Next, hope you enjoy it...
...
"Jadi, bagaimana pekerjanmu Sasuke-san?" Sasuke melirik malas pada Sakura yang kini mengikutinya ke ruang tamu. Sudah sejak gadis itu pulang dari tempatnya bekerja, makan malam, hingga sekarang hanya pertanyaan itu yang keluar dari bibirnya. dia juga mengikuti Sasuke seperti anak kucing.
"Hn. Biasa saja" ya, hari-hari produktifnya memang kembali. Dan Sasuke bersyukur dia bisa menyelesaikan masalah besar dalam pekerjaannya di kantor sehingga tak perlu membawa pulang. Ah, pulang bukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan bahwa ia menumpang disini. Tapi siapa peduli?
Tentu saja Sakura yang peduli. Rasanya seperti bicara dengan patung saja. Sakura mengambil buku dan pena lalu mulai mengerjakan tugas-tugasnya. Sasuke hanya meliriknya sebentar kemudian mengecilkan volume televisi. Dia tak mau mengganggu.
"Oh iya, kau pulang naik apa tadi?" Sakura kembali bertanya sambil membereskan bukunya. Dia sudah selesai dan mengantuk, tapi sepertinya Sasuke masih betah disini.
"Naik bis" jawabnya singkat. Dia memang naik bis, untuk mengambil mobilnya di apartemennya dulu. Sedang mobil yang ia tinggalkan di depan butik Sara sudah berada di rumah keluarganya. Tapi mana mungkinkan, Sasuke mengatakannya pada Sakura?
"Memangnya kau punya uang, Sasuke-san? Ini masih hari pertamamu bekerja loh... Ya,kalau kau memang mendapat pinjaman sih tak masalah. Tapi jangan boros-boros lah... Ingat, kau harus mencari apartemen setelah ini" Sasuke hanya mengendikkan bahu tak peduli. Dia sudah terlanjur nyaman disini meski harus tidur beralas futon, makan masakan rumah yang selalu sederhana dan menonton televisi yang kecil setiap malam.
"Baiklah, aku tidur dulu. Selamat malam" kata Sakura sambil berusaha membuka matanya yang sudah merem melek. Sasuke hanya memperhatikannya sampai DUKK!!! kepala Sakura membentur dinding samping pintunya. Sasuke berusaha menahan tawanya.
"Ih, kenapa dindingnya ada disini sih! Sial! Tertawalah sepuasmu, Sasuke-san... Ha-ha-ha" setelah itu Sakura masuk kamar dan membanting pintunya keras-keras. Sasuke tak bisa menahan tawanya lagi.
Tapi tiba-tiba saku celananya bergetar. Sasuke mengambil ponselnya dan segera keluar apartemen. Dia memang berjaga-jaga.
"Halo?" jawab Sasuke begitu ia sampai di parkiran apartemen sebelahnya. Dia tak mau mengambil resiko Sakura dan yang lainnya curiga bagaimana bisa ada mobil mewah di bangunan apartemen sederhana ini.
"Sa-sasuke-kun? Itukah kau? Akhirnya kau mengangkat teleponku juga" Sasuke terdiam sebentar. Begitu pula suara lemah di ujung sana. Ia tak menyangka Shion akan menelponnya. Padahal ia yakin ini bukan nomornya yang dulu. Jadi, siapa yang memberikannya?
"Shimura-san yang memberikan nomor ponselmu, Sasuke-kun. Jadi, bagaimana kabarmu?" Sasuke masih terdiam. dia ingin menghajar temannya itu tapi juga teringat Sai pasti sangat kesal karena karena Shion. Sai bersama teman-temannya juga ingin agar Sasuke bersikap tegas kepada Shion. sungguh, andai mereka tahu bahwa Sasuke sudah mencobanya. tapi Shion terlalu keras kepala, dan ketika dia mulai terpinggir lagi itu hanya akan membuat penyakitnya kambuh. ini yang membuat Sasuke bersalah.
mereka hanya diam, tapi kemudian Sasuke mulai membuka suara.
