Sepasang Onigiri dalam Satu Saung
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, gaje parah, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Miyazawa Kenji (27/08/2020)
Insiden seminggu lalu setidaknya sukses menjadi awal, dari masa-masa baik yang sekarang ini dapat disentuh sepuas-puasnya.
Gedung-gedung pencakar langit yang digantikan hijau permai, angin seperti serunai, dan kesejukan yang ramah yang sapaannya berada di mana-mana–kunjungan ke desa Miyazawa Kenji yang tidak perlu diakui peta, atau sejarahnya berkobar-kobar supaya dunia mengenalinya, adalah pengalaman baru dari Dazai Osamu yang tampaknya akan selalu terkenang.
Kesendirian tidak pernah benar-benar sendirian di sini, karena mata begitu nyaman seolah-olah alam menjadi teman manusia yang memahami keluh kesah.
Untuk Dazai pribadi terlepas dari keramaian tempat kesepian berasal, dan menyusuri jalan setapak terlampau lurus yang seharusnya membosankan, justru menjadi menyenangkan seolah-olah ia berhenti membenci musim panas. Bersama topi jerami di kepala Dazai menontoni hamparan padi yang menguning. Gunung berderet-deret begitu akrab. Kadang kala menyadari bunga di sebelah kaki, atau angin iseng menyapanya seperti anak kecil berlarian.
"Shinju wa hitori de wa dekinai. Demo demo futari nara dekiru."
Menyanyikan lagu bunuh diri ganda favoritnya di tengah pemandangan yang ke mana pun Dazai pergi akan menceritakan keindahan, ternyata sensasinya berbeda dibandingkan ketika dia menyenandungkannya di pelipir jalan, yang dihuni beraneka ruko. Gerombolan anak-anak yang membawa botol air mineral berlari-lari melewati Dazai. Salah satunya tak sengaja menabrak dia, tetapi bukan meminta maaf ia justru mencibir.
"Bweee! Mumi aneh lagi jalan-jalan. Awas gosong nanti," ejeknya sambil menjulurkan lidah. Teman-temannya yang lain kompak tertawa. Dazai menyeringai yang diam-diam menyembunyikan niat usilnya.
"Kebetulan banget aku sebentar lagi memang gosong~ Sepertinya kamu punya bakat meramal."
"Me-meramal?! Kemampuan kayak begitu mana ada kerennya, tapi kalau menurutmu begitu ... mungkin ..."
"Iya. Benar banget. Shinji-kun bisa tahu apa nanti kamu jadian dengan Aya-chan, lho~ Tidak ada yang salah dari meramal."
"Sssttt! Jangan keras-keras." Pipi sang bocah yang Dazai panggil Shinji-kun itu merah padam. Benar-benar ogah teman-temannya mengetahui gebetannya yang merupakan pindahan dari Tokyo, padahal tiada yang perlu dirahasiakan.
"Orang kota memiliki cara meramal tersendiri. Lebih akurat dan bisa membuatmu terlihat keren di depan Aya-chan. Minimal, ya ... Shinji-kun akan dikira anak kota."
"Terlihat keren?! Dikira anak kota?!"
"Serius. Sini aku beritahu ceritanya."
Tanpa kecurigaan berarti Shinji mendekatkan telinga. Dazai membuat dirinya seolah-olah berbisik, akan tetapi yang terjadi sejurus kemudian air mineral di tangan Shinji raib. Matanya mengerjap-ngerjap menontoni Dazai meminumnya dengan santai. Memukul-mukul kaki jangkung Dazai agar detektif tersebut mengembalikan
"Mumi bego! Airnya buat kappa, tahu."
"Kappa itu kembaran jauhmu, ya? Aku ingin sekali melihatnya~ Tapi orang dewasa banyak kerjaan."
"Siapa juga yang mau mengajak mumi? Nanti kappa-nya malah–", "Dazai-san! Ayo kita memanen padi." Suara Kenji yang berteriak dari kejauhan yang perlahan-lahan mendekat memotong ucapan Shinji. Sebelum menyusul kelompoknya yang berdiri lima meter di depan Shinji mencibir lagi. Menunjuk-nunjuk Dazai seakan-akan hendak membalas dendam.
