'''''Cintaku Mantul di lapangan Basket'''''

Author: Alice #Zyil_SSaver

Pairing: Sasuke, Sakura, Naruto.

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Rated: T

Genre: Romance, Sport, Family, Comedy, etc.

Note: Fanfiction, Typo (s), No Eyd, Alternative Universe, OOC (maybe), Alur berantakan dan Don't Like Don't Read Yeah!

Chapter 13,

Mentari mulai naik ketika Sasuke masih terjaga disamping kiri tempat tidur Ayahnya dalam sebuah kamar rumah sakit. Terlihat berkali-kali ia hampir jatuh tertidur, namun ditahannya. Seragamnya telah diganti dengan kaos biasa dan jaket darkblue yang biasa ia gunakan.

'Tok Tok Tok~'

Seseorang mengetuk daun pintu, Sasuke hanya diam seolah tak mendengar apapun. Tak berapa lama karena tak mendapat jawaban, pintupun di buka sang pengetuk. Orang itu ternyata adalah Ino, sepupunya. Ia datang seraya membawa sebuah kotak/kardus.

"Sasuke, Kau terjaga semalaman?" Ino bertanya setelah melihat tas perlengkapan untuk pertandingan semalam masih ada disana. Pemuda itu tidak menjawab. "Jangan terlalu cemas. Kata dokter, Paman tidak terluka parah. Hanya tangan kanannya yang terkilir dan luka ringan dikepala. Ini..." disodorkannya kotak berukuran sedang yang dibawa pada Sasuke. "...kata polisi, ini barang-barang yang ditemukan dalam mobil Paman."

Sasuke akhirnya tergerak saat Ino menyebut bahwa ia membawa barang milik ayahnya. Ia menerima kotak tersebut dan membukanya. Isinya ada telepon genggam, tas laptop, beberapa berkas berantakan dan sebuah tas belanjaan.

"Kau pasti belum sarapan. Kalau gitu, Aku carikan sarapan dulu untukmu."

Ino berlalu meninggalkan Sasuke yang sedang memeriksa isi kotak itu. Sebuah kotak lainnya ia keluarkan dari tas belanjaan yang ada didalam. "Kotak sepatu?" Ia membatin dengan kening mengerut heran. Di letakkannya kotak bawaan Ino ke lantai dan membuka kotak sepatu tersebut.

Sepasang sepatu basket berwarna darkblue berukuran 41 sesuai dengan ukuran kaki Sasuke. Raut Sasuke kini berubah; terkejut dan juga haru serta mungkin sedikit bingung. "Kenapa Ayah membeli sepatu ini?" fikirnya.

"Sasuke..." Suara parau baritone Ayahnya menyadarkan ia dari lamunan.

Diletakkannya kotak sepatu itu begitu saja di atas kasur samping Ayahnya ketika membantu sang Ayah yang hendak duduk.

"Pelan-pelan, Ayah." Diposisikannya bantal dibelakang/punggung Ayahnya untuk bersandar dengan nyaman.

"Hmm."

"Akan Ku panggilkan dokter."

"Tidak usah, Sasuke. Ayah tidak apa."

Sasuke kembali duduk di kursi samping ranjang Ayahnya karena mungkin Ayahnya sudah merasa lebih baik, jadi tidak perlu memanggil dokter untuk periksa.

Saat itu suasana sedikit canggung, Sasuke memeriksa tas perlengkapannya dan mencari ponsel. Saat ia membuka tas tersebut, Fugaku memperhatikan.

"Kau tidak pulang semalam?" tanya Fugaku.

Sasuke hanya mengangguk pelan dan bergumam saat menjawab pertanyaan Ayahnya. Ia menghela nafas pelan ketika ternyata ponselnya lowbat.

"Aku akan keluar sebentar membeli bubur untuk Ayah."

"Tidak usah." Sasuke kali ini tampak tidak setuju dengan larangan Ayahnya. Ia hendak memprotes, namun Ayahnya kembali menjelaskan. "Ayah belum merasa lapar, lagipula... tidakkah Kau ingin bertanya?" Fugaku memperhatikan kotak sepatu beserta isinya yang tergeletak di dekatnya.

