Bagian Akhir

Kerinduan

.

.

.

"Jadi kamu menipuku?"

Duri hanya terkekeh kecil. Di depannya, Solar berkacak pinggang. Tampak kesal, tetapi tidak terlalu marah. Seingat Duri, adiknya ini memang hampir tidak pernah marah. 'Membiarkan emosi meluap itu sia-sia', katanya.

"Kita ke sini bukan karena kamu minta ditemani ke toko buku?"

Nada suara Solar masih terdengar menuntut.

"Nanti habis ini kita beneran ke toko buku, kok." Duri masih mempertahankan senyum lebar di wajahnya. "Ayolah, Solar! Kita udah sampai di sini. Enggak apa-apa, 'kan, sekali-kali bersenang-senang?"

"Kalau yang kamu maksud bersenang-senang itu makan-makan di kafe bareng beberapa teman sekelas yang nggak begitu akrab denganku, lalu ngobrol-ngobrol nggak jelas, aku menolak."

"Eeeh? Kok gitu, sih?"

"Lebih baik aku baca buku dengan tenang di rumah."

Solar berbalik, lantas melangkahkan kaki di trotoar yang tak terlalu padat oleh pejalan kaki. Duri tersentak. Cepat-cepat diraihnya lengan sang adik, mencegahnya pergi terlalu jauh.

"Solar kan jarang kumpul bareng teman-teman." Duri pasang jurus puppy eyes, yang bahkan Solar pun akan kesulitan untuk menangkalnya. "Cuma sesekali aja, kok. Mau, ya?"

Duri tahu, Solar tidak suka bersosialisasi. Duri ingin itu berubah, walau sedikit demi sedikit. Dia ingin adik satu-satunya itu juga bisa merasakan asyiknya bercengkrama dengan kawan-kawan mereka.

"Aku nggak mau."

Penolakan tegas Solar tentu mengecewakan. Namun, Duri belum mau menyerah.

"Sekali iniii aja. Ya, Solar?"

"Sudah kubilang, aku nggak mau!"

Solar menepis tangan sang kakak yang sejak tadi masih memegangi lengannya. Namun, Duri bergeming. Dia yang biasanya pengertian, memang cukup menjengkelkan kalau sedang keras kepala seperti ini.

Tanpa bicara sepatah kata pun, Solar kembali menyentakkan tangan sang kakak. Kali ini lebih kuat, dan berhasil melepaskan cekalan Duri dari lengannya.

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sentakan itu terlalu kuat. Ditambah sedikit ketidakberuntungan, dengan Solar yang melupakan bahwa mereka tengah berdiri di sisi trotoar yang sangat dekat ke jalan raya.

Duri yang terkejut akan sentakan kuat yang tiba-tiba itu, sontak kehilangan keseimbangan. Kendali atas tubuhnya hilang dalam sekejap. Oleng.

"DURI! AWAS!"

Kejadiannya begitu cepat. Duri tidak menyadari apa yang sedang berputar di sekitarnya. Tahu-tahu Solar menangkap pergelangan tangannya, lantas dengan tenaga luar biasa, tubuhnya ditarik kembali ke trotoar.

Tenaga tarikan itu terlalu besar, hingga Duri terjatuh sampai ke tengah-tengah trotoar. Dia hanya bisa mengaduh. Pantatnya yang lebih dulu menyentuh permukaan keras trotoar terasa sakit. Begitu pula kedua telapak tangannya yang spontan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Sepertinya lecet.

Sungguh, Duri akan berharap hanya itu saja rasa sakit yang harus dialaminya. Namun, telinganya segera menangkap suara-suara kepanikan di sekitar. Ada teriakan. Ada decit panjang, seperti rem dari kendaraan yang dipaksa berhenti mendadak.

Dan ketika sepasang netra beriris sewarna zamrud itu menatap ke depan, Solar sudah terbaring di sana. Tak bergerak di atas aspal jalanan. Di depan sebuah mobil sedan putih yang pemiliknya bergegas keluar dengan panik.

DEG!

Jantung Duri seakan tercerabut dari rongga dadanya. Seluruh tubuhnya mendadak seperti dicengkeram hawa dingin entah dari mana. Ketakutan luar biasa membuat dadanya terasa sesak. Bahkan otaknya yang sederhana itu pun, perlahan mampu memahami apa yang baru saja terjadi.

Kemudian, mengiringi jerit kepedihan, air mata tumpah ruah tak tertahankan.

"SOLAAAR!"

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Fanfiction "Reminiscence" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

AU. Elemental Siblings. DuriSol (brotp). GemDuri (brotp).

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Duri tersentak bangun di kamarnya yang berpenerangan remang-remang. Cahaya itu berasal dari lampu meja yang dibiarkan menyala di samping tempat tidur tingkat bagian bawah. Di situlah Solar tidur, sementara Duri menempati tingkat atasnya.

Solar tidak bisa tidur jika lampu dimatikan. Sejak kecil dia takut gelap, dan hal itu tidak berubah sampai sekarang. Bahkan ketika ingatannya hilang seperti saat ini.

Duri bangun perlahan, lantas duduk diam saja di atas kasurnya. Ia termenung lama, sampai akhirnya menyadari wajahnya masih basah oleh air mata. Pemuda kecil itu menghapusnya. Dia pun sangat ingin menghapus kesedihan di hatinya, tapi tidak bisa.

