'''''Cintaku Mantul di lapangan Basket'''''
Author: Alice #Zyil_SSaver
Pairing: Sasuke, Sakura, Naruto.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Rated: T
Genre: Romance, Sport, Comedy, etc.
Note: Fanfiction, Typo (s), No Eyd, Alternative Universe, OOC (maybe), Alur berantakan dan Don't Like Don't Read Yeah!
Chapter 09,
--Sasuke pov on--
Ini bukan saat yang tepat untuk berurusan dengan mereka. Berandalan SMA Maru, kenapa harus bertemu mereka disaat seperti ini(?). Besok upacara pembukaan inter high dan babak pertama penyisihan. Jika Aku berkelahi dengan mereka, pasti mereka akan melaporkanku lagi. Dan kepala sekolah mereka akan menuntut, lalu Aku akan di larang mengikuti kejuaraan. Buruk sekali!
"Jadi kawan... bagaimana jika kita lanjutkan yang sebelumnya?" cetus sang ketua geng lawanku itu dengan nada menantang. Aku pernah mengalahkan mereka berempat, akan tetapi saat ini situasinya berbeda. Aku tidak boleh melawan mereka.
"Hah? Sejak kapan Lo jadi kawan Qua?" Ku tanggapi mereka untuk mengulur waktu, meski Aku tidak tau untuk apa ku lakukan itu.
"Hei hei ayolah. Kelakuan Lu sama skali tidak mencerminkan Sasuke. Kelakuan pengecut yang sedang mengulur waktu."
Pengecut?! Yang benar saja. Beraninya kalian mengataiku pengecut. Awas saja kalian, setelah kejuaraan selesai, akan ku hajar kalian habis-habisan!
"Hn. Qua ga keberatan ngebikin kalian babak belur lagi, sampah!" ucapku dengan percaya diri.
"Tch! Kita lihat apa Lu masih berani mengatai kami sampah setelah kami membuatmu hancur seperti sampah!"
Ku bisikkan kepada Sakura yang berdiri di sampingku secara singkat , "kita akan lari."
Ketua mereka mulai memberi instruksi untuk menyerangku dan ketika itu pula ku serukan, "skarang!" Sakura dan Aku pun segera berbalik dan lari.
Ku genggam tangan kiri Sakura agar kami tidak berpencar. Para berandalan dari sekolah negeri itu mengejar kami. Ini semua salahku, seharusnya dulu Aku tidak berurusan dengan mereka. Dan yah... Aku tidak bermaksud berurusan juga dan di cap sebagai berandalan. Tapi mereka yang memulai duluan ketika berusaha memerasku di jalan. Tentu saja saat itu Aku melawan dan jadilah musuh hingga sekarang.
"Woii pengecut! Jangan lari Lu!"
"Hn. Ayo Sakura." Ku tarik tangan Sakura berlari ke arah kerumunan orang yang sedang menonton pertunjukan band lokal.
Kami menyelip di antara kerumunan orang hingga sampai di posisi terdepan. Saat itu segera ku lepas jaket yang ku pakai dan meminta seseorang yang berdiri di sampingku untuk bertukar. Ia langsung menyetuinya karena jaket bermerekku lebih mahal dari miliknya, juga ku mintai topi yang ia pakai.
"Sakura sembunyikan gulalimu ah maksudku rambutmu."
Sejak kapan Aku menganggap rambutnya itu mirip gulali? Lupakan, bukan saatnya memikirkan itu.
Sakura segera melakukan perintahku, begitu juga ku pakai jaket murah yang baru saja ku tukar.
"Minggir! Minggir! Minggir kalian!" Ku dengar suara para berandal itu dibelakang kami di antara riuh penonton.
"Ayo Sakura, kita pindah." Ku tutup kepalaku dengan tudung jaket dan menyingkir dari sana kearah samping kanan. Tangan kirinya kembali ku genggam erat agar kami tidak berpisah dalam kerumunan ini.
Beberapa menit kami berdesakan disana dan akhirnya bisa keluar.
