Hal yang pertama Kunikida lihat saat ia memasuki kantor adalah seorang pemuda dengan surai merah muda, duduk di sebuah kursi putar yang biasa ia duduki.
Kunikida mengernyit, mendekat ke arah pemuda tersebut secara perlahan, "siapa kau?"
Pemuda itu menoleh, manik zamrud menatap manik jade green, rasa dejá vu walaupun belum pernah bertemu pun muncul.
"Kau pasti Kunikida!"
"Eh?"
.
.
.
.
You and Me
By Kunikida Derai
Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa
Bungou to Alchemist by DMM
#Kunikida'sBirthdayWeek2020 Day 4
[Crossover]
Kunikida = Kunikida BSD
Doppo = Kunikida BtA
Hope Enjoy!
.
.
.
.
"Wah kau kaku sekali, tapi yah, kau juga terlihat workaholic. Tapi sepertinya kau lebih tinggi dariku, berapa tinggimu?"
Kunikida mengerjab, menatap pemuda didepannya yang berpakaian asing. Bingung tahu darimana pemuda ini namanya.
"Ano, maaf. Aku tak mengenalmu." Ucap Kunikida jujur, sementara pemuda bermanik zamrud itu tampak sedikit terkejut lalu tersenyum.
"Perkenalkan, namaku Kunikida Doppo."
"Hah?"
Kunikida kebingungan, sedangkan pemuda yang mengaku bernama Kunikida itu hanya tersenyum.
"Kalau kau bingung, panggil saja Doppo!" Ucap pemuda pink itu yang sudah pasti ditanggapi anggukan oleh Kunikida.
"Ja, Doppo-san, bagaimana kau bisa berada disini?" Tanya Kunikida menatap Doppo dengan heran, padahal pintu kantor terkunci rapat.
Doppo mengerjab, menatap Kunikida dengan wajah tanpa dosa, "entahlah, saat aku bangun, aku sudah ada disini."
Alasan macam apa itu? Kunikida pun hanya menghela nafas pelan mendengarnya.
"Kau berasal dari mana?"
"Tidak tahu."
"Hah? Jadi, kau ini mau kemana?"
"Aku juga tak tahu."
Mereka berdua terdiam, Kunikida dengan wajah masam, Doppo dengan senyuman mengesalkan.
"Siapapun kau, kau tak boleh ada disini. Ini bukan tempatmu." Ucap Kunikida sambil duduk di kursinya, menatap Doppo yang tampak menatapnya lekat.
"Ada apa?"
"Kau bukan shinshokusha kan?"
"Hah?"
Kunikida berhasil gagal paham, noda? Apa maksudnya?!
"Apa itu?" Kunikida mengernyit, Doppo menghela nafas seakan lega.
"Baiklah, kau harus tahu aku, seharusnya aku berada di sebuah perpustakaan. Tapi entah mengapa aku disini."
"Perpustakaan? Kau mau ke perpustakaan?"
"Bukan perpustakaan diduniamu."
Kunikida mengerjab menatap Doppo yang kelewat santai, hingga ekspreksi kaget pun terlukis.
"Kau dari dunia lain?"
"Bisa dibilang begitu."
Kunikida merinding seketika, "h-hantu?"
"Sepertinya."
"Jangan mengada-ngada!" Kunikida bangkit dan mendekati Doppo. Menatapnya dengan tajam sedangkan yang ditatap hanya diam tersenyum.
"Tenang saja, aku hanya jiwa seorang penulis yang terlahir kembali, maka dari itu aku tahu namamu, karena kau juga bagian dariku."
"Aku bukan penulis, aku detektif."
"Kita hanya beda server."
"Berarti bukan berarti aku juga penulis."
"Haik haik."
Doppo pun menghela nafas, dan menatap Kunikida lekat, "walaupun begitu, kau harus membantuku agar dapat kembali."
Kunikida mengernyit menatapnya, "bagaimana kalau ke perpustakaan dulu, lalu kita pikirkan caranya."
Dan disinilah mereka, duduk berhadapan di bangku yang ada di perpustakaan kota. Kunikida pun harus menunda jadwal yang sudah ia rencanakan semalam.
"Kau bilang kau penulis, berarti kau pernah membuat buku kan?"
"Kau tak tahu bukumu sendiri?"
