Mata sehijau hutan itu menatap tajam seonggok daging di depannya. Tangannya menggenggam sumpit dengan keras, siap meremukkan apapun. Bibirnya terus menggerutu pelan. Tak berani juga kalau sampai dia dengar. eh, bukan tak berani sih, tapi dia hanya berusaha sopan.
Sakura sedang sebal sekali pagi ini. Apalagi penyebabnya kalau bukan tamu alias penumpang di apartemennya itu. Lihatlah dia yang dengan santainya memakan sandwich disusul irisan tomat. Cara makan yang aneh. Masak semuanya harus pakai tomat sih? Lihat saja kulkas sakura yang mendadak menjadi seperti kios tomat karena pemuda itu selalu memintanya. Dan bodohnya lagi kenapa Sakura membelikan tomat-tomat itu? Sakura jadi ingin tertawa sekarang. Menertawakan kebodohannya.
"Kau harus membayar untuk tomat-tomat itu Sasuke-san" Sasuke memandang Sakura sekilas dengan sorot tajam, lalu hanya mengendikkan bahu. Dan setelah itu dia kembali menikmati makanan kesukaannya.
"huh!! Kau sudah tinggal disini selama 5 hari dan selalu menghabiskan persediaan tomatku. Bisa tidak sih makan tidak harus dengan tomat" decih Sakura kesal. Sakura memang tak suka buah tomat. Tapi setiap kali dia menumis maka wajib tomat dimasukkan sebagai bumbu. Itu akan membuat masakan terasa lebih enak, menurutnya. Tapi kalau tomatnya diambil terus itu berarti Sakura harus membelinya lagi. Apalagi harganya mulai naik akhir-akhir ini. Oh...
"lagipula tanganmu kan sudah sembuh. kau juga sudah bisa berjalan lagi. Bukannya kau bilang kau akan cari kerja, Sasuke-san?" Sasuke sukses menghentikan acara makannya. Gadis didepannya ini sungguh menyebalkan. Memangnya dia pikir cari kerja semudah itu apa? Meskipun Sasuke seharusnya bisa saja pergi dari sini dan kembali menjalani hidup normalnya. Pekerjaan bukan hal sulit. Ya, seharusnya. Tapi dia masih merasa malas.
Sakura mengembangkan senyum saat Sasuke menghentikan acara makannya. Dipikirnya, Sasuke pasti merasa tak enak hati terus menumpang disini dan meminta makanan. Ya, kalau seperti ini memang Sakura terdengar tidak mau menolong orang dengam sukarela sih...Tapi mau bagaimana lagi, meskipun dia seorang calon dokter, dia juga masih anak kuliahan yang harus menghemat. Dan tinggal berdua dengan lelaki asing bukan gayanya. Bisa dicincang tubuhnya kalau sampai tahu kakak merahnya.
Jadi, berhubung keadaan Sasuke terlihat lebih baik, tak apa-apa lah kalau Sakura menanyakan masalah pekerjaan. Tak mungkinkan, Sasuke mau menumpang seterusnya? Lagipula Sakura mau membantu kok, kalau nanti Sasuke ingin melamar pekerjaan.
"hn" Sasuke bergumam acuh, dan kembali menggigit irisan tomatnya, membuat Sakura mendengus terang-terangan. Hilang sudah senyum yang terpatri di bibirnya. Oh, lihatnya betapa menyebalkan makhluk di depannya ini. Sakura mendesah pasrah.
"terserah kau sajalah...aku mau berangkat ke kampus dulu. Titip cucikan piringku ya" setelah itu Sakura segera pergi menuju kamar. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan memeluk beberapa koran. Dia bilang dia akan membantu kan? Sakura tersenyum lebar.
"nah Sasuke-san, kau bisa mencari informasi pekerjaan di koran ini. Aku sudah melingkari beberapa lowongan yang mungkin bisa menerimamu. Jika kau mendapatkannya, kita mungkin bisa mencari berkas-berkasmu yang hilang itu. Baiklah, aku pergi dulu. Jaa!!!" setelah Sakura menutup pintu apartemennya, Sasuke hanya melirik sekilas pada koran itu, tanpa berniat menyentuhnya.
...
