Konoha University

"aish!! Dasar panda merah menyebalkan!!"

suara melengking plus cempreng itu menjadi salah satu suara yang membuat kantin kampus berasa lebih ramai. Di jam makan siang seperti ini, mayoritas mahasiswa akan langsung menyerbu kantin untuk mengisi perut sekaligus mengisi mental dari kejamnya dosen-dosen killer yang mengajar, atau memenuhi asupan gizi demi menghadapi tugas makalah presentasi yang menumpuk. Atau hanya sekedar isi ulang semangat dengan menggoda senpai tampan atau kohai cantik yang kebetulan lewat.

"hihihi, jidatmu akan semakin lebar, Saku" suara cekikikan dari gadis berambut hitam dan beriris merah dihiraukan Sakura yang sedang asik menjedot-jedotkan kepalanya ke meja kantin.

"bukan-bukan, yang kasian itu mejanya, nanti bisa hancur. Kalian tau sendiri kan bagaimana kerasnya jidat Sakura" dan suara tawa menggema di meja bundar itu.

"diamlah kalian Sarutobi menyebalkan.." dan geraman Sakura sukses membuat Mirai dan Konohamaru tertawa makin keras.

"hm, lagipula Gaara sensei itu tampan! Berhentilah memanggilnya panda merah!!" Sakura mendelik pada Matsuri yang sedang berangan-angan.

"tampan apanya?! Lihat saja lingkaran hitam matanya yang aneh itu! Mau membuktikan kalau dia sering lembur malam eh.. belum lagi wajahnya yang selalu datar itu!! Ingin kulempar pake apel busuk! Belum lagi sifatnya yang super duper menyebalkan dan pilih kasih itu!! Arghhh!! Aku akan gila!! Bisakah aku mengambil mata kuliah Ibiki sensei saja biar gak ketemu panda merah itu..." Sakura kembali menjedotkan kepalanya ke meja bundar disertai cekikikan dari 3 orang disekelilingnya.

"kau saja yang buta, Gaara sensei itu tampan, jenius, masih muda lagi. Dia menjadi dosen yang digilai sekampus. Sifat dingin dan datarnya itu yang membuatnya tambah keren dan misterius. Kau saja yang tidak suka, awas saja kalau suatu saat kau berbalik menyukainya. Aku akan menertawaimu...hahaha" ujar Matsuri.

"Cih, siapa juga yang bakal suka orang belagu seperti itu!!!" desis Sakura tak suka.

"ah, hati-hati dengan ucapanmu Saku, lagipula Gaara sensei juga tidak pilih kasih, dia menjawab semua pertanyaan dan menjelaskan dengan baik. Dia juga memberi saran bagi setiap penulisan yang kurang tepat. Teman-teman yang lain juga langsung pada mengerti kok" sambung Mirai.

"oh, dan satu lagi, Ibiki Sensei mana mau memaafkan orang yang sering terlambat sepertimu. Beda dengan Gaara sensei yang masih memberimu kesempatan karna kau punya otak lumayan encer" Konohamaru sukses membuat Sakura makin mendelik sebal.

Kenapa teman-temannya ini malah membela pada merah itu? Tahu begini Sakura tak usah curhat pada mereka.

"dan, dia juga tidak menyebalkan. Bukankah peraturan kampus melarang bagi seluruh mahasiswanya untuk tertidur di kelas. Bukan begitu Haruno-san?" dan suara datar itu langsung membuat empat kepala menoleh. Mata mereka terbelalak bahkan mulut Sakura membentuk huruf O saking kagetnya.

Sang sensei tampan alias panda merah bagi Sakura berdiri di samping Sakura sambil membawa nampan makanan di tangan kanan dan mengotak-atik handphone di tangan kirinya.

"matilah aku"gumam Sakura.

"kau belum mati, Haruno-san.. tapi ruanganku mungkin bisa menjadi tempat terakhir dalam hidupmu. Sampai jumpa jam 3 nanti" setelah itu, sang dosen tampan pergi meninggalkan Sakura yang hampir tak bernyawa dengan seringai tipis di sudut bibir. Berhasil membuat para makhluk bergincu merona dengan sendirinya.

...

Haruno Sakura berulang kali memanjatkan doa pada Kami-sama agar semuanya baik-baik saja. Tubuhnya masih mematung di depan sebuah ruangan dengan aksara kanji tertulis nama Saabaku No Gaara bertengger manis di depan pintu. Oh, haruskah dia masuk kesana? Dia memang tidak akan mati. Tapi dia mendengar Mirai mengatakan bahwa Gaara adalah dosen yang paling menyeramkan jika sudah memanggil mahasiswa ke ruangannya karena berbuat kesalahan.

