Bagian Awal
Ingatan
.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Fanfiction "Reminiscence" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
AU. Elemental Siblings. DuriSol (brotp).
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
.
Solar duduk sendirian di bangku taman. Topi putih-kelabu yang biasa dipakainya, kini ia genggam di kedua tangan yang tertumpu di pangkuan. Sebuah kacamata jingga pun teronggok begitu saja di sisi kirinya. Kata orang-orang, kacamata itu nyaris tak pernah lepas dari wajahnya.
Sang pemuda beriris abu-abu keperakan mengepalkan tangan, membuat kain topinya ikut terenggut. Sementara, kedua matanya berkaca-kaca.
Ke mana pun mata memandang, Solar selalu menemukan orang-orang yang tengah beraktivitas sehari-hari. Terkadang satu-dua orang yang lewat akan menyapanya, tetapi Solar hanya bisa tersenyum. Canggung.
Semua terasa hampa baginya. Seperti semua orang berada di frekuensi yang berbeda dengannya. Ia merasa terasing, dan itu menakutkan.
Puk.
Solar tersentak ketika sebentuk kehangatan tiba-tiba menyentuh tangannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sumbernya. Ialah tangan kiri milik seseorang yang bagaikan pinang dibelah dua dengan dirinya.
"Duri," Solar menyebut nama itu, refleks saja.
Sang empunya nama membalas dengan senyuman hangat. Solar tidak bisa mengingat senyum itu. Pun sosok di hadapannya. Namun, pemuda itu tahu, dia menyukainya.
"Ini!"
Duri menyerahkan segelas es cokelat berlogo Kedai Kokotiam, lantas ikut duduk di samping Solar. Kedai cokelat itu masih berada di dalam jangkauan pandang Solar, di seberang taman ini.
Pemilik kedai itu adalah Tok Aba, kakeknya sendiri. Begitu Solar diberitahu. Juga bahwa dirinya tinggal bersama sang kakek, serta enam orang saudara kembarnya, termasuk Duri. Cukup luar biasa, bukan? Namun, sampai detik ini, ingatan Solar tentang keluarganya, bahkan dirinya sendiri, masih kosong. Kenyataan yang membuat Solar begitu frustasi.
"Kok enggak diminum?"
Solar tersentak, mendapati Duri sudah menatapnya dengan mata bertanya-tanya. Es cokelat Duri sudah berkurang nyaris setengah, sedangkan milik Solar belum tersentuh sama sekali.
"Eeh? Jangan-jangan Solar enggak suka, ya? Maaf, tadi aku enggak tanya-tanya dulu Solar mau minum apa."
Raut menyesal segera menodai wajah polos Duri. Kali ini pun Solar yakin, ia tidak menyukai itu.
"Aku suka, kok." Solar meminum es cokelat spesial itu sedikit melalui sedotan. "Mana mungkin aku tidak suka. Bukankah ini es cokelat terbaik di Pulau Rintis?"
Solar mendadak tersentak oleh kata-katanya sendiri. Bagaimana ... Bagaimana dia tahu soal itu? Tapi ... es cokelat ini ... rasa ini ... memang sangat familier. Solar sama sekali tidak ingat, apakah ia pernah menikmati minuman ini atau tidak. Hanya saja, ini tidak terasa asing.
"Memang terbaik, he he he ..."
Solar kembali tersentak pelan saat melihat Duri tertawa kecil sembari mengacungkan ibu jari kirinya yang bebas. Pemandangan ini pun terasa familier. Juga satu kata itu.
'Terbaik'.
Apa Duri yang sering mengucapkannya? Atau saudara-saudaranya yang lain? Atau malah dia sendiri?
"Lagi-lagi ... seperti déjà vu," Solar bergumam sendiri.
Duri memiringkan kepalanya. "De ... ja ...?"
"Déjà vu," ulang Solar. "Rasanya seperti sudah pernah mengalami sesuatu, tapi tidak yakin kapan dan di mana."
"Hmmmmm ..." Duri menatap Solar dengan sorot mata bening. "Itu bukan déjà vu, tapi ingatan Solar yang tersimpan di alam bawah dasar."
"Bawah sadar."
"Tuh, 'kan?" Duri tertawa kecil, membuat kening Solar langsung berkerut.
"Apa?"
Duri menatap mata Solar—adik satu-satunya—dalam-dalam.
"Aku tahu, kok ... Solar yang biasanya tahu segalanya, sekarang enggak tahu apa-apa soal dirinya sendiri. Pasti rasanya menakutkan." Entah mengapa, kata-kata Duri membuat Solar merasakan sesuatu yang hangat menjalari hatinya. "Tapi Solar tetap Solar! Solar yang keren. Solar yang pintar. Solar yang selalu membetulkan kalau aku salah. Solar yang mengajariku banyak hal!"
Solar tersenyum. Ia tak yakin, apakah di dalam ingatannya yang hilang, Duri adalah kakak yang sebijaksana ini. Namun, kata-kata Duri meresap begitu dalam.
Rasanya memang selalu seperti itu ... 'kan?
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Noir kembali membawakan cerita singkat ini. Yash ... brotp DuriSol selalu menyenangkan untuk ditulis. 😆💕
Walau ini sedikit ada garam-garamnya, tapi tetap manis, 'kan? 😏
.
Regards,
kurohimeNoir
22.08.2020
