Ying duduk di kursi halte untuk menunggu bus yang akan segera tiba. Gadis itu baru saja pulang dari kumpul klubnya di sekolah. Sesekali diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu semakin sore.
Suasana halte kali ini sepi, hanya ada beberapa pejalan kaki dan kendaraan yang kebetulan melintasi jalanan tersebut.
Ying menoleh kala melihat seseorang berdiri di ujung kursi halte, sambil menyandarkan punggungnya pada sebuah tiang. Iris ruby-nya melirik langit-langit yang berwarna jingga, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, topi hitam dengan aksen merah menghadap depan, dan seragam sekolah berbeda dengan apa yang Ying kenakan.
"Sekolah sebelah?" tanya Ying pada dirinya sendiri.
Gadis itu menggedikan bahu. Ying tak mengenalnya, ia tidak harus peduli dimana pemuda itu sekolah.
Kala itu pula, bus yang dinanti tiba dan berhenti di hadapan halte. Ying langsung menaiki bus tersebut, lalu duduk di dekat jendela. Manik safir-nya tak sengaja berbenturan dengan pemuda itu yang juga meliriknya.
Ying mengernyit heran ketika si pemuda tak kunjung menaiki bus, meski kendaraan umum itu kembali melaju.
Bukan urusannya, kan?
Boboiboy (c) Animonsta
A FanFiction by Ms Lunaaa
Warning: AU, HaliYing, flat, typos, OOC, DLDR.
Enjoy~
Sore ini, Ying kembali menunggu bus sambil bertukar chat dengan sahabatnya, Yaya. Sesekali Ying tersenyum ketika Yaya memberikan sebuah candaan.
Lagi, Ying dikejutkan dengan kehadiran pemuda itu. Kali ini duduk dengan jarak dua meter di samping Ying, dan iris matanya melirik langit yang menyenja.
Eh, Ya. Tahu nggak? Ada cowok di halte. Tapi dari kemarin, dia kayak lagi nggak nungguin bus.
Balasan datang dengan cepat dari Yaya.
Modus padamu kali.
Ying mengernyitkan dahi. Mana mungkin modus. Tidak ada yang mau mendekatinya karena Ying bicara blak-blakkan tanpa hati. Dan terkadang, sikapnya yang menjurus seperti cowok membuat para cowok asli langsung mundur. Mana mungkin, kan?
Ying melirik pemuda itu dengan ekor matanya. Kali ini, ia menutup kedua matanya—yang entah Ying ketahui si pemuda sedang apa.
Merasa diperhatikan, pemuda itu langsung menoleh cepat dan iris ruby serta safir langsung bertabrakan.
Ying salah tingkah, ia langsung memfokuskan diri pada ponselnya dan Yaya. Meski tangannya malah bergetar samar saking salah tingkahnya.
Bus tiba di hadapan Ying, gadis itu langsung menaiki bus dengan langkah cepat. Lagi, si pemuda hanya menatap Ying tanpa memiliki keinginan untuk menaiki bus.
Ying tidak mengerti sama sekali. Kalau bukan untuk menaiki bus, lalu apa yang ia lakukan?
"Ah, bukan urusanku."
"Siapa kau ini, sih?"
Hari ketiga, dan Ying memberanikan diri untuk bertanya pada pemuda beriris ruby dan berpenampilan sama seperti sebelumnya.
Kedua bola matanya langsung menilik Ying dengan saksama, tetapi tak keluar satu patah kata pun dari bibirnya.
Ying gemas. Ia duduk di samping pemuda itu tanpa memperhatikan reaksi si pemuda.
"Kau ini siapa?" tanya Ying mengulangi pertanyaannya.
Pemuda itu berdeham sebelum menjawab. "Orang."
Meski suaranya serak dan menggoda, Ying malah jengkel dengan jawaban yang dilontarkan. "Seriusan!"
"Halilintar," ucapnya lagi sambil menatap langit-langit halte.
