Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma pinjam sebentar.

Warning : OOC, bahasa campuran, setting AU, typo, dan sebagainya

.

.

.

.

.

BRAAKKK!!!

Lelaki bersurai hitam yang sedang berpatroli itu menengokkan kepala. Kedua matanya menatap tajam keadaan sekelilingnya. Tak berapa lama ia berlari menuju ke hutan, tempat sumber suara tadi berasal.

Terlihat sebatang dahan besar di atas tanah bersalju, menimpa punggung seorang gadis yang tengah tersungkur.

"Tolong ... aku ... " rintihnya.

Sang lelaki segera mengangkat dahan itu dan membantu sang gadis bangkit. Betapa mengejutkan ketika lelaki itu mengetahui bahwa gadis yang baru saja ditolongnya memiliki dua sayap lebar berwarna putih yang menempel di punggungnya, hanya saja sayap kirinya patah. Sang gadis mendongak menatap penolongnya, bibirnya tertarik membentuk senyuman sedangkan kedua kelopak matanya perlahan-lahan menutup.

Hal terakhir yang diingatnya adalah sepasang mata onyx yang menatapnya dengan tatapan terkejut, heran, dan khawatir.

.

.

.

.

.

daifukuwmochi presents:

Malaikat Musim Semi

A Sasusaku Fanfiction

.

.

.

.

.

"Dimana ... aku?"

Gadis berambut merah muda itu terbaring di atas tempat tidur. Ia mencoba bangkit dari posisinya, tetapi gagal mengingat tubuhnya yang masih lemah.

"Kau sudah bangun?"

Seorang lelaki bersurai hitam membantu gadis itu bangkit, memposisikan gadis itu duduk menyandar pada sisi kepala ranjang. Kedua mata onyx sang lelaki mengingatkan si gadis pada kejadian malam itu, saat dimana tubuhnya tertimpa dahan dan mengakibatkan sayap kirinya patah.

"Sayapku!" teriak gadis itu. Ia menolehkan kepala, menatap punggungnya yang kini hanya terdapat sayap sebelah kanannya saja. Raut mukanya sedih, memikirkan bagaimana caranya pulang jika ia hanya memiliki satu sayap.

"Sayap kirimu," ujar si lelaki sambil mengacungkan jarinya ke arah meja. Di atasnya terdapat sayap lebar berwarna putih yang agak kotor terkena dahan yang menimpanya malam itu.

Gadis bermata emerald itu menyunggingkan senyum. "Terima kasih atas kebaikan hatimu yang telah menolongku," ucapnya tulus.

Lelaki itu menatapnya datar. "Siapa kau sebenarnya? Dan mengapa kau bisa berada di hutan tadi malam?"

"Ah, maaf atas kelancanganku. Namaku Sakura, aku adalah malaikat penjaga hutan. Sebenarnya aku biasa turun ke bumi saat musim semi untuk menumbuhkan daun-daun pada pohon, tetapi karena penasaran, kali ini aku mencoba turun saat musim dingin ... " gadis itu menundukkan kepala " ... kekuatanku melemah saat musim dingin, sehingga aku tidak bisa menghindari dahan yang jatuh itu."

Lelaki itu agak berjengit kaget. Bagaimana tidak, seumur hidupnya ia baru menemui hal ajaib seperti ini. Malaikat katanya? Jika ia anak kecil mungkin saja ia percaya dibodohi hal-hal seperti ini. Namun jika gadis di hadapannya ini berbohong, bukti di hadapannya terlalu kuat. Sayap itu nyata, bahkan bekas patahan sayap yang ada di punggung gadis itu juga nyata—ia melihatnya sendiri semalam.

Merasakan lelaki di hadapannya bimbang antara percaya atau tidak, gadis dengan tanda belah ketupat di dahinya itu bergerak menuruni ranjang. "Mungkin ini bisa membuatmu sedikit mempercayaiku," ucapnya sambil tersenyum. Telapak tangannya mengarah pada kaktus yang ditanam dalam pot di atas nakas. Cahaya berwarna hijau keluar dari telapak tangan si gadis, dan dalam beberapa detik, di pucuk kaktus itu muncul bunga kecil berwarna merah.

"Kekuatanku sedang tidak penuh, jadi hanya ini bunga yang dapat kubuat," lirihnya. "Tapi saat musim dingin berakhir, aku bisa menumbuhkan daun-daun dan bunga pada pohon-pohon di hutan. Kau harus melihatnya saat itu." Senyum gadis itu mengembang lebar.

Lelaki di hadapannya hanya memberinya tatapan datar. "Aku percaya," ucapnya beberapa detik kemudian.

Gadis malaikat itu kembali ke sisi ranjang.

"Ehm ... ano ... dengan keadaan sayapku sekarang, aku tak bisa pulang ke rumah. Bolehkah aku menumpang di sini sampai sayap kiriku dapat terpasang kembali?" tanyanya malu-malu. "Aku akan membantu mengurus rumahmu sebagai ucapan terima kasih," lanjutnya penuh harap.

Lelaki itu memalingkan wajahnya, tak memberi jawaban.

