Hentakan kaki pun menggema di perpustakaan itu, entah karena suasana yang sepi, atau langkah kaki itu terlalu kuat menginjak lantai.
Terlihat jemari lentik mengambil sebuah buku di rak yang ada, lalu membukanya beberapa halaman. Manik jade green yang bersembunyi di balik lensa pun menatap lekat buku.
Dengan senyum tipis yang terukir di bibir, pemuda itu berjalan sambil membawa buku yang dipegang. Keluar dari susunan rak buku guna mencari tempat duduk yang pas.
Hingga sebuah bangku kosong yang menarik perhatiannya, membuat pemuda dengan kunciran kuda itu langsung duduk dengan santai.
Buku pun diletakkan di meja, membuka untuk kedua kali, dan mulai membaca rangkaian kata yang dijadikan kalimat.
Sebuah buku yang walaupun ia sudah membaca berkali-kali, dirinya takkan pernah bosan untuk mengulang.
Pemuda itupun menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan.
Tapi, dirinya tak bisa menahan rasa terkejut saat buku yang dibacanya bergetar dan halamannya terbuka sendiri.
Sinar pun keluar dari buku itu, membuat pemuda itu langsung bangkit dan menjauh dari tempat itu.
Sayang ia tak cukup cepat, buku itu pun seakan menariknya masuk. Anehnya, tubuhnya pun seakan menerima begitu saja.
Memang teriakan tak keluar dari bibirnya, tapi matanya pun sama sekali tak ingin terbuka.
Hingga dirasa tubuhnya jatuh menghantam tanah dengan lembut, membuatnya membuka mata dan melihat sekitar heran.
"Ini ... dimana?"
.
.
.
.
A Book
By KunikidaDerai
Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa
In the Forest, Under Cherries in Full Bloom by Sakaguchi Ango-sensei
#Kunikida'sBirthdayWeek2020 Day 3
[Fantasy]
Hope Enjoy!
.
.
.
.
Kunikida mengerjab, mencoba memproses apa yang terjadi padanya hingga dapat berada ditempat yang ia tak kenal.
Buku, cahaya, tertarik, buku.
Oh.
Sial.
"Yang benar saja!" Seru Kunikida tak terima saat menyadari apa yang terjadi, bangkit dan menendang-nendang tanah guna melampiaskan emosi yang ada.
Tak lama dirinya berhenti, mungkin lelah atau malas untuk terus mengumpat. Lebih memilih menatap sekitar agar tahu dirinya ada dimana.
"Sakura?" Kernyitan di dahi terlihat, sejauh matanya memandang, hanya ada pohon sakura yang tersaji.
Kunikida pun melihat sekitar lagi, gambaran yang sangat tak asing baginya, yang sudah dibaca dan dibayangkan olehnya beribu kali.
"Tunggu, ini yang ada di buku 'In the Forest, Under Cherries in Full Bloom.' Kan?!" Serunya lagi tapi sekarang dengan rasa antusias. Senyum lebar pun terpatri, berusaha melupakan apa penyebab ia ditarik atau sejenisnya.
Krek.
Keriangan yang sedang dialami Kunikida pun langsung teralih saat mendengar sesuatu, dengan spontan langsung bersembunyi di salah satu pohon yang ada.
Terlihat seorang pria kekar menggandeng seorang wanita cantik. Berjalan santai menuju ke arah pohon sakura yang paling besar.
Kunikida tentu saja tahu adegan ini, adegan favoritnya yang membuat ia terus-menerus membaca buku yang sama.
Tampak kedua pasangan itu saling menatap dan berpegangan, dan dugaan Kunikida, pria kekar itu akan melihat iblis yang ada di belakang wanita itu.
Tapi, setelah menunggu beberapa saat, hal yang Kunikida perkirakan sama sekali tak terjadi.
Ada apa ini? Mengapa si lelaki itu tak segera melakukannya?!
"Oy! Cepat lakukan!"
Tunggu, aneh sekali. Mereka sama sekali tak menoleh walaupun Kunikida sudah berteriak. Dengan berani Kunikida mendekati mereka yang tampak masih bertatapan.
Tidak terlihat. Dirinya sama sekali tak terlihat. Padahal Kunikida sudah berkali-kali mengayunkan tangan diantara mereka.
Lalu, bagaimana Kunikida bisa membuat cerita ini selesai?
"Haah ... bagaimana yah?"
Gumaman Kunikida didekat telinga pria pemburu itu membuat pria itu menoleh, Kunikida yang melihat itu pun mengerjab pelan.
'Dia mendengarnya!'
Tampak kernyitan heran tergambar di dahi pria pemburu itu. Melirik sekitar tapi tak melihat siapa-siapa.
