Author's note: Tanpa basa-basi, mari Penulis menjawab komentar para pembaca yang mau berbaik hati meninggalkan kesan.

.

Nora-Nothingness

Ternyata kamu memang peramal yang berbakat. Selamat telah menebak chapter ketiga ini.

Ihsanul Fikri

Terima kasih banyak.

Blue Light

Ohohoho, kalau ingin tahu reaksi Pein, langsung baca saja chapter ini.

Pernah membaca fanfic yang mirip ini, ya? Hmmm... memang banyak sih fanfic humor Akatsuki bertaburan dimana-mana, jadi mungkin ada yang terasa mirip walau waktu rilisnya beda. Tapi bukan berarti Penulis plagiat 100 persen, ya.

Winaayu416

Oh ya, Penulis ingat sekali. Terima kasih telah meninggalkan komentar. Ditunggu fanfic Penulis selanjutnya.

Guest

Kedua fanfic itu terhapus karena error penyimpanan dokumen di akun Penulis. Datanya benar-benar hilang. Penulis minta maaf sekali.

Knostani08

Hahaha, selucu itukah? Penulis juga mengucapkan terima kasih karena kamu telah menyempatkan diri membaca kisah ini serta meninggalkan komentar.

.

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Akatsuki's Games Chapter Three: Permainan Impresi Part 3

Oleh Josephine Rose99

.

Note:

Kisah ini hanya untuk bersenang-senang, tanpa menyinggung pihak manapun.

Bukan plagiat. Ide dari kepala IQ rendah penulis.

Silahkan tinggalkan komentar. But, no flame.

.

.

.

.

.

AKATSUKI'S GAMES

CHAPTER THREE

PERMAINAN IMPRESI PART THREE

OLEH JOSEPHINE ROSE99

.

.

.

(Sebelumnya di chapter dua...)

.

"Oke, target selanjutnya adalah kau, Pein, un," ucap Deidara langsung mengambil kertas dan penanya daripada mengurusi tingkah OOC Pein dan Konan. Walau dia sebenarnya merasa jengkel karena Pein bisa dipeluk dan dicintai cewek cantik. Sudah begitu, ekspresi Pein terlihat riang gembira banget. Kenapa beda sekali dengan dirinya yang sering dipeluk cowok karena dikira cewek? Sial.

Aksi pelukan mereka berakhir sampai disitu ketika target bully selanjutnya adalah sang ketua Akatsuki sendiri.

Pein sendiri langsung meneguk ludah sendiri karena merasakan firasat buruk. Apakah dia juga akan dinistakan seperti mereka?

"Oi, Pein! Kau janji takkan mengamuk apapun yang kami tulis, 'kan? Tepati janjimu!" seru Hidan mengingat janji-janji dusta Pein. Ya, dia takut pada Rinnegan Pein. Karena walau ketuanya itu bokep habis, begitu-begitu Pein yang terkuat.

Seketika Pein gugup, merutuki dirinya sendiri yang malah mengucapkan janji palsu. Tapi dia tak bisa mundur lagi. Dia akan menunjukkan sikap profesional seorang pemimpin (Halah).

Sambil mengacungkan jempol ala Guy-sensei, Pein berkata sok pede, "Aku tidak takut! Aku pasti akan tepati janjiku!"

.

.

IMPRESI PEIN.

Konan : Bokep

Itachi : Pervert

Kisame : Hentai

Deidara : Mesum banget, un

Sasori : Ecchi

Hidan : Porno Totalitas

Kakuzu : Bokepers Miskin

Zetsu : Icon JAV

Tobi : Perfect

.

Begitu kertas-kertas berisikan penghinaan tersebut diberikan pada Pein, tak butuh tiga detik bagi kesembilan anggota kurang ajar itu untuk buru-buru menjauh. Dalam posisi seperti buronan terkepung polisi, mereka berdiri berjajar pada dinding markas. Sesekali mereka meneguk ludah saking takutnya akan apa yang akan dilakukan Pein selanjutnya. Bahkan Hidan sampai memeluk pinggang Kakuzu, sementara yang dipeluk cuma menatap sinis pada bocah itu seolah mengatakan 'Memangnya aku Emak lu?'.

Set.

Pein mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat-lekat anggotanya satu persatu. Otomatis bulu kuduk mereka berdiri sampai kedua kaki bergetar hebat. Keringat makin bercucuran deras saat Pein berdiri dari posisi kemudian melangkah ke arah mereka.

Situasi gawat! Hidan segera bertindak dengan berkata, "Pe-Pein... ka-kau janji tidak akan marah, 'kan?"

"Sa...Sayang?" ini sih Konan yang mengandalkan status mereka supaya dia tidak ikut jadi korban.

"Pe-Pein, un... kau juga tadi menghina kami, 'kan? Ja-jadi jangan marah, un..." ujar Deidara sok bijak.

"GYAAAA! JANGAN MENDEKAT, PEIN! JANGAN MENDEKAT!" Kisame malah panik sendiri. Dia melompat memeluk leher Itachi saking takutnya. Itachi terpaksa bernapas megap-megap persis ikan kekurangan air.

Tap.

Pein telah berdiri di hadapan mereka dengan wajah tertunduk. Entah ekspresi apa yang dia sembunyikan, namun seluruh anak buahya sudah bergetar nyaris ngompol.

Dalam keheningan penuh ketegangan itu, Pein bergumam pelan, "...Tobi..."

DEGG!

Jantung Tobi serasa maraton 100 km saat namanya dipanggil. Oke, dia biasa dipanggil jika dia berbuat onar ke para seniornya seperti menjual buku porno Pein demi bisa beli lolipop, atau membobol brankas Kakuzu, atau juga karena mengolesi krim anti keriput Itachi pada boneka Sasori. Tapi yang ini lain cerita. Kali ini Tobi tak yakin akan selamat.

