Author's note: Mengobati rasa rindu pada fanfic Akatsuki, Penulis akhirnya menciptakan kisah konyol ini. Kisah ini takkan panjang sampai puluhan chapter, kok. Intinya semoga kisah ini bisa menyenangkan hati kalian semua. Terima kasih.

.


Disclaimer: Kishimoto Masashi

Akatsuki's Games Chapter One: Permainan Impresi Part 1

Oleh Josephine Rose99

.

Note:

Kisah ini hanya untuk bersenang-senang, tanpa menyinggung pihak manapun.

Bukan plagiat. Murni ide dari kepala IQ rendah penulis.

Silahkan tinggalkan komentar. But, no flame.

.

.

.

.

.

AKATSUKI'S GAMES

CHAPTER ONE

PERMAINAN IMPRESI PART ONE

OLEH JOSEPHINE ROSE99

.

.

.

Rapat bertema menunda perburuan Bijuu sampai dua tahun telah selesai. Seketika seluruh anggota Akatsuki bubar, menuju kegiatan masing-masing. Sementara sang ketua memilih berbaring sejenak di kamarnya, lelah mengoceh.

Namun kebosanan menyerang. Pria tersebut berkali-kali berguling-guling mencari pose tidur yang tepat, tapi gagal. Raut wajahnya kesal. Dia benar-benar muak sekarang. Dia baru tahu dampak penundaan perburuan mereka mengakibatkan suatu keadaan yang disebut 'pengangguran'.

Kemudian, dia pun memilih keluar dari kamar. Mencoba mencari tahu kegiatan anak buahnya. Siapa tahu dia bisa ikutan, 'kan? Lagipula sendirian itu tidak menyenangkan. Sayangnya, jawaban yang dia dapat tak jauh beda dari keadaan dirinya sebelumnya.

Mereka sama-sama menganggur, tak tahu harus melakukan apa sampai menunggu dua tahun berlalu.

"Kalian sedang apa?" ketua Akatsuki, Pein, si makhluk gaib dengan pierching di tubuhnya bertanya kepada seluruh anggotanya yang sedang berbaring telentang di markas mereka.

"Bosaaaaaannnn (Un) (Senpai)..." kesembilan anggota menjawab kompak dengan nada lemas.

"Bukannya biasanya kalian melakukan hal yang biasa kalian lakukan? Kalian tahu, seperti-"

"Lipat kertas? Kamarku sudah penuh dengan burung-burung kertas. Karena aku tidak bisa tidur disana, makanya aku mengungsi di ruang tamu."

"Memandang ikan mas kokiku? Malas. Sejak aku beli ikan mas koki jantan, si Catherine selingkuh dariku."

"Tadi aku memang mau melihat wajah tampanku di cermin, tapi entah kenapa cermin aku mendadak retak. Hiks hiks..."

"Tanah liatku habis, un. Mana aku belum beli lagi! Padahal mau main rumah-rumahan, un..."

"Aku mau main boneka-bonekaan, tapi Tobi kurang ajar itu merusaknya. Berterima kasih padanya, sekarang aku ikut menganggur disini."

"Stok darah untuk ritualku habis. Dan Kakuzu sialan itu tidak mau meminjamiku uang untuk beli darah lagi!"

"Semua uang kas kita sudah selesai kuhitung. Tak ada pemasukan lagi. Kenapa organisasi ini lebih kere daripada yang kuduga!?"

"Bunga-bunga cantikku sudah kusiram semua. Jadi, aku tak ada pekerjaan lagi, Pein."

"Kalau Tobi sih cuma ikut-ikutan, Senpai!"

Perlukah penulis menyebutkan satu-persatu siapa yang menjawab pertanyaan Pein yang bahkan belum selesai itu? Ah, sepertinya tak perlu, ya. Setiap jawaban mencerminkan orangnya.

Pein yang masih berdiri memandangi mereka satu persatu pun sweatdrop. Terkadang dia heran dengan organisasi yang dia dirikan ini. Apakah organisasi Akatsuki benar-benar diisi oleh buronan kelas kakap? Tapi kenyataannya mereka begitu childish, norak, dan dipenuhi ketidakjelasan lainnya.

Oke, sebagai ketua, dia harus melakukan sesuatu, "Baiklah, ada ide untuk membunuh rasa bosan ini? Apapun!"