Konoha University
Sabaku No Gaara membaca sebuah email dari tunangan kakaknya dengan mengernyitkan sebelah alis. Pesan itu hanya berisi beberapa kata yang awalnya membuatnya heran. Sasuke hilang? Oh yang benar saja. Tidak mungkin lelaki itu menghilang begitu saja. Gaara sangat mengenal Sasuke mengingat mereka pernah menjadi sahabat dulu. Sasuke akan selalu meninggalkan notif pada Naruto atau pada keluarganya jika hendak pergi. Belum lagi jika urusan bisnis mana mungkin Shikamaru tidak tahu. meskipun terlihat dingin dan cuek di luar, sebenarnya Sasuke sangat peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Jadi, jika dia benar-benar pergi tanpa meninggalkan kabar apapun rasanya sangat aneh.
lagipula, maksudnya hilang itu juga bagaimana? Diculik? Atau kabur. Kalau diculik, mana mungkin Sasuke tak bisa melepaskan diri. Seingatnya Sasuke punya sabuk hitam di seni bela diri judo. Opsi kabur, terdengar aneh. Gaara mengenal Sasuke sebagai sosok yang bertanggung jawab. Apapun masalahnya seorang Uchiha Sasuke pasti bisa mengatasinya dengan baik. Jadi bagaimana bisa Sasuke hilang? Atau mungkin ada kemungkinan lain? Ah, Gaara tak ingin ambil pusing.
Gaara memutuskan untuk keluar dari mobil saat mendapati gadis berhelai merah muda sedang memarkir motornya di wilayah khusus motor. Gadis itu melepas helmnya dan segera menenteng ranselnya yang kebesaran. Senyum cerah dengan mata hijau hutan yang berbinar tergambar di wajah itu saat menyapa teman-temannya. Gadis itu segera berlari kecil ke arah mereka. Tanpa sadar, sebuah senyum tipis terbit di bibir sexy milik Gaara.
"Haruno-san" Sakura segera meghentikan langkahnya begitu mendengar suara berat disampingnya. Hilang sudah senyum di wajahnya begitu tahu siapa yang memanggilnya. Gaara menyeringai.
"kenapa dengan wajahmu?" Gaara bertanya dengan wajah polos yang membuat Sakura ingin menonjoknya.
"ada apa sensei? Cepat katakan! Aku harus segera masuk kelas" jawab Sakura malas. seringai Gaara mekin lebar. Mengerjai gadis di depannya ini memang sangat menyenangkan.
"pagi, sensei..." sapa beberapa mahasiswi di sekitar mereka berdiri. Beberapa diantaranya menyapa disertai cekikikan. Ah,sebenarnya mereka merasa betapa beruntungnya Sakura bisa disapa oleh dosen paling diincar di kampus ini. Sakura berdecih sebal saat teman-temannya malah cekikian tak jelas.
"pagi juga" Gaara menyapa disertai sebuah seringai tipis. sukses membuat gadis-gadis tersipu dan salah tingkah. Beda lagi dengan Sakura yang hanya memutar bola mata malas.
"kau tak mengucapkan selamat pagi untukku Haruno-san?" Sakura hanya memaksakan sebuah senyum. Oh ayolah... paginya yang cerah akan langsung suram jika dosen ini masih menampilkan seringainya.
"pagi, sensei" seru Sakura ogah-ogahan yang sukses mendapat injakan kaki dari Mirai. Entah sudah sejak kapan dia berdiri di sampingnya. Sakura memelototi Mirai.
"hn, kau masing berhutang hukumanmu waktu itu" jawab Gaara sambil melangkah maju mendekati Sakura. Membuat beberapa mahasiswi menjerit tertahan melihat wajah yang biasanya bak tembok itu tersenyum tipis. Ya, masih seringai sebenarnya, tapi tetap saja terlihat tampan. Oh, vitamin mata untuk pagi ini mana bisa ditolak!!!
"aku sudah menunggu sensei sampai sore tahu! Aku bahkan hampir telat ke tempatku bekerja dan aku tak pe-"
"kau ingat tentang proposal pendaftaranmu untuk majalah kampus?" Sakura mengangguk. bagaimana dia tahu tentang itu?
"bagaimana sensei tahu?" tanya Sakura. Gaara mengendikkan bahu.
"kau harus menemui segera dewan majalah kampus. semoga berhasil, Sakura" seketika itu juga, wajah judes Sakura langsung berubah. binar kebahagiaan terlukis jelas di wajah itu. dia juga tidak tahu kenapa bisa sebahagia ini. padahal belum tentu proposal itu diterima. tapi sungguh, Sakura sudah terbawa suasana bahagia sekarang!
