Author's note: Terima kasih atas tanggapan dari para pembaca pada chapter sebelumnya. Tanpa basa-basi Penulis akan membalas semua review.
.
Sena Uchiha
Terima kasih atas komentarnya.
Shinji Kazama
Hahaha, diperbanyak, ya? Ya, kita lihat saja. Terima kasih.
666
Terima kasih pujiannya. Penulis senang mendengarnya.
Ame to ai
He, begitu, ya? Terima kasih atas kritiknya. Tetap ikuti kelanjutannya.
Vira D Ace
Iya, ya? Setelah sekian lama, 'kan? Ahaha! Sekali-kali ingin membuat fanfic humor Akatsuki lagi. Terima kasih komentarnya, ya. Ikuti kelanjutannya.
Winaayu416
Ya, benar. Walau Penulis mengganti nama pena. Fanfic sebelumnya tak bisa dibuka karena sistem eror. Tak tahu kenapa, semua data terhapus. Sudah begitu tidak ada data tertinggal di laptop. Jadi terpaksa cukup sampai disana, hehe. Maaf, ya. Tapi semoga kerinduan anda terobati di fanfic ini.
Akatsukifan876
Oh, terima kasih. Penulis sangat tersanjung.
.
Disclaimer: Kishimoto Masashi
Akatsuki's Games Chapter One: Permainan Impresi Part 2
Oleh Josephine Rose99
.
Note:
Kisah ini hanya untuk bersenang-senang, tanpa menyinggung pihak manapun.
Bukan plagiat. Ide dari kepala IQ rendah penulis.
Silahkan tinggalkan komentar. But, no flame.
.
.
.
.
.
AKATSUKI'S GAMES
CHAPTER TWO
PERMAINAN IMPRESI PART TWO
OLEH JOSEPHINE ROSE99
.
.
.
(Sebelumnya di chapter satu...)
.
"Giliran siapa lagi, nih!?" tanya Itachi masih dongkol. Ya, dia masih menaruh dendam soalnya. Jadi sekarang semangatnya membara untuk menganjlokkan harga diri korban selanjutnya.
"Hmmm..." sejenak Pein berpikir siapa objek berikutnya, "... Setelah Itachi, berarti... Kakuzu." jawab Pein.
Tanpa disadari oleh yang lainnya, kedua mata Hidan dan Itachi menyala terang. Senyum iblis diperlihatkan mereka seolah sang subjek merupakan target tepat.
"Kakuzu, huh? Mampus kau, Kakuzu! Aku akan bongkar aibmu disini!" batin Hidan nista.
"Terkutuklah dirimu, Kakuzu! Rasakan balas dendamku karena menyebutku keriput miskin duit! Uchiha itu tidak miskin, dasar bangkotan!" Itachi menyeringai seram.
.
.
IMPRESI KAKUZU.
.
Pein : Sangat dermawan!
Konan : Sopan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, wah pokoknya banyak banget, deh!
Itachi : IMPRESI TENTANG KAKUZU!? RENTENIR LAKNAT BANGKOTAN! MAAF, YA. TIDAK CUKUP TIGA KATA UNTUK MENGGAMBARKAN BETAPA MAKSIATNYA ORANG ITU! PELITNYA SUMPAH MAMPUS JUNGKIR BALIK! HANYA ORANG GILA YANG BILANG DIA DERMAWAN! SAKING PELITNYA, PERNAH AKU BERPIKIR UNTUK MENYANTETNYA, NAMUN GAGAL. SOALNYA DUKUN YANG AKU MINTA TAK BISA MELAKUKANNYA KARENA JIN SURUHANNYA PINGSAN MENCIUM AROMA CADAR KAKUZU! MAKANYA, AKU MEMINTA PEIN BICARA PADA KAKUZU SUPAYA CADAR BULUKNYA ITU DIGANTI! YA AMPUN, CADAR DIA ITU TIDAK PERNAH DIGANTI SELAMA BEBERAPA DEKADE! MASIH MENDING CADARNYA BERAROMA SERIBU BUNGA MAWAR! LHA, INI MALAH BERAROMA SERIBU KANTONG SEMAR! SUMPAH, AKU HERAN KENAPA HIDAN SELAKU PARTNERNYA MASIH HIDUP DAN BETAH BERSAMANYA! AKU YAKIN, BOCAH ITU PASTI DISOGOK DEMI BIAYA RITUAL TAK BERMUTUNYA!
