Disclaimer : I do not own The Promised Neverland

Post Manga Fiction. Contain Spoilers.


Tetap bertahan hidup agar dapat tinggal bersama seluruh keluarganya dengan bahagia merupakan tujuan hidup Ray. Dapat terus bersama selagi bebas tersenyum dan tertawa merupakan mimpi yang diberikan Emma padanya. Menyeberang ke dunia manusia adalah cara yang telah direalisasikan Emma untuk mencapai mimpi itu.

Enam tahun sudah sejak mereka berhasil menyelesaikan petualangan; membebaskan anak-anak dari peternakan, mengubah dunia monster, dan meraih kebebasan di dunia manusia. Selama fase enam tahun ini, banyak hal yang terjadi. Salah satunya tentang mereka yang pada akhirnya menemukan Emma di sebuah area tak bernama.

Reuni itu terjadi sekitar empat tahun lalu, di tengah hiruk pikuk pasar sebuah kota. Ray masih ingat kelegaan yang meluapinya ketika dapat kembali melihat manik zamrud itu. Emma menatap mereka dengan penuh keterkejutan, seolah dia telah menantikan mereka, tapi di saat yang sama dia juga tidak tahu siapa mereka.

Pada awalnya, Ray sangat kesal. Kesal karena janji itu memang memiliki bayaran yang setimpal. Dia benar-benar mengambil keluarga Emma, dia mengambil keluarga yang tersimpan pada memori Emma. Dalam hati, dia mengutuk, kenapa harus Emma yang mendapatkan semua konsekuensi ini? Kenapa Emma harus sendirian selama dua tahun terakhir ketika mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama?

Ray sangat kesal, tapi dia tahu—tak ada yang bisa dia lakukan.

Satu hal yang terpenting ….

Saat itu, tangis Norman membuatnya sadar. Mereka tak peduli jika Emma tak memiliki memori itu. Mereka tak peduli. Kehadiran gadis itulah yang membuat seluruh pencarian ini berarti. Fakta bahwa dia hidup dengan sehat, dapat tidur dengan tenang, dan makan tanpa perlu kesulitan merupakan sebuah pencapaian.

Masa bodoh dengan hilangnya memori. Mereka bahagia karena Emma sudah ditemukan. Mereka bahagia karena Emma hidup dan kembali di tengah-tengah mereka.

Hilangnya ingatan bukan masalah besar. Hal itu memang benar adanya, sebab jauh dari dalam sana, Emma memang masih mengenali mereka. Dan satu indikasi itu sudah lebih dari cukup. Emma mudah berteman, jadi takkan sulit untuk kembali menjadi dekat dengan anak-anak lain, dengan keluarga mereka.

Ray masih ingat, sore itu Emma segera mengajak mereka semua ke tempat tinggal barunya di pegunungan, sebuah desa yang telah tertimbun. Tanpa ragu, dia bercerita banyak hal. Mulai dari kedatangannya ke sana di tengah salju lebat dan tanpa ingatan. Hingga kesehariannya bersama Albert, seorang pria sepuh bertubuh tambun yang selama ini bersedia memberi tempat tinggal untuknya.

"Kami sering berburu rusa waktu salju sedang tidak begitu lebat. Di musim panas, aku lebih senang menangkap ikan," kata Emma saat itu. "Kata Albert, aku sangat membantu dalam urusan mencari makan. Padahal, aku hanya merasa kalau mencari bahan makanan adalah hal yang sangat natural. Bukankah begitu?"

Ray masih ingat, Don tertawa hebat atas ucapan Emma.

"Karena dulu kau selalu berburu makanan untuk kami!" serunya antusias.

Obrolan mereka seolah tiada hentinya hingga mereka tak sadar bahwa malam telah tiba. Dengan ketiadaan jadwal kereta, mereka disarankan oleh Albert untuk menginap saja. Katanya, rumah tua itu sudah terlalu dingin karena begitu jarang dikunjungi banyak orang. Anak-anak langsung menyetujui tawaran Albert meski mereka harus tidur berdesakkan di lantai kayu.

Bagaimanapun juga, sebuah rumah dengan atap sudah jauh lebih baik dari hutan yang dipenuhi monster. Ray sama sekali tak masalah dengan kondisi mereka.