"ehm...bagus sekali! Kalau begitu aku akan langsung pergi ke kantornya!!" masih dengan senyum 5 jarinya, Sakura segera melangkah pergi sambil menarik lengan Mirai. Tapi baru beberapa langkah lagi, gadis itu berbalik.
"arigatou, Gaara Sensei!!!" kemudian gadis itu langsung berbalik dan lari.
Gaara hanya mengulum senyum. Tempramen gadis merah muda itu memang gampang berubah. bahkan gadis itu satu-satunya perempuan yang berani terang-terangan mengatakan kalau dia tidak menyukainya. Berbeda sekali dengan wanita-wanita lain.
...
Sarutobi bersaudara menyernyitkan dahinya saat Sakura duduk di kursi kantin dengan wajah berseri-seri. Gadis itu bahkan cekikikan tak jelas sambil memandangi beberapa lembar kertas yang entah apa itu isinya.
"ehm...kau tidak gila karena habis bertemu Gaara-sensei kan?" Sakura mengangkat wajahnya dan menggeleng. Kemudian dia menyerahkah lembaran kertas tadi ke arah Sarutobi bersaudara. Dua pasang mata itu langsung terkejut begitu mengetahui isi di dalamnya.
"are you kidding me? Jadi Gaara sensei tak bercanda!!!" Mirai bertanya sambil menatap horror Sakura. Sebenarnya dia cukup takjub sih, mengingat Gaara sensei yang selain terkenal tampan itu sebenarnya juga tak peduli pada ekskul mahasiswa. selain itu ada banyak ekskul lain yang sengaja meminta Gaara sebagai pembimbingnya. Sakura hanya memamerkan senyum angkuh.
"no, i'm not. Aku mendapatkan ijin untuk masuk ke majalah kampus! oh aku tidak sabar! Ya, meskipun aku harus melaksanakan penelitian lagi dan Gaara sensei sebagai pembimbingku sih... Tapi itu tak masalah. Uh, ini benar-benar menyenangkan..." mata hijau Sakura masih berbinar. Dia sangat senang karena hal ini. Sebenarnya dia sedikit bingung mengapa ia harus ikut penelitian jika padahal ia mendaftar untuk mengisi bagian karikaturnya. Sakura hanya ingin menuangkan hobi menggambarnya untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.
"yeah, that's good as you wish. Tapi Sakura, bukankah kau adalah kohai? maksudku kebanyakan anggota majalah kampus aalah dengan senpai. Is that okey?" Konohamaru bertanya meyakinkan membuat Sakura mendesah panjang.
"ya tak apa-apa sih, aku akan mencobanya. Tapi ngomong-ngomong, dimana Matsuri? Aku tak melihatnya"
"kau tak akan melihatnya seharian ini. Dia mengikuti audisi" Mirai mengeluarkan sebuah majalah dari tasnya dan membukakan sebuah rubrik khusus. Mata Sakura menyipit tidak paham.
"hell... kau tak akan mengerti yang seperti ini. Matsuri mengikuti audisi modeling untuk Saara's Beauty. Kau tahu dari dulu dia tergila-gila dengan designer yang satu itu kan?" Mirai menunjuk pada cover majalah yang menunjukkan seorang perempuan berambut merah kecoklatan dengan gaun putih tulang yang sangat anggun. Dibawahnya tertulis nama Yahiko Saara. Mata Sakura menyipit lagi saat meneliti sosok di majalah itu. Dia merasa benar-benar tak asing pada wajah ini. Hei, apa dia pernah melihatnya sebelum ini?
"aku seperti pernah melihat dia sebelumnya. Tapi dimana ya?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. dia tidak mendadak pikun kan?
"oh, Saki. Tentu saja kau pernah melihatnya. Aku kan sudah bilang kalau dia designer terkenal. Kau bisa dengan mudah menemukan wajahnya di televisi atau majalah fashion." Sungut Mirai. Gadis berambut hitam pendek itu memandang sebal pada Sakura yang suka ketinggalan informasi masalah mode masa kini.
Sakura adalah mahasiswi tercerdas di angkatannya. Hampir selurus dosen mengakui kemampuannya dalam banyak mata kuliah. Sakura juga anak yang sangat mudah dalam bersosialisasi. Dia ramah dan menyenangkan. Masalahnya, Sakura sewaktu-waktu bisa menjadi gadis kuno yang tak tahu kabar aktual tentang fashion, bisnis atau acara gosip artis. Yah, yang terakhir memang tak penting.