Bagaimana bisa, jika sampai detik ini pun, beberapa malamnya masih dihampiri mimpi buruk itu. Mimpi yang sama, berulang-ulang. Mimpi yang berasal dari kejadian nahas di dalam kenangannya.

Kecelakaan yang menyebabkan Solar kehilangan ingatan. Kesalahannya, yang rasanya tak akan bisa diperbaiki walau seperti apa pun dia menyesal. Mungkin Duri harus banyak-banyak bersyukur, kecelakaan itu tidak menyebabkan luka fatal yang membahayakan nyawa. Jika tidak, maka dia tak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri. Sampai kapan pun.

Menahan isakan sebisa mungkin, sekaligus rasa sesak yang membuncah di dalam dada, Duri melongok sebentar ke ranjang bawah. Paling tidak dia bisa sedikit lega, melihat Solar yang masih tidur pulas.

Masih bernapas dengan tenang.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Gempa mengangkat alis ketika melihat sosok berbaju hijau-hitam tengah duduk sendirian di taman belakang. Bersila di rerumputan. Terlindung dari sinar matahari di bawah pohon rindang.

Mungkin itu memang bukan pemandangan yang luar biasa. Anak itu memang sangat menyukai tumbuhan. Melihatnya berlama-lama sendirian di antara pohon, bunga, dan serangga-serangga kecil yang biasa berkeliaran di sekitarnya, sungguh, sudah seperti makanan sehari-hari bagi Gempa dan saudara-saudaranya.

Yang luar biasa adalah sosok itu yang tidak tersenyum. Matanya yang menatap jauh ke langit, nyaris tampak kosong. Seperti juga ekspresinya saat ini.

"Duri?"

Anak itu tersentak ketika Gempa mendekat dan menyapanya. Gempa baru menyadari ada dua aliran air mata membasahi pipi sang adik yang biasanya selalu ceria. Namun, anak itu cepat-cepat menghapusnya.

"Hei ..." Gempa ikut duduk di samping adiknya, beralaskan rumput. "Ada apa?"

Sepasang netra beriris emerald itu menatap Gempa, berkaca-kaca.

"Kak Gem ... Aku kangen Solar ..."

Dada Gempa berdesir pelan. Ia tak bisa menahan dorongan untuk merengkuh tubuh Duri ke dalam pelukannya.

"Kita semua kangen, Duri. Tapi, 'kan—"

"Kenapa ...? Solar 'kan tahu siapa kita ... Tapi, kenapa ... Kenapa Solar nggak ingat kita? Kenapa Solar nggak ingat aku ...?"

Gempa kehilangan kata-kata. Dia mengerti kepedihan Duri, karena dia sendiri pun merasakan hal yang sama. Mereka semua merasakannya.

"Kak Gem ... Kapan Solar akan ingat kita lagi?"

Duri menegakkan tubuhnya kembali. Matanya menatap Gempa penuh harap.

"Kakak nggak tahu, Duri." Gempa menepuk lembut bahu sang adik. "Duri ingat 'kan, apa kata dokter? Nggak ada yang bisa memastikan kapan ingatan Solar akan kembali. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan, atau bertahun-tahun yang akan datang. Mungkin juga besok, waktu bangun di pagi hari, tiba-tiba Solar sudah ingat semuanya lagi."

Gempa menepuk kepala adiknya dengan lembut. Anak itu tidak mengatakan apa-apa hingga bermenit-menit. Namun, Gempa merasa, sang adik ingin mengatakan sesuatu. Karena itulah, dia menunggu.

"Kak Gem," akhirnya Duri bersuara. "Ini salahku ..."

Air mata Duri kembali jatuh. Satu butir yang mengaliri pipi, lantas aliran lain pun susul-menyusul. Tak terbendung lagi.

"Solar begini gara-gara aku. Gimana kalau Solar nggak bisa ingat lagi—"

"Duri," Gempa memotong kata-kata adiknya. "Sudah, jangan nyalahin diri sendiri lagi."

"Tapi—"

"Kalau Solar dengar, nanti dia sedih, lho."

Duri terdiam. Air matanya masih mengalir, tetapi isak tangisnya mereda. Gempa membiarkannya sebentar, sampai Duri bisa tenang dengan sendirinya, lantas mulai mengeringkan air mata.

Gempa tahu, selama ini adiknya berusaha untuk tegar. Duri selalu tersenyum di depan Solar. Selalu berusaha memberikan semangat. Walau hatinya sendiri masih terluka, dia tidak ingin Solar melihatnya.

"Duri tahu?" Gempa menepuk bahu adiknya. "Sekarang ini, Solar sangat membutuhkan kita. Yang paling penting, Solar ada di sini. Bersama kita. Apa pun yang terjadi, kita nggak akan meninggalkannya."

Mata Duri membulat sejenak.

"Karena itu, Duri harus kuat. Demi Solar juga. Oke?"

Duri mengangguk pelan. Sekali lagi, dia mengusap wajah. Menghapus air mata terakhir yang masih tersisa.

.

.

.

TAMAT

.

.

.


* Author's Note *

.

Aye~! ( ´ ▽ ` )ノ

Bagian akhir kisah ini akhirnya selesai. Kali ini dari sudut pandang Duri. Ada Kak Gem juga yang selalu memberi dukungan.

Semoga ingatan Solar cepat kembali, yaa~ 😆😳 *peluk SolSol* *peluk Duri*

Dan sampai jumpa di kisah-kisah lain. Ciao~ 😊✨

.

Regards,

kurohimeNoir

27.08.2020