'''''Cintaku Mantul di lapangan Basket'''''

Author: Alice #Zyil_SSaver

Pairing: Sasuke, Sakura, Naruto.

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Rated: T

Genre: Romance, Sport, Family, Comedy, etc.

Note: Fanfiction, Typo (s), No Eyd, Alternative Universe, OOC (maybe), Alur berantakan dan Don't Like Don't Read Yeah!

Chapter 12,

Tiga hari lagi sebelum tanggal 26 juli, ulang tahun Sasuke yang ke 17 tahun. Usia yang telah ditetapkan keluarga Uchiha dalam mewarisi perusahaan. Setelah kencan terakhir mereka, Sasuke dan Sakura tidak pernah lagi pergi berkencan.

Sasuke awalnya hanya disibukkan dengan latihan basket dan juga pertandingan. Namun akhir-akhir ini kesibukkannya bertambah. Ayahnya meminta Sasuke untuk mulai mengunjungi perusahaan-perusahaan yang ada dalam kota, untuk mengenal dan mempelajari secara langsung. Sehingga ketika ia turun kelapangan kelak tidak akan mengecewakan kolega perusahaannya.

Padahal saat ini setelah berhasil melewati babak penyisihan kedua, team mereka akhirnya masuk kedalam 10 besar. Pertandingan berlangsung cukup sengit ketika melawan team dari Konoha High School, salah satu sekolah negri dengan fasilitas klub basket memadai. Yang membuat team Uchiwa kwalahan adalah pertahanan tim lawan yang sulit untuk ditembus.

Saat itu Uchiwa kalah 2 point di quarter ke tiga. Mereka menjaga ketat Sasuke dengan 3 pemain dan dipaksa untuk bermain di bawah ring. Sementara pemain unggulan mereka ada dibawah ring dengan tubuh besar yang siap menjaga area mereka.

Sasuke terlihat sangat kelelahan, keringatnya bercucuran dengan tidak normal dimata Sakura yang terus memperhatikannya dari sudut lapangan bersama para pemain cadangan. Bukan hanya Sasuke yang kwalahan untuk meloloskan diri, Naruto dan Juugo yang bertugas di bawah ring juga kwalahan.

"Ini tidak bagus. Sai bersiaplah." Cetus Kakashi saat memperhatikan pergerakan Sasuke yang terlihat kacau.

~tinn~

"Pergantian pemain untuk SMA Uchiwa"

Sasuke tidak terkejut saat dirinya yang harus digantikan. Ia berjalan kearah bangku cadangan dan duduk. Nafasnya ngos-ngosan, ia memegang kaki kirinya dan meringis pelan.

"Sasuke-kun, Kamu tak apa-apa?!" Sakura menghampirinya dengan cemas.

"Minggir." Karin menyela dan mengambil alih tempat di hadapan Sasuke. Ia segera melepas sepatu di kaki kiri Sasuke dan mengecek keadaannya.

"Bagaimana, Karin?" tanya Kakashi.

"Kakinya terkilir karna kram. Ini akan sangat fatal jika dipaksakan." Ujar Karin menjelaskan sembari memberi pertolongan pertama pada kaki kiri Sasuke.

"Hmm..."

"Quarter terakhir, biarkan Aku bermain." Sasuke menatap Kakashi dengan penuh permohonan, tentu saja Kakashi paham itu. Ini mungkin akan menjadi pertandingan terakhirnya, sebab ia tahu ulang tahun adik dari sahabatnya itu tinggal menghitung hari.

"Karin, usahakan dia bisa bermain dibabak terakhir nanti."

Sakura mengerti dengan situasi saat itu. Ia merasa sedih karena tidak dapat melakukan apa-apa. Sakura membatin, "bahkan disaat kaki Sasuke sedang kram, Aku tidak bisa menolongnya. Dasar payah."

"Sakura."

"Eh hmm?" Sakura segera tersadar dari lamunannya ketika Sasuke memanggil.

"Hn, Karin sudah selesai. Kau tidak ingin duduk dan memberiku air atau handuk semacamnya gitu?" Sasuke mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman tipis yang tulus. Sepertinya pemuda itu sudah bisa mengalihkan perhatiannya dari basket dan memperhatikan kekasihnya.

Sakura sedikit terkejut dengan perubahan Sasuke. Biasanya Sasuke sangat fokus dengan basket hingga lupa dengannya. Tapi ternyata saat ini Sasuke bisa mengalihkan perhatian kepadanya.

"Hmph! Ini minumanmu, Sasuke-kun." Sasuke menerima minuman yang disodorkan Sakura. Gadis itu duduk di sebelah kanannya dan mengelap keringat di sisi wajah Sasuke.

~glekk glekk glekk~

Sasuke menaruh botolnya begitu saja saat minumannya kandas, lalu membiarkan Sakura mengelap wajahnya yang penuh keringat. "Sakura."

"Hmm?"