"Tak ada ide, Pein. Kalau ada, aku takkan berakhir disini." jawaban bagus, Konan.

"Membunuh rasa bosan, katamu? Kalau begitu kenapa kalian tidak bayar saja utang kalian sekarang? Maka, aku takkan bosan lagi," benar-benar sebuah pendapat paling egois dari Kakuzu. Si bendahara mata duitan ini berhasil mendapatkan lirikan malas dari teman-temannya.

"Jalan-jalan?" sebuah ide tercetus dari kepala Kisame yang IQ-nya tak lebih dari IQ seekor Babon. Dan tentu saja idenya tersebut ditolak mentah-mentah oleh orang yang sudah kita duga.

"Hah? Jalan-jalan itu terlalu mahal, tahu! Aku tak suka kegiatan yang buang-buang uang! Ide ditolak!" sergah Kakuzu sewot. Kisame langsung pasang muka bete.

"Berenang di kolam renang Konoha bagaimana? Katanya ada kolam renang yang baru buka, tuh!" tak buruk, Sasori. Itu ide yang lumayan bagus. Namun lagi-lagi ditolak oleh orang yang sama.

"What?! Berenang di kolam renang itu butuh biaya, bego! Kau ingin mengorbankan istri-istriku cuma untuk memenuhi keinginan kekanakan begitu!?" mata hijau Kakuzu terang menyala mengirimkan aura membunuh. Sasori terpaksa garuk-garuk kepala stres.

"Oke, kalau lihat festival tahunan di desa Suna? Kudengar diadakan hari ini!" tanya Konan bersemangat. Maklum, selama ini selalu melaksanakan misi sampai tak ada liburan. Tapi, kembali lagi Kakuzu menolak dengan garang.

"Eh, yang namanya festival itu pasti buang-buang duit! Kalau kalian disana, pasti kalian akan beli ini-itu yang tak ada fungsi ekonominya sama sekali! Apalagi, Tobi! Aku tak bisa membiarkan bocah autis itu mengorbankan setengah dari jumlah istriku!"

Cukup. Mereka mulai muak mendengar protes dari Kakuzu terus-terusan. Itachi akhirnya geram dengan sikap rentenir bangkotan tersebut, "Zu, perasaanku mengatakan semua ide kami kau tolak hanya karena memikirkan nasib brankasmu. Sesekali tak apa-apa, 'kan? Lagipula bukan berarti semuanya habis dalam sehari,"

"Tidak mau! Pokoknya tidak mau! Jika aku disuruh memilih nyawa kalian atau duit-duitku, AKU TETAP MEMILIH DUIT!" wah wah. Sungguh jawaban ironi. Anggota Akatsuki lain hanya bisa mengurut dada sabar.

"Jadi apa dong, un? Kalau tak ingin bosan, ya kita harus keluar 'kan, un?" tanya Deidara gerah. Heran kenapa Pein bisa merekrut Kakek bercadar itu jadi anggota. Parahnya ditunjuk jadi bendahara pula! Apa jangan-jangan Pein disogok, ya?

"Pokoknya kegiatan yang tak menggunakan uang sama sekali!" baiklah, sebuah petunjuk akhir dari Kakuzu. Ternyata dia memang kukuh mempertahankan brankas sialnya dari segala terjangan.

Disaat mereka sedang berpikir menentukan kegiatan yang bisa disetujui Kakuzu tanpa bacot, Zetsu berceletuk mengatakan pendapatnya, "Oi, Zu. Kau setuju kita bermain permainan impresi?"

Hah? Permainan impresi, katanya? Permainan apa itu?

Semua orang menatap Zetsu bingung. Terutama Kakuzu yang langsung melototi Zetsu dengan tajam, "Brankasku akan aman, 'kan?"

Zetsu sweatdrop. Dia sudah menduga Kakuzu akan bilang begitu, "Ya, aman. Kau tenang saja. Kita cuma butuh beberapa lembar kertas dan pena, kok."

"Permainan impresi, huh? Jelaskan, Zetsu." tanya Pein sok berwibawa. Padahal biasanya wibawanya bakal hilang di hadapan buku-buku porno yang dia beli dari Jiraiya -_-'.