BICARA SOAL CADAR, SEPERTINYA DIA BERUSAHA MENUTUPI WAJAHNYA YANG SELALU DIA KATAKAN 'TAMPAN'. BLEH! BULLSHIT! MUKA DIA AJA SEPERTI KLOSET KELINDAS TRAKTOR GITU! MASIH GANTENGAN LAGI DIRIKU INI! KARENA BEGINI-BEGINI, AKU TERMASUK 10 BESAR KARAKTER TERFAVORIT MANGA NARUTO! KAKUZU!? JANGANKAN MASUK DAFTAR, MASUK NOMINASI AJA TAK PERNAH!
INTINYA APA?! INTINYA SIAPAPUN YANG BICARA BAGUS-BAGUS TENTANG KAKUZU, HANYA ADA TIGA ALASAN; 1) ORANG ITU DISANTET, 2) ORANG ITU GILA, 3) ORANG ITU TAKUT KAKUZU AKAN MEMBERIKAN BUNGA PADA UTANG KASNYA JIKA ORANG ITU BICARA JELEK TENTANG KAKUZU! POKOKNYA, DIA ITU NYEBELIN!
DAN MASIH BANYAK LAGI KEMAKSIATAN KAKUZU YANG BELUM AKU BONGKAR DISINI! MAU BAGAIMANA LAGI? SPACE KERTASKU TINGGAL SEDIKIT LAGI. NANTI TAK CUKUP MENULIS AIB ANGGOTA-ANGGOTA LAINNYA. JADI, CUKUP SAMPAI DISINI, DEH. LAIN KALI AKU AKAN MEMBERITAHU KALIAN BETAPA NISTANYA BENDAHARA KAMI ITU!
Kisame : Membuatku jatuh cinta
Deidara : Selalu membuatku berdebar
Sasori : Terlalu tampan
Hidan : SUMPAH, AKU HERAN DENGAN OTAK PEIN! KENAPA!? YA, SOALNYA DIA MEMINTAKU MENJADI PASANGAN KAKUZU! OKE, ZETSU, AKU MINTA MAAF KARENA HARUS MELANGGAR PERATURAN YANG MENGATAKAN 'CUKUP TIGA KATA'. MENGGAMBARKAN KAKUZU ITU BUTUH BERIBU-RIBU KATA! POKOKNYA, AKU AKAN BONGKAR AIBNYA DISINI!
DEMI JASHIN, YA! SETIAP KALI MISI, PASTI AKU DISURUH MEMBANTU 'KERJA SAMBILAN'-NYA ITU! SERING BANGET MISI TERBENGKALAI DAN DIA SELALU MENYALAHKAN WAKTU RITUALKU YANG DIA SEBUT TERLALU LAMA! BELUM LAGI DITAMBAH DENGAN AROMA CADARNYA! OKE, AKU MEMANG ABADI, TAPI HIDUNGKU TIDAK SEABADI ITU UNTUK TERUS-MENERUS MENCIUM AROMA BUSUK DARI BENDA SIAL ITU! PERNAH SEKALI AKU MINTA DIA UNTUK MENGGANTINYA, TAPI DIA BILANG CADARNYA ITU ADALAH CADAR EMAKNYA DULU YANG DIBERIKAN SEJAK KECIL! SEKETIKA AKU LANGSUNG 'WHAT!?'!
HELLOOOOOO! UMUR KAKUZU AJA LEBIH DARI 100 TAHUN! DAN DITAMBAH UMUR EMAKNYA, AKU TIDAK BISA MEMBAYANGKAN BERAPA USIA CADAR BULUK ROMBENGAN ITU! HIIIY, TAK TERBAYANG RIBUAN KUMAN BERSARANG DISANA! CIH, KALAU BUKAN KARENA DIA MAU MEMINJAMKAN UANG UNTUK BELI DARAH RITUALKU, SUDAH SEJAK LAMA AKU MINTA GANTI PARTNER PADA PEIN!
Zetsu : Aku mencintaimu, Kakuzu!
Tobi : Ahli menghitung uang
.
"Hmm..." gumam Kakuzu pelan sembari membaca satu-persatu impresi laknat dari teman-teman (baik hati)-nya. Ekspresinya datar, kedua alis terangkat, disertai kerucutan bibir yang dibuat sok manis.
Setelah itu, ditatapinya mereka semua. Mata hijaunya bisa melihat senyuman manis (palsu) dari enam orang, evil smirk dari dua orang, dan raut wajah tak jelas dari satu orang diakibatkan tertutup benda nista yang bisa kita sebut topeng.
Kakuzu menghela napas sebelum akhirnya berkata santai banget. Sesantai dirinya yang sebelumnya mendzalimi keriput Itachi serta ritual Hidan, "Itachi, Hidan..."
