'''''Cintaku Mantul di lapangan Basket'''''
Author: Alice #Zyil_SSaver
Pairing: Sasuke, Sakura, Naruto.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Rated: T
Genre: Romance, Sport, Family, Comedy, etc.
Note: Fanfiction, Typo (s), No Eyd, Alternative Universe, OOC (maybe), Alur berantakan dan Don't Like Don't Read Yeah!
Chapter 15,
Suasana sedikit canggung ketika Sakura dan orangtuanya datang berkunjung ke rumah Sasuke. Fugaku mengaku senang atas kunjungan tetangganya sehingga ia memutuskan untuk menemui mereka diruang tengah ketimbang membiarkan mereka masuk ke kamar dan menjenguk layaknya orang sakit.
"Kami jadi merasa tidak enak, harusnya Tuan Uchiha beristirahat dikamar." Cetus Mebuki, ibu dari Sakura.
"Tidak apa-apa. Saya merasa senang karna ada tetangga Saya yang datang. Lagipula Saya sudah merasa sehat." Sahut Fugaku dengan wajah ramah.
"Etto... Paman, ini Sakura bawain buah untuk Paman." Sasuke mengambil alih menerima keranjang berisi buah yang di sodorkan Sakura.
"Hmm apa Kau sendiri yang membelinya?" tanya Fugaku memastikan.
Sakura mengangguk menginyakan, "iya, Paman. Maaf kemarin Sakura tidak sempat bawa apa-apa..." ucapnya merasa malu. Ia berfikir mungkin saja Ayahnya Sasuke mengira buah itu juga bukan darinya, seperti saat ia membawa kotak makanan dari Ino.
Fugaku tersenyum, "tidak apa-apa. Kemarin Kamu pasti sangat cemas dengan keadaan Paman, hingga tidak sempat membawa apa-apa. Benarkan?"
Sakura nyengir pelan dan mengiyakan, "heheh iya, Paman."
"Itu malah bagus. Paman suka menantu yang seperti itu."
"Brusshh~" hampir saja kopi yang di seruput Ayah Sakura menyembur keluar semua. Ia terkejut dengan penuturan Fugaku, sama halnya dengan Mebuki kala itu. "Apa? Apa? Menantu?"
"Loh~? Kalian belum tau? Saya kira cuma Saya yang telat mengetahuinya."
Kedua sejoli yang tengah dibicarakan itu hanya diam, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sakura tampak malu-malu dan wajahnya sudah menjadi kepiting rebus sejak tadi. Dan Sasuke hanya diam memperhatikan gerak-gerik Sakura didepannya, sesekali ia mendengus pelan dan tersenyum tipis. Hayooo Sasuke awas ya entar disangka gila lohhh~
"Jadi kalian sudah resmi pacaran nih? Sakura, kok nggak ngasih tau mama sih?" Ujar Mebuki seraya tersenyum menggoda putri semata wayang yang duduk disebelahnya.
"Hmm abisnya entar Mama godain Sakura mulu."
"Hooo awas ya kalian pacaran jangan macam-macam, okey?"
"Ihh Mama paan sih~ Sasuke tidak seperti itu."
"Aku pasti menjaga Sakura, Tante tenang saja."
Mebuki hanya tersenyum, sejak awal ia memang tidak keberatan jika putrinya nyantol sama putra tetangganya. Mebuki juga cukup sering memperhatikan mereka berdua saat dilapangan basket belakang rumah tetangganya. Jadi Ibu satu anak itu cukup mengenal Sasuke dengan baik.
Cukup lama mereka berbincang dan bercengkrama ringan hingga terlihat keakraban diantara kedua keluarga. Saat tengah asyik, tiba-tiba Fugaku mengusir kedua sejoli itu. Ah bukan mengusir, tapi menyuruh mereka keluar sebentar sementara pihak orangtua ingin bicara.
*Skip~
"Kira-kira mereka ngebicarain apa ya?" cetus Sakura penasaran.