Manusia—err, tanaman? Ah, entahlah. Spesiesnya tidak jelas. Yang pasti dia bukan homo sapiens! Intinya makhluk yang belum terdefinisi kingdomnya tersebut menjelaskan tentang idenya supaya kebosanan mereka hilang, "Permainan impresi itu sebuah permainan dimana kita harus menuliskan setidaknya tiga kata yang terlintas di pikiran kita tentang seseorang. Lalu, kita perlihatkan kata-kata tersebut pada orang tersebut. Sederhana, 'kan?"

"Cih, haruskah kita bermain permainan kekanakan sekonyol itu? Sudah cukup aku ikut jadi konyol karena dikelilingi makhluk atheis macam kalian," protes Hidan sinis.

"Masih mending daripada ikut aliran sesatmu itu, un! Kau jadi norak dan suka pamer dada kemana-mana! Kalau dadamu seseksi dada Tsunade, tak masalah. Lha, yang kau pamerkan justru dada rata menjijikkan, un!"

"Beraninya kau menghina Dewa Jashin, Deidara! Kau ingin kujadikan tumbal, hah!?"

"Kau sendiri ingin kuledakkan disini, un!?"

"TEMEEEEE!"

"Heh, berhenti berkelahi. Kalian tidak mau 'kan pierching-pierchingku merajam wajah abstrak kalian?" sela Pein kesal melihat kedua anak buahnya malah tidak akur disaat seperti ini. Terpaksa dia merelakan wajahnya –yang menurutnya tampan- diserem-seremin ala genderuwo.

"Wajahmu bahkan lebih abstrak dariku, muka kloset!" bukannya takut, Hidan justru cari mati dengan mengungkapkan kenyataan sebenarnya. Dia mengacungkan sabitnya pada Pein. Benar-benar sikap tak sopan yang ditunjukkan anggota kepada pemimpinnya.

Oke, dahi Pein cenat-cenut. Empat perempatan merah muncul di dahinya dan kemudian selanjutnya bisa ditebak.

PLETAKK!

"Itachi, ambil beberapa lembar kertas dan pena, lalu bagikan!" Pein menghiraukan sesaat nasib Hidan di ujung sana yang kepalanya berasap dan terbujur kaku. Dia menyuruh Itachi pakai gaya preman.

Itachi cuma bisa merutuki diri karena disuruh layaknya pembantu. Ya, dia 'kan Uchiha! Seharusnya dia yang menyuruh Pein, bukan sebaliknya! Untung saja Pein punya Rinnegan, kalau tidak, sudah Itachi cabut satu-persatu benda jahanam yang di sekujur tubuhnya.

...

TIME SKIP

...

Setelah semua kertas dan pena dibagikan ke masing-masing mereka, seluruh anggota Akatsuki pun duduk melingkar di ruang tamu yang tak bisa disebut ruang tamu tersebut.

"Jadi, mau dimulai dari siapa, nih?" pertanyaan bagus, Zetsu.

"Dari abjad saja. Siapa yang insial namanya paling awal, dia yang pertama." usul Sasori tumben bijak.

"Nah, itu aku setuju!" Kisame menyambut dengan senang hati.

"Berarti dimulai dari siapa, dong?" sungguh menyedihkan mendengar Hidan masih belum mengetahui siapa temannya yang insialnya terawal. Ya, mau bagaimana lagi? Dia belum lulus TK sewaktu di Yugakure berkat ulahnya yang ingin menjadikan gurunya sendiri sebagai tumbal. Jadi, demi keamanan jiwa raga seluruh TK, terpaksa Hidan di'ungsi'kan ke luar desa. Benar-benar sebuah ironi.

Itachi, sebagai salah satu anggota terjenius, mencoba memberikan pengetahuan dasar kepada Hidan, "Dasar bego! Pein, Konan, aku, Kisame, Sasori, kamu, Zetsu, Kakuzu, Deidara, Tobi," Itachi menunjuk setiap dari mereka, "Dari nama-nama itu semua, ya Deidara yang pertama!" serius, rasanya Itachi ingin menggeplak kepala seseorang yang cuma 'ooohh' setelah mendengar penjelasannya barusan.

Kakuzu menghela napas pasrah. Heran, deh. Kenapa dia bisa ditakdirkan untuk dipasangkan dengan makhluk yang kurang berpendidikan? Tahu begini, seharusnya dia minta dipasangkan dengan Itachi pada Pein. Miris rasanya punya partner bolot.