"Ada apa?" Tanya wanita heran, dan mendapat gelengan pelan dari si pria. Sedangkan Kunikida menyeringai tipis lalu mendekati pemburu itu.
"Hey ... jika kau mendengar ini, jangan alihkan wajahmu dan tatap lekat istrimu itu." Bisik Kunikida tepat ditelinga pemburu, dan benar saja, pemburu itu tampak terperanjat pelan.
Dalam hati, Kunikida pun bersorak pelan dan makin menyeringai.
"Hey ... mau ku beritahu sesuatu?" Tampak pria itu melirik asal suara yang berarti melirik Kunikida. Dan tentu pemuda berkacamata ini menganggapnya sebagai 'iya'.
"Istrimu itu ... iblis."
Pria bandit itu tampak terperanjat kaget, kepalanya langsung menoleh kekanan dan kekiri guna mencari siapa yang berbicara. Tentu saja ia tak bisa melihat Kunikida yang tepat berada di belakangnya.
"Ada apa denganmu?" Tanya wanita itu lagi yang berhasil menyadarkan bandit itu, tapi sama sekali taj dijawab. Yang dilakukan pria itu hanya menatap lekat manik istrinya.
"Dibelakangnya." Bisik Kunikida lagi yang membuat bandit itu menatap kebelakang istrinya. Dan benar saja, sosok wanita tua besar berwarna ungu dengan mulutnya yang menganga.
Setelah itu, tangannya yang digenggam oleh wanita itu terasa erat, dan dingin. Pria itu ketakutan dan berusaha mendorong wanita lalu lari. Tapi kekuatan cengkeramannya terlalu erat, dan wanita itu langsung menarik si bandit lalu mencekiknya.
Tidak habis disitu, bandit itu pun terus berusaha mendorong wanita iblis itu hingga terbaring di tanah. Langsung saja si pria mencengkeram leher si wanita.
Hingga, tanpa sadar, wanita itu telah mati karena cekikannya.
Kunikida yang melihat itu hanya terdiam, ia hanya mampu terdiam saat pria itu tersadar dan menggoyangkan mayat yang ia bunuh.
Kelopak bunga sakura pun tampak mengguguri mereka semua, diiringi suara teriakan dan tangisan oleh si pria.
Kunikida tahu, bahwa si pria itu pertama kalinya menangis untuk seseorang. Tapi, ini jalan ceritanya, sama sekali tak bisa diubah.
Pria itu tetap duduk, membiarkan bunga sakura terus jatuh menghiasi dirinya, untuk pertama kalinya ia mendongak, menatap pohon sakura yang dulu ia takuti, sekarang sama sekali tak ada rasa takut.
Yang ada hanya kekosongan dan kesepian belaka.
Pria itu pun menunduk hendak mengelus pipi wanitanya, tapi wanita itu telah berubah menjadi kelopak bunga sakura. Hilang, tubuhnya telah hilang digantikan oleh kelopak-kelopak itu.
Kunikida mengerjab pelan, dirasa sekitarnya bergetar, namun pria itu hanya duduk diam tak bergerak.
Cahaya pun muncul yang membuat Kunikida harus memejamkan mata, dirasa tubuhnya pun tertarik sama seperti tadi. Hingga dirasa ia dilempar duduk di sebuah kursi.
Matanya membuka, meihat sekitar yang berubah menjadi perpustakaan tadi. Kunikida lagi-lagi mengerjab, berusaha memproses apa yang terjadi padanya.
Pemuda berkacamata itu pun menghela nafas dan menaruh kepalanya di meja, entah kenapa ia merasa lemas dan lelah.
"Terlempar ke dunia buku secara tiba-tiba itu tak lucu."
Omake
"Sudah?"
Tanya seorang pemuda yang dipenuhi perban kepada pemuda berponi hingga menutupi mata.
"Kebetulan ia mengambil buku yang kusalin, jadi ia dapat masuk kesana." Ucap Poe sambil menunduk pelan.
"Arigatou Poe-kun!" balas Dazai riang, dijawab anggukan oleh pemuda tadi.
"Untuk apa melakukannya? Aku berusaha keras agar ia hanya menjadi penonton disitu, walaupun sedikit membantu." Tanya pemuda yang tidak berasal dari Jepang itu.
Dazai hanya tersenyum lalu berkata, "hadiahnya," yang membuat Poe salah paham.
Dazai masa bodo dan hanya diam menatap Kunikida yang menghela nafas.
Masuk ke dunia buku secara tiba-tiba itu tak lucu, kan?
End
:') maap atas keterlambatannya, semalam ada beberapa masalah yang menghambat.
Ku memakai isi dari salah satu buku Sakaguchi Ango-sensei tanpa ada niatan jelek/jahat apapun, hanya untuk membuat jalan cerita ini ada._.