Mereka berjalan mengelilingi pekarangan rumah Sasuke yang cukup luas. Pekarangannya dihiasi tanaman bonsai dan tiang lampu, sehingga cukup jelas untuk mereka melangkah dalam gelapnya malam.
"Daripada mikirin itu, bagus Lu bantuin Gw jalan." Sahut Sasuke dengan langkah terhenti sembari memperhatikan Sakura yang jauh didepannya.
"Ehh? S-sasuke, gomen..." Sakura segera berbalik arah menghampiri pemuda yang tengah menatapnya datar itu.
"Hn." Sasuke merangkul kekasihnya segera dan tersenyum miring. "Nah gini kan lebih baik." Ujarnya seraya mengeratkan tubuh Sakura di dekatnya.
Sedetik kemudian Sakura akhirnya mengerti maksud Sasuke. Ia tersenyum dan mencubit pelan perut kekasihnya, "Bilang saja kalau ingin deket-deket, bleeee~" sambil memeletinya.
"Hn. Nah itu tau, dasar lelet~" dibalasnya Sakura dengan sentilan pelan dijidat lebar Sakura.
"Issh malah nyentil~" diusapnya jidat bekas sentilan Sasuke dan cemberut.
Sasuke mendengus pelan melihat ekspresi wajahnya yang lucu menurutnya, "udah gak usah manyun. Entar malah ribet masalahnya."
"Hmm? Ribet gimana maksudnya?"
"Hn. Ayo jalan lagi." Bukannya menjawab kebingungan Sakura, Sasuke malah mengalihkan topik. Dasar kebiasaan~
Padahal tinggal dijawab saja kalau pengen nyium itu bibir manyun, trus ribet kalau ketahuan orangtuanya Sakura.
Mereka terus berjalan pelan sembari menikmati suasana malam dan bercengkrama. Hingga langkah mereka tiba di belakang rumah Sasuke, tepatnya dilapangan basket. Mereka berhenti disana.
"Wahh rasanya sudah lama yah?"
"Hn?"
"Maksudku main dilapangan ini."
"Oh. Ya, apa boleh buat. Aku harus latihan dengan team ku." Tiba-tiba raut wajah Sasuke sedikit berubah saat itu. Sakura menyadarinya saat memperhatikan perubahan tersebut.
"Ada apa, Sasuke-kun? Kamu kelihatan sedih?"
Sasuke melepas rangkulannya dan duduk di tengah lapangan dengan kaki kiri diluruskan sedang yang kanan di tekuknya, lalu kedua tangan ia gunakan untuk menopang tubuhnya dari belakang. Sembari memandangi salah satu ring disisi lapangan tersebut. Sakura melihatnya, ikut duduk disisi kiri Sasuke.
"Sasuke-kun, jika ada masalah jangan lupa ada Aku. Kita harus berbagi suka duka, itulah yang namanya... pacaran." Sakura menambahkan.
Sasuke menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menceritakan semua permasalahannya. Ia juga tidak punya pilihan selain mengatakannya, toh Sakura juga harus diberitahu cepat atau lambat. Jadi, tidak ada bedanya jika ia memberitahu Sakura sekarang.
"Aku tidak punya pilihan lain, apalagi Ayah selama ini juga sudah cukup kesulitan mengurus perusahaannya."
"Sasuke-kun..." gadis itu menatapnya prihatin.
--Sakura pov on--
Aku tidak bisa berkomentar apa-apa saat ini. Masalah Sasuke diluar jangkauanku. Mungkin Aku bisa berusaha membujuk paman Fugaku untuk menunda peresmiannya. Tapi berdasarkan cerita Sasuke, mungkin itu mustahil.
"Sasuke."
Aku dan Sasuke seketika menoleh saat seseorang memanggilnya, dan ternyata paman Fugaku bersama orangtuaku menghampiri kami. Kami pun bangun dari tempat duduk kami.