"Ya?"
"Aku punya hadiah untuk kalian karena TERLALU jujur tentangku,"
Itachi dan Hidan sumringah, "Apa itu?"
"Pembayaran uang kas kalian setiap bulan diberi bunga 90%," begini kata Kakuzu sembari mengeluarkan buku kas organisasi dari balik jubahnya, lalu menulis 'BUNGA BON KAS 90%' di bagian kedua orang itu.
Mari sejenak mengheningkan cipta.
Krik-krik, krik-krik.
"WHAAAATTZZ!?" seolah kemaluan mereka ditendang, Itachi dan Hidan merasakan tohokan nasib tragis sehingga melayangkan protes berat. Entah kenapa sekarang mereka membayangkan masa depan penuh kebebasan mereka telah terenggut sadis berkat satu kalimat dari sang bendahara jahanam.
Tak usah heran kenapa mereka berdua bersikap lebay, alay, dan mengandung unsur-unsur jablay(?) begitu. Soalnya utang kas mereka pada Kakuzu itu tidak sedikit. Apalagi Itachi. Entah berapa uang yang dia pinjam karena memenuhi kebutuhan tak penting alias krim anti keriputnya itu. Tanpa diberi bunga pun, Itachi saja sulit melunasi utangnya. Makanya dia berniat menjadi pacar sewaaan janda-janda kaya suatu hari nanti supaya bisa melunasi. Itu pun kalau berhasil, ck ck ck.
"KORA, KAKUZU! KENAPA KAU MENYANGKUT PAUTKAN UANG KAS DENGAN GAME, HAH!?" Hidan bangkit dari duduknya, mengacungkan sabitnya dengan kurang ajar pada Kakuzu, "BUNGA 90%, KATAMU!? BESAR BANGET, BRENGSEK! KAU MENCOBA MEMERASKU, YA!?"
"Iya, kenapa, Zu!? Ini 'kan cuma game! Masa' kau sampai segitunya, sih!?" semprot Itachi tak terima.
Beda sekali dari kedua korban diatas, anggota Akatsuki yang lainnya langsung menangis lebay dan sujud syukur. Bahkan sampai berpelukan ala teletubbies segala. Mereka berpegangan tangan sambil berputar-putar diiringi teriakan 'YUHUUUUU!'.
Wah, tampaknya mereka gembira sekali, para pembaca. Sampai melupakan arti persahabatan hanya karena takut pada bunga uang kas, ck ck ck. Mereka tidak peduli dengan nasib kedua teman mereka selagi datang nasib mujur.
Tapi, benarkah? Benarkah Kakuzu sepolos itu untuk percaya jawaban impresi mereka tentang dirinya?
Tentu saja tidak, 'kan?
"Heh, kalian bertujuh yang disana. Siapa bilang kalian tidak kebagian, hah? Pembayaran uang kas kalian setiap bulan ditambah bunga 80%. Ya, kecuali Tobi," kembali lagi bendahara jahanam ini dengan santainya menulis 'BUNGA 80%' pada bagian enam member norak tersebut.
Kita sisipkan awkward moment disini.
Sungguh sebuah ironi, saudara-saudara. Enam orang kampreto yang tadinya sedang mengungkapkan rasa syukur mereka berubah menjadi malapetaka. Diri mereka spontan mematung diikuti mengalirnya air mata darah. Sementara Tobi ber-YES! YES!-ria karena lolos dari lubang jarum. Itachi dan Hidan yang melihat itu tak bisa menahan diri mereka untuk tertawa ngakak.
"KAKUZU (UN)!?" teriakan lebay dan sok asyik dari kelompok 80%. Sorot mata mereka pada Kakuzu seperti sedang terluka, tak percaya, ternodai, tersakiti, dan bla-bla lainnya.
Hidan masih belum bisa menghentikan tawanya. Perutnya sakit sampai guling-guling, "HAHAHA! Makanya, jangan sok suci! Rasakan itu, dasar para pengkhianat!"
"Tunggu dulu, Kakuzu teme! Kenapa Tobi juga tidak diberi bunga!? Ini tidak adil!" Sasori segera mencari kambing hitam. Jari lentiknya yang berkutek tersebut menunjuk Tobi yang sedang cengengesan.
"Iya, Zu! Kenapa!?" Kisame ikut-ikutan. Ya, dia jelas tak terima dong! Cuma Tobi yang selamat dari insiden tragis ini? Apa-apaan!
