Restoran hotel itu tak begitu ramai. Tentu saja, ini sudah jam 3 sore dan tak banyak orang yang makan disini. Sakura menerima dua cup cappucino dan 2 paket hotdognya. Uh, sebenarnya dia tak terlalu suka junkfood, tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang disediakan disini.
Sakura menggigit sosisnya sambil berjalan menuju lift. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Sasuke. Rasanya kasian juga membayangkannya dikerubungi oleh wanita-wanita sexi tadi. Yah, walaupun biasanya seorang pria malah suka jika melihat wanita-wanita dengan pakaian kurang bahan seperti itu, tapi Sasuke terlihat tidak nyaman.
Sebenarnya Sakura juga merasa keterlaluan sih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dengan dalih ingin membantu. Harusnya kan tidak boleh seperti itu?
"Sakura?"
Sakura menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan tersenyum melihat siapa yang kini berjalan sedikit berlari ke arahnya.
"Matsuri, tak perlu berlari. Kau bisa jatuh, kasihan gaun mahalnya kan?!" Sakura mengaduh saat menerima cubitan dari Matsuri yang kini terlihat sangat kesal. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun selutut dan berlengan panjang bewarna ungu. Ah, Matsuri memang primadonanya kampus.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Matsuri dengan nada sok angkuhnya.
"Halah, tanpa perlu pujian dariku kau sudah terlihat cantik, Matsu... Ya, beda sedikitlah dengan hari-hari biasa" cibiran Sakura membuat Matsuri makin sebal. Dia lupa satu hal, mana bisa Sakura menilai penampilan seseorang? Gadis itu sudah seperti buta mode saja!!!
"Ah, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini? Kau tidak sedang menusukku dari belakang dengan mengikuti audisi kan?" Sakura mendengus.
"Mengantar teman audisi. Kau sudah selesai audisi?" melihat angka yang menempel di rok bagian pinggang Matsuri karena angkanya masih diatas Sasuke. Ah, mengingat lelaki itu Sakura harus bergegas. Sasuke pasti kelaparan.
"Sudah. Ah, tapi aku tak yakin dengan hasilnya... Ada banyak model yang sudah lebih terkenal juga mengikuti audisi itu... Dan Nona Saara juga tak terlihat tertarik denganku, aku pasti tidak masuk ke semi final nanti" Matsuri dengan segala kepercayaan dirinya yang mudah dilenyapkan begitu saja dengan segala presepsi buruknya.
Sakura hanya tersenyum, dia sudah berulang kali menghadapi Matsuri dalam model seperti ini, dan dia sedang buru-buru. Matsuri yang melihat tingkah Sakura yang seperti mencuekinya jadi sebal sendiri. Padahal dari mereka berempat biasanya Sakura yang paling perhatian. Ya... Bukan berarti dia ingin mendengar ceramah panjang Sakura sih, tapi dicuekin kan juga menyebalkan. Akhirnya sebuah ide jahil melintas di otaknya. Mengerjai Sakura sesekali tak apalah... Sakura kan juga kerap mejahilinya.
Ting!
Pintu lift terbuka tapi Sakura bisa merasakan dorongan yang lumayan keras dari arah belakang. Gadis itu sudah bersiap kalau hidungnya akan bengkok karena menabrak dinding lift, nyatanya ia malah merasakan benda yang tak terlalu keras menabrak hidungnya. Dia sedikit mengaduh. Hidungnya pasti nanti memerah. tapi kemudian matanya melebar saat sadar dia telah menabrak seseorang laki-laki dilihat jelas dari jas mahal di depannya. Belum lagi leleran saus sosis di sekitar jas itu. Oh, ini pasti hari terakhir dia hidup.
"bagus sekali Sakura, kau membuat jas ku kotor" mendengar decakan itu Sakura sontak mendongak. Seketika itu juga wajah putihnya memucat. Jade yang biasanya berkilat datar itu terlihat marah. Tentu saja siapa yang tidak marah dalam keadaan seperti ini? Sakura mengalihkan pada Matsuri yang entah sudah kemana gadis itu. Awas saja dia!
"Gaara-sensei?" Sakura menelan ludah dengan berat. Dari sekian banyak manusia di hotel ini kenapa harus bertemu dengan dosen sok gantengnya itu sih... Yah, walaupun Sakura tidak ingin terjebak di situasi macam ini. Tapi kan?