Pada tengah malam, ketika anak-anak lain sudah tertidur setelah kekenyangan, Ray dan Norman saling pandang. Secara kebetulan, mereka berdua memang belum mengobrol banyak dengan Emma karena perempuan itu telah dikerumuni banyak anak. Dia juga tampak kelelahan, dilihat dari kondisinya yang sudah ikut terlelap dengan sangat tenang dan damai di tengah-tengah Phil dan Jemima.

"Hari kita masih panjang, bukan?" ujar Norman malam itu. "Kita masih bisa mengobrol dengannya di lain waktu."

Ray tentu saja mengiakan. Ucapan Norman memang benar, mereka masih punya banyak waktu—paling tidak, itulah yang dipikirkan Ray.

Dia tak tahu bahwa sekolah akan menyibukkan mereka, terlebih dengan kemampuan akademik anak-anak Peternakan Grace yang jauh lebih bagus dari kebanyakan orang. Identitas asli mereka hanya diketahui oleh Keluarga Ratri. Jadi, tak mengherankan jika sekolah umum yang mereka hadiri cukup terkejut dengan kemampuan akademik dari anak-anak ini, terutama Norman dan Ray yang telah menguasai teori kuantum dan teori sains lain yang di dunia manusia merupakan pelajaran tingkat sekolah tinggi.

Kondisi ini membuat nama sang duo jenius langsung terkenal, padahal mereka berdua tidak mencoba untuk jadi terkenal. Ray sendiri kurang ingat bagaimana bisa dia berakhir dengan semua medali dan kelas-kelas akselerasi. Pada umur enam belas, ketika mereka kembali bertemu dengan Emma, Ray telah berada di bangku perkuliahan sementara Norman telah ikut terjun dalam penelitian proyek DNA Adam. Oh, saat itu Norman juga sedang mengenyam pendidikan profesor—yang baginya mudah-mudah saja dilakukan sembari memegang proyek penelitian.

Berbeda dengan anak-anak lain yang tak direkomendasikan untuk mempercepat pendidikannya, Norman dan Ray jadi begitu sibuk akibat keistimewaan mereka sendiri. Untuk suatu alasan, Emma juga tak ingin meninggalkan Albert. Dia merasa berterima kasih pada pria sepuh itu dan ingin tetap tinggal bersamanya hingga pada usia delapan belas dia diharuskan pergi ke Area 01—tempat yang dulu bernama Amerika Serikat—untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Selama selang waktu dua tahun setelah pertemuan mereka, anak-anak bergantian berkunjung ke rumah Emma dan terkadang Emma gantian berkunjung ke mansion Keluarga Ratri yang baginya sangat besar dan mewah.

Ketika mulai tinggal di Arena 01 pun mereka masih jarang bertemu karena Emma menolak untuk tinggal di mansion Keluarga Ratri. Alasannya karena dia yang tak ingin terlalu bergantung pada orang lain. Juga karena Norman dan Ray sendiri telah tinggal secara mandiri setelah mencapai usia tujuh belas.

Baik Ray maupun Norman tahu bahwa mereka takkan bisa menggoyahkan pendirian Emma ketika gadis itu sudah menyatakan sesuatu. Jadi, mereka setuju saja.

Kondisi tersebut berlangsung hingga dua tahun berikutnya, tahun ketika mereka telah meninggalkan masa remaja dan mulai menginjak usia dua puluh. Sejak itu pula, hubungan mereka semakin renggang tanpa mereka sadari. Ray tahu alasannya, tapi dia—seperti Norman dan juga Emma—memilih untuk tetap diam.

Pasalnya, masalah mereka terdengar sepele dan tak terlalu penting jika dibandingkan dengan perselisihan mereka di masa lalu. Untuk pertama kali, mereka juga baru terjebak masalah yang amat tabu dan untuk suatu alasan sulit didiskusikan, tak seperti perselisihan lain yang dulu telah mereka hadapi.

Ray tak terlalu terganggu dengan hal itu, tapi dia tahu … semakin lama mereka diam, semakin lama pula mereka tak mendapatkan penyelesaian. Paling tidak, itulah kondisi mereka sebelum pesan itu datang.

Hey, Manusia Sibuk! Aku ingin bersepeda di Central Park sore nanti. Datanglah!

