Naruto dan kawan-kawan bukan milik saya, tapi milik Masashi kishimoto


WARMING: fanfic ini adalah bentuk republish dari Wattpad dengan judul yang sama, dengan revisi dimana-mana. this is my first story in Fanfiction, so please enjoy and give some reviews...


Kelap-kelip lampu disko itu terasa menyilaukan. Alunan musik hardrock juga sangat memekakan. Belum lagi aroma bir dan parfum menyengat menguar dan sangat memuakkan. benar-benar menggambarkan surganya dunia bagi mereka yang hanya ingin melepas kepenatan meskipun hanya sementara.

Di tengah ruangan, lantai dansa diisi oleh puluhan pasangan maupun single untuk menari. Berlomba-lomba melenggak-lenggok tubuhnya demi kepuasan. Stilletto, pantople, ataupun sneakers berpacu demi menghasilkan gerak terbaik. Di seberang sekeliling lantai dansa, para pelanggan yang mungkin sedang malas menari menikmati minuman dengan ditemani wanita-wanita penjaja cinta. Gombalan dan rayuan teredam oleh kerasnya bunyi musik. Tapi,siapa yang peduli?

Uchiha Sasuke menghela nafas panjang. Pria dewasa berusia 27 tahun itu menyenderkan tubuh tegapnya di sofa yang berada di atas lantai dansa. Yups, lantai eksekutif lebih tepatnya. Kerlingan dan tawa genit dari wanita-wanita penjaja cinta, atau bahkan datang dari tamu eksekutif yang lain diabaikannya. wine merah yang sedari tadi digenggam tangannya pun terasa percuma. Sasuke juga mengabaikan aktifitas sahabat-sahabatnya yang dinilai sangat tak penting.

Lihat saja itu, si kuning Jabrik, alias Namikaze Naruto yang memaksanya datang kemari malah sibuk sendiri dengan menggoda wanita-wanita yang berpenampilan super seksi. Lalu, di sebelahnya ada Nara Shikamaru yang malah teler meski tanpa menenggak segelas alkoholpun. Apa dia pikir ini kamarnya? Lalu disampingnya ada Shimura Sai yang sedang tersenyum tak jelas pada beberapa gadis abg di lantai bawah yang langsung histeris. Di samping Sasuke sendiri, Hyuga Neji sendiri sedang menikmati wine dengan mata terus memicing ke arah Naruto, seolah bisa mencabuti kumis kucing aneh di kedua pipinya.

"dobe, hentikan itu!!" Naruto langsung menghentikan godaannya pada wanita bersurai hitam seksi itu. Sasuke menghela nafas.

"ck, apaan kau Teme!! Aku kan sudah bilang mau bersenang-senang malam ini!!" rajuknya dengan bibir mengerucut yang sangat menjijikkan di mata Sasuke.

"merepotkan, teruslah bersenang-senang hingga akhirnya Neji mengulitimu setelah ini"

"hei!!! Memangnya kenapa Dattebayo?!! Lagi pula aku kan hanya ingin bermain," bela Naruto tak terima.

"hn, teruslah bermain hingga kau puas!" lalu, kata-kata itu keluar dari Neji yang berhasil membuat Naruto bungkam dengan wajah bergidik. Astaga, dia tak akan berani pada calon kakak iparnya ini.

"hem, kukira Naruto hanya takut pada dua hal, kemarahan Kushina ba-chan dan kehabisan ramen. Tertanya dia juga takut pada ancaman Neji ya, hahaha" Naruto memicing ke arah Sai yang masih menebar senyumnya itu. Fake smile.

"hei kau bang--" Naruto hendak menghajar Sai kalau saja dering ponsel Sasuke tak menguar disekitar ruangan. Tanpa memeriksa id challing nya, pria raven itu langsung mematikannya.

