Daiya no A belongs to Terajima Yuuji

PERHATIAN!

AU! Typo, OOC, OC (untuk keperluan cerita) dll.

Selamat membaca!


Father and Son

.

Sebuah surat eletronik yang diterima Eijun pagi itu sukses mengacaukan seluruh harinya. E-mail itu dikirim oleh kakak perempuannya, Sawamura Wakana.

Hasil CT-Scan sudah keluar. Kata dokter, Ayah mengidap kanker otak stadium 4. Apa kau tetap tidak akan pulang, Ei-chan?

Eijun memejamkan matanya dan berkonsentrasi penuh. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan sebuah perasaan seperti timah panas memasuki hatinya dan berusaha menghancurkannya dari dalam.

Sebuah kecupan singkat di pipi Eijun lah yang membuatnya kembali membuka mata. Kazuya berdiri di sebelah Eijun, memegang teko berisi kopi panas dan dia duduk di depan Eijun sambil menuang cairan hitam pekat itu kedua gelas dan menyerahkannya satu pada Eijun.

"Pagi," kata Kazuya. Dia sudah memakai kacamatanya dan rambutnya yang coklat masih acak-acakan. Pria itu masih memakai piyama.

"Kau belum berganti pakaian?" tanya Eijun pada pasangannya.

"Aku libur hari ini," jawabnya, "kau sedang memikirkan apa?" tanyanya.

Sebagai jawaban, Eijun hanya menghela napas lelah dan menyenderkan punggungnya ke punggung kursi makan mereka. Dia menggigit bibir bawahnya seperti menahan suaranya tidak menjerit dan berteriak panik. Dia masih memasang wajah datar dan tatapannya tetap terpaku pada layar laptop-nya.

"Dunia pada Eijun!" seru Kazuya. Lagi-lagi, Eijun hanya memberinya lirikan dan tidak mengatakan apapun. "Apa penelitianmu bermasalah?" tanya Kazuya lembut dan penuh pengertian.

Eijun menggeleng. Dia menelan ludahnya seperti menelan pisau.

"Sayang," panggil Kazuya lembut. Dia meraih tangan Eijun pelan menggenggamnya lembut. Sentuhan Kazuya memang selalu terasa hangat. Bukan hanya tangan Eijun yang menghangat, tapi sampai menyentuh relung hatinya yang paling dalam dan paling gelap. Matanya menghangat dan penglihatannya buram. Suaranya tercekat.

"Ayah sakit, Kazuya…" katanya pelan.

Mendengar informasi itu, Kazuya langsung berpindah duduk menjadi di sebelah Eijun.

"Wakana mengirim e-mail," ceritanya. Dia mengarahkan layar laptop ke arah Kazuya, supaya pria itu bisa melihat isi surat itu dengan jelas. Kazuya membacanya. Lalu, dia menaruh kepala Eijun di bahunya dan mengecup surai coklat milik Eijun yang selalu berbau matahari dan antibiotik.

"Ayo kita pulang ke Jepang," bisik Kazuya lembut.

Namun, Eijun menggeleng. "Aku tidak mau pulang," katanya.

"Eijun, ini bukan waktunya seperti itu," kata Kazuya, "ini menyangkut Ayahmu."

Eijun menatap Kazuya. "Justru karena ini Ayahku, Kazuya." Dia menggeleng dan menghela napasnya. "Dia benci aku. Mungkin melihatku adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya sebelum dia mati."

"Jangan berkata seperti itu!" tegur Kazuya. "Dengar Eijun," kata Kazuya, "kau sudah tidak pulang hampir 15 tahun. Sampai kapan kau akan membiarkan masalah ini berlarut-larut?"

"Bukan aku yang meminta," kata Eijun, "bukan aku yang memulai semuanya!"

Kazuya menghitung sampai sepuluh di dalam hatinya untuk mengembalikan semua kesabarannya. Menghadapi Eijun bukanlah hal yang mudah, apalagi jika menyangkut hubungannya dengan Ayahnya. Hubungan mereka seperti Amerika Serikat dan Russia, perang dingin yang tidak berkesudahan.

"Kakakmu sudah meminta," kata Kazuya, "dan aku tahu bahwa Wakana-san bukanlah orang yang akan mengirimu e-mail kalau kondisinya tidak mendesak."

Eijun melirik Kazuya. "Oh, kau kenal kakak perempuanku dengan baik sekarang?" tanyanya sengit.

Kazuya tidak mau bertengkar pagi ini hanya karena masalah seperti ini. Justru mereka berdua tidak seharusnya bertengkar karena masalah ini. "Sayang, kita tidak boleh bertengkar sekarang," kata Kazuya, "aku tidak mau bertengkar denganmu."

Eijun menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan-lahan. Sepertinya dia terlalu emosi pada Kazuya pagi hari ini dan tanpa sadar menyulut api di antara mereka. Dia mengecup bibir Kazuya lembut dan penuh permintaan maaf. "Aku juga tidak mau bertengkar denganmu. Maaf," katanya.

Kazuya menyunggingkan sebuah senyuman. Mereka sudah hidup bersama selama 17 tahun, tetapi kadang pertengkaran bisa saja tersulut karena hal-hal remeh. Apalagi dengan kondisi pagi hari ini dengan mental Eijun yang masih tidak stabil karena berita dari kakak perempuannya, bertengkar bukanlah pilihan.

Kazuya mencium Eijun dengan lembut. Tidak ada tuntutan dan paksaan. Tidak ada juga hasrat dan nafsu di dalam ciuman itu. Ciuman itu murni sebagai dukungan dan rasa cinta yang tersalurkan. Kazuya melepaskan ciuman mereka berdua. "Aku akan mencari tiket pesawat ke Jepang hari ini juga," katanya, "kita akan kembali ke Jepang dan menyelesaikan semuanya."

.

Penerbangan Amsterdam ke Tokyo bukanlah penerbangan yang singkat. Duduk kaku di dalam pesawat selama hampir 12 jam merupakan sebuah siksaan fisik dan mental. Eijun dan Kazuya mengatur jam tangan mereka begitu mereka tiba di Bandara Internasional Narita.

Pesawat mereka take-off pukul 12 siang waktu Amsterdam dan 12 jam berlalu selama di perjalanan, sehingga mereka sampai di Narita pukul 12 malam waktu Amsterdam. Lalu, karena waktu di Tokyo 7 jam lebih cepat dari Amsterdam, maka matahari sudah mulai terbit di langit Chiba ketika pesawat mereka landing.

Wajah kedua pasangan itu pias, pucat, dan tampak gurat-gurat kelelahan. Dua koper besar diseret setengah hati oleh pasangan itu.

"Miyuki Kazuya dan Miyuki Eijun," kata petugas bandara. Mereka mengembalikan visa dan paspor mereka berdua. Di beberapa lembar, kedua buku itu terdapat cap stempel oleh petugas imigrasi. "Selamat datang kembali di Jepang."

Eijun dan Kazuya hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun. Mereka kembali menyeret koper mereka menuju luar bandara dan mencari bus untuk membawa mereka menuju Nagano.

Eijun diam seribu bahasa sejak mereka sampai di tanah Jepang. Kazuya menyalakan ponselnya lagi dan mengirim sebuah e-mail pada kakak iparnya.

Kami berdua sudah sampai di Narita. Sedang berada di bus untuk menuju ke Nagano.

Balasan e-mail datang tak lama setelahnya.

Syukurlah. Aku akan menjemput kalian berdua di terminal bus. Aku juga tidak bilang pada Ayah kalau kalian berdua datang berkunjung. Apa Ei-chan baik-baik saja?

Kazuya tidak langsung membalas. Dia melirik Eijun yang menopang dagunya dan menatap kosong ke jendela bus. Pikiran Eijun sudah penuh dengan perasaan nostalgia dan rasa sakit yang berkepanjangan. Kazuya tahu bahwa alasan Eijun pergi dari Jepang belasan tahun lalu itu untuk melupakan luka batin akibat hubungannya yang tidak akur dengan sang ayah.

Sebaik yang bisa diharapkan.

Lalu, tidak ada balasan lagi dari Wakana. Kazuya memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi. Dia menatap Eijun yang sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Iris emas itu meredup. Kazuya tahu bahwa Eijun selama ini tidak menghiraukan sebuah luka yang selalu ada dihatinya. Dia mengabaikannya, menenggelamkan diri pada pekerjaan dan penelitiannya, dan tidak pernah sekalipun pulang ke Jepang dalam kurun waktu 15 tahun.

"Pemandangannya sangat beda," gumam Eijun. Dia masih menatap kaca bus.

Kazuya mengangkat tangannya dan mengelus helaian milik Eijun. "Kita sudah tidak kembali selama 15 tahun," katanya, "apa yang kau harapkan dari itu?"

"Mengerikan sekali," kata Eijun lagi.

Kazuya tidak mengatakan apapun lagi. Jet lag benar-benar menghantamnya seperti truk. Melihat perbedaan waktu, seharusnya di Amsterdam saat ini sedang tengah malam, sehingga jadwal tidur milik Kazuya juga otomatis mengikuti perputaran waktu di Amsterdam. Matanya terasa berat sampai akhirnya dia hanya bisa melihat titik-titik hitam. Miyuki Kazuya jatuh tertidur di dalam bus.

Eijun melirik suaminya yang sudah tidak kuat menahan kantuk. Kepalanya menunduk dan dia tertidur dalam kondisi lelah. Wajahnya sangat damai dan tanpa beban. Eijun iri melihatnya, dia juga ingin bisa tertidur seperti Kazuya saat ini.

Sejak surat elektronik yang diterimanya dari Wakana, Eijun tidak bisa berpikir apapun lagi. Kazuya yang mengatur semuanya. Eijun bahkan tidak bisa satu kalipun memejamkan matanya dengan tenang di dalam pesawat. Karena setiap dia memejamkan matanya, dia akan kembali terbawa arus oleh memori yang selalu ingin dia lupakan.

Sebuah luka lama kembali berdenyut. Kian lama kian besar dan keras denyutannya, sampai kadang Eijun merasa sesak. Dia sudah menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air matanya di pesawat. Dia tidak mau membuat Kazuya khawatir karena menangis tiba-tiba. Namun, ketika dia sampai di Bandara Narita, menginjak tanah kelahirannya setelah hampir dua dekade ditinggalkannya, perasaan itu semakin menyiksanya. Semakin besar dan menghimpit hatinya.

Sepanjang perjalanan menuju Nagano, Eijun tidak bisa memalingkan wajahnya dari jalanan yang sudah dikenalnya, tetapi terasa begitu asing dan begitu baru di memorinya. Ini jalan yang sama dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu, tetapi juga sebuah jalan baru yang tidak dikenalnya.

Barulah ketika dia melirik Kazuya yang tertidur akibat efek Jet lag, Eijun tidak bisa menghentikan dirinya dari menitikkan air mata. Air matanya keluar begitu saja, tidak ada isakan, tidak ada suara tersedu-sedu. Dia menangis sambil menatap datar ke sebuah jajaran landscape yang merupakan rumahnya.

Kini, luka yang sudah dibiarkannya untuk waktu yang lama menuntut untuk diperhatikan. Eijun tahu bahwa dia tidak bisa terus bersembunyi dan lari untuk selamanya. Dia tahu bahwa suatu hari nanti dia akan menghadapi hal ini lagi. Namun, dia tidak menyangka bahwa perasaannya akan terlibat sedemikian rupa hingga dia merasa tidak berdaya.

.

Sawamura Wakana memeluknya dengan sangat erat, sampai Eijun merasa tulang-tulang punggungnya patah. Eijun balas memeluk kakak perempuannya dengan erat, sampai tubuh Wakana terangkat.

"Oh Ei-chan…" gumam Wakana penuh kerinduan.

Mereka berdua melepaskan pelukan masing-masing setelah lima menit. Lalu, Wakana memeluk Kazuya dengan hangat. "Kalian berdua terlihat sangat lelah," katanya. Di belakang Wakana, ada seorang anak lelaki. Usianya mungkin baru sekitar 4 tahunan. Dia menatap Eijun dan Kazuya dengan pandangan bingung.

Setelah dia memeluk Kazuya, Wakana menggendong anak kecil tersebut.

"Ini yang Aoi?" tanya Eijun.

Wakana mengangguk. Dia menatap anaknya. "Aoi, ini Paman Eijun dan Paman Kazuya," katanya.

Eijun mencoba tersenyum cerah, meskipun dia luar biasa lelah. Kazuya bahkan melambaikan tangannya.

"Halo Aoi-kun," kata Kazuya.

Bocah 4 tahun itu malah menyembunyikan wajahnya di leher sang ibu.

"Ini pertama kali dia bertemu kalian berdua," kata Wakana, "wajar kalau dia masih malu pada kalian."

Eijun mengangkat bahunya. "Tidak masalah," katanya.

Kedua koper besar mereka ditaruh di bagasi mobil. Wakana yang menyetir, lalu si anak laki-laki itu duduk di samping Ibunya menggunakan child seat. Eijun dan Kazuya duduk berdampingan di kursi tengah. Mobil mulai meluncur dari terminal bus.

"Berapa jam penerbangan dari Amsterdam?" tanya Wakana.

"12 jam," jawab Eijun singkat.

"Transit dimana?" tanya Wakana.