"Hn. Aku baik-baik saja" terdengar tarikan nafas yang panjang dari Shion.
"Apa yang terjadi, Sasuke-kun? Kenapa kau menghilang begitu saja? Apa semua ini karenaku? Atau karena Sara?" nada Shion melemah di kalimat terakhir.
"A-aku merindukanmu. Kau tak pernah berkunjung kemari dan aku tak bisa minum susu hangat selain buatanmu. Bisakah kau kemari?" Sasuke hanya mendengarkan. Ia benci perasaan lemah ini saat mendengar suara Shion yang mulai bergetar. Ia memang menyayangi Shion, tapi sebatas kakak kepada adik.
"Atau kau sedang sibuk? Aku tahu, aku sangat merepotkanmu. Tapi aku mencintaimu dan tak ingin kau meninggalkanku. Tidak, kau tak boleh meninggalkanku... Bukankah kau pernah berjanji untuk selalu menjagaku?" janji ya... Sasuke tahu itu. Tapi bukan menjaga dimana ia harus selalu disisi Shion. Gadis itu tak bisa terus-menerus menumpu pada Sasuke. Mereka memiliki kehidupan sendiri dan bersama Shion hanya akan mengingatkannya pada penolakan Sara. Sungguh, Sasuke sangat lelah.
"Sasuke-kun, ak--" Suara Shion tak lagi terdengar karena Sasuke sudah memutuskan panggilannya. Dia tak memblokir nomor itu, tapi hanya mematikan ponselnya. Demi Tuhan, kenapa Shion tak pernah mengerti. Sasuke lelah untuk terus menolak perempuan itu. Sasuke memukul kemudi mobilnya untuk melampiaskan kekesalannya.
...
Shion memandang nanar pada telepon rumah sakit yang dipinjamnya. Suara berat yang sangat dirindukannya itu terdengar begitu dingin. Seolah tak menganggap apa yang disampaikannya itu penting.
Shion tak bisa menahan ini. Rasa sesak memenuhi paru-parunya sampai sulit bernafas. Rasanya ia ingin keluar dari sini untuk menemui pria itu. Dia sudah lelah menangis, namun rasa cintanya pada Sasuke membuatnya tak bisa menyerah. Semua perhatian Sasuke, dia tak bisa melupakannya begitu saja. Dia tak peduli meski Sasuke hanya menganggapnya adik. Dia akan merubah semua itu.
"Shion" Shion tersentak dan segera menghapus air matanya. Dia berbalik dan mendapati Gaara dengan jas putihnya berdiri sambil memegang ponsel.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Gaara.
"A-aku hanya merasa bosan. Dan aku ingin menghubungi seseorang" Gaara mengangguk. Dia mendekat ke arah Shion dan mulai mendorong kursi rodanya.
"Masih mencoba menghubungi Sasuke?" Gaara bertanya, tapi Shion hanya meresponnya dengan tundukan kepala.
"Aku merindukannya" gumamnya.
"Aku tahu" kemudian Gaara mengingat kejadian beberapa hari lalu saat ia tak sengaja bertemu dengan Sasuke di hotel. Benarkah itu Sasuke? Gaara masih ingat bagaimana onyx itu menatap Sara nanar.
"Kenapa Gaara-nii masih disini? Bukankah besok mengajar?"
"Aku mendapat shif malam. Dan besok aku mendapat jam agak siang" sebenarnya pekerjaan Gaara adalah dokter. Tapi dia menyetujui untuk menggantikan Kankorou-kakaknya- yang tiba-tiba mgmiliki urusan di Suna. Dan Gaara tak keberatan dengan hal itu. Lagipula dia tidak full mengajar disana.
"Aku bosan. Bisakah aku keluar untuk jalan-jalan?" tanya Shion sambil mendongak.
"Udara malam tidak bagus untukmu"
"Tidak harus sekarang. Bagaimana dengan besok?" tanya Shion penuh harap.