"Aku tidak akan tinggal lama-lama. Hanya sampai saat bulan purnama pertama di musim semi, saat aku bisa memasang sayap kiriku kembali."

"Hn. Kau boleh tinggal." Lelaki itu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu.

"Terima kasih, err ... ngomong-ngomong aku harus memanggilmu siapa?"

Lelaki itu menghentikan langkahnya, ia menengokkan kepalanya sedikit. "Sasuke. Uchiha Sasuke."

"Terima kasih, Sasuke-kun"

.

.

.

.

.

Gadis malaikat yang kini hanya memiliki sebelah sayap itu dengan cekatan menata meja makan. Senyumnya mengembang lebar. Ia puas memasak dengan mengandalkan keterampilan tangan—bukan dengan kekuatan ajaibnya—seperti yang manusia biasa lakukan.

"Ah, selamat datang, Sasuke-kun!" sambutnya saat seorang lelaki bersurai hitam itu memasuki ruang makan.

"Lemari penyimpananmu penuh dengan tomat, jadi aku membuat sup tomat untuk makan malam. Makanlah selagi hangat."

"Hn." Lelaki itu mendudukkan dirinya di atas kursi, lalu menuang sup tomat ke dalam mangkuk. Ia menyendok sedikit sup dan mencicipinya. Raut mukanya tak terbaca.

"Bagaimana rasanya? Aku baru pertama kali memasak, jadi maaf jika rasanya tak enak," Sakura, yang ikut mendudukkan diri di kursi dihadapan lelaki itu bertanya penasaran.

"Hn. Ini enak. Terima kasih," nada lelaki itu terdengar tulus. Sakura tersenyum mendengarnya.

"Kau tak makan?"

Gadis yang sedang mengamati kegiatan makan lelaki di hadapannya itu agak terkejut. "Eh, aku tidak punya rasa lapar. Yah, kadang aku makan dan minum sedikit karena penasaran dengan rasanya, tetapi hanya menjadi sia-sia saja. Untuk memenuhi energiku aku hanya perlu tidur."

Alunan sendok dan piring beradu merdu mengisi keheningan beberapa saat.

"Apakah kau tinggal sendirian, Sasuke-kun? Maksudku, yah, aku tidak bertemu siapapun di rumah ini, lalu tadi siang aku mengamati keadaan luar rumah dan tidak melihat siapapun yang lewat selain dirimu."

"Kau keluar rumah?" tanya lelaki itu menyelidik.

Gadis itu tergagap "T-tidak. Aku hanya melihat dari jendela."

"Jangan keluar rumah. Bahaya jika ada yang melihatmu seperti ini." Menyadari keheningan yang melanda sesaat, lelaki itu melanjutkan, "Maksudku, jika ada orang lain melihat sayapmu, mereka mungkin akan menganggapmu penyihir, iblis, atau makhluk lainnya. Mereka akan melakukan hal buruk padamu."

"Jangan khawatir, aku tak akan keluar rumah," janji gadis itu dengan senyum andalannya.

Lelaki itu beranjak. Ia mengenakan jubah hitamnya dan menuju pintu keluar.

"Kau mau kemana, Sasuke-kun?"

"Berpatroli," jawab lelaki itu pendek.

"Baiklah. Hati-hati ya!"

.

.

.

.

.

Sudah berminggu-minggu gadis itu tinggal di rumah Sasuke. Terbiasa tinggal sendiri, kehadiran gadis itu sudah cukup ramai baginya.

Dilihatnya gadis malaikat itu sedang tertidur di atas sofa. Mungkin ia kelelahan setelah memasak dan membersihkan rumah. Sasuke tak pernah memaksa gadis itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, gadis itu sendiri yang berinisiatif. Tiap hari gadis bersurai merah muda itu memasakkannya makanan, mengantarnya sampai depan pintu setiap ia berangkat patroli, dan saat ia pulang, gadis itu selalu menyambutnya dengan keadaan rumah yang bersih dan rapi.

Tak pernah Sasuke merasa senyaman ini saat berada di rumahnya sendiri. Pekerjaannya sebagai seorang polisi hutan mengharuskannya berpatroli setiap waktu sehingga membuatnya tak sempat mengurus rumah. Makan seadanya—ia lebih sering menyantap sup tomat favoritnya—serta membereskan rumah seperlunya. Toh, buat apa ia sering berada di rumah? Kedua orang tua dan kakaknya sudah menghadap Kami-sama terlebih dahulu. Berada sendirian di rumah tua itu membuatnya mengingat kenangan bersama mereka yang entah mengapa selalu menyesakkan dada.

Namun kini terasa sangat berbeda. Selalu ada yang menantinya di rumah. Selalu ada yang memasakkannya—kini bukan hanya sup tomat saja tapi juga menu lain—dan menanyakan harinya. Gadis itu tak bosan mengajaknya berbincang, meskipun ia hanya menanggapi dengan gumaman. Gadis itu juga selalu tersenyum, seperti kebiasaan mendiang ibunya dulu.

Didekatinya gadis malaikat yang sedang tertidur di atas sofa ruang tamu. Diamatinya sang gadis lekat-lekat. Cantik. Sangat cantik. Memang benar-benar mencerminkan malaikat. Bahkan dalam tidurnya pun, gadis itu menyunggingkan senyum.