Kemudian pandangan Mirai beralih pada Konohamaru yang malah asik makan sambil mengambil makanan miliknya. Mirai mengambil keripik kentang yang baru saja dicuri Konohamaru.
"hei, that's my!!!" protes konohamaru tak terima.
"ini milikku bodoh! Ah, kenapa aku harus berebut makanan denganmu saat ini? Harusnya kau ikut audisi itu saja! Siapa tahu kau bisa jadi model dan menambah uang saku kita kan? Menyebalkan!!!" Konohamaru membalasnya dengan kata-kata pedas sedang Sakura masih terfokus pada rubrik modeling itu. Oh, dia benar-benar pernah melihat wanita bernama Saara itu, asli dan bukan hanya gambar. Tapi dimana ya?
Emerald Sakura menemukan rentetan tulisan di rubrik khusus yang membuat lampu bohlam di kepalanya menyala. Senyum terbit di bibir tipisnya, dan dia segera bangkit. Dia punya ide untuk seseorang berambut aneh di apartemennya.
...
"audisi model?" Sakura mengangguk dengan semangat tanpa peduli tatapan tak percaya dari Sasuke.
Emerald gadis itu berbinar seolah menemukan intan berlian di saku bajunya. Senyum juga betah bertengger di bibirnya seolah memohon pada Sasuke. Padahal hati Sakura sudah ketar-ketir jika pria itu nanti menolaknya. Ah, tidak!!! Sasuke tak boleh menolaknya!
"kau sedang berusaha mengusirku?"
Tanya Sasuke menyelidik. Ya, dia sadar sebenarnya Sakura ingin membantunya mendapat pekerjaan.
"iya! Tidak juga sih, tapi kurasa itu ide yang bagus jika kau pergi dari sini dan menyewa apartemenmu sendiri Sasuke-san. Tapi aku benar-banar hanya ingin membantu. Kau mau ya..." Sasuke mendengus keras mendengar permohonan gadis itu. Saat Sasuke sedang enak-enaknya menonton TV, tiba-tiba Sakura pulang sambil ngos-ngosan dan bilang ada audisi model hari ini. Bukan hanya meminta, menyuruh lebih tepatnya.
"aku tak mau" jawab Sasuke angkuh meski dengan nada datarnya. Pria itu dengan santainya kembali menonton televisi yang menyiarkan acara talkshow humor. Sakura menghembuskan nafasnya lelah.
"pekerjaan ini lumayan loh Sasuke-san, syaratnya juga tak terlalu susah. Kau hanya datang, melakukan interview, mengambil foto dan berjalan ala model. Itu mudah kan?" Sasuke hanya memutar bola mata. Malas meladeni ocehan gadis itu.
"lagipula kau memiliki badan yang lumayan tinggi dan wajah lumayan tampan Sasuke-san. Mereka pasti mau mempertimbangkannya, ya...walaupun ekspresimu datar-datar saja sih," Sasuke mendengus tak percaya mendengan perkataan gadis ini. Lumayan tinggi dan tampan katanya? Hell... apa mata hijau gadis itu sudah rabun? Atau gadis itu datang dari zaman kuno yang tak bisa membedakan mana jelek mana tampan terlihat dari tampilannya yang seperti gadis jadul?
Semua orang tahu kalau Sasuke mempunyai wajah rupawan di atas rata-rata. Oh come on, dia dinobatkan sebagai the most wanted guy in three years dan seorang casanova. Dengan kulit putih, rahang tegas, pipi tirusnya, hidung mancung dan tatapan onyx tajam yang selalu mengintimidasi sekaligus membuat para wanita bertekuk lutut.
Sasuke bahkan tak ingat berapa wanita yang sudah terjerat one night stand dengannya. Menjalani hubungan singkat lalu memutuskan wanita-wanita itu dengan alasan bosan. Membuatnya menjadi sosok womanizer yang sudah mematahkan banyak hati wanita, tapi siap yang peduli. he is perfect, harta, jabatan, rupa dan jangan lupakan nama Uchiha sebagai marganya. Well, lupakan urusan asmaranya yang bagai benang kusut itu. Sasuke sampai meyakini bahwa hatinya sudah terkunci hanya untuk satu nama. Saara, dan dia tak yakin bisa memalingkan hatinya pada wanita lain.