"Tidak bisa. Ada rapat rumah sakit yang harus ku pimpin" Gaara berkata jujur. Rumah sakit Konoha memang cabang rumah sakit keluarganya yang berada di Suna. Dan orangtua Gaara sudah mempercayakan semua urusan rumah sakit pada Gaara. Mereka lebih memilih menetap di Suna.
"Aku tidak harus pergi bersama Gaara-nii, aku bisa--"
"Shion, jangan membantah!" Shion menunduk begitu Gaara menolak. Gaara mendesah.
"Baiklah, kau boleh jalan-jalan keluar dengan perawat disini pada hari Sabtu" Shion mengangguk dengan semangat. Dalam otaknya sudah terancang berbagai rencana untuk bisa menemui Sasuke. Terserah apapun resikonya.
...
Hari ini adalah hari yang Sasuke tunggu-tunggu. Hari liburnya, dan Sasuke merasa malas untuk bangun pagi. Dibenaknya sudah terencana apa saja yang akan ia lakukan hari ini. Sarapan, menonton televisi, tidur siang, menonton televisi sampai malam, makan malam dan menonton televisi lagi. Memang monoton sih, tapi ya mau bagaimana lagi, Sasuke suka bermalas-malasan disini.
Tapi ya namanya rencana memang tidak ada siapa yang tahu. Sakura sudah menggedor pintu kamarnya sedari pagi dan hampir membuat engselnya jebol jika Sasuke tak segera bangun. Gadis itu memaksa Sasuke membantunya membersihkan apartemen dan menemaninya ke pasar. Sasuke bisa saja menolak, tapi gadis itu mengancam dia akan mengusir Sasuke dari apartemen. Sebenarnya bukan masalah sih, tapi sekali lagi, Sasuke merasa nyaman tinggal disana.
"Kenapa harus disini?" Sasuke berusaha menyamai langkah Sakura yang berjalan cepat di kerumunan. Bau menyengat dari ikan dan daging menyerang hidungnya. Oh, ini adalah kali pertama dalam hidup Sasuke masuk ke pasar tradisional. Mengikuti Sakura yang dengan gesit berpindah dari satu kios ke kios lain. Gadis itu hanya menyerahkan kantung belanjaan padanya dan menyeret Sasuke kesana sini. Well, Sasuke tak akan mau diajak kesini lagi.
"Ya, disini sayurnya lebih segar. Terus harganya kan lebih murah, lumayan kan bisa menghemat untuk biaya sewa apartemen" Sasuke tertegun. Dia memandang Sakura yang masih memilah-milah tomat. Bisa dilihat jika Sakura menbeli tomat itu dengan jumlah yang lebih banyak dari awal-awal Sasuke menginap di apartemennya. Ya, gadis itu memang perhatian.
Sasuke juga tak pernah tahu bagaimana kehidupan gadis itu. Dia hanya tahu Sakura tinggal sendiri dan memiliki seorang kakak yang sudah menikah.
Sasuke memang sadar dia begitu kejam memanfaatkan kepedulian gadis itu. Dalam hati dia berjanji akan mengganti semua kebaikan gadis itu nanti.
"Sasuke-san ayo. Kita akan makan siang" Sasuke hanya mengangguk dan mereka berjalan menuju perkiran. Sakura mengernyit saat Sasuke duduk di jok depan.
"Duduk di belakang. Biar aku yang menyetir" perintahnya tegas.
"Memang kau bisa?" Sakura berkata tak yakin. Biasanya juga Sasuke duduk membonceng di belakang, kenapa tiba-tiba ingin menyetir.
"Terserah kalau kau masih ingin disini" dan Sakura memekik saat Sasuke sudah menjalankan motor meninggalkannya. Ah, lelaki itu memang menyebalkan!
Sakura memerintahkan Sasuke untuk berhenti di sebuah kedai yang tak terlalu ramai, dari luarnya. Tapi ternyata di dalam sangat ramai. kedai itu juga terletak di dalam gang, jelas sulit dilihat oleh pelanggan. Sasuke bisa melihat beberapa pelayan disana mengenal Sakura. Mereka menempati meja dekat jendela.
