Pingin banget nyoba buat HP!au.

Saking niatnya, sekali duduk kelar deh satu cerita pendek oneshoot.


.

Title: Curse Don't Break Around Christmas

Pairing: Chanyeol x Baekhyun [chanbaek]

Rating: Mature [m] demi keamanan bersama

Disclaimer: Every charas are not mine. Harry Potter's world too belong to JK Rowling and I deeply apologize cuz I decided to mess up with them.

Selamat membaca!

.


.

"Bekerjalah sesuai nama yang dituliskan di papan tulis,"

Bersamaan dengan jentikan tongkat, nama-nama dengan tulisan yang terukir indah muncul dari papan tulis di depan kelas. Baekhyun menatapnya dengan suram. Coba lihat nama-nama itu. Mengapa Gryffindor harus sekelas bersama anak Slytherin pada kelas ramuan? Dan mengapa pula mereka dipasangkan satu sama lain? Apakah profesor Slughorn di hadapannya ini ingin menciptakan perdamaian dunia? Memperoleh trofi muggle—yang Baekhyun pelajari tempo hari—bernama Nobel? Memilih tim sendiri seharusnya jadi opsi yang lebh strategis.

Beberapa siswa memiliki kuantitas keengganan yang sama besarnya seperti Baekhyun. Meskipun begitu, mereka mulai bergeser menemukan pasangan mereka masing-masing. Moonbyul akan berpasangan dengan Baro—ini masih lumayan, lelaki itu cukup kooperatif dan merupakan prefek sejak tahun lalu. Baekhyun sudah beberapa kali patroli malam bersama dengannya. Luhan akan membuat ramuan bersama Sehun—malang sekali, sepertinya sesuatu akan terjadi karena baru kemarin Sehun mendapatkan detensi dari Luhan. Semoga tuhan memberkati.

Kemudian di deret ketiga, tertera nama Byun Baekhyun, dan semaksimal apapun dirinya menatap nama pasangan di hadapannya, tetap saja itu tidak berubah.

"Tidakkah kau terlalu pemalas untuk orang yang punya hobi sok-sokan menyelematkan dunia?"

Itu dia. Itu dia. Sebuah kalimat perkenalan yang apik dan tajam. Prospek kerja kelompoknya tidak kelihatan baik sama sekali, bahkan sejak awal. Dan tentu saja, tidak perlu mengambil kelas ramalan untuk memprediksi hal ini.

"Oh, enyahlah, Park Chanyeol."

"Percayalah, itu juga keinginanku kalau pasanganku adalah perjaka tua macam kau."

Baekhyun mendengus keras-keras. Park Chanyeol berulah seperti biasa. Tarik napas dalam-dalam, keluarkan. Sudah enam tahun, seharusnya ia mulai terbiasa dengan hawa permusuhan ini. Permusuhan antara prefek Gryffindor dan Kapten Quidditch Slytherin ini cukup melegenda, terutama setelah tahun kelima. Kekalahan Chanyeol yang membuatnya memperoleh peringkat dua di ujian OWL menjadi stimulan tambahan. Seperti minyak yang terus menerus diguyurkan ke bara api.

Kuali mulai bermunculan di hadapan mereka, sementara nama yang tertera di papan tulis berganti menjadi 'Ramuan Penua'. Indikasi bahwa sudah saatnya mereka bekerja selama satu setengah jam ke depan.

"Aduk perlahan—perlahan saja, bodoh. Tanganmu dikejar hantu atau bagaimana?" hardik Baekhyun jengkel.

Yang diingatkan hanya menatap muram kuali di hadapannya, mencoba melambatkan tempo putaran. Wajah Chanyeol terlihat benci karena ia harus patuh pada si seratus-tujuh-puluh-lima-senti Byun Baekhyun. Apa guna tinggi badan gigantis, otak cemerlang, wajah rupawan, dan tubuh berotot kalau ujung-ujungnya harus takluk pada lelaki pendek dan cerewet?

"Aku akan memasukkan tiga ekor Knarl. Berhentilah mengaduk hingga lima detik."

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

"Hei, itu belum lima detik!"

"Sudah, bodoh. Kau pikir aku idiot?"

"Kau pikir kau jenius, padahal menghitung sampai lima saja tidak bisa?"

"Itu sudah lima detik, cerewet. Aku mengaduknya di detik kelima. Kau hobi cari masalah ya?"

Mengabaikan kalimat ofensif Chanyeol, Baekhyun menggigit bibirnya dan menatap kuali tersebut dengan pandangan khawatir. Ia menoleh bergantian antara buku dan kuali, berharap ada langkah kontra yang dapat ditempuh apabila ramuan mereka gagal di tengah jalan.

"Kemarikan pengaduknya, biar aku saja."

Chanyeol memberikan pengaduk itu dengan wajah bersungut-sungut. Ia menggerutu pelan yang sayangnya tidak dapat didengar sepenuhnya oleh Baekhyun—ada kata 'persetan', 'mentang-mentang', dan 'menang' dalam rutukan tersebut. Ia mengabaikannya, meskipun tentu saja berbahagia karena Chanyeol nestapa.

