, aku pun menunjukkan padanya maksudku. "Lihat ini dan Kau juga akan paham."

Akan kutunjukkan jump shoot-ku padanya. Bola itu kupantulkan beberapa kali ditempat, lalu aku pun melompat dengan sangat lembut dan melepas lemparan bola itu dengan tangan kananku saat mencapai titik tertinggi lompatan.

Bola itu melambung tinggi, semua terpaku mengikuti bola itu hingga jatuh tepat kedalam ring di sisi lain lapangan. Mereka semua terpukau seketika dan tidak percaya dengan akurasi lemparanku itu.

"Souka... begitu ya. Hahaha ... sekarang Aku paham kenapa Itachi mengatakan itu. Jadi Itachi telah menyadari bakatmu yang terletak pada matamu itu. Hm. Sejak kapan Kau menyadarinya, Sasuke?"

Sepertinya Kakashi sudah paham bahwa aku memiliki mata yang akurat dalam memprediksi waktu dan jarak. "Barusan. Saat Aku mengingat kembali sejauh mana kemampuanku dan Aku sadar lemparanku tidak pernah meleset."

"Itachi menyadari bakat alamimu, itu sebabnya ia ingin melihatmu terus bermain basket. Kau bisa saja meniadi shooter yang hebat. Jadi anggap saja one on one ini dimenangkan olehmu. Apa keputusanmu, Sasuke?"

Keputusanku ya? Kakashi bisa saja mengalahkanku dan secara otomatis aku harus bergabung dalam tim sekolah ini. Sejujurnya itu bukan ide buruk. Maksudku, aku tidak tahu harus membuat keputusan apa. Kakashi terlihat sangat yakin dengan keputusan yang akan ku buat, apa-apaan itu. Apakah terlihat sangat jelas keputusan yang akan ku ambil? Arghhhh cukup!

"Kau sangat menyukai basket, benarkan? Posisi shooting guard terbuka untukmu dan kita akan memenangkan kejuaraan bersama," ujar Kakashi menambahkan untuk meyakinkanku.

Jika ditanya seperti itu, tentu saja aku menyukai basket. Tapi masalahnya, aku merasa bimbang jika memikirkan ayah. Apa yang harus kuputuskan? Beri aku saran, kak Itachi.

To be~

AN:

Keterangan/penjelasan tentang tektik, posisi dan lainnya dalam basket tidak Saya tulis. Kalian cari saja di internet, jika tidak tahu dan penasaran. Saya sudah mengantuk, zzzzzzz!

Tinggalkan respon kalian untuk menghargai Author yang telah berusaha memikirkan dan mengetik cerita ini. Tidak susah kok, tinggal klik 'love' atau 'ikuti'. Jika rajin ngetik, silahkan respon di kotak review. Bebas respon seperti apa, bahkan flame sekalipun tidak jadi masalah! Karna respon readers adalah bukti bahwa karya Saya telah di baca seseorang.

Ingat: Saya tidak di bayar sepeser pun untuk waktu Saya yang terbuang saat mengetik cerita ini setelah pulang kerja seharian. Waktu Saya bergelut dengan fanfiction hanya ada saat malam, bahkan Saya harus mengetik hingga pagi untuk sebuah chapter. Tolong hargai usaha Saya dan para Author lainnya yang mungkin lebih membutuhkan respon kalian.

Dunia ffn kejam karna memiliki silent readers yang tidak punya sopan santun setelah membaca dan tidak menghargai usaha Author-nya. Saya kasar? Anda(sider) lebih dari kata 'kasar'.

(fuCk U sIdeR!:) - Tersinggung trus nge-flame? Itu artinya, Anda adalah salah satu dari sider yang bersembunyi selama ini.

By the way ...

Tolong untuk review berupa krisar-nya yang jelas, supaya tidak perlu pembahasan panjang dan mudah dipahami. Karna Saya karyawan harian dan tidak ada waktu banyak buat menanggapi, tentu saja Saya akan sempatkan buat membaca dan berterima kasih.

Kalau bisa krisar-nya fokus ke alur cerita, karna itu yang Saya butuhkan. Untuk penulisan yang sesuai ketentuan PUEBI/EYD, haduh... sumpah itu sudah Saya pelajari sebelum bergabung dalam fanfiction. Bahkan siapapun bisa mempelajarinya di situs internet, kecuali orang itu tak paham-paham juga.

Daripada mengoreksi sesuatu yang sudah Saya ketahui, mending koreksi yang benar-benar Saya butuhkan deh. Soalnya percuma koreksi PUEBI Saya, toh Saya sangat tahu letak kesalahan penulisan Saya jika Saya teliti ulang sendiri. Salah satu kekurangan Saya sebagai Author, Saya akui kurang teliti saat mengetik sesuai ketentuan tata bahasa atau tanda baca dan terlalu fokus memikirkan alur.

Dari awal chapter bahkan hingga akhir nanti, Saya tidak akan lupa untuk berterimakasih untuk readers yang telah memberi respon berupa apapun itu.

Masih tersinggung dengan kata-kata Saya ini? Hadehhh... Qua paling susah yang namanya ngatasin cwek baperan, nah kalau cwok ya tinggal qua jotos dah slesai masalah. [CANDA] keep calm and stay cool, it's me:) *plaksss xD

Arigatou :)