"ya, aku masih dosen favoritmu, Sakura. Aku senang kau tak melupakanku. Dan sepertinya kita memang berjodoh karena bisa bertemu disini. Tapi aku tidak bisa menyapamu karena harus menemui seseorang sekarang juga. Terimakasih sekali padamu karena membuat penampilanku terlihat semakin menawan" Sakura semakin tak enak mendengar kalimat sarkasme itu. Gaara sensei benar-benar marah saat ini, apalagi dosennya itu sudah memanggilnya dengan nama kecil. Ucapkan selamat tinggal pada nyawamu, Sakura.
Gadis itu segera menaruh semua makanan yang masih terbungkus rapi di lantai lift dan menghabiskan sisa hotdog nya dengan cepat. Dia sudah tak memperdulikan hidungnya yang masih nyut-nyutan. Itu bisa dipikir nanti.
pintu lift tertutup dan mereka mungkin turun ke lantai tempat Gaara memiliki kepentingan. Sakura menelan ludah.
"gomenasai, sensei" Sakura membungkuk dalam "Aku benar-benar tak sengaja. Aku tadi didorong seseorang dan kebetulan sensei ada di hadapanku. Tapi, aku akan tetap bertanggung jawab. Kucucikan jasnya ya?" Sakura memelas. Dia berharap Gaara tidak memperpanjang masalahnya sampai mempengaruhi nilainya nanti. Walaupun Sakura percaya tentang kekonsistenan pria itu, tapi Sakura tetap was-was.
"Aa" Gaara hanya melepas jas itu dan hanya menyempirkannya di lengan. Untung saja kemeja hitamnya tak ternoda. Tapi Sakura jadi bingung sendiri harus berbuat apa. Kenapa Gaara tak memberikan jasnya itu padanya sih?
Oh, sekesal apapun dia pada dosen termuda di kampusnya itu tapi dia tak ingin terlibat masalah. Sakura akan melakukan apapun untuk mengamankan nilainya meskipun harus memohon padanya. Sakura baru akan mengatakan kalimat maaf lagi saat lift terbuka dan Gaara keluar terlebih dulu sambil menerima telephon.
Sakura mengikutinya, dan baru sadar kalau mereka di satu lantai di bawah lantai tempat audisi diadakan. Gadis itu bisa mendengar suara datar Gaara pada orang yang menelponnya di seberang sana. Tapi Sakura tak peduli.
Sakura masih mengekori Gaara sampai dia hampir menabrak punggung lelaki merah itu jika dia tak punya refleks yang bagus. Gaara berhenti mendadak dan kini terlihat menatap sesuatu, membuat Sakura mengikuti arah pandangnya.
Emeraldnya melebar, bagus! seseorang yang dia cari ada di depan pintu tangga darurat. Tapi tunggu, apa Sasuke sudah selesai audisi? Kalau sudah kenapa dia harus lewat tangga darurat?
Sakura baru akan melambaikan tangan saat tiba-tiba Sasuke berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Padahal Sakura yakin jika Sasuke sempat melihatnya. Masalahnya pandangan Sasuke malah agak lama bersinggung dengan milik Gaara. Ada apa dengan pria itu? Dan apa Sasuke mengenal Gaara?
Gaara mencekal lengan Sakura saat gadis itu berjalan melewatinya, seperti mengikuti arah Sasuke pergi tadi. Tapi tidak mungkin mereka berdua saling mengenal kan? Atau apa ada sesuatu yang Gaara tak tahu?
"Gaara-kun?"
"Gaara sensei?" Sakura mengernyit saat Gaara malah menahannya. Kemudian ia menoleh pada suara feminim yang juga memanggil nama Gaara di saat bersamaan. Seorang wanita berambut merah kecoklatan yang pernah dia lihat di kampusnya. Ah, sekarang dia ingat siapa wanita yang ia lihat di majalah. Ternyata kekasih Gaara sensei toh!
Sakura segera melepaskan cekalan di tangannya dan membungkuk. Memberi hormat pada wanita itu yang kini berjalan ke arah mereka. tapi ketika hampir berdiri tubuhnya terasa oleng karena sebuah tangan yang lagi-lagi menarik lengannya. Kali ini lebih kencang, dan detik berikutnya Sakura merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya.
