Author's note: Hahaha, akhirnya ini pertama kalinya Penulis merilis fanfic one shot! Biasanya selalu berchapter-chapter. Inspirasi fanfic ini berasal dari sebuah komik humor rekomendasi teman Penulis. Nah, kali ini tokoh utamanya adalah kelompok pelawak di fanfic Girls Are Better Than Boys. Yup, tentu saja tim mak comblang kita yang beranggotakan Kuina, Ace, Sabo, Bonney, Kid dan Marco. Intinya Penulis ingin menjadikan mereka berenam sebagai kelinci percobaan.
Setting waktu dari fanfic kali ini adalah ketika mereka berlima dipaksa menginap semalam oleh Kuina di rumah kediaman Monkey sebelum keesokan paginya berangkat ke gym, tempat pertarungan Luffy vs Doflamingo. Berarti, kejadian nista di fanfic ini sebelum chapter berapa, ya? Antara chapter 27 dan 28 kalau Penulis tak salah.
Ya sudah, langsung baca saja. Semoga kalian suka humor tak jelas Penulis kali ini.
.
Disclaimer : Oda Eiichiro
TRUTH OR DARE ALA TIM MAK COMBLANG
SIDE STORY DARI GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
By Josephine Rose99
.
.
Note :
Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.
OOC (Out of Character)= artinya kalau tokoh di fanfic ini banyak memiliki sifat yang tak sama dengan anime aslinya. Jadi jangan protes kalau tak suka. Kemudian miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
TRUTH OR DARE ALA TIM MAK COMBLANG
SIDE STORY DARI GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
By Josephine Rose99
.
.
.
Sake beras yang dibawa pelayan keluarga Monkey tinggal sedikit lagi. Begitu pula cemilan buatan koki keluarga kepala sekolah Tokyo Galaxy itu. Menginap semalam di rumah sebesar dan semewah ini ternyata bisa bosan juga jika tak ada kegiatan lain. Salahkan ide Kuina yang seenaknya menahan mereka di tempat ini.
Tim mak comblang yang awalnya beranggotakan tiga orang menjadi enam orang. Benar, tiga orang tambahan itu adalah Kid, Bonney dan Marco. Kid yang memang anak suruhan Kuina melibatkan Bonney juga dalam penderitaannya. Walhasil Bonney terpaksa ikut-ikutan. Marco pun begitu. Awalnya hanya rasa penasaran terhadap rencana mak comblang Kuina membuatnya ikut terseret ke dalam tim absurd yang tak punya tujuan idealis.
Menyesal? Lupakan saja. Itu semua sudah terlambat. Makanya mereka berenam hanya bisa duduk melingkar layaknya arisan Ibu-Ibu tetangga dalam keheningan.
Melihat situasi tidak kondusif, Kuina menghela napas berat. Dia tahu ini akan terjadi. Makanya sebagai Madam cinta, dia sudah membawakan peralatan tempur yang ia buat sehari sebelumnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berisikan gulungan kertas warna-warni dan sebuah botol dari ranselnya. Otomatis dua benda yang ia keluarkan itu jadi pertanyaan besar bagi pikiran lima orang lainnya.
"Apa itu?" tanya Bonney penasaran sekaligus takut. Ya, selama menjadi anggota tim laknat nista ini, firasatnya selalu buruk kalau sudah menyangkut Kuina.
Kuina terkekeh ala mak lampir gua batu, "Hehehe, aku membawakan kalian oleh-oleh."
"Kotak kayu dan botol? Untuk apa?" tanya Bonney lagi.
"Jreeeng!" Kuina meletakkan dua benda itu di tengah-tengah mereka.
Terlihatlah gulungan kertas bewarna merah, kuning, dan hijau di dalam kotak kayu serta botol kaca minuman bening yang kosong. Alhasil, kelima anggotanya memperhatikan barang bawaannya dengan seksama, namun tak mengerti juga.
"Emmm..." gumam Marco tak paham.
"Apa ini, Kuina?" Ace bertanya sambil menunjuk kertas-kertas itu.
Kuina mengacak pinggang, "Hm hm hm, inilah permainan yang kubuat untuk memeriahkan malam kita ini. Perhatikan baik-baik. Ini bukan kertas biasa," katanya sambil mengambil satu gulungan bewarna hijau lalu membukanya dan menunjukkannya pada mereka.
Ace dan yang lainnya menyipitkan mata, membaca tulisan dalam gulungan itu.
.
PIJAT PEMAIN DI SEBELAHMU SELAMA 5 MENIT.
.
"Pijat pemain di sebelahmu selama 5 menit?" mereka bertanya kompak.
Kuina tersenyum cengar-cengir ala tokoh penjahat melihat reaksi kelima anggota. Maka, karena penasaran, Sabo mengambil gulungan hijau dari kotak kayu itu dan membacanya, "Hei, yang ini tertulis 'Lakukan tarian monyet sampai giliranmu lagi'," dia menggulung kertas itu, kemudian memasukkannya kembali ke tempatnya, "Apa-apaan ini, Kuina?"
Ujung kanan bibir Kuina naik satu centi, "Kau masih tidak mengerti juga, Sabo? Ini namanya truth or dare!"
Truth or dare?
Heeee... permainan konyol dimana pemain mengatakan hal jujur terhadap sesuatu atau berani melakukan sesuatu sesuai perintah yang diberikan? Benar-benar permainan bocah. Ya, tak heran sih mengingat ini ide Kuina.
Kid menatap Kuina datar, "Jadi, kita putar dulu botol ini. Ketika ujungnya menunjuk seseorang, maka seseorang itu harus mengambil salah satu gulungan kertas dan kemudian melakukan apa yang ditulis di dalamnya?" Kuina langsung mengangguk-angguk.
"Peraturannya mudah juga..." komen Bonney singkat.
Kuina menjentikkan jarinya, "Benar, 'kan? Jadi bagaimana?" dia menatap mereka satu per satu, "Cocok untuk mengisi waktu luang kita di malam ini sebelum pertempuran besok!"
Rayuan setan Kuina tampaknya berhasil, saudara-saudara. Terlihat sekali dari wajah antusias Monkey bersaudara, anak angkat Shirohige dan dua anggota geng motor itu. Tanpa mereka ketahui kejutan sial telah dipersiapkan Kuina di antara kertas-kertas tersebut. Kita hanya bisa berdo'a.
Marco adalah orang pertama yang mengumumkan kesediannya, "Oke, aku ikut, yoi!"
Disambung oleh Kid sebagai orang kedua, "Aku juga,"
"Sama!" sahut Sabo.
"Ya, tak mungkin aku tak sanggup melakukan permainan konyol ini. Aku juga ikut," ucap Bonney yang dapat tampolan dahsyat dari Kuina.