"Siapkan saja bahan-bahannya," ujar Baekhyun, tentu saja tidak mengizinkan si Kapten Quidditch untuk menganggur dan hanya menikmati hasilnya saja.

"Kau pikir apa yang kulakukan? Mengerami bezoar?"

Lima senti rambut unicorn dimasukkan oleh Chanyeol. Si prefek Gryffindor harus menahan diri untuk tidak curiga apakah itu betulan lima senti atau tidak. Mungkin saja ada kesalahan pengukuran sehingga perhitungan itu tidak valid. Bagaimana kalau panjangnya hanya empat koma sembilan senti?

Suara dalam dan tajam lelaki di sampingnya membuat pikiran khawatirnya terhenti. "Aku tidak mendapati manfaat dari ramuan ini. Ngapain pula harus repot-repot membuatnya."

Baekhyun menghela napas dalam. "Aku juga tidak mendapati manfaat kau hidup di dunia ini. Ngapain pula harus petantang-petenteng di kastil sepanjang hari."

"Hei, aku tidak petantang-petenteng di kastil."

Adu mulut itu terus terjadi di sisa waktu. Mereka telah mengembangkan semacam kemampuan gemilang untuk dapat meladeni debat kusir satu sama lain sekaligus tetap fokus pada ramuan di waktu yang bersamaan. Melihat betapa besar distraktor yang ada, pekerjaan Baekhyun dan Chanyeol dapat dikatakan baik—atau malah justru sempurna. Seperti yang tertera di buku, ramuan tersebut seharusnya berwarna biru safir cemerlang dan mengeluarkan sedikit asap.

Hebatnya, seperti itulah bentuk ramuan mereka sekarang.

Si prefek Gryffindor sepertinya harus bersyukur karena lelaki Slytherin yang biasanya memiliki intrik dan kelicikan tingkat tinggi kali ini tidak merencanakan apapun. Terlepas dari segala rutukan dan makian, Chanyeol adalah rekan yang efisien—tentu saja, ia peringkat dua seangkatan. Mereka berdua sama-sama mengagungkan nilai seperti pangeran kegelapan mengagungkan darah murni. Dengan tujuan yang sama, kerja mereka begitu profesional dan terarah.

Pertemuan terakhir sebelum natal resmi berakhir, dengan Baekhyun dan Chanyeol memperoleh aplaus dari seisi kelas karena berhasil memproduksi ramuan penua terbaik. Tidak ada hadiah khusus kali ini, dan Baekhyun sama sekali tidak keberatan. Liburan natal sudah lebih dari cukup untuknya. Mungkin ia akan ke Hogsmeade bersama Luhan dan Jongdae, minum wiski api atau butterbeer sebelum mampir ke toko Zonko untuk melihat kejahilan apa yang bisa mereka adaptasi sampai setengah tahun ke depan.

Oh, betapa menyenangkannya.

"Aku tahu kau merasa senang bekerja denganku, jadi sama-sama."

Tentu saja, Chanyeol tidak akan membiarkannya bahagia sedikitpun hingga di detik terakhir. Baekhyun berusaha untuk tidak senewen mendengarnya.

"Aku akan menyimpan tenagaku dan pura-pura tidak mendengar itu."

"Simpan tenagamu untuk apa? Memangnya ada yang menunggumu di atas ranjang?" Hinaan lama kembali diungkit. "Kau 'kan masih perjaka hingga detik ini."

Baekhyun tidak menggubris sama sekali. Ia mengumpat dalam hati karena sahabatnya sudah meninggalkannya terlebih dahulu keluar ruangan. Berusaha keras untuk tetap terlihat tenang, ia mengumpulkan buku dan lembaran kertas yang berceceran kemudian berusaha secepat kilat untuk enyah dari ruangan. Ia tidak mau merusak suasana natal yang bahagia.

"Berusahalah sedikit, usiamu sudah delapan belas. Mungkin bisa dimulai dari belajar mencium tembok."

Langkah kaki dipercepat. Kali ini bukan hanya sahabatnya yang menjadi sasaran umpatan, tapi juga kakinya. Sial sekali, kenapa mereka pendek dan sedikit malfungsi dalam kondisi seperti ini? Lelaki di belakangnya dapat dengan mudah mengejar dan menyamakan langkah mereka.

Chanyeol masih belum berhenti memanas-manasi. "Coba lihat natal tahun ini, semua salju dan dekorasi hebat yang sudah disediakan. Kau harusnya merasa cukup bodoh hanya menghabiskannya dengan teman-temanmu yang sok itu—"

Di tengah koridor, mendadak Baekhyun berhenti. Park Chanyeol yang mengekor di belakangnya mengikuti dengan tatapan waspada.

"Apa?"

"Sialan. Dari semua orang, kenapa harus kau?"