"Karena cuma jawaban dia yang memang menggambarkan diriku. Aku memang ahli menghitung uang, 'kan? Jadi dia tidak salah," jawab Kakuzu logis.
Oke, mulut pendemostran kicep mendadak. Mereka benci mengakuinya, tapi yang dikatakan Kakuzu benar. Seketika enam orang ini melirik Tobi dengan tatapan membunuh. Tobi langsung bergidik ngeri.
"Tapi, tunggu dulu, Zu! Kami 'kan tidak seperti mereka yang menjelek-jelekanmu! Apa yang kami tulis 'kan semuanya bagus-bagus!" Konan segera mengambil kertasnya, "Lihat, nih! Aku sampai menulis hal-hal bagus tentangmu lebih dari tiga kata!" katanya begini sambil menunjukkan kata-kata pujian (palsu) pada Kakuzu.
Zetsu juga tak mau kalah membela diri, "Aku juga nih, Kakuzu! Aku sampai menyatakan cinta padamu!" telunjuk Zetsu tampaknya terlalu menekan kertas bertuliskan 'aku mencintaimu, Kakuzu!' itu sampai nyaris robek. Entah karena terlalu terbawa perasaan atau aktingnya terlalu memaksa.
"Benar, un! Aku juga sama dengan Zetsu! Jantungku selalu berdebar-debar di dekatmu! Makanya kutulis begini, un!" Deidara ikutan ngibul. Padahal dia berdebar-debar bukan karena jatuh cinta, melainkan takut utang kasnya ditagih nyaris setiap hari oleh Kakuzu.
"Berisik, para bajingan! Memangnya aku sebodoh itu, hah!? Bohong banget kalian! Tak usah banyak drama, deh!" Kakuzu langsung mengeluarkan jurus makian dengan lagak preman.
Mendengar makian Kakuzu barusan, keenam pengkhianat persahabatan ini langsung pundung, sementara si Kakek keriput dan aliran sesat tertawa ngakak sampai berguling-guling. Hanya Tobi yang berdiri di tengah terjangan badai dalam keadaan selamat. Walaupun pada akhirnya dia juga ikut menertawai para Senpainya dengan laknatnya, hingga harus dikeroyok ramai-ramai.
Kesembilan orang tersebut tampaknya masih belum menyadari bahwa impresi Kakuzu yang mereka tulis telah melukai hati Kakuzu yang paling dalam (Halah). Kakuzu saja dari tadi manyunin bibir. Istilahnya dia mengambek. Hatinya hancur berkeping-keping. Terutama jawaban Kisame dan Zetsu. Ketahuan banget itu jawaban fake alias ngibul. Jawaban lebay itu rasanya ingin membuat Kakuzu gantung diri saking menjijikkannya.
Setelah menghajar Tobi sampai babak belur, Zetsu mengundurkan diri dari sesi penganiayaan. Dia menghela napas berat, "Hhh... awalnya aku ingin ideku ini bisa membuat kita tak bosan lagi sekaligus mempererat hubungan kita..." luar biasa sekali aktingmu, saudara Zetsu. Menunjukkan raut wajah sok sedih seolah dia adalah Hockley yang menghalangi cinta Rose dan Jack diiringi lagu-lagu mellow, "Kenapa kalian tidak terima dengan impresi yang kami tulis? Padahal kami menulis sejujur-jujurnya..."
"Diem lu! Jangan berlagak jadi aktor protagonis! Berani bertaruh, kau pasti akan melalapku begitu aku menulis impresi tentangmu!" semprot Kakuzu murka.
"Berisik! Berhenti protes! Kita lanjut lagi!" sela Pein muak terus mendengar keributan. Soalnya perutnya sudah gonjang-ganjing tak terkendali begitu menerima fakta pahit, yaitu bunga uang kasnya ditambah.
Disisi lain, Konan sedang banjir air mata. Dia tak bisa menerima kenyataan seperti Pein. Bagaimana caranya dia mendapatkan pinjaman untuk beli kertas lipat lagi? Apa Tyler Cameron mau menyewanya untuk semalam gak, ya? Kalau bisa sih dapat bayaran tinggi demi bisa membayar bunga 80% untuk bulan depan. Dan justru bagus jika bisa membayar bulan-bulan berikutnya.
Deidara saja sudah menangis melebihi peri kenormalan. Moodnya benar-benar tidak bagus, para pembaca. Dia berguling-guling tidak jelas sambil terus menghantamkan tangannya ke lantai tanah. Maklumi dia. Karena saat ini perasaannya seperti cowok yang baru diputusin pacarnya, lalu tidak lulus ujian masuk universitas, ditambah lagi dengan lamaran kerja tidak diterima.