"Papa... Mama, kalian sejak kapan disana?"
"Sejak Sasuke bercerita." Sahut Papa ku.
"Hn." Sasuke mengalihkan pandangannya dari paman Fugaku. Situasi mereka terasa canggung menurutku.
"Kami tadi sudah bicara mengenai kalian dan masalah Sasuke." Kata Mama.
"Bicara tentang kami?" Aku membeo penasaran.
"Sakura, Kamu sudah dengar kan barusan dari Sasuke? Nah... Kami sepakat akan mengadakan pertunangan untuk kalian."
"Apa?" / "Hah?" Aku dan Sasuke terkejut bersamaan.
"T-tunangan?"
"Iya, Sakura. Bukankah kalian serius berpacaran? Bahkan Calon mertuamu ini sudah merestui kalian, jadi tunggu apa lagi?" Ujar Mama sembari menggodaku.
"Lagipula situasi Sasuke sangat mendesak. Setelah diresmikan menjadi penerus perusahaan, pacarmu itu akan sibuk. Jadi lebih baik kalian mengikat hubungan kalian dengan pertunangan, benarkan?" Papa berpendapat, "Sasuke, Kau laki-lakinya. Gimana menurutmu?" tanya Papa.
"Hn. Keputusan kalian sangat tepat, Aku setuju."
Aku tidak percaya ini, Sasuke menyetujuinya. Berarti kami benar-benar akan bertunangan? Ya ampun Aku bahagia sekali~ jantungku berdegub sangat kencang mengalahkan irama kecepatan drible Sasuke selama ini. Tapi... mengingat soal drible, lalu itu berarti Sasuke benar-benar harus melepas basketnya?
Ku lihat Fugaku sedari tadi hanya diam. Mungkin karena ia telah mendengar Sasuke bercerita tadi dan merasa bersalah, mungkin.
"Sasuke." Panggilnya, kami hanya diam saat orangtua dan putranya itu hendak bicara.
"Mengenai peresmianmu... Ayah akan menundanya."
Ku lihat Sasuke terkejut. "Benarkah? Tapi bagaimana dengan pekerjaan Ayah? Kondisi Ayah sedang tidak baik dan pasti pekerjaan Ayah akan menumpuk."
"Ayah sudah bicarakan itu dengan Pamanmu. Dia akan membantu untuk sementara waktu."
Sasuke tersenyum.
"Tapi... hanya hingga kejuaraan inter-high selesai. Karena Kau tau, tidak mudah menenangkan hati kolega kita. Mereka hanya mempercayai keturunan Uchiha, jadi Pamanmu tidak bisa lama."
Sasuke menghampiri dan memeluk Ayahnya membuat suasana terasa haru saat itu. Bahkan Aku sendiri meneteskan air mata bahagia tanpa sadar.
"Trimakasih, Ayah."
"Hmm. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kau harus memenangkan kejuaraan inter-high, paham?" ujar Paman seraya menepuk pundak Sasuke dengan tangan kirinya.
"Itu pasti. Kami akan menang."
"Wahh kalau sudah final, Kita juga harus datang support ya kan Pa?" cetus Mama sembari menyenggol Papa. Aku merasa bersemangat dengan situasi kini. Rasanya lengkap sudah kebahagiaanku ketika kekasihku juga bahagia.
"Yoshh! Kalau gitu Paman juga harus ikut, ya kan?" Cetusku seketika membuat suasana kembali canggung. Sasuke melepas pelukannya dan menatapku datar.
Duh~ emang Aku salah ngomong ya?
"Ahahah... Sakura, Kamu ngomong apa?" Mama mendekatiku dan berbisik, "Ayah Sasuke sudah pasti sibuk, Bakka~"
"Upss~" Aku lupa memikirkan itu, tapi paman Fugaku menyahutiku diluar dugaan mereka.