Pagi itu, Ray sedang menyelesaikan perhitungan desain sebuah kereta cepat—ya, sekarang dia bekerja sebagai tukang pembuat kendaraan umum, begitu sebutan Thoma padanya—ketika Emma mengiriminya pesan singkat.

Sekarang musim gugur, adalah jawaban yang dikirimkan Ray.

Pokoknya kutunggu di tepi danau.

Ray tak membalas pesan itu, berniat untuk tidak datang. Musim gugur sama buruknya dengan musim dingin. Suhu udara semakin rendah di setiap harinya dan dia lebih ingin menikmati sore di apartemen. Jika bisa bergelung nyaman di sofa apartemennya, kenapa juga dia harus repot-repot bersepeda di tengah udara yang akan mulai membeku?

Faktanya, Ray malah menyambar jaket dan syal hangat untuk pergi keluar. Dia mengendarai mobil, yang baru-baru ini dia beli setelah merasa memerlukan kendaraan pribadi, ke Central Park. Setelah mendapatkan sepeda dari tempat sewa yang disediakan, dia segera memeriksa ponselnya, melihat GPS untuk mengetahui rincian lokasi Emma.

Perempuan itu melambaikan tangan dan tertawa ketika Ray datang.

"Udaranya sangat segar. Ini adalah waktu yang tepat untuk bersepeda," komentar Emma selagi mengambil napas dalam-dalam dan merentangkan tangan.

"Dingin, bukan segar," timpal Ray dengan suara datarnya.

"Ayolah, kau harus sedikit menikmati alam biar tak cepat tua."

"Terima kasih, aku memang sudah pernah menua."

Emma menatapnya bingung dan Ray tidak heran dengan respons tersebut.

Tentu saja dia tidak ingat dengan detail itu.

"Belikan aku cokelat hangat setelah ini," ungkap Ray pada akhirnya. Dia mulai mengayuh sepeda. "Kau merebut jam istirahatku."

Tanpa menoleh, Ray bisa membayangkan seringai Emma di belakangnya.

"Kubelikan kalau kau bisa memutari danau ini lebih banyak dari rekorku."

Emma dan tantangan kekanakannya. Ray penasaran dengan sumber semangat muda yang selalu mengaliri diri perempuan ini. Bagaimana bisa dia selalu bersemangat di usia yang sudah memasuki masa dewasa?

Atau aku saja yang terlalu negatif.

Ray menggeleng pelan dan tersenyum kecil. Semua orang mungkin akan terlihat selalu berpikiran negatif kalau dibandingkan dengan keoptimisan Emma. Semakin bertambahnya usia, Ray sadar bahwa dia sudah semakin membaik, tak lagi sepesimis dulu. Berada di sekitar perempuan ini ternyata cukup memengaruhi pola pikirnya juga. Kehadiran Emma memang sekuat itu.

Mengimbangi kecepatan sang perempuan di depan sana, Ray bertanya, "Berapa rekormu?"

"Tepat 100 putaran," balas Emma dengan bangga. Raut wajah Ray membuatnya tertawa. "Mau mencobanya sore ini?"

"Hadiah yang didapat tidak sepadan dengan tantangan yang diberikan. Aku takkan menyia-nyiakan waktuku untuk hal yang tidak menguntungkan."

Pada akhirnya, mereka hanya bersepeda santai sambil menikmati pemandangan musim gugur di Central Park. Matahari mulai terbenam ketika mereka selesai berkeliling taman. Emma, sangat pengertian seperti biasa, tetap membelikan Ray cokelat hangat meski lelaki itu tak memenuhi tantangan yang diberikan. Dia mengatakan sesuatu tentang penundaan penerimaan tantangan selagi mengulurkan minuman itu pada Ray. Mereka berdua duduk di bangku panjang yang berjejer menghadap danau.

Dingin udara tak begitu terasa setelah mereka bersepeda dan menikmati minuman hangat. Langit telah berwarna jingga dan cahaya makin menggelap. Ray sedang menikmati hangat gelas kemasan di tangannya ketika dia mendengar gumaman Emma.

"Aku ingin tahu kondisi Mujika."

Nama ratu kaum non-manusia itu tentu saja menarik perhatian Ray. Dia segera menoleh dan bertanya, "Kau ingat dia?"