"Hei... berarti selanjutnya itu... Kisame, 'kan?" tanya Itachi menunjukkan raut wajah shock.
Sasori melongo, "Eh? Iya, ya?"
"Kenapa kalian berekspresi begitu?" Kisame tampaknya sudah merasakan aura-aura tidak enak. Seolah dia adalah target bully selanjutnya.
"A-ah, ti-tidak kok, Senpai. Hahaha..." balas Tobi tertawa hambar.
"Kisame, ya? Oke! Semuanya, tulis impresi kalian!" ucap Pein langsung mengambil pena dan menuliskan impresinya tentang Kisame diikuti yang lain.
.
IMPRESI KISAME.
.
Pein : Ikan Sarden
Konan : Dia itu ikan gak, sih?
Itachi : Hiu Samudera Pasifik
Deidara : Ikan Asin
Sasori : Tunangan Ikan Teri
Hidan : Pengantin Lele
Kakuzu : Siluman Dugong yang tak laku dijual di pasar
Zetsu : Penghuni Air Comberan
Tobi : Muka Insang
.
Sesuai dugaan kita semua. Kisame tersenyum sedih setelah membaca semua tulisan tersebut. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Sorot matanya menunjukkan penderitaan yang tak terhingga, seperti yang dia rasakan saat melihat ikan-ikan di laut ditangkap oleh nelayan. Seketika fanfic Penulis harus berganti genre menjadi tragedy, walau awalnya fanfic ini dimaksudkan humor.
"...Teman-teman..." kalimat pembuka dari Kisame, "...Terima kasih banyak..." ujarnya tersenyum pada mereka.
Senyuman kinclong dari kedelapan anggota karena wajah satu anggota lainnya tertutup topeng diberikan padanya, "Sama-sama, Kisame (un) (Senpai)!"
Oke, Kisame tak bisa menahan diri lagi. Senyuman tanpa dosa itu... apa-apaan? Mereka tak merasa bersalah sama sekali, ya? Kisame menggenggam erat semua kertas-kertas nista itu sampai berkerut.
Dan kemudian, di detik berikutnya Samehada Kisame mampir ke tiap kepala anggota lainnya.
PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK!
Otomatis mereka semua tersungkur dengan posisi menungging. Sangat tidak elit sekali. Kisame sendiri mengatur napasnya yang memburu. Memperlihatkan empat persimpangan merah di dahinya dan pamer gigi runcing, "SAMA-SAMA, APANYA!? IMPRESI MACAM APA INI, HAH!? TEMEEE, SEBENARNYA KALIAN MENGANGGAPKU SEBAGAI MANUSIA ATAU IKAN!?"
"Ikan." jawaban singkat, padat, berisi(?), logis dan menohok hati.
Sebagai sang partner, Itachi justru tak membela Kisame dan malah memilih menjitak kepala Kakuzu seenak jidat, "Oi, Kakuzu! Kau melanggar peraturan tahu! Impresimu lebih dari tiga kata!" cerocos Itachi heboh yang malah menyimpang dari topik.
"Eh, muka jamban! Seharusnya aku yang mengatakan itu! Kau juga menulis lebih dari tiga kata saat giliranku, 'kan?!" balas Kakuzu sewot.
"Berisiiik! Sesama pelanggar peraturan, diharap tenang!" sela Hidan mencoba menengahi.
"BUKAN ITU MASALAHNYA, BANGSAT!" teriak Kisame gahar, berhasil membuat telinga anggota lainnya nyaris budek, "APA-APAAN INI!? IKAN SARDEN, PENGANTIN LELE, HIU PASIFIK, IKAN ASIN, IKAN TERI, DUGONG, INSANG, DAN LAINNYA! PERMAINAN KAMPRET INI JUSTRU RASANYA INGIN MEMBUATKU KELUAR DARI ORGANISASI INI! AKU MANUSIA, WOI! BUKAN IKAN JADI-JADIAN!"
"Heleh, Kis. Jangan salahkan kita, dong. Itu semua karena dirimu sendiri tahu! Ya, 'kan?" Pein menoleh pada anak buahnya yang langsung mengangguk setuju, "Nih, ya. Biar aku contohkan. Hei, kalian! Sebutkan ciri khas Kisame yang membuat kita berpikir dia bukan manusia beneran!"
"Suka main air," opini Konan.
"Suka ciumin ikan mas koki di akuarium," opini Itachi.