"Oh, jadi aku yang pertama ya, un? Sip!" Deidara tidak sabar seperti apa kesan dirinya pada teman-temannya.

"Baiklah. Deidara pertama. Sekarang, tulis impresi kalian tentangnya!" ujar Pein malas banyak bacot. Yang penting cepat selesai permainan kekanakan ini.

.

IMPRESI DEIDARA

.

Pein : Banci kaleng

Konan : Manusia hemafrodit

Itachi : Banci peledak

Kisame : Teroris kelainan gender

Sasori : Gendernya tak jelas

Hidan : Waria pecinta bom

Kakuzu : Banci kere

Zetsu : Banci perempatan jalan

Tobi : Bukan cowok bukan cewek

.

"Sudah selesai, 'kan? Nah, sekarang tunjukkan pada Deidara!" perintah Pein begitu mereka selesai menulis. Kemudian, mereka menunjukkan impresi mereka pada Deidara.

.

(Setelah beberapa detik Deidara membaca impresi nista mereka terhadapnya...)

.

"APA-APAAN INI, UUUUUUUN!?" teriak Deidara gahar sampai rambut blondienya berkibar-kibar. Emosi ala Ibu tirinya berhasil terpancing akibat impresi absurd dari kertas-kertas lecek tersebut, "IMPRESI KALIAN PADAKU TAK ADA YANG BAGUS, UN! JADI, PADA INTINYA KALIAN INGIN BILANG AKU BANCI, UN!?"

"Iya." jawab para terdakwa tenang. Seolah tanpa rasa bersalah. Tentu saja banci satu-satunya di Akatsuki -err, maksudnya satu-satunya berambut pirang di Akatsuki—makin mengamuk.

"KALIAN BENAR-BENAR BAJINGAN, UN! POKOKNYA AKU TIDAK TERIMA!" Deidara mengirimkan serangan air liur hingga mereka terpaksa harus mencari tisu dadakan, "DANNA, KITA 'KAN PARTNER! YANG BENAR SAJA DANNA TIDAK TAHU GENDERKU, UN!" bentak Deidara geram pada Sasori karena bocah rambut merah itu berkhianat padanya. Sementara yang dibentak stay cool doang.

"Apa sih, Dei? Memang gendermu tidak jelas, kok. Sifatmu itu selalu kemayu, dan aku juga belum pernah melihat 'itu'-mu. Lagian, setiap kali kuajak mandi di empang sehabis bertugas, kau selalu menolak. Jadi, kupikir kau memang seperti yang kami pikirkan," Sasori pun membuka aib bahwa seorang Akatsuki sekece dirinya harus mandi di empang setelah melakukan misi. Sangat tidak elit sekali, para pembaca. Di kolam renang, kek. Air terjun, kek. Sungai, kek. Ini malah empang.

Ternyata Akatsuki tidak sekeren itu, saudara-saudara.

Kisame menghela napas, "Kita 'kan harus jujur, Dei. Jadi kau jangan protes."

"Sampai sekarang, aku tidak tahu apakah Konan benar-benar satu-satunya perempuan di Akatsuki," celetuk Kakuzu hobi cari mati. Spontan Deidara melotot padanya, sementara Konan angguk-angguk setuju.

"Jujur aja ya, Dei. Pertama kali Pein memperkenalkanmu pada kami semua, kupikir kau itu cewek tulen. Bahkan aku sempat merasakan suasana fuwa-fuwa gimana gitu. Tapi kemudian batinku terbanting waktu mendengar suara bassmu itu. Untung saja jiwa lelakiku masih normal," curhat Hidan ikut-ikutan menistakan Deidara.

Itu kenyataan, saudara-saudara. Hidan nyaris jatuh cinta pada pandangan pertama jika tidak mendengar suara 'LAKI' dari mulut Deidara. Sempat dia cengo, walau berhasil disadarkan oleh Kakuzu. Sejak saat itu dia belajar bahwa tak boleh menilai gender seseorang dari permukaan(?).

"Oh ya, omong-omong..." Zetsu melirik pada kertas Tobi, "Oi, Tob. Kau kelebihan kata-kata, tahu. Batasnya tiga kata, bukan empat." Katanya malah mengalihkan topik.

"Eh? Begitu ya, Senpai?" Tobi garuk-garuk kepala menyadari kesalahannya.