"A-ada a-a-apa, Se-senpai?" tanyanya nada bergelombang(?).

"...Kemari."

Dengan sangat terpaksa bocah bertopeng ini maju layaknya murid berandalan tertangkap basah mencontek, "Pe-Pein-senpai?"

"Berdiri di belakangku." perintah Pein yang membuat Tobi bingung. Dia pikir Pein bakal menggunakan Rinnegan padanya, tapi kenapa disuruh berdiri di belakang? Sayangnya, Tobi masih sayang nyawa. Daripada membacot tak penting, mending dia menurut. Sehingga dia pun sudah berdiri di belakang Pein.

"Su-sudah, Senpai..." katanya takut-takut. Meski dalam hati dia sudah membatin 'Pein-senpai mau apa, sih?'.

Ternyata bukan hanya Tobi yang bingung, yang lainnya juga. Kenapa Tobi saja? Mereka? Firasat pun semakin buruk. Mereka tampaknya sudah tahu kalau Pein (tidak) mungkin menepati janjinya untuk tidak marah apapun impresinya. Tahu begini mereka lebih baik berdusta seperti sesi Kakuzu!

Diluar dugaan, Pein justru tersenyum manis dengan imajiner 'Uwaaaa' di belakangnya dan berlatar kelap-kelip. Seketika raut wajah mereka yang takut tak karuan menjadi; 0_0?

"Terima kasih, anak buahku tersayang, atas IMPRESI LUAR BIASA yang meluluhkan hati tadi. Aku sangat tersentuh..." layaknya tokoh utama teater, Pein menebahkan dada terharu. Mainly tears pun sampai menetes jatuh pada rerumputan di lantai markas supaya membantunya berfotosintesis(?). Melihat hal ajaib tersebut, terpaksa gilanya Kisame dan Hidan berhenti dulu, "Kalian benar-benar sangat mengerti diriku akan cintaku pada seni bokep. Karena itu, biarlah aku mengajarkan seniku pada kalian agar aku tidak sendirian lagi melihat aksi chayank Maria dan bebeb Lindsay dari balik layar,"

...

..

Hah?

Angin berhembus.

"Maaf, Pein. Aku masih setia pada 'Seni Adalah Ledakan', un..." Deidara's opinion.

"A-aku juga masih setia pada seni boneka-bonekaanku. Serius!" Sasori's opinion.

"Kau tahu sendiri kemampuan otakku 'kan, Pein? Jadi kurasa aku terlalu bego untuk mengerti senimu. Heheh.." Kisame's opinion.

"Se-sebenarnya, Pein, aku sepaham dengan Sasori. Ja-jadi, aku tak perlu seni lainnya lagi.." Itachi's opinion.

"A-aku sibuk dengan ritualku, Pein. A-aku tak ada waktu untuk belajar seni..." Hidan's opinion.

"Belajar seni hanya menghambur-hamburkan uang," Kakuzu's opinion.

"Se-sepertinya aku cukup deh dengan seni origamiku, Pein. Maaf, aku harus menolak. Simpan saja seni itu untuk dirimu sendiri, hehe..." Konan's opinion.

"Aku sudah ada seni merangkai bunga, Pein. Aku tak tahan hal-hal bokep begitu," Zetsu's opinion.

Mendengar semua anak buahnya (kecuali Tobi) menolak halus, Pein justru bersikap biasa saja seolah dia sudah tahu apa jawaban mereka. Maka, dia pun umbar senyum unjuk gigi lagi, "Ah, tak apa-apa. Tak usah dipaksakan. Aku mengerti, kok. Ahahahaha..." begini katanya sambil tertawa.

Mau tak mau, kedelapan tikus terpojok itu juga ikut tertawa hambar. Kesannya biar tidak garing begitu, "Ahahaha... haha...hahaha..."

"Hahahahaha..."

"Hahahaha..."

Set.

Oops, tawa mereka spontan terhenti begitu tangan kanan Pein terangkat ke arah mereka. Tawa hambar tersebut berganti menjadi suasana horor serasa dipelototi Sadako.

Tunggu dulu! Jangan-jangan Pein—

"Pe-Pein! Tu—" belum sempat Kakuzu selesai bernegosiasi, Pein keburu melancarkan jurus andalannya.

"SHINRA TENSEI!"

"GYAAAAAAAAAAAAAA!"

BRUAAAGHHHH!

.

.

Setelah acara pembantaian massal selesai meninggalkan lubang besar di dinding markas, kedelapan 'nyaris' korban tersebut kembali duduk melingkar bersama Pein dan Tobi untuk melanjutkan permainan. Meski mereka menggerutu dalam hati karena Tobi kembali lagi selamat dari lubang jarum. Ya, dalam hati. Mana berani mereka mengatakannya langsung pada Pein. Sudah cukup Shinra Tensei kampretonya itu! Jangan lagi serangan rajaman pierching laknat dari tubuhnya!

Sedangkan Pein sibuk memuji Tobi sambil mengelus-elus kepalanya daripada melihat wajah sungut yang lain, "Wah, Tobi! Kau memang anak baik! Aku bangga padamu sebagai pemimpin sekaligus Senpai!"

Untung saja bocah itu pakai topeng, kalau tidak kelihatan wajah cengonya. Namun terpaksa dia mengikuti arus topik, "Eh? Hahaha! I-iya, Senpai! To-Tobi 'kan memang anak baik!"

Jelas dong adegan barusan mengundang iri hati dari para korban. Bocah bertopeng itu dalam keadaan baik-baik saja, sementara mereka persis gembel. Pakaian robek disana-sini. Belum ditambah dengan wajah kumal dan rambut awut-awutan. Bicara soal rambut, padahal Itachi susah payah merawat rambutnya supaya kinclong dan tak berketombe, tapi itu semua hancur berkat satu jurus laknat Pein. Sial.