"Giginya runcing kayak hiu, un. Oh ya, dulu aku pernah buka tutup botol minuman soda pakai giginya, lho!" opini Deidara.
"Warna kulitnya biru. Makanya kupikir dia jelmaan siluman lautan," opini Sasori.
"Soalnya ada insang di kedua pipi Kisame-senpai, sih! Makanya Tobi pikir Pein-senpai sampai merekrut hewan saking tak ada orang lain yang mau gabung dengan Akatsuki," opini Tobi tidak sopan walau jujur.
"Kisame itu punya wajah paling nista disini, bahkan melebihi wajah nista Pein yang notabene nomor 2," opini Zetsu yang langsung dilempar pentungan oleh Pein.
"Dia 'kan sering banget tuh, jadi lawakan di fanfic-fanfic humor. Dan pasti lawakannya gak jauh-jauh dari makhluk laut," opini Hidan.
"Utangnya paling banyak nomor tiga! Belum lagi karena dia mandi setahun sekali di laut, dia sampai memakan stok sabun di kamar mandi dengan alasan sikat gigi!" opini Kakuzu yang tidak nyambung sama sekali.
Semua ciri khas Kisame telah disampaikan dengan baik. Pein pun tersenyum bangga pada mereka. Dia menoleh pada Kisame, "Tuh! Dengar sendiri, 'kan?"
PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK!
Samehada beraksi kedua kalinya. Dan lagi-lagi posisi mereka juga sama alias tersungkur pose menungging, ck ck ck.
Konan adalah yang pertama bangkit dari pose tersebut. Sambil mengelus kepala, dia berteriak pada si pelaku, "Kisameee! Sekali lagi kau menggeplak kepalaku dengan pedangmu itu, aku bersumpah akan menjejelinya ke dalam mulutmu!"
"Akulah yang akan menjejelinya ke dalam mulutmu, perempuan sial!" bentak Kisame. Ekspresi sangarnya berubah menjadi ekspresi terluka yang begitu girly dan sama sekali tidak cocok dengan muka abstraknya, "Lihat apa yang kau tulis ini! Kau bertanya aku ikan atau gak? Apa maksudmu? Kau sedang mewawancaraiku atau apa? Hatiku sakit tahu, Nan. Sakiiiiit... banget..." ucap Kisame berurai air mata sambil memegang dadanya.
Kisame memang berwajah menjijikkan, tapi jauh lebih menjijikkan saat menangis. Konan merasa bersalah membuat makhluk laut itu menangis lebay begitu, "Ya, maaf, Kis. Habisnya wajahmu lebih mirip ikan daripada manusia."
Percayalah, saudara-saudara. Kisame bisa merasakan efek backsound 'JLEBB' seperti ratusan panah menusuk dadanya telak. Ouch.
Sedangkan Itachi diam saja melihat Kisame dibully. Ya, dia mau menolong bagaimana coba? Bayangkan saja. Jika Itachi dan Kisame melakukan hal yang sama di waktu yang sama dan di tempat yang sama, reaksi cewek-cewek bagaikan langit dan bumi. Itu pun dia pernah mendengar dari Deidara, bahwa organisasi mereka bisa ganti status dari organisasi ninja kriminal ranking S menjadi tukang sirkus keliling berkat keberadaan Kisame. Hhhh... intinya kasihan banget lah.
"SUDAAAARRRGHHHH!" Pein menghentikan drama berdarah ini dengan teriakan lantang ala penyanyi rock, "Setan kalian semua! Tidak ada yang bisa menerima impresi dengan lapang dada! Kalian itu Akatsuki! Tunjukkan sikap profesional kalian!"
"Profesional muka lu bedug! Pokoknya awas saja jangan ngamuk pas giliranmu tiba!" komen Hidan tepat sasaran.
"Iya, iya! Aku janji takkan ngamuk kalau diriku dibahas!" Pein mengucapkan janji setianya(?) yang mungkin tidak akan dia tepati, "Jadi, siapa selanjutnya?"
"Siapa selanjutnya, katamu, un? Jelas pacarmu 'kan, un?" sahut Deidara bete asyik digebuki dari tadi. Lama-lama dia bisa tutup usia kalau begini mah.
"Eh? Aku?" Konan menunjuk dirinya sendiri. Kemudian sejenak dia berpikir apakah memang benar gilirannya, "Oh, iya. Memang aku. Oke, deh. Cepat tulis impresi kalian. TAPI AWAS! Jangan macam-macam!" jiah, si Konan malah menebarkan kertas-kertas dari tubuhnya, siap menjejeli mulut siapapun yang berani bicara jelek tentangnya dengan kertas bercampur keringat itu.