"Bye-bye, Mumi. Kenji-nii jangan kau makan, ya!"
"Yang pertama-tama dimakan itu biasanya anak nakal~ Hayoloh Shinji-kun. Jangan menangis, ya, pas aku makan nanti."
Mendengarnya Shinji langsung mengompori teman-temannya agar semakin gencar mencari kappa, untuk nantinya diadu dengan mumi (Dazai). Melihat anak-anak tersebut antusias Kenji tersenyum. Meskipun Dazai baru benar-benar berbaur dengan desa kemarin, tampaknya semuanya mencintai Dazai menggunakan cara masing-masing.
"Anak desa itu lucu-lucu, ya~" komentar Dazai yang mengingat-ingat kemarin ia menang taruhan kelomang, seorang bocah mengambek gara-gara es krimnya digigit besar-besaran oleh Dazai, kemudian main petak umpet yang mana Dazai menang dengan kecurangan–jadilah lucu yang Dazai maksud yaitu mereka gampang ditipu.
"Iya, 'kan? Aku juga sering bermain dengan mereka dulu. Saat balik ke sini enggak kerasa mereka sudah besar."
"Pas Kenji-kun ke Yokohama anak-anak itu pasti sedih, apalagi Shinji-kun. Dia selalu berkata aku adalah mumi yang akan memakanmu. Lucu sekali kemarin dia merengek-rengek memintamu tinggal di desa lagi, daripada nanti dilahap mumi."
"Lagi pula Dazai-san makan nasi, kok. Jadinya aku tidak akan dimakan olehmu."
"Karena Kenji-kun bukan anak nakal tidak akan kumakan juga~ Soal ingin memakan Shinji-kun itu aku serius, kok."
"Eh?! Jangan, dong. Kalau Dazai-san sangat lapar nanti makan onigiri saja. Nenek dan ibuku juga membuat mochi, lho. Dazai-san belum pernah makan yang buatan tangan, 'kan?"
Perutnya lagi-lagi kegelian mendorong Dazai tertawa kecil. Kenji pikir rekan kerjanya ini senang dengan ide tersebut, sehingga Shinji bisa diberitahu ia tak akan dimakan. Pada sawah keluarga Miyazawa seorang pria paruh baya, ayahnya Kenji, melambai-lambai riang. Sabit di tangannya menandakan ia sudah mulai memanen. Kenji segera turun disusul Dazai yang diajarkan cara melakukannya, dan wajah Kenji berubah serius.
"Hati-hati, Dazai-san. Bisa-bisa malah jarimu yang terpotong nanti."
"Ngeri juga. Intinya aku menggenggam satu rumpun batang padi, kemudian memotongnya di batang bagian bawah, bukan?"
"Bagus sekali. Kalau itu Dazai-san pasti langsung bisa."
Tiga petani yang lain yang apabila ditotal menjadi tujuh orang memotong padi sambil bercengkerama, dan menurut Dazai keren ketika ia lebih memperhatikan gerakannya–jari yang putus sangat menyakitkan, dan tak cukup untuk membunuhnya. Usai dipotong padi pun ditumpuk. Dikumpulkan ke dekat terpal yang digelar sejak tadi, untuk dirontokkan menggunakan alat. Dazai banjir keringat. Mengherankannya lagi percakapan di sekitarnya tetap ramai.
"Enggak capek apa, ya? Kalau anak-anaknya lucu, orang dewasanya pada menyeramkan."
Sapi yang mengamuk saja bisa dihentikan seorang diri, lalu ibu-ibu muda dengan santainya membawa karung seberat dua puluh kilogram, mungkin. Dilap bagaimanapun keringatnya tak berkurang barang sedikit. Dazai menghela napas, menilik masih ada tanah lain yang belum mereka panen.