"Kami membeli tiket yang langsung. Kalau transit, waktu sampai akan semakin lama," jawab Kazuya.

"Itu merupakan perjalanan yang panjang," kata Wakana.

Kazuya melirik Eijun. Lagi-lagi, dia hanya menatap keluar jendela mobil.

"Ayah di rumah?" tanya Eijun.

Untuk sesaat, keadaan mobil hening.

"Di rumah sakit," jawab Wakana, "hari ini ada jadwal kemoterapi."

"Apa kau… Ayah…" Suara Eijun menghilang. Dia bahkan tidak bisa merangkai pertanyaannya menjadi sebuah kalimat tanya yang utuh.

"Aku tidak bilang apapun pada Ayah," kata Wakana. Dia seolah membaca dengan lugas maksud pertanyaan Eijun. "Aku juga tidak bilang apapun pada Ayah kalau kau sudah tahu penyakitnya."

Atmosfer di mobil menjadi sangat tidak enak. Sangat menyedihkan dan sendu. Kazuya berdeham. "Wakana-san apa kabar? Apa masih aktif sebagai paduan suara di gereja?" tanyanya. Dia membuka topik pembicaraan baru.

"Sekarang aku ditawari menjadi guru musik di SD," kata Wakana.

"Itu hebat," puji Kazuya, "jadi kau sekarang guru SD juga?"

Wakana tertawa. "Begitulah. Aku punya tiga orang anak yang masih harus sekolah," katanya.

"Uang bulanan yang kukirim tidak cukup?" tanya Eijun.

"Cukup. Malah lebih dari cukup," jawab Wakana, "tapi karena kesehatan Ayah… jadi…" pembicaraan itu tidak dilanjutkan karena mereka bertiga tahu kemana akhir dari perbincangan ini.

"Oh ya Ei-chan," kata Wakana, "apa kau masih sering mengunjungi seminar?" tanyanya.

Eijun mendengus. "Di Amsterdam. Kau juga tidak bisa datang," jawabnya. Nada suara itu jauh lebih dingin dari yang diinginkan oleh Eijun.

Untuk sesaat Wakana tidak berkomentar apapun. Dia melirik pasangan itu dari kaca spion tengah mobil. Kazuya menghela napas lelah. Semua topik pembicaraan yang diangkat olehnya pasti disangkut-pautkan dengan kondisi keluarga Sawamura yang sedang terlibat perang dingin.

"Kamar Ei-chan sudah kubersihkan," kata Wakana, "kalian berdua bisa tidur di kamar itu selama tinggal di rumah."

"Tidak perlu," kata Eijun, "kami bisa cari hotel."

"Ei-chan!" seru Wakana. "Kenapa kau seperti ini?" tegurnya.

"Terima kasih Wakana-san," kata Kazuya, "maaf jadi merepotkan."

Wakana tertawa. "Well, asal jangan terlalu berisik saja kalau malam hari."

Kazuya menanggapinya dengan tertawa kaku sementara Eijun sama sekali tidak berminat untuk tertawa. Dia hanya menatap datar sampai akhirnya mobil Wakana masuk ke garasi rumah keluarga Sawamura.

Rumah milik Keluarga Sawamura sama sekali tidak berubah barang satu inchi pun. Rumah dengan gaya jepang dengan model yang sangat sederhana. Bedanya, catnya seperti sudah dicat ulang beberapa kali. Tiang-tiang penyangga rumah sudah sangat tua dan ayunan di halaman depan rumah sudah berkarat.

Mereka bertiga turun dari mobil dan mengambil koper-koper dari dalam bagasi. Wakana menggendong Aoi. Dari dalam rumah, keluarlah dua orang anak laki-laki. Yang paling besar usianya sekitar 13 tahun, dan yang kedua usianya 9 tahun.

"Selamat datang!" sapa mereka berdua.

"Ini Sora," kata Wakana sambil menunjuk yang paling besar, "dan yang ini Kenta," katanya lagi sambil menunjuk anaknya yang nomor dua.

"Kau sudah mengerjakan PR?" tanya Wakana pada kedua anaknya.

"Sora guru yang payah," kata Kenta, "aku mau ke perpustakaan saja."

"Itu karena kau terlalu bodoh!" balas Sora tidak mau kalah. "Dan kau hanya mau main di lapangan, bukan mau ke perpustakaan."

"Diam kalian berdua!" tegur Wakana dengan nada tegas. Kazuya dan Eijun sudah berhasil menurunkan koper-koper mereka. Wakana menoleh ke arah dua pria yang di belakangnya.

"Ini Paman Eijun dan Paman Kazuya," kata Wakana.

"Halo," kata Kazuya ramah. Eijun bahkan tidak berusaha memasang senyuman. Kembali ke rumah ini benar-benar membangkitkan semua kenangan dan masa lalu yang merekat seperti tato.

"Paman Eijun…?" gumam Kenta. "Ah! Paman Eijun! Aku ingat sekarang! Kakek selalu menyebutkan namanya!" katanya ceria.

"Benar!" kata Wakana.

"Kata Kakek Paman Eijun tidak pernah pulang," kata Kenta lagi.

"Well, sekarang Paman Eijun sudah di rumah."

Sudah di rumah.

Kalimat itu terbayang-bayang di otak Eijun. Kazuya menggamit tangan Eijun yang sepertinya bisa tumbang kapan saja. "Wakana-san, kami mau menaruh koper-koper di kamar kami," katanya.

"Oh ya! Sora, antarkan mereka ke kamar yang kemarin Ibu bersihkan," perintahnya. Si anak sulung, terlalu terpaku pada genggaman tangan yang Kazuya berikan untuk Eijun, sampai dia mengerjap beberapa kali.

"Oh, oke," katanya. Dia masuk ke dalam rumah diikuti oleh kedua pria sambil menyeret koper besar mereka.

"Silahkan," kata Sora sambil membuka pintu kamar di lantai dua rumah tua ini. Eijun masuk dan diikuti oleh Kazuya. Sora masih tidak bisa berhenti menatap keduanya. Apalagi ketika Kazuya menyentuh punggung Eijun lembut dan berbicara dengan Eijun dengan suara yang sama lembutnya.

"Terima kasih," kata Kazuya.

Sora kembali mengerjap. "Eh, iya. Tidak masalah," katanya. Namun, dia masih belum beranjak dari depan pintu. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu.

"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Kazuya.

Sora tersentak. Dia menatap Kazuya. "Em… Paman yang bernama Eijun?" tanyanya ragu.

Kazuya sontak menggeleng. "Yang itu yang namanya Eijun," katanya sambil menunjuk Eijun yang sedang berkutat dengan koper-koper mereka. "Kau mau menyapanya?" tanyanya.

Sora menggeleng. "Tidak terima kasih," katanya. "Dia terlihat seperti kesal."

Lalu, Sora berlari turun ke lantai bawah. Kazuya bahkan masih bisa mendengar Wakana berteriak, "Jangan lari-lari di tangga!" pada anak sulungnya. Kazuya menutup pintu kamar mereka berdua. Dia menghampiri Eijun.

"Hei," panggilnya. Eijun masih sibuk membuka koper-koper mereka. Kazuya menuggu selama dua menit, sebelum dia menarik Eijun bangun dan memeluknya.

"Kenapa?" tanya Eijun. Dia membalas pelukan Kazuya. Mereka berdua lelah, dan belum berganti pakaian selama 12 jam terakhir.

"Kau oke?" tanya Kazuya lembut.

Eijun menggeleng secara cepat. "Tidak," katanya, "aku ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga. Kembali ke Amsterdam dan apartemen kita berdua."

Pelukan semakin dieratkan oleh Kazuya. "Kau tahu itu tidak akan terjadi kan?"

Eijun menyamankan dirinya di dalam pelukan Kazuya. Dia seperti memasrahkan semua perasaannya yang berat sejak surat elektronik itu dikirim. "Thank God you're here," bisiknya.

"Aku tidak kemana-mana sayang," kata Kazuya, "aku selalu di sini."

Eijun hanya mengangguk. Dia tidak mau melepaskan pelukan itu. Dia ingin selamanya di sana. Bersama dengan Kazuya, merasakan kedua lengan milik Kazuya melingkari tubuhnya, merasakan detak jantung Kazuya, dia ingin waktu berhenti berputar dan mereka berdua di posisi seperti itu. Pelukan Kazuya membuatnya sadar bahwa dia tidak sendirian di situasi ini. Pelukan Kazuya terasa seperti 17 tahun yang lalu, ketika Nyonya Sawamura menghembuskan napas terakhirnya. Pelukan itu juga terasa seperti 15 tahun yang lalu, ketika Eijun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan keluarganya dan pergi ke Amsterdam.

"Aku mencintaimu. Sangat," bisik Eijun lagi.

"Aku juga sayang. Lebih dari apapun."

Pintu kamar Eijun di buka tanpa diketuk, membuat dua pria di dalam ruangan itu kaget, termasuk anak lelaki yang membuka pintu tersebut. Mereka melepaskan pelukan itu dan menatap Sawamura Kenta.

"Ibu bilang turun untuk makan siang," katanya.

"Oke," kata Kazuya. Dia menggandeng tangan Eijun dan mereka berdua keluar dari kamar. Kenta berjalan di depan mereka sambil melirik mereka berdua.

"Paman Eijun," panggilnya. Eijun menoleh padanya. "Kenapa kau tidak pernah datang ke rumah ini?" tanyanya polos. Tangan Eijun yang digenggam oleh Kazuya menegang, tetapi dengan remasan lembut, Kazuya seolah mengatakan bahwa dia tidak sendiri. "Kata Ibu, Paman bekerja di luar negeri dan sangat sibuk. Apa Paman bawa oleh-oleh?" tanyanya lagi.

"Mungkin nanti kau dan saudara-saudaramu bisa naik mengambil oleh-oleh." Kazuya adalah orang yang menjawab pertanyaan itu.

Di meja makan ada Wakana, Aoi, Sora, dan satu lagi sosok yang membuat Eijun berhenti total. Tuan Sawamura Ryouta sedang duduk dengan tegak di salah satu kursi makan, sementara Wakana memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.

"Ayo bergabung makan siang dengan kami, Kazuya-kun, Ei-chan," kaat Wakana ramah.

"Lama tak berjumpa Ayah," kata Kazuya sopan. Sawamura Ryouta mengangguk pada Kazuya.

"Kuharap kau belum lupa pada masakan Jepang," kata Tuan Sawamura. Kazuya membimbing Eijun untuk duduk di sebelahnya, di meja makan. Eijun mengikuti dengan kaku. Dia masih belum mengatakan sepatah katapun.

"Justru aku senang akhirnya bisa mencoba masakan jepang lagi," kata Kazuya berbasa-basi. "Di Amsterdam jarang ada restoran jepang."

"Seharusnya tidak jadi masalah bagimu. Kau koki handal," puji Tuan Sawamura.

Kazuya hanya tertawa singkat. "Yang jadi masalah bahan-bahan yang dijual di supermarket," jawabnya, "tidak ada yang bisa menandingi ikan-ikan segar di laut Jepang."

"Bukan tanpa alasan mengapa Jepang adalah negara maritim," kata Tuan Sawamura. Kazuya dan Sawamura Ryouta tertawa singkat bersama. Wakana melirik dari dapur dan menghela napas lega mendengar Mertua dan Menantu itu masih bisa bercakap-cakap dengan normal setelah lebih dari satu dekade putus komunikasi.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Sawamura.

Kazuya tidak menjawab pertanyaan itu, karena arah pandang Sawamura Ryouta menuju anak laki-lakinya yang diam kaku seperti patung. Kazuya menyenggol lembut lengan Eijun agar dia sadar.

Eijun sendiri baru kembali ke daratan ketika sentuhan Kazuya di lengannya. Sebelumnya, dia terhempas menuju labirin pikiran yang rumit dan gelap. Ayahnya tampak jauh lebih tua dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Mereka bertemu untuk terakhir kalinya di pemakaman Nyonya Sawamura, 17 tahun yang lalu. Setelah itu, Eijun minggat dari rumah dan akhirnya dia menetap di Amsterdam.

Kulit Ayahnya mulai berkerut-kerut dan rambutnya sudah tipis dan botak. Warnanya berubah total menjadi putih. Kulitnya kusam dan pucat. Kanker merenggut banyak hal dari Ayahnya. Warna kulitnya, kecerahan kulitnya, rambutnya, bahkan usianya.

Eijun tidak yakin apa yang dirasakannya saat ini. sudah terlalu lama mereka putus komunikasi dan itu tidak bisa diperbaiki hanya dalam satu malam. Semua perang dingin, semua emosi dan perasaan yang ada di dalam hati mereka berdua sudah bersemayam terlalu lama. Yang jelas, Eijun merasa sesak saat ini.

"Baik," jawab Eijun kaku, "bagaimana kemoterapi hari ini?" tanya Eijun.

Wakana yang mengintip dari dapur langsung kembali ke dapur ketika Ayahnya meliriknya tajam. Kerjaan siapa lagi kalau bukan Wakana?

"Seperti biasa," jawab Ayahnya.

Wakana meletakkan lauk terakhir di meja makan dan kemudian duduk di kursi meja makan yang tersisa.

"Selamat makan."

Dan makanan pun mulai di santap.