Sasuke berdiri dan langsung menghadap ke Sakura yang memandangnya masih dengan tatapan memohon. Membuat Sakura menelan ludah karena tingginya hanya mencapai ketiak Sasuke.
"baiklah, kau tinggi Sasuke-san. Dan kau tampan" Sakura mengucapkannya dengan tak rela. Ya, walaupun dalam hatinya dia membenarkan perkataannya. Sasuke memang tampan, tapi tampannya pasti lebih berlipat kalau pria itu mau tersenyum. Sedikit saja.
Sakura mengalihkan pandangan kemana saja asal tak bertemu onyx hitam itu. Meskipun dia hanya bisa melihat dada bidang pria itu saja saat menghadap depan. Sakura menghembuskan nafas pasrah. Dia masih harus berusaha.
"tapi kau benar-benar harus mencobanya. Maksudku, kau sudah sembuh kan? Kau juga sudah satu minggu disini dan tak melakukan apapun. apa kau tak bosan? Setiap hari hanya menonton televisi dengan acara itu-itu saja. Ah, kau juga tak memiliki berkas-berkas untuk melamar pekerjaan. Itu merepotkan kau tahu, dan ka—" perkataan Sakura terhenti saat Sasuke dengan cueknya masuk ke kamar dan mengunci pintu. Hell, hei, sebenarnya siapa yang tuan rumah disini? Kenapa pria itu bisa berlaku seenaknya sih?
sakura kan hanya ingin membantu, ya, walaupun sedikit memaksa sih. Sakura juga paham jika mungkin Sasuke merasa kurang nyaman dengan pekerjaan itu nanti. Apalagi pekerjaan menjadi model harus kuat fisik dan batinnya. Tapi demi kolor Sasori yang tak dicuci selama seminggu, Sakura hanya ingin mengajak Sasuke untuk ikut audisi. Masalah ditolak atau diterima nanti bisa dipikirkan belakangan. Apalagi melihat koran yang masih tergulung rapi seperti saat dia memberikannya tadi pagi. Sasuke pasti tidak membacanya. Ih, menyebalkan sekali!!!
Oke, ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Sakura tak mau menampung lelaki dewasa pemalas yang hanya menikmati hasil keringat Sakura. Sakura memang calon dokter, tapi kewajibannya sudah selesai karena Sasuke sudah sembuh. Lagipula, bukankah Sakura selalu punya ide cerdik di kepala gulalinya itu?
Sakura mengambil pena dan menuliskan sesuatu di secarik kertas kemudian menyelipkannya di bawah pintu Sasuke. Lihat saja, siapa yang bakal menang...
Hehehe... Sakura tertawa iblis dalam hati.
...
Sakura tak bisa menyembunyikan senyuman puasnya saat menatap pria disampingnya. Langkahnya begitu ringan bahkan hampir berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil mengejar balon. Ah, Sakura tak peduli. Dia sedang bahagia.
Dilihatnya lagi Sasuke dari atas sampai bawah, dari ujung kaki sampai ujung rambut kepala. Begitu seterusnya sampai Sasuke merasa risih dan berjalan lebih capat mendahului Sakura. Oke, sekarang dia harus akui kalau Sasuke memang tampan. Ya, walau tidak tampan-tampan amat sih. Soalnya mukanya masih datar bak triplek.
"berhenti memandangku seperti orang tolol, bocah!!!" seru Sasuke yang kini berhenti mendadak membuat Sakura tersentak. Sasuke memutar bola mata dan langsung duduk di kursi tunggu. Sebuah kartu bertuliskan angka 1245 sudah ada digenggamannya.
"hehehe, aku hanya tak menyangka kau akan jadi tampan begini. Ya, tidak tampan amat sih, tapi lumayan. Ah, dan jangan memanggilku bocah. Aku hampir 20 tahun tahu!!" Sakura memberengut dan meneliti lagi antrian di depannya yang begitu panjang. Hell... untung saja dia cepat-cepat mencari kursi tadi. Menunggu sambil berdiri pasti pegal sekali.