"Kalau kalian ikut, aku juga sama." penutupan dari Ace. Resmi sudah permainan jujur atau berani ini diikuti oleh enam pemain.
Uh-oh, senyum jahat itu muncul lagi. Senyum jahat penuh dusta dari sang Madam cinta!
"Bagus!" begitu katanya dengan niat terselubung, ck ck ck.
...
...
..
Permainan pun dimulai. Mereka berenam duduk melingkar ala konferensi meja bundar. Botol kaca tepat di tengah dan kotak kayu tak jauh disampingnya. Kuina langsung mengambil alih sebagai pemilik ide. Dia memutarkan botol itu sehingga botol itu memutar begitu cepat.
Jantung para pemain makin lari maraton, berdetak kencang akan penasaran siapakah korban pertama. Tak lama, pertanyaan mereka pun terjawab ketika mulut botol itu menghadap ke arah Sabo.
Sabo langsung mendelik kaget. Siapa sangka dia yang pertama?
"Oke, kita mulai permainan ini dari Sabo, yoi!" ujar Marco.
"Siap!" Sabo tanpa berpikir langsung mengambil gulungan merah dari kotak kayu.
Perlahan-lahan dia membukanya karena terus berpikir apakah perintahnya. Namun, matanya langsung melotot horor begitu apa yang tertulis.
DI DALAM GRUP TRUTH OR DARE INI, SIAPAKAH YANG PERNAH MEMBUATMU JATUH CINTA?
Pertanyaan macam apa itu?!
Tentu saja Sabo langsung menatap lekat-lekat mereka berlima yang juga menatapnya dengan bingung. Menatap mereka satu-satu sambil terus berpikir siapakah yang pernah membuatnya jatuh cinta, namun percuma. Kenapa? Pertanyaan bagus. Karena tak ada satupun di antara mereka pernah membuatnya begitu! Bahkan tipe jodohnya pun tak termasuk! Masih ingatkah kalian insiden dimana Kuina mengambil buku harian Sabo? Para pembaca pasti masih mengingat jelas bahwa tipe Sabo itu adalah cewek lembut, kulit putih asal jangan seputih cat tembok, suka menolong tanpa mengorbankan jiwa raga orang lain, dan bla-bla lainnya.
Tapi lihatlah dua gadis di dekatnya alias Kuina dan Bonney. Jangan dulu berpindah ke kriteria lain, kriteria pertama a.k.a cewek lembut saja mereka berdua tak memenuhi nominasi. Kecuali Sabo berubah pikiran menyukai cewek barbar, barulah kita bisa berpindah ke kriteria selanjutnya. Selain itu, tak mungkin juga dia memilih cowok sebagai tipenya! Seperti yang dikatakan di buku hariannya, Sabo lelah terus dikatai hemafrodit! Walhasil, Sabo sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menggeleng-geleng frustasi akibat tak kunjung mendapat solusi.
Melihat reaksi Sabo yang mulai menggila, Kuina pun berkomentar, "Walah..."
"Tampaknya dia sudah menarik ranjau di awal main, yoi..." sambung Marco.
"Aku tak tahu apa yang ditulis di kertas itu, tapi peraturan tetap peraturan." ucap Bonney santai sesantai jidatnya akan hobi menghina Kuina.
Demi menutup mulut sok tahu mereka, Sabo memutuskan menunjukkan tulisan di kertas laknat yang barusan dia ambil. Dalam hitungan detik kemudian, seketika mereka shock berat sekaligus membeku.
Jujur demi Dewa, Sabo menahan napas, kejang-kejang, serta mendadak kurus layaknya kurang jatah makanan selama sebulan ketika berkata, "...O..Orang...itu...adalah..."
"SIMPAN SAJA SENDIRI UNTUKMU, BAJINGAN!" teriak kelima temannya berbarengan.
...
Skip time..
...
Giliran selanjutnya jatuh kepada Marco. Takut-takut dia mengambil gulungan mengingat nasib Sabo sebelumnya.
Keputusan telah diambil. Dia memilih gulungan hijau, kemudian membukanya. Dan beruntung sekali! Langsung saja dia bernapas lega berkat tulisan di kertas tersebut. Sebuah pertanyaan mudah!
APA RENCANAMU DI HARI LIBUR NASIONAL?
"Aku akan berjalan-jalan bersama saudara-saudara angkatku di tempat wisata," Marco menuntaskan pertanyaan jujur dari permainan kampret ini.
Kemujuran dia barusan mendatangkan iri hati dari Sabo. Bocah ini asyik bercih-cih ria karena Marco beruntung mendapatkan pertanyaan mudah. Berbeda darinya yang nyaris semaput menjawab pertanyaan bodoh tadi. Dasar bocah sirik.
"Oke, kuputar lagi!" seru Kuina kembali memutar si botol jahanam.
Siapakah korban selanjutnya?
Oop! Mulut botol mengarah pada si sulung Monkey alias Ace. Hm hm, korban ketiga didapatkan.
"Hohoho!" dengan tampang sok tidak gentar, mahasiswa Universitas Tokyo ini mengambil gulungan secara acak dan tangannya meraih sebuah gulungan hijau. Tak butuh waktu lama baginya membuka kertas itu, "Sip! Lihat, punyaku-!" ada apa? Kenapa dia tiba-tiba berhenti? Kenapa mata Ace melotot hingga nyaris keluar? Apa yang tertulis?
"...Aku lewat, deh." begini ujarnya lagi dengan wajah pundung sambil membuang kertas itu ke sembarang arah.
"HAAAAHH!?"
Otomatis tindakannya barusan mengundang protes dari berbagai pihak, 'kan? Mereka berbondong-bondong mengajukan keberatan pada Monkey D. Ace.
"Enak saja! Jangan gila, Ace!" protes Kid tak terima.
"Kau sudah mengambilnya, jadi harus kau lakukan!" sahut Bonney.
Ada yang aneh. Marco tahu betul seorang Ace adalah laki-laki yang tak mungkin lari dari masalah. Berarti tinggal satu kemungkinan lagi, "Apa mungkin isi kertasnya kosong, yoi?"
Masalahnya, Kuina yakin telah menulis semua kertas-kertas itu. Tak mungkin ada yang tertinggal. Makanya dia mengambil kertas yang barusan dibuang Ace tadi, "Mana mungkin, Marco-san! Jelas-jelas aku ingat sudah menulis semua ker-!" oke, kali ini giliran Kuina yang shock.
Kenapa? Ya, karena yang tertulis di kertas itu adalah...
SEBUTKAN KENANGAN TENTANG MANTAN PACARMU.
Awkward moment.
Krik-krik, krik-krik...
"...Sepertinya Ace-san memang harus lewat, kawan-kawan..." Kuina akhirnya memberi keputusan yang membuatnya sangat bersimpati pada Ace yang masih pundung meratapi nasib.