"Iya. Kau menulis 'bukan cowok bukan cewek', 'kan? Itu 'kan empat kata," mendadak Zetsu beralih profesi jadi guru bahasa. Tobi pun mengangguk mengerti.

"Kalau Tobi bingung menulis impresi singkat, biar kubantu," ujar Konan menebar senyum manis. Tobi langsung merasa fuwa-fuwa, nyaris meleleh berkat kehangatan Senpai cantiknya.

"BUKAN ITU MASALAHNYA, UN! JAWABAN TOBI MAH SAMA SAJA DENGAN KALIAN!" Deidara mencak-mencak tingkat Dewa. Protesnya dihiraukan dan sekarang mereka justru mempermasalahkan jumlah kata Tobi? Beruntung tanah liat peledaknya habis. Kalau tidak, sudah jadi dendeng asap mereka dibuat Deidara! "KURANG AJAR KALIAN SEMUA, UN! KALIAN MERAGUKAN GENDERKU!? BAIK! AKAN KUTUNJUKKAN DISINI SEKARANG JUGA, UN!" teriak Deidara gila sambil membuka jubahnya, siap membuka celananya demi membuktikan harga diri.

Sebelum penampakan sensor terjadi, lebih dulu Pein melempar pentungan hansip pada kepala bocah pirang itu sampai teler di tempat. Ternyata ada untungnya juga dia membeli pentungan hansip ke sebuah negara di Asia Tenggara saat misi. Ya, demi hal-hal tak diinginkan seperti ini.

"Jangan gila deh, Dei. Disini ada cewek dan anak kecil. Kau mau buat fanfic Penulis dari rate T jadi rate M, ya?" Pein mendengus kesal. Tak habis pikir punya anggota berpikiran sempit. Seharusnya kalau mau menunjukkan 'itu' di tempat berprivasi, dong! Masa' di depan publik begini? Ada-ada saja, "Sasori, bangunkan bocah itu. Kita lanjutkan permainan nista ini,"

"Oke, ketua!" ucap Sasori cepat sembari menendang Deidara hingga wajahnya menabrak dinding, ck ck ck.

"Berarti selanjutnya... Hidan, 'kan?" kata Itachi menoleh pada Hidan yang dari tadi anteng-anteng saja.

DEGG!

Hidan spontan bergidik. Entah kenapa, perasaannya mengatakan bahwa impresi dirinya tak kalah laknat dari korban sebelumnya. Dalam hati dia menyumpah-nyumpah, siapapun yang tega menulis impresi nista tentangnya, bakal dijadikan tumbal untuk Dewa Jashin.

.

IMPRESI HIDAN

.

Pein : Aliran sesat

Konan : Suka pamer dada

Itachi : Mata Pink ngejreng

Kisame : Jashin itu apa?

Deidara : Zombie psikopat

Sasori : Hobi ngomong kotor

Kakuzu : Penganut aliran kere

Zetsu : Ritual tak berguna

Tobi : Suka bawa sabit

.

Saudara-saudara, itulah tulisan impresi seluruh anggota Akatsuki terhadap Hidan. Hidan membaca itu di dalam hati sambil menahan rasa sakit tak terkira.

Dan selanjutnya bisa ditebak.

PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK!

Semua kepala kecuali kepala Hidan (pastinya) dan Tobi terkena jitakan sakti dari sabit Hidan, ck ck ck.

"ADUH!" teriak Konan meringis kesakitan, kemudian menoleh dengan tampang sangar pada sang pelaku, "Sakit, tahu! Berani-beraninya kau!"

"SEHARUSNYA AKU MENGATAKAN ITU, BRENGSEK!" teriak Hidan pamer gigi runcing ala dedemit, "APANYA GAME IMPRESI!? INI SIH GAME UNTUK MENJELEK-JELEKKAN DIRIKU!"

"Hah? Apa yang kau katakan? Dari dulu kau memang sudah jelek banget, tuh! Baik dari wajah atau sikap!" semprot Itachi tak terima kepalanya barusan kena geplak, "Huh, seharusnya kau bersyukur aku satu tim denganmu. Setidaknya, wajah tampan dan derajatku sebagai Uchiha bisa menaikkan harga dirimu."

"Tutup mulutmu, Uchiha keparat! Setelah ini, aku benar-benar akan menjadikanmu tumbal ritualku!" Hidan sinting ini mengancam sambil mengacungkan sabit besarnya itu pada Itachi.