"Bukan hanya dia, tapi Sonju dan Leuvis juga," balas Emma. Dia ikut menoleh. "Mimpi-mimpi itu semakin jelas. Aku mulai bisa melihat wajah dan mengingat nama kalian di sana."

"Baguslah. Meski kau tak perlu lagi mengingat nama kami karena sekarang kau sudah mengenal kami."

Jawaban Ray yang terdengar amat ringan membuat Emma tersenyum sedih.

"Aku tetap ingin ingat seluruh rincian perjalanan kita." Dia mengembuskan napas pelan. "Awalnya, aku tidak masalah tanpa ingatan itu. Tapi, ketika melihat anak-anak kecewa ketika aku tak ingat sesuatu … aku merasa bersalah."

Ray merasakan sekelumit sakit di dadanya.

"Emma .…"

"Jadi, aku sangat senang karena semua mimpi itu sudah semakin jelas. Kurasa, aku harus menemui semua teman kita agar mimpi iti semakin terlihat jelas. Mereka semua tersebar di seluruh area, bukan? Aku ingin menemui mereka semua. Terutama mereka yang sedang berada di area konflik …." Suara Emma semakin pelan di tiap kalimat yang diucapkan. Dia menelan saliva dan menatap Ray dengan nanar. "Bagaimana cara kita menghentikannya?"

Ray termenung, tiba-tiba ingat alasan Emma menekuni bidang sosial daripada ilmu-ilmu eksak seperti yang diambil oleh Ray dan Norman. Dunia manusia memang jauh lebih aman daripada dunia monster. Akan tetapi, segala masalah yang muncul tak jauh lebih baik dari dunia yang dulu mereka tinggalkan. Kedamaian memang telah tercipta. Mereka tak berada di tengah-tengah peperangan. Akan tetapi, semua itu tak berarti bahwa dunia ini makmur tanpa serpihan masalah yang berpotensi untuk menyatu menjadi masalah besar.

Baru-baru ini, diberitakan telah ada konflik antar kelompok politik di area yang dulu disebut sebagai negara-negara Timur Tengah. Letusan konflik ini tentu saja merugikan masyarakat sipil. Emma dengan kepedulian sosial yang tinggi tentu saja resah akan hal ini.

"Masalah yang kita hadapi takkan pernah hilang selagi kita, para manusia, hidup." Adalah jawaban yang dikatakan Ray. "Dari berita terakhir yang kudengar, pemerintah pusat sudah mulai menengahinya. Konflik itu akan segera padam." Ray mendengkus pelan, dia melihat Emma yang tampak murung. "Mempunyai empati yang tinggi benar-benar berat, ya."

Emma merengut.

"Karena aku bukan Ray yang mudah untuk tidak peduli."

"Berhentilah memojokkanku seperti Norman."

"Norman selalu netral. Dia tak pernah memojokkan …." Emma tiba-tiba saja terdiam, seolah saja mengucapkan kata terlarang. Berdeham pelan, dia lanjut berucap, "Pokoknya kau tak pernah dipojokkan."

Ini dia.

Ray menatap Emma dan ketika melihat sorot itu, Ray tahu bahwa Emma juga sudah tidak tahan dengan situasi mereka. Matanya berkilat penuh tekad, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, Ray tak bisa mengelak darinya.

"Kita takkan membahasnya di sini," ungkap Emma. Sebelum Ray menimpali, dia telah menambahkan, "Dan tidak di mobil. Aku ingin mampir ke apartemenmu saja."

Mulut Ray mengering. Tapi, dia tidak menolaknya karena mereka sedang tak butuh perdebatan apa pun.

Setelah melewati sesak jalan raya kota di malam akhir pekan, mereka pada akhirnya sampai di apartemen Ray—tempat tinggal yang tergolong luas untuk seseorang yang hanya tinggal sendirian. Dengan penghasilan Ray yang tinggi, apartemen ini bisa disebut biasa, meski akan tampak luar biasa jika dilihat oleh kacamata seseorang dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Baik Ray dan anak-anak pelarian lain tahu bahwa mereka tak membutuhkan kemewahan. Jadi, selama ini mereka memang tak pernah dengan sengaja menghamburkan uang demi kepuasan semacam itu.