Jelas, 'kan? Bocah itu tak pernah berpacaran seumur hidupnya! Mana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan yang menyinggung hatinya yang paling dalam itu!
Tanpa mengetahui maksud Kuina, demo protes terus berlanjut, "APA?! KENAPA, KUINA!?"
"Ah, bawel! Pokoknya Ace-san tak bisa menjawab pertanyaannya! Sudah, cepat putar botolnya lagi atau kubacok kalian!" lagi-lagi ujungnya harus pakai kekerasan, ck ck ck.
Permainan dilanjutkan kembali.
Bonney memutar botol jahanam tersebut, hingga botol itu berkali-kali bergantian menunjuk mereka. Kemudian kecepatan botol itu menurun sampai di posisi menunjuk ke arah si pembuat permainan.
Ya, Kuina selanjutnya.
Dia tak mau berbasa-basi, langsung mengambil gulungan kuning sambil cengar-cengir. Setelah membuka gulungan itu, dia tunjukkan isinya pada mereka berlima, "Haha! Ini punyaku!"
Kali ini Dewi fortuna tidak berpihak pada lima pekerja rodi Kuina. Karena—apa-apaan ini!? Dia mendapat dare yang tak menantang!
LAKUKAN POSE SEKSI ALA SUPERMODEL VICTORIA SECRET.
Bonney langsung membanting kertas kusut itu ke lantai, "Pose seksi untuk si platipus betina?! Apa-apaan?!"
"Ampas banget! Kenapa kadal laut ini harus berpose menjijikkan di depanku?!" bukan hanya Bonney, Sabo juga ikut mencak-mencak.
Masa bodoh akan pendapat mereka. Kuina memilih cuek dan melakukan pose (sok) seksi di lantai. Dia berbaring menyamping, tangan kiri menopang kepala, serta sentuhan terakhir berupa tatapan manja yang SUMPAH mengundang orang lain ingin muntah ditambah membiarkan bibirnya sedikit terbuka supaya menambah kesan sensual. Yup, kesan sensual yang membuat Kid ingin panggilan alam.
"Lanjut, lanjut! Ini perintah omong kosong!" teriak Ace muak melihat pose menjijikkan itu lama-lama.
Ace mengambil kendali, memutar botol jahanam lagi.
Daaann... orang yang ditunjuk adalah... Sang ketua geng motor Supernova!
"Oi, Kid! Giliranmu, tuh!" ujar Sabo bernada perintah.
"Iya, iya... bawel," Kid pun bergerak mengambil kertas hijau dari kotak kayu. Ingin tahu apa isinya?
POTRET DIRIMU DENGAN WAJAH JELEK.
Alis Kid bertaut. Perintah konyol macam apa ini?
"Potret dirimu dengan wajah jelek?" gumamnya membaca perintah absurd buatan Kuina. Ya ampun, apa tak ada perintah yang lebih berbobot?
Suasana langsung hening beberapa detik.
"Hooo... intinya memotret wajahmu yang ekspresinya dijelek-jelekkan, ya?" Bonney manggut-manggut mulai paham pada perintah tersebut.
JEPRET JEPRETT!
Tak perlu komando siapapun, mereka berlima kecuali Kid tentunya segera mengambil ponsel masing-masing dan memotret wajah Kid berulang-ulang. Kid yang belum siap tentu saja terkejut melihat aksi teman-temannya. Padahal raut wajahnya biasa saja tadi. Dia pun bingung.
Tak perlu khawatir, Kid. Penulis tahu apa alasannya, kok. Benar-benar alasan kurang ajar.
"Yosh, fotomu sudah dapat, nih!" kata Ace menunjukkan foto Kid pada orangnya sendiri.
"Sudah cukup wajahmu yang dijelek-jelekkan itu," balas Bonney kalem tanpa dosa.
Yup, itu dia alasannya.
Tak perlu dijelek-jelekkan pun, wajah Kid memang sudah jelek.
Kid yang menyadari maksud mereka tadi, tak bisa menahan perempatan merah muncul di dahinya. Mati-matian dia menahan hasrat membunuh penuh kegeraman sambil menatap mereka dengan tatapan membunuh meski mencoba tersenyum, "Kalian masih ingin pulang hidup-hidup 'kan, bajingan?"
Hiraukan kegondokan Kid, mari kita lanjutkan permainan.
Botol jahanam diputar lagi. Terus berputar... berputar... dan berputar.
Daaaan... yak! Berhenti menunjuk Bonney! Otomatis kedua mata cewek itu terbelalak saking shocknya dapat giliran. Gawat, firasatnya makin buruk.
Tapi Bonney tak bisa mundur. Sambil terus membacakan mantra dalam hati supaya tidak mendapat perintah aneh, dia mengulurkan jemarinya ke kotak kayu. Cepat sekali dia mengambil gulungan pertama yang disentuh pertama kali, yaitu gulungan merah. Bonney menutup sebelah matanya selagi terus membuka gulungan tersebut. Berharap penuh tidak mendapat apapun soal percintaan!
NYATAKAN CINTAMU PADA ORANG DISAMPING KIRIMU.
Ah, tidak. Pupus sudah! Harapan Bonney benar-benar tidak kesampaian!
Tunggu dulu! Disamping kiri, 'kan? Seolah tak bisa menerima kenyataan, takut-takut Bonney menoleh ke samping kirinya. Tubuhnya berkeringat dingin serta bergetar hebat. Sial, sebenarnya dia sudah tahu siapa, tapi tetap saja dia tak terima. Karena saat ini yang duduk di samping kirinya adalah...
"Ada apa, Bonney? Wajahmu tegang begitu," ucap orang di kiri Bonney heran.
Melihat ekspresi orang tersebut, Bonney cuma bisa tertawa hambar, "Ha... haha...hahaha...haha..."
Hal tersebut mengundang tanda tanya sekitar. Segera Marco yang duduk di kanan Bonney bertindak, yaitu mengintip tulisan di kertas yang dipegang Bonney sekarang, "...Nyatakan cintamu pada orang disamping kirimu?" gumam Marco kemudian melongo.
Krik-krik, krik-krik...
Angin berhembus.
"Eh?" Kuina terkesiap jantungan.
"Hah?" reaksi Sabo layaknya mendengar kabar sang kekasih akan menikah dengan pria lain. Ya, kaget luar biasa.
"Menyatakan cinta..." Ace nyaris tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Namun dia harus mengatakannya! "...Tak mungkin.."
"PADA KKKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIDDDD!?" Ace, Kuina, Marco, dan Kuina berteriak ala paduan suara.
"AKUUUUUU!?" jiah, bocah ini teriak juga sambil menunjuk dirinya sendiri. Spontan dia langsung melirik wajah Bonney yang sedang memerah hebat.