Emerald Sakura membulat. Gaara sensei menciumnya!!!...dia tak salah kan? Ini GAARA? Gaara dosennya yang sok kecakepan dan bermata panda itu menciumnya? Menciumnya di bibir?
Menciumnya di bibir?
menciumnya di bibir?
menciumnya?
Di bibir?
Demi Tuhan itu first kiss nya!!!
Sakura hampir menjerit frustasi saat ia ingat bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada hal itu!
Oh, kalau sampai ada anak kampus yang melihatnya Sakura yakin besok pagi akan ada berita 'seorang mahasiswi ditemukan tewas di laboratorium biologi karena ditusuk puluhan pisau bedah'. Semoga Matsuri tak melihatnya. Gadis itu bisa membunuhnya lebih dulu ketimbang yang lain jika tahu dosen favoritnya menciumnya. Oh, lebih baik dari itu karena kekasih si panda merah itu menyaksikan adegan live mereka. BAGAIMANA INI???
Gaara melepaskan ciumannya dan memandang Sakura yang hanya berdiri mematung. Mata gadis itu melotot seperti ingin keluar. Pipinya memerah parah. Jade Gaara beralih pada Saara yang kini menutup mulutnya terkejut. Matanya sudah basah. Gadis itu segera berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari Gaara.
Suara ketukan sepatu Saaralah yang membuat jiwa Sakura kembali. Dia masih belum mengerti apa yang baru saja terjadi. Katakan ini adalah mimpi! Wanita berambut merah kecoklatan itu pasti marah besar mendapati kekasihnya mencium wanita lain. Sakura mencebikkan bibir dan segera pergi ke arah Sasuke tadi. Peduli amat dengan nilainya yang mungkin akan anjlok nanti.
Tapi tidak bisa! Dia tak ingin mengulangi mata kuliah semester depan dengan dosen itu lagi. Entah bagaimana Sakura Malah berbalik dan mengambil jas Gaara di lengan pria itu. Tanpa berkata apapun, Sakura membungkuk sekilas dan beranjak pergi.
Gaara hanya mendengus untuk menahan kekehannya karena tingkah Sakura. Gadis itu pasti takut nilainya akan berkurang karena bertindak kurang ajar pada Gaara. Padahal ia selalu bersikap profesional dengan tak mengkaitkan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Meskipun ia juga tahu kalau Sakura tak sengaja menabraknya tadi.
Gaara merasa kurang ajar karena telah mengambil ciuman dari mahasiswi favoritnya itu. Gaara mendesah. Entahlah, melihat tatapan dingin Sasuke yang sempat bersinggung dengannya tadi membuat dia merasa keterlaluan. Sasuke sungguh menatap damba pada Saara. Ada kilatan rindu dan sakit disana. Begitupun tatapan Saara pada dirinya.
Tapi rasanya Gaara harus mengakhiri ini. Dia menyadari dirinya terlalu pengecut malah dengan menggunakan orang lain. Dia sama saja dengan Saara. Dan Sasuke juga sama pengecutnya dengan tiba-tiba pergi begitu saja. Ah sudahlah, Gaara ada janji dengan seseorang.
...
Sakura tak bisa menemukan Sasuke di parkiran. Mencarinya di dalam hotel juga pasti tak ada. Sasuke kan dari awal memang tak suka ikut audisi ini. Harusnya Sakura tahu diri dengan tak boleh memaksa kehendak orang lain. Tapi kan dia hanya ingin membantu? Oke, hentikan perang batin itu dulu. Lebih baik saat ini cari Sasuke di jalanan, pasti belum jauh.
"Sasuke-san?" Sakura mendesah lega saat melihat Sasuke hanya duduk diam di halte bus. Wajahnya nampak lebih dingin dari sebelumnya. Ada apa dengannya?
"Sasuke-san, kenapa disini? Kan aku sudah bilang padamu untuk menungguku?" Sakura mengatakannya dengan lesu. Sebenarnya dia juga kesal sih, tapi melihat mata tajam Sasuke yang seperti ingin memakannya itu membuat Sakura seakan mengerut.