"kenapa Teme?! Dari Itachi-nii lagi? Apa dia menyuruhmu menikah lagi? Hahahaha.." Sasuke mendengus kesal. mamusia yang mengaku sahabat sepopoknya ini selalu saja memojokkannya dengan kata itu. Lihat saja, bahkan Kiba yang baru datang langsung tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Shikamaru, Neji dan Sai sampai terkekeh geli.

"hn,"

"ah, Teme nggak seru!!! Kalau begitu segeralah cari pasangan Teme... Cuma kau saja loh, disini yang belum punya pasangan, ah.. Kiba juga sih,"

"hei!!! Aku sedang dalam pendekatan bodoh!!" seru Kiba tak terima.

"pendekatan? heh!!! Kau hanya peduli dengan Akamaru mu itu!!" lalu perdebatan tak penting terjadi diantara Inuzuka Muda dan Namikaze pirang. Sementara ponsel Sasuke kembali berbunyi. Lagi, Sasuke menekan tombol reject. Begitu seterusnya sampai Sasuke jengah dan membanting ponselnya dimeja, yang sukses membuat pertengkaran tadi terhenti.

"Shion?" mendengar gumaman dari Neji itu membuat Sasuke menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Ya, panggilan itu adalah dari Shion. Wanita yang paling ingin dihindarinya saat ini. Sungguh! Sasuke kemari hanya ingin melupakan sejenak permasalahan rumit yang membelenggu hidupnya itu.

Sebuah tepukan pada bahu menyadarkan Sasuke dari dunianya. Naruto memandangnya dengan sorot iba yang paling dia benci. Sasuke tidak suka dikasihi. Baginya tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan. Ayolah, dia adalah bukan anak kucing yang kehilangan induknya. Jelas diberi tatapan iba seperti itu membuat Sasuke makin jengkel. Segera saja dia menepis tangan Naruto dengan kasar.

"yah Teme, kan aku tidak tahu kalau ternyata si pirang itu..."

"kau juga pirang, Baka Naruto" dengus Kiba. Mendengar perkelahian yang hampir mencuat lagi membuat Shikamaru memutar mata bosan.

"kau benar-benar tak bisa melepaskannya?" pertanyaan Neji membuat Sasuke menoleh pada pemilik mata bak mutiara itu. Apa dia tidak bisa melepaskannya? Ya, pertanyaan itu yang selalu terngiang di otaknya. Dia adalah pemuda egois tak berperasaan dan semua orang tahu itu. Jadi kenapa dia tak bisa melepaskan Shion. Bukankah itu mudah? Apalagi saat ini wanita itu sedang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Bukankah itu semakin mudah?

"apa kau masih mencintai Sara?" tidak! Jangan nama itu lagi. Sasuke menghela nafas lelah. Bahkan hanya dengan mendengar nama itu berhasil membuat jantung Sasuke berdenyut sakit tak karuan.

Sasuke memijat pangkal hidungnya. Berharap ini dapat memudahkan jalan pikirnya. Kenapa dia harus terjebak dalam kisah rumit seperti ini? Kenapa dia tak bisa menentukan siapa gadis yang akan menjadi kekasihnya dan langsung dinikahi setelahnya?

"kurasa, kau harus segera memutuskan Sasuke. kau jelas harus memilih diantara keduanya" Sasuke berpaling kepada Naruto. Mendengar sahabatnya itu tak memanggilnya 'Teme' jelas tanda bahwa si pirang itu sedang serius.

Sasuke tidak menjawab dan melirik arlogi di tangannya. "aku duluan" setelah menyampirkan jas di pundak kokohnya, pria bermata onyx itu pergi begitu saja.

"dasar! Dia masih saja tsundere" cibir Naruto.

"lagipula dia hanya perlu bersikap tegas pada Shion dan tinggal mengungkapkan perasaannya sama Sara kan? Kenapa jadi ribet. Terus dia kan juga tampan plus mapan, kenapa nggak cari gadis la—WOI APA YANG KAU LAKUKAN!!" naruto memberi deathglare pada Kiba yang seenaknya melempar jas kepadanya.