"Cih, ternyata kesanku tentangmu memang benar. Mulutmu tak pernah ditabok sebelumnya, ya..." ujar Sasori menatap Hidan malas. Dari tadi telinganya terus mendengar omongan kotor Hidan. Merusak kesucian pendengarannya saja.

"Sasoriiiiii..." Hidan mengepalkan tangannya sampai bunyi kretek-kretek segala, "Apa maksudmu itu, bajingan?!"

"Hei, Itachi," Kisame malas mendengar Hidan ngomong kotor lagi. Dia langsung mengalihkan topik pembicaraan, "Kau ternyata memerhatikan warna mata Hidan segitunya, ya? Aku saja baru tahu warna matanya pink," ujarnya sembari melirik tulisan Itachi.

"Jelas, dong! Aku 'kan Uchiha. Tapi akhirnya aku tahu kalau mataku lebih keren," balas Itachi malas narsis.

"MATAKU JAUH LEBIH KEREN DARIPADA MATA RABUNMU, UCHIHA BRENGSEK!"

"Argh, berisik! Kenapa kau protes dengan apa yang kutulis, hah? Kalau kau benar-benar ingin protes, noh! Pada partnermu disana!" Itachi mencari kambing hitam alias Kakuzu yang memutar bola matanya bosan, "Dia mengatai aliran laknatmu kere, tahu! Kenapa kau tidak protes!?"

"Ya, itu karena Kakuzu benar, 'kan? Faktanya Hidan memang kere," Zetsu justru memperburuk suasana dengan meresmikan keadaan keuangan Hidan, "Benar 'kan, Zu?" tanyanya pada Kakuzu demi mendapatkan persetujuan.

"Tepat sekali. Aku bahkan belum pernah melihat Jashin dodolnya itu memberinya uang bejibun. Padahal uang kas terkuras karena ritual tak bermutunya," Kakuzu langsung menolehkan pandangan ke arah lain karena tak mau melihat pelototan sang partner.

Hidan mendecih, muak karena pasangannya sendiri tak mau membelanya. Dalam kekesalan tiada tara tersebut, Hidan menoleh pada Kisame, memberinya tatapan membunuh. Sementara yang ditatap pasang ekspresi innocent, "Apaan, Dan?"

"APAAN GUNDULMU! APA MAKSUDMU MENULIS INI, SIALAN!? KAU ITU MENULIS IMPRESI ATAU TANYA JAWAB PADAKU, HAH!?"

"Yaaa, habisnya selama ini aku tak tahu Jashin itu apa," jawaban Kisame ini membuat aura membunuh Hidan berkobar, "Santai, bung. Kupikir Jashin itu cuma imajinasi kejombloanmu doang."

"JASHIN-SAMA ITU IMAJINASI, KATAMU!? SEMBARANGAN! JASHIN-SAMA ADALAH DEWA YANG TELAH MENYELAMATKANKU DARI KESESATAN! MEMBERIKANKU HIDUP ABADI! KARENA ITULAH, SEHARUSNYA KALIAN JUGA IKUT MENJADI BAGIAN JASHIN-SAMA! DENGAN BEGITU, KALIAN TAK AKAN BERJALAN DI JALAN PENUH SESAT LAGI! DAN-" pentungan Pein akhirnya mampir lagi ke wajah korban kedua dan lagi-lagi jatuh ngegubrak dengan tidak elitnya, ck ck ck.

Ekspresi Pein sungguh datar melihat nasib apes anggotanya. Dia pun bergumam pelan, "Justru kalau kami bergabung ke aliranmu, kami makin sesat, bego."

Deidara, sebagai korban sebelumnya jadi sweatdrop. Walau hidungnya masih mimisan hebat berkat lemparan pentungan dan tendangan Sasori, sih. Ya, setidaknya dia bisa tertawa nista dalam hati karena adanya teman seperjuangan. Apalagi dia memang membenci Hidan dari dulu, "Rasakan, un. Makanya jangan nistakan aku tadi, un..."

Dalam kerusuhan sesaat barusan, Konan menyadari suatu keanehan. Segera dia mengungkapkan keanehan tersebut dengan mengangkat kedua tangannya seolah buronan dikepung polisi, "Eh, tapi, kenapa Tobi tidak digeplak sabit Hidan, ya? Kenapa kita saja?"