"Ada apa, Dazai-san? Mau beristirahat?"
"Mataharinya ada dua. Fenomena alam ini harus diabadikan~"
"Dua? Hanya ada satu, kok. Tidak seterik yang kemarin," timpal ayah Kenji yang membuat kotak dari telunjuk serta ibu jari, lantas memuji-muji mentari yang benar-benar sempurna sekarang. Beliau juga menceritakan soal padang bunga matahari. Menyuruh Dazai ke sana bersama kelomang peliharaannya dari menang taruhan, siapa tahu ada wanita yang jatuh cinta.
"Bukan begitu, Sayang. Kepalanya pusing maksudnya. Kau juga istirahat sana. Baru sembuh dari penyakit aneh itu padahal," balas ibu Kenji yang geleng-geleng mendengar suaminya setelahnya tertawa. Awal-awal Dazai mengira ayah Kenji menyeramkan, tetapi nyatanya hampir setiap saat mengobrolkan apa pun secara acak, atau bercanda kelewat garing.
"Pusing, toh. Temani dia istirahat, Kenji. Bentar lagi kayaknya onigiri-nya datang. Ayah, sih, baik-baik saja asalkan bersama ibumu."
"Ayo kita ke saung. Dazai-san baru kali ini ke sana, 'kan? Tempatnya bagus untuk menikmati angin."
Saung yang berada di tengah-tengah sawah tidak berpenghuni sama sekali. Sinar matahari dihalau oleh atap rumbia. Sesuai perkataan Kenji angin lebih sejuk untuk dirasai, dan sejurus kemudian nenek Kenji datang membawakan onigiri yang dimaksud–tak ketinggalan teh oolong dingin, sekaligus kudapan macam uiro, dorayaki, manju, yang mungkin masih ada yang lainnya.
"Maaf, ya, Ken-chan. Padahal jarang-jarang kamu kemari, tetapi malah membantu panen dan ini hari ulang tahunmu."
"Tenang saja, Nek. Temanku juga senang bisa membantu. Hanya saja dia terlalu bersemangat sampai pusing." Apa sebenarnya antusias itu di tengah-tengah cuaca yang sinting ini?
"Ya ampun. Dinginkan dulu tubuhmu dengan teh. Manisannya jangan lupa dimakan. Cocok untuk menambah tenaga supaya tidak lemas."
Gelas tanah liat yang sengaja ditinggalkan di atas saung diambil. Teh pun dituangkan hingga penuh yang langsung disodorkan kepada Dazai, dan diterimanya sesopan mungkin. Belum lama berbincang nenek pamit ke tempat lain. Berterima kasih sekali lagi kepada Dazai yang berteman dengan Kenji, menjaganya di kota yang belum pernah nenek lihat membuat cemas selalu ada, terakhir memohon bantuan Dazai untuk seterusnya beserta anggota-anggota lain.
"Keluargamu sangat baik. Lain kali sering-seringlah pulang."
"Agensi semakin dikenal banyak orang. Pekerjaannya juga bertambah. Semuanya paham, kok. Selama aku tidak lupa mengirimkan surat maka baik-baik saja."
"Motivasi Kenji-kun pergi ke kota itu untuk membantu ekonomi keluargamu, bukan?"
"Uhm! Setidaknya jika panen gagal keluargaku masih memiliki uang. Jauh dari kelaparan hati pun senang. Camilan yang nenek bawakan buatan dia semua, lho." Dorayaki Kenji santap pertama kali. Ditawarkannya kepada Dazai yang menolak secara halus, bahkan belum menyentuh teh yang nenek suguhkan.
"Heee~ Hebat banget. Harusnya Ranpo-san ke sini juga nanti." Detektif andalan agensi itu adalah fans nomor satu makanan manis. Kenji mengangguk-angguk yang oleh karenanya, ia berjanji akan membawakan banyak camilan.
"Ketika kecil nenek membuatkan kue pai setiap aku ulang tahun. Nanti malam Dazai-san bisa mencobanya. Jangan sungkan-sungkan."