Eijun harus mengakui kalau dia memang merindukan makanan jepang. Kazuya memang sesekali memasak menu jepang, tapi rasanya jelas beda.

"Bagaimana pekerjaanmu, Kazuya-kun?" tanya Wakana sambil menyuap anak bungsunya, Aoi, yang mengaduk-aduk makanannya.

"Seperti biasa. Tidak ada masalah," jawab Kazuya. "Mengamati pasar saham yang terus-menerus berganti, aku sepertinya akan ganti kacamata baru."

"Lensanya sudah tidak cocok lagi?" tanya Wakana.

"Masih, tapi aku mau menambah anti UV di lensanya," kata Kazuya. "Terakhir kali aku ke dokter mata karena radang."

"Sepertinya tidak bagus," kata Wakana.

"Begitulah."

"Berapa lama kau mengambil cuti?" tanya Tuan Sawamura. Dengan serentak, Kazuya dan Wakana diam mendengar pertanyaan itu. Mereka berdua tahu untuk siapa pertanyaan itu ditujukan.

"Dua minggu," jawab Eijun singkat. Dia kembali memakan makanan yang ada di piringnya. Wakana dan Kazuya saling pandang, seolah memutuskan topik pembicaraan mana lagi yang harus diangkat agar suasana tidak begitu tegang.

"Apa itu cuti?" tanya Kenta dengan polos.

Terpujilah anak kecil dan semua kepolosan mereka!

"Itu artinya kau tidak masuk bekerja," jawab Sora, "begitu saja tidak tahu," katanya sambil mendengus meremehkan.

"Kenapa kau selalu sombong?" tanya Kenta jengkel.

"Karena aku tahu banyak hal sementara kau tidak!" balas Sora.

"Aku juga tahu banyak hal!" protes Kenta tidak terima.

"Oh ya? Kau bahkan tidak tahu hasil 3 dikali 3," ejek Sora.

"Enam! Itu jawabannya!"

Sora memutar bola matanya. "Ya ya. Terserah. Bodoh."

"IBU!" seru Kenta akhirnya.

"Diam kalian berdua!" seru Wakana kesal. "Makan dengan tenang!"

Sisa makan siang dihabiskan dengan mendengarkan Sora dan Kenta yang bertengkar karena hal-hal remeh. Kazuya membantu Wakana membawa piring-piring kotor ke dapur dan ikut mencuci piring.

"Terima kasih Kazuya-kun," kata Wakana. "Di saat seperti ini aku ingin sekali punya anak perempuan."

"Tidak masalah Wakana-san," katanya. "Eijun bukan tipe orang yang akan membereskan piring-piringnya."

Wakana mendesah kesal. "Dari dulu dia memang seperti itu," gerutunya.

Tuan Sawamura menuju halaman belakang rumah untuk menikmati sinar matahari. Aoi tidur setelah makan. Sora dan Kenta di suruh pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas musim panas mereka berdua.

"Sudah berapa lama?" tanya Eijun sambil bersandar di pintu halaman belakang. Ayahnya duduk membelakanginya. Hamparan rumput yang hijau memanjakan mata milik Sawamura.

"Dua bulan… mungkin tiga," jawab Ayahnya. Eijun menarik napas yang terasa sesak dan menghembuskannya pelan-pelan.

"Kenapa kau kembali?" tanya Ayahnya. Dia bertanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Eijun. Hamparan rumput yang luas begitu menenangkan. Di halaman belakang itu juga terdapat dua buah ayunan. Eijun ingat sekali dulu dia suka rebutan dengan Wakana di ayunan, berlomba-lomba siapa yang akan di dorong oleh Ayah mereka. Lalu Ibu mereka hanya akan duduk di kursi yang sekarang ditempati Ayah mereka dan tertawa melihat suami dan anak-anaknya sedang bersenang-senang. Kejadian itu sudah puluhan tahun yang lalu.

"Kazuya yang ingin kembali," jawab Eijun. Dia mencari pembenaran. Dia mencari pembenaran untuk harga dirinya. Dia berusaha mengabaikan rasa sakit yang ada di dalam hatinya dan rasa sesak yang membunuhnya.

"Kau tidak ingin kembali?" tanya Ayahnya.

Kalau Eijun bicara tanpa berpikir, maka suaranya pasti akan terdengar begitu tercekat. Rasanya ada bongkahan timah mengganjal kerongkongannya.

"Kita berdua tahu bahwa kau tidak ingin aku kembali ke rumah ini," jawab Eijun dingin. Dia berbalik masuk ke dalam rumah. Kalau dia lebih lama berada bersama Ayahnya, dia pasti tidak akan kuat dan bisa-bisa dia menangis.

Selepas Eijun pergi, Tuan Sawamura menoleh ke arah tempat anaknya berdiri tadi. Kini pintu itu terasa sangat kosong, seperti benda mati tua yang akan habis masanya. Sama seperti dirinya.

Ini merupakan pertemuannya lagi dengan sang putra setelah 15 tahun yang penuh dengan penyiksaan dan kerinduan. Putranya sudah tumbuh menjadi semakin hebat dan dewasa. Namun, ada beberapa hal yang tidak berubah dari Eijun. Rambutnya masih coklat, bola matanya masih bersinar seperti emas. Dia masih putranya, Sawamura Eijun.

Betapa dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sangat ingin menyentuh putranya yang telah pergi terlalu lama dan tidak pernah kembali barang satu hari pun. Betapa dia menahan dirinya untuk tidak meloncat dan memeluk putranya erat-erat, mengatakan bahwa dia rindu padanya. Namun, gelagat putranya yang kaku dan tampak dingin membuatnya menelan kembali semua kerinduan ini.

Eijun sudah tidak bisa terlihat lagi dari sudut pandangnya. Sebuah tembok beton tebal yang dulu menjadi pemisah mereka berdua, kini semakin tebal dan tebal. Semakin memisahkan jarak di antara mereka. Satu-satunya alasan mengapa Eijun pulang karena bujukan dari suaminya dan mungkin rayuan Wakana.

Tuan Sawamura tidak akan terkejut kalau anak perempuannya, Wakana, memohon-mohon pada Eijun untuk pulang ke rumah. Pemikiran bahwa Eijun tidak pulang karena keinginannya mematikan semua perasaan Tuan Sawamura. Dan lagi, Eijun sudah membenci Ayahnya sejak dulu kala. Tidak ada alasan bagi Eijun untuk tetap berada di rumah yang penuh dengan kebencian ini.

Apakah semuanya memang sudah terlambat?

.

Kazuya menemani Eijun ke sebuah pemakaman umum. Hari ini matahari menyengat begitu panas, sehingga Kazuya memutuskan untuk memakai kaos katun dan celana khaki dan sepatu sandal. Sawamura juga berpenampilan seperti Kazuya.

"Ibu," kata Eijun sambil berjongkok di pusara Ibunya. Dia membersihkan rumput-rumput yang tumbuh liar dan menyiram nisannya agar tampak lebih berkilau. "Aku kembali lagi. Pada akhirnya," kata Eijun. "Setengahnya berkat Kazuya yang memaksaku pulang." Dia melirik Kazuya sambil mendengus.

Eijun terdiam untuk sesaat. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan di depan pusara Ibunya. Kalau Ibunya masih hidup, ada banyak sekali yang ingin dibagi oleh Eijun. Namun, semuanya kembali tertelan ke dalam tenggorokannya. Tidak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.

"Butuh 15 tahun untuk kembali mengunjungimu," kata Eijun. "Aku memang durhaka."

Eijun menyisir rambut coklatnya. Dia menyedot ingusnya yang hampir keluar. "Apa kau pernah membenci anakmu sendiri, Bu? Aku ingin sekali bertanya seperti itu padamu. Kenapa harus Ibu yang pergi lebih dulu?" tanya Eijun beruntun. Angin musim panas kembali berhembus dan nisan dingin itu tidak memberikan jawaban.

Kazuya ikut berjongkok dan membawa Eijun untuk bersandar pada bahunya. "Halo Bu," katanya. Eijun masih bersandar pada Kazuya dan tanpa sadar air matanya meleleh keluar. "Kami baik-baik saja. Maaf karena kami berdua jarang datang, tapi Eijun selalu memikirkanmu."

Air mata yang keluar dari kelenjar airmata milik Eijun semakin banyak dan dia tidak bisa meredam isak tangisnya. Dadanya sesak dan penuh dengan kesedihan. Dia rindu Ibunya, dia ingin menyentuh Ibunya. Dia ingin mengulang masa-masa ketika Ibunya selalu ada bersamanya. Dia ingin kembali pada masa yang sangat sederhana itu.

Kazuya masih memeluk Eijun dan dia sama sekali tidak peduli pada pelayat lain yang datang ke pemakaman umum dan melihat dua orang laki-laki saling berpelukan. Dia tidak pernah peduli pada dunia jika Eijun bersama dengannya. Eijun adalah dunianya dan hanya itu yang dibutuhkan oleh Kazuya dalam hidupnya.

"Payah," isak Eijun, "rupanya putramu masih sangat cengeng."

Kazuya mendengus. "Memang," jawabnya. Eijun mendongak dan sebuah cengiran jail menghiasi wajah tampan milik suaminya.

"Kau ini merusak suasana saja," kata Eijun.

Kazuya mengecup pelipis Eijun.

.

Malam itu kipas angin dinyalakan non-stop. Eijun tidur sambil membelakangi Kazuya. Mereka sepakat bahwa malam hari ini terlalu panas sehingga ritual cuddling harus ditunda sampai udara lumayan sejuk.

Eijun terbangun karena kerongkongannya seperti padang pasir di Mesir. Begitu kering dan seret. Dia bangun dan setetes keringat mengucur turun dari lehernya. Kazuya masih tertidur dengan nyenyak. Ekspresinya damai dan mulutnya terbuka sedikit ketika tidur. Eijun turun dari tempat tidurnya.

Suasana rumah sudah sunyi total. Lampu-lampu utama dimatikan sehingga penerangan di sepenjuru rumah remang-remang. Suara-suara serangga musim panas saling bersahut-sahutan. Eijun turun ke lantai bawah menuju dapur untuk mengambil satu gelas air dingin dari kulkas.

Semua lampu kamar di kediaman Sawamura sudah dimatikan. Eijun menyalakan saklar dapur dan terangnya membuat Eijun sampai menyipit karena silau. Dia menuju kulkas dan mengambil satu gelas air dingin yang langsung diminumnya. Rasa lega dan dingin mengairi kerongkongannya sampai dia mendesah lega.

Setelah dia menaruh gelas kosong di kitchen sink, Eijun hendak naik ke lantai atas lagi, tetapi sebuah suara benda jatuh menghentikan langkahnya. Eijun mendengarkan lagi dengan saksama suara benda jatuh dan suara seperti orang berjalan, sampai akhirnya dia berdiri di kamar orangtuanya. Kini, kamar itu hanya ditempati oleh Ayahnya seorang diri.

Lampu kamar Ayahnya menyala, tetapi pintunya tertutup. Dari dalam kamar terdengar suara-suara seperti orang yang berusaha berjalan. Eijun terdiam di depan pintu kamar Ayahnya. Tangannya terangkat di udara seperti ingin membuka pintu yang menjadi penghalang antara dia dan Ayahnya. Dia ragu.

Namun, keraguan itu terhapus ketika dia mendengar suara orang terjatuh lagi. Pintu kamar dibuka keras oleh Eijun dan tampak Ayahnya yang kesulitan berdiri. Tampaknya Sang Ayah berusaha turun dari tempat tidur, tetapi jatuh, lalu mencoba bangkit dan kembali terjatuh. Dia langsung menghampiri Ayahnya dan memapahnya.

"K…kamar… mandi…" kata Ayahnya terbata-bata.

Dengan sigap Eijun membawa Tuan Sawamura ke kamar mandi yang berada di ujung ruangan, di bawah tangga. Tubuh Ayahnya ringan dan kurus. Ketika dia berada di dalam pelukan Eijun, pria itu bisa mengetahui semuanya. Hanya tinggal tulang berbalut kulit. Bau obat-obatan sangat menusuk penghidu milik Eijun.

Ketika sampai di depan kloset, Tuan Sawamura langsung memuntahkan isi perutnya. Saking banyaknya, baju tidur Eijun sampai terkena muntahan. Bau makanan yang dimuntahkan bercampur kelenjar ludah menusuk penghidu, tetapi Eijun tidak bergeming. Dia masih menepuk-nepuk punggung Ayahnya pelan dan lembut sampai Tuan Sawamura selesai muntah.

"Keluarkan… keluarkan…" kata Eijun sambil terus menepuk-nepuk punggung Ayahnya. Tak berselang lama, Tuan Sawamura berhenti muntah-muntah. Eijun menekan tombol flushing dan semua muntahan Ayahnya dibilas untuk masuk ke dalam septic tank. Eijun kembali memapah Ayahnya ke kamar tidur.

Tuan Sawamura ditidurkan dan bajunya dibuka semua. Lalu, dengan handuk basah, Eijun mengusap semua permukaan kulit kisut milik Ayahnya. Dari wajahnya, sekitar mulutnya yang masih tersisa jejak-jejak bekas muntahan, sampai ke dadanya.

"Sudah berapa kali seperti ini?" tanya Eijun memecahkan keheningan.

"Tidak banyak," jawab Ayahnya singkat.