Sasuke hanya memandang antrian panjang itu bosan. Oh, dia menyesal sekali mengikut kemauan gadis merah muda itu. Bagaimana bisa hanya karena sebuah tulisan 'kubuang tomat-tomat itu' Sasuke dengan bodohnya berada disini. Menuruti kemauan bocah itu membuatnya menyesal sekarang. Harusnya dia tak perlu peduli dengan ancaman kekanakan Sakura. Tapi, tomatnya itu loh... Ah sudahlah!!!
Sasuke mendengus keras mengingat Sakura dengan semangatnya mengobrak-abrik lemari kakaknya untuk mendapat baju yang pas di badan Sasuke. Dan setelah perjuangannya, kini Sasuke memakai kaos biru panjang polos dan celana jins warna biru pudar yang sudah agak belel. Sepatu kets warna putih milik Sakura yang katanya kebesaran dan sebuah topi bewarna hitam bertengger manis di kepala Sasuke.
Sasuke sudah mengatakan pada Sakura jika pakaian ini membuatnya seperti anak kuliahan dari pada pria dewasa maskulin berumur 27 tahun. Sasuke terbiasa menggunakan setelan jas formal, atau kalau sedang santai Sasuke memilih menggunakan kaos oblong dengan celana jins seadanya. Tapi bukan belel. ini bukan stylenya. Dia tak nyaman.
Tapi gadis itu tak peduli, katanya Sasuke masih pantas memakai image anak kuliahan. Dia terlihat lebih segar dan berbeda. Tapi lihatlah sekarang tatapan curi-curi dari banyak peserta audisi perempuan. ah, bahkan yang laki-laki juga. Pesona seorang Uchiha memang absolut, tak peduli seperti apa outfit yang ia kenakan.
Sasuke mengeratkan topi hitamnya dan membenarkan kacamatanya, yang justru membuat hidung mancungnya makin mempesona.
"wow, tinggimu 183 Sasuke-san. Aku percaya kau benar-benar tinggi sekarang. Ah, kau pasti bakal jadi model yang terkenal" Sasuke bisa melihat mata emerald Sakura yang makin berbinar senang saat melihat resume biodatanya. Tapi tunggu, apa gadis itu mengatakan terkenal? Oh bagus sekali. Sasuke benar-benar lupa, jika dia mengikuti audisi ini pasti keluarganya akan langsung tahu dimana dia sekarang. Oh, bukan hanya keluarganya... mungkin seantero Konoha juga tahu jika Uchiha Sasuke ada di utara Konoha tengah mengikuti audisi modeling. Yang benar saja... oh ini akan benar-benar memalukan!!!
"Tapi kau harus tersenyum Sasuke-san. Wanita di bagian pendaftaran tadi terlihat menahan hidungnya yang mimisan karena melihatmu. Dia pasti takut padamu kan? Kau sih, menyeramkan sekali" Sasuke mendesah malas. Sakura terlalu polos untuk membedakan mana orang yang ketakutan dan mana yang tersipu malu. Sasuke bisa melihat kalau perempuan tadi gugup dan salah tingkah saat melihatnya. Oh ayolah, Sasuke sudah berhadapan dengan banyak wanita untuk tahu bagaimana tingkah mereka. Pengecualian untuk Sakura yang kadang terlihat pintar namun bisa jadi bodoh seperti saat ini. Sasuke meragukan ucapan gadis itu jika dia adalah mahasiswa kedokteran.
"boleh aku duduk disini?" Sasuke dan Sakura menoleh kepada seorang perempuan dewasa yang memasang wajah memelas di depan mereka. Pakaian wanita itu benar-benar sexi, lekuk tubuhnya yang menonjol dengan pulasan make up lumayan tebal yang mempercantik dirinya.
"aku sudah menunggu giliran sejak tadi pagi. Dan aku memakai sepatu hak tinggi ini. Ini membuat kakiku lecet" so, aku harus peduli gitu? Sakura membatin sambil mengangkat sebelah alisnya. Ya, meskipun dia juga kasian sih. Tapi tahu sakit kenapa masih dipakai?
Sasuke segera bangkit, membuat banyak peserta wanita terkagum dengan tubuh tegapnya. Apalagi dada bidang dan lengan berotot itu. Well, bagaimana ya, rasanya kalau dipeluk? Ya, kira-kira seperti itulah pemikiran mereka.
Sasuke hanya bertingkah biasa. Dia berdiri bukan untuk menunjukkan sikap gentlenya, tapi menurutnya ini kesempatan bagus untuk kabur dari tempat itu. Dia tak boleh ikut audisi jika tak mau jati dirinya terbongkar.