"oke deh, aku tak lagi memaksamu. Maaf ya, kita bisa cari pekerjaan lain besok" tapi Sasuke tak menyahutinya. Masih menatap tajam Sakura. Ada apa sih dengan Sasuke?
"Yah, baiklah. Terserah padamu lah ingin bekerja atau tidak" Sakura juga jengah ditatap terus seperti itu. Tapi nyatanya Sasuke masih menatapnya nyalang. Sepertinya pria itu benar-benar kesal.
Padahal Sasuke kesal bukan karena audisi model ini. Ya itu hanya bagian kecilnya saja. Dia lebih kesal kenapa harus bertemu Saara sepaket dengan Gaara. Apa mereka mau memamerkan hubungan mereka berdua eh? Cukup sudah! Mengingat itu membuat suasana hati Sasuke makin buruk saja.
"ya sudahlah, aku mau pulang. kalau kau tetap mau disini ya terserah" Sakura yang sudah malas mulai menstater maticnya. Ya, Cuma sebagai pancingan kok, pasti Sasuke juga bakal memanggilnya kan? Dia mana punya uang?
Tapi, lama Sakura menghidupkan mesin kok Sasuke tidak bereaksi apa-apa ya? Sakura menghembuskan nafas. Harusnya Sakura mulai memahami sifat menyebalkan pemuda itu. Sabar Sakura...
"Sasuke-san, kau—" Sakura mengernyit aneh saat Sasuke malah seenak udel masuk ke bis yang entah sudah sejak kapan nongkrong disitu. Sakura mendesah, ah..mungkin saja Sasuke mau pulang ke tempat asalnya kan? Itu lebih bagus. Akhirnya Sakura bisa bebas dari Sasuke. Sakura berjingkrak senang dalam hati.
Tunggu, ini kan bukan bis antar kota? Terus memangnya Sasuke memiliki uang apa untuk ongkos? Ah... sakura jadi bingung sendiri. Ya sudah lah... berhubung bisnya juga mengarah ke apartemennya lebih baik dia ikut. Sekalian pulang ke apartemen juga. Ah tapi Sakura lupa Sasuke pasti kelaparan saat ini. Kulkas juga sedang kosong, ia lupa berbelanja kemarin. Lebih baik membeli makanan di kedai saja untuk Sasuke. Setelah itu dia berangkat kerja.
Benar sesuai dugaannya. Sasuke turun di depan apartemennya dan pergi begitu saja padahal belum membayar. Untung saja Sakura sampai lebih cepat dan langsung memberikan uang untuk kondektur yang sedang memandang kepergian Sasuke bingung. Tampan-tampan kok naik bis dibayarin seorang gadis ya? Mungkin begitulah isi kepala kondektur. Sakura hanya tersenyum maklum. Aneh sekaligus lucu.
Senyum Sakura langsung berhenti begitu melihat jam dinding resepsionist. Sakura buru-buru mengejar Sasuke yang hampir masuk ke lift. Dia segera memberikan bingkisan padanya.
"Ini untuk makan siang yang terlambat Sasuke-san. Maafkan aku ya, aku berjanji tidak akan memaksamu lagi. Aku sudah terlambat bekerja. Aku pergi dulu, Jaa!!!" setelah itu dia menerima pesan dari kakaknya. Sial... Dia akan sangat terlambat!
...
Uchiha Mikoto mengaduk teh dengan lesu saat suaminya pulang. Fugaku hanya memandang heran pada istrinya yang kini jadi tontonan televisi. Bukan Mikoto yang menonton televisi. Fugaku meraih remot dan mematikan siaran berita itu.
"Tadaima" ucap Itachi yang tiba-tiba muncul masih dengan tas kerjanya
"Okaeri" Mikoto melirik sekilas dan kembali ke kegiatan semula. Fugaku dan Itachi hanya saling pandang kemudian mendudukkan diri di shofa. Itachi yang duduk di samping Mikoto segera mengambil cangkir teh tadi.
"Kaa-san kenapa?" tanyanya lembut, tapi malah dihadiahi tatapan tajam sang nyonya besar Uchiha.
"Kau tanya Kaa-san kenapa? Kemana saja dirimu itu hah? Apa kau tak tahu kalau adikmu itu hilang?" masalah ini lagi. Itachi menyesal menanyakan hal ini pada Mikoto. Sasuke kan anak kesayangan ibunya. Itachi merutuki adiknya yang tiba-tiba menghilang itu.