"Spertinya kita sudah lolos, Sasuke-kun. Hoshh hosh~" ujar Sakura. Nafasnya ngos-ngosan. Sepertinya Aku menariknya terlalu keras dan cepat.
"Hn. Tapi kita harus meninggalkan tempat ini segera sebelum mereka menyusul. Kau masih kuat?"
Sakura menganggukkan kepalanya dan kami pun berlalu dari sana.
Hari menjelang sore, ku tunda waktu kepulangan kami dan mengajak Sakura ketempat kesukaanku disana. Lokasinya tidak jauh dari Villa pamanku, dan tentu saja tidak tersentuh oleh wisatawan. Karena lokasi itu ada di wilayah pribadi pamanku. Di tepian pantai berbatu, Aku membantu Sakura menaiki salah satu batu besar disana. Ombak berdeburan menghantam bebatuan disana.
"Wahh kireiii~" seru gadis gulali yang ku bawa ini. Ah ya gulali. Rambutnya itu mirip banget sama gulali yang dibelikan kakakku ketika bermain di taman bermain saat Aku masih kecil.
"Hn." Aku pun duduk disana dan tersenyum melihat tingkah Sakura.
"Ne Sasuke-kun, bukankah kita akan ketinggalan kereta?" tanyanya kemudian mengambil tempat duduk di samping kiriku.
"Akan ku minta supir paman mengantar kita."
Gadis itu tersenyum dengan wajah berseri-seri ketika ku katakan itu, sangat manis. Namun tiba-tiba ku lihat mimiknya kembali berubah sedih. Ya astaga ... kadang Aku tidak paham kenapa gadis ini cepat sekali berubah suasana hatinya.
"Es krimnya tadi belum sempat ku makan udah meleleh semua pas lari. Ngeselin sekali~" gumamnya dengan nada sendu.
Ya ampun, es krim doang ternyata. Apalah arti sebuah es krim? Sampai sedih begitu mikirinnya.
"Hn. Kapan-kapan ku belikan lagi."
"Benarkah? Maksud Sasuke-kun kita akan pergi kencan lagi?"
"Hn"
"Yeyyyy!" Lihatlah betapa gembiranya dia hanya karena es krim vanila kesukaannya. Kalian mungkin sudah bisa tebak darimana Aku mengetahui es krim vanila adalah kesukaannya. Yap! Dari Ino. Sumpah~ Aku tidak paham sama sekali soal pemikiran wanita. Jika bukan karena ide Ino, mana mungkin terfikirkan olehku soal kencan ini.
Beberapa menit kehabisan topik, tiba-tiba suasana sunyi seolah hanya ada suara jangkrik di antara kami.
~Krik krik krik~~
Apa yang harus Kami bicarakan? Suasananya terasa canggung sekarang. Disaat seperti ini, apa kira-kira yang dilakukan sepasang kekasih?
"Etto..."
"Hn?" Syukurlah Sakura memulai percakapan.
"Hmm apa sekarang artinya... kita berpacaran?" tanyanya dengan kalimat terpotong-potong.
Ku kira dia akan bertanya apa. "Hn. Memangnya sejak kita berciuman itu apa artinya? Tentu saja Kita berpacaran."
"Hehhhh? J-jadi maksud Sasuke-kun sejak itu kita udah pacaran? Tapi Sasuke-kun tidak mengatakan apa-apa waktu itu~" Ku lihat ia memanyunkan bibirnya dengan imut.
"Memangnya apa yang harus dikatakan lagi? Aku tidak mungkin nyium cewek yang bukan pacarku, itu sudah cukup jelas." Menurutku begitu. Cinta tak butuh kata-kata.
"Ish Sasuke-kun bakka. Kan tidak semua orang bisa paham." Sakura mendumel.
Saat itu Aku hanya bisa mendengus geli melihatnya ngedumel. Dan kami menghabiskan waktu berduaan menikmati suasana matahari terbenam di atas batu serta deburan ombak.
--Sasuke pov end--
To be~