"tidak-tidak, Anda juga akan mengikuti audisi ini kan Tuan? Kau pasti lelah. Tapi, maaf nona, kulihat kau tak memegang kartu. Jadi bukankah seharusnya kau tak berada disini?" Sakura memaksakan sebuah senyum. Dia tahu apa maksud wanita sexi itu. Mendengus pelan Sakura berdiri dan membiarkan wanita itu duduk. Tak lama kemudian, ada banyak wanita yang langsung berjejalan disitu dan mengerubungi Sasuke. Sakura ingin tertawa tapi ditahan begitu melihat tatapan tajam Sasuke.
Meskipun mengenakan kacamata, Sakura jelas tahu tatapan menakutkan dari onyx itu. Baiklah, mungkin Sakura bisa keluar dari keramaian ini dan membelikan camilan untuk mereka berdua. Mungkin Sasuke sudah sempat makan siang tadi sebelum Sakura pulang. Tapi Sakura belum sama sekali. Dan perutnya minta diisi. Sakura perlahan pergi dari tempat itu.
"kau terlihat sangat tampan. kau juga memiliki tubuh yang kekar. Sepertinya kau rajin sekali berolah raga. aku yakin kau akan langsung lolos seleksi" Puji wanita itu sambil sedikit merunduk untuk memperlihatkan belahan dadanya.
Sasuke mendesah malas. Dia tak akan tergoda hanya dengan hal seperti itu.
Rencananya untuk kabur gagal bahkan Sakura sudah tak nampak lagi. Oh, kemana bocah itu? Sasuke mengumpat pada Sakura yang meninggalkannya seenaknya saja. Sasuke sedikit risih saat wanita tadi tak segan meraba daerah pahanya. Oh, amarah Sasuke sudah hampir di ubun-ubun.
"just go away from me!" seru Sasuke dingin. Pria itu segera menyingkirkan tangan wanita tadi. Sasuke tak akan tergoda dengan aksi murahan macam itu.
"ah, Anda juga memiliki suara yang sexi. Jadi, mau menghabiskan satu malam denganku?" Sasuke bisa mendengar cekikikan para wanita itu. Oh, bukankah seharusnya mereka menggoda pemilik agensi modeling ini, atau menagement pengiklanan produknya, atau siapa sajalah yang penting bukan dirinya! Meskipun Sasuke adalah seorang pengusaha dan kerap mendapat godaan dari wanita seperti itu, tapi dia tak pernah melakukan cara itu untuk menaikkan ketenaran seseorang. Dia sangat menghargai proses seseorang yang berjuang dari bawah hingga ke puncak.
"tunggu, bukankah wajahmu terlalu familiar, babe?" Sasuke langsung menepis kasar tangan perempuan lain yang hendak membuka kacamatanya itu. Dia berdiri dan langsung pergi setelah berhasil mendorong gerombolan wanita. oh, persetan dengan audisinya.
Sasuke hanya butuh pergi dari situ dan menuju apartemen Sakura lalu bergelung di futonnya yang nyaman. Atau menonton televisi dengan acara yang cukup membosankan. Tapi dia ingat bahwa ia tak memiliki sepeserpun uang dan dia kemari bersama Sakura menaiki motor maticnya. Oh, ini adalah kali pertama dalam hidupnya Sasuke merasa uang sangat dibutuhkan. Dia tak pernah memikirkannya dan ini membuat dia ingin tertawa.
Sasuke menuruni tangga tanpa menggunakan lift untuk menghindari pusat perhatian. Familiar, tentu saja wajahnya sangat familiar. Wajahnya mudah ditemukan di papan reklame atau majalah bisnis. Sasuke juga kerap membintangi acara talkshow bisnis dan mengisi seminar. Apalagi ciri-ciri seorang Uchiha sangat khas. Rambut hitam, mata onyx, kulit putih, rahang tegas dan wibawa yang orang berpikir seperti sikap dingin tak tersentuh. Sasuke hanya heran bagaimana Sakura tak mengenalnya
Sasuke tak peduli. Dia mempercepat langkah untuk segera sampai di lantai satu.
Sampai saat Sasuke merasa tubuhnya menabrak seeorang karena dia terburu-buru. Sasuke baru ingin menolong perempuan yang hampir terjatuh itu suara itu membuatnya sulit bernafas.
"Sasuke-kun?"