"Tobi brengsek, un! Dasar pengkhianat, un! Pakai tulis 'perfect' segala tentang Pein! Apa-apaan 'perfect'!? Perfect bokepnya sih iya, un! Sikapnya? JAUH, UN!" Deidara membatin kesal sambil melirik Tobi. Diam-diam dia akan meletakkan bom tanah liatnya di balik bantal Tobi nanti malam. Biar kouhainya itu juga ikut menderita. Benar-benar Senpai yang kejam.

"Awas aja lu, Pein! Bakal gue bakar semua DVD porno lu!" ini sih dendam Zetsu yang malah mencari 'korban' tak bersalah.

"Pokoknya akan kunaikkan bunga utangmu, Pein! Dari 80% jadi 100%! Lihat saja nanti! Meski nangis bombay, takkan kuturunkan!" Kakuzu dendamnya melebihi batas. Dia sudah merencanakan ide nista pada bunga bon kas Pein.

"Beraninya kau padaku, Pein! Pokoknya hari ini kita putus!" Konan malah bersikap kekanakan dengan memutuskan hubungan sepihak. Padahal justru dia yang pengkhianat. Saat sesinya, Pein memujinya dengan kata-kata gombal. Lha, sekarang pada sesi sang Romeo, dia mengumbar aib. Oke, ini memang permainan kampret yang mengharuskannya jujur. Tapi dia tak perlu sejujur itu, 'kan?

Hei.

Omong-omong kenapa cuma Tobi, ya? Apa ada sesuatu di jawabannya?

"Hm?" tak sengaja Tobi melirik lembar kertas milik Itachi di dekat kaki Pein, "Lho? Kenapa jawaban Itachi-senpai sama denganku?" saking penasarannya dirinya memiliki teman satu jawaban, dia mengambil kertas tersebut dan membacanya lekat-lekat dalam hati, "...Pervert?... Oh! Jadi tulisan 'mesum' dalam bahasa inggris itu 'pervert', ya? Berarti Tobi anak baik salah tulis..." oalah! Ternyata ini alasannya bocah bertopeng tidak ikut di-shinra tensei. Hanya karena masalah typo semata. Entah dia beruntung atau memang pada dasarnya bego soal bahasa inggris. Pervert dengan perfect mah beda jauh!

Maklum saja, para pembaca. Tobi itu tak jauh beda dari Kisame. Dia lebih paham bahasa satwa daripada bahasa manusia. Jadi tak heran dia tak bisa memberikan kopian ijazah(?) sebagai syarat member pada Pein dulu. Singkatnya, dia diterima karena kasihan doang.

Sementara Tobi manggut-manggut melihat kertas Itachi, di ujung sana Hidan sudah naik darah. Tak peduli akan maut, bocah sesat itu langsung menunjuk Pein menggunakan jari tengah, "HOI, PEIN! DASAR BAJINGAN! BUKANNYA KAU SUDAH JANJI TAKKAN MARAH, HAH!?"

Sebenarnya Pein sudah tahu kalau si penganut Jashin itu akan protes berat. Jadi dia cuma bisa memutar bola matanya 720 derajat(?), "Dan kenapa sepertinya kau marah sekali kalau aku tak menepati janjiku?" Pein membalas malas.

"YA, KAU 'KAN KETUA AKATSUKI! MANA SIKAP YANG KAU SEBUT PROFESIONAL ITU, KEPARAT!?"

"Sejak kapan kau percaya dengan janji-janji busukku, Dan?" seolah mendapat serangan telak dari serangan bon kas jilid 2 dari Kakuzu, Hidan kehilangan kata-kata untuk membalas.

Yup. Bodohnya dia mau mempercayai janji Pein yang sama dengan janji politikus waktu kampanye, namun lupa ketika sudah duduk santai di ruang dewan.

Pein segera mengambil kertas-kertas itu dan menyerahkan ke teman-temannya. Dia tak mau buang waktu. Karena target selanjutnya adalah member yang paling membuatnya sirik karena ketampanan dan jumlah fansnya, "Nih, ambil! Kita lanjut lagi! Subjek selanjutnya adalah Sasori!"

Sasori cuma mengangkat bahu seolah tak peduli. Bersikap cuek dan cool supaya imejnya tetap terjaga. Ya, itu hanya diluar. Karena di dalam hatinya, dia sudah mengucapkan sumpah serapah bagi siapapun yang menganjlokkan harga dirinya sebagai pemilik wajah baby face di Akatsuki.

"Awas saja kalian, para pemilik muka abstrak! Berani menulis hal-hal jelek, akan kujadikan koleksi bonekaku!"

.

IMPRESI SASORI.

.

Pein : Cebol sok ganteng!

Konan : Cebol mata unta

Itachi : Hobinya kayak cewek

Kisame : Cebol kuku berkutek

Deidara : Sok tahu seni!

Hidan : Satu spesies Deidara

Kakuzu : Suka menghamburkan uang!

Zetsu : Pengkhianat Nenek sendiri!

Tobi : Seni adalah ledakan!

.

.

Sasori membaca dalam hati impresi dari kawan-kawan sejatinya dengan muka datar. Meski rasanya dia ingin berlari ke kamar, mengambil boneka teddy bear kesayangannya, mengubur wajahnya pada bantal corak barbienya, lalu menangis kencang-kencang menyebut nama Nenek Chiyo yang sudah dia kirim ke akhirat. Sungguh, hatinya sakit mengetahui kenyataan pahit ini! Bahkan Deidara yang notabene partnernya sendiri telah mengkhianatinya. Syebel, syebel, syebel!