"Aku Ying," balas Ying sambil tersenyum.
"Tahu."
Ying mengerjap. "Tahu? Dari mana? Dari siapa? Kok bisa tahu namaku?"
"Pertanyaanmu kebanyakan dan kecepetan, satu-satu," ujarnya datar.
"Kau tahu dari mana namaku?"
"Dari orang."
Baik, Ying tambah jengkel. Kalau bisa, Ying ingin menendang pemuda yang berada di sebelahnya ini. "Kau ini siapa, sih?!"
"Kan sudah kubilang, aku Halilintar. Kau tuli, ya?"
"Enak aja!"
Hening. Suasana sepi membuat Ying malah merasa bersalah karena sebelumnya membentak Halilintar. Padahal, Ying tidak biasanya mudah merasa bersalah. Namun entah kenapa, Halilintar ... berbeda.
"Maaf," ucap Ying.
Halilintar hanya mengangguk, dan tak mengatakan apa pun lagi.
Bus tiba kala itu. Terpaksa perpisahan perlu diucap.
"Sampai jumpa, Halilintar," ucap Ying dan hanya tatapan lembut yang Ying dapatkan.
Tatapan yang entah mengapa membuat hatinya menghangat. Ying tak bisa membayangkan jika tatapan itu tak lagi sama.
"Minta nama akunmu, dong," pinta Ying sambil mengulurkan ponselnya pada Halilintar.
"Akun apa?" tanya Halilintar. Meski begitu, ia meraih ponsel milik Ying.
"Apa aja, sekalian nomormu, ya." Ying tersenyum lebar, dan Halilintar mengutak-atik ponsel Ying.
"Ikuti akun sosial mediaku, semua," ujar Ying lagi.
Halilintar mengangguk, lalu membuka sebuah aplikasi chat untuk menambahkan nomornya.
Entah apa yang membuat Ying berani meminta akun sosial media atau nomor dari pemuda yang baru ia temui selama empat hari. Ying tidak mengerti pada dirinya sendiri, dan tidak akan pernah mengerti.
Ying menatap wajah pemuda itu dengan senyuman kecil. Ying tidak waras kalau mengatakan bahwa pemuda itu tidak tampan. Karena nyatanya, ia memiliki wajah seperti seorang aktor drama korea yang selalu Ying tonton. Sama tampannya.
Halilintar menyerahkan ponsel milik Ying kembali pada pemiliknya, dan saat itu juga Ying sadar bahwa ia diam-diam memperhatikan.
"Aku tahu aku tampan, tidak usah melihatku sebegitunya," ucap Halilintar sambil menatap langit.
Kedua pipi Ying bersemu, ia tertangkap basah karena memperhatikan. "A-aku tidak memperhatikanmu!" ucapnya sambil membuang muka.
Halilintar tersenyum tipis, membuat Ying yang melirik Halilintar dengan ekor matanya malah salah tingkah. Ying belum pernah melihat pemuda itu tersenyum, dan hal itu sangat manis. Sangat-sangat manis hingga Ying rasanya mau pingsan.
Ying berdeham, berusaha bertingkah cool.
Decitan ban dan jalanan yang berbunyi menarik perhatian keduanya.
"Busmu sudah sampai, tuh. Sampai nanti, ya." Halilintar mengacak surai Ying pelan. Terlihat biasa tetapi tidak dengan dampak yang diberikan
Ying mengangguk cepat, ia buru-buru menaiki bus sebelum kendaraan umum itu mulai meninggalkan halte.
Ying duduk di dekat jendela, ia bisa melihat Halilintar melambai pelan padanya. Ying membalas singkat, lalu menyentuh kepalanya saat bus sudah kembali melaju.
"Dasar, baru ketemu udah bikin salah tingkah," rutuk Ying dengan suara pelan.
Gadis itu membuka ponselnya, mencari kontak sahabatnya lalu mengirimkan chat.
