Konoha University

Sarutobi bersaudara itu memandang gadis bersurai merah muda didepannya dengan bingung. Sakura terlihat fokus mengerjakan sesuatu pada laptopnya sampai melupakan tempura yang tersaji hangat didepannya. Belum lagi gadis itu terlihat buru-buru terbukti dengan beberapa kali melirik jam di pergelangan tangan. Konohamaru berdeham,

"apa yang kau kerjakan Saku?"

"essai dari panda merah" Mirai mengernyit.

"kau dapat hukuman lagi?" Sakura tak menjawab. Dia harus segera buru-buru karena urusan lain. Ya, apalagi kalau bukan tamu di apartemennya yang dari tadi pagi belum sadar. Sakura tak bisa meninggalkannya lama-lama. Bagaimanapun Sakura tak tahu kan dia itu penjahat atau bagaimana? Untung bagi Sakura karena jam berikutnya adalah mata kuliah Gaara sensei. Minggu lalu, dia sudah bilang akan membahas kelanjutan materi bab dua. Dan Sakura sedang merangkumnya agar dia bisa ijin. Lagipula Sakura masih sebal setengah mati mengingat insiden sore kemarin. Bodo amat masalah hukuman kuisnya!

"wakkata, Konohamaru, bolehkah aku minta tolong padamu? Bisakah kau print file bab 2 disini dan mengumpulkannya pada panda merah? Aku harus pergi karena ada urusan lain. Dan titip absen juga ya?." Sakura memberi sebuah flashdisk pada Konohamaru dan segera melesat begitu saja. Membuat Mirai dan Konohamaru hanya berpandangan tak mengerti.

Sakura berjalan cepat menuju parkiran untuk mengambil motornya, saat langkahnya terhenti begitu melihat Wanita cantik bersurai merah kecoklatan kemarin turun dari mobil merahnya. Sakura segera berojigi dan memakai helm lalu melajukan motornya saat melihat Gaara sensei berdiri di belakangnya dari spion motor. Sakura memutuskan tak peduli.

Sedangkan Gaara hanya memandang kepergian Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia pasti kesal sekali dengan insiden kemarin. Gaara hanya bermaksud meninggalkannya sebentar karena tak mungkin membicarakan masalah pribadinya dengan Saara di kantor. Tapi Gaara tak tahu kalau bermasalah dengan Saara benar-benar membutuhkan kesabaran super ekstra. Gaara baru kembali ke kampus pukul 7 malam dan Sakura sudah tidak ada. Gaara memejamkan mata. Gadis yang menarik perhatiannya selama ini pasti akan makin sebal padanya.

"Gaara-kun?" jade hijau sayu itu terbuka. Memandang manik Sara yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Masalah semalam, tentu saja. Gaara menghela nafas.

"bisakah kita berbicara? Maafkan aku yang tiba-tiba menyuruhmu untuk menciumku tadi malam. A-aku tak bi-"

"aku tahu. Bisakah kita tak membahasnya? kau juga harus tahu bahwa jatuh cinta kepada sahabat bukan sebuah kesalahan Saara. Sasuke mungkin sudah terluka lebih dari yang kau bayangkan. Jangan menyakiti Sasuke terlalu dalam" setelah itu Gaara memutuskan untuk mengambil mobil dan meninggalkan Saara begitu saja.

...

Onyx segelap malam terbuka perlahan. Mencoba menajamkan penglihatan dan meneliti kusen berwarna putih gading yang terasa asing. Sasuke mengaduh ketika pusing dan nyeri melanda kepalanya saat harus duduk. Belum lagi kakinya yang perih minta ampun. Apa yang terjadi sebenarnya? Ah, pengroyokan tadi malam ya? jadi apa yang kemudian terjadi?

Sasuke mengambil segelas air putih yang tersedia di lemari kecil dekat futonnya. Kerongkongannya benar-benar terasa gersang. Ditelitinya ruangan yang bercat coklat susu ini. Tak banyak perabotan hanya sebuah lemari sedang dan meja belajar. Jelas ini adalah tempat asing yang belum pernah didatanginya. Jadi dimana ini?

Diliriknya lagi pada meja yang tersedia bubur disana. Bubur itu sudah dingin. Siapapun yang memasak ini pasti orang yang pandai memasak karena aromanya harum. Tak peduli hangat atau dingin Sasuke ingin segera mengambilnya karena dia belum mengisi perut sejak kemarin sore.

"ah, kau sudah bangun?" Sasuke urung menggerakkan tangan begitu mendengar suara cempreng mengintrupsi. Gadis ini bukankah?

