Embraces

Discalimer © Naruto - Masashi Kishimoto

Pair : [Sasuke U. & Sakura H.] Gaara S.

Rate M

Genre : Drama

Warning : bahasa kasar. Dan beberapa kata yang tidak pantas untuk anak di bawah usia.


.

.

.

.

.


Sakura mengeratkan pegangannya pada kemeja sekolahnya yang tak terkancing. Ia menatap sendu sosok yang kini berjalan pergi meninggalkannya.

Secuil rasa sakit pun hinggap dalam hatinya sehingga ia merasakan jika matanya memanas.


.

.

.

.

.


Seorang gadis berambut soft-pink tampak mengintip di balik jendela ruang kelas. Mata sejernih batu emerald itu bergerak liar mencari sesuatu.

Ia tampak sedikit bingung karena tidak menemukan apa yang ia cari. Hingga sebuah suara mengagetkannya.

"Sedang apa kau ?"

Sakura menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati seorang pemuda berambut coklat jabrik yang menatapnya penuh curiga.

"Ah, Kiba." Sakura melirik kedalam kelas sebentar sebelum menatap lurus ke arah pemuda yang ia panggil Kiba. "Apa kau lihat Gaara-kun ?"

"Gaara ?" Kiba memiringkan kepalanya. "Aku tadi melihat dia ke atap."

"Ah, terima kasih." Sakura segera melangkahkan kakinya menuju ke atap sekolah. Senyumnya pun mengembang. Tak henti-hentinya dia memasang garis lengkung ke atas tersebut. Seolah memberitahukan jika dirinya tengah bahagia.

Sakura membuka pintu atap. Tak perlu waktu lama untuk menemukan Gaara yang tengah duduk di pinggir pagar pembatas.

"Gaara-kun." Sakura berlari kecil menuju ke arah kekasihnya. Ia berinisiatif duduk di samping Gaara. "Kenapa kau ada disini ? Padahal aku dari tadi mencarimu." ujarnya di sertai helaan nafas panjang.

"Ini sudah masuk makan siang. Apa kau sudah makan ? Kalau belum, kita makan. Kau seharusnya memperhatikan kesehatanmu. Bukankah aku sudah bilang untuk menjaga-"

"Berisik !"

Gumanan tajam milik Gaara membuat Sakura terdiam sepenuhnya. Gadis itu menatap kaget ke arah Gaara. Pemuda berambut merah itu memasang raut wajah yang seolah terganggu akan kehadiran Sakura.

Sakura cemberut. "Bodoh, aku tidak peduli. Kau harus makan dulu. Sebentar lagi jam istirahat akan ha-"

"Bisakah kau diam." Gaara memberikan tatapan tajam pada Sakura yang kembali terdiam. "Jangan membuatku semakin pusing." Gaara pun berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Sakura yang mematung.

Terbesit rasa sakit di dada gadis musim semi tersebut. Membuatnya merasakan bulir-bulir panas yang menghalangi pengelihatannya. Di gigitnya bibir bawahnya guna menahan air matanya yang akan keluar.

.

.

.

.

Sekolah pun telah usai dari jam lima sore. Tapi Sakura belum mendapatkan kabar dari Gaara. Gadis itu tampak menatap layar ponselnya. Menghitung waktu yang terus berjalan.

Sudah hampir jam sepuluh tapi Gaara tidak memberinya kabar. Biasanya pemuda itu rutin memberinya kabar. Entah kenapa pemuda itu tampak menghindarinya.

Sakura mulai mengetik pesan singkat kepada Gaara. Ia pun memasang wajah cemberut seolah ia sedang marah.

Sakura

Kemana saja kau panda ?! Aku menunggumu memberi kabar.

Sakura meletakan ponselnya dan menunggu dengan sabar balasan dari Gaara.

Lima menit...

Sepuluh menit...

Tiga puluh menit...

Satu jam...

Satu jam lamanya Sakura menunggu balasan dari Gaara. Namun pemuda itu tidak ada tanda-tanda membalas pesannya. Jangankan membalas, pemuda itu bahkan tidak membaca pesan yang di kirim Sakura.

Rasa kecewa pun hinggap sebentar di benak Sakura. "Apa dia tidur ?" guman Sakura sambil menatap sendu layar ponselnya.

Drrrtt... Drrrttt...

Getaran di ponselnya membuat Sakura terlonjak senang. Dengan semangat ia membuka pesan yang di terimanya.

Gaara

Kenapa harus menungguku memberi kabar ? Bukankah kau bisa mengirimiku pesan dahulu.