"Apa tadi Ayah jatuh dari tempat tidur?" tanya Eijun lagi.

Tuan Sawamura memutuskan untuk tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap pergerakan Eijun yang pelan dan hati-hati. Dia memejamkan matanya. Sudah berapa dekade dia tidak mendapatkan perhatian dari putranya lagi? Kapan terakhir kali mereka berkontak fisik?

Ingatannya membawanya pada masa-masa Eijun masih kecil. Masih berupa bayi merah dan hanya bisa makan dan tidur. Tuan Sawamura yang mengganti bajun Eijun setiap kali dia muntah habis meminum ASI. Tuan Sawamura juga yang menenangkan bayi kecil itu jika menangis sehabis muntah. Biasanya, Tuan Sawamura akan membisikkannya kata-kata penuh perlindungan sampai Eijun kecil berhenti menangis.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Tuan Sawamura.

Eijun masih sibuk mengelap dada yang sudah sangat kurus, sampai sela-sela iga terlihat setiap kali Ayahnya bernapas. Betapa dada yang sudah kurus ini pernah begitu berisi dan gagah. Betapa bahu yang kecil dan rapuh ini pernah begitu kuat dan bisa menopang Eijun sehingga dia bisa merasa berada di atas dunia. Di gendong di bahu Ayahnya merupakan tempat paling tinggi yang pernah diingat oleh Eijun kecil. Dia bisa melihat dunia dari ketinggian itu. Dunia yang lebih indah, lebih berwarna, dan banyak dibalut dengan tawa.

Saat ini, Eijun sudah bisa berdiri di puncak dunia dengan kakinya sendiri. Dia melihat semuanya yang dilihat Ayahnya ketika tingginya sudah menyamai tinggi Ayahnya. Namun, bersamaan dengan tinggi badan mereka yang saling sama, pola pikir dan cara hidup mereka sangat berbeda. Bertolak belakang. Dan disanalah perpecahan itu dimulai. Retaknya hubungan mereka berdua dan sampai hari ini, retakan itu belum bisa diperbaiki lagi.

"Biasa-biasa saja," kata Eijun, "tidak separah Kazuya yang harus ganti lensa kacamata." Ayahnya mendengus mendengar jawaban Eijun. Eijun menatapnya bingung. "Apa?" tanyanya tidak mengerti.

"Kau terlalu menyusahkan Kazuya," kata Ayahnya, "aku heran kenapa dia masih mau hidup bersamamu."

Eijun mengerutkan alisnya bingung. "Apa itu sindiran supaya aku berpisah dengannya? Kita sudah hidup bersama hampir 17 tahun. Kenapa harus berpisah?"

Eijun selesai membasuh dada Ayahnya. Dia bangkit dari pinggir tempat tidur dan berjalan menuju lemari Ayahnya. Diambilnya di rak nomor dua, tempat semua baju-baju tidur disusun rapi oleh Wakana. Sebuah piyama baru berwarna coklat. Eijun kembali ke sisi Ayahnya.

Dia membantu Ayahnya bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Dengan pelan, Eijun memakaikan piyama itu di badan Ayahnya yang sudah bersih. Tuan Sawamura menatap putranya yang masih serius memakaikan celana piyama ke kakinya.

Ada banyak yang ingin dikatakan oleh Tuan Sawamura. Dia ingin bertanya apakah sekarang Eijun hidup dengan bahagia. Dia juga ingin tahu bagaimana kesibukan Eijun dan mendengar keluh-kesahnya. Dia ingin melihat dunia milik Eijun, putra satu-satunya di keluarga Sawamura.

"Aku menemui Ibu hari ini," cerita Eijun. "Kazuya ikut."

"Apa kau membersihkan makamnya dulu?" tanya Tuan Sawamura.

"Iya. Aku mencabuti rumput-rumput liar juga," kata Eijun. Kini, Ayahnya sudah memakai piyama baru dan penampilannya jauh lebih baik dari tadi. Eijun terlihat puas dengan hasil karyanya.

"Kau memberinya mawar?" tanya Sang Ayah.

Eijun mengernyitkan dahinya. "Ibu suka bunga Lili, bukan mawar."

"Dia selalu menerima mawar dariku," kata Ayahnya.

"Itu karena Ibu terlalu baik untuk menolak."

Untuk sesaat, Eijun hanya bertatapan dengan Ayahnya. Dia ingin mengatakan banyak hal pada Ayahnya, tetapi lagi-lagi tembok kebencian milik Ayahnya tidak memperbolehkannya. Dia ingin bercerita tentang kehidupannya di Amsterdam bersama Kazuya. Dia juga ingin menanyakan nasihat-nasihat dari Ayahnya, sehingga dia tidak menerka-nerka sendirian. Terlebih, dia ingin mengunjungi makam Ibunya berdua, bersama dengan Ayahnya.

"Tidurlah," kata Eijun. Ayahnya kembali ke posisi tidur dan Eijun menyelimutinya. Lalu, dia bangkit dan keluar dari kamar Ayahnya.

Tuan Sawamura menatap punggung putranya yang berjalan semakin jauh dari kamarnya. Dia masih ingin Eijun berada di sini, di sisinya, menemaninya dan mengobrol hal-hal remeh. Selama puluhan tahun, percakapan antara Eijun dan Ayahnya hanyalah berupa caci maki dan teriakan, serta lemparan barang.

Suara itu tidak keluar dari mulut Tuan Sawamura sampai akhirnya Eijun menutup pintu kamar Ayahnya tanpa berbalik. Sebuah ruang dihatinya yang mulai terisi, kembali kosong lagi.

Selamat tidur putraku.

.

Setelah selesai mengurus Ayahnya, Eijun membuka bajunya dan menaruhnya di mesin cuci. Baju itu sudah baju muntahan karena terciprat banyak sekali muntahan Ayahnya. Eijun juga pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya supaya lebih segar dan tidak bau muntahan. Selanjutnya, Eijun naik ke lantai dua dan menuju kamarnya.

Kazuya masih terlelap dan kipas angin masih berputar. Eijun membuka lemari bajunya dan ternyata beberapa baju rumahnya masih tersimpan di dalam lemari tua itu. Dia mengambil sebuah baju kaos putih dan memakainya. Aroma baju lama memenuhi indra penghidunya. Dia kembali naik ke tempat tidur dan tidur di sebelah Kazuya.

Kamarnya gelap dan sunyi, hanya terdengar napas halus milik Kazuya yang terlelap. Belakangan ini Eijun sendiri tidak tahu caranya tidur dengan lelap. Dia hanya menatap langit-langit di kamarnya sambil pikirannya kembali mengawang jauh. Di rumah ini, sudah banyak hal terjadi pada Eijun dan keluarganya.

Di sini Sawamura Wakana, kakak perempuan Eijun, lahir. Lalu Eijun lahir. Lalu, ingatan-ingatan itu seperti kereta api yang melintas, sangat cepat sampai Eijun tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang dia ingat dengan jelas hanyalah hari-hari yang dihabiskannya di rumah ini untuk bertengkar dengan Ayahnya. Tidak ada hari tanpa mendengar pertengkaran Eijun dan Ayahnya. Mereka bertengkar dari mulai hal-hal kecil, sampai hal-hal serius.

Lalu, di tengah tingkat stress yang memuncak di dalam keluarga Sawamura, di SMA, Eijun bertemu dengan Kazuya, singkat cerita mereka jatuh cinta satu sama lain dan memutuskan untuk hidup bersama. Ketika Eijun mengutarakan niatnya untuk hidup bersama Kazuya, Ayahnya menghadiahinya sebuah bogem super keras sampai rahangnya bergetar. Dan itulah titik dimana dia sudah tidak tahan lagi dengan Ayahnya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya, apalagi setelah apa yang terjadi pada kakak perempuannya. Eijun memejamkan matanya dan ingatan mengenai apa yang terjadi pada kakak perempuannya tercetak jelas. Rasanya baru terjadi lima menit yang lalu.

Semakin diingat, semakin Eijun yakin bahwa selama ini interaksinya dengan Sang Ayah hanyalah berupa kemarahan dan lontaran kebencian. Karena itu, untuk pertama kalinya setelah 15 tahun, Eijun bisa berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Sang Ayah tanpa ada furniture yang rusak atau pun vas bunga yang dilempar. Rasanya seperti sebuah beban berat diangkut dari hatinya.

Eijun menghembuskan napasnya panjang. Rasa kantuk mulai menyerangnya dan dia memejamkan matanya dengan tenang.

Selamat tidur, Ayah.

.

Eijun memutuskan untuk menghabiskan harinya menjelajahi Nagano berdua bersama dengan Kazuya. Mereka pergi ke tempat-tempat dimana Eijun selalu menghabiskan masa kecil, ke padang rumput, ke pesawahan, sampai ke kuil.

Eijun tidak berdoa kepada Tuhan ataupun pada Dewa. Kazuya juga tidak, tetapi mereka tetap menapaki tangga-tangga berjajar itu untuk sampai ke sebuah kuil yang tidak begitu banyak pengunjung.

"Festival musim panas bukan di kuil kecil seperti ini," kata salah seorang wanita tua yang sedang menyapu daun-daun yang berguguran.

"Kami tahu," kata Eijun. "Melihat-lihat kuil ini tidak dilarang kan?" retoriknya.

Eijun berjalan menuju tempat orang-orang melempar koin dan mengucapkan permohonan.

"Aku pernah datang ke kuil ini," kata Eijun. Matanya masih terpaku pada atribut-atribut kuno dan tradisional milik kuil. Kazuya menatapnya tetapi tidak mengatakan apapun. "Ketika Wakana dirawat. Aku berdoa ke kuil ini setiap hari. Melemparkan semua koin yang kupunya. Berharap satu keping koinku bisa menyuap seorang Dewa yang berkuasa di Jepang ini."

Namun hasilnya nihil. Tidak ada Dewa yang terkesan dengan doa Eijun ataupun repot-repot mau mengabulkannya. Koin-koin itu terbuang sia-sia di dasar kuil. Mungkin sudah karatan atau dicuri orang. Eijun tidak tahu, yang mana pun terasa sama.

"Aku sudah tidak peduli lagi," kata Eijun. Lalu, dia berbalik.

"Sudah selesai?" tanya wanita tua itu. Dia mengamati wajah Eijun dan Kazuya yang asing dan tangan mereka yang kering. "Kalian tidak berdoa," katanya sengit.

Lagi-lagi, Kazuya dan Eijun mengabaikannya.

Ketika sore, hujan turun dengan lebat di Nagano. Semua jendela di rumah tua itu ditutup dan dikunci rapat. Jemuran pakaian dimasukkan ke dalam. Pintu ditutup. Hujan angin yang begitu besar. Guntur bersahut-sahutan.

Wakana menyeduh 3 gelas coklat panas, dan 4 cangkir kopi. Aoi asyik bermain dengan kumpulan lego nya, Sora sedang asyik menonton acara televisi bersama dengan kakeknya, Eijun dan Kazuya duduk berdampingan dan saling memeluk sambil ikut Sora menonton, dan Kenta yang baru keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah album foto.

Kenta berjalan ke arah Eijun dan Kazuya. "Paman-paman," panggilnya. Eijun dan Kazuya menoleh padanya. "Aku ingin menunjukkan album foto pada kalian," katanya sambil menyodorkan album foto besar yang sampulnya sudah lumayan lapuk dan tua. Sepertinya album foto itu juga beberapa kali terkena tetesan air hujan.

Eijun menggeser tempat duduknya sehingga Kenta bisa duduk di antara mereka berdua. Ketika album itu dibuka, Eijun sadar bahwa album foto yang diambil adalah album yang berisi kumpulan masa kecil Wakana dan Eijun.

Rasanya pria itu seperti terhempas pada sebuah jaman yang asing, kuno, dan menyenangkan. Kumpulan foto-foto itu dimulai dari Eijun bayi. Hanya memakai popok saja, tengkurap, merangkak, sampai berdiri. Kazuya bahkan memfoto beberapa foto Eijun bayi menggunakan ponselnya.

"Untuk apa kau melakukan hal itu?" tanyanya tidak mengerti.

Kazuya hanya mengangkat bahu. "Tidak masalah kan? Untuk kenang-kenangan. Aku hampir tidak pernah melihat foto masa kecilmu," jawabnya santai. Eijun memutar bola matanya.

Lalu, semakin lama, foto-foto itu adalah foto Eijun dengan Sang Ayah. Eijun yang bermain lumpur dengan Ayahnya, lalu bermian bola di taman, lalu ketika mereka sekeluarga rekreasi ke taman hiburan. Eijun tidak pernah lepas dari gendongan Tuan Sawamura. Ekspresi mereka berdua tertawa dan sangat bahagia, tidak seperti cerminan yang terjadi selama hampir dua dekade belakangan. Tidak ada caci maki, lemparan barang-barang, umpatan dan kata-kata menusuk jantung. Hanya ada sebuah tawa sederhana tanpa beban dan perasaan benci.

Tawa itu manifestasi dari rasa cinta.

Tanpa sadar, Eijun menyentuh foto yang rasanya hampir mustahil itu.

Dulu mereka berdua sedekat nadi, sebelum akhirnya sejauh matahari.