Mendesah, prefek Gryffindor menatap langit-langit dan melihat ranting mistletoe merambat dengan perlahan, seolah-olah berusaha menggoda siapapun yang cukup sial atau beruntung di bawah mereka. Alami atau jebakan, Baekhyun sendiri tidak tahu. Sejak natal tahun lalu, sudah banyak sekali murid-murid yang iseng dengan mistletoe, berharap bisa berciuman dengan orang mereka taksir. Setahu Baekhyun, Chanyeol menjadi korban banyak wanita tahun lalu. Cowok itu terpaksa mencium banyak wanita—oh, seperti ia tidak keberatan saja sih.

"Kau yang menjebakku, ya?" tuduh Chanyeol. Wajahnya kompleks dan ia tidak dapat mengatakan apakah itu dipenuhi dengan rasa benci atau tidak.

"Kau kehilangan ingatan? Perlu kuingatkan aku siapa?" balas Baekhyun.

Guratan di wajah Chanyeol terlihat enggan. Ia menggerutu panjang, tidak memahami mengapa harus mereka berdua dari semua murid yang ada. Sementara ia berpikir, sulur mistletoe semakin menjalar turun, kini mulai menyentuh dan membelai rambutnya sebelum sulur itu mengikatnya dengan perlahan, kemudian semakin mengencang. Chanyeol mendesah.

"Ayo cepat selesaikan ini."

Sebelum sempat membuat kontra-argumen, wajah legendaris yang menjadi idaman setengah populasi di Hogwarts itu sudah mendekat—terlalu dekat, menghampiri Baekhyun dan dua bibir itu bertemu. Lelaki Gryffindor itu menanti Chanyeol untuk melepaskan ciuman mereka dalam sekejap, tapi sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Barangkali ego dan superioritas telah mendominasi lelaki itu, seakan-akan menunjukkan bahwa pada satu titik, Chanyeol lebih baik dari Baekhyun. Persetan dengan nilai. Persetan dengan favoritisme profesor. Persetan dengan status yang mereka bentuk selama enam tahun bersekolah.

Dan seperti debat kusir yang telah terjadi sejak bertahun-tahun lamanya, Baekhyun memutuskan untuk tidak mundur. Ia adalah seorang pemberani, petarung ulung, dan penakut tidak ada dalam keturunan genetikanya.

Sebuah ciuman yang seederhana berubah menjadi sesuatu yang dalam. Panas. Penuh tuntutan. Waktu menjadi sesuatu yang fana karena eksistensi yang melingkari mereka hanyalah bara api yang saling mereka tukarkan lewat pertautan tersebut. Baekhyun adalah pembelajar yang hebat, dan Chanyeol adalah guru yang hebat. Mereka berdua begitu intuitif atas testosteron yang menguasai otak mereka yang berkabut.

Ciuman itu baru berakhir ketika Baekhyun merasakan sesuatu yang dingin menjalar dan bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya. Entah sejak kapan, tangan Kapten Slytherin itu sudah bergerilya seenak jidat menginvasi tubuh Baekhyun yang dilindungi oleh kemeja dan sweater. Ia menarik diri dengan tatapan waspada. Mulut dan hidungnya saling berkejaran mencari udara yang hilang.

Wajah Chanyeol sebelas dua belas dengan Baekhyun, sama kacaunya. Bibir cowok atletis itu begitu merah merona dan sedikit bengkak, membuat Baekhyun harus menundukkan kepalanya untuk menghindari respon aneh tubuhnya yang mulai merasakan adiksi dengan kegiatan mereka barusan.

"Sialan," akhirnya lelaki Slytherin yang mengakhiri keheningan mereka. Suaranya dalam dan berat. "Sudah berapa banyak orang yang kau tiduri?"

Baekhyun menyeringai. Oh, andai dia tahu. "Selamat natal, Park Chanyeol. Kuharap liburan ini membuatmu kreatif. Carilah ejekan yang lebih faktual tentangku."

Satu lagi saja. Baekhyun kembali menyapu bibir Chanyeol sesaat sebelum melangkah pergi bersama kakinya. Telinganya waspada—dan ia tidak mendengar ada langkah apapun yang mengikuti. Sepertinya dua kaki Chanyeol terpaku di tanah. Wajah itu menunjukkan kompleksitas antara terkejut, frustasi, dan…ingin. Kombinasi itu begitu berharga, dan Baekhyun yakin ia akan terus mengingatnya sampai mereka lulus kelak.

Baekhyun benar-benar beranjak pergi, dengan sebuah fakta menggembirakan bahwa kembali memenangkan pertarungan.

.


The End


.

Ini apa ini apa banget huhuhu :(

Oiya betewe banget, ramuan penua emang ada tapi bahannya ngarang semua wkwk. Aku cari nggak ada soalnya. Uggghhhhh dan juga, apakah ini sudah cukup masuk rated M? Muehuehue karena sempet kepikiran untuk dimasukin ke T, tapi kok... gitu.

Anyway, terima kasih sudah menyempatkan membaca!