Ya, cewek itu sudah banjir keringat dan wajah memerah padam. Frustasi datang menghampiri. Ya ampun, seandainya dia menolak ikut permainan nista ini, tak mungkin nasibnya akan sesial ini! "APA-APAAN INI?! TAK MUNGKIN! INI TAK LUCU!" dia berteriak murka kepada keempat orang calon saksi mata yang sedang tersenyum iblis.
Kejutanmu memang pantas jadi hiburan ya, Kuina?
Bukannya mendukung Bonney, Ace ikut-ikutan berkhianat, "Terserah kau saja, cewek barbar!"
"Cukup mengeluhnya! Cepat lakukan!" sambung Marco.
"Kau panen saja apa yang kau tanam, kampret!" ini sih Sabo yang akhirnya bersyukur ada juga yang kebagian perintah nista. Setidaknya dia ada teman seperjuangan. Memang sifat tak pantas untuk ditiru.
Bonney mendecih kesal. Serius, dia tak mau melakukan ini, tapi seorang Jewelry Bonney adalah icon cewek geng motor. Masa' dia takut melakukan pernyataan cinta pura-pura ini daripada perang besok? Namanya bisa jatuh! Apa boleh buat, demi namanya, dia harus menuntaskan misi konyol ini sampai akhir.
Diliriknya Kid yang langsung lompat kambing dari duduknya. Well, sepertinya bocah itu salah tingkah karena teman masa kecil sekaligus partnernya sebentar lagi akan mengatakan cinta pura-pura. Peluh membasahi wajahnya selagi dia mencoba menenangkan detak jantungnya.
Apa-apaan? Ini bukannya dia tak memiliki perasaan apapun pada Bonney, tapi dia belum pernah di posisi begini. Ya, maklum. Siapa juga yang mau menyatakan cinta pada makhluk jomblo yang tahunya cuma tawuran? "Tu-tunggu dulu, Bonney! Aku tidak mau! Kau tak perlu sampai—" percuma, Kid. Kibasan tanganmu itu digubris oleh anggotamu itu.
"KID!" teriak Bonney tiba-tiba.
Deg! Jantung Kid nyaris berhenti.
Haha, Bonney belum pernah menyatakan cinta. Jadi sambil terus berpikir bagaimana caranya, dia tak berani melirik Kid. Singkatnya dia malu-malu. Namun beberapa detik kemudian, dia teringat akan drama cinta kesukaan anggota geng motor Supernova. Ingat akan sebuah adegan pernyataan cinta singkat ala bocah SMA. Dia pun memutuskan untuk meniru adegan menjijikkan tersebut.
"I-itu..." biarkan dia menyelesaikan intronya, "...Se-sebenarnya selama ini... aku telah memendam perasaan khusus padamu... Jadi, aku ingin... mengatakannya supaya kau menyadari... bahwa..." sungguh, dia tak sanggup! Rasanya memalukan! Bonney melirik pada empat pemain lainnya seolah meminta keringanan. Tapi bukannya keringanan, melainkan senyum setan dan gerakan alis naik-turun genit yang ia dapatkan. Percuma! Teman-temannya benar-benar bersikap bajingan! "Se-selama ini aku... emm.. i-itu..." keberanian datang. Dia mengangkat kepalanya, menatap wajah Kid yang juga balas menatap, "...A-aku su...su...suka..." sedikit lagi, Bonney! Sedikit lagi! "..Su-suka... pa... PADAMU!"
Kemenangan telah datang! Dia berhasil!
Bonney mengatur napasnya layaknya sehabis berlari, kemudian ia kembali duduk menghadap botol jahanam tanpa menunggu reaksi Kid. Wajahnya merah sekali. Rasanya dia ingin kabur dari sana sekarang juga! Dalam hati, dia menyumpahi semua orang di ruangan itu selain dirinya terkena azab. Ck ck ck.
Kuina, Ace, Sabo dan Marco melirik mereka berdua bergantian. Bonney yang menunduk dengan wajah bak tomat dan Kid yang tersipu malu sambil berdeham-deham tak jelas. Oke, mereka tak bisa menahan senyum genit ala Om-Om cabul untuk muncul.
"Oi, Bonney. Ini 'kan pura-pura. Tapi kenapa pernyataan cinta barusan terkesan pakai perasaan?" insting Madam cinta memang tak bisa dianggap remeh.
"Atau jangan-jangan selama ini kau..." Marco menyahut, memanasi suasana canggung ini.
"Awwwww! Manis sekaliiiii!" ini sih Ace yang penyakit menggodanya kambuh. Sekarang dia bersiul-siul bersama Sabo dan tentunya itu berhasil membuat kepala Bonney meledak. Dasar dua bersaudara abstrak ini.
Bonney mencengkeram kakinya kuat-kuat lalu berteriak gahar, "TUTUP MULUTMU, BANGSAT! SUMPAH, AKU JIJIK MELIHAT KALIAN! DASAR BAJINGAN! MATI SAJA SANA!"
Lalu reaksi mereka? Hanya tertawa terbahak-bahak. Masa bodoh akan pendapat Bonney, 'kan? Permainan sepertinya bakal makin seru!
"OKE, SEMUANYA! RONDE KEDUA DIMULAI!" teriak Kuina mengacungkan tinju ke udara bersemangat jiwa muda.
"WOOOOOO!"
...
...
..
(Korban Pertama: Marco)
.
CERITAKANLAH IMPIANMU YANG TIDAK PERNAH TERWUJUD.
Yup, itulah truth dari gulungan kertas hijau kusut yang diambil Marco. Sebagai korban pertama dari ronde kedua, lagi-lagi dia bersyukur nasibnya masih aman dibandingkan Bonney atau Sabo.
"Impian yang tak terwujud?" Ace mengusap-usap dagu sambil melirik Marco.
"Memang apa impianmu yang tak terwujud itu?" tanya Kid penasaran. Ya, walau dia yakin tak satupun impian Marco terwujud sampai sekarang.
Marco berdeham sok cool, "Baiklah, jadi begini, yoi..." ucapnya memberi intro tak penting, "Sebenarnya aku masih belum menyerah mengejar impianku ini. Tapi dari dulu aku ingin jadi aktor genre romantis aksi selagi aku masih muda. Lalu aku akan jadi aktor terkenal dan debut di hollywood. Aku akan bertemu artis-artis cantik berbody seksi nan bahenol yang tergila-gila padaku. Setelah itu, kukumpulkan pundi-pundi uang sampai segunung hingga jadi aktor terkaya di dunia. Terus, aku akan menikah dengan Emma Watson dan punya tiga anak. Anak pertama kunamai Marcel Watson, anak kedua..." Marco terus menyerocos heboh mengungkapkan impiannya yang memang cuma mimpi.
Lalu reaksi yang lain? Sweatdrop.