Tanggal 27 Agustus yang berarti sekarang merupakan ulang tahun Kenji, sehingga Dazai berniat menyuruhnya lebih banyak bersama keluarganya, andaikata onigiri tak tahu-tahu masuk tanpa permisi. Selesai dengan dorayaki Kenji juga melahapnya. Menunjukkan bagian yang sudah digigit seolah-olah bilang, "Kita impas", membuat Dazai tersenyum
"Makanmu sedikit banget soalnya dari kemarin. Kukira masih segan."
"Dari dulu makanku sedikit. Tak usah khawatir."
"Tubuhmu tinggi. Kesannya Dazai-san terlau kurus." Telunjuk Kenji juga mengarah pada biru langit yang entahlah berarti apa. Tiada apa pun selain awan yang berarak pelan, atau dengan isengnya menyerupai beberapa bentuk. Warnanya benar-benar bersih. Beda dengan di perkotaan yang seperti pudar.
"Ingat Bibi Mito yang meninggal gara-gara insiden itu? Nenek sama ibuku belajar memasak dari dia. Meski lebih muda kemampuannya sangat hebat, dan kalau Bibi melihatmu makannya sedikit dia pasti memasak lebih banyak."
Insiden yang sempat terngiang di benak Dazai terjadi seminggu lalu, di mana para warga mendadak jatuh sakit tanpa sebab jelas. Kulit mereka menghitam. Lama-kelamaan jika dibiarkan, tubuh korban menjadi abu yang rata-rata terjadi dalam dua hari. Ibu Kenji sampai menelepon. Mula-mula hanya Yosano Akiko, dokter wanita agensi yang akan diutus, tetapi Edogawa Ranpo berkata yang seharusnya pergi adalah Dazai.
"Ulah pengguna kemampuan khusus dari desamu ternyata. Didorong ke jurang saja padahal, seperti yang biasa kalian lakukan."
"Mau bagaimana lagi? Kami enggak tega, karena sudah mengenal sangat lama. Lagi pula Sakaguchi-san dari Departemen Kemampuan Khusus sudah mengurusnya. Kalau bisa tak dibunuh, kenapa harus melakukannya?"
"Korban jiwanya enggak sedikit, Kenji-kun. Dia mati pun mana sepadan dengan warga yang terbunuh gara-gara kemampuannya? Ayahmu juga hampir mati."
"Ataukah jangan-jangan Dazai-san merasa bersalah?" tanya Kenji yang kali ini mengunyah manju. Sebagai penegasan Dazai menggeleng. Membicarakan mantan mafia sepertinya Dazai hanya geregetan jika cecunguk yang begitu sekadar dipenjara. Namun, apa pun keputusan Kenji serta warga desa, Dazai juga mana tega menghasut agar pengkhianat dirajam saja.
"Diriku bukan Kunikida-kun. Mati, ya, mati, tanpa arti lainnya. Aku yakin rencana yang kupunya adalah jalan tercepat. Menyelamatkan semua orang itu mustahil, dan pengorbanan mereka berarti besar."
Rasa-rasanya sekarang ini Dazai ingin menyumpal mulutnya dengan onigiri selamanya, karena perkataannya mungkin mengundang Kenji yang itu. Bibi Mito adalah tetangga dekat Kenji. Apa yang almarhumah pikirkan, atau yang ia rasakan mengenai rumahnya sewaktu beliau bahagia, sedih, kecewa, bahkan marah, keluarga Miyazawa akan tahu tanpa perlu kata-kata.
Sebelum ke sawah mungkin Kenji menatapnya lagi–kediaman Bibi Mito yang kosong melompong. Baru membayangkannya saja Dazai tidak tahan, lebih-lebih terkenang mengenai Kenji yang semestinya tak terlalu Dazai tanggapi berlebihan juga.