"diamlah baka! kau tak mengerti bagaimana rumitnya hidup Sasuke"

"hn, dia memang memiliki segalanya. Tapi kehidupan pribadinya tak semulus karirnya. Lagipula, kita tak pernah tahu jalan pikirannya. Sasuke hanya perlu mengikuti alur dari keputusannya nanti. Kita doakan saja" perkataan bijak (?) dari Shikamaru itu sukses membuat mereka terdiam.

(((--)))

Konoha's hospital

"kenapa lama sekali sih, Sasuke-kun.." Sasuke menatapnya datar. Dia segera meletakkan segelas susu putih dingin dan bermacam buah-buahan di lemari samping ranjang. Shion, gadis berhelaian pirang itu segera menenggak susu tadi dengan berbinar-binar. Apalagi yang bisa membuatnya senang selain ini? Bukan karena segelas susu. Tapi sosok pria yang paling dicintainya selalu menemaninya setiap hari.

"bagaimana harimu? Ah, pastinya sangat menyenangkan. Aku jadi rindu ingin melihat dunia malam Konoha. Astaga," Shion mulai berceloteh tentang bagaimana harinya yang datar dan membosankan di rumah sakit. Gadis itu seolah melupakan semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya jika sudah ada Sasuke disini. Bercerita dengan riang seolah penyakit jantung hanyalah sebatas demam biasa, tanpa memperhatikan raut wajah Sasuke.

Gadis ini, gadis yang lebih muda dua tahun darinya. Gadis yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya, sekaligus gadis yang menghancurkan persahabatannya dengan gadis yang paling dia cintai, Sara. Sasuke selalu ingin memaki dan meninggalkan gadis ini jika teringat kejadian itu. Tapi meskipun begitu, Sasuke tetap memiliki belas kasihan untuk masih menjaga Shion.

Semua berawal dari perceraian orang tua Shion dua tahun yang lalu. Ayah Shion yang ketahuan berselingkuh dibelakang ibunya, hingga membuat ibu Shion sakit-sakitan dan meninggal setelah setahun perceraian. Hal ini tentunya membuat Shion terpuruk. Belum lagi, saat gadis bermata violet itu tahu bahwa wanita selingkuhannya adalah ibu Sara, gadis yang sebelumnya sudah dianggap kakak perempuannya.

Kemudian pesta pernikahan digelar dengan meriahnya, melupakan fakta bahwa putri masing-masing dari pasangan itu menyimpan kekecewaan yang mendalam. Shion, yang sejak kecil menderita jantung shock dan berulang kali keluar masuk rumah sakit hingga berakhir sebulan belakangan ini. Fakta yang paling menyakitkan lagi adalah bahwa ayahnya tidak mau menjenguknya dengan alasan Shion bersifat kekanakan. Dan gadis itu juga enggan untuk menemui ayahnya karena dia sudah lebih dulu sakit hati. nah, lalu siapa yang lebih kekanakan disini, dan apa hubungan Sasuke dengannya?

Sasuke sendiri tidak tahu jawabannya jika ditanya hal itu. Yang Sasuke tahu, bahwa ibu Shion meninggal ketika dilarikan menuju rumah sakit. Dan tebak? Ibu Shion mengatakan agar Sasuke selalu menjaga putrinya itu. Membuat Sasuke menjadi penopang hidup Shion hingga saat ini.

Lalu, bagaimana bisa Shion menjadi penyebab kehancuran persahabatan Sasuke dengan Sara? Mudah, Shion datang melabrak Sara dan mengatakan bahwa Sasuke mencintai Sara dan menyuruhnya untuk menjauhi Sasuke saat itu juga. pada malam itu, di bawah guyuran hujan Sara mendatanginya di depan kantor dan mengatakan kekecewaannya pada Sasuke.