Jawabannya cukup jelas untuk Sakura. Itu berarti Gaara sudah tidak mau mengirim pesan padanya. Pemuda itu juga sudah tidak peduli pada apa yang sedang Sakura lakukan.

Sakura menulis pesan balasannya.

Sakura

Apa kau masih marah padaku ?

Tidak selama diawal Sakura mengirim pesan pada Gaara. Selang beberapa menit pemuda itu membalas pesannya.

Gaara

Kenapa aku harus marah padamu ?

Bukan jawaban yang ia dapat. Namun sebuah pertanyaan. Sakura menaruh ponselnya. Cukup sudah ia merasakan sakit hati untuk hari ini.

Gadis itu mulai membaringkan tubuhnya. Bersiap untuk tidur. Ia membiarkan pesan dari Gaara tanpa perlu menjawabnya.

Dan selanjutnya terdengar sebuah isakan lirih yang memenuhi kamar tersebut.


.

.

.

.

.

.


Hari pun berganti. Kini Sakura pun membuang harga dirinya sebagai seorang perempuan. Ia selalu mengirim pesan duluan ke Gaara. Hingga sebuah ide jahil pun terlintas. Ia terlalu lelah menanyakan hal yang hanya di jawab Gaara dengan 'iya' 'tidak' dan 'hmm'

Sakura

'Gaara-kun, kau sibuk ?'

Setengah jam ia menanti balasan dari Gaara dengan frustasi. Hingga ponselnya pun berdering.

Gaara

'Ada apa ?'

Sakura mengetik balasan pesan itu dengan cepat.

Sakura

'Bolehkah aku menelpon. Ada yang ingin aku bicarakan.'

Cukup cepat respon dari Gaara. Sakura segera membuka pesan tersebut.

Gaara

'Bicarakan sekarang, atau tidak selamanya.'

Dia benar-benar pemuda egois. Ia bahkan tidak memperdulikan Sakura dan hanya memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.

Sakura

'Bisakah kau temanin aku mengobrol sampai aku tertidur.'

'Aku lelah...'

'Ingin sekali aku tidur.'

'Selamanya.'

Cukup lama ia menunggu balasan dari Gaara. Padahal ia sudah membacanya namun tak kunjung membalas pesan Sakura.

Hingga sepuluh menit berlalu baru ia mengirim pesan balasan.

Gaara

'Kau semakin membuatku takut.'

'Sudahlah, jangan kirim pesan kepadaku lagi.'

'Sudah cukup sampai sini saja.'

Dheg

Bukan jawaban yang Sakura inginkan. Ia merasa sesak dengan jawaban Gaara. Dan dengan mudahnya pemuda itu mengatakan sampai disini setelah ia membuat luka di hati Sakura. Tidak tahukah jika luka di dadanya cukup besar.

Sakura segera mengetik permintaan maaf dan mengatakan jika itu hanya bercanda. Dia juga bilang jika ia ingin mendengar suara Gaara karena begitu merindukannya.

Gaara

'Sudahlah, aku tidak mau terlibat denganmu lagi.'

Tangisan Sakura semakin menjadi. Ia segera mengetik pesan dengan cepat. Kedua tangannya bergetar hebat. Ia meminta satu kesempatan lagi dan tidak akan bercanda seperti itu lagi.


.

.

.

.

.

.


Seharian penuh Gaara tidak memperdulikannya. Yang ia lakukan hanya marah-marah saat Sakura mengajaknya berbicara. Hal itu membuat Sakura sedih. Ia kadang menangis sendiri mengingat apa yang di lakukan Gaara.

Bahkan yang paling menyakitkan adalah saat dirinya mulai curiga jika Gaara memiliki perasaan pada perempuan lain. Namun saat ia bertanya malah hanya di jawab dengan pertanyaan.

Flashback On

"Jika ada kenapa ? Jika tidak ada kenapa ?"

Nafas Sakura terasa berhenti. Ia menatap Gaara tidak percaya. Perlahan ia mulai menangis, kembali meneteskan air matanya. Sakura terisak seraya menatap Gaara tidak percaya.

Entah kenapa pertanyaan itu membuat Sakura yakin jika Gaara memiliki perempuan lain. Semenjak kepindahan Gaara ke rumah ayahnya, pemuda itu tampak seperti orang lain.

"Aku tidak percaya kau mengkhianatiku." Sakura kembali terisak.

Sementara Gaara hanya mengendus jengkel. "Diamlah, kau sungguh menjengkelkan." dan pemuda itu pun pergi meninggalkan Sakura di bangku taman.