Mungkin sebelum permainan ini dimulai, kepala Marco terbentur keras ke beton sampai lupa diri begitu. Jadi aktor terkenal hollywood, ya? Jangankan aktor, wajahnya bahkan tak lulus sensor di bioskop manapun. Terlalu freak sekaligus abstrak, membuat semua pengunjung bioskop lebih memilih pulang begitu melihat wajah bocah itu nongol pertama kali di layar. Well, tapi jika dia memilih jadi tukang es krim kentongan yang cuma dilirik sekilas 2 detik oleh kamera di film sih, ya mungkin bisa.
Untungnya pemikiran Penulis ini juga disetujui oleh kelima lainnya.
"Kebanyakan mimpi bocah ini. Aktor apaan? Wajah macam budak mana mungkin jadi aktor. Sutradaranya pasti buta jika pilih dia," batin Kuina kurang ajar menjatuhkan harga diri Marco ke posisi terbawah.
"Sadar diri, bego. Muka ala tukang sapu jalan malah ingin jadi aktor hollywood. Kalau untuk taraf hellwood mungkin bisa," ini sih penghinaan dalam hati Kid yang tidak berkaca.
"Huh, kalau kau sih lebih cocok jadi tukang gosok sepatu Vin Diesel daripada jadi aktor, idiot," ternyata Ace bukan teman terbaik. Pengkhianatan telah terjadi di dalam hatinya.
"Heran kenapa bocah tukang mimpi ini bisa jadi saudara tertua di antara anak angkat Shirohige. Kebanyakan makan Ajinomoto tampaknya," opini Bonney tidak jauh beda dari Penulis. Memang sehati.
"Tolong ya, Marco. Berkacalah lebih dulu sebelum bermimpi. Siapa juga yang mau menjadikan wajah bak kloset kelindas truk sebagai aktor? Sebagai temanmu, aku malu," otak Sabo makin sakit dikelilingi orang-orang tak beres (termasuk dirinya sendiri).
Mari kita beralih ke korban selanjutnya.
.
(Korban kedua: Monkey D. Ace)
.
SEBUTKAN LIMA SIFAT DARI PACARMU YANG MEMBUATMU JATUH CINTA.
Serius? Lagi? Kenapa dari tadi Ace terus mendapatkan sesuatu yang menggugah jiwa kejombloan abadinya? Sontak dia meneteskan air mata drama sambil melihat ke langit-langit kamar, mencoba mendramatisir keadaan. Tangannya direbahkan pada dadanya layaknya Nenek-Nenek kena asma dadakan.
Sikap alay, lebay dan mengandung unsur-unsur jablaynya itu menjadi pusat perhatian kelima pemain lain. Mereka bingung kenapa Ace mendadak menangis layaknya ditinggal menikah oleh pacar. Apakah obat anti tidak warasnya sudah habis?
Karena penasarana, Kuina melongok sedikit ke arah kertas nista yang masih dipegang Ace. Sweatdroplah dirinya begitu mengetahui apa yang tertulis disana. Raut wajahnya seolah mengatakan 'lagi-lagi, ya?'.
"Maaf, kawan-kawan..." setetes mainly tears akhirnya terjatuh membasahi lantai, "...Sepertinya aku harus lewat lagi."
"Keputusan yang bijak sekali, Ace-san," Kuina bersimpati, menepuk berkali-kali punggung Ace.
Sementara pemain lain cuma bisa melongo tak mengerti.
Ini tak adil. Kenapa dua kali Ace dapat perintah selalu dilewatkan?
"Serius, apa sih yang ditulis disana!?" sahut Sabo menunjuk kertas yang sudah dicampakkan Ace ke sembarang arah (lagi).
"Kenapa dia lewat dua kali berturut-turut!? Kau pilih kasih, badak betina!" kalau ini protes Bonney yang disambut sepatu Kuina tepat di wajah.
Hhhh... pembantaian lagi, huh?
Lanjut!
.
(Korban ketiga: Jewelry Bonney)
.
SEBUTKAN KAPAN TEMAN-TEMANMU MENGKHIANATIMU.
"Aku terlalu sering dibeginikan, jadi aku tak bisa pilih salah satu kapan teman-teman bangsatku mengkhianatiku," ucap Bonney datar melirik mereka berlima setelah terdiam sejenak.
Kalian pasti mengerti, 'kan? Ungkapan Bonney diatas hanya sindiran halus terhadap lima makhluk gaib di hadapannya. Terutama Kuina dan Kid. Berkat kedua orang laknat tersebut, dia terseret ke dalam rencana mak comblang nista ini. Sayang sekali, Bonney. Masalahnya kelima orang itu tidak sadar diri alias memang tak tahu malu untuk menyadari sindiranmu.
"Ya ampun, kasihan sekali dirimu, sobat..." kata Kid sok bersimpati, pasang wajah polos ala anak kecil tanpa dosa. Tak sadarkah dia perbuatan laknatnya selama ini pada Bonney?
"Temanmu ternyata kampret semua, ya," kalau Kuina sudah tak heran. Dia hanya menggelengkan kepala, merasa bisa merasakan penderitaan Bonney akan pengkhianatan.
"Semoga temanmu itu cepat sadar, kawan," Marco memanjatkan do'a kepada Dewa supaya temannya alias dirinya sendiri sadar akan kebusukan hatinya.
Adakah yang bawa palu? Ingin rasanya Bonney menampol wajah mereka satu persatu berkat sikap sok bodoh itu. Berani-beraninya mereka pura-pura merasa tak bersalah! Diam-diam Bonney merencanakan pembantaian berdarah sehabis pertempuran besok. Resmi sudah dia menjadi pembalas dendam, saudara-saudara.
"Terima kasih atas simpati kalian semua. Dan akan jauh lebih bagus kalau kalian berkaca supaya bisa bertemu mereka sesekali." ucap Bonney gondok dengan perempatan merah di wajah.
Kau benar, Bonney. Memang susah punya teman-teman brengsek macam mereka.
Mari kita lanjutkan lagi.
.
(Korban keempat dan kelima: Kuina dan Sabo)
.
"Giliranmu, Kuina," ujar Ace datar.
"Aku tahu!" dengan senang hati bak dapat lotre, Kuina menjulurkan tangannya ke kotak kayu.
Dan sebuah keanehan terjadi. Orang pertama yang menyadarinya adalah Sabo.
"Hm? Kali ini lebih banyak gulungan kertas kuning dan merah di permukaan dibanding hijau..." batinnya sambil terus memerhatikan tangan Kuina yang telah menyentuh gulungan merah. Tapi anehnya, dia tak jadi mengambil gulungan itu dan memilih menyingkirkan kumpulan gulungan di atas supaya mencari gulungan dibawahnya, "Hah? Kenapa harus diacak segala? Bukannya ini soal peruntungan, ya?" firasat Sabo jadi jelek. Dia merasakan ada yang tak beres. Apalagi dirinya sedikit heran pada Kuina yang mengambil sebuah gulungan hijau di akhir.