"Pesanlah makanan apapun yang kau inginkan" masih dengan nada sebal Sakura menyerahkan buku menu pada Sasuke.
"Baik hati sekali kau hari ini" sindir seja. Dia mengernyit saat membuka buku menu tanpa tulisan harga itu. Sungguh, dia penasaran.
"Di kedai ini kau bisa makan sepuasnya dengan membayar berapapun. Kau tak perlu khawatir masalah harga" Sasuke mengernyit.
"Kenapa begitu? Bukankah hanya akan menimbulkan kerugian?" Sakura menutup buku menu dan menatap Sasuke intens.
"Karena mereka berjual bukan soal untung rugi Sasuke-san. Mereka benar-benar menawarkan makanan disini. Mereka percaya bahwa semboyan perut kenyang hati senang akan membuat kedai ini eksis. Ya, mungkin kau tak mau percaya tapi kedai ini sudah berdiri 15 tahun" jelas Sakura sambil tersenyum.
"Aku biasanya pergi kesini bersama kakakku jika sudah tanggal tua. Ya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Makanya aku mengajakmu kemari. Selain karena aku merindukan masakan disini, juga supaya kau tahu dimana tempat makan enak dan murah di kota besar ini. Kita harus bisa bertahan kan?" Sasuke mengangguk. Meski dia masih belum paham bagaimana sistem kerja disini tapi membuatnya menjadi penasaran. Mungkin Sasuke bisa mencari tahu nanti. Dia mengikuti Sakura yang mulai memesan makanan.
"Dimana keluargamu?" ini adalah kali pertama Sasuke menanyakan perihal hidup Sakura. Mereka masih menunggu pesanan.
"Em... Kedua orang tuaku tinggal di Suna. Aku mengikuti kakakku sejak SMA. apartemen itu sebenarnya milik kakak, tapi ya berhubung dia sudah menikah makanya pindah di perumahan dekat pusat kota" Sasuke mengangguk. Dalam hati dia kagum pada Sakura yang sudah hidup mandiri.
"Temanmu yang waktu itu?" Sakura memandang Sasuke penasaran. Matanya menyipit.
"Kenapa? Kau menyukai mereka? Mereka memang wanita karir yang mengagumkan. Tapi mereka sudah punya kekasih. Yang kutahu mereka bekerja di kantor yang sama. Jadi hati-hati Sasuke-san. Tidak usah mencari masalah dengan mereka. Ingat kedudukanmu" Sasuke mendengus. Astaga, siapa juga yang naksir pada Hinata dan Ino. Sasuke memang kagum pada Hinata. Wanita cantik dengan perangai lembut dan anggun. Masalahnya Hinata terlalu pemalu dan sudah menyukai Naruto
"Aku tidak menyukai mereka"
"Ah, Syukurlah... Wah, makanannya sudah datang. Selamat makan!" Sakura segera mengambil sumpit dan melahap sushi dalam sekali lahapan. Sasuke mendengus untuk menahan bibirnya yang berkedut ingin tersenyum.
...
"Apa tidak apa-apa kita sampai disini?" Shion melirik sekilas pada perawat yang masih menahan lengannya. Dia bersikeras untuk tidak mengenakan kursi roda karena alasan tidak nyaman. Shion juga memaksa perawat itu untuk membawanya ke wilayah Konoha bagian utara. Entahlah... Dia sudah malas berkeliling taman kota yang jika weekend seperti ini pasti ramai.
"Shion-chan" Shion menghentikan langkah begitu mendengar suara itu. Hanya satu orang yang memanggilnya begitu.
"Sara-san?" sapa perawat Shion. Sementara Shion masih bergeming. Sara tersenyum dan menatap Shion yang kentara sekali tak ingin melihat dirinya. Sara tersenyum kecut.
"Bagaimana kabarmu?" Shion membuang muka. Dia sungguh tak ingin bertemu Sara saat ini dan seterusnya.
"Karena kau sudah bisa jalan-jalan kupikir kau baik-baik saja"
"Terimakasih" lirih Shion. Masih tak mau memandang Sara.