Untuk sesaat perhatian Sasuke teralihkan karena mencemaskan Ayahnya. Ia memang ingin menanyakan perihal sepatu tersebut. Rasa penasarannya kembali membuncah, ia pun mengangguk menginyakan pertanyaan Ayahnya. Namun entah kenapa ia merasa bingung harus bertanya apa.

--Sasuke pov on--

Kenapa Ayah membeli sepatu basket? Kenapa ukurannya pas dengan kakiku? Kenapa warnanya adalah warna kesukaanku? Untuk siapa sepatu itu? Bukankah Aku tidak akan diijinkan bermain basket lagi besok lusa?

Sederet pertanyaan itu tertahan di dalam tenggorokanku. Rasanya berat mengeluarkan kata-kata itu. Aku tidak tau kenapa seperti itu.

"Apa Ayah... membelinya?" Mungkin itu pertanyaan yang paling tepat diantara sederet pertanyaan lainnya.

"Hmm. Ayah semalam pulang lebih cepat dan ada toko sepatu yang masih buka, jadi Ayah pikir lebih baik membeli hadiah untukmu disana. Jika tidak membelinya segera, Ayah tidak sempat lagi membelikanmu hadiah sperti tahun lalu. Hah~"

Aku merasa... tersentuh ketika mendengar penjelasan Ayahku. Aku tidak pernah mengira bahwa Ayah masih memikirkan hadiah ulangtahunku. Ku fikir hubunganku dan Ayah telah rusak sejak Kakakku meninggal, karena tahun lalu Ayah tidak memberiku hadiah apa-apa.

"Hem. Karna Kamu sudah lihat hadiahnya, Kamu bisa memilikinya sekarang."

'Hug~'

Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Aku memeluknya dengan hati-hati agar tidak menyakiti tangan kanannya. Aku benar-benar bahagia. Bukan hanya karena hadiah pemberiannya, tapi yang paling membuatku bahagia adalah perhatian Ayah. Sosok seorang Ayah yang Ku fikir terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan keluarga, ternyata Aku salah. Ayah memperhatikanku, mengetahui apa yang ku sukai dan bahkan ukuran sepatuku.

"Trimakasih, Ayah."

Ku rasakan tepukan tangan Ayah dipundak kananku. Tanpa sadar Aku tersenyum saat itu.

~Cklekk~

"Etto..." Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara seseorang yang sangat Ku kenal. "...maaf mengganggu kalian, spertinya Aku datang disaat yang tidak tepat. Heheh."

"Tunggu." Ku lepas pelukanku pada Ayah dengan hati-hati tentunya dan meski agak sedikit malu juga karena kepergok berpelukan seperti itu, tapi biarlah. Lagipula yang datang adalah Sakura, kekasihku. Dia juga harus Ku kenalkan pada Ayah cepat atau lambat.

"Masuk saja, Sakura. Aku juga harus mencari makanan untuk Ayah, jadi Kamu bisa nemenin Ayah bentar."

"Soal itu... Aku bawain bubur dan sarapan untukmu juga, Sasuke-kun..."

Ku lihat ia mengangkat kotak bekal makanan dan tersenyum. Hn, kurasa dia bisa menjadi istri yang berbakti kepadaku kelak. "...tadi didepan rumah sakit, Aku bertemu Ino dan dia menitipkan bekal ini padaku. Dia sedang ada urusan mendesak katanya."

"Hah?" Aku melongo seketika mendengar penjelasan terakhir Sakura. Gadis itu telah menghampiriku dan membuka kotak bekal bawaannya. Dan kalau dilihat, itu memang bekal yang biasa di jual ditoko makanan.

Ya ampun~

Aku tarik kembali ucapanku. Sakura masih perlu di didik untuk menjadi calon istriku.

To be~

AN: Lowongan Author dan Artist masih dibuka