Lembaran foto dibuka lagi. Kali ini foto Sawamura Wakana dengan setelan balet. Dia tersenyum bahagia di foto sambil berpose seperti sedang melakukan balet. Wakana memang sudah menekuni balet sejak dia berusia 5 tahun. Nyonya Sawamura menabung uang bulanan selama tiga bulan untuk biaya kursus balet Wakana.

Memori dimana Wakana tertawa bahagia dengan sepatu dan setelan baletnya diabadikan lewat potongan foto ini. Eijun ingat dulu kakaknya selalu rutin les balet dan mengikuti kompetisi. Wakanan berbakat dan dia cepat belajar. Eijun suka melihat kakaknya menari. Ternyata, semua anggota keluarganya suka melihat Wakana menari.

"Ibu dulu penari balet," kata Kenta. Dia memberikan informasi itu pada Eijun dan Kazuya seolah mereka berdua tidak tahu hal itu. Eijun dan Kazuya diam mendengarkan.

"Aku tahu," kata Eijun. Dia tersenyum, "Ibumu penari balet paling berbakat yang bernah kutemui."

Lalu lembaran foto selanjutnya adalah ketika masa mereka akil balig dan remaja. Jarak antara Eijun dan Ayahnya merenggang. Semakin jauh, seperti dua jalur sungai yang sampai di persimpangan dan mengambil jalur yang berbeda. Ayahnya mulai berlaku keras padanya. Jam malam diberlakukan di dalam rumah. Eijun seperti diinterogasi setiap kali dia pergi keluar. Hal ini membuat Eijun semakin lama semakin tidak betah di rumah.

Setiap kali Ayahnya melarang Eijun pergi, Eijun akan pulang semakin malam. Bahkan, kadang dia tidak pulang dan menginap di rumah temannya. Lalu besoknya, dia akan dihadiahi sebuah tamparan dari Ayahnya. Ibunya tidak melakukan apapun dan hanya bisa menangis. Eijun semakin tidak suka melihat Ayahnya berada dalam satu radar dengannya.

Setelah itu, frekuensi pertengkaran mereka meningkat. Dan pertengkaran itulah yang terpatri di dalam memorinya hingga sekarang. Sampai Eijun kembali pulang ke rumah ini dan Ayahnya sakit keras dengan tumor yang terus tumbuh dengan ganas di dalam otaknya.

Eijun yakin kedua jalur sungai itu tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Sudah berpisah, selamanya. Dia tidak repot-repot mau memperbaiki hubungannya dengan Tuan Sawamura. Semua sudah terlambat. Hanya saja, Tuan Sawamura dan Eijun lupa bahwa tujuan akhir dari sebuah sungai adalah laut. Mau sejauh apapun mereka berpisah, arus sungai itu akan membawa mereka ke laut yang sama.

"Tapi Ibu sudah berhenti balet sekarang," cerita Kenta lagi. Kazuya bisa merasakan bahu Eijun menegang di pelukannya. Oh, betapa Kazuya ingin Kenta berhenti bicara sekarang. Kepolosan anak kecil itu seperti pedang bermata dua. Kazuya melirik Eijun yang sudah seperti papan tripleks, kaku dan mudah patah.

"Kenta, kau tidak mau mengerjakan PR-mu?" tanya Kazuya lembut.

Kenta mengangguk mantap. "Aku mau menunjukkan foto-foto ini pada kalian berdua. Paman Eijun tidak pernah datang berkunjung, jadi pasti tidak tahu!" katanya ceria.

Kalau kondisinya tidak seperti ini, Kazuya pasti akan menganggap perhatian Kenta begitu lucu dan menggemaskan. Namun, apa yang Kenta lakukan saat ini seperti menyulut api pada minyak yang jatuh ke lantai.

"Benar," kata Tuan Sawamura, "kau harus menunjukkan padanya foto-foto itu. Dia selalu pergi jauh, jadi tidak pernah tahu apa yang telah dilakukannya."

Eijun sudah hampir lepas kendali. Dia menatap Ayahnya dengan tajam. "Apa-apaan yang barusan?" tanyanya dingin.

Kenta masih asyik menatap foto-foto, tetapi Eijun dan Ayahnya saling menatap tajam. Sora, yang cukup dewasa, masih berpura-pura nonton.

"Aku bingung," kata Kenta masih dengan polosnya. Kazuya sudah membayangkan dia menyumpal mulut itu dengan kain atau apapun, "kenapa ada foto Ibu di rumah sakit?" tanyanya.

Api itu sudah jatuh ke atas minyak yang tergenang di lantai. Langsung berkobar dengan besar.

"Tutup album sial itu!" bentak Tuan Sawamura.

Semua anak kecil yang berada di ruang keluarga tersentak kaget. Kazuya mengambil langkah cepat. Dia mengambil album foto di tangan Kenta dan menutupnya. Namun, api sudah keburu berkobar dengan besar dan semakin lama semakin panas. Semua perasaan yang ditimbun meledak keluar.

"Sora, bawa adik-adikmu naik ke lantai dua!" perintah Wakana. Hujan semakin deras dan angin semakin kencang.

"Tapi Bu…" Kenta masih bingung. Dia tidak pernah melihat kakeknya marah sampai seperti ini. Sora yang paham langsung menggendong Aoi dan menuntun Kenta naik ke lantai dua.

"Jangan turun ke bawah!" perintah Ibu mereka.

"Bagaimana dengan makan malam?" tanya Kenta polos. "Kenapa kakek dan Paman Eijun?"

"Bisa tidak diam saja!" kata kakaknya gemas. Sora membawa kedua adiknya naik ke lantai dua dan menuju kamar tidurnya. Pintu dikunci dari dalam.

Kini, ada empat orang dewasa di lantai bawah. Tiga di antaranya terjebak dalam pusara masa lalu. Tuan Sawamura bangkit dari kursinya.

"Ayah, tenang dulu," kata Wakana mencoba untuk diplomatis.

"Eijun," panggil Kazuya. Album foto itu sudah Kazuya taruh di atas meja kaca di ruang keluarga. Tuan Sawamura mengambil album itu dan membantingnya ke lantai. Album itu jatuh dan terpental sampai ke kaki Eijun.

"CUKUP! AKU MUAK DENGANMU!" bentak Eijun sambil bangkit dari sofa. Dia menatap Ayahnya dan semua vena di wajahnya menegang. Rahangnya berkedut-kedut sampai Kazuya merasa Eijun sedang mengunyah permen karet.

"Aku muak denganmu," kata Eijun lagi, dengan nada lebih rendah, lebih pelan, dan lebih dingin. "Aku muak denganmu yang seenaknya!"

"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau! Ini rumahku!" bentak Tuan Sawamura. "Kau bisa berlaku seenaknya di rumahmu! Tapi ini rumahku dan kau tidak punya kuasa apapun!"

"AKU PUNYA KUASA!" bentak Sawamura. "Aku membayar pajak rumah ini setiap bulan! Kau pikir uang penisunmu cukup untuk membayar pajak rumah ini! Alasan kenapa rumah ini berdiri karena aku membayarnya setiap bulan!"

"Dan aku yang membangun rumah ini dari tanah kosong! KAU PIKIR HANYA KARENA KAU MEMBAYAR BEBERAPA JUTA YEN SAJA KAU JADI MERASA BERHAK ATAS RUMAH INI! JAUH SEBELUM KAU LAHIR AKU DAN ISTRIKU TINGGAL DI RUMAH INI!" raung Tuan Sawamura.

Kazuya dan Wakana sudah tidak bisa menghentikan ledakan emosi ini lagi. Terlalu terlambat untuk menghentikan mereka, dan terlalu salah jika pertengkaran ini dihentikan.

"KAU!" dia menunjuk Eijun tepat di hidung, "TIDAK PUNYA KUASA ATAS RUMAH INI! TIDAK PUNYA KUASA ATAS AKU! Kenapa aku harus mendengarkan omonganmu YANG BAHKAN TIDAK PERNAH PULANG KE RUMAH?!" tanya Sawamura Ryouta kasar.

Keduanya bersitegang. Di balik kulit keriput milik Tuan Sawamura, Kazuya bahkan bisa melihat vena jugularisnya berdenyut-denyut kuat, seperti sebentar lagi akan pecah.

Sawamura Ryouta dan Sawamura Eijun.

Mereka berdua adalah Ayah dan Anak.

Mereka sama-sama memiliki sifat keras kepala, sama-sama memiliki harga diri tinggi yang tidak penting dan prestasi adalah segalanya bagi mereka berdua.

Eijun menyipitkan matanya. "Menurutmu kenapa aku tidak pernah pulang ke rumah?" tanyanya dingin. "ITU KARENA KAU TIDAK PERNAH MENGINGINKAN AKU!" balas Eijun tidak kalah sengit.

"OMONG KOSONG KAU!" bentak Sang Ayah. "Kau hanya mencari alasan saja. Itu kan satu-satunya keahlianmu. Itu yang selalu kau lakukan! Mencari alasan agar tidak pernah pulang ke rumah, mencari alasan untuk bebas dari hukuman, mencari alasan saat kau berbuat salah! BAHKAN KAU JUGA MENCARI ALASAN SAAT KAU MENYEBABKAN KAKAKMU KECELAKAAN!"

"AYAH!"

Teriakan nyaring itu bukan berasal dari Eijun ataupun Tuan Sawamura. Sawamura Wakana lah yang berteriak. Teriakannya begitu kencang sampai mengalahkan guntur yang menggelegar.

"Kau diam!" bentak Tuan Sawamura pada anak perempuannya.

"Tidak!" tegas Wakana, "kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi!" suaranya bergetar menahan luapan emosi yang ditahannya. Kazuya tahu bahwa sebagai anak pertama sekaligus anak perempuan, Wakana harus bisa menjadi jembatan dan penghubungan antara kedua laki-laki keras kepala di dalam rumah ini. dia harus bisa berpikir jernih dan dingin.

Kazuya tahu mengenai kecelakaan Wakana, tetapi karena Eijun tidak pernah mau membahasnya, Kazuya juga tidak pernah mengungkitnya. Kini Kazuya paham mengapa masalah itu harus diselesaikan sampai ke akar permasalahannya.

"Dia harus tahu! Apa yang sudah dilakukannya padamu dan kondisimu sekarang, si bodoh ini harus tahu!" Tuan Sawamura kembali menunjuk Eijun. Dia menatap putra tunggalnya, "Kakakmu bisa saja mendapatkan kesempatan–"

"AYAH HENTIKAN!"

"–KESEMPATAN UNTUK MENJADI PENARI BALET TERKENAL! DAN KAU MENGACAUKANNYA!" teriaknya di akhir, mengalahkan suara teriakan Wakana yang meminta dihentikan.

"Ayah!"

"APA KATAMU?" teriak Eijun.

"Lihat kondisi kakakmu sekarang! Cacat dan berakhir menyedihkan sebagai guru musik saja! Karena siapa? Karenamu!" tuding Ayahnya.

Hidung Eijun sudah kembang-kempis. "Kau tahu bahwa aku baru 17 tahun waktu itu!"

"HENTIKAN KALIAN BERDUA!" teriak Wakana lagi. Air matanya sudah mengalir deras dan dia sesegukan. Namun, Ayah dan Anak di depannya tidak mendengar isakan tangis milik Wakana. Mereka berdua masih harus menyelesaikan banyak sekali urusan yang belum selesai.

"HA! Kau mencari alasan lagi!" seru Sang Ayah. "Aku baru 17 tahun. KAU SUDAH 17 TAHUN!" bentaknya dengan penekanan. "Kau seharusnya sudah cukup sadar untuk tidak mengemudi dalam kondisi mabuk! Kau itu hanya merugikan orang-orang di sekitarmu!"

Eijun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mengusap seluruh wajahnya. Dia mengangguk. "Yeah. Memang sudah dipastikan bahwa kau tidak pernah menginginkan aku! Kau tidak pernah sekali pun datang ke sekolahku setiap kunjungan orangtua. Kau tidak pernah datang saat kenaikan kelas maupun kelulusanku. Kau tidak hadir saat aku diberikan piagam sebagai lulusan terbaik. Kau tidak hadir saat upacara kedewasaanku," ujar Eijun panjang sambil bergetar. Kazuya yakin bahwa sebentar lagi Eijun akan menangis.

"Kau tidak datang saat aku wisuda dengan gelar cumlaude. Kau tidak pernah datang ke semua konferensi ilmiahku dan seminar penelitianku. Kau tidak datang saat aku lulus sekolah pasca sarjana, DAN KAU BAHKAN TIDAK DATANG MENGHADIRI PERNIKAHANKU DENGAN KAZUYA!" teriaknya diakhir. Lalu, setetes air mata jatuh dari mata kiri Eijun yang langsung diusap dengan kasar.

"Oh, jadi kau lebih menginginkan ucapan selamat dariku…?" tanya Ayahnya menusuk. "Untuk apa aku memberikan ucapan selamat tapi kau saja tidak pernah pulang ke rumah barang satu kali pun!" bentaknya. "Kau yang lupa daratan, tidak sadar bahwa ada seorang Ayah dan kakak yang selalu menantimu untuk pulang ke rumah. Kami semua menunggu. Dengan sabar untuk kepulanganmu. Berharap bahwa suatu hari nanti kau akan pulang. Tapi apa? Kau sama sekali tidak pulang! KAU MELARIKAN DIRI TERUS!"

