'''''Cintaku Mantul di lapangan Basket'''''

Author: Alice #Zyil_SSaver

Pairing: Sasuke, Sakura, Naruto.

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Rated: T

Genre: Romance, Sport, Family, Comedy, etc.

Note: Fanfiction, Typo (s), No Eyd, Alternative Universe, OOC (maybe), Alur berantakan dan Don't Like Don't Read Yeah!

Chapter 14,

--Sasuke pov on--

Hari ini Ayah telah diperbolehkan pulang. Kebetulan Ino berkunjung, jadi kami menumpang mobil yang dikendarai supirnya. Ah jangan salah paham, bukannya Aku tidak bisa mengendarai mobil selama ini. Hanya saja, Aku belum memiliki surat ijin mengemudi. Gini-gini juga aku orang yang patuh di jalanan.

Ku buka pintu mobil dan menopang Ayahku keluar. "Hati-hati, Ayah." Ujarku tak ingin Ayah sampai terjatuh karena kata dokter; kepala Ayah terbentur cukup keras dan masih akan merasakan pusing untuk beberapa hari ini.

"Wehh ini sih yang perlu ditopang bukan paman, tapi Sasuke deh kayaknya." Cetus Ino sembari memperhatikan kaki kiriku yang cedera akibat pertandingan dua hari yang lalu.

"Hn, brisik." Sahutku ketus. Ku lihat Ayah menghela nafas, mungkin ia masih memikirkan soal cederaku. Kemarin saat Sakura berkunjung, aku memperkenalkan Sakura sebagai pacarku. Tentu saja Ayah terkejut, tapi ia merestui kami akhirnya. Ayah tahu kalau Sakura adalah tetangganya. Tapi karena kesibukkan masing-masing; baik keluarga kami maupun Sakura, kami tidak punya kesempatan untuk saling berkunjung antar tetangga.

Ku dudukkan Ayahku di kasurnya saat sampai dikamar. Kamarnya lebih luas dari kamarku dan entah kenapa Aku merasa kasihan pada Ayah. Selama ini tanpa seorang istri, Ayah pasti kesepian. Bahkan mungkin lebih kesepian dibandingkan denganku. Ayah harus bekerja keras setiap harinya, karena Ayah adalah putra sulung yang mewarisi perusahan utama dari seluruh icon Uchiha.

Kak Itachi pernah bercerita dulu, bahwa Ayah juga pemain basket dimasa mudanya. Tapi karena tradisi keluarga, Ayah harus berhenti bermain dan fokus untuk meneruskan perusahaan.

"Sasuke."

"Hn? Iya, Ayah?" jawabku seraya menyelimuti kakinya.

"Hmm bagaimana kakimu?"

"Aku sudah memeriksakannya ke dokter, ini cuma terkilir biasa. Dua atau tiga hari juga sembuh." Jawabku. Ku harap Ayah tidak menjadikan cederaku ini sebagai alasan untuk melarangku bermain... ah...

Gerakan tanganku terhenti seketika saat teringat akan hari ulangtahunku.

Aku duduk di tepian ranjang Ayah dan menarik nafas berat. Kurasa tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolak larangan Ayah.

"Ada apa? Spertinya Kau memikirkan sesuatu."

Ku gelengkan kepalaku dan sedikit senyum. Mana mungkin kubilang kalau Aku ingin tetap bermain basket, sementara kondisi Ayah seperti ini dan Aku sudah berjanji akan meneruskan perusahaan yang sebelumnya dijalankan kakak setelah usiaku 17 tahun.

"Besok ulangtahunmu. Tapi sepertinya Ayah tidak bisa merayakannya."

"Kata dokter; Ayah harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak fikiran. Soal perayaan ultah, itu bukan masalah. Aku akan meminta paman Yamanaka mengatur pertemuan dengan para kolega utama dan melakukan peresmian kecil-kecilan saja. Asalkan sudah diresmikan menjadi bagian perusahaan inti dan dipercaya para kolega setia, Aku sudah bisa mengambil alih beberapa tugas Ayah. Benarkan?"

Ayah tidak segera menanggapi pertanyaanku. Tapi menurut tradisi turun temurun dari perusahaan keluarga kami, memang seperti itulah caranya. Aku hanya butuh kepercayaan dan juga cap tangan kolega setia Uchiha.

"Seminggu yang lalu pamanmu itu menemui Ayah."

"Benarkah?" Aku terkejut mendengar pernyataan Ayah. Saat berkencan dengan Sakura di pantai, Aku memang sempat bicara dengan paman dan membahas masalah alih waris perusahaan. Paman bilang kalau soal alih waris, mereka dari keluarga Yamanaka tidak bisa mengambil alih Uchiha.