Sara bilang bahwa Sasuke telah mencemari persahabatan mereka karena perasaan Sasuke. Dan Sasuke yang seketika itu tahu bahwa Sara mengetahui rahasianya dari Shion langsung datang ke rumahnya dan membentaknya. Dia sungguh marah. Tapi selanjutnya Sasuke sangat menyesal karena penyakit gadis pirang itu kambuh dan berakhir di rumah sakit sampai sekarang.

"ne, Sasuke-kun," tepukan lemah di punggung tangan Sasuke menyadarkannya dari kilatan masa lalu. Sasuke menatap kilau sendu di mata violet itu. Kilau yang bisa membuat amarah Sasuke berada di puncaknya.

"kau tidak mendengarkanku ya, hahaha... aku tahu itu" Shion tertawa dengan sangat terpaksa. Sasuke tidak akan pernah menganggapnya sebagai seorang wanita kan? Selalu sebagai pengganggu hidup nya? Tapi apakah salah jika dia ingin memperjuangkan cintanya?

"padahal, aku memaksa mataku untuk tetap terbuka sampai saat ini agar aku bisa bercerita padamu" air mata mulai turun dari kelopak mata itu.

"aku tak bisa bercerita kepada siapapun lagi selain dirimu, semua orang membenciku dan meninggalkanku begitu saja. Andai Kaa-chan masih hi—"

"cukup!!" Sasuke menatap iris violet itu tajam "jangan membawa namanya lagi" katanya dengan nada tajam.

"lalu apa yang harus kulakukan lagi supaya kau berpaling kepadaku, Sasuke-kun? tak bisakah kau melupakan Sara dan melihatku? Aku minta maaf karena membuat persahabatan kalian hancur. Tapi aku tak bisa melihatmu terus menderita saat Sara selalu mengejar Gaara, Sasuke-kun hiks...hiks..." Shion mulai terisak. Hal yang paling ingin dihindari Sasuke. Gaara, mendengar nama itu membuat tangannya terkepal ingin menghancurkan sesuatu.

"ku-kumohon Sa-Sasuke kun, lihat aku seb—"

"cukup Shion. Beristirahatlah" Sasuke melepas kedua tangan Shion yang berada di ujung jasnya.

"aku harus pergi" setelah itu Sasuke meninggalkan ruang perawatan menyisakan Shion yang masih terisak. Sasuke hanya tak sanggup harus mengingat kejadian itu.

Bukankah Sasuke terkenal sebagai pria dingin dan kejam di meja bisnis? Mematikan siapapun yang ingin mengalahkannya dengan ucapan tajamnya. Lalu kenapa sekarang mulut itu hanya diam saat berhubungan dengan Shion. Sasuke ingin menertawakan dirinya.

...

Uchiha mansion

Hening, hanya bunyi alat makan yang saling bergesekan yang kini terdengar di ruang makan besar itu. Bahkan suara cempreng anak kecil yang biasa mendominasi hilang sudah. Tergantikan dengan khidmat adat istiadat di atas meja makan. Pemandangan rambut hitam dan onyx yang sama-sama tertunduk dan fokus pada makanan yang hampir habis itu membuat Madara, sang kakek tampan berfikir bagaimana jika ada warna terang lain di meja makan ini. Lalu, onyxnya beralih pada pemuda yang duduk di tengah.

"hn, jadi kapan kau menikah, Sasuke?" pertanyaan dengan nada datar itu sukses membuat seluruh atensi berpaling pada sang penanya, dan kemudian pada yang ditanya yang malah menulikan pendengaran itu.

"iya, Sasu-kun, kapan kau akan menikah?" suara lembut dari wanita berumur kepala lima itu sukses membuat Sasuke menghentikan gerakan sumpitnya.

"hu um, iya kapan Cacuke ji-chan menikah? Aku bocan di lumah besal ini cuma cama Kaa-chan dan Baa-chan, kapan Cacuke ji-chan menikah?" suara cempreng itu membuat pegangan Sasuke pada sumpit makin mengerat. Seolah bisa mematahkannya kalau sampai ada satu suara lagi.