Melihat Sasori dari tadi diam saja, no reaction terhadap tulisan-tulisan jahanam, Kisame berani membuka suara, "Sas? Kok diam saja?"

Pertanyaan barusan itu dibalas hembusan napas panjang dari si bocah merah. Seketika anggota Akatsuki bingung kenapa Sasori malah bertingkah ala Kakek-Kakek rematikan menunggu ajal.

"Sasori?" panggil Konan was-was berkat perubahan muka Sasori yang menjadi bermuram durja.

Dalam keheningan tersebut, Sasori pun berkata, "... Kalian..."

"Apaan? Kau jangan berlagak jadi tokoh utama drama aksi. Wajah pedofilmu itu tak cocok, tahu!" sambar Zetsu makin menyakiti kokoro Sasori paling dalam.

Oke, Sasori tak bisa menahan diri lagi. Dia langsung berdiri mengambil pentungan Pein kemudian menggeplak kepala si pemilik sendiri.

PLETAKKK!

"WADAW!"

"Sok ganteng?! Aku tuh memang ganteng! Bilang aja kalau lu sirik padaku karena kau minim fans, 'kan!?" begini teriak Sasori mencak-mencak.

"Kampreto! Kora, Sasori! Teme—"

Belum sempat Pein berkomentar, Sasori sudah ganti target saja dengan menampol wajah Konan.

PLETAKK!

"AAWW!"

"Enak aja lu ngomong gue mata unta! Kau iri dengan mata lentikku ini, 'kan? Kau pikir aku tak tahu kalau kau belajar pakai maskara setelah melihatku?!"

"Woi! Sembarangan main tampol aja! Kepalaku benjol ta—" lagi-lagi Sasori beralih ke korban selanjutnya sebelum memberi kesempatan Konan selesai bicara.

PLETAKK! Korbannya Itachi kali ini, ck ck ck. Kepala Itachi berasap ditambah kue bertingkat menjadi hiasan.

"Dan kau, Incest! Jangan menghina aktivitas kesukaaanku dengan para barbieku, sialan!"

"Oi, jangan bawa-bawa Sasuke ke dalam game kamvret ini, ya!" Itachi naik pitam dan menerjang Sasori.

Emm, menerjang disini maksudnya berkelahi, bukan dalam arti lain. Well, semoga kalian tidak berpikir begitu.

Sambil terus bergelut, Sasori berteriak kencang tepat di wajah Itachi, "Jangan sentuh tubuh seksiku, keriput berjalan!"

Spontan Itachi menusuk lubang hidung Sasori dengan kedua jarinya, "Siapa yang kau sebut keriput berjalan, homo maniak!?"

Anggota Akatsuki lainnya hanya geleng-geleng kepala menyaksikan perkelahian kekanakan yang tak melabeli identitas kriminal kelas kakap.

"Oh ya, omong-omong, Kakuzu..." sela Zetsu melirik kertas jawaban Kakuzu, "Perasaanku mengatakan apapun impresimu terhadap kami, itu semua selalu ada hubungannya dengan utang-piutang. Apa kau tak bisa memberikan impresi diluar itu, hah?"

"Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong mau tulis apa!" sembur Kakuzu sewot terus diprotes.

Ya ampun, dia benar-benar buang waktu disini. Dan berhubung waktu sama dengan uang, ini sama saja dengan buang-buang uang! Beginilah jika punya teman sekelompok minim pendidikan ekonomi.

Disisi lain, bukan hanya Kakuzu saja yang diprotes, namun Tobi juga. Kali ini pelakunya adalah Deidara. Dia shock tak percaya melihat impresi Tobi pada Sasori adalah motto hidupnya yang telah dilindungi hak cipta, "WOI, TOBI! APA-APAAN YANG KAU TULIS INI, UN!? SENI ADALAH LEDAKAN!? ENAK AJA LU MAIN SERAH TERIMA MOTTO HIDUPKU PADA DANNA! INI PUNYAKU, UN!"

Tobi garuk-garuk kepala tanpa rasa bersalah, "Eh? Iya ya, Deidara-senpai? Tobi pikir ini milik Sasori-senpai,"

"Hah!? Kalau Danna itu seni adalah keabadian yang gak bermutu, bego! Enak aja lu samakan aku dengannya!"

"Seni siapa yang kau sebut tak bermutu itu, banci ngondek!?" walau masih bergulat dengan Itachi, ternyata telinga Sasori cukup sensitif mendengar hinaan Deidara.

"Diem lo monyet kudisan, un!"

"Kambing congek!"

"Kucing garong, un!"

"UDAAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHHHH!" spontan semua anggota menutup telinga demi melindungi fungsi pendengaran dari teriakan rock 'n roll Pein. Tampaknya sang ketua makin gerah melihat tak adanya perdamaian dalam permainan nista ciptaan Zetsu ini, "Aku tak mengerti. Kenapa tak satupun dari kalian yang menerima impresi teman-teman kalian dengan tulus? Jangan buat malu nama besar organisasi penjahat nomor satu se-Naruto verse, kampret!"

"..."

Sungguh rasanya yang lain ingin keluar dari organisasi busuk ini sekarang juga. Mereka tak percaya kalimat sok bijak itu diucapkan oleh cowok yang baru saja membuat mereka babak belur plus lubang besar pada dinding markas. Khususnya Itachi yang merasa sangat menyesal bisa bergabung dengan organisasi delusional begini. Kenapa? Ya soalnya dia repot-repot bunuh klannya, jauh-jauh datang dari kampung bersama Tobi naik perahu reyot nyaris terbalik punya Kakuzu... cuma demi menghabiskan hari bersama orang-orang tak waras seperti ini?