"Jelas, 'kan? Soalnya cuma bocah itu yang jawabannya memang apa adanya," jawab Pein mendengus kecewa Tobi lolos dari maut.

Tobi cengengesan, menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Hehehe. Soalnya Hidan-senpai memang suka bawa sabit 'kan, Pein-senpai?"

Zetsu yang dari tadi memerhatikan tingkah teman-temannya, mau tak mau menghela napas berat. Padahal dia mencetuskan ide permainan ini demi bersenang-senang. Ini kenapa malah jadi seperti pertengkaran Ibu-Ibu karena tak terima digosipi tetangga? Adanya sebelum permainan ini selesai, mereka semua sudah pada tepar nyaris sekarat.

Karena itu, demi mengurangi darah korban berjatuhan, dia pun mengusulkan permainan segera dilanjutkan, "Pein, lanjut lagi. Kau mau kita saling bunuh sebelum selesai?"

"Oke, oke. Kita lanjut," Balas Pein setuju, "Hmmm... kalau begitu, objek berikutnya... Itachi." Pein otomatis tersenyum mengerikan pada si Uchiha.

Seketika Itachi hanya mampu berdo'a bahwa permainan childish ini tidak menodai harga diri klan konglomeratnya itu. Yah, walau dia merasakan pertanda tak baik karena berkaca dari dua korban.

.

IMPRESI ITACHI

.

Pein : KERIPUT

Konan : KERIPUTAN!

Kisame : KAKEK-KAKEK KERIPUTAN

Deidara : MUDA, TAPI KERIPUT

Sasori : PEMUDA PENGOLEKSI KERIPUT

Hidan : SUMPAH, KERIPUTAN BANGET!

Kakuzu : KERIPUT MISKIN DUIT!

Zetsu : CERMINAN UMUR BANGKOTAN

Tobi : Banyak tanda penuaan

.

Raut wajah Itachi sangat dataaaaaaar sekali saat membaca tulisan-tulisan itu. Kemudian, dia mengangkat wajahnya, menatapi satu persatu wajah mereka. Yup, wajah mereka yang sedang tersenyum manis padanya.

Setelah itu apa yang terjadi, para pembaca? Ya, seperti dugaan kita.

PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! PLAKK!

Tamparan bertenaga badak didaratkan manis kepada setiap pipi orang-orang laknat yang telah menjatuhkan harga dirinya.

"WADAW!" Hidan mengelus pipinya yang kedatangan gaplokan. Padahal rasa sakit akibat pentungan Pein belum hilang, malah datang penderitaan lain, "Woi, Itachi! Kau cari mati, ya?!"

"Tahu, nih! Kalau mau tabok itu pakai belas kasihan, dong!" sahut Pein tak terima dirinya yang notabene pemimpin ditabok salah satu anggota. Benar-benar tak sopan.

"Itachi-senpai kenapa, sih? Kenapa marah?" apakah kau memang sepolos ini, nak Tobi? Tentu saja dia marah, 'kan? Bisa-bisanya dia menanyakan ini dengan nada tanpa rasa bersalah sambil mengelus topeng(?).

"MARAH!? TENTU SAJA AKU MARAH, BEGO! KURANG AJAR KALIAN SEMUA! BISA-BISANYA KERIPUT JADI KESAN PERTAMA KALIAN TENTANGKU!" oke, Itachi sangat OOC sekali disini. Sifat preman Hidan menular padanya. Sekarang dia sudah menggulung lengan jubahnya, siap menabok mereka sekali lagi.

Ya, dia tak bisa disalahkan juga, sih. Secara dia itu seorang Uchiha! Sebuah klan yang paling dihormati sekaligus ditakuti di dunia Shinobi! Dan sekarang dia mendapati kenyataan bahwa tanda lahirnya ini disebut keriput! Rasanya dia ingin sekali berlari menangis ke pelukan Ibunya yang sebelumnya sudah dia kirim ke akhirat. Sungguh, dia benar-benar sedih, saudara-saudara.