Emma sendiri, yang telah mengenal Ray dengan baik, tak terkejut ketika pada akhirnya bisa berkunjung ke tempat tinggal pribadi Ray selama tiga tahun terakhir. Fokusnya tak serta merta teralihkan dengan memeriksa tempat itu, dia masih terpaku pada niatan awal mereka untuk membereskan masalah tak kasat mata tersebut.

"Aku sudah meminta saran dari Gilda," awal Emma saat itu. "Dan dia memintaku jujur pada perasaanku sendiri." Tanpa sedikit pun keraguan, Emma menatap Ray lurus-lurus. "Aku menegaskan pada Norman bahwa dia adalah keluargaku, saudara laki-laki, tidak lebih."

Mereka baru saja masuk ke dalam apartemen ketika Emma menuturkan kalimat itu. Ray, yang membelakangi Emma, tiba-tiba terdiam. Saat berbalik, dia menatap Emma dengan tidak percaya.

"Kau … apa?"

Emma mengembuskan napas tidak sabaran.

"Aku memang tidak ingat banyak, tapi aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu," tukas Emma. Dia melangkah mendekat, seolah menantang Ray. "Kau … kau tahu kalau dia menyukaiku, 'kan? Menyukaiku dalam arti itu. Bukan sekadar keluarga. Iya, 'kan?" Emma kelihatan sangat kesal. Telinganya tampak memerah, menandingi surai jingga yang diikat kuda. "Kenapa kau tidak mengatakannya?" tuntut Emma.

Sekarang, giliran kening Ray yang mengerut.

"Karena kau tidak bertanya." Dia terdengar seperti sedang balik bertanya. "Dan itu juga bukan urusanku."

"Lalu, kenapa kau mulai sulit dihubungi setelah malam tahun baru?"

Malam ketika Norman menyatakan perasaannya padaku? pikir Emma.

Ray cukup terperanjat, meskipun dia tetap berhasil menjawab.

"Aku tak ingin jadi penghalang," balasnya dengan nada kering. Dia menatap Emma lurus-lurus. Pernyataan Norman masih terngiang jelas di telinganya, tentang dia yang mencintai Emma dan akan melakukan apa saja demi melihat senyum di wajahnya. Salah Ray sendiri karena menumbuhkan perasaan lain selagi menghabiskan waktu dengan perempuan ini. Mana bisa dia tetap biasa saja ketika tahu kedua sahabat baiknya akan menjalin hubungan khusus?

Ray percaya, Norman akan ikut memberi kebahagiaan pada Emma. Mereka berdua adalah orang yang penting baginya. Mereka akan bahagia bersama. Itu saja sudah cukup. Untuk masalah perasaan atau sekelumit rasa tidak nyaman ketika melihat kedekatan mereka, Ray akan mengurusnya sendiri. Norman bukan musuhnya dan jika ada seorang lelaki yang dia bolehkan menjalin hubungan dengan Emma, maka Normanlah orangnya.

Emma tidak mengerti dengan tindakan Ray. Begitu pula alasannya. Ketika mendengar kata penghalang, tiba-tiba saja dia jadi sangat jengkel—sangat sangat jengkel.

"Tidak akan ada yang jadi penghalang!" seru Emma dengan lantang. Wajahnya memerah menahan emosi. "Aku memang merasa sedikit bersalah pada Norman. Tapi, itu lebih baik daripada aku membohonginya." Dengan sorot berani, Emma menambahkan, "Norman juga tidak akan jadi penghalang kalau kau menyukaiku," tandas Emma. "Kenapa aku harus mendengarnya dari orang lain, Ray? Kenapa kau tak langsung mengatakannya padaku?"

Ray adalah tipe pemikir cepat. Tapi, lain halnya kalau sudah menyangkut si gadis berambut jingga.

Mulutnya terasa kering akibat keterkejutan. Paling tidak, dia terkejut untuk sesaat, sebelum ikut terpancing kekesalan karena … bagaimana bisa Emma tidak mengerti sebuah common sense?