Intinya? Ya, intinya kesembilan orang itu hanya memutar bola mata dengan ekspresi 'bodo amat, Pein'.

"Ayo lanjut!" Pein mengajak mereka kembali ke inti permainan, "Subjek kita berikutnya adalah Tobi!"

Hah? Tobi?

Seketika para Senpai melihat ke arah satu-satunya Kouhai mereka dengan tampang shock yang sama saat sesi Kisame. Walhasil Tobi celingak-celinguk kebingungan.

"Oi, Pein... kau yakin kita mau menulis impresi soal Tobi?" tanya Kisame melongo.

"Memangnya kenapa?" Pein balik bertanya judes.

"Ya, i-itu... soalnya aku tak yakin kalau otakku bisa menemukan impresi bagus soal dia."

"Halah! Kau bicara seolah impresimu tadi itu lebih baik darinya!" ujar Hidan malah membawa flashback pada Kisame. Well, tentu saja dia tak mungkin melupakan impresi keraguan mereka terhadap apa spesies Kisame sebenarnya, 'kan?

Kisame merasa tersinggung. Dia langsung menunjuk Hidan pakai jempol kaki, "Hah!? Kau sendiri bagaimana!? Dasar homo!"

"Sembarangan lu bicara! Dasar cowok gak laku, jelek, sok kecakepan!"

"Lu sendiri juga begitu, 'kan?! Memangnya kau pernah dekat dengan cewek!? Adanya lu pergi kemanapun bareng Kakuzu doang udah kayak pengantin baru!"

"Setidaknya tampangku normal, ya!"

"Memangnya tubuhmu yang bisa berubah warna kayak bunglon itu bisa disebut normal juga!?"

PLETAKK! PLETAK!

Kembali lagi pentungan Pein beraksi untuk menciptakan keheningan sesaat. Memang tidak sia-sia dia menjadikan pentungan sebagai senjata sucinya. Ya, semuanya demi ini. Membungkam mulut berisik anggotanya yang bertengkar childish.

Biarkan Kisame dan Hidan yang terkapar dengan kepala berasap. Kita kembali ke topik.

"Nah, cepat tulis impresi kalian soal bocah itu!" perintah Pein sembari bernapas lega bahwa permainan kamvret ini sebentar lagi akan berakhir.

.

IMPRESI TOBI.

.

Pein : BOCAH AUTIS

Konan : PENGIDAP AUTISME

Itachi : AUTIS TOTALITAS

Kisame : AUTIS SEKALI

Deidara : AUTIS BANGET, UN!

Sasori : LUAR BIASA AUTIS

Hidan : SEJIWA DENGAN ZETSU

Kakuzu : BERUTANG PALING BANYAK NOMOR 2!

Zetsu : SESPESIES SAMA HIDAN!

.

.

Yup, sesuai dugaan. Kedua mata kecil Tobi berkaca-kaca membaca semua tulisan Senpainya. Nafasnya mulai terisak-isak, menandakan dia tak bisa lagi membendung perasaannya. Tidak, dia bukan terharu. Dia hanya tak bisa menerima kenyataan pahit bahwa para seniornya tidak lebih dari sekelompok orang berhati busuk.

Konan yang sangat mengetahui Tobi luar dalam langsung bertindak. Layaknya pembagian sembako pada fakir miskin, dia membagikan penutup telinga ke setiap orang. Tentu saja dengan senang hati mereka menerimanya dan seolah tahu tanpa dikomando, mereka memasang penutup telinga itu. Bersiap menghadapi badai.

Kemudian, lagi-lagi mereka melirik Tobi bersamaan. Ya, bocah itu sudah pasang ancang-ancang.

"Bersiap akan badai!" ucap Konan lantang.

Dan 3...

2

1

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNGGGGG!"

Sudah Penulis duga.

Tangisan abnormal Tobi berhasil mengguncang seisi markas sampai hutan di sekelilingnya. Guncangan hebat itupun memberikan dampak buruk bagi kesehatan jantung Kakuzu alias retaknya dinding markas yang pastinya akan mengeluarkan biaya (lagi). Hebatnya, walau sudah memakai penutup telinga, efeknya masih terasa juga! Kedua tangan mereka bersembilan menutup telinga rapat-rapat demi membantu pengeluaran Kakuzu dalam membeli obat gendang telinga.

Tangisan Tobi belum berhenti! Memecahkan rekor baru tangisan bulan lalu yang membuat Pein beurusan dengan toko bangunan serta desain interior. Masih segar di ingatannya Kakuzu yang berpegangan erat pada kaki petugas karena membawa setengah dari isi brankasnya sambil banjir air mata. Dan sekarang terjadi lagi?

"BUSET! INI SIH LEBIH BURUK DARI ANGIN PUTING BELIUNG!" Kisame berkomentar dengan suara keras biar tidak kalah dari suara Tobi.

"GYAAAAA! TELINGA SUCIKUUUU!" ini sih Sasori yang guling-guling tidak jelas di lantai.

"JASHIN-SAMA, TOLONGLAH HAMBAAAAA!" kalau ini sudah pasti si penganut aliran sesat satu-satunya di Akatsuki. Sayang sekali, Hidan. Kau tak tahu bahwa Dewa Jashinmu baru saja menghubungi Penulis kalau dia sedang sibuk main gaplek bersama Dewa aliran sesat lainnya.

Lalu, bagaimanakah situasi Tobi yang mendengar komentar ketiga seniornya? Nihil. Bocah tengik itu masih menangis monster tak kira-kira, ck ck ck ck.

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! TOBI BUKAN ANAK AUTIIIIIIIIIISSS! TOBI INI ANAK BAIIIIIIIIIIIIIIIKK! HUWEEEEEEEEEEEEEEEEEE!"