Dan apa saja kesalahan Sakura? Dia baru tiga minggu masuk menjadi mahasiwa semester enam di fakultas kedokteran. Dia memang memiliki otak yang lumayan encer, tapi kelakuannya sangat buruk di kampus. Apalagi pada si panda merah maksudnya Gaara yang kebetulan adalah dosen PA nya. Sudah berapa kali dia terlambat? Hampir setiap saat di mata kuliah dosen itu. Sudah berapa kali dia tertidur? Di setiap mata kuliahnya karena masuk jam 7 pagi. Sudah berapa kali Sakura mencibirnya? Hampir setiap saat selesai mata kuliah tapi baru pertama kali ini ketahuan.

Lagipula, Sakura mana berani mencibir dosen berambut merah itu jika sedang di dalam kelas yang mayoritas pelajarnya berjenis kelamin perempuan. Menurutnya, mereka sangat mengganggu. Habisnya, mereka begitu berisik untuk menanyakan banyak hal tidak penting pada Gaara. Itu menghambat pengajaran, dan membuat kantuk Sakura makin berat.

Ini benar-benar menyebalkan. Gaara sensei juga tidak begitu tampan karena dia punya rambut merah yang selalu mengingatkannya kepada kakaknya, Sasori yang selalu menjahilinya dan berwajah sok imut. Gaara sensei juga tidak berlaku adil karena setiap Sakura mengacungkan jari untuk bertanya pasti dihiraukan begitu saja. Ya, meskipun Sakura sudah tahu jawabannya dan dia bertanya supaya dapat poin. Dan dia juga tiba-tiba menunjuk Sakura untuk diajukan pertanyaan setiap kuis saat masih tidur. Ya, walaupu tidur adalah kesalahannya... tapi tertidur kan tidak disengaja.

"apa kau begitu senangnya akan bertemu denganku sampai kau terus memandangi papan namaku, hem?" dan suara bariton itu sukses membuat Sakura merinding.

ditatapnya dosen kepala merah yang sedang menyeringai itu. Oh, bolehkah dia menimpuknya dengan sepatu?

Gaara membuka ruangannya dan segera duduk di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata sejenak. Mencoba menghilangkan penat dalam sekejap. Kemudian jade hijau sayu itu terbuka dan menemukan sang mahasiswi yang langsung duduk di depannya dengan menekuk wajah.

Dipandanginya wajah yang terlihat sebal itu. Rambut merah muda sebahu yang dicepol berantakan, kaos putih dipadukan flanel hijau kebesaran dan celana jins belel di dibawah lutut serta sepatu kets putih. Penampilan yang benar-benar bukan seperti mahasiswa kedokteran. Lebih tepat menjadi mahasiswi seni. Tunggu, kenapa Gaara jadi memikirkan itu.

"apa aku sudah menyuruhmu duduk, Haruno-san?" Sakura menghela nafas. Sabar Saku... dia kemudian berojigi dan berdiri di samping kursi.

"duduklah.."Gaara menyeringai. Wajah Sakura yang memerah itu dia jelas tahu bukan tersipu atau merona. Tapi menahan amarah.

"apa kau tahu kesalahanmu, Haruno-san?"

"gomenasai sensei, aku tidak bermaksud menjelek-jelekkanmu..." Sakura meminta maaf dengan tidak niatnya.

"Habisnya kau memang seperti panda sih, sensei. lihat saja kantung matamu yang seperti pakai eyeliner meluber, apalagi rambut merah kusutmu itu...hihihi" dan tanpa sadar Sakura cekikikan tak jelas. Membuat urat dikening kepala Gaara terlihat. Sabar... Gaara.

"kau tidak pernah menyesali perbuatanmu, Haruno-san"

"maka dari itu sensei yang tampan, segeralah berikan aku sebuah hukuman supa—"

"kau mengakuiku tampan sekarang?"seringai Gaara tercetak. Bibir Sakura mengerucut.

"jangan mengalihkan pembicaraan sensei, aku tak punya waktu. dan hentikan seringai menyebalkanmu itu" dengus Sakura kesal. Gaara hanya memerhatikan ekspresi wajah Sakura yang berubah dengan mudahnya itu.

"ayolah Gaara sensei... segera beri aku hukuman supaya aku cepat keluar dari ruangan ini. Lagipula apa kau tak punya pekerjaan lagi setelah ini?"rengek Sakura yang mulai hilang kesabaran. Oh, ayolah... dua jam lagi dia harus bekerja part time, sedangkan sebelumnya dia harus berbelanja karena kulkasnya sudah menipis. Apalagi melihat respon Gaara yang hanya menggeleng sok polos, membuatnya ingin melempar wajah itu memakai kamus kedokteran di depannya.