"Karena aku bukan berandal yang bisa dengan sesuka hati merusak kesempatan saudaranya sendiri untuk bersama orang yang dia cintai," kata Ray pada akhirnya, bersyukur bahwa dia masih bisa berpikir jernih seperti biasa. Dia kesampingkan seluruh keterkejutan dan rasa malu yang menguasai akibat cerocosan Emma tentang perasaannya.

Menahan bahu Emma agar dia berhenti melangkah mendekat, Ray berkata, "Dia sudah punya perasaan itu sejak delapan tahun lalu. Dia rela melakukan apa pun agar kau bisa mencapai mimpi gilamu ini. Aku percaya, dia akan tetap melakukannya sampai kapan pun." Ray mengembuskan napas pelan. "Sedangkan aku … aku hanya butuh waktu untuk bisa melihat kalian bersama. Bukan karena ingin membuat masalah."

Jawaban Ray tampak tidak cukup untuk meredakan kekesalan Emma. Dia masih kelihatan sangat jengkel sampai tangannya mengepal.

"Idiot," sebutnya geram. "Sebut saja terus, dia, dia, dia. Tapi, bagaimana denganmu? Bagaimana denganku?"

Ray bisa melihat maksud tersirat dari ucapan Emma. Hanya saja, dia tak ingin salah tangkap dengan hanya menebak-nebak. Ray perlu penjelasan langsung dari pernyataan Emma, meski penjelasan yang dia dapat ternyata jauh lebih jelas dan efektif dari apa yang dia minta.

Tindakan itu benar-benar tidak terduga. Ray sama sekali tidak menyangka bahwa Emma akan berjinjit selagi menarik syal yang dipakainya agar dia dapat memberikan sebuah kecupan tepat di bibir.

Sejak dulu, Ray tahu bahwa Emma selalu berani. Dia berbeda dari kebanyakan perempuan yang dikenalnya. Ketika mereka masih kecil, Ray sampai lupa jika Emma perempuan. Dia terlalu berbeda dengan Gilda, Anna, dan anak-anak perempuan lain. Meskipun begitu, Ray tetap saja tidak menyangka. Dia terkejut, meski tidak sampai dua detik.

Sebelum Emma benar-benar menarik diri, Ray sudah menangkup sisi wajahnya dan bergumam, "Kalau ingin mencium, lakukan dengan benar," dan—tentu saja—kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini bukan kecupan ringan saja, tapi benar-benar cumbuan yang … cukup berbobot.

Ketika menyelesaikannya, Emma langsung terhuyung mundur. Wajahnya memerah dan dia sudah melesat ke meja terdekat. Sebelah tangannya menelungkup, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Dengan suara tertahan, dia berseru, "Kenapa kau selalu mahir dalam segala hal? Tidak adil. Sangat tidak adil!"

Di sisi lain, Ray sangat lega karena Emma sibuk menyembunyikan wajahnya. Pasalnya, dia juga sangat malu sampai telinganya memerah. Kondisi ini lebih baik tidak disaksikan oleh orang semacam Emma.

Ray belum menjawab pertanyaan Emma ketika perempuan itu menoleh dan kembali membuka suara.

"Ah, kau pasti sering melakukannya dengan para perempuan. Kau 'kan populer."

Kening Ray sontak mengerut menahan rasa kesal yang terasa familier.

"Kau yang pertama mendapatkannya," balas Ray, menahan gemas. "Dan hal semacam itu sudah banyak terjadi di sekitar kita. Kau hanya perlu melihat untuk bisa meniru dengan mudah."

Semakin Ray ingin menjelaskan, semakin aneh pula pembicaraan mereka. Dia memilih untuk mengalihkan topik obrolan.

Menghampiri Emma yang sedang berlutut di depan meja, Ray dengan mudahnya duduk di lantai, menyamakan posisinya seperti Emma.

"Sejak kapan kau menyukaiku?" tanya Ray tanpa basa-basi.

Merah di wajah Emma mulai memudar. Dia sudah lebih tenang.

Menengakkan badan dan menghadap pada Ray, Emma menggeleng.

"Kau yang pertama terlihat jelas di mimpi-mimpiku. Kukira, itu karena kita sering bersama?" Ketika menyadari arti ganda dalam pertanyaannya, dia melengkapi, "Dulu dan sekarang. Masuk akal?"

"Mungkin. Katamu, kau lebih ingat seseorang setelah sering bertemu dengan orang itu."