"hehehe...kau pasti mengingatku ya? tentu saja, aku adalah pelayan yang di kedai waktu itu. Ah, bubur itu pasti sudah dingin. Kemarikan!, akan kuhangatkan dulu" tanpa aba-aba Sakura segera merebut mangkuk itu dari tangan Sasuke dan menuju dapur.

Sasuke melirik punggung gadis itu. Ah, benar juga, warna merah muda adalah warna asing dan aneh untuk dijadikan warna rambut. Dan jujur saja ini pertama kali Sasuke melihatnya. Dan dari sura cemprengnya sama seperti pelayan menyebalkan tadi malam. Hah..apa saja yang terjadi tadi malam?

"ini, makanlah" Sakura muncul membawa baki kecil yang diatasnya sudah ada bubur dan ocha hangat. Melihat Sasuke yang hanya melihatnya, Sakura berdeham.

"tenang saja tuan, meskipun aku masih sebal padamu aku tak berniat meracunimu kok, lagipula kenapa aku harus repot-repot menolongmu dari pengroyokan itu" Sasuke refleks memandang emerald Sakura yang berkilat jenaka.

"hahaha... kau pasti tak tau ya, mereka itu pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Kau sih, tiba-tiba muncul dan malah memeluk si istri begitu saja. Kan dikira kau selingkuhannya... apalagi kau punya wajah lumayan tampan sih...hehehe" Sakura masih cekikikan tak jelas membuat urat di kening Sasuke terlihat. Apa gadis ini baru saja menghinanya? Selingkuhan wanita tua? Lumayan tampan? Oh yang benar saja! Sasuke baru akan menjawabnya tapi memutuskan diam. Dia sedang malas berdebat.

"heh, kau harus makan bubur itu, terus minum obatnya setelah itu kau boleh pergi dari apartemen ini. Tenang saja..aku tak memungut biaya kok. Ayo makan!!" Sasuke mendengus. Harga dirinya terlalu tinggi untuk bisa disuruh-suruh begitu, tapi perutnya sudah berteriak kelaparan dari tadi. Sasuke segera mengambil sendok saat tiba-tiba rasa nyeri menjalar di tangannya.

"aduh!! Makanya pelan-pelan saja tuan!! Ah, pasti mereka menginjak tanganmu dengan keras. Sudahlah, sini" Sakura merebut sendok itu dan segera menyodorkan ke depan mulut Sasuke. Tapi melihat pemuda itu bergeming membuat Sakura memutar mata.

"kau tak punya pilihan tuan sombong, makan dan segera minum obat. Aku ini calon dokter jadi aku tak akan mencelakakanmu. Atau, kau mau pakai cara kekerasan?" Sasuke mendengus mendengar ucapan gadis di depannya ini. Sasuke memandang remeh. Calon dokter katanya? Dengan penampilan berantakan dan sikap seenaknya? Belum lagi bekerja di kedai pinggiran? Yang benar saja!

Merasa jengkel, akhirnya Sakura mencubit tangan yang sakit tadi hingga Sasuke refleks mengaduh dan membuka mulut. Segera saja Sakura memasukkan bubur itu sambil berteriak "GOAL!!! Dan tendangan Haruno Sakura berhasil menjebol pertahanan sang pelanggan songong dan sombong dengan skor 1-0..hahaha" Sakura tertawa bebas.

Sasuke menggunakan tangan kirinya untuk menjitak kepala gadis itu pelan. Merasa kesal dipermainkan. Oh, baru kali ini saja dia bisa dianggap remeh oleh gadis menyebalkan yang tak dikenalnya ini.

Bukannya marah, Sakura malah tersenyum lebar dan mulai menyuapi sang pelanggan dengan masih cekikikan. Yang penting pria yang kelihatan beberapa tahun lebih tua darinya itu segera sembuh dan keluar dari sini. Ayolah, dia tak mau terjadi masalah apalagi kalau kakaknya sampai tahu.

"ah, aku belum tahu namamu. Kenalkan, namaku Sakura, Haruno Sakura. Kau?" Sakura mengulurkan tangan yang hanya dipandangi begitu saja oleh Sasuke.

"Sasuke" Sakura menarik lagi tangannya saat pemuda di depannya tak kunjung menjabat. Dia mendengus. Aish, lihat!!! sombong sekali dia!!

"margamu?"

"hn" sakura mengernyit dan mulai merasa kesal dengan pria irit bicara seperti ini. Tinggal jawab saja apa susahnya sih. Nama Sasuke kan banyak sekali di kota ini!