Matahari yang bahkan silau pada masa-masa tersulit agensi akhirnya tumbang. Garis wajahnya adalah di mana sendu masih tersisa, bersembunyi di balik lengkungan bernama senyuman, atau seulas tawa, dan wajar sekali Kenji memiliki yang seperti itu. Ia pun manusia yang bisa merasai duka dari luka, apalagi empat belas tahun adalah tempat dari emosi yang masih ingin menang sendiri, tetapi jujur saja Dazai kurang menyukainya.
(Saat Kenji selalu ceria tanpa mendung di sekelilingnya, bukankah wajar Dazai kurang menyukai Kenji yang menjelma sedu sedan?).
"Menurutmu bagaimana soal proses pembuatan nasi?"
"Melihatnya secara langsung ternyata lebih ribet daripada dugaanku, apalagi kalian masih menggunakan cara tradisional. Kenapa?" Mata Dazai berlari secara spontan ke arah sekelompok wanita muda yang memukul-mukulkan padi ke alat perontok. Pasti amat menguras tenaga. Namun, dengan mudahnya kembali bersemangat oleh bento penuh cinta.
"Nenekku pernah mengajari filosofi dari nasi. Nasi memerlukan proses yang panjang, mulai dari sawah dibajak seharian, penanaman padi sekitar 21 sampai tiga puluh hari, di hari ke seratus baru berbiji, dipanen di hari ke-122, dijemur di hari ke-130 dan digiling, lalu dipasarkan di hari ke-132."
"Perjalanannya panjang, meskipun melahapnya terasa mudah. Namun, tak benar-benar mudah saat kita harus mengunyahnya terlebih dahulu, barulah bisa memberikan kekuatan."
Jeda Kenji ambil untuk menarik napas. Senyumannya masih bertahan, meski terdengar menyakitkan untuk menjelaskan semua itu.
"Nasi tersebut sama seperti Bibi Mito, Dazai-san. Beliau pun memiliki perjalanan yang panjang, dan dia, kita, walau manusia mudah mati, pertama-tama berjuang dulu untuk hidup, kemudian juga menjadi kekuatan bagi yang masih hidup."
Kehidupan tidak selamanya hidup. Kematian bukan berarti mati begitu saja.
Onigiri yang terbuat dari nasi ini telah Kenji kunyah, telan, dan perlahan-lahan dicerna oleh usus. Semenjak menjadi beras padi pun mati, hidup lagi sewaktu manusia mengolahnya sebagai aneka masakan, lalu mati lagi tatkala masuk ke dalam mulut.
Berkat pengorbanan itulah Kenji memperoleh kekuatan baru setiap harinya, begitu pun kematian Bibi Mito yang cara kerjanya menyerupai nasi tersebut–dari sanalah Kenji perlahan-lahan melihat dunia yang berbeda tanpa Bibi Mito; hal yang nantinya memberikannya sesuatu paling lain yang membuat Kenji kian matang dalam keteguhan, lebih-lebih di hari ulang tahunnya ini; Kenji akan bahagia, daripada Bibi Mito sedih menontoni Kenji berduka.
"Pada akhirnya kematian tidak selamanya buruk. Kita juga mendapatkan kekuatan dari sana. Itulah yang kupercayai, Dazai-san."
Lembut sekali cara senyuman itu mekar, tetapi bahkan matahari pun tak selembut ini menimbulkan kesan rapuh yang ujungnya hanyalah sendu. Dazai mengelus-elus rambut Kenji. Ikut mengembangkan seulas garis lengkung yang menyenangkan.
"Sangat cocok denganmu, Kenji-kun. Kematian memberikan kekuatan, bukan depresi atau sejenisnya. Bukan berarti aku tidak menyukainya juga, tapi sebelum menerima kekuatan baru dari kematian itu, kenapa tak melepaskan yang lama dengan menangis?"
Dazai kurang menyukai Kenji yang bersedih, kehilangan, ketika remaja ini cenderung mempertahankan dirinya yang biasanya yang penuh kegemilangan. Kenapa harus begitu? pikir Dazai. Apakah mentang-mentang selalu cerah, menunjukkan lebam pada dirinya–sesuatu yang tidak dapat menampakkan terang-terangan keberadaannya sebagai luka–menjadi salah? Tabu? Dilarang?