Gaara hampir angkat bicara saat tiba-tiba ruangannya terbuka. Refleks Sakura pun ikut menoleh ke belakang. Disana, seorang wanita berambut merah kecoklatan yang digerai memakai dress hitam selutut tampil begitu anggun. Jangan lupakan tas tangan warna peach dan stiletto senada dengan tasnya yang membuatnya tampil sederhana tapi elegan. Senyum simpul terlihat di sudut bibirnya.

Sakura mengira bahwa wanita ini pasti seumuran dengan Gaara. Mereka pasti sangat serasi kalau bersandingan. Yang satunya cantik dan anggun, yang satunya gagah dan tampan, ah tunggu, kenapa dia jadi memuji dosennya sih? Tapi kalau Matsuri sampai lihat, dia pasti cemburu setengah mati. Pasti wanita itu pacar Gaara Sensei kan?

Merasa ini adalah celah yang bagus untuk kabur, Sakura segera berojigi dan hendak pergi sebelum Gaara menahan lengannya.

"tidak ada yang menyuruhmu kabur, Sakura. Buka kamus kedokteran dan pelajari halaman 367 setelah itu kita adakan speed kuis sebagai hukumanmu" Gaara berucap dengan datarnya. Jadenya mengamati perubahan raut mahasiswinya yang langsung mendengus terang-terangan. Senyum tipis tanpa perintah langsung terlukis di bibir Gaara.

"Gaara-kun?" Gaara langsung tersadar bahwa ada orang lain di ruangan itu.

"apa aku mengganggu?" suara lembut Sara menguar sambil melirik Sakura yang sudah duduk membelakanginya.

"hn, ini masih jam sibukku" jawab Gaara datar. Sakura merotasikan matanya. Jelas-jelas dia sudah selesai mengajar. Sibuk apanya?

"ada apa?" Gaara menghampirinya hingga pandangan Sara terhalang dari Sakura. Sara menatap pria di depannya sendu. Setelah sebulan ini? Beginikah sambutannya? Masih datar tanpa perasaan? Tak ada senyum menawan seperti dulu itu? Rasanya terlalu menyesakkan.

"ba-bagaimana kabarmu?" susah payah Sara mengeluarkan suaranya agar tak terdengar goyah. "kau tak membalas pesanku, kau mematikan semua panggilanku, bahkan kau tak pernah mau membukakan pintu saat aku berkunjung di apartemenmu" Gaara memejamkan mata sejenak. Dia tak suka mendengar suara tangisan perempuan seperti Sara. Dia lebih suka wanita ini tersenyum dan bersikap biasa seperti dulu.

Sakura yang masih bisa mendengar suara sedih wanita itu sedikit melirik. Tuh kan, dia hampir menangis! Apa-apaan itu Gaara sensei membuat pacarnya sedih begitu? Sakura memutuskan tak peduli. Itu juga bukan urusannya kan? Diambilnya headset dan mulai menyumpal kedua telinganya.

"aku tak mengerti kenapa kau menghindariku, aku minta maaf atas semua kesalahanku dan ak—"

"katakan tujuanmu kemari!" perintah Gaara tegas sambil melirik ke belakang. Melihat Sakura yang masih fokus dengan bacaannya, Gaara menatap Sara yang kini berusaha mati-matian menahan tangis. Tapi tak bisa karena dia sangat merindukan lelaki ini. Sedetik kemudian, Saara langsung menerjang ke pelukan pemuda itu tanpa peduli ada orang lain di ruangan. Dia ingin menumpahkan segala rindu, kecewa, dan marah disana. Di pelukan Gaara, lelaki yang dicintainya.

Gaara memejamkan mata. Dia tak suka ada di kondisi seperti ini. Melirik kebelakang, Gaara dapat melihat Sakura yang menyumpal telinganya menggunakan headset. Gaara tersenyum kecut. Dia segera melepas pelukan Saara dan menariknya keluar dari ruangan ini.

...

Ichiraku ramen

Haruno Sakura melenguh dengan keras sambil meregangkan ototnya yang terasa mati rasa. Wajahnya masih tertekuk sebal begitu ingat kejadian sore ini. Ya, dia ketiduran di ruang sang dosen merah hingga pukul 6 sore tanpa ada yang membangunkan. bagaimana bisa dosen itu begitu saja meninggalkannya masih dengan kamus dokter yang terbuka lebar bahkan menjadi bantalnya. Astaga.. bahkan dia masih ingat bagaimana malunya dia saat beberapa kali tersandung karena memaksa lari hingga kedai ini.

Hell, bahkan acara belanja mingguannya di pasar tradisional itu terlupakan begitu saja. Untung bagi Sakura, Teuchi ji-san sang pemilik kedai tidak marah, hanya diberi peringatan saja. Untung saja.