"Hm. Tentu saja Aku akan datang jika Putra ku berhasil ke babak final." Kata-kata disertai senyum itu alhasil membuat bahagia Sasuke membuncah. Jika Aku diposisinya pastilah Aku sudah melompat-lompat kegirangan. Melihatnya bahagia adalah kebahagiaan ekstra bagiku.
Dan kebahagiaan itu berlanjut setiap harinya. Sasuke dan teamnya berhasil maju ke babak final. Sesuai janji mereka; paman dan orangtuaku datang menonton hingga akhir pertandingan SMA Uchiwa berhasil merebut piala kejuaraan inter-high tahun ini. Para penonton bersorak saat mengenali Fugaku sang pemilik Icon Uchiha turun kelapangan dan memeluk putranya dengan bangga. Para wartawan tak luput mengabadikan moment tersebut dan menjadi trending topik selama sepekan.
Kemenangan team basket Uchiwa di rayakan bersamaan dengan pertunanganku dan Sasuke serta peresmiannya sebagai pewaris Icon Uchiha. Kolega perusahaannya sangat mempercayai kemampuan Sasuke dalam memimpin, apalagi setelah mengetahui kemenangan yang dibawa Sasuke pada team basketnya.
Setelah peresmian itu, Sasuke benar-benar sibuk dan sering keluar kota. Kami menjadi jarang bertemu, dan Aku juga memutuskan untuk keluar dari klub basket. Karena kemampuanku bukan disana, melainkan ada pada sains. Sasuke juga yang menyuruhku untuk pindah klub sebelumnya, karena ia tak ingin Aku melakukan sesuatu yang tidak ku kuasai. Tapi Aku yakin maksud sebenarnya adalah dia cemburu jika aku dekat Naruto, hihihi~
Meski Kami sudah jarang bertemu, namun komunikasi kami tetap lancar lewat media komunikasi alias handphone atau media lainnya. Hanya satu kekhawatiranku...
"Semoga Sasuke kagak nyantol sama cewek dewasa yang oppai lebih gede.. huhu~"
"Hn. Aku lebih suka melirik punya calon istriku."
"Kyaaaaa Sasuke-kunnnnn!" Segera ku hamburkan pelukan kepada Sasuke yang ternyata pulang hari ini. Ia menyambut pelukanku dan entahlah... rasanya tubuh Sasuke lebih besar dan keras dari Sasuke yang dulu.
"Hn. Ngapain kamu malam-malam dilapangan basket?"
"Nungguin Kamu lah..."
"Kalau nunggu, harusnya dikamarku. Disini entar masuk angin."
"Ishh Sasuke-kun sekarang jadi mesum."
"Heeee yang mesum itu Kamu. Mikirnya macam-macam mulu."
'Ctikk~'
"Aduh duh kok disentil sih~" dicium kek atau apa gitu, Sasuke hobi bener nyentilin jidatku. Tapi dari sentilan itu, Aku jadi keinget saat pertama kali kami bertemu dilapangan ini. Dan... kisah cinta kami terus berlanjut sejak saat itu~
"Cupss~~"
Ciuman ini siapa yang memulai, entahlah... siapa peduli. Yang terpenting kami sedang menikmati momen berharga kami saat ini. Sampai jumpa, readers~
END
Author Note: Aw aw aw ~ Akhirnya selesai lagi cerita kita yang satu ini, gimana? Kebayang gak kamu diposisi Sakura? Kalau Author sihhh ehem ehem
Yosh~ next kita beralih dulu dari SasuSaku, Author mau bawain sebuah cerita dari Original Character. Update nya entar bakal gabung dengan grup untuk chapter khusus dewasa nya. Soalnya bikin cerita OC lebih sulit, jadi harus berbagi dengan grup agar keduanya kebagian update cerita selain fanfiction. Tentu saja Author butuh support, karena dukungan itu sangat penting. Apalagi Author tidak digaji jdi dukungan kalian sangat berharga
Okeh next ditunggu saja yah
Arigatou~