"Siapa yang membiayai sekolahmu? AKU! Siapa yang memberimu tempat tinggal, uang saku? AKU! AKU, orang yang tidak pernah datang satu kali pun ke sekolahmu, orang yang tidak datang saat kelulusanmu dan orang yang tidak datang saat pernikahanmu! Kau pikir kau bisa menjadi sarjana seperti ini berkat siapa? Uang siapa? UANG AKU! AKU BERKUASA? AKU SANGAT BERKUASA ATASMU!" kalimatnya semakin lama semakin tajam. Dia seperti berusaha menghancurkan apapun milik Eijun yang tersisa.

"Apa aku keras padamu? YA! Aku memang keras dan seharusnya seperti itu! Lihat sekarang hasil dari sifat kerasku padamu! Kau berdiri dengan kedua kakimu sendiri!"

Kazuya mendadak paham satu hal. Terlepas dari dia terjebak dalam ajang kemarahan Ayah-Anak, dia mendadak memahami suatu hal yang sangat penting.

"Aku tidak butuh semua itu! Yang aku butuhkan hanya kehadiran Ayah di dalam hidupku! Aku hanya ingin Ayah ada di setiap momen penting hidupku tapi kau tidak pernah ada!" teriak Eijun. "Kau selalu membanggakan dirimu di hadapan banyak orang! Kau selalu berparade dengan prestasimu dan membuat semua orang terkagum-kagum! Dan tebak apa? Kau tidak peduli dengan diriku! Kau sibuk dengan duniamu sendiri, dengan prestasimu sendiri, sampai kau lupa bahwa kau punya seorang anak lelaki yang ingin dibanggakan oleh Ayahnya sendiri!"

Itu tidak benar.

"Kau selalu menyinggung aku tidak pernah pulang ke rumah? Sudah jelas karena kau tidak pernah menginginkanku! Kau membenciku! Sedari dulu kau membenciku! Kau selalu melarangku pergi bermain, memberlakukan jam malam di rumah sial ini! Menghalangiku menjadi seorang pemain baseball, dan tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku! Kau selalu memaksakan kehendakmu padaku!"

Itu tidak benar.

"Kau menyalahkan aku sekarang? Kau lah yang memutuskan untuk tidak mau pulang. Bagai pecundang, kau lari ke luar negeri! Hanya sarjana saja, tapi sudah merasa sok hebat! Kau pikir tindakanmu itu keren? Kau tidak lebih dari pengecut!" seru Sawamura Ryouta.

"Sialan kau," kata Eijun pelan, penuh dengan kebencian dan kemarahan yang meluap.

"Kenapa? Kehabisan kata-kata untuk membalasku? Kenapa tidak kau gunakan semua ilmumu untuk menyerangku?" retorik Tuan Sawamura dengan tajam. "Tidak bisa kan? Kau tahu kenapa? Karena aku benar!" dia berkata dengan dingin di akhir.

Eijun masih berusaha mengatur napasnya. Melihat kondisinya, kalau Sawamura Ryouta bukanlah Ayahnya, Eijun pasti sudah menghajarnya sampai babak belur dan mati. Kadang pengendalian diri Eijun memang sangat buruk.

"Sialan kau."

Tuan Sawamura menendang album foto itu sampai masuk ke bawah meja televisi dan pergi berlalu meninggalkan tiga orang dewasa muda di ruang keluarga. Lelaki tua itu memasuki kamar tidurnya dan menutup pintunya.

"Akan kuhancurkan rumah ini."

Setelah bergumam seperti itu, Eijun melesat pergi dari ruang keluarga dan keluar dari rumah, menuju sebuah alam yang sedang hujan deras dan guntur menggelegar.

"Eijun!" panggil Kazuya. Dia berniat mengejar pasangannya. Namun, suara milik Wakana menghentikannya.

"Biarkan dia sendiri," kata wanita itu. Suaranya sengau dan wajahnya merah. Sekitar matanya bengkak karena menangis. "Dia sama saja dengan Ayah. Sama-sama keras kepala. Lagipula dia sudah besar, tidak perlu terus ditemani."

Wanita itu mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya. Penampilannya sungguh kacau. "Wakana-san, kau baik-baik saja?" tanya Kazuya sia-sia.

Wakana mendengus. "Kalau kau mau menganggap bahwa wanita yang kehilangan mimpinya baik-baik saja, silahka. Aku tidak melarang."

"Aku akan mengambilkanmu minum," tawar Kazuya. Mereka berdua berjalan ruang makan. Wakana duduk di salah satu kursi sementara Kazuya pergi ke dapur untuk mengambil minum air dingin. Dia menyerahkannya pada Wakana. Lalu, Kazuya duduk di depan Ibu dari 3 orang anak tersebut.

Wakana meneguk air dingin itu dengan rakus. Lalu, gelas kosong itu ditaruh di atas meja makan. Dia menatap Kazuya. "Kalau aku memintamu untuk menemaniku minum, apa kau keberatan?" tanyanya.

Kazuya menggeleng. Wakana tersenyum. Dia bangkit dan menuju sebuah lemari kaca yang terbuat dari kayu jati. Dia dalamnya terdapat jejeran botol minuman keras yang cukup mahal. Sebotol anggur merah diambilnya dari dalam lemari. Dia membuka penutup botol kaca tersebut dan mengambil dua gelas kosong. Satu untuknya dan satu lagi untuk Kazuya.

Wakana mulai menuang cairan merah itu di gelasnya dan gelas Kazuya. Mereka berdua meminum alhokol tersebut. Rasa panas dan manis mengairi kerongkongan Kazuya.

"Sepertinya aku harus minta maaf padamu," kata Wakana.

"Untuk apa?"

Wakana melambaikan tangannya. "Karena kau harus menyaksikan drama tidak berguna keluarga kami. Kira-kira itulah gambaran nyata situasi keluarga kami dahulu. Ketika Ibu masih hidup, mereka menahan diri agar tidak membuat Ibu sedih. Tapi Ibu sudah meninggal 17 tahun yang lalu, jadi ketika mereka bertemu lagi… kau lihat sendiri hasilnya bagaimana."

Kazuya meneguk satu tegukan lagi. Wakana sudah menuang kembali cairan alkohol merah itu ke dalam gelasnya yang sduah kosong. Dia meminum dengan rakus. Ketika habis, diisi lagi gelasnya. Gelas di genggamannya tidak pernah kosong.

"Kau tahu Kazuya-kun," kata Wakana, "kurasa Ayah dan Ei-chan itu sama saja." Kazuya masih diam mendengarkan. Dia tidak menginterupsi kalimat dari Wakana. Dia membiarkan wanita itu mengeluarkan uneg-unegnya. "Mereka berdua sama-sama laki-laki payah, kaku, keras kepala, egois, dan menjunjung harga diri tinggi yang sangat tidak berguna dan tidak penting." Kazuya setuju 100% dengan kalimat Wakana.

Wanita itu mendengus. "Tidak pernah datang ke sekolah, tidak datang ke acara pernikahan. Itu omong kosong, ngomong-ngomong," kata Wakana. "Ei-chan tidak tahu karena dia sibuk dengan dunianya sendiri, tapi aku yang sudah hidup bersama Ayah untuk waktu yang lama dan nyaris seumur hidupku, aku tahu bahwa itu semua bohong. Aku tahu Ayah membicarakan Ei-chan kepada setiap orang yang ditemuinya. Aku tahu bahwa Ayah selalu membanggakan putranya yang tinggal ribuan kilometer dari rumah ini. meskipun Ei-chan tidak pernah pulang ke rumah, tapi Ayah tidak pernah satu hari pun berhenti menyanjungnya. Aku bahkan bisa mendengar beberapa kali Ayah bercerita pada putra-putraku mengenai Ei-chan."

Dia menatap Kazuya. "Dan satu yang aku tahu, Ayah sangat-sangat bangga dan sayang pada Ei-chan."

Kazuya tidak melihat bahwa Wakana berbohong. Eijun pergi dari keluarganya sendiri untuk waktu yang lama. Eijun pergi meninggalkan sisi Sang Ayah untuk kurun waktu yang tidak sebentar. Namun, Wakana selalu ada di sana. Wakana selalu menjadi saksi semua tindakan Ayahnya. Jadi Kazuya bisa memahami bahwa apa yang dikatakan oleh wanita ini benar adanya.

"Ei-chan adalah anak kesayangan Ayah. Anak laki-laki pertamanya. Anak laki-laki satu-satunya. Ayah memang tidak datang ke pernikahan kalian berdua dan saat itu karena dia masih belum bisa menerima keputusan Ei-chan untuk hidup bersama denganmu. Namun, setelahnya Ayah menjadi sangat menyesal karena tidak datang di hari bahagia kalian berdua."

Wakana menarik napas dan menghembuskannya.

"Lucu ya, bagaimana dua orang yang saling mencintai dan menyayangi sekarang dengan mudah bisa saling berteriak dan melemparkan umpatan. Aneh rasanya melihat rasa cinta menguap begitu saja di antara Ayah dan Anak tersebut. Aku sampai bertanya-tanya, apakah mungkin rasa cinta pada keluarga bisa menguap dan menghilang begitu saja?" gumamnya.

Kalimat panjang dari Wakana membawa Kazuya kembali mengingat hari dimana Eijun menerima surat elektronik yang dikirim oleh kakaknya. Wajahnya yang pucat pasi, hanya bisa terpaku kosong di layar laptop. Kazuya tahu bahwa itu bukanlah wajah dari seseorang yang membenci Sang Ayah. Gurat-gurat kebencian itu tidak ditemukan di wajah Eijun. Meskipun berulang kali Eijun mengatakan bahwa dia benci Ayahnya dan Ayahnya membencinya, Kazuya tidak bisa menemukan rsa benci itu di kedua belah pihak.

Kemarahan, ya ada. Kemarahan itu begitu nyata dan jelas. Rasa frustasi juga ada. Rasa frustasi dari seorang Ayah yang ditinggalkan oleh putranya selama belasan tahun tanpa kabar apapun, bisa Kazuya rasakan dengan jelas di setiap kalimat kemarahn milik Tuan Sawamura Ryouta. Kesedihan juga bisa dilihat dengan jelas, bagaimana selama ini Eijun menginginkan perhatian dari Ayahnya dan pencapaiannya tidak lain dan tidak bukan didedikasikan untuk Sang Ayah. Kazuya bisa melihatnya.

Namun, kebencian?

Di antara kilatan mata yang penuh dengan kemarahan, di semua caci maki yang keluar, di antara semua teriakan yang dilontarkan, kebencian itu tidak ada. Kebencian itu tidak pernah ada di sana. Mereka berdua tidak pernah membenci satu sama lain.

Wakana bangkit dari kursinya. "Aku rasa aku mau ke atas dan tidur sebentar," katanya.

"Kau bisa berjalan?" tanya Kazuya.

Wakana mengangguk. "Aku tidak minum begitu banyak hari ini," katanya. "Maaf, Kazuya-kun boleh tolong simpan lagi botol anggur ini? Gelas kosongnya taruh saja di kitchen sink. Nanti agak malaman aku akan mencucinya."

Kazuya menaruh gelas kosong itu dan langsung mencucinya. Wakana naik ke lantai dua. Sebelum Wakana benar-benar naik, dia sudah memberitahu Kazuya.

"Sebaiknya kau cepat jemput Ei-chan, sebelum dia mati kedinginan di makam Ibu."

.

"Kenapa lama sekali?" tanya Eijun dengan gusar. Bajunya sudah basah kuyup dan dia sedang berlindung di salah satu halte dekat dengan pemakaman umum tersebut.

Kazuya melangkah santai dan menyampirkan jaket tebalnya ke tubuh Eijun. "Untuk apa kau main kabur-kaburan seperti itu? Merepotkan sekali," kata Kazuya sambil mendesah.

Bibir Eijun sudah biru. "Itu bukan alasan mengapa kau lama datang ke sini."

Kazuya mengangkat bahunya santai. "Ada seorang wanita cantik yang ingin ditemani minum. Aku tidak bisa menolak tawarannya," jawab Kazuya.

Eijun mencibir. Paling-paling Wakana yang meminta.

Hujan sudah tidak begitu deras lagi dan angin sudah tidak bertiup dengan kencang lagi. Untuk sesaat tidak ada yang bersuara di antara Eijun dan Kazuya.

"Aku bukan kabur dari rumah tadi," kata Eijun memecah keheningan. "Aku ke sini untuk mengucapkan selamat tinggal pada Ibu."

"Kita akan kembali ke Amsterdam?" retorik Kazuya.

Eijun mengangguk. "Ini tidak ada sangkut pautnya dengan pertengkaran tadi," kata Eijun, seolah membaca ekspresi Kazuya, "kemarin sekretarisku mengirimiku e-mail. Aku tidak bisa meninggalkan penelitianku lama-lama. Aku bertanggungjawab penuh di sana."

Semua alasan yang Eijun berikan masuk akal. Kazuya juga sadar bahwa dia tidak bisa lama-lama juga meninggalkan bursa saham di Amsterdam.

Kazuya membawa Eijun ke dalam pelukannya. "Kau baik-baik saja sekarang?" tanyanya.

"Tidak ada hal baik jika menyangkut pria sial itu," kata Eijun. Kazuya mengeratkan pelukannya. "Aku ingin cepat-cepat tidur di apartemen kita."