"heh, jangankan menikah. Membawa seorang gadis ke rumah saja tak pernah. Makanya jangan kerja terus," KRAKK!! Lalu sumpit itu benar-benar patah begitu mendengar suara bariton dari pemuda yang lebih tua empat tahun darinya itu.

"aku sibuk" hanya dua kata itu saja yang selalu menjadi jawaban Sasuke saat dirinya ditanya pertanyaan keramat itu. 'kapan menikah?' oh astaga, demi Kami-Sama... apa dia sudah setua itu dan tak laku hingga keluarganya selalu bertanya setiap ada kesempatan. Dia masih 27 tahun...

"kau selalu menjawab seperti itu Sasuke-kun. Rumah besar ini butuh suara anak kecil" Uchiha Mikoto,sang ibunda cantiknya mulai merengek.

"kan sudah ada Yuki, Kaa-san.. kalau kurang tinggal suruh Izumi-nee dan Aniki membuatnya lagi kenapa?" dan jawaban ngawur dari Uchiha bungsu itu sukses membuat wajah Uchiha Izumi memerah.

"kau kan sudah tahu aku belum bisa hamil sebelum Yuki berusia 10 tahun," Izumi menimpali masih dengan wajah memerahnya.

"lagian, kau kan tampan Sasuke-kun.. mapan lagi. Kau tinggal milih saja kan?" oh, apakah memilih calon istri semudah membeli tomat di pasar?, Sasuke menghela nafas.

"iya..ayolah ji-chan.. kata tou-chan kalau ji-chan menikah nanti Yuki dapet temen adek bayi... ayolah.."rengekan ponakan kesayangannya itu membuat Sasuke melempar deathglare para Itachi yang hanya terkikik.

"hn, kau sudah berhasil membangun usahamu sendiri Sasuke, cepatlah cari pasangan. Kau sudah dewasa. Kau butuh seseorang untuk merawat dirimu" dan suara Uchiha Fugaku membuat mood pagi Sasuke memburuk.

"apa kau mau kuperkenalkan pada anak kenalan Kaa-san.. ya ya ya?" Sasuke jengah. Dia benci jika ditanya masalah seperti ini. Menyebalkan.

"ah, kau pernah membawa Sara-chan kesini beberapa bulan lalu, kenapa tidak dengannya saja. Dia gadis yang manis dan anggun. Ah, atau Shion-chan.. dia gadis yang ceria. Kenapa ti—"

"aku berangkat" Sasuke segera mengambil langkah cepat untuk menjauh dari keluarga berisiknya ini. Oh, sejak kapan Uchiha yang terkenal dengan kekalemannya itu jadi mendadak cerewet jika mengenai masalah pernikahan?

"apa aku salah bicara?" Mikoto bergumam pada dirinya sendiri. Itachi menghela nafas panjang sambil menepuk bahu sang ibunda.

"tidak, Kaa-chan..." hanya saja jangan menyebut 2 nama gadis itu. Itachi memandang sedih punggung kokoh adiknya yang makin menjauh itu sendu. Itachi tahu dengan jelas seluk beluk kehidupan Sasuke bahkan kisah percintaanya, tapi dia memilih diam dan tak mengatakannya pada keluarganya yang lain.

"Itachi, kuharap kau bisa membantu adikmu apapun yang terjadi" suara sang kakek membuyarkan lamunannya.

"hai, Madara Jii"

...

Rinnegan Group

"ohayou, Sasuke-sama.."

Uchiha Sasuke hanya menampilkan raut datar dan mengangguk tanda membalas sapaan dari seluruh pegawainya. Langkahnya yang lebar dan cepat terus berusaha menembus kerumunan karyawati yang mulai bergerombol untuk segera sampai ke ruangannya. Mengambil id card khusus Sasuke segera menggesekkanya pada lift yang disediakan khusus untuk para atasan. Ting! Begitu lantai 27 tertera di layar monitor, Sasuke segera melangkah cepat memasuki ruangan diikuti seorang pria berambut nanas yang membawakan jadwal dan beberapa lembar map. Siapa lagi kalau bukan Nara Shikamaru, sekretarisnya.