Sementara Sabo masih bingung, Kuina sudah membuka isi gulungan tersebut kemudian menunjukkannya.
BICARA MENGGUNAKAN SUARA SEKSI SAMPAI GILIRANMU BERIKUTNYA.
"APA-APAAN!?" teriak Kid tak terima dengan perintah tak masuk akal itu.
Bukan hanya Kid, Ace ikut-ikutan bersuara, "SIAPA JUGA YANG MAU MENDENGAR SUARA MAMMOTH BETINA INI BERSUARA SEKSI?!"
Tunggu!
Kecurigaan mulai timbul ke permukaan. Sabo melototi Kuina yang senyum-senyum walau yang lain menunjuknya tidak senonoh. Benar, saat ini Sabo sudah masuk mode detektif kurang kerjaan.
"Oi oi oi, tunggu dulu. Apa-apaan itu? Kenapa dia mengambil gulungan yang di dasar kotak daripada di permukaan? Itu 'kan seharusnya tidak perlu!" otak Sabo yang jarang digunakan kembali berjalan memikirkan segala kemungkinan alasan dibalik tingkah aneh Kuina.
Namun sebuah petunjuk datang dari semburan Bonney.
"HOI, SADAKO GUA BATU! KENAPA KAU SELALU DAPAT YANG MUDAH, HAH?!"
"Itu karena dewi fortuna berpihak padaku, sayang~!" balas Kuina menggunakan suara dibuat seksi sambil mengedipkan mata segala.
Ah.
Itu dia!
"Jangan-jangan-!" Sabo langsung menoleh cepat ke arah kotak kayu. Dia sudah mendapatkan jawabannya!
Ya, jawabannya adalah...
Intensitas warna!
"Aku mengerti sekarang, Kuina!" Sabo melirik Kuina dengan jengkel, "Dasar cewek haram itu! Gulungan warna hijau, kuning, dan merah melambangkan perintah di baliknya! Hijau artinya mudah, kuning artinya sedang, dan merah artinya sulit! Beraninya si bajingan itu menyembunyikan hal ini dari kami!" ooooh, begitu rupanya, huh? Benar-benar trik yang cerdas, Kuina. Jadi ini kejutan sebenarnya, ya?
Seperti analisis Sabo, Kuina memang sengaja membuat perintah truth or dare di kertas bewarna berbeda sebagai penanda. Makanya dari tadi Mak Lampir itu terus mendapatkan perintah mudah. Licik sekali. Ya, memang sudah sifatnya.
Namun ada pahlawan Sabo yang akan menghentikan itu semua! "Aku harus katakan kelicikan kadal laut itu pada yang lain!"
...
..
Benarkah? Karena setan telah berbisik pada anak kedua Dragon itu.
"...Tentu saja... setelah permainan ini selesai..." sudah penulis duga. Ternyata bocah ini tak jauh beda dari Madam cinta, ck ck ck.
Dasar pengkhianat.
"Oi, Sabo. Kau selanjutnya, tuh!" ucap Marco menunjuk botol yang sudah dia putar dari tadi telah berhenti tepat mengarah Sabo.
Ohoho, ternyata saatnya telah tiba. Ini waktunya menunjukkan pada Kuina kalau dia tak bisa dibodohi, "Oke!" balasnya bersemangat.
Kau mengerti 'kan, Sabo? Apa yang harus kau lakukan?
"Sip! Pokoknya jangan ambil kertas merah! Ambil saja kertas hijau!" sangat cerdas, nak. Dia pun segera menyingkirkan kertas merah dan kuning, mengobrak-abrik seisi kotak kayu kemudian mengambil kertas hijau.
Tindakannya barusan langsung disadari Kuina. Cewek licik ini mendecih. Dia tak menyangka Sabo bisa sadar juga. Padahal sudah dia tutupi sedemikian rupa, "Brengsek! Dia sadar akan trikku!"
Saat ini di dalam hatinya, Sabo sedang tertawa setan bisa juga mempermainkan Kuina. Dia takkan membiarkan dirinya dipermainkan juga di dalam permainan konyol ini.
"Hahaha! Ayo, bawa sini! Pijat, suara seksi, pose seksi ala model, apapun itu! Siap kulakukan!"
Sayang sekali, nak Sabo. Takdir berkata lain.
Seperti apa yang dikatakan Kuina, dewi fortuna memang hanya memihak dirinya hari ini.
AMBIL GULUNGAN MERAH.
"..."
Hening sesaat.
APA-APAAN INIIIIIII!? PADAHAL SABO SUDAH SUSAH PAYAH MENGANALISIS SEKALIGUS MENGHINDAR! TAPI KENAPAAAAA!?
Spontan Sabo langsung menarik kerah pakaian Kuina, mendekati wajah cewek sialan itu dengan wajah tersakiti, ternodai, terlukai serta deskripsi lebay lainnya, "Bajingan kau, Kuina! Akan kubunuh kau setelah ini!"
"Hah? Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan," balas Kuina masa bodoh. Meski dia menahan tawa mati-matian melihat nasib apes Sabo.
Disisi lain, keempat pemain lain hanya menatap mereka dengan wajah bingung. Mereka tak mengerti apa yang dibicarakan kedua sahabat sejak kecil itu. Alasan kenapa Sabo marah dan alasan Kuina malah tersenyum ejek.
Apa boleh buat, Sabo pun terpaksa mengambil gulungan merah sesuai perintah di gulungan hijau kampret itu. Tapi jangan salah, karena dalam hati dia terus berharap perintah yang tertulis bukan aneh-aneh.
"Kumohon, Kami-sama! Apapun asalkan bukan percintaan! Apapun asal bukan percintaan! APAPUN ASAL BUKAN PERCINTAAAAANN!" jantung makin berdebar layaknya maraton selagi membuka gulungan.
Dan apakah tulisannya?
...
..
PURA-PURA LAMAR TETANGGAMU.
Pupus sudah.
Masa depannya telah terenggut habis.
"GYAAAAAAAAAAAA!" beginilah teriakan putus asa Sabo sambil memukuli lantai persis bocah tak dibelikan permen, ck ck ck.
Selagi dia menggila, kelima pemain lainnya saling menatap satu sama lain. Mereka bengong sesaat. Ya, karena kemudian mereka bergantian melirik Sabo. Senyum iblis dan mata merah terpancar jelas dari wajah mereka. Uh-oh.
Akhirnya ada juga yang akan berakhir nista.