"yah, terserah kau saja sih, itu tak penting. Ah, kau sudah bisa berdiri kan? Kau bisa menghubungi keluargamu untuk menjemputmu disini. Ini," Sakura mengambil ponsel nya dan menyodorkannya ke arah Sasuke.

Sasuke hanya memandanginya, tanpa ada niatan mengambilnya. pria itu malah mengedarkan pandangan ke arah lain dan seketika dia sadar bahwa dia tak memakai kaus yang tadi malam. Seakan paham, Sakura menjawab:

"ah, tenang saja. Itu kaus milik kakakku. Dia tak ada disini, dan kau ada di apartemenku. Petugas keamanan yang mengganti kausmu. Aku sudah mencucinya dan kau tinggal menunggunya beberapa jam lagi jika mau pakai"

"kau tinggal bersama kakakmu?" Sasuke bertanya masih dengan mengamati ruangan kecil ini. Mungkin besarnya tidak lebih dari kamar mandi di mansionnya. Tapi ruangan ini bersih, sangat bersih malah, selain itu entah mengapa Sasuke merasakan perasaan nyaman menghinggapinya hanya karena ruangan sederhana ini.

"dulu sih begitu, tapi dia sudah menikah dan tinggal di daerah pusat kota. Jadi ya..aku sendiri" Sakura menghela nafas. Entah kenapa dia jadi rindu kakak merahnya. Padahal kalau ada Sasori sudah dipastikan apartemennya akan hancur. Kakaknya itu kadang hiperaktif.

ah, mungkin libur nanti dia bisa mengunjungi kakaknya.

"ah, aku harus pergi ke kedai sekarang. Aku akan pulang lebih awal nanti malam. Jika kau ingin makan kau bisa menghangatkan sisa bubur di dapur, tuan ah maksudku Sasuke-san. Telepon rumah ada di ruang tamu jika mau menghubungi keluargamu. Tapi jangan lama-lama ya.. tagihannya mahal. Jaa..." setelah itu Sakura segera keluar dari kamar.

Menghubungi keluarga ya...

Sasuke mendengus. memandang pantulan dirinya melalui cermin. dia terlihat sedikit mengenaskan. bebat dimana-mana, wajahnya masih lebam dan matanya sedikit sayu. Sasuke memutuskan untuk berbaring lagi begitu rasa kantuk menyerbunya.

Sasuke tidak ingat berapa jam dia tudur, tapi perasaan seperti diremajakan memenuhi setiap syarafnya dan dia memutuskan keluar dari kamar untuk melihat-lihat. kakinya masih nyeri tapi berjalan bukanlah masalah.

Sasuke mulai mengamati apartemen gadis tadi. Sebuah apartemen minimalis dengan ruang tamu sekaligus ruang menonton televisi. Di sebelahnya ada dapur kecil dengan meja makan 4 kursi dan kamar mandi terletak di ujung. Sasuke melirik pada ruangan di sebelah kamarnya tadi. Mungkin kamar gadis tadi.

Onyxnya tertuju pada telepon rumah yang ada di samping shofa. Menghubungi keluarganya ya... Sasuke memejamkan mata. Bertemu dengan keluarganya itu artinya dia harus siap menghadapi pertanyaan keramat lagi. Itu membosankan dan menjengkelkan. Belum lagi dia harus kembali ke rutinitas di kantornya yang sangat membosankan. Bukannya Sasuke tak suka dengan pekerjaannya, dia sangat mencintainya apalagi kesuksesaannya saat ini adalah buah kerja tanpa bantuan keluarga. Hanya saja, belakangan ini dia tak fokus karena pikirannya terus bercabang dengan masalah Saara dan Shion. Apalagi mengingat kejadian semalam, membuatnya merasa jengah.

Ah, mengingat Shion dan Saara tanpa sadar membuatnya mendengus. Sampai sekarang dia heran, kenapa dia bersikap seperti lelaki lemah dihadapan dua perempuan itu? Dihadapan Shion, yang sudah ia anggap seperti adik perempuannya, Sasuke akan bersikap seolah berusaha memenuhi semua permintaan Shion. Bukan berbentuk materi, tapi untuk selalu berada di sisi gadis pirang itu. Selalu menumpahkan segala beban hidupnya pada Sasuke yang sebenarnya bukan siapa-siapanya. Terkadang Sasuke merasa amat bodoh.