"ohayou, Sasuke-sama.."Sasuke merotasikan bola matanya malas. Tidak suka dipanggil begitu oleh sahabatnya.

"kau selalu terlambat 15 menit selama sebulan ini. Berkunjung untuk membeli baju, eh" seringai Shikamaru makin melebar saat Sasuke mendengus.

"hentikan itu, sekretaris" Shikamaru hanya terkekeh. Kemudian mereka mulai fokus pada dokumen yang baru saja Shikamaru bawa. Beberapa menit kemudian pintu kembali dibuka oleh seorang gadis berambut pirang tersanggul yang membawa sebuah nampan dengan dua cangkir kopi diatasnya.

"wow,kalian benar-benar serius. Ohayou, Sasuke-sama, Shikamaru-san" setelah itu gadis itu cekikikan tak jelas.

"hentikan itu, Ino" Shikamaru berucap dengan malas. Sedangkan Sasuke bersikap tak peduli.

"jangan ganggu mereka, Ino-chan.."lalu, seorang wanita anggun yang memeluk dokumen lain masuk dengan gaya bangsawannya yang khas. Hinata menumpuk dokumen-dokumen itu di meja Sasuke.

"oh ayolah, nona Hyuga, wajah-wajah datar mereka akan jadi triplex jika beraut serius seperti itu. Urat-urat wajah mereka bisa putus nanti" lalu, kedua wanita itu langsung cekikikan tak jelas.

"ohayou minna... ah, kau sudah datang Teme, apa kau habis berbelanja baju?" Sasuke mendengus. Kenapa manusia berambut pirang itu selalu datang dengan cengiran menjijikkannya. Membuat moodnya berkali-kali tambah buruk.

"hn, jangan mengganggunya" suara bariton itu sukses membuat mereka menoleh ke arah mereka. Hyuga Neji langsung datang dan duduk di shofa ruangan.

"kita ada rapat 15 menit lagi, kalau kalian lupa" katanya mengingatkan.

Well, Sasuke tak peduli dengan sahabat-sahabatnya yang tiba-tiba muncul seenaknya ke ruangan ini. Ini bukan ruang pribadinya, ini adalah ruang dimana dia dan sahabat-sahabatnya biasa berkumpul sambil prepare sebelum rapat dimulai. Ya, mungkin terdengar aneh dengan ruangan yang seperti itu. Toh kenyataanya di memang begitu. dan Uchiha Sasuke tak perlu memusingkan ejekan sahabatnya itu. Sudah biasa sejak dulu.

Perusahaan ini merupakan hasil dari kerja keras mereka bersama. Persahabatan manis sejak SMA, berlanjut masa kuliah yang sama-sama mengambil jurusan management bisnis membuat mereka sepakat membangun perusahaan sendiri. Lalu kenapa Sasuke yang terus mendapat akhiran 'sama' dibelakang namanya? Ya, karena Sasuke yang menjadi pemimpin alias CEO di perusahaan yang bergerak dibidang properti ini. Sasuke dinilai memiliki karakter kepemimpinan yang baik dibalik sikap tak pedulinya. Terbukti dari terpilihnya dia menjadi OSIS di masa SMA, dan menjadi ketua senat mahasiwa di kampusnya dulu. Selain itu, pengalaman bisnisnya sudah lebih jauh ketimbang sahabat-sahabatnya yang lain karena dia sering membantu ayah dan kakak nya yang mengolah perusahaan keluarga mereka. jadi, kurang apa coba? well.. singkirkan dulu kisah percintaan pahitnya.

Ino dan Hinata bukan bagian angkatan mereka. mereka lebih muda dua tahun dan seangkatan dengan Shion. hanya saja Sasuke masih bisa menerima kehadiran mereka di kehidupannya karena mereka tidak menyebalkan. mereka wanita yang mandiri, dan yang pasti tidak tertarik pada Sasuke karena mereka memiliki kekasih.