"Sasuke sudah dewasa, Kaa-san!"
"Kau memang tak pernah memperdulikan adikmu ya, Sasuke masih kecil, apa kau tahu dimana dia tidur? Sudah makan apa belum? Kau dari kemarin hanya diam saja!!!" Itachi merengut mendengar tuduhan tak beralasan dari Mikoto. Dia lupa kalau ibunya ini selalu memanjakan Sasuke.
Itachi menatap Fugaku seolah memberi kode. Tapi dengan cueknya Fugaku malah meminum teh tadi. Yah, segalak-galaknya Fugaku dia lebih memilih diam daripada menghadapi Mikoto yang dalam mood iblis seperti ini. Dia masih sayang tubuhnya, jika disuruh tidur di luar lagi seperti malam-malam sebelumnya.
"Cari Sasuke sekarang! Bawa dia ke hadapanku, apa untungnya menyandang nama Uchiha jika mencari informasi semudah itu saja kau tidak bisa. Katanya kau CEO Uchiha Corp perusahaan besar itu, apa kau tak bisa menyuruh orang-orangmu untuk melakukan sesuatu?" Itachi mendesah. Sekarang malah dia yang disalahkan. Ini salah Sasuke, kenapa adiknya itu meninggalkan mobilnya di parkiran umum dengan pakaian mahalnya. Itachi tahu Sasuke tak menarik sepeser pun uang dari bank. Pasportnya dan pakaiannya juga masih lengkap di almarinya. Sebenarnya Itachi bisa dengan mudah menemukan Sasuke dengan bantuan orang-orangnya. Tapi Sasuke sudah dewasa, ia yakin Sasuke memiliki alasan untuk melakukan hal itu.
"Itu pasti karena kalian terus memaksanya menikah kan?" dibahas lagi. Padahal siapa yang paling sering merecoki Sasuke untuk menikah. Ingin sekali rasanya Itachi mengungkapkan apa yang dipikirannya tapi dia tak mau berakhir menerima omelan panjang dari sang nyonya besar. Fugaku pun sepertinya seperti itu.
Itachi memilih diam dan ikut menuang teh ke dalam cangkir yang tersisa. Meladeni ibunya yang seperti ini membuatnya malas.
"Tou-chan!" Itachi menoleh dan tersenyum lebar saat Yuki turun dari tangga bersama seorang anak seumurannya berambut merah. Yuki menarik tangan anak itu untuk sampai pada Itachi.
"Tou-chan lihat deh, Ken-kun mengajariku menggambar. Bagus sekali kan?" Itachi terkekeh mendenar nada cadel putrinya. Ia mengangguk.
"Ken-kun bilang aunty nya pintar menggambar. Kapan-kapan aku mengundangnya kesini ya..." Itachi mengiyakannya.
"Ken akan segera pulang?" pertanyaan itu keluar dari bibir sang nyonya besar. Ah, sejengkel apapun dia pada suami dan sulungnya dia tak bisa marah pada cucunya. Pada Ken juga. Teman anaknya itu begitu kalem. Sifatnya itu mirip Sasuke waktu kecil katanya. Ah, mungkin Mikoto lupa bagaimana manja dan cengengnya Sasuke dulu.
"Ha'i baa-san. Tapi Aunty yang akan menjemputku, Tou-san tak bisa" Itachi merinding lagi saat mendapati tatapan tajam Mikoto. Sebenarnya apa lagi kesalahannya?
"Itachi, sudah Kaa-san bilang berapa kali jangan memberi tugas banyak pada ayah Ken-kun. Lihat kan, Ken-kun jadi kurang punya quality time dengan ayahnya" seru Mikoto tajam.
"Tapi dia kan sekretarisku Kaa-san," Itachi baru akan melanjutkan pembelaannya saat pelayan mengatakan bahwa Aunty Ken sudah datang. Ken segera berpamitan dan Itachi lebih memilih mengantar Ken bersama Yuki dan Mikoto.
Itachi tak bisa melihat rupa aunty Ken karena tertutup helm. Yang jelas, Ken hanya memberi lambaian tangan sebelum motor itu meninggalkan mansionnya.
...