"Aa... Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku memiliki pekerjaan disini, kalau kalian mau kapan-kapan bisa mampir. Ini alamatnya" Sara memberikan sebuah kartu pada perawat dan berbalik pergi. Shion memandang sendu pada punggung Sara. Dia mengambil kartu yang diberikan tadi dan memasukkannya ke dalam saku. Sungguh, Shion merasa benci pada dirinya sendiri karena iri pada hidup Sara.
"Ayo, Shion-san" Shion mengangguk. Dia baru akan berjalan saat manik violetnya menangkap siluet tegap yang sangat ia kenal. Shion tak mungkin salah. Dia begitu paham siapa pria yang memakai kaos oblong coklat dengan celana jins belel itu, meski itu bukan stylenya. Uchiha Sasuke, Shion yakin. pria itu keluar dari sebuah gang dan menaiki sebuah matic warna pink. Shion segera mengambil kertas milik Sara tadi dan menulis nomor platnya. dia baru akan menghampiri Sasuke saat seorang gadis berambut merah muda duduk di jok belakang. meski memakai topi, Shion bisa melihat gadis itu berambut merah muda.
"Shion-san, ada apa?" perawat itu bertanya sambil mengernyit.
"Em... Tidak apa-apa. Tapi, bisakah aku minta tolong belikan minum? Aku haus" perawat itu mengangguk dan meminta Shion untuk menunggu di tempat itu. Setelah punggung perawat itu tak terlihat, Shion melangkah pergi. Ini kesempatan emas.
...
Sakura merenggangkan ototnya yang terasa berat setelah berhasil melawan macet. Untung saja Sasuke bisa mengendarakan maticnya dengan gesit. Selip kanan kiri dengan lincah. Coba kalau tidak, uh Sakura tidak mau membayangkan bagaimana hari weekendnya berakhir.
Sakura mengernyit saat Sasuke datang membawa dua gelas jus dan tokoyaki yang mereka beli di jalan.
"Hn. Minumlah" Sakura cengo beberapa saat.
"Tumben sekali kau baik Sasuke-san. Kau sedang tidak bermaksud apa-apa kan?" Sasuke hanya mendengus. Dia sudah menduga Sakura akan berkata seperti itu. Ya, Sasuke hanya sedang ingin membuat jus saja, jadi sekalian kan?
Sakura mulai meneguk jus itu namun buru-buru ia muntahkan. Astaga, jus jeruk ini begitu asam!
"Kau tidak memberinya gula?" Sasuke melirik sebentar.
"Hn, aku tak suka manis" Sakura hanya melongo. Seharusnya dia sudah memahami bagaimana sifat Sasuke ini. Sakura yang sebal mulai beranjak untuk mengambil gula. Sedang malas untuk memberi asupan gizi pada telinga Sasuke.
Ting tong...
Sasuke dan Sakura sepakat melirik pintu. Siapa yang datang petang-petang begini? Sakura langsung bergegas membukakan pintu karena percuma mengganggu Sasuke yang sudah menikmati kegiatan menonton televisinya.
"Aa, selamat sore Sakura" Sakura langsung berdiri mematung di depan pintu. Mulutnya melongo sebentar membuat pria di depannya mendengus. Dia berdehem dan Sakura tersadar.
"Ap-apa yang Gaara-sensei lakukan disini?" Sakura memerhatikan penampilan Gaara yang berbeda dari biasanya. Pakaian formalnya sudah berganti dengan pakaian casual. Hanya kaus panjang warna cream dan celana jins. Hodienya hanya tersampir di bahu dan rambut merahnya terkesan acak-acakan.
"Kau memang tidak pernah membalas salam dariku ya, Sakura. Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin menepati janjiku sebagai permintaan maaf. Makan malam, ini hari sabtu ingat?" lalu Sakura teringat pada pertemuannya dengan Gaara beberapa hari lalu. Astaga, Sakura sungguh melupakannya karena berpikir itu hanya sebuah candaan. Hei, dia juga tak mengharapkannya.