"hei, jangan mengumpat terus Saku, lebih baik kau beri pesanan ini pada meja 17" Sakura menerima nampan dan mulai berjalan ke arah meja 17 yang disana berada pemuda yang mungkin seukuran Gaara sensei. Ah, kenapa harus mengingatnya.

Sakura mulai menaruh sepiring Tempura dan kopi hitam sambil memandang pemuda itu yang terlihat melamun memerhatikan jalanan. Dilihat dari penampilannya, sepertinya laki-laki itu termasuk golongan menengah ke bawah sepertinya. Ya, memang kebanyakan yang datang ke kedai ini kan memang orang seperti itu. Sakura mengendikkan bahu.

"tuan, ini pesanannya" pemuda itu hanya mengacuhkannya. Sakura menghela nafas. Beginilah pelanggan. Macam-macam sifatnya.

"ada lagi yang Anda inginkan, Tuan?" pemuda itu menggeleng.

"baiklah..selamat menikmati" setelahnya Sakura berojigi dan hendak berbalik sebelum suara pemuda itu mengintrupsinya.

"ada yang bi—"

"kau lupa dengan irisan tomatnya" potong pemuda itu datar. Sakura mengernyitkan alisnya sebelum memeriksa daftar pesanan di meja ini. Dan Sakura tak menemukan apapun.

"Anda tidak memesannya"

"hn, aku masih ingat mengatakannya tadi" pelanggan keras kepala!

"tapi, ah baiklah..." Sakura menyerah. Beberapa menit kemudian, Sakura datang lagi dan membawa irisan tomat. Setelahnya, Sakura berojigi sebagai tanda penghormatan, sebelum seorang anak kecil menabraknya hingga tubuhnya limbung dan membuat kopi hitam tadi tercecer di baju pemuda itu.

Pelanggan itu menggeram marah dan segera berdiri. Hendak mengabaikan tangisan anak kecil yang sudah dikejar oleh orangtuanya. Sakura tidak tega saat melihat anak itu dicubit berkali-kali karena membuatnya malu. Sakura akhirnya mengeluarkan sebuah permen dan mengatakan kepada orangtua itu bahwa dia baik-baik saja.

Sakura melihat pemuda itu hendak melangkah pergi. Sakura mendengus keras-keras sebelum berakhir menahan lengannya.

"tunggu, Anda harus membayar Tuan!" sakura menahan mati-matian suaranya agar tak membentak.

"hn, pelanggan adalah raja, kau sudah membuat selera makan ku hilang dan au belum menyentuhnya. Jadi ak—"

"tapi anda sudah memesan!" Sakura benar-benar membentak kali ini.

Tapi pemuda itu dengan wajah dinginnya malah langsung menyentak tangannya dan pergi begitu saja. Sukses membuatnya mengumpat. Oke, ini adalah hari terburuknya.

"tidak apa-apa Sakura-chan, pelanggan seperti itu memang banyak. Lebih baik kau masuk dan kembali bekerja" Sakura tersenyum pada putri pemilik kedai ini.

"hai, Ayame nee-san"

...

Sakura baru selesai memarkirkan motornya saat mendengar bunyi teriakan dan suara brak-bruk di samping basement. Segera Sakura keluar membawa pel lantai terdekat dan matanya terbelalak begitu melihat beberapa orang lelaki menghajar seorang. Wanita paruh baya menangis dan langsung memeluk Sakura. Sakura segera menenangkan wanita itu dan mendekati mereka. Matanya membola saat melihat siapa pemuda yang dipukuli. Bukankah itu pelanggan songong tadi?

Sakura mengendus bau alkohol tercium dari leki-laki yang sedang menghajarnya. Oh..mereka sedang dalam keadaan setengah sadar dan Sakura tahu mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bisa saja mereka menghajar pemuda itu sampai mati kan? Oke, bukankah itu bagus. Jadi dendam Sakura pada pemuda itu sudah terbalas kan?

Haish..kalau pemuda itu mati pasti semuanya akan lebih rumit. Lagipula dia calon seorang dokter... astaga, kemana jiwa kedokteranmu Sakura!

"HEI!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!" setelah Sakura berteriak seperti itu kontan saja petugas keamanan di sekitar apartemen langsung datang dan mengamankan mereka. Sakura bersyukur karena dia punya suara cempreng yang kata Sasori lebih nyaring dari bunyi baskom jatuh. Oke, Sakura tak mau mengingatnya.

Tanpa banyak pikiran, Sakura segera menggotong pemuda itu dibantu oleh beberapa petugas keamanan lain menuju apartemennya. Tentu saja Sakura tak bisa membawanya ke rumah sakit karena letaknya yang jauh. Sakura dengan cekatan mengambil obat dari kotak p3k dan mulai aksi penyelamatannya, setelah sebelumnya petugas keamanan melepas pakaian pemuda itu dan menggantinya menggunakan milik Sasori.

...

read and review, please...