"Iyaaaa! Tobi memang anak baik! Bukan anak autis! Sekarang, berhentilah menangis!" teriak Itachi berusaha mengubah keadaan, namun bocah gendeng itu malah tuli dan terus menangis.

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNGGGGG! TOBI BENCI SENPAI-SENPAI TOBIIIIIII! TOBI BENCIIIIIIII! HUWEEEEEEEEE! TAK SAYANG SAMA TOBI LAGIIII!"

Makin tak terkendali, saudara-saudara. Deidara nyaris semaput, tak tahan lagi dengan siksaan ini. Mengikuti permainan ini memang ide buruk! "Memangnya siapa juga yang sayang padamu, bocah pahlawan bertopeng sialan!? Lebih baik tutup mulut sialmu dan biarkan telingaku tenang, un!" beginilah batin Deidara kurang ajar.

"LEBIH BAIK TOBI MATI AJA, HUWAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"MATI SAJA SANA KE NERAKA, DASAR BOCAH JAHANAM!" jiah, Pein malah memperburuk keadaan saja. Si bolot ini makin mempersulut api permusuhan dari teman-temannya yang sekarang melototinya dengan tatapan membunuh.

Dua detik kemudian, tangis Tobi lenyap. Yup, bocah itu hanya berhenti sejenak supaya bisa memproses makian Pein tadi, "Hiks hiks... haaah?" ekspresi Tobi sangat terluka, tersakiti, terkhianati, dan ekspresi sinetron lebay lainnya.

Uh-oh. Dia akan menangis lagi!

"Eeeeehh, tunggu dulu, Tobi! Barusan Pein itu cuma bercan—" terlambat, Kakuzu.

Badai ronde kedua.

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNGGGGGGG!" kali ini bukan markas doang, tapi dunia ikut bergetar. Istilah ilmiahnya gempa. Tangan bocah itu juga ikut memukuli lantai markas, merengek bagaikan anak kecil yang tidak dibolehi beli poster Ozawa Maria(!?) oleh orangtuanya dikarenakan masih belum cukup umur.

Tampaknya penutup telinga dari Konan tidak mempan dikarenakan benda tersebut juga ikut bergetar dan lepas dari tempatnya, saudara-saudara. Sekarang Pein dan yang lain hanya mampu berdo'a pada Dewa Jashin –kali ini Hidan tak maksa, sumpah- yang masih asyik main gaplek di neraka jahanam.

...

...

15 menit kemudian...

...

...

"Hiks hiks... hiks hiks..." akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga, yaitu ketika tangisan si bocah bertopeng lenyap dari dunia ini. Walaupun begitu dia masih terisak-isak, masih sakit hati tiada kara setelah mengetahui impresi tentangnya dari para senior Akatsuki. Namun dia tak menyadari apa efek samping dari 15 menit tangisan nyaris tanpa hentinya barusan.

Kesembilan anggota Akatsuki di hadapannya berada dalam posisi tidak elit sekali. Sebagai contoh adalah Pein yang sedang menungging dengan mata memutih, Konan dalam posisi tiarap dengan tangan kanan terjulur ke depan, Itachi yang sudah keriput makin keriput, Kisame yang megap-megap ditambah kejang-kejang, Hidan terkapar sambil terus menggumamkan 'Jashin-sama...Jashin-sama...', Kakuzu yang cadarnya telah terbuka menampilkan wajahnya yang tidak mampu didefinisikan dengan akal sehat, Tubuh Sasori yang berantakan kemana-mana, Deidara yang seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan terakhir adalah Zetsu yang venus flytrapnya menguncup bagai tanaman kekurangan cinta(?).

Tobi celingukan, menatap para senpainya satu per satu. Dan dengan polosnya, bocah ini berkata, "He? Senpai? Senpai semua kenapa?"

Ingin rasanya mereka semua berteriak di wajah si bocah bertopeng karena tak menyadari perbuatannya yang nyaris mengirim mereka ke akhirat sebelum permainan kampret ini selesai.

"Kenapa katanya tadi, un!? Memang minta dibom, un! Gue nyaris semaput disini dan dia bilang KENAPA!?" tentunya ini batin kurang ajar milik Deidara.

"Lu bener-bener brengsek, Tobi! Awas saja! Habis ini, beneran gue tambah bon kas lu!" kalau ini sudah bisa kita tebak siapa yang membatin.

"Jashin-sama, tunggulah! Hamba punya tumbal yang pantas hamba berikan padamu! Seekor manusia berhiaskan topeng anti nyamuk rasa permen lolipop!" lagi-lagi Hidan berpikir nyeleneh, "Ah, satu lagi! Zetsu jahanam! Beraninya dia menyamakan spesiesku dengan bocah brengsek ini! Awas aja lu, pot pajangan! Benar-benar minta disambit!" ternyata dia sempat melihat jawaban Zetsu, ya?

"Apa kata penggemarku jika pemilik Rinnegan sepertiku kalah dari tangisan bocah kampret yang tak terima disebut autis!?" tidak, kau salah, Pein. Pertama, penggemarmu nyaris tidak ada. Kedua, semua orang tahu kau sudah kalah telak dari video porno yang kau koleksi sejak balita itu. Singkatnya, tak heran kau kalah dari tangisan Tobi yang ala monster.

Lupakan jeritan batin keempat orang diatas. Tobi bergerak mendekati Konan yang masih kelenger berkat ulahnya, "Konan-senpai? Daijoubu?"