"Em... Aku tak bisa sensei, aku sudah makan malam. Lagipula aku sudah memaafkan sensei kok... Hehehe" cengiran Sakura mungkin terlihat aneh. meskipun itu adalah perbuatan Gaara tapi Sakura membiarkannya kan? kenapa waktu itu dia tidak menolak atau menamparnya. ya, Sakura malah kabur dan pikiran rasionalnya masih berfungsi karena dia dosen. Dia tak pernah melupakan ciuman itu, demi Tuhan itu ciuman pertamanya!!! Sakura menjerit dalam hati.
"Kalau begitu kau tak keberatan kan jika aku menciummu lagi?" manik emerald Sakura hampir lepas saat wajah Gaara tiba-tiba mendekat padanya. Apalagi seringai itu lagi-lagi terpampang mau tak mau mengingatkannya pada kejadian itu. Astaga...
Sakura menelan ludah dan melangkah mundur tapi Gaara sudah menahan handel pintu. Gaara seolah memeluk Sakura. Posisi mereka ini bisa membuat siapapun salah paham. Sakura sedikit mendorong Gaara, tapi pria itu terlalu kuat.
"Jadi bagaimana? Ciuman? Atau makan malam?" seringai Gaara makin lebar. Katakanlah dia pengecut karena mengancam seorang gadis hanya untuk berkencan dengannya. Tapi jika itu Sakura, rasanya bukan masalah.
"Oke makan malam. Tunggu aku 10 menit" Sakura langsung membanting pintu saat Gaara sudah melepasnya. Dia mendesah lega.
Sakura buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian. Hanya pakaian casual biasa seperti saat kuliah. Sakura mana punya gaun, tiba-tiba wajahnya memerah jika teringat ini bukan kencan. Hei, ini cuma makan malam.
Tapi tunggu, kenapa dia harus mau? Sakura bisa sajakan beralasan tiba-tiba dia sakit perut dan tak bisa ikut makan malam. Iya, begitu saja. Sakura baru akan mengatakan hal itu pada Gaara tapi dia jadi teringat nilainya. Bagaimana jika nanti nilainya jadi jelek, oh ini jadi menyebalkan!
"Kau akan kemana?" Sakura menoleh pada Sasuke yang masih menikmati jus jeruk tanpa gulanya.
"Aku ada makan malam dengan dos- em... Temanku? Ehehehe... Ya begitulah, kalau begitu aku pergi dulu ya, jangan lupa kunci pintunya!" Sakura tersenyum gugup karena onyx Sasuke tiba-tiba memicing padanya. Tapi dia tak berkomentar apapun.
"Baiklah Gaara-sensei, ayo pergi" Gaara mengangguk dan mengikuti langkah Sakura yang sudah mendaguluinya.
Mereka tidak tahu saja, bahwa pintu apartemen itu kembali terbuka dan sesosok manusia kurang kerjaan mengintip disana.
Sasuke mendengus melihat dengan siapa Sakura pergi. Sabaku Gaara. Sasuke sudah tahu jika Gaara memang dosen Sakura. Sakura kerap bercerita betapa menyebalkannya sikap Gaara padanya. Padahal yang Sasuke tahu, Gaara memiliki sifat yang hampir sama dengannya. Cuek dan dingin. Jadi menilik dari cerita Sakura dan kejadian malam ini hanya satu yang bisa ia simpulkan. Gaara mungkin menyukai Sakura, ah... Lucu sekali jika pemikirannya itu memang benar.
Sasuke baru sebentar menutup pintu saat mendengar pintu Sakura lagi-lagi terketuk. Kali ini lebih brutal. Oh astaga, gadis itu ternyata punya banyak tamu!
"Aunty Sakura!!!" jeritan-jeritan itu langsung menyambut Sasuke. Dia hampir saja menegur perbuatan bocah-bocah kecil itu saat suaranya menangkap suara berat yang memanggil namanya
"Sasuke" oh, Sasuke ingin masuk ke dalam dan mengunci apartemen itu rapat-rapat. Sasuke mendesah berat melihat siapa yang berdiri melotot di hadapannya.