"Saboooo~~~,"
Sabo langsung bergidik ngeri. Otomatis dia lari menjauh, berdiri bersandar pada dinding sambil menggeleng ketakutan. Sungguh, sampai matipun dia tak mau! "TIDAK! TIDAK MAU! BUNUH SAJA AKU DARIPADA MELAKUKAN HAL BODOH INI!" teriaknya dengan perut gonjang-ganjing akibat membayangkan aksi lamaran pada tetangga.
Suara hati Sabo digubris. Para setan itu justru tak mau tahu. Peraturan tetap peraturan, harus dilakukan, "Oooohh~~, tidak bisaaaaa~~," perlahan namun pasti, kelima iblis berwujud manusia itu berjalan mendekati Sabo, mengulurkan kedua tangan mereka.
Mari kita berdo'a atas keselamatan Sabo setelah ini, para pembaca.
"Tidak..." kaki Sabo bergetar hebat melihat mereka makin mendekat, "..Tidak, jangan!" mereka pun semakin mendekat, mendekat, mendekat! Tidak ada jalan untuk kembali! Pasrah akan nasib.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!"
...
...
...
Jadi kemanakah Sabo diseret?
Baiklah, ini bukan pertanyaan Dora the explorer yang menanyakan sebuah lokasi, padahal lokasi itu tepat di depan jidatnya. Saat ini, Sabo diseret bak karung beras alias kaki ditarik sementara badan terseret di tanah menuju sebuah rumah yang berjarak 100 meter dari kediaman Monkey. Rumah itu dapat dicapai setelah melewati dua rumah tetangga.
Sebuah rumah bertembok biru muda dikelilingi pagar. Halamannya dihiasi berbagai macam bunga mawar. Katakan saja asri. Entah siapa pemilik rumah itu, tapi pemilik rumah itu akan jadi target lamaran palsu anak kedua dari Monkey bersaudara.
Hmm, mencurigakan. Bukannya ada rumah tetangga yang mereka lewati? Tapi kenapa harus rumah ini?
"Oh ya, Ace. Omong-omong ini rumah siapa?" tanya Kid menatap lurus pagar rumah biru itu.
Ace tersenyum tipis, "Oh, kau akan terkejut melihat pemiliknya. Tenanglah, dia masih single. Jadi walaupun Sabo melamarnya, takkan ada yang cemburu." begitu, ya? Dua rumah sebelumnya dihuni suami-istri, makanya tak bisa jadi target. Bisa bahaya 'kan jika Sabo melamar istri orang tepat di hadapan sang suami? Bisa-bisa dia dijadikan perkedel.
"Tidak mau! Kumohon, huwaaaaangg! Jangan bunuh aku, teman-teman!" bocah ini masih meronta-ronta minta lepas layaknya lutung barbar.
"Siapa yang mau membunuhmu, sih? Tenagamu masih kubutuhkan untuk perang besok!" sembur Marco sewot Sabo dari tadi berisik saja. Karena berkat dia, mereka jadi pusat perhatian.
Ya, wajar saja, 'kan? Bagaimana tidak jadi pusat perhatian kalau kalian menyeret anak Dragon dengan cara tidak etis begitu?
Sabo terus melancarkan demonstrasi, "Kalian menyuruhku melamar wanita terkutuk di rumah terkutuk ini! Itu sama saja dengan membunuhku!"
"Tak usah berlebihan, Sabo. Sudah, sana masuk! Lamar dia! Cuma pura-pura, 'kan?" ujar Bonney santai bak di pantai.
"Walaupun pura-pura, aku lebih baik makan mie lewat hidungku daripada melakukan ini!" sampai segitunya, huh?
Kuina lama-lama gerah juga. Telinganya sakit mendengar rewelan Sabo persis bocah TK, "Bawel juga bocah ini! Tendang dia, Marco-san!" perintah sang Madam brutal tanpa perasaan.
"Siap!"
DUAKKKK!
Tendangan ala kapten Tsubasa dipraktikkan terhadap bokong Monkey D. Sabo sehingga cowok itu mencelat melewati pagar.
"UWAAAAAA!" Sabo teriak histeris begitu melihat tanah sebentar lagi akan bertemu dengan wajahnya.
BRUAAGHH!
"WADAAW!"
Benar-benar sadis. Wajah Sabo mendam di tanah dalam posisi tidak elit. Singkatnya bocah itu telungkup nyaris sekarat di halaman rumah orang, ck ck ck.
Sayang sekali. Berkat dentuman keras barusan, suaranya berhasil membangunkan pemilik rumah yang hampir tertidur. Wajar, 'kan? Sekarang sudah hampir jam 11 malam. Seorang wanita yang awalnya berbaring di kasurnya langsung merutuk kesal. Mengeluarkan gumaman makian terhadap siapapun yang barusan mengganggu tidurnya itu. Dia pun melangkah layaknya preman menuju pintu rumah, siap menghajar sang pelaku.
Kuina, Ace, Kid, Marco dan Bonney tiba-tiba mendengar suara gagang pintu dari rumah biru tersebut. Itu pertanda pemiliknya keluar! Buru-buru mereka bersembunyi di balik semak-semak di depan pagar sambil mengintip. Ya, mereka penasaran akan lamaran Sabo.
"Ck, siapa itu diluar!? Berisik sekali!" teriak wanita berambut oranye keriting dengan gahar. Matanya celingukan mencari siapa si dalang hingga kemudian pandangannya menangkap seorang bocah terkapar di halamannya, "Hm? Sabo?" oh, rupanya dia mengenali Sabo! Siapa wanita ini? "Apa yang kau lakukan disini!?" tanyanya judes, melangkah mendekati Sabo lalu menarik badannya keluar dari lubang tanah.
Hei...
Wanita berambut oranye keriting? Kedengaran tidak asing. Dan sepertinya keempat orang pengintip selain Ace juga mengenalnya. Lihat saja wajah melongo bak wajah keledai mereka. Mengundang banyak lalat hinggap di mulut kuda nil itu.
"Hah!? Uso! Jadi tetangga wanita yang kau maksud itu... DADAN!?" hah? Apa kata Bonney barusan?
Dadan, katanya?!
Jadi target lamaran palsu truth or dare kamvret itu adalah penjaga kantin paling barbar se-Tokyo!?
"Hehehe, wanita single, 'kan?" kau benar, Ace. Dadan memang single berkat keganasannya yang tak berhasil mengundang pria manapun. Tapi haruskah dia?
Sekarang Marco mengerti apa maksud Sabo tadi. Dia pun cuma bisa tertawa hambar, "Pantas saja bocah itu bilang kita akan membunuhnya,"
"Aku jadi penasaran bagaimana Sabo melamar wanita nyaris 50 tahunan itu, hehehe..." bukannya prihatin, Kid penasaran dan sekarang malah main tebak-tebakan apakah Sabo berhasil melamar atau tidak bersama Bonney.
.
Mari kita kembali ke TKP.
...
..