"Sasuke-kun"
"Hn. Sara" mereka masih terdiam. Sasuke memutuskan kontak mata mereka dengan pergi meninggalkan Sara. Tapi wanita itu terlanjur menahan lengannya.
"Jangan pergi, kumohon" Sasuke berhenti. Menahan dirinya untuk tak berbalik dan mengiyakan permintaan Sara. Sasuke melepas kedua tangan Sara yang menahannya.
"Kenapa kau menghilang Sasuke-kun? Semua orang mencarimu. Shion bahkan tak sudi lagi menatapku karena dia berfikir kau pergi karena ku" ujar Sara lirih. Jadi karena ini? Karena Shion? Bukan karena Saara yang mengharapkannya kembali? Ah, Sasuke sepertinya amnesia karena melupakan siapa dirinya bagi Saara.
"Kau menjenguknya?" Sasuke bertanya.
"Iya, bagaimanapun dia sudah kuanggap adik sendiri. Meski aku tetap kecewa pada kedua orang tua kami. Tapi dia membenciku, Sasuke-kun... Tak bisakah kau kembali padanya?" Sasuke mendengus. Saara selalu mendorongnya untuk menerima Shion dan mencintainya. Tapi Sasuke tak bisa. Rasa sayang pada gadis pirang itu hanya sebatas rasa sayang kakak pada adiknya.
"Kau tahu siapa yang kuinginkan" Sasuke memandang Saara datar. Meski kilat onyx itu tak bisa berbohong. Rindu.
"Kau juga tahu siapa yang kucintai. Kau lebih tahu dari dia, Sasuke-kun" iya, Sasuke tahu. Sasuke bahkan mengorbankan persaannya ketika Sara memintanya untuk mendekatkannya pada Gaara. Seperti tiba-tiba membatalkan janji makan malam bertiga untuk membiarkan Saara berdua dengan Gaara, membantu Saara untuk mendapat akses keluar masuk apartemen Gaara dan lain-lain.
Rasanya sudah kalah sebelum bersaing dengan Gaara. Pria berambut merah itu tak perlu melakukan apapun untuk mendapat perhatian Saara. Meskipun Sasuke selalu tahu tatapan bersalah Gaara padanya. Pemuda itu bahkan membuang egonya untuk meminta maaf.
Tapi ego Sasuke terlalu tinggi. perasaan itu masih sama. Sasuke masih terus mengharapkan Saara. Mereka berempat masih terjerat benang cinta yang belum terputus. Bagaimana persahabatan mereka yang indah bisa berakhir seperti ini?
Lamunan Sasuke berhenti saat mendengar suara bel apartemen Sakura. Gadis itu tak mungkin menekan bel nya sendiri kan? Meski Sasuke mulai paham kebiasaan kurang kerjaan Sakura.
Seingatnya, Sakura juga bilang jarang ada orang yang mengunjunginya mengingat jadwal Sakura padat. Sakura hanya bilang kadang-kadang wanita tua yang tinggal di apartemen sebelah sering berkunjung untuk memberikannya makanan atau meminta makanan kucing. Sasuke heran, disini kan tak ada kucing, tapi kenapa di laci penyimpanan paling atas ada begitu banyak makanan kucing? Ini salah satu kegiatan kurang kerjaan Sakura.
Gadis itu selalu mengeluh tentang harga sayuran terutama tomat yang mahalnya selangit, harus berebut dengan ibu-ibu lain tapi malah membeli barang yang lebih mahal dan tak dibutuhkannya sama sekali. Sasuke mendengus mengingat kelakuan unik gadis itu.
Bunyi bel makin lama makin panjang hingga mau tak mau Sasuke harus membukanya. Saat Sasuke membuka pintunya, sepasang mata aquamarine dan amnethis sedang melotot di hadapannya. Ekspresi dua wanita itu begitu horror bahkan Ino sampai terpekik lumayan keras.
Sebuah bungkusan plastik juga teronggok tak berdaya di lantai. Sasuke memejamkan matanya, kehebohan pasti akan terjadi sebentar lagi.
"Sa-Sasuke-kun?" penyakit gagap Hinata sepertinya pindah ke Ino. Aquamarinenya masih melotot tak percaya. Ino bahkan mencubit lengannya sendiri untuk membangunkannya kalau ini termyata mimpi.