Yayaaaaa! Tahu nggak? Aku salah tingkah tahu, aku kayak orang bodoh!
Ying menunggu balasan dengan hati melonjak senang. Dalam hati merutuki dirinya sendiri yang bisa jatuh semudah itu.
Ketika notifikasi berbunyi, Ying langsung mengeceknya. Namun bukan dari Yaya, melainkan dari seseorang yang kali ini ada di pikirannya.
Sampai nanti, ya.
Singkat, tetapi Ying merasakan ia bisa pingsan kapan saja.
Ying bahkan tidak tahu kapan pemuda itu mencatat nomornya di dalam ponsel atau telapak tangan. Dan pertanyaannya, Halilintar punya nomornya?
Kalau dibilang jatuh cinta, hal itu adalah hal yang tabu. Mana mungkin bagi seorang Ying jatuh cinta. Neneknya akan tertawa.
Namun bisa saja. Bisa saja Ying jatuh pada seorang pemuda dengan ciri-ciri yang pertama, tampan, dan bisa menjeratnya dengan pesonanya.
Ying meneguk ludah. Kakinya membawanya ke halte tempat biasa untuk Ying menunggu bus yang membawanya pulang.
Kali ini, hatinya bergetar. Ying tahu ia berlebihan dalam menyikapi—yang Yaya kemarin malam katakan—cinta. Padahal, dilihat dari sekolahnya, banyak gadis yang malah terlihat santai di samping pasangannya. Namun bukan berarti Ying mau berpasangan dengan Halilintar!
Rileks, Ying. Kamu bukannya mau diajak nikah lari, kok. Eh, bukan berarti aku mau nikah sama dia juga!
Selagi sibuk dengan pikirannya, Ying tanpa sadar telah tiba di halte. Kali ini, rupanya pemuda itu telah tiba lebih dulu di halte.
Dari samping aja ganteng banget—fokus, Ying!
Ying menghampiri Halilintar setelah menyiapkan senyumnya yang manis.
"Halo, Hali!" sapa Ying ceria. Gadis itu duduk di atas kursi halte, sekaligus di samping Halilintar.
Halilintar tak membalas, ia malah sibuk menatap langit senja.
"Hei, langitnya nggak kemana-kemana, kok," ujar Ying.
Halilintar menoleh dan Ying langsung mati kutu. "Begitu lah."
"Aku punya pertanyaan," lanjut Ying setelah berdeham singkat.
Halilintar mengangguk, lalu memperhatikan jalanan yang dilalui beberapa kendaraan.
"Kenapa kau ... selalu memperhatikan langit?"
"Nggak tahu. Bagus aja."
"Jawaban macam apa itu." Halilintar menggedikan bahu.
Bus tiba saat itu juga. Untuk kali ini, Ying rasanya ingin mendorong kendaraan umum itu mundur dan memberinya sedikit waktu hingga Ying bisa bicara banyak pada Halilintar. Ying bahkan baru bertemu dengan Halilintar beberapa detik lalu.
"Pergi sana," ucap Halilintar, lalu mengelus kepala Ying singkat.
Ying mengangguk patah-patah, gadis itu menaiki bus lalu duduk di kursi dekat jendela.
Iris mata Ying memperhatikan gerakan bibir Halilintar yang terbuka. Seperti mengucapkan sesuatu.
Bus melaju dan kedua pipi Ying malah merona merah. Sial.
"Aku mencintaimu."
Ying berlari kecil sambil menutupi kepala dengan telapak tangan.
Sore ini, hujan deras mendadak luruh kala Ying sudah setengah jalan menuju halte bus. Mau berbalik dan meneduh di area sekolah juga sama dengan percuma.
Gadis itu akhirnya tiba di halte bus yang sepi. Untung saja pakaiannya tak terlalu basah.