"Ha-Ha'iiii... daijoubu, daijoubu..." ucap Konan mengangkat kepalanya susah payah, menatap Tobi dengan wajah tersenyum (palsu). Ya, Tobi tak menyadari rutukan sang senior cantik ini dalam hati dibalik senyum (palsu) itu, "Daijoubu? Daijoubu? DAIJOUBU!? DAIJOUBU DARI GUNUNG! LU GAK LIHAT KONDISIKU YANG BERANTAKAN BEGINI?! DASAR BOCAH AUTIS SIALAN!" benar-benar seorang senior yang tak patut ditiru.

Disisi lain, Pein sudah bangkit dari posisinya. Meski rambutnya layaknya gaya rambut penyanyi rock, dia masih berniat mengakhiri permainan nista buatan Zetsu. Tinggal satu lagi. Tinggal sekali lagi dan penderitaan ini berakhir. Dia pun menoleh pada anak buahnya yang juga satu per satu mulai bangkit. Beruntung mereka masih bernapas setelah badai tornado barusan.

"Baiklah, teman-teman. Mari kita akhiri semua ini dengan menulis impresi si pembuat permainan kampret yang membuat kita terus digebuki dari awal," saat berkata begini, spontan mata seluruh anggota bersinar merah ke arah Zetsu.

Ya, itu dia. Sorot mata dendam. Ck ck ck ck.

Zetsu meneguk ludah. Dia tahu saat-saat seperti ini akan tiba. Mental dan jiwa raga siap dia pertaruhkan demi menahan emosi akan impresi nista yang diarahkan padanya. Karena itulah dengan wajah sok cool dan sok asyik dia berkata, "Huh, aku sih biasa saja. Aku tak peduli kalian menulis apa tentangku."

Hoho, jangan salah. Itu hanya kata-kata manis di mulut. Kalau di hati beda lagi.

"Aliran sesat sialan itu! Bilang aku sejiwa dengan Tobi?! Adanya dia yang juga ikut autis kalau sudah bicara soal ritual! Kampreto!" Zetsu melirik jengkel pada Hidan yang kini bersiul-siul sambil melihat ke arah lain, "Dan berani taruhan, nasibku tampaknya akan hampir sama dengan Kisame! Demi Dewa Jashin gak jelas Hidan, mereka pasti menyamakanku dengan tanaman! Khhh, lihat saja! Benar-benar kulalap kalau itu yang mereka tulis!" wah, sifat predator anak ini mulai kumat nampaknya.

.

.

IMPRESI ZETSU.

.

Pein : Manusia alang-alang

Konan : Bunga bangkai

Itachi : Sahabat bunga Rafflesia

Kisame : Pajangan pot bunga

Deidara : Dedemit zebra cross

Sasori : Psikopat beda kepribadian

Hidan : SAKIT JIWA!

Kakuzu : Berutang paling banyak

Tobi : Manusia kantong semar

.

.

Zetsu menghela napas berat seperti Kakek-Kakek dimakan usia. Membaca semua impresi teman-teman (tak) setianya membuat hatinya ketar-ketir. Entah sejak kapan dia bisa menjadi seorang peramal, sampai tebakan dia sebelumnya benar-benar terjadi. Ya, karena tak satupun impresi waras yang ia terima ini. Mereka ini sedang menulis kesan tentangnya atau kebun botani? Ah, tentunya selain duo pasangan homo itu.

Zetsu mendongakkan kepalanya, menahan setetes mainly tears yang akan mengalir penuh ironi. Saking terbawa suasana, dia sampai meremas kertas-kertas laknat itu diiringi lagu-lagu mellow. Ternyata benar bahwa nasibnya takkan jauh dari Kisame. Sama-sama diragukan spesiesnya.

"Oi, Zet," panggil Itachi sok khawatir dengan tingkah absurd Zetsu, "Kau tak ada komentar?"

"Lagian kenapa lu juga sampai harus menangis, sih? Terharu, ya?" tidak, Konan. Kau salah. Terharu bukanlah deksripsi yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Zetsu saat ini.

"Heh, kanibal sayuran! Omong-omong impresi dariku itu melambangkan kondisi bon kasmu sekarang, ya! Jadi tolong jangan pura-pura bodoh dan cepat lunasi utangmu!" yang ini tak perlu kita katakan siapa karena kita semua telah mengetahuinya. Tepat sekali, tak lain dan tak bukan adalah si rentenir bangkotan yang membuat Itachi terpaksa melanggar aturan permainan ketika menulis impresinya.

Berkali-kali Zetsu mengucek-ucek kedua matanya yang bersimbah air mata haru (palsu). Kemudian dia menatapi mereka semua satu per satu seraya berkata, "Begitu, ya? Jadi singkatnya bagi kalian aku ini tanaman, ya?"

"Ho'oh," begini jawab mereka bersamaan tanpa rasa bersalah, tanpa ragu, bahkan Tobi mengangguk berkali-kali tak berhenti hingga akhirnya Deidara harus turun tangan dengan menampol wajah bocah bertopeng itu.

Zetsu jelas makin jengkel, bukan? Dia benar-benar geram, saudara-saudara. Maka, dia pun berdiri, mendekati mereka lantas mencolok kedua mata mereka dengan ganas. Otomatis anggota Akatsuki laknat itu berteriak kesakitan berkat colokan dari si makhluk yang tak jelas Kingdomnya apaan.

"WADAW!"

"OUCH!"

"GYAAA, MATAKUUU!"

"ZETSU TEMEEE!" Hidan langsung mengambil sabit kesayangannya, lalu menyambit venus flytrap Zetsu hingga terpotong setengah.

Seketika Zetsu terkesiap. Dia shock melihat venus flytrap kesayangannya yang selalu dipupuk setiap hari sampai mencopet brankas Kakuzu itu terpotong telak, "GYAAAA, KUNCUP CANTIKKUUUUUU!" langsung saja bocah hitam-putih ini menerjang Hidan dan menjambak rambutnya, "APA YANG KAU PERBUAT PADA KUNCUPKU, HOMO SIALAN!?"