Tapi tampaknya ancamannya barusan tidak sepenuhnya mempan
.
IMPRESI KONAN.
.
Pein : Beauty, sweet, sekseh
Itachi : Kertas koran
Kisame : Kertas lipat
Deidara : Tisu toilet
Sasori : Karcis togel
Hidan : Kertas daur ulang
Kakuzu : Hobi buang kertas
Zetsu : Cewek lipet-lipet
Tobi : Suka origami
.
.
Tobi membaca satu-persatu tulisan para Senpainya dengan penuh hikmat serta perasaan. Kalian tanya kenapa Konan tak mau membacanya sendiri? Well, alasannya sih dia mau bersiap-siap menabok siapa yang menulis hal-hal jelek tentangnya.
Dan akibatnya...
BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH!
Tinju sakti Konan mendarat tragis di ketujuh pipi angggota jahanam. Lebaynya, mereka terlempar jauh sampai nemplok di dinding bersama cicak-cicak. Sedangkan Pein dan Tobi bersikap layaknya penonton setia alias bengong.
"Kaliaaaaaannn..." Konan masuk mode shinigami, "KALIAN PIKIR AKU BENDA MATI APA!? WALAU JURUSKU KERTAS SEMUA, AKU INI MAKHLUK HIDUP! INI SIH SAMA SAJA SEPERTI KALIAN MENYAMAKAN KISAME DENGAN SPESIES MAKHLUK LAUT!"
Sambil mengaduh kesakitan akibat hidungnya berdarah, Deidara buru-buru berdiri lalu menunjuk Konan dengan jari tengah, "Diem lu, un! Kau sendiri juga mengataiku hemafrodit, un!"
"Iya, bener banget! Kau juga menyebutku keriputan, 'kan? Jadi, sekarang gantian menghina, dong!" ini sih Itachi yang mencak-mencak tak terima wajah tampannya jadi abstrak karena digebuki berkali-kali dari sesi awal permainan.
"DAN KAU MERAGUKAN SPESIESKU SEBAGAI HOMO SAPIENS, PEREMPUAN KAMPRET!" kalau ini Kisame yang malah menangis bombay akibat flashback ke sesi dia sebelumnya. Rupanya dia masih dendam, saudara-saudara.
"HEH, JOMBLO LAPUK! ITU 'KAN MEMANG BENAR! KENAPA KALIAN JADI BERDEMO BEGINI!?" teriak Konan sensi.
"DAN YANG KAMI TULIS JUGA BENAR, BEGO! JADI JANGAN BERDEMO JUGA (UN)!" balas ketiga korban tak kalah sensi.
Hhhh... penulis sudah menduga bahwa permainan sinting ini memang tak akan berjalan damai. Setiap sesi diwarnai pembantaian berdarah. Ternyata ide Zetsu tidak sepenuhnya bagus.
Disisi lain, Kakuzu yang juga ikut bangun, ternyata lebih memilih duduk kemudian mengambil buku kas organisasi. Terlihat dia menghitung pendapatan dari bunga kas teman-temannya dengan kalkulator. Mata hijaunya makin menyala ketika tiba di bagian Konan.
Rupanya dia juga masih dendam, huh?
"Mengaku saja, Konan! Kau bukan manusia, 'kan?" tanya Sasori asal main tuduh.
"Enak aja lu ngomong! Aku ini manusia, tahu! Kau pikir aku Kisame si manusia lele!?" Konan malah bawa-bawa Kisame yang tak ada sangkutpautnya.
Kisame yang merasa dirinya dihina (lagi), langsung berteriak mengirimkan hujan lokal, "Woi! kalau ingin marah, ya marah saja! Kenapa bawa-bawa namaku!?"
Konan makin merutuk, para pembaca. Dia berpikir, sebagai satu-satunya wanita di Akatsuki, seharusnya dia 'kan populer gitu. Secara Akatsuki adalah organisasi yang gersang dengan perempuan. Ini kenapa dia diragukan sebagai manusia? Oke, dia memang bisa merubah dirinya menjadi kertas-kertas, tapi mereka tidak perlu sampai segitunya, 'kan?
"Ternyata hanya Pein sayang yang paling mengerti diriku," Konan segera menghamburkan diri ke pelukan Pein.