Halilintar belum tiba saat ini. Bukan berarti Ying sangat mengharapkan kehadirannya di sini untuk menemaninya mengobrol sebentar.
Sambil duduk di atas kursi halte dan memeluk tubuh tanpa jaketnya, ekor matanya tanpa sengaja melihat seseorang mendekat. Ying refleks menoleh dan benar saja, Halilintar tanpa payung dan pakaian luar biasa basah tengah berjalan santai.
Ying tak mengerti kenapa Halilintar bisa sesantai itu dalam hujan-hujanan. Kalau untuk Ying, mamanya pasti akan marah dan mengomelinya.
"Kenapa main hujan-hujanan?!" tanya Ying dengan nada siap mengomel.
"Nggak ada payung," jawab Halilintar singkat, lalu mengambil tempat di samping Ying.
"Terus kenapa ke sini kalau nggak ada payung? Selama ini juga kamu nggak naik bus, tuh."
"Ya, untuk bertemu denganmu."
Suhu kali ini memang dingin, tetapi Ying malah merasa suhu tubuhnya hangat dan ia kepanasan. Bahkan rona merah muncul di kedua pipinya.
"Kenapa harus bertemu denganku?!" tanya Ying mencoba galak.
Halilintar menatap langit yang meluruhkan air hujan. "Kalau kata saudaraku. Kalau cinta ya, perjuangkan."
Ah sial, apanya yang diperjuangkan? Ying tidak mau terlalu merasa percaya diri jika cinta yang Halilintar maksud ternyata bukan dirinya.
"Dan aku akan memperjuangkannya tentu saja," lanjut Halilintar lalu tersenyum sambil menatap Ying.
"Apa maksudmu, hah?!" Ying mengalihkan pandang, tak mau menatap pemuda itu lebih lama. Hal itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Ya, kamu. Aku mencintaimu. Sungguhan, aku nggak bercanda," ujar Halilintar.
"E-eh, bajumu basah semua, kau bawa baju ganti?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Halilintar membuat Ying bungkam. "Aku mencintaimu."
Tak ada yang tahu bahwa detak jantung pemuda itu juga melebihi ritmenya. Halilintar telah memberanikan diri untuk menyatakan pernyataan cintanya secara langsung setelah beberapa minggu ini ia datang ke halte bus untuk bertemu gadis itu.
"Y-ya, terus?!" Ying kembali mencoba galak, tetapi Halilintar melihatnya sebagai Ying yang salah tingkah.
Halilintar terkekeh pelan. "Jadi pacarku, ya?"
"P-p-pacar?! Kau tanya siapa?" tanya balik Ying dengan gugup dan cepat.
Ying tak bisa membayangkan bahwa ia akan mendapatkan pacar, Ying bahkan tak pernah membayangkannya. Namun kali ini, seorang pemuda menginginkan Ying untuk menjadi pacarnya. Yang kalau dilihat status sejak lahirnya, Halilintar akan menjadi pacar pertama Ying.
Ying sulit bereaksi.
"Pertanyaanmu itu kuanggap sebagai 'ya'." Halilintar tersenyum, lalu mengacak surai Ying yang sempat lepek karena air hujan.
"T-t-tanganmu basah," ucap Ying yang kali ini merasa bahwa dirinya gila. Perutnya terasa dihinggapi oleh ribuan kupu-kupu, detak jantungnya berlomba-lomba, dan Ying merasa ia terbang terlalu tinggi.
"Iya, Pacar. Kan habis hujan-hujanan."
Fin
/nyembul dari balik dinding. Mm, halo. Ketemu lagi sama Luna. Barangkali belum kenal sama Luna, salam kenal dan ayo kenalan XD
Oh iya, another story dari fic ini akan segera tiba~ Nggak mungkin kan, kalau Hali tiba-tiba cinta sama Ying? Nah, buat yang mau menunggu, Luna sungguh luar biasa terhura T_T
Review-nya and see you!
27 Agustus 2020