Lalu pada Sara? Bukankah dia tahu sedari dulu bahwa gadis itu mencintai Gaara? Selalu menjadi tempat menumpahkan isi hati semua hal mengenai Gaara. Apa Sara tak pernah berpikir kemungkinan dia juga mencintainya? Sasuke harus menyembunyikan semua amarahnya dan berubah menjadi sosok sahabat yang selalu mengerti. Astaga, cinta membuatnya menjadi orang bodoh.

Tapi lebih dari itu, Sasuke benar-benar bosan. Mungkin karirnya masih terus melonjak namun kisah percintaannya begitu tragis. Sasuke terlalu malas untuk menghadapi hal itu. dia ingin melupakannya barang sejenak. mungkin mengalihkan hidupnya pada kegiatan lain bisa meringankan hatinya?

Lagipula, entah mengapa Sasuke merasa nyaman disini. Apartemen sederhana dan melihat dari jalan-jalan di bawah melalui jendela, Sasuke tahu dia berada jauh dari pusat kota. wilayah ini tidak terlalu ramai dan mungkin tidak ada orang yang mengenalinya. Dan lagi, pemilik apartemen ini masih mengijinkan dia tinggal disini. Jadi, kenapa dia harus kembali secepat itu?

Diliriknya lagi telepon itu dan Sasuke mnyenderkan tubuhnya di sofa. Dia memandang televisi yang berlayar hitam. apa benar dia akan melakukan ini?

Sasuke memikirkan perbandingan dan kemungkinan jika dirinya tetap disini. Pertama adalah keluarga. Kakek dan ibunya pasti mengamuk tapi setidaknya ada ayah dan kakaknya yang bisa mengurus mereka. Lalu perusahaannya, ada proyek besar pada musim semi ini. Tapi Sasuke yakin sahabatnya bisa mengurus masalah itu sementara Sasuke akan mencari cara lain untuk menghubungi mereka. Lalu Sara, seperti wanita itu akan peduli dan terakhir Shion. Oke, mungkin Sasuke tidak perlu memikirkan ini. Dia sudah mengeluarkan begitu banyak waktu luang dan biaya untuk merawat gadis itu. lagipula ada Gaara yang merawatnya. meskipun mereka tidak sedekat dulu tapi Sasuke percaya pada kepedian Gaara. oke, jadi masalah terpecahkan.

Mendengus, Sasuke tak percaya dia akan melakukan ini.

...

"Forehead!!!" Sakura menghela nafas dan berbalik dengan malas.

"Ada Apa Pig?" Sapanya malas. Ino yang gemas langsung mencubit lengan Sakura sampai merah. Membuatnya menjerit.

"Auch!! Apa-apaan kau ini!!"

"Heh, sopanlah sedikit padaku bocah!!" seru Ino sambil melotot.

"Huh, aku bukan bocah! Baiklah... Ada yang bisa kubantu Ino-san?" Ino hanya geleng tak percaya melihat kelakuan gadis yang sudah dianggapnya adik itu. Lihatlah, gadis merah muda itu tersenyum dengan polosnya. Uh, dia sangat gemas.

"sudah berapa kali kubilang untuk memanggilku nee-chan ha?" Ino kembali mencubit pipi Sakura gemas membuatnya mengaduh lagi.

"Hihihi, kalian berdua selalu seperti itu" Sakura dan Ino menoleh pada wanita yang keluar dari mobil dengan rambut indigo nya yang terurai indah.

"Hinata-nee!!!" Sakura melambai riang lalu kemudian mengaduh lagi saat Ino mencubit lengannya dan langsung memberi tatapan tajam ke arah Ino.

"kau selalu memanggil Hinata dengan sebutan itu tapi tidak pernah denganku" seloroh Ino sebal. Hinata tertawa cekikikan.

"Hinata-nee itu sopan tidak seperti Ino-nee yang suka mencubitku" lalu Sakura harus menerima cubitan bertubi-tubi dan dia tak bisa membalasnya karena tangannya membawa kantung belanjaan.

"ah, kau baru berbelanja Saku-chan?" suara Hinata yang lembut berhasil melerai aksi tak penting itu.

"iya, persediaanku habis. Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Hinata-nee kesini malam-malam?"

"memangnya tidak boleh?" sahut Ino sinis. Sakura hanya meringis.

"kami ingin lembur bersama untuk deadline besok. Kau sendiri tak pernah mampir ke rumah Saku-chan, Hanabi berulang kali menanyakanmu" Sakura hanya meringis tak enak hati.