"Apa kau yakin akan pergi dan membiarkan masalah ini begini saja?" tanya Kazuya lagi.

"Kau dengar sendiri si tua bangka itu mengatakan apa. Kehadiranku di sini sudah tidak berarti apapun lagi. Wakana baik-baik saja. Semua baik-baik saja," jelas Eijun.

Tapi kau tidak terlihat baik-baik saja.

Hubunganmu dengan Ayahmu juga tidak baik-baik saja.

Kenapa terus menyangkal?

Kenapa sulit untuk mengakui perasaan satu sama lain?

"Kita bicarakan di rumah lagi ya," kata Kazuya. Lalu, dia melepaskan pelukannya dan membimbing Eijun masuk ke dalam mobil Wakana yang dipinjamnya untuk menjemput Eijun.

.

Ketika mereka berdua pulang, seluruh anggota keluarga sedang menyantap makan malam. Eijun naik ke lantai dua tanpa mengatakan apapun. Kazuya, yang masih punya sopan santun, membungkuk hormat pada Tuan Sawamura dan Wakana.

"Tidak mau ikut makan malam, Kazuya-kun?" tawar Wakana. Wajahnya sedikit lebih baik daripada tadi. Dia tersenyum ramah.

Kazuya menggeleng. "Terima kasih," katanya," tapi aku akan langsung ke atas saja untuk menemani Eijun."

Sesampainya di dalam kamar, Eijun sudah melipat baju-baju mereka dan dimasukkan ke dalam koper. Kazuya mengahmpirinya. "Apa sebaiknya kita mampir ke toko oleh-oleh dulu?" tawar Kazuya, setengah bercanda.

Eijun berhasil mengeluarkan dengusan geli. "Amsterdam tidak butuh oleh-oleh kecuali ganja," katanya.

"Tepat! Mungkin kita bisa memberikan dorayaki yang diselipi ganja," usul Kazuya.

"Mereka akan senang sekali kalau itu sampai terjadi," kata Eijun. Dia tertawa. Lalu, setelah selesai membereskan koper, dia naik ke tempat tidur.

"Kau sudah mau tidur?" tanya Kazuya.

"Energiku sudah habis untuk saling berteriak dengan si tua bangka itu," kata Eijun. Lalu, dia langsung mendengkur begitu kepalanya menyentuh bantal.

Kazuya tidak punya pilihan selain ikut tidur bersama dengan Eijun. Dia belum mengantuk, jadi dia hanya memeluk Eijun dari belakang sambil merasakan dadanya naik turun karena bernapas secara teratur.

Suara ketukan di pintu kamar membuat Kazuya kembali terjaga secara penuh. Kazuya yakin bahwa yang mengetuk pintu kamar pastilah Wakana. Ketika dia membuka pintu, Wakana berdiri di depan pintu, memakai piyama dan cardigan tebal berwarna merah.

"Mana Ei-chan?" tanyanya.

"Sudah tidur."

Wakana menghembuskan napasnya. "Tadinya aku mau memberinya jitakan, tapi karena sudah tidur jadi tidak seru lagi," gerutunya.

Kazuya mendengus geli. "Apa kau butuh sesuatu?" tanya pria itu.

Wakana memberinya senyum tidak enak. "Apa kau keberatan main ayunan bersama denganku?"

Untuk kedua kalinya, Kazuya tidak bisa menolak.

.

"Kami akan kembali ke Amsterdam," kata Kazuya memecahkan keheningan.

Ayunan bergerak pelan dan suara derit besi terdengar. "Oh, pantas saja tadi Ei-chan terburu-buru seperti itu. Apa ini karena pertengkarannya dengan Ayah?" tanya Wakana.

Kazuya menggeleng. "Eijun sudah diminta kembali," kata Kazuya, "dia seorang peneliti utama sekaligus penanggungjawab. Dia tidak bisa meninggalkan penelitiannya lama-lama."

Wakana mengangguk paham. Dia menatap langit yang ditaburi bintang. Kazuya ikut menatap langit. Di Amsterdam langit malam sudah terang dengan neon, sehingga bintang-bintang tidak akan terlihat.

"Dulu Ei-chan suka sekali bermain ayunan ini," kata Wakana. "Dan biasanya Ayah yang akan mendorongnya supaya ayunannya jauh dan tinggi. Lalu mereka akan tertawa bersama sepanjang hari sampai Ibu membuat makan malam dan permainan mereka berhenti."

"Kadang aku merasa iri dengannya. Ayah selalu menyempatkan waktu untuk bersama dengan Ei-chan. Tidak pernah tidak. Hal itu membuatku untuk sesaat ingin menjadi anak laki-laki. Aku juga ingin bermain bersama Ayah juga. Lucunya, sekarang aku yang mengurus Ayah selama 24 jam tanpa henti."

Wakana menyudahi kegiatannya menatap langit malam dan menatap Kazuya. "Eijun itu pria brengsek," kata Wakana. Kazuya menatap kakak iparnya. "Dia pria brengsek yang beruntung," lanjutnya.

"Kazuya-kun, mungkin jika aku mengatakannya akan terkesan sangat egois, tapi aku rasa kau harus tahu hal ini," kata Wakana dengan serius. "Eijun adalah orang yang kadang mengutamakan emosinya daripada akal sehatnya, apalagi jika ini menyangkit Ayah. Dia juga orang yang sombong dan punya harga diri tinggi. Dia mungkin tidak akan pernah mengatakannya sampai dia mati, tapi aku tahu. Aku tahu bahwa Eijun peduli dan sayang pada Ayah. Aku yakin bahwa rasa cinta itu masih ada di dalam hatinya."

"Aku pernah melihat Eijun hancur dua kali. Pertama ketika aku kecelakaan dan tidak bisa menari balet, yang kedua ketika kematian Ibu," cerita Wakana. Kazuya memang tahu persis bagaimana hancurnya Eijun ketika Nyonya Sawamura meninggal dunia. Mungkin itu adalah titik terendah dalam kehidupan seorang Sawamura Eijun. "Dan sebagai seorang kakak, aku tidak mau lagi melihat Eijun terpuruk dan menyesal seperti itu. Rasanya sungguh menyiksa. Aku ingin mencegahnya kalau bisa, tapi aku tidak tahu apakah kata-kataku bisa mencapainya."

Pesan dari Wakana jelas, terlampau jelas malah. Dia tidak ingin Eijun pergi dari rumah ini tanpa menyelesaikan masalah yang masih terkantung-kantung seperti ini. Dia ingin Eijun menyelesaikan pertengkaran panjangnya dengan Sang Ayah. Wakana tidak mau adiknya menyesal untuk kali ketiga. Eijun berhak diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Sang Ayah dan inilah kesempatan itu. Jika Eijun pergi ke Amsterdam sekarang, maka kesempatan itu akan hangus begitu saja. Kemungkinan besar, Eijun tidak akan punya kesempatan lagi untuk berbaikan dengan Sang Ayah.

Kazuya akan mengatakan sesuatu, tetapi anak sulung Wakana, Sora, berlari dengan panik menuju Ibunya. "IBU!" serunya.

Wakana langsung bangun dari ayunannya. "Ada apa Sora?"

"Kakek! Kakek!" katanya dengan panik.

"Ada apa dengan kakek?" tanya Kazuya. Dia bangkit dari ayunannya.

"Aku melihat kakek pingsan di kamar mandi dan berdarah!"

.

Perdarahan itu berasal dari hidungnya yang mimisan. Pingsan karena tekanan intrakranial yang tinggi menyebabkan sakit kepala dan hilangnya kesadaran. Sisanya, baik-baik saja.

"Untuk mengurangi rasa pusingnya, saya akan memberikan vasodilator," kata seorang dokter jaga. Wakana tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan. Aoi digendong dan sedang tertidur. Sora dan Kenta tertidur di bangku tunggu rumah sakit dan ditemani oleh Kazuya. Eijun pergi untuk melakukan pembayaran administrasi.

"Apa kemoterapi masih dilanjutkan?" tanya dokter jaga tersebut.

Wakana mengangguk. "Iya. Seminggu dua kali," jawab Wakana. "Apa ada sesuatu?" tanyanya.

Dokter itu terlihat bimbang. Dia menyerahkan hasil CT-Scan paling baru pada Wakana. "Tumor yang tumbuh di otak Sawamura-san semakin lama semakin besar karena termasuk tumor ganas," katanya. Dia menjelaskan dengan bahasa awam, "dan itu yang menyebabkan rasa pusing sampai hilangnya kesadaran. Kita memang bisa memberinya penghilang pusing, tapi hal seperti ini akan terus terjadi lagi."

"Ayah saya mendapatkan terapi kemoterapi, apakah itu tidak cukup?" tanya Wakana.

"Kemoterapi tidak menghilangkan sfiat tumor, tetapi hanya menghambat pertumbuhan tumor saja. Kemoterapi tetap harus dilakukan dan saya akan naikkan lagi jadwal kemoterapi untuk Ayah Anda."

Wakana mengangguk paham. "Apa Ayah saya sudah boleh dijenguk?" tanya Wakana.

"Silahkan, tetapi sebaiknya tidak terlalu banyak penjenguk yang masuk ke kamar rawat."

Setelah dokter jaga itu pamit, Wakana masuk dengan pelan ke kamar Ayahnya.

.

Eijun sendiri sedang mengurusi administrasi sementara Kazuya duduk menunggu sambil menjaga dua keponakannya. Tak berselang lama Eijun menghampirinya sambil menguap.

Melihat Eijun membuat Kazuya mau tidak mau ingat kembali percakapannya dengan Wakana beberapa jam yang lalu. Wakana tidak ingin Eijun merasakan perasaan menyesal yang akan terus menghantuinya seumur hidupnya. Kazuya tidak mau melihat Eijun menderita di sisa kehidupannya. Karena itu, dia membuat keputusan.

"Eijun," panggil Kazuya.

Eijun menatap suaminya. "Ada apa?"

"Aku akan menjaga anak-anak di sini. Kau pergilah," katanya. Eijun menatapnya bingung, atau pura-pura tidak mengerti. Kazuya tidak gentar. "Masih ada hal yang harus kau kerjakan bukan? Masih ada satu masalah yang harus diselesaikan."

Ekspresi Eijun seperti kaca pecah. Kazuya mengatakannya dengan lembut, membuat semua kegundahan yang dialami oleh Eijun tidak dapat ditahan lagi. Perasaannya belum tenang dan masih resah. Kapan perasaan ini akan berhenti menghantui Eijun?

"Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan," kata Eijun jujur. Di tahap ini sepertinya dia sudah lelah berpura-pura. Dia tersesat dan dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Semua cara sudah dicoba, tetapi perasaan itu tetap menghantuinya.

Kazuya bangkit dan membelai wajahnya dengan lembut. "Jangan berpikir," kata Kazuya. "Ungkapkan semuanya. Katakan apa yang ingin kau katakan." Jangan sampai kau menyesal.

"Sudah kulakukan semua," kata Eijun. "Kau saksinya."

Kazuya menangkup wajah Eijun dengan kedua tangannya. "Tapi wajahmu mengatakan bahwa kau masih menyimpan perasaan itu," katanya. "Perasaanmu yang sesungguhnya."

"Aku sudah mencobanya. Ratusan kali, sedari dulu. Tapi perasaan itu menjadi bertepuk sebelah tangan."

Kazuya menatapnya tepat di iris emas milik Eijun. "Kalau begitu, setidaknya, temui Ayahmu. Jangan kau sia-siakan waktu ini."

Iris emas itu bergetar. Perasaannya hampir dibobol lagi. "Tidak apa?" tanyanya penuh keraguan dan ketakutan.

"Tidak apa-apa," kata Kazuya. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Eijun. Lalu, Kazuya mencium pipi yang berisi jejak airmata itu. "Kau akan baik-baik saja," bisiknya.

.

Wakana duduk di sebuah kursi ruang tunggu di depan kamar rawat Ayah mereka. Eijun menghampirinya dan duduk disebelahnya. Aoi tertidur di pelukan Ibunya.

"Anak-anak?" tanya Wakana.

"Tidur di ruang tunggu lobi. Kazuya bersama dengan mereka," jawab Eijun. Wakana kembali menepuk punggung Aoi agar tidurnya semakin nyenyak. Eijun menatap kakak perempuannya. Wajahnya tampak semakin tua dan helaian uban mulai terlihat di rambutnya yang berwarna coklat. Wakana belum setua itu, tapi kehidupannya menjadikan dirinya jauh lebih tua dari usianya.

"Apa Eijun?" tanya Wakana. Dia tidak memanggil Eijun dengan panggilan yang biasanya, yang berarti dia sedang serius.

"Aku hanya membayangkan kau pasti akan sangat cantik jika masih menekuni balet," jawab Eijun jujur.

Mendengar jawaban Eijun, Wakana mendengus muak. "Terima kasih kepadamu yang berkontribusi mempercepat penuaanku," katanya sinis. Dia menatap Eijun. Tatapannya tegas dan menuntut.