Flashback Off

"Kau menangis ?"

Sakura tersentak kaget lalu ia dengan segera mendongkak menatap siapa yang ada di depannya. Alih-alih Gaara mencarinya. Hanya sosok Uchiha Sasuke yang berdiri di depannya dengan tatapan bingung.

Pemuda itu duduk di samping Sakura. Masih memperhatikan Sakura yang sibuk mengusap pipinya yang basah.

"Ada apa ?" tanya Sasuke penasaran.

"Ah, tidak ada." dusta Sakura menatap lurus ke lapangan sepak bola. Ia lebih memilih menghindari pertanyaan Sasuke daripada menjawabnya.

"Kau sudah makan ?"

Sakura tersenyum kecut. Lucu sekali, orang lain saja menanyakan dirinya apakah ia makan atau tidak. Tapi kekasihnya bahkan tidak menanyakan keadaannya.

"Kau baik sekali, Sasuke-kun." guman Sakura yang di dengar jelas oleh Sasuke.

"Apa ?" Sasuke hanya menyengitkan alisnya bingung. Apa yang terjadi pada gadis di depannya ini ?

"Aku melewatkan makan siangku." jawab Sakura seraya tersenyum seceria mungkin.

Sasuke menyentuh bahu Sakura. "Mau makan bersama ?"

Sakura tertawa kecil. "Aiya... Aku tidak mau kekasihku salah paham lagi kepadaku." Sakura menyentuh tangan Sasuke. Mencoba melepaskan pegangan itu pada bahunya. Ia pun berdiri berniat pergi dari sana.

"Aku kembali ke kelas dulu, Sasuke-kun." Sakura pun pamit dan berjalan melangkah ke gedung sekolahnya. Sakura membeku di langkahnya yang kelima. Emerald itu membulat menatap sosok yang menatapnya dengan tatapan tidak suka di ujung koridor.

Itu Gaara. Sejak kapan pemuda itu ada disana. Terlihat Gaara melangkah pergi meninggalkan Sakura.

"Gaara-kun !" Sakura bergegas menyusul Gaara. Segera ia raih tangan pemuda itu. "Apa kau marah ? Maafkan aku, aku tidak sengaja bertemu dengannya." jelas Sakura.

"Lepaskan. Aku tidak perlu ucapan maafmu yang tidak berguna itu." ujar Gaara tajam. Ia pun berjalan pergi meninggalkan Sakura.

"Gaara-kun, tunggu ! Aku benar-benar tidak sengaja !" nafas Sakura pun mulai memburu. Tubuhnya oun terasa panas dingin. Hanya ada satu kata yang ada di pikirannya

Putus.

Ia tidak mau berpisah dengan Gaara. Tidak akan, ia tidak bisa melepaskan pemuda itu. Ada satu hal yang tidak bisa ia lepaskan.

"Aku mohon dengarkan aku. Aku sungguh tidak bersamanya. Itu hanya kebetulan." Sakura pun memohon. Ia pun kembali menangis. "Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi. Aku benar-benar tidak sengaja bersama Uchiha Sasuke."

Gaara tertawa merendahkan. "Bukankah sudah ku bilang jika yang kemarin adalah yang terakhir. Tapi apa ? Jangan membuatku tertawa Sakura."

"Aku serius, ku mohon jangan pergi."

Gaara diam menatap Sakura sebelum padangannya menurun ke tubuh Sakura. Gaara mengendus. "Akan ku maafkan, asal datanglah ke apartemen lamaku." Gaara pun segera pergi meninggalkan Sakura yang kini mematung.

Tubuhnya bergetar ketakutan. Bukan karena ia akan di pukuli oleh Gaara. Pemuda itu semarah dan sebenci apapun tidak akan memukul seorang gadis. Tapi yang di maksud Gaara sudah jelas apa itu.

Pemuda itu butuh pelampiasan nafsu. Gaara menginginkan sex. Hanya saja Sakura membencinya. Sakura tidak mau melakukan hal kotor itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mau kehilangan Gaara.

"Aku tidak mau melakukan itu." guman Sakura seraya memeluk tubuhnya yang bergetar.

.

.

.

"Sudahlah !" Gaara membentak Sakura kesal. Ia segera menaikan rensleting celananya. Dengan kasar ia membenahi kancing kemejanya.

Setelah itu pemuda itu pergi meninggalkan Sakura yang kini mengeratkan kemejanya yang belum terkancing. Gadis itu mulai menangis, ia sungguh malu dan menyesal datang ke apartemen Gaara.