"gomen Nee-chan, aku harus kerja dan tugas kuliahku sedang banyak-banyaknya. Lagipula Hanabi pasti sibuk dengan lesnya"

"sudahlah, ah bagaimana kalau malam ini kau menginap saja Saki. Kau juga tak pernah mampir ke rumahku, kaa-chan sangat merindukanmu" Ino menambai dengan sok dramatis. Sakura tersenyum lebar. Dia memang rindu bercengkrama dengan kedua wanita karir nan cantik yang seperti kakaknya sendiri. Tapi bayangan seorang tamu di apartemen mengganggunya.

"gomen ne... lain kali saja ya, aku sedang banyak tugas" Sakura memasang wajah memelas. Membuat Ino dan Hinata merasa gemas dan berakhir sebuah cubitan di pipi kanan kirinya.

"ah, sudah!! Aku duluan ya Ino-nee, Hinata-nee... selamat melembur!!! Jangan angkat telepon dari pacar kalian kalau mau kerjaannya selesai!!!" Sakura menjerit dan mengangkat sedikit tangannya. Ino dan Hinata hanya cekikikan, sebelum handphone Hinata berdering.

"moshi-moshi,"

"Hinata-chan...aku sudah mengirim file dokumen di emailmu, dan itu jadi deadline mu besok siang. Ini semua gara-gara Sasuke-Teme hilang!!!" dan jeritan Naruto serta Ino yang terus mengumpat setelah melihat notivikasi email menjadi lagu tersendiri bagi Hinata malam ini.

Oh, Sasuke...

...

Sakura menaruh sepatu di rak saat melihat Sasuke sedang menonton televisi di ruang tamu. Pemuda itu kelihatan bosan, sampai Sasuke menyadari kedatangannya dan meliriknya dengan matanya yang tajam. Sakura tersenyum canggung. Hei, kok jadi Sasuke yang seperti tuan rumahnya ya?

"oh, hai Sasuke-san...kau sudah bisa berdiri?" Sakura tak menunggu jawaban karena dia langsung menuju dapur dan menata belanjaan di kulkas. Setelahnya, gadis itu segera mengambil apron dan mulai berkutat dengan alat masak dan sayuran.

"kau suka sup miso?" meskipun Sasuke tak suka toh Sakura akan memasakkannya. Dia harus menghemat dan tubuhnya sangat lelah.

30 menit kemudian masakan jadi dan Sakura segera menyiapkan alat makan dan menyajikan sup miso yang mengepul di meja. Diambilnya 2 gelas air putih dan langsung memanggil Sasuke ke meja makan.

"selamat makan!!" Sakura memekik dengan girang dan langsung menyendok kuah sup miso di depannya, sebelum sadar bahwa Sasuke hanya memandangi sup itu. Sakura mendesah.

"ada apa lagi, Sasuke-san?" tanyanya. Tapi Sasuke hanya diam antara bingung ingin mengatakannya atau tidak. Gengsinya benar-benar tinggi tapi Sasuke sangat menginginkannya saat ini.

"tanganmu masih sakit? kau tidak suka? gomen, tapi aku sangat lelah dan lebih baik kau sege-"

"tomat" Sakura mengernyit. Tomat?

"aku ingin itu" Sakura tak mengerti tapi dia segera bangkit dan mengambil buah tomat di kulkas lalu mencucinya dan berakhir dengan irisan kecil-kecil. Oh, dia benar-benar seperti peelayan saat ini. Bukankah kau memang pelayan eh Sakura?

Sasuke tersenyum tipis dan dengan semangat langsung menyendok sup miso itu dan seiris tomat hingga seterusnya. Membuat Sakura mengernyit melihat cara makannya yang aneh apalagi saat mata yang selalu tajam itu berbinar saat melihat tomat.

"aku tak menyangka ada orang yang suka buah berlendir seperti itu" celetuk Sakura tiba-tiba.

"ada masalah dengan itu?" suara datar itu membuat Sakura mengendikkan bahu.

"ya terserah sih... oh ya, kau sudah menghubungi keluargamu?" Sasuke menghentikan acara menyuap tomatnya.

"apa kau tak tahu bahwa dilarang bicara saat makan?" nada datar itu membuat Sakura berdecak sebal.

Hingga akhirnya meja makan itu dilanda kesunyian sampai Sakura mencuci semua peralatan makan dan mengelap meja. Sakura segera masuk kamar mandi dan membersihkan badan. Beberapa menit kemudian Sakura keluar dengan kaos pendek longgar dan celana rumahan selutut. Dia segera mengambil catatan di tas kuliahnya dan mengerjakan berlesehan di samping Sasuke yang melanjutkan acara nonton tv. Meski sejujurnya Sasuke terus melirik gadis itu.