"Jadi, apa yang kau lakukan disini, bocah tengik? Kau mau merusuh di rumahku seperti dua saudaramu itu?!" Dadan sudah mengambil pentungan entah dari mana, siap-siap menabok Sabo. Maklum, pengalamannya selalu buruk kalau terlibat dengan Monkey bersaudara. Dia masih ingat betul ketika dirinya menjadi target tampolan Garp walau cucunya sendiri yang cari masalah.
Gawat! Mana mungkin Sabo membiarkan wajahnya babak belur sebelum pertarungan di gym besok, "Eeeeeeh, tunggu dulu, Dadan! Jangan salah paham dulu!" tahan Sabo mengacungkan telapak tangannya pada Dadan.
"Bagaimana aku tidak salah paham kalau kerja kalian bersaudara hanyalah merusak halamanku!? Kalau bukan karena aku takut pada Kakekmu, aku sudah mematahkan tulang kalian!" wah, dia masih dendam pada masa lalu rupanya, "Katakan tujuanmu, sialan!" kesabaran Dadan nyaris habis.
"Eh, i-itu..." Sabo melirik kelima orang sialan yang telah menjebaknya dalam situasi ini. Namun apa yang dia dapat? Tak ada pertolongan selain senyum-senyum genit nan jahanam penuh nafsu. Sial, kalau begini mau tak mau dia harus berjuang sendiri, "Emm...anuu..."
"CEPAT BILANG!"
"HA-HA'IIII!" inilah kenapa dia bilang lebih baik makan mie lewat hidung. Masa' dia harus melamar macan garong? Sekalipun pura-pura, ia tak rela! Padahal rangkaian ungkapan lamaran sudah dia siapkan sejak dulu demi tipe wanitanya. Takdir sedang bermain-main padanya karena harus melepas ungkapan itu cuma untuk seorang Dadan.
"Emm, Dadan... sebenarnya.." sumpah, Sabo mati-matian menahan perasaan boker ini karena terus dipelototi bak genderuwo. Tapi dia harus melakukan ini! Melakukan perintah nista ini!
Karena itu dia berdiri tegak di hadapan Dadan, menatapnya penuh jijik. Yup, jijik. Mengingat dia sedang melamar Emak-Emak usia 55 tahun.
"...Aku... mencintaimu selama ini..."
"..."
Dadan bengong.
What a awkward moment. Hanya terdengar suara jangkrik bersahutan. Sedangkan para pengintip menahan rasa histeris mereka mendengar Sabo berhasil mengucapkan kata-kata tabu. Memang sekelompok teman kurang ajar.
Lupakan mereka. Mari kita fokus saja pada reaksi Dadan.
"...Hah?" hanya ini yang keluar dari mulut wanita 55 tahun itu.
"Karena itu..." oh, tidak. Makin diperparah, saudara-saudara. Sabo malah berlutut sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Dadan dan berkata, "Maukah kau menikah... denganku?"
Oke, kali ini Dadan tak menyembunyikan perasaan shocknya.
Apa-apaan?! Yang benar saja!
Dia dilamar bocah yang bisa dikatakan lebih pantas disebut anaknya daripada suaminya? Dan di larut malam begini?
Kretek-kretek.
Uh-oh. Sabo langsung bergidik ngeri melihat Dadan sekarang sedang membunyikan jemarinya. Pertanda buruk!
Dadan tersenyum setan serta mengeluarkan aura-aura busuk dari tubuhnya, "Di malam hari nyaris tengah malam begini, kau malah mengusik waktuku hanya untuk omong kosong begini?" yak, tinju siap dilayangkan. Dadan mengambil ancang-ancang, "Persiapkan nyawamu, bocah,"
"Eh, Dadan? Apa yang—"
"MATILAH KAU KE NERAKA, BOCAH BAJINGAAAAAANN!"
"GYAAAAAAAAAAA!"
BUAKKK! BSYUUUUUUNGG!
TRIIINGG!
Ketiga suara diatas dapat diterjemahkan sebagai berikut; Pertama, suara tinju sakti Dadan berkekuatan 1000 ekor kuda memukul telak pipi Sabo. Kedua, efek suara Sabo mencelat terbang dari halaman rumah Dadan. Terakhir, efek suara Sabo menghilang ditelan langit malam.
Benar-benar akhir yang tragis.
Lalu bagaimana reaksi kelima lainnya?
"Hahahahaha! Kasihan sekali anak itu!" Ace justru tertawa laknat melihat nasib buruk Sabo. Sungguh Kakak yang tak patut ditiru.
Bonney pun menoleh sweatdrop padanya, "Oi, begitu-begitu dia Adikmu, 'kan? Dasar Kakak kurang ajar,"
"Jadi, kita lanjutkan lagi permainan kita?" tanya Kuina malah mengkhawatirkan nasib permainan dibandingkan Sabo yang tak jelas masih hidup atau tidak.
"Lebih baik kita tunda dulu, Kuina. Kita harus mencari mayat Sabo. Kita tak tahu dia mendarat dimana," sergah Kid tidak sopan.
Sabo belum mati, tahu! Dia masih muncul di fanfic Penulis!
"Benar juga. Repot kalau polisi sampai terlibat," jiah, Kuina malah meyakini Sabo sudah jadi mayat berkat tabokan Dadan, "Ya sudah, ayo cari!" ujarnya bernada perintah.
Kuina pun melangkah pergi dari rumah Dadan yang sudah kembali masuk ke rumah. Kemudian, para anggota mengikutinya dari belakang demi dimulainya misi pencarian Sabo. Ya, soalnya bisa repot jika bala bantuan berkurang satu. Karena begitu-begitu, Sabo juga kuat lho.
Meski begitu, Bonney tetap khawatir pada keadaan Sabo. Pikirannya makin gaje sejak ketua tak bergunanya itu mengatakan Marco sudah mati, "Hei, omong-omong, Sabo pasti masih hidup, 'kan?" tanyanya was-was entah pada siapa.
"Entahlah, semoga saja, yoi..." jawab Marco angkat bahu seolah tak begitu memikirkan.
Namun tidak ada yang tahu isi hati Marco di antara mereka setelah tragedi barusan. Menyaksikan kebarbaran seorang wanita tua terhadap bocah yang polos karena dijebak permainan Madam cinta. Dalam hati, Marco bersyukur dirinya tidak di posisi Sabo. Mungkin dia memang bakal mati kalau itu sampai terjadi.
"Aku bersumpah takkan mau mengikuti permainan nista ini lagi! Amit-amit!" beginilah dia mengucapkan sumpah dalam hati. Ck ck ck.
.
.
TAMAT
.
.
Author's note: Ya ampun, akhir yang benar-benar nista. Silahkan tinggalkan kesan, kritik dan saran anda demi fanfic Penulis mendatang. Sampai jumpa!
THANKS A LOT, MINNA-SAN!