"Jujur ya, Chi. Satu hal yang langsung nemplok di pikiranku kalau mengingatmu, ya, sudah pasti keriput. Mana kau terus membanggakannya sebagai tanda lahir pula. Sebagai partnermu, Chi, aku malu. Bahkan waktu Pein memperkenalkanmu sebagai pasangan misiku, kukira aku dipasangkan dengan Kakek-Kakek. Serius, Chi. Aku waktu itu shock banget," Kisame malah memulai sesi curhat. Mengatakan semua unek-uneknya penuh perasaan.

Dan itu makin diperpanas oleh Konan, "Betul, tuh! Trademark Uchiha apanya? Yang namanya trademark itu harusnya elit, dong! Makanya waktu itu 'kan aku sudah bilang, Chi. Oplas sana, pinjam uang Kakuzu," Kakuzu langsung nyamber mengatakan –enak aja lu! Ogah!-, "Minta dokter ubah tanda lahirmu supaya tidak mirip keriput. Dipelintir, kek. Diombak, kek. Apa, kek. Terserah."

"Makanya aku heran kenapa orang keriputan sepertimu punya banyak fans cewek. Seolah mereka siap saling bunuh demi mendapatkanmu. Karena, ayolah! Jelas aku lebih ganteng kemana-mana, 'kan?" ini sih narsis Sasori yang kumat di saat tak tepat.

"Halah! Bilang saja dirimu iri padaku karena jumlah fansku lebih banyak darimu!" semprot Itachi masih ngamuk.

"Bullshit! Fansku dominan cewek-cewek muda! Sementara fansmu 'kan Nenek-Nenek semua!"

"Berisik, un! Dari tadi permainan ini tak kelar juga karena kalian asyik berkelahi!" sergah Deidara muak lama-lama ikut serta.

"Memangnya kau pikir ide siapa yang menyuruh kita begini!?" Itachi hobi banget teriak-teriak tampaknya. Dia menoleh pada Zetsu yang bersiul-siul tak jelas. Mengirim sumpah serapah dalam hati semoga makhluk gaib itu kena azab.

"Sudahlah, Itachi. Coba waktu itu kau mendengarku supaya ikut pakai cadar. Tapi kau tak mendengarku dan terus membanggakan penuaan dinimu. Setidaknya kalau tak ingin pakai cadar, luluran dong. Oh, ya! Aku ada jual luluran wahid, nih! Dijamin keriputmu bakal hilang, deh!" jiah, Kakuzu sempat-sempatnya jualan. Benar-benar rentenir kelas kakap. Dia tampaknya bersikap masa bodoh pada tatapan horor Itachi padanya.

Melihat kondisi tidak kondusif, selaku pemimpin Akatsuki, Pein menengahi pertengkaran, "Hentikan, hentikan! Kita lanjutkan permainan!" katanya sok berkharisma, "Kenapa kalian protes dengan kesan-kesan ini semua, hah? Pokoknya apapun kesan yang ditulis, tak boleh komen!"

"Kau bisa bilang begitu karena belum giliranmu, ketua bangsat!" cerocos Hidan bete. Dalam hati, dia sudah merencanakan pembantaian berdarah pada ketuanya sehabis permainan nista ini.

"Bawel! Intinya, siapapun yang protes, bakal ku rajam dengan pierchingku! Paham!?" lagi-lagi pada akhirnya Pein pakai ancaman, ck ck ck.

Itachi pun terpaksa menjinakkan diri(?). Maka, permainan impresi gila ini kembali dilanjutkan.

"Giliran siapa lagi, nih!?" tanya Itachi masih dongkol. Ya, dia masih menaruh dendam soalnya. Jadi sekarang semangatnya membara untuk menganjlokkan harga diri korban selanjutnya.

"Hmmm..." sejenak Pein berpikir siapa objek berikutnya, "... Setelah Itachi, berarti... Kakuzu." jawab Pein.

Tanpa disadari oleh yang lainnya, kedua mata Hidan dan Itachi menyala terang. Senyum iblis diperlihatkan mereka seolah sang subjek merupakan target tepat.

"Kakuzu, huh? Mampus kau, Kakuzu! Aku akan bongkar aibmu disini!" batin Hidan nista.

"Terkutuklah dirimu, Kakuzu! Rasakan balas dendamku karena menyebutku keriput miskin duit! Uchiha itu tidak miskin, dasar bangkotan!" Itachi menyeringai seram.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Bagaimana? Bagaimana? Suka? Tidak suka? Tinggalkan komentar kalian di kolom review. Sampai jumpa!