"Sudah kubilang, aku bukan penulis, aku manusia yang dianugrahi kemampuan supranatural! Jalan cerita kita berbeda walaupun nama kita sama!"
"Baiklah baik, bukuku berjudul 'River Mist and Other Story'."
Kunikida mengerjab, berdiri dan langsung pergi ke sebuah rak buku, seakan mencari-cari buku yang diucapkan oleh Doppo.
'Sepertinya aku pernah dengar buku itu.' batin Kunikida sambil terus mencari buku yang dimaksudnya.
Sedangkan Doppo hanya diam bersantai seakan tak ada masalah sama sekali.
"Ketemu." Gumam Kunikida saat mendapatkan buku yang dicarinta sedari tadi, dengan cepat langsung ke tempat Doppo yang sedang bersantai tanpa dosa.
"Ini?" Kunikida pun menunjukkan sebuah buku yang ditanggapi tatapan binar dari si pemuda berambut pink itu.
"Benar! Nah kau harus membuat bukuku dinodai oleh shinshokusha agar bukuku yang di perpustakaan disana juga ikut tercemar."
"Jadi kau benar-benar berasal dari dunia lain?"
"Jadi kau tak mempercayaiku?"
Kunikida terdiam, membuat suasana perpustakaan yang memang hanya ada mereka berdua begitu hening. Hingga helaan nafas keluar dari bibirnya.
"Caranya bagaimana agar bukumu ternoda?" Ucap Kunikida menatap buku dengan bingung.
"Hina saja, atau bagaimana, terserah kau saja, kritikan yang pedas mungkin bisa." Ujar Doppo mengasal, "sejatinya, shinshokusha ada untuk menghilangkan sebuah buku. Jadi, kau harus membuatku berpikir bahwa buku itu sebaiknya hilang saja."
"Kau yakin?" Balas Kunikida sambil menatap Doppo dengan lekat, tentu saja dijawab anggukan oleh pemuda itu.
"Tentu."
"Baiklah, bukumu tak bagus, membosankan, tak mempunyai realita, hanya berisi puisi-puisi yang tak jelas."
"Kurang."
"Mengapa kau dengan percaya dirinya membiarkan buku ini dicetak? Aku yakin kekasihmu saja tak ingin membacanya."
"... kekasih?"
Skakmat, mungkin inilah titik yang membuat pria bermanik zamrud di depannya ini menjadi tak berdaya.
"Tentu saja, jangan berpikir kekasihmu akan membacanya. Aku yakin ia bahkan tak ingin menyentuhnya."
"Oh, biar kutebak, kekasihmu itu mengatakannya langsung? Atau ... ia pergi meninggalkanmu."
"Kau diam? Berarti benar kan? Ck ck ck, tapi aku wajar sih, kau menyebit dirimu penulis tapi karyamu sangat-sangat bu-"
"Ugh."
Doppo pun memegang dadanya, Kunikida yang melihat itu pun terkejut, menjatuhkan buku yang mulai menghitam, lalu langsung mendekati pemuda yang menunduk memegang dada.
"O-oy? K-kau tak apa? S-sepertinya aku kelewa-"
"Tak apa," Doppo memegang tangan Kunikida erat lalu menatap manik hade green pemuda itu dengan lekat, "arigatou, Kunikida Doppo. Semoga ... kita dapat bertemu lagi nanti."
Kunikida mengerjab pelan saat menatap manik zamrud pemuda didepannya ini. mengangguk sebagai jawaban sambil berkata, "kuharap."
Doppo memaksa tersenyum, lalu dengan perlahan tubuhnya lenyap seakan ditelan bayangan hitam, Kunikida yang melihatnya pun terdiam.
Pemuda berkacamata itu hanya bisa terdiam saat orang itu benar-benar menghilang, hanya tersisa buku yang dipenuhi bayangan hitam.
Shinshokusha.
Kunikida menghela nafas, jika ia harus percaya apa yang terjadi, ia hanya harus meletakkan buku itu lagi dan membiarkan seseorang yang dibilang ada di perpustakaan pemuda tadi mengurusnya.
Padahal baru jam sepuluh pagi, tapi Kunikida merasa energinya telah habis termakan.
Semuanya terlalu rumit, bahkan untuk author sendiri.
End
FINALLY!