"Ya. Dan kau sering bersama anak-anak waktu aku berkunjung. Jadi, secara tidak langsung, aku melihatmu." Emma terdiam, seolah sedang memproses sesuatu di kepalanya. "Aku tak tahu kapan pastinya. Kita hanya menjadi akrab seperti aku pada yang lain. Dan pada malam tahun baru itu, aku bingung kenapa aku tak bisa membalas perasaannya. Tanpa sadar, aku membandingkan keadaan, jika yang berada di posisi itu adalah kau."

Emma mengerjap dan menatap Ray dengan begitu tulus.

"Aku langsung terpikir, mungkin kalau itu Ray aku tidak masalah. Dia memang keluargaku, tapi kalau bisa, aku ingin lebih dari itu."

Telinga Ray terasa panas.

Emma tak pernah mencoba untuk merayu. Dia tidak bisa merayu ataupun membual. Ray tahu, semua yang terucap dari mulut perempuan ini adalah murni dari dalam benaknya.

Fakta itu tak membuat dia merasa lebih baik, sebab dia jadi semakin gemas pada Emma.

"Ray, jangan mengacak-acak rambutku!"

Ray tidak memedulikannya.

"Aku juga tidak tahu sejak kapan mulai masuk perangkapmu." Kening Emma mengerut dengan lucu. Ray menambahkan, "Sulit untuk tidak menyukai idiot sepertimu. Semua orang menyukai Emma."

Cara Ray memanggil Emma sebagai Emma, sukses membuatnya tertawa. Dia tahu, dulu mereka saling memanggil dengan nama, bukan sekadar nama ganti. Cara tersebut sangat kekanakan dan Ray, yang masih anak-anak umur empat tahun, memutuskan untuk menghilangkan kebiasaan kekanakan semacam itu.

Mendengar tawa renyah Emma, Ray mau tak mau ikut tersenyum. Beban di pundaknya telah menghilang, juga dengan jerat di dadanya. Ray merasa lebih mudah bernapas. Dia bahkan sama sekali tak tertekan ketika berkata, "Norman akan memukulku untuk semua ini."

"Dia bukan orang yang seperti itu."

"Atau aku akan diracuni dengan obat pencahar," ungkap Ray. "Semua orang tahu, dia jauh lebih menyeramkan dariku."

Napas mereka beradu setelah kembali berbagi ciuman.

"Padahal kau sudah seperti preman dengan rambut panjangmu yang selalu diikat semacam itu."

Ray menahan tangan Emma yang tengah menyentuh ikat rambut di belakang kepalanya.

"Aku belum sempat memotongnya. Waktuku sangat berharga."

Emma mencibir Ray yang hanya mencari-cari alasan. Ketika dia bertanya tentang proyek pembangunan kereta cepat di area konflik, Ray langsung merespons, "Kau menggunakanku agar bisa punya akses untuk pergi ke sana?"

Ketika Emma tersenyum dengan mata yang seolah berbinar, Ray tahu dia tak bisa untuk mengeluh.

"Tentu saja. Bukankah bagus, melumpuhkan dua buruan dengan satu anak panah?"

Di mana pun mereka berada, Emma akan selalu menggunakan kekuatannya untuk membantu orang lain. Ray dan anak-anak lain sangat tahu. Dia tahu dan dia akan selalu siap untuk mendukung seluruh langkah sosok ini. Sejak dulu, akan selalu begitu.

Pada akhirnya, dia memang berada pada jalan yang sama seperti Norman.

Ray mengulum senyum, tiba-tiba teringat pada ucapan sang teman.

Dunia manusia memang sama kejamnya dengan dunia monster yang telah mereka tinggalkan. Meskipun begitu, di kedua tempat itu mereka memiliki Emma dan kehadirannya saja sudah lebih dari cukup. Jadi, ketika mereka mempunyai Emma bersama-sama dan Emma memilihnya secara khusus, Ray takkan meminta lebih.

Dia akan dan telah bahagia bersama keluarganya, bersama Emma—takkan ada lagi kesalahan yang akan dia sesalkan.

Selain itu, Norman akan segera mengerti. Bagaimanapun juga, mereka sudah berjanji untuk tetap sama-sama bahagia sebagai satu keluarga. []

END