"Trimakasih sudah mengikutiku selama ini."

--Sakura pov on--

Kedua pipiku terasa hangat, mungkin saat ini aku sedang merona. Aku tidak menyangka Sasuke akan bertrimakasih karena ku ikuti selama ini.

"Umm tapi Aku tidak melakukan apa-apa."

"Tidak. Jika bukan karnamu, Aku tidak mungkin ada disini."

"Benarkah? Aku tidak mengerti."

"Hn."

Sasuke tidak menjelaskan kepadaku maksud perkataannya itu. Dan quarter ketiga akhirnya selesai dengan skor 79-82, kami masih tertinggal 3 point. Ku lihat para pemain kami terlihat sangat kwalahan. Segera ku lakukan tugasku sebagai asisten manager dengan memberikan mereka minuman dan handuk.

Pelatih Kakashi memberi mereka instruksi singkat dan menjelaskan kondisi Sasuke. "Aliran pertandingan masih terkendali saat ini. Selama kalian bertahan dengan selisih skor yang tidak lebih jauh dari ini pasti kita bisa menang."

--Sakura pov end--

"Bagaimana keadaanmu, Sasuke?" tanya Shikamaru.

"Hn. Tidak buruk."

"Sasuke hanya akan main di 5 menit terakhir, bagaimanapun juga kita membutuhkan 3-point nya." Kakashi menambahkan.

"Hm. Serahkan saja tugas rebound padaku. Biarkan Naruto ikut menyerang." Semua terkejut dengan pernyataan Juugo. Padahal selama ini dialah yang paling diam atau tidak banyak berpendapat. Namun jika dibandingkan dengan pemain lain, memang Juugo lah yang lebih unggul dalam rebound.

"Hmm Kita memang membutuhkan pencetak angka untuk pertahankan skor, tapi apa Kau yakin Juugo?"

"Hmp!" Juugo mengangguk sekali secara tegas.

~tinn~

Babak ke empat dimulai, para pemain mulai memasuki lapangan dan memgambil posisi masing-masing. "Yosh! Kuserahkan bawah ring padamu." Ujar Naruto seraya menepuk bahu kiri Juugo.

"Kita akan menang."

--Scene beralih--

~drrrrsssss rrrssss~

Sementara pertandingan masih berlanjut, hujan turun begitu deras diluar sana. Waktu telah menunjukkan hampir pukul 9 malam, sudah tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang saat itu. Seorang pria paruh baya memberhentikan mobil sedannya di depan toko peralatan olahraga dan keluar dari mobil. Siapa sangka ternyata pria itu adalah Fugaku, ayah Sasuke.

Pria itu segera masuk kedalam toko itu dengan sedikit terkena tetesan hujan.

"Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu?" sambut seorang pemuda penjaga toko dengan ramah.

Fugaku tidak segera menjawab, ia tampaknya masih bingung.

"Putraku akan ulangtahun ke 17, Aku ingin mencarikannya hadiah."

"Apakah putra Tuan menyukai olahraga?"

"Basket. Dia sangat suka basket."

"Kalau begitu, Saya sarankan Tuan memberikannya sepatu."

Saat itu Fugaku memilih sepasang sepatu basket berwarna darkblue dan meninggalkan toko. Ia sempat menyunggingkan senyum saat memperhatikan kembali sepatu yang dibelinya. Namun naas...

Tak lama ia menjalankan mobilnya, sebuah truk melaju berlawanan arah dan mereka ... 'Brraakkkkk!'

~tinn~

Bola melambung masuk ke dalam ring tepat didetik terakhir.

~priiitttttttttttt~

"Bola dihitung untuk SMA Uchiwa!" Seru sang Wasit memutuskan setelah peruit tanda waktu pertandingan berakhir dibunyikan, sebab bola dilempar sebelum waktu berakhir sehingga skor tetap dihitung. Keputusan itu di ikuti dengan seruan para penonton dan pemain Uchiwa dilapangan.

Dengan skor Uchiwa 98 dan KHS 96, team Uchiwa akhirnya memenangkan pertandingan

"Teme! Tadi itu lemparan terjauh yang pernah Ku lihat!" Seru Naruto seraya merangkul Sasuke dan tertawa lebar.

Sasuke menanggapinya dengan senyum dan dengusan, "heh operanmu masih buruk, Dobe. Untung bisa Ku terima, hn."

"Yo. Lemparan terakhir yang luarbiasa." Ujar Kiba seraya memberi tos kepada rekannya yang sebenarnya sedang cidera itu.

"Maaf, merepotkanmu dimenit terakhir. Bagaimana kakimu, Sasuke?" tanya Shikamaru dengan cemas. Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi tegang dan cemas.

"Permisi! Permisi! Sasuke... Kau harus ke rumah sakit skarang!" Ino tiba-tiba datang menyela.

To be~

AN: Lowongan Author dan Artist masih dibuka