Aku sudah menduganya, sebab paman hanyalah adik dari ibuku yang berasal dari keluarga Yamanaka. Intinya mereka adalah orang luar yang tidak termasuk dalam hak mewarisi Uchiha group. Tapi pikirku setidaknya paman mungkin bisa membantuku untuk sementara waktu hingga Aku menyelesaikan pendidikan.

"Bukankah Kamu yang memintanya datang ke Ayah?"

"Tidak. Aku memang menemuinya, tapi bukan memintanya menemui Ayah." Aku penasaran, apa yang dibicarakan paman dengan Ayahku?

"Memangnya apa yang paman katakan?"

"Dia memintaku menunda peresmianmu."

Aku terkejut dan juga penasaran tentunya dengan jawaban Ayah akan permintaan paman. Meski dapat kutebak, mungkin Ayah tidak bisa menundanya.

"Kemarin siang, Kakashi datang menjengukku. Dia juga mengatakan hal yang hampir sama."

"Kakashi? Ayah masih ingat dengannya?" Mungkin pertanyaanku sedikit aneh.

"Kakashi teman bermain kalian sejak kecil, mana mungkin Ayah lupa."

"Lalu... apa saja yang dia katakan?"

"Hmm... dia bilang Kau ikut dalam kejuaraan Inter-high. Dan sama seperti pamanmu, dia memintaku menunda peresmianmu"

"Lalu... hmm apa jawaban Ayah?"

'Tok Tok~'

"Masuk." Sahut Ayah ketika pintu kamarnya diketuk.

Saat pintu di buka, Ino masuk membawa makan siang untuk Ayah.

"Paman, waktunya makan siang. Setelah itu minum obat." Ujarnya sembari tersenyum. Aku baru ingat kalau memang sudah waktunya Ayah minum obat.

"Hm. Apa Kau yang masak atau bibi Chiyo?" Bibi Chiyo adalah pembantu rumah kami yang sudah bekerja sejak kakakku masih kecil atau Aku belum lahir.

"Heheh... Ino masih belum belajar masak."

Ayah tersenyum mendengar jawaban Ino. Kalau difikir kembali, dulu saat keluarga kami masih utuh Ayah juga sering tersenyum. Dan sejak di rumah sakit, Ayah juga sering ku lihat tersenyum.

"Hn. Sini biar Gw saja yang suapin." Ku ambil saja piring berisi makanan yang dipegang Ino.

"Ya sudah, rawat paman baik-baik." Ku lihat ia menaruh gelas berisi air putih ke atas meja samping tempat tidur. "Paman, Ino pamit dulu ya."

"Loh~ kok buru-buru?"

"Ino tadi bolos sekolah, hehe. Sekarang udah jam pulang, Ino harus ikut ekstra basket."

"Ckckck... klub ikut, sekolah bolos. Ada-ada saja kamu."

"Biasalah, Paman~ anak muda. Heheh... kalau gitu Ino pamit dulu..."

--Scene beralih--

Saat dalam perjalanan pulang, Sakura meminta supirnya singgah di sebuah minimarket. Karena Sasuke tidak masuk sekolah, terpaksa deh ia harus meminta supirnya antar jemput.

"Yoshh... ini cukup." Gumamnya seraya menenteng kantong berisi beberapa jenis buah.

"Karna kemarin buru-buru jadi tidak sempat bawa apa-apa buat Ayahnya Sasuke. Memalukan... padahal Sasuke mengenalkanku sebagai pacarnya waktu itu. Masa pacarnya ngejenguk gak bawa apa-apa. Huhh Aku juga gak nyangka Sasuke bakal ngenalin langsung ke Ayahnya seperti itu. Itu sangat mengejutkan. Sumpah~" Fikir Sakura saat dalam perjalanan pulang.

*Skip~

Hari sudah sore saat Sakura datang berkunjung kerumah Sasuke. Sepertinya ia pulang, mandi dan melakukan beberapa persiapan batin dulu sebelum akhirnya menyebrang ke rumah tetangganya. Akan tetapi...

"Wahh baru kali ini kita mengunjungi tetangga baru kita, ya kan Pa?"

... Sakura tidak sendirian. Ayah dan Ibunya memutuskan untuk ikut serta dalam kunjungan Sakura. Kurasa itu juga yang membuat gadis itu harus menyiapkan batin ekstra.

"Ini mau jenguk atau apa, gw kok ngerasa gugup gini. Haduh~" Sakura membatin.

To be~

AN: Lowongan Author dan Artist masih dibuka, silahkan mendaftar bagi yang berminat