Sebagai seseorang yang mengalaminya lebih pertama dan sudah telanjur, Dazai hanya ingin memperbaiki yang tak bisa lagi dibetulkan darinya–kebiasaannya memalsukan selengkung garis untuk tersenyum pada orang lain– terlebih dia adalah Kenji yang tentu saja, tidak bisa Dazai biarkan begitu saja, bukan?
"Dari pengalaman hidupku, sih, kalau tidak menangis sekarang juga saat ditinggalkan, lama-kelamaan akan sakit, dan ingin pun enggak bisa lagi. Kenji-kun juga mau menangis, bukan? Di sini tak akan ada yang mengataimu lemah atau apa pun. Anggap saja kau memberi hadiah pada dirimu sendiri juga. Bagaimana?"
"Dazai-san ..."
"Perasaan seperti itu juga aku memahaminya. Justru dengan menangis kau kuat, karena membuat dirimu terlihat lemah."
"Dibandingkan menangisi kematian Bibi Mito, ada yang lebih kuinginkan." Selain kesedihan Kenji pun menderita dalam rasa takut, dan tidak benar-benar reda walau ayahnya sudah lalu lalang tanpa banyak-banyak memusingkan. Kenji hanya kacau. Bertanya-tanya, bolehkah yang satu ini dibasahi air mata? Meskipun perasaan itu untuk Dazai, ia memiliki hak tak mengetahuinya.
Begitu pun Kenji yang memiliki hak, apakah ia mengatakannya atau menyimpannya? Tidak semua hal harus ditunjukkan bahwa ia ada, bukan?
Terbuka setiap waktu bukan berarti Kenji tidak memikirkan yang lain. Jika kejujurannya menyakiti seseorang, tetapi itu diperlukan, Kenji tetap jujur karena ia percaya. Namun, hati Dazai yang tak diketahui Kenji bagaimanannya, untuk menyatakan sesuatu yang lebih mendalam jelas membutuhkan usaha yang sulit dibayangkan–benar-benar gelap,
"Terima kasih telah menyelamatkan ayahku, Dazai-san. Aku lebih ingin menangis karena itu. Syukurlah kamu bisa membuktikan ayahku tidak perlu berhenti di sini. Banyak yang belum kulakukan untuknya, begitu pun untuk ibu."
"Awalnya aku tidak bisa mengatakannya, tapi aku benar-benar ingin menangis karena itu. Pasti a–"
Tetapi semua kabut tersebut sudah menghilang kini.
Musim panas yang terik justru terasa nyaman, tepat ketika Kenji menangis dalam bisu di mana Dazai memeluknya. Berbisik, "Itu tidaklah aneh, selama kau menangis demi yang kau percayai, itu pantas ditangisi". Matahari sudah kembali. Dazai tiada berkata-kata lagi, karena ia gagal menyangka akan memperoleh terima kasih seindah itu.
Tamat.
A/N: Unsur ultahnya gak berasa banget yak wkwkw. ide ini udah lama banget dari taun lalu juga, tapi baru bisa dieksekusi sekarang dan kupikir gabung aja sama ultah kenji. sebagian di sini pake oc kayak bibi mito sama shinji. karena pertimbangan DaKen ini interaksinya nol di anime, meski offical bikin art mereka bareng sih, makanya aku bikin mereka gak terlalu banyak ngobrol. aku juga pengen membuat kenji yang "beda" yang gak selalu terbuka tentang sesuatu. dazai meski rekan kerja dia tetep rasanya asing, dan ya ga semua perasaan bisa langsung diungkapkan ke semua orang kan? tapi karena dazai membuka diri duluan kenji pun balik deh ke kenji yang biasa~
Aku minta maaf atas segala kekurangannya, mungkin kayak kenji-nya ini malah OOC banget, atau ini kurang worth it buat dibaca. thx buat yang udah mampir~ sampai jumpa di lain fic.