Sakura hanyalah gadis polos. Dan saat itu ia di perintah Gaara melakukan Onani agar membuat Gaara bernafsu. Namun mau bagaimanapun Sakura tidak bisa merasakan nikmat. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga akhirnya Gaara marah dan pergi.

Sakura dengan lesu mengancingkan seragamnya. Segera ia tinggalkan apartemen itu setelah semuanya terpasang rapi. Ia harus pulang ke rumah atau ibunya khawatir akan dirinya.

"Tadaima." ujar Sakura tidak bersemangat. Ia pun segera mencari ibunya. Sakura menemukan ibunya sedang bersama kakak laki-lakinya.

"Ah, kau sudah pulang, Sakura." ibunya pun menyadari kehadirannya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sakura. "Okaa-san." Sakura mulai menangis seraya memeluk Mebuki yang tampak bingung dan khawatir.

Sakura menangis keras seperti orang gila. Ia meluapkan semua emosinya. Namun hal itu juga membuat ibunya menangis ketakutan dan Sasori yang tampak begitu khawatir.

"Sakura, apa yang terjadi ? Katakan pada Onii-chan." Sasori mulai berkaca-kaca. Bagaimana pun Sakura adalah adik satu-satunya yang dia punya. Satu-satunya saudaranya. Dan melihatnya menangis membuat hatinya sakit.

Sakura semakin menggila. Ia menjerit dan menangis keras. Menangisi kebodohannya selama tiga bulan ini. Menangisi dirinya yang bodoh itu. Dan menangisi semua hal yang pernah ia lakukan.

'Ahh... Benar. Aku adalah Haruno Sakura. Aku gadis yang memiliki martabat dan harga diri yang tinggi. Sudah cukup untuk semuanya. Selamat tinggal. Sabaku Gaara.'


.

.

.

.

.

.


Setelah hubungan Sakura dengan Gaara berakhir. Gadis itu cukup terkejut melihat sosok Gaara yang sedang berkencan dengan perempuan lain. Perempuan berambut coklat itu diperlakukan Gaara dengan baik.

Sejak kapan ?

Sejak kapan mereka bersama ?

Apa dia datang saat Gaara berada di rumah ayahnya ?

Atau Sakura lah pihak ketiga tersebut ?

"Dasar laki-laki sialan." Karin selaku Sahabatnya pun mengumpat kesal. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Gaara yang brengsek.

"Jangan di pikirkan Sakura ! Dia tidak pantas untukmu. Dia terlalu bajingan untuk orang sepertimu." Karin masih mengumpat dan tetap mengawasi Gaara dari jauh.

Mereka tidak sengaja bertemu di sebuah cafe. Entah kenapa Gaara menyadari kehadiran Sakura dan sengaja melakukannya di depan Sakura.

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia tidak sedih, ia hanya kecewa dan marah. Memang benar kata pepatah. Laki-laki yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah merusakmu.

Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya merusak wanita lain kan ?

Karena tidak berani merusak kekasihnya maka Gaara dengan senang hati merusak Sakura. Begitu kan ?

"Jangan hiraukan panda busuk itu." Ino pun juga kesal. "Memang laki-laki itu brengsek. Yang mereka pikirkan hanyalah dada dan selangkangan."

"Aku tidak apa-apa, sungguh."

Sakura hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tapi bukan berarti dia marah-marah tidak jelas kan ?

"Benar, lebih baik kau fokus pada Uchiha Sasuke saja." Ino berujar seraya menyeruput minumannya.

"Iya, eh apa ?" Sakura tersentak kaget. Dia tidak salah dengar kan ? Uchiha Sasuke siapa ? Jangan bilang pangeran kita yang mereka maksud.

"Aku meminta Sasuke datang." Karin pun tertawa dengan nada yang mengesalkan.

"Tapi kenapa Sasuke ?"

Ino dan Karin saling lempar pandangan. Seolah memberi sebuah kode. Dan mereka serempak berdiri dari kursinya.

"Oke Sakura, Sasuke sudah datang. Kami pergi dulu." Ino dan Karin segera bergegas meninggalkan Sakura.

"Tunggu dulu kalian ! Apa maksudnya ?!" Sakura ikut berdiri, baru saja ia hendak menyusul namun sebuah nada suara berat menginstrupsinya.

"Sakura ?"

Dengan perlahan Sakura menoleh kebelakang. Bisa dilihat sosok Uchiha Sasuke yang tampak menawan dengan celana jins hitamnya dan kaos putih yang di balut dengan kemeja hitam.