"Apa aku pernah meminta padamu sebelumnya, Eijun? Apa aku pernah menuntutmu sebelumnya?" tanyanya dalam nada retorik. "Tidak. Aku tidak pernah melakukan hal itu. Sedari dulu aku selalu menahan diriku dan terus melakukannya. Kau mendapatkan perhatian Ayah, aku tidak mempermasalahkannya. Kau menyebabkanku kecelakaan, aku pun tidak masalah dan sama sekali tidak menuntutmu." Tatapannya semakin berkilat dan tegas. "Bahkan ketika kau memutuskan untuk pergi saja, membiarkanku sendirian bersama Ayah, aku sama sekali tidak protes!"

Eijun diam mendengarkan. Kakaknya, sebuah sosok bayangan yang nyata dan selalu menyokong keluarga ini dari balik bayangan. Sawamura Wakana, sesosok wanita yang seharusnya bisa terbang bebas di langit, tetapi malah berakhir terantai di tanah. Kebebasan Eijun dan kehidupannya yang berlimpah ditukar dengan sebuah nasib kakaknya.

"Ibu sudah tidak ada, Eijun," kata Wakana. "Dan sekarang Ayah…"

"Aku di sini sekarang," kata Eijun.

"Dia Ayahmu! Memang sudah seharusnya kau di sini! Sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini?"

"Aku tidak bersikap seperti itu!" sergah Eijun. Dua orang kakak-adik, dalam kondisi lelah, sedih, terluka, bersiap menyulut emosi masing-masing. "Bukan hanya kau yang kehilangan mimpi. Aku juga kehilangan mimpiku. Bermain baseball! Ayah merenggutnya dariku!"

"Kasihan sekali kau!" desis Wakana. Keduanya terdiam dengan emosi yang meluap-lupa. Wakana menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali. Eijun belum beranjak bangun dari kursinya.

"Kau anak kesayangan Ayah," kata Wakana.

Eijun mengerang. "Jangan mulai Wakana. Jangan mulai."

"Ini benar. Kau selalu menjadi anak favoritnya. Apa kau ingat dulu kau sempat hujan-hujanan ke stasiun karena ingin membeli bakpao isi daging babi? Besoknya kau sakit. Dan sejak saat itu, selama dua minggu Ayah selalu pulang ke rumah dengan membawa bakpao daging babi," cerita Wakana.

Tidak, Eijun sama sekali tidak ingat cerita itu. Benarkah ada cerita itu? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya?

"Temui Ayah, Eijun. Temui dia. Akhiri drama murahan ini sekarang. Selesaikan pertengkaran panjang ini," kata Wakana. "Eijun, kalian berdua adalah keluargaku juga. Aku memang tidak bisa seperti Ibu, tapi aku ingin melihat Ayah dan adik laki-lakiku akur lagi, seperti dulu. Apa kau tidak menginginkan hal itu? Kembali akur dengan Ayah?"

Eijun mendengus. "Sudah terlambat," jawabnya singkat.

"Sialan kau Eijun!" desis Wakana. "Kenapa kau suka membiarkan masalah berlarut-larut? Kau mau melarikan diri sampai kemana? Akankah perasaanmu membaik jika kau pergi ke ujung dunia? Kalau kau pergi sekarang, kapan kau akan kembali pulang? 15 tahun lagi? 50 tahun lagi?"

"Kau tidak mengerti," kata Eijun.

"Kau lah yang tidak mengerti perasaanmu sendiri. kau mengabaikan perasaan itu. Dan sekarang perasaan itu tidak bisa lagi kau abaikan. Jangan lari lagi, Eijun. Aku hanya memohon ini padamu. Hadapi Ayah. Jangan sampai kau menyesal."

Wakana terlihat ingin menangis, tetapi dia mengendalikan dirinya. Aoi tertidur dengan sangat lelap. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan betapa kompleks perasaan orang dewasa di sekitarnya. Eijun ingin kembali menjadi anak kecil. Hanya tahu makan, main, dan tidur.

Kata-kata Wakana dan Kazuya bergema di kepalanya. Seluruh hatinya menginginkan Eijun masuk ke dalam kamar rawat Ayahnya, tetapi sepotong dari akal sehatnya mengatakan bahwa dia melakukan hal yang sia-sia. Akal sehat itu mengatakan bahwa hubungannya yang sudah retak tidak akan bisa diperbaiki lagi. Sudah terlambat. Mau masuk sekarang atau pun tahun depan, tidak akan ada yang berubah.

Haruskah Eijun mendengarkan seluruh kata hatinya atau hanya sepotong dari akal sehatnya? Dia sama sekali tidak bisa memutuskan mana yang terbaik dan dia merindukan Ibunya.

Persetan dengan semuanya.

Eijun akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar rawat inap Ayahnya.

.

Ayahnya baru saja siuman dan masih terbaring lemah. Jalur infus dipasang secara intravena di punggung tangan kirinya. Suara monitor EKG bergema nyaring di sepenjuru ruangan. Ayahnya tampak lebih sakit dari seharusnya. Eijun mendekati Ayahnya dan duduk di sebuah kursi yang disediakan rumah sakit untuk penunggu.

Untuk beberapa saat, tidak ada dari mereka yang berbicara. Eijun tidak tahu harus berbicara apa, dan akhirnya dia hanya mengamati paras Ayahnya. Ayahnya sendiri masih menatap langit-langit dan bernapas dengan teratur. Eijun tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti, mungkin tidak lama lagi, jantung itu akan berhenti berdetak.

"Itu adalah cinta pada pandangan pertama," kata Ayahnya.

Eijun diam mendengarkan. Mungkin Ayahnya sedang berusaha mengingat pertemuannya dengan Ibunya, wanita yang sangat dicintainya, bahkan setelah 17 tahun kematiannya, cinta itu tidak memudar.

"Ketika dokter berhasil menolong Ibumu bersalin, dia menyerahkanmu padaku untuk digendong dan aku tahu detik itu aku telah jatuh cinta pada pandangan yang pertama."

Eijun paham bahwa kini Sang Ayah sedang membicarakan dirinya. Hatinya kembali terasa sesak. Apakah dari dulu Eijun memang selemah ini dalam hal perasaan? Kenapa dia gampang sekali terbawa perasaan?

Eijun menelan ludahnya.

"Aku… selalu berusaha keras. Ayah adalah sosok hebat dan sangat hebat. Dan aku ingin menjadi sosok hebat itu. Aku ingin menjadi seperti Ayah. Menjadi sehebat Ayah. Semua yang kulakukan agar Ayah bisa bangga padaku. Dan sekarang, aku paham apa yang hendak Ayah ajarkan padaku."

Eijun menatap Ayahnya dan sebuah senyum mulai terukir di bibirnya. Tuan Sawamura terpaku. Sudah berapa lama dia tidak melihat putranya tersenyum dengan begitu lebar dan indah? 15? 20? 30 tahun? Rasanya sudah lama sekali. Senyum Eijun persis seperti ketika usianya 4 tahun dan dia tertawa terbahak-bahak ketika ditaruh di atas pundak Tuan Sawamura. Masa-masa yang begitu indah untuk dikenang dan kalau bisa, ingin kembali sekali lagi.

Eijun menggenggam tangan Ayahnya yang kurus dan terasa dingin. Genggaman tangan Eijun membuat seluruh kulit Tuan Sawamura menghangat. Genggaman itu penuh dengan kelembutan dan kerinduan. Tangan Sawamura sudah lebih besar dan kekar darinya. Tangan itu bisa melindungi Ayahnya sekarang, seperti dulu tangan itu selalu melindungi Eijun.

Ungkapkan perasaanmu.

Katakan semuanya.

Jangan sampai kau menyesal.

"Aku menyayangimu, Ayah."

.

Suasana rumah duka begitu ramai dengan orang-orang yang memakai pakaian hitam. Ketiga anak milik Wakana memakai jas hitam. Ekspresi mereka murung dan jejak air mata terlihat jelas. Kondisi Ibu mereka lebih parah. Wajahnya sembab dan dia tidak berusaha menyembunyikannya. Beberapa kolega datang lagi dan mengucapkan belasungkawa.

Mantel hitam milik Eijun berkibar di tiup angin musim gugur. Dia tidak berada di dalam rumah duka, tetapi di sebuah perbukitan yang tidak jauh dari rumah duka, tempat dulu Ayahnya membawanya ke sana untuk bermain. Kini, setelah dia mengungkapkan perasaannya, memorinya semakin jelas. Memori itu sudah tidak bagaikan kereta api yang melaju dengan begitu cepat, tetapi seperti sebuah kaset tua yang disetel setelah ditinggalkan puluhan tahun.

Ingatannya tentang Sang Ayah tidak hanya berkisar teriakan dan caci maki, tetapi juga kenangan-kenangan manis yang pernah diukir bersama-sama. Memancing, bermain lumpur, belajar sepeda, bahkan menangkap kodok di sawah. Semuanya menjadi sangat jelas. Ketika Eijun mengingatnya, dia semakin tersenyum.

"Kau bisa masuk angin kalau di sini terus," kata Kazuya dari belakangnya.

"Aku masih mau di sini lebih lama lagi," kata Eijun. Dia duduk di atas rumput dan memberikan gestur agar Kazuya mengikutinya. Suaminya itu tanpa banyak bicara duduk di sebelah Eijun. Mereka bersandar pada sebuah batang pohon yang rindang. Daun-daunnya sudah berubah warna menjadi kuning.

"Wakana-san bisa marah kalau tahu kau tidak membantunya," kata Kazuya.

Eijun menaikkan bahunya ringan. "Dia seorang Ibu. Kerjanya adalah marah-marah."

Kazuya mendengus. Eijun menyenderkan tubuhnya ke tubuh Kazuya. Dia merasa paling nyaman jika sudah bersama dengan Kazuya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Kazuya dalam bisikan.

"Tidak banyak," kata Eijun, "hanya beberapa kenangan saja. Ayahku sering mengajakku ke bukit ini dulu. Untuk menatap bintang-bintang, melihat kembang api," ceritanya.

"Sepertinya seru," kata Kazuya.

Eijun mengangguk. "Mungkin kapan-kapan kita bisa mencoba melakukannya," tawar Eijun.

Mereka saling bertatapan. "Iya. Kapan-kapan."

Eijun mendekatkan wajahnya dan mulai menutup matanya ketika bibir mereka berdua bertemu. Bibir Kazuya dingin, karena udara musim gugur yang tidak bersahabat. Napas Kazuya wangi daun mint, mungkin dia memakan satu bungkus permen mint di rumah duka. Ciuman itu diresapi oleh Eijun dalam-dalam.

"Terima kasih," kata Eijun di sela-sela ciuman mereka. "Karena kau selalu ada untukku."

Sebagai balasan, Kazuya memperdalam ciuman mereka. Wajah Eijun ditangkup oleh kedua tangan Kazuya dan lidahnya mulai menyusuri deretan gigi rata milik Eijun. Eijun mengeluh, tetapi dia tidak melepaskan ciuman itu.

"Aku mencintaimu."

.

Taksi sudah menunggu di depan rumah Sawamura. Kazuya mengecek koper mereka sudah masuk dengan rapi di bagasi taksi, sementara supir taksi menunggu dengan sabar.

Eijun meresapi lagi rumah tua yang sedikit sepi kali ini. Anak-anak sudah mulai kembali bersekolah dan Aoi dititipkan di penitipan anak. Wakana cuti setengah hari, untuk mnegantar kepergian Eijun.

"Aku bisa mengantarmu sampai terminal bus," kata Wakana.

"Jangan repot-repot," kata Eijun, "nanti kau tidak keburu ke SD."

Kazuya sudah menunggu di depan taksi. Eijun melihat sekali lagi rumah tua yang menjadi tempatnya kembali. Dia menatap kakaknya. "Sudah ya. Aku pergi dulu."

Lalu, Eijun berbalik dan mulai melangkah pergi selangkah demi selangkah. Wakana menatap punggung adik laki-lakinya yang kian menjauh, menuju taksi. Taksi itu akan membawa Eijun dan Kazuya ke terminal bus. Lalu, bus akan membawa mereka berdua ke Bandara Internasional Narita. Lalu, pesawat akan membawa mereka kembali ke benua lain yang sangat jauh dari jepang. Entah kapan Eijun akan kembali pulang lagi. Mungkin 50 tahun lagi.

"Ei-chan!"

Wakana berlari menghampiri adiknya dan ketika Eijun berbalik, Wakana memeluknya dengan erat. "Ada yang ingin kusampaikan padamu," katanya.

Eijun balas memeluk kakaknya. "Kau bisa mengatakannya pelan-pelan," kata Eijun.

Wakana menggeleng. "Tidak. Kau akan menghilang lagi," katanya. "Aku hanya ingin mengatakan…"

Suaranya menghilang. Dia tercekat.

Eijun memeluk kakaknya lebih erat lagi. "Aku tahu."

"Aku akan menunggu 15 tahun lagi kalau perlu," kata Wakana.

Eijun melepaskan pelukannya. Dia tersenyum.

"Pertemuan berikutnya tidak akan selama itu."

.

SELESAI

A father should be his son's first hero and his daughter's first love


A/N: Help! Ujian di depan mata, tapi tangan gak bisa berhenti ngetik!

Oke, abaikan. Ada beberapa adegan di cerita ini yang meminjam scene dari Movie: The Judge (2014).

Semoga para pembaca menikmati cerita ini dan silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, kritik, dan saran di kolom review. Atau hanya sekedar menekan tombol favorite dan follow.

Salam,

Sigung-chan

.

Stay safe para pembaca