Pein mesam-mesum tak jelas dipeluk Juliet. Ya, selagi dapat hoki, "Ah, Konan-chan bisa saja~~"
"Pein cayaaang~"
"Oooh, my honey~"
Sementara kedua pasangan ajaib itu bermesraan layaknya dua tokoh utama yang berjumpa setelah sekian abad lamanya, anggota lain mati-matian menahan muntah. Malah rasanya Deidara ingin sekali mengambil koleksi video porno Pein dari kamarnya, lalu ditunjukkan langsung di depan Konan. Terserah deh dia disebut perebut laki orang(?), yang penting ketuanya jangan berbahagia selama dirinya menderita. Hidan sendiri juga dari tadi 'cih-cih' ria saking jijiknya melihat 'pemandangan' alay tersebut.
Tobi yang dari tadi dihiraukan akhirnya buka suara, "Lho? Tobi bagaimana, Konan-senpai?" ujarnya menunjuk dirinya sendiri.
Sayangnya, dua sejoli itu terlalu sibuk sehingga Tobi hanya bisa mendengar suara jangkrik bersahutan diiringi hembusan angin.
"Pein~, aku makin mencintaimu~" Konan mulai termakan rayuan gombal Pein. Dia berkata begini dengan suara sok imut yang dibuat-buat.
"Aaah, I love you too, my sweetheart!" Pein pasang senyum yang menurutnya manis. Pakai bahasa inggris segala pula, tuh! Padahal dulu semasa SD di Amegakure, dia langganan remidial setiap kali ulangan.
Takdir kejombloan para penonton akhirnya bergejolak. Mereka sudah muak disuguhkan akting roman jijay tersebut. Apalagi Zetsu dan Kisame yang notabene tak ada kenalan cewek dari Homo sapiens. Maklum, soalnya kenalan Zetsu kebanyakan dari kingdom Plantae, sementara Kisame dari kerabat Pisces.
"WOOII! KALIAN PIKIR KAMI BAKAL TERUS MELIHAT DRAMA ROMAN PICISAN KALIAN!? MAU SAMPAI BERAPA EPISODE, HAH!?" teriakan iri hati disampaikan mulut Sasori.
"LAGIAN APA YANG KAU SUKA DARI MUKA BOKEP ITU, KONAN!? SADAR, OI!" semprot Itachi juga ikut iri.
Melihat suasana fuwa-fuwa mereka diganggu gugat, Pein balik teriak sambil pamer gigi-gigi runcing, "BERISIIIK! KALIAN, PEMILIK TAKDIR JOMBLO, DIAM SAJA!" dasar. Padahal sedang enak-enaknya saling menyalurkan rasa cinta, tapi anak buahnya malah menghancurkan seenaknya.
"Udah, udah! Cukup! Pein, Konan, kita lanjut lagi!" Zetsu mencoba menengahi keadaan.
Tapi jangan salah. Karena saat itu juga, batin Zetsu sedang menangis darah. Wajar, 'kan? Dia belum pernah dipeluk cewek beneran. Dia menyumpah-nyumpahi Pein supaya ketuanya itu ketiban sial ketika gilirannya tiba.
"Oke, target selanjutnya adalah kau, Pein, un," ucap Deidara langsung mengambil kertas dan penanya daripada mengurusi tingkah OOC Pein dan Konan. Walau dia sebenarnya merasa jengkel karena Pein bisa dipeluk dan dicintai cewek cantik. Sudah begitu, ekspresi Pein terlihat riang gembira banget. Kenapa beda sekali dengan dirinya yang sering dipeluk cowok karena dikira cewek? Sial.
Aksi pelukan mereka berakhir sampai disitu ketika target bully selanjutnya adalah sang ketua Akatsuki sendiri.
Pein sendiri langsung meneguk ludah sendiri karena merasakan firasat buruk. Apakah dia juga akan dinistakan seperti mereka?
"Oi, Pein! Kau janji takkan mengamuk apapun yang kami tulis, 'kan? Tepati janjimu!" seru Hidan mengingat janji-janji dusta Pein. Ya, dia takut pada Rinnegan Pein. Karena walau ketuanya itu bokep habis, begitu-begitu Pein yang terkuat.
Seketika Pein gugup, merutuki dirinya sendiri yang malah mengucapkan janji palsu. Tapi dia tak bisa mundur lagi. Dia akan menunjukkan sikap profesional seorang pemimpin (Halah).
Sambil mengacungkan jempol ala Guy-sensei, Pein berkata sok pede, "Aku tidak takut! Aku pasti akan tepati janjiku!"
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Hmmm... apakah kalian yakin Pein akan menepati janjinya saat mengetahui impresi tentangnya? Kalau penasaran, tunggu chapter selanjutnya. Tolong tinggalkan komentar. Sampai jumpa!