"Sasuke-kun." sapa Sakura canggung.

"Mau pergi ?" Sasuke memiringkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat menyerigai membuat Sakura merona.

Ah sial, terkutuklah kau gen Uchiha ! Bagaimana bisa mereka memiliki wajah rupawan.

.

.

.

.

Setelah seharian penuh mereka habiskan. Akhirnya mereka duduk santai di sebuah taman. Sakura dengan terang-terangan mengatakan jika ia dan Gaara sudah selesai. Ia juga merencanakan kepindahan sekolahnya.

Bagaimanapun jika ia bersekolah di tempat yang sama dengan Gaara tidak akan membantunya pulih. Yang ia ingat hanyalah kenangan buruk. Ia butuh ketenangan.

"Kau akan pindah sekolah ?"

Sasuke selalu saja mengikutinya. Dimana pun Sakura berada pasti akan ada Sasuke. Pemuda itu selalu tahu apa yang terjadi pada Sakura.

Dan dialah yang menjadi penyebab awal hubungannya dengan Gaara retak. Itu karena saat Sasuke meminta SNS-nya, dan Sakura dengan polosnya memberikannya pada Sasuke.

Namun sayangnya hal tersebut diketahui oleh Gaara. Mulai dari situ Gaara bersikap kasar padanya.

Tapi Sakura tidak pernah menyalahkan Sasuke. Karena Sakura tahu jika Gaara hanya menginginkan tubuhnya bukan hatinya.

"Iya, mungkin Yokohama lebih baik daripada di Tokyo." guman Sakura.

Sasuke hanya diam menatap Sakura yang melamun seraya bermain ayunan. Sakura segera berdiri dari ayunan itu. Ia menangkap bahu Sakura membuat gadis itu berhenti berayun.

"Sasuke-kun ?" Sakura mendongkak menatap Sasuke yang sedang berpikir. Ekspresi wajah pemuda Uchiha itu tampak kesakitan dan khawatir. Meski hanya sekilas tapi Sakura menangkap jelas ekspresi tersebut.

"Ada apa ?" tanya Sakura lagi karena Sasuke hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Sakura.

Sasuke merunduk dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Sakura. Ciuman lembut nan singkat itu membuat Sakura membeku kaget.

"Aku menyukaimu, Sakura." guman Sasuke. Pemuda itu berjongkok lalu mendongkak menatap Sakura dengan penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu."

Air mata mulai menggenang. Ia tersentak begitu mengingat hal buruk itu. "Itu salah Sasuke-kun." dia mulai terisak. Ia menatap Sasuke dengan ekspresi kesakitan. "Aku kotor, Sasuke-kun. Aku hanyalah gadis kotor."

Sasuke memeluk Sakura. "Aku tidak peduli. Aku mencintaimu apa adanya." Sasuke mengeratkan pelukannya. Di satu sisi Sakura butuh sebuah pegangan akan tetapi di satu sisi ia takut menghancurkan Sakura yang kini ada di pelukannya. Dia begitu rapuh dan mudah hancur saat di sentuh dengan tangannya.

"Aku akan mencintaimu. Sekarang, besok dan selamanya." Sasuke kembali berujar. "Jika tidak ada yang menginginkanmu, ingatlah aku. Aku menginginkanmu. Selalu menginginkanmu."

"Kau seharusnya bersama orang yang mencintaimu Sasuke-kun. Kau tidak seharusnya terjebak dengan gadis yang menyedihkan ini." guman Sakura putus asa.

Ah !

Sudah berapa banyak Sakura mengeluarkan air mata. Terlalu banyak luka Sakura. Ia hanya seorang manusia. Menangis adalah hal wajar saat ia merasakan sakit.

"Kau berharga bagiku, Sakura. Jika kau tidak mencintaiku, cukup aku yang mencintaimu." Sasuke menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kedua tangan pemuda itu terulur untuk menyentuh kedua sisi kepala Sakura. Menatap lurus mata Sakura dengan penuh keyakinan.

"Dan setelah itu, ayo kita menikah."

Sakura membungkam mulutnya. Ia sungguh tidak bisa berkata apapun. Sasuke adalah orang yang sangat baik. Dia menerima Sakura apa adanya. Meski Sakura kotor, tapi pemuda itu mau membersihkan kotoran itu. Ia memeluk Sakura tanpa jijik.

Dan barusan apa itu ?

Sebuah lamaran. Pemuda tampan ini benar-benar serius terhadap Sakura.

Tuhan...

Bolehkan Sakura bahagia ?

.

.

.

Fin