"ah, Sara mengundang kita untuk launching produk baju musim seminya nanti malam. Dia memberitahuku lewat e-mail. Kalian datang kan?" Sasuke langsung menghentikan jarinya yang menari di atas keyboard. Sara bahkan tidak mengundangnya secara pribadi. Bukankah mereka sudah bersahabat sejak SMP? Pantas saja butiknya terlihat ramai pagi ini. Ya, kegiatan yang membuatnya selalu datang terlambat 15 menit ke kantor adalah mengunjungi Saara. Ah, bukan mengunjungi. Mampir pun bukan. Lebih tepatnya Sasuke hanya menghentikan mobilnya di seberang butik Sara dan mengamati paras ayu gadis berhelaian merah kecoklatan itu dari balik kaca. Bukannya Sasuke pengecut atau apa. Tapi bukankah Saara yang memang menghindarinya mati-matian? Dan Sasuke cukup tahu diri untuk tak menampakkan ujung hidungnya.

Seakan tersadar oleh sesuatu, Ino segera menutup mulutnya. Dia benar-benar lupa kalau nama itu adalah nama keramat bagi Sasuke saat ini. Oh, mulut ceplas-ceplosnya kadang memang membahayakan. Apalagi menyadari ruangan yang awalnya ramai jadi sepi begini.

"well, waktunya rapat" Neji mengingatkan dan langsung bangkit ari tempat duduk diikuti yang lainnya. Sasuke juga bangkit sebelum pesan singkat datang dari kakaknya. Sasuke mendengus. Mungkin, mengikuti saran darinya tak buruk juga.

'hey otoutou, bukankah Shion dan Sara cukup menyebalkan?'

...

Ichiraku Ramen

Konoha, 20.00

Uchiha Sasuke bukanlah penggila ramen seperti sahabatnya dobe Namikaze Naruto. Dia juga tidak memiliki kepentingan bertemu klien di rumah makan sesederhana ini. Sasuke tidak pergi bersama teman-temannya yang lain karena saat ini dia hanya duduk sendiri di depan meja makan sambil menunggu makanan tiba. Bahkan Sasuke tidak tahu kenapa dia mengunjungi tempat ini dengan memakai kaos oblong coklat tua dan celana jeans belel, serta hodie hitam lusuh tersampir di bahunya. Sasuke tersenyum kecut begitu menyadari keadaan dirinya saat ini.

Onyx yang biasa berkilat tajam itu terlihat sendu. Ingatan kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya tak bisa berfikir jernih dan membuatnya terdampar disini. Saat dia dan sahabatnya yang lain datang memenuhi undangan launching Sara. Dengan setelan biru navi mahalnya, serta sebuah kado terbungkus rapi ditangannya, untuk sebulan belakangan saat itu adalah kali pertama dia berhadapan dengan Sara. Tak ada sapaan, ucapan selamat atau apapun, Sara segera masuk ke ballroom dengan air mata yang jelas menggenang di pelupuk mata. Sasuke tersenyum kecut dan detik berikutnya dia melangkah menjauhi ballroom tanpa peduli suara Naruto terus memanggilnya.

Hanya berdiam diri di mobil menatap kemewahan pesta launching itu tanpa bisa melihat paras ayu pujaannya. Sampai sebuah mobil sedan hitam lainnya terparkir di samping mobilnya dan keluarlah seorang pemuda berambut merah yang datang membawa sebuket bunga. Dari balik kaca, Sasuke dapat melihat bagaimana Sara yang langsung berlari dan menerjang memeluk pemuda itu dengan tangisan yang membuat hati Sasuke terasa diiris. Ya, tak perlu ditanya lagi bagaimana Sara bisa menangis di hari bahagianya. Dan begitu melihat Sara mencium bibir pemuda itu, Sasuke segera membanting stir dan pergi dari arena bahaya itu. Dia kalah bahkan sebelum bertempur. Dengan pemuda rival sekaligus sahabatnya dulu.