Hidan menampar pipi Zetsu bolak-balik, "LU SENDIRI JANGAN MAIN COLOK MATA GUE!"

Zetsu balas nampar dengan kecepatan tornado berkekuatan 1000 badak, "EH, MAKANYA BEGO JANGAN DIPELIHARA! LU SENDIRI KENAPA BILANG GUE SAKIT KEJIWAAN, HAH?! BENERAN GUE LALAP LU!" kuncup Zetsu yang tinggal separuh itu langsung terbuka dan mencapit kepala Hidan yang sekarang berteriak gila minta tolong.

"UWAAAAA! TOLONG AKU, DEWA JASHIIIINNN!" beginilah teriak si mata pink ngejreng itu sambil memberontak alias mendorong badan Zetsu.

Anggota Akatsuki lain nyaris jantungan melihat adegan ala film kanibal tepat di depan mata mereka. Apalagi Pein yang dari tadi asyik ngupil. Dia kena tonjok di wajahnya oleh Konan karena gemes pemimpin idiot itu bukannya melerai, malah mengupil, "GYAAAAA! ZETSU, LU GILA YA?! RASA HIDAN ITU TIDAK ENAK, BEGO! LEPASKAN DIA!" teriak Pein baru sadar anggota Akatsuki akan jadi 9 orang berkat keganasan nafsu makan Zetsu.

Mati-matian kedelapan orang tersebut menarik kaki Hidan saat ini. Meski Zetsu tak mau kalah dan malah memperkuat capitannya. Walhasil, leher Hidan makin sakit ditambah kakinya yang sekarang nyaris putus karena ditarik ala tarik tambang.

"WOI, BANGSAT! KEPALA GUE YANG DITARIK, BUKAN KAKI! PUTUS, OI! PUTUS! PUTUS!"

"TARIIIIIIIKKKK!" jiah, bukannya mendengar jerit penderitaan Hidan, Pein justru berteriak menambah semangat para penarik tali tambangnya.

Leher Hidan hampir putus, para pembaca. Memang tidak kira-kira tenaga babon yang sekarang sedang mencoba... menolongnya itu? Eh, atau mungkin tepatnya sedang mempercepat kematiannya, ya? "GYAAAAA! BENERAN MATI GUE NIH, OI! MATI! MATIIII!"

"JANGAN MATI DULU, TOLOL! BIAYA PEMAKAMAN MAHAL, TAHU!" si Kakuzu malah mengkhawatirkan soal lain sepertinya, ck ck ck.

"Zetsu, lepaskan dia! Kalau kau mau lalap orang, si Kisame aja noh!" negosiasi akhirnya dilancarkan oleh Itachi dengan mengajukan korban lain yang lebih pantas.

Negosiasinya barusan itu langsung disambung Tobi, "Iya, Zetsu-senpai! Kisame-senpai itu mengandung kandungan asam lemak omega-3, selenium, zat besi, protein, vitamin D dan rendah kandungan lemak jenuh!"

"Lu pikir gue makanan empat sehat lima sempurna, bocah topeng muter sialan?!" sembur Kisame sewot namanya dibawa-bawa. Yang benar saja dia dikhianati partner sekaligus kouhainya demi menggantikan posisi penganut aliran sesat yang sekarang dia tarik paksa.

"DI SAAT SEPERTI INI, KALIAN MASIH BISA BERCANDA, UN?!" teriak Deidara tak habis pikir dikelilingi orang-orang tak waras, "KALAU HIDAN MATI DISINI, AKU TAK MAU MARKAS INI JADI BERHANTU YA, UN! APALAGI KALAU HANTUNYA ITU SEGAJE DIA!"

"LU JUGA JANGAN SEMPAT-SEMPATNYA MENGHINAKU, BANCI PIRANG! POKOKNYA CEPAT TOLONG AKUUUU!" teriak Hidan dari dalam kuncup venus Zetsu frustasi. Tak ada satupun penolongnya yang bersikap beres.

...

..

Akhirnya pertarungan panjang pun telah berakhir. Lima belas menit aksi tarik-menarik itu berhasil dimenangkan oleh pihak Hidan. Leher bocah sesat itu selamat juga dari terkaman kanibal vegetarian yang sekarang tepar karena kehabisan tenaga. Bukan hanya dia, anggota yang lain pun juga. Mengatur deru napas mereka yang memburu.

Pein melihat ke arah langit-langit markas. Merenungi apa yang telah mereka lalui selama permainan kampreto ini dimulai. Entah berapa kali korban berjatuhan berkat impresi tulus yang mereka tulis. Benar, tak ada satupun dari mereka yang terima akan kenyataan, termasuk dirinya sendiri. Mereka berharap semua impresi itu adalah impresi yang cool seasli manga Naruto, namun nyatanya berbelok jauh ke genre komedi laknat.

Dalam keheningan itu dia berkata begini, "Hei, kalian..."

"Apa (un) (senpai)?" balas mereka bersamaan.

"Berjanjilah padaku untuk tidak bermain game jahanam ini lagi selamanya..."

"Setuju."

Ya, sejak hari itu. Seluruh anggota Akatsuki mendapat sebuah ancaman.

Untuk tidak pernah mengajukan ide bermain yang mengorbankan jiwa-raga pemainnya.

.

.

TAMAT

.

.


Author's note: Ya ampun, akhirnya sangat tidak jelas sekali. Maklum, Penulis sudah tak tahu lagi apa yang mau diketik di akhir, gyahahaha! Baiklah, ini salam sampai jumpa di fanfic Penulis selanjutnya. Terima kasih telah membaca dan memberi komentar pada Penulis selama ini.

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!