Ini yang ada dihadapannya adalah sahabat tampannya yang seenaknya lari dari tanggung jawab perusahaan itu kan? Sahabatnya yang membuat dia jadi lembur terus-terusan? Sahabatnya Uchiha Sasuke kan?
"Sasuke-kun, benarkan ini kau?" Hinata yang sudah kembali dari keterkejutannya mulai menduga. Kenapa Sasuke ada disini?
"hn" gumaman Sasuke membuat Ino berjengit. Dia menyentuh lengan Sasuke dan menggoyangkannya pelan. Ini nyata!!!
Sasuke yang terbiasa dengan tingkah nyleneh Ino hanya mendengus. Ino seperti Naruto dalam versi perempuan. Bibir tipis wanita itu mampu mengeluarkan rentetan kalimat yang akan membuat telinga Sasuke panas.
Ino sendiri sudah merangkai sebuah skenario di otak dramanya. Sasuke yang kecelakaan itu mengalami lupa ingatan, lalu ditolong oleh Sakura dan mereka terlibat jatuh cinta hingga Sakura tak ingin Sasuke pergi dan berakhir tinggal di apartemen ini. loh, kok jadi begini ya...
Hayalan Ino terhenti saat Sasuke dengan tiba-tiba menariknya masuk ke dalam apartemen. Mata onyxnya mengintimidasi, dia ingin menunjukkan pada dua sahabatnya ini bahwa Sasuke lah yang berkuasa.
"dengar, aku tak ingin kalian mengatakan pada siapapun bahwa aku ada disini. Kalian mengerti?" masih Sasuke yang arogan ternyata. Mata Ino memicing, tak suka. Hilang sudah khayalan romantis di kepalanya.
"begitu? Oh, dengar Tuan Uchiha Sasuke yang terhormat, semua orang dan keluargamu mengkhawatirkanmu. kami mencarimu selama ini, dan perlu kau tahu kau meninggalkan perusahan saat proyek yang besar baru di tahap awal. Kau membuat kami pusing karena proyek itu, kau lihat mataku yang menghitam ini? Ini buktinya Sasuke! sedang kau? apa yang kau lakukan di apartemen Sakura ha!!!" sembur Ino emosi. Hinata menepuk pundak Ino untuk menenangkan.
"bukan urusanmu" ujar Sasuke singkat, makin membuat Ino geram.
"Ini urusanku tentu saja! Kami membutuhkanmu Sasuke, ibumu bahkan sempat sakit karena memikirkanmu" sasuke merasa bersalah pada Ka-sannya. Sampai sebegitukah?
"Ada Shikamaru dan Neji yang menghandle semuanya" jawab Sasuke datar.
Ino baru akan berbicara saat
Hinata lebih dulu angkat bicara. "Itu benar Sasuke-kun, tapi kami membutuhkanmu, kau bos kami. Kau yang selalu memberi ide-ide briliant untuk perusahaan. Kita sudah menjalankan ini beberapa tahun, kita selalu bersama, Sasuke-kun. Kau ingatkan?" berbeda dengan Ino yang bersikap bar-bar, Sasuke tak tega untuk membentak wanita selembut Hinata.
"Atau, kau jangan-jangan melakukan sesuatu pada Sakura ya... Kau memperkosanya dan sekarang ia hamil kan?" Sasuke mendengus. punya sahabat seperti Ino yang sudah terobsesi dengan telenovela lebay ini memang merepotkan!
"Aku tak tertarik pada bocah itu" kata Sasuke datar.
Ino baru akan menimpali saat mendengar langkah kaki mendekat ke ruangan ini. Kemungkinan besar Sakura, mengingat apartemennya berada di paling ujung.
"itu pasti Sakura!" Ino baru akan menghampiri pintu saat Sasuke menahan lengannya. Memberi pandangan intimidasi yang cukup membuat Ino panas dingin. Oke, Ino mengalah. Sasuke memang selalu menang dalam hal sekecil apapun.
"Loh, Hinata-nee, Ino-nee kalian kenal Sasuke-san?" melihat tangan Sasuke yang masih berkait dengan lengan Ino membuat Sasuke mendesah malas. Mungkin dia akan mengarang cerita bebas setelah ini.
...
review, please...