"ada yang ingin kau katakan, Sasuke-san?" Sakura yang sadar terus diperhatikan dari tadi tetap mengetik di laptop tanpa mengalihkan pandangan.

Sasuke kembali memandang ke arah tv yang sedang menayangkan acara komedi itu. "hn. Berapa harga sewa apartemen ini?"

Sakura menghentikan acara mengetiknya. Mendongak dan menatap Sasuke yang masih fokus pada tv.

"hm.. kau ingin menyewa apartemen disini? Boleh. Ada 2 kamar kosong di lantai atas. Aku bisa menghubungi pemiliknya jika kau mau menyewa. Ah tapi, bagaimana dengan keluargamu?"

Sasuke masih diam. Keluarga ya?

Melihat Sang tamu yang malah melamun seperti ini membuat Sakura mengernyit. Orang ini adalah orang terdingin yang pernah Sakura temui, tapi tunggu. Dia jadi melamun seperti ini gara-gara dirinya mengungkit masalah keluarga ya? Bagaiamana kalau dia yatim piatu? Ah!! Sakura pasti merasa bersalah nanti seumur hidupnya.

"ah gomen ne, Sasuke-san. Kau tak perlu menjawabnya" Sasuke menatap mata emerald Sakura yang terlihat bersalah. Apa maksudnya itu?

"hehehe... kau tak perlu menceritakannya kalau kau tak mau. Jadi, sebelum disini kau tinggal dimana?" Sasuke menajamkan tatapannya ke arah Sakura yang masih balik menatapnya polos.

Sasuke heran, biasanya orang akan gugup atau takut jika ditatap dengan pandangan intimidasi begitu. Tapi ini?

"ah! Kau orang baru di kota ini?"

Seakan mendapat ide, Sasuke hanya mengangguk. Biarkan saja gadis ini menduga-duga.

"ah, kenapa kau tak bilang dari tadi! Baiklah.. jadi apa kau sudah punya pekerjaan disini? Atau berapa lembar uang yang kau punya. Aku bisa meminjamkanmu beberapa ryo untuk menyewa apartemen" Sakura berucap dengan mantapnya sambil menjentikkan jari. Ya, dia hanya bisa membantu sebatas ini kan? Sakura tak meragukan otak pintarnya.

"aku bisa tinggal disini" suara berat dengan aksen datar itu sukses membuat mata Sakura melebar.

"apa? Tidak bisa! Ka-"

"aku tidak memiliki pekerjaan dan tidak punya uang. Kupikir itu bukan masalah" Sakura masih memproses perkataan Sasuke ini. Bukan masalah katanya?

"hn, aku akan membayar separuh saat aku dapat pekerjaan nanti" dan setelah itu Sasuke lansung pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan raut wajah Sakura yang masih cengo disana. Beberapa menit kemudian, wajah itu memerah karena menahan amarah. Seenaknya saja tuan sombong itu berkata seperti itu!!! Memangnya siapa yang punya apartemen ini hah!!! Ah, kalau begini Sakura jadi menyesal menolongnya kemarin.

Tapi tidak ah, dia tak boleh menyesal. Kemarin itu Sasuke terluka parah, dan Sakura merasa menghianati sumpahnya untuk selalu berusaha mengutamakan kesehatan pasiennya. Menolong orang yang kesakitan. Sakura juga senang kok karena ia bisa membantu. Ia bisa mempraktekan ilmunya.

Tapi kan tetap saja, Sasuke itu kan pria dewasa. Sakura juga wanita dewasa yang sampai sekarang masih perawan. Dia tahu dia tak cantik seperti Hinata atau punya tubuh bagus macam Ino. Tapi kan tetap saja, tinggal dengan orang asing beda jenis kelamin itu tak baik.

Pintu terbuka dan menampakkan kepala Sasuke yang menyembul. "kau tenang saja, aku tak suka dengan yang rata sepertimu. Dan aku tak terima penolakan"

BLAM...

Pintu tertutup lagi. Rata? Apa maksudnya itu. Seakan tersadar, Sakura segera melirik bagian dadanya yang memang kecil itu. Wajah merah Sakura makin kentara, dan detik berikutnya terdengar suara lemparan vas kayu dibarengi suara cempreng.

"DASAR PANTAT AYAM SONGONG!!!"

...

Want to give me some review???