Pemuda itu, Saabaku No Gaara.

"tuan, ini pesanannya" Sasuke segera tersadar dari lamunannya begitu melihat seorang pelayan berdiri di sampingnya sambil meletakkan sepiring onigiri disana. Secangkir kopi hitam juga terlihat menggode dengan asap yang masih mengepul.

"ada lagi yang Anda inginkan, Tuan?" Sasuke menggeleng.

"baiklah..selamat menikmati" setelahnya pelayan itu berojigi dan hendak pergi, sebelum Sasuke menggumamkan kata tunggu. Pelayan itu menghela nafas dan berbalik.

"ada yang bi—"

"kau lupa dengan irisan tomatnya" potong pemuda itu datar. Sang pelayan mengernyitkan alisnya sebelum memeriksa daftar pesanan di meja ini.

"Anda tidak memesannya"

"hn, aku masih ingat mengatakannya tadi"

"tapi, ah baiklah..." Sasuke dengan jelas mendengar dengusan dari pelayan itu yang sedah berbalik. Beberapa menit kemudian, pelayan itu datang lagi dan membawa irisan tomat. Setelahnya, pelayan itu berojigi sebagai tanda penghormatan, sebelum seorang anak kecil menabraknya hingga tubuhnya limbung dan membuat kopi hitam tadi tercecer di baju Sasuke.

Sasuke menggeram marah dan segera berdiri. Dia hendak melangkah pergi sebelum sebuah tangan menahan lengannya.

"tunggu, Anda harus membayar Tuan!" perintah pelayan itu yang kini sudah tidak memakai topinya. Mungkin terlepas akibat dorongan tadi. Sasuke segera menepis tangan itu.

"hn, pelanggan adalah raja, kau sudah membuat selera makan ku hilang dan aku belum menyentuhnya. Jadi ak—"

"tapi anda sudah memesan!" dan suara memekik dari pelayan itu membuat Sasuke menatap tajam mata sang pelayan. Onyx segelap malam dan hijau seteduh hutan saling menantang. Sasuke menepis tangan itu dan segera melangkah pergi begitu saja. Moodnya tambah buruk hari ini.

Sasuke berjalan cepat untuk mencari kamar mandi umum dan membersihkan bajunya. Kini dia menyesal kenapa harus meninggalkan mobilnya di depan kantor dan malah menggunakan bis. Sasuke masih ingat saat tiba-tiba ide kakaknya terngiang di kepala, dan dia memutuskan untuk mencoba kehidupan baru dan meninggalkan kehidupan pahitnya dulu. Melepas semua pakaian mahalnya, mengambil beberapa lembar uang dan meninggalkan card creditnya dan menggantinya dengan pakaian lusuh. Dan sialnya lagi, hodie hitam tempat dia membawa uang tadi tertinggal begitu saja di tempat makan tadi. Membuat sialnya bertambah.

Saat kemudian Sasuke sadari dia cukup berjalan jauh dari pusat kota,dia tahu sudah tak ada lagi kamar mandi umum ataupun hotel.

Bahkan Sasuke lupa telah meninggalkan ponselnya di mobil tadi. Sasuke mendengus, kenapa dia jadi bodoh begini hanya karena melihat adgan ciuman Sara dan Gaara tadi.

"KYAA tolong aku!!!" Sasuke berjengit saat tiba-tiba seorang wanita memeluknya erat sambil terisak. Belum hilang keterpakuannya tiba-tiba tubuhnya terseret dan dalam hitungan detik tubuhnya telah terlempar menabrak ong sampah dibelakangnya. Sasuke yang tanpa persiapan pun harus menerima pukulan yang datang bertubi-tubi hingga rasa anyir karat memenuhi sudut bibirnya.

"ARGHHH" Sasuke hendak melawan saat tulang kering nya ditendang hingga menghasilkan bunyi kretek, dan kesadarannya menghilang sebelum mendengar suara cempreng menjerit dari arah jalanan

"HEI!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!"