Lelaki itu menggendong si gadis dan memindahkannya ke kamar tidur. Dibaringkannya tubuh gadis itu di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati seakan meletakkan sesuatu yang sangat rapuh. Si lelaki melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, yaitu mengagumi gadis itu dalam diam. Namun sayang, kelopak mata sang gadis perlahan-lahan terbuka, menampakkan keindahan emerald di baliknya.

"Sasuke-kun? Sudah pulang ya? Maaf aku ketiduran. Pasti belum makan, ya? Sebentar, kupanaskan dulu makanannya."

"Tidak. Kau tidur saja, aku bisa memanaskannya sendiri."

Gadis itu tak memedulikan perkataan Sasuke. Ia beranjak menuju dapur dengan diikuti Sasuke.

"Jadi, bagaimana harimu, Sasuke-kun?" tanya si gadis sambil menyiapkan makanan dengan cekatan.

"Hn, seperti biasa. Berpatroli," jawab Sasuke pendek.

Kemudian yang terdengar hanya denting piring dengan sendok yang mengalun.

"Sakura?"

"Ya?"

"Apa yang akan terjadi jika kedua sayapmu patah?" tak seperti biasanya Sasuke bertanya.

Sakura agak sedikit terkejut. "Err ... yah, jika kedua sayapku patah maka aku akan menjadi manusia biasa. Tak punya kekuatan seperti malaikat lagi."

"Begitu."

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Sasuke-kun. Sebentar lagi bulan purnama pertama di musim semi, dan saat itu aku bisa merekatkan sayap kiriku kembali," ucap Sakura sambil tersenyum menenangkan, seperti kebiasaannya.

.

.

.

.

.

Saat yang dinanti itu tiba. Bulan purnama pertama di musim semi.

Sasuke mengantar Sakura menuju hutan yang berisikan pohon sakura. Sakura, si gadis malaikat itu mengambil beberapa helai kelopak bunga sakura yang berjatuhan dan meremasnya. Ajaib, kelopak bunga itu berubah menjadi semacam cairan. Ia lalu mengoleskannya pada potongan sayap serta punggungnya dan menempelkan sayap itu di punggungnya.

Sayap itu menempel sempurna!

Gadis musim semi itu tersenyum gembira, sedangkan Sasuke hanya menatapnya datar.

"Sasuke-kun," panggil gadis itu. "Terima kasih karena telah mengizinkanku tinggal di rumahmu beberapa minggu terakhir ini. Aku sangat menghargai kebaikanmu. Jadi, aku akan memberimu ini sebagai tanda terima kasih."

Gadis itu mengulurkan sebuah pot yang ditumbuhi pohon kecil di dalamnya.

"Ini pohon tomat, karena sepertinya kau suka sekali dengan tomat, jadi aku memberikan ini. Rawat baik-baik, ya!" pesan gadis itu.

Sasuke menjulurkan tangan menerima tanaman itu. "Boleh aku meminta sesuatu?" tanyanya.

"Selama aku bisa memberinya, boleh saja."

Lelaki itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Boleh aku ... memelukmu?"

"Sebagai pelukan perpisahan? Tentu saja, mengapa tidak? Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu di musim semi yang akan datang."

Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Sakura—setelah sebelumnya meletakkan pot berisi pohon tomat terlebih dahulu—dan merengkuh pinggang gadis itu erat. "Izinkan aku menjadi egois. Kali ini saja," bisiknya.

Tanpa disadari gadis itu, Sasuke mengambil sebilah pedang dari pinggangnya dan memotong kedua sayap Sakura.

"Sasuke-kun?" Gadis itu terkejut dengan apa yang baru saja diperbuat Sasuke.

"Maaf, maafkan aku. Aku ingin kau tetap tinggal bersamaku. Aku ingin kau selalu berada di sisiku. Kumohon, tetaplah bersamaku. Jangan meninggalkanku ... seperti mereka," ucap Sasuke pilu dengan posisi masih memeluk tubuh Sakura. Ia menitikkan air mata.

Sakura tertegun. Ia paham betul dengan apa yang dimaksud 'mereka'.

"Yah, apa boleh buat. Sekarang aku telah menjadi manusia biasa, sayapku tak dapat terpasang kembali. Jadi, ya, aku akan tetap bersamamu, Sasuke-kun."

"Terima kasih, Sakura," ucap Sasuke tulus.

Sasuke melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah cantik gadis merah muda itu.

"Aku ... berjanji akan menjagamu seumur hidupku."

Sakura tersenyum. Ia memahami benar kalimat Sasuke barusan.

"Aku juga mencintaimu, Sasuke-kun."

Emerald bertemu onyx, saling menatap tanpa kedip. Perlahan tapi pasti, dua insan yang dilanda asmara itu saling mendekat, meniadakan jarak di antara mereka. Kedua bibir pun bersua, mengungkapkan rasa diantara keduanya.

Dan biarlah hutan menjadi saksi bisu cinta mereka.

.

.

.

.

FIN