~Memasuki dunia yang tercipta dari khayalan adalah hal yang selalu diimpikan banyak orang.
Akan tetapi, bagaimana jika kau benar-benar bisa memasukinya?~
=TheFact01=
...
[CHAPTER 1]
Greenland...
Lautan yang terkenal paling menakutkan dan kejam. Dengan berbagai kejadian-kejadian tak masuk akal, cuaca yang terlalu ekstream dengan iklim yang terus berganti-ganti tak kalah ekstream. Ditambah keberadaan monster-monster laut yang bahkan beberapa diantaranya puluhan kali lebih besar dari kapal perang, membuatnya dijuluki sebagai lautan tersulit di dunia.
Ya. Di dunia itu. Dunia yang bahkan sebenarnya 'tak pernah ada'.
Lalu di bagian lain dari lautan itu, bagian yg dijuluki sebagai "Dunia Baru" atau 'Shin Sekai'. Yang menjadi lautan terakhir menuju pulau misterius, Raftel tampak sebuah kapal dengan lambang tengkorak bertopi jerami tengah berlayar di tengah-tengah gempuran gelombang sedang yang tergolong tenang. Kapal dengan kepala berbentuk Singa namun lebih mirip matahari berkepala hewan itu terombang-ambing dengan lembut namun tak hilang arah. Tentu saja, jangan lupakan seorang navigator cantik nan handal berambut oranye mengombak yang selalu memberi arahan agar kapal bajak laut itu tak hilang arah.
Ya, Kapal bajak laut milik Kru Mugiwara, dipimpin oleh seorang Kapten Manusia Karet dengan harga buronan 400 juta Belly.
Di dek kapal berumput hijau itu, tampak beberapa anggota Straw Hat tengah bersantai ria. Seorang gadis berambut oranye mengombak tengah berjemur di bawah terik matahari. Di sampingnya seorang wanita berambut hitam legam juga melakukan hal yang sama dengannya sembari membaca sebuah buku tebal yang entah apa itu. Keduanya tampak menimati cuaca yang tergolong panas-cerah itu. Lalu tak jauh dari mereka, tiga orang bocah- yah sebut saja begitu karena sifat kekanakan mereka- tampak tengah asyik bermain kartu. Sesekali mereka akan memekik atau bersorak ketika menang. Abaikan background berupa wajah yang sudah tercoreng tinta dengan aneka warna mejikuhibiniu sebagai permainan hukuman. Kemudian satu tengkorak hidup dengan rambut afro ajaib tengah memainkan gitar dan menyanyi sebagai pengisi waktu senggang di dekat sosok berambut hijau yang menyandar di dekat haluan dek.
Seorang pria berambut pirang dengan stelan jas apik tampak berjalan aneh menghampiri kedua gadis yang tengah berjemur. Ditangannya sebuah nampan berisi beberapa minuman segar berwarna oranye muda tampak bergeming halus menggiurkan. Matanya yang membentuk love pink bergerak-gerak tatkala sampai dihadapan kedua gadis cantik itu.
"Nami-swann~ Robin-chwaann~ ini minuman dingin untuk menyegarkan kalian~"
Kacamata ditarik, wanita berambut oranye melempar senyum cantik nan seksi sembari meraih gelas yang diulurkan kepadanya, "Arigatou, Sanji-kun."
"Arigatou Sanji."
"Aaaa~ seperti biasa Nami-swan dan Robin-chwann yang tersenyum begitu sangat-sangatlah cuantiiikkk~" Ujarnya sembari muter-muter gajelas. Tapi diabaikan begitu saja oleh dua gadis cantik berpakaian minim. Sudah terbiasa melihat tingkah konyol koki kapal itu.
"Horee! Minuman dingiiinn!" Pemuda berpakaian merah dengan topi jerami yang bertengger dikepala bangkit dan langsung berlari ke arah si rambut blondie. Tangan karetnya dengan cepat melar dan meraih gelas minuman. Musik berhenti, teman-temannya yang lain juga turut bangkit untuk meminta jatah minuman yang ada.
"Arigatou Sanji-san." Ujar si tengkorak hidup begitu mendapat minuman.
"Sankyuu Sanji!" Kata si hidung panjang.
"Aku mau! Aku mau sanji!" Seekor rakun- rusa kutub kecil melompat-lompat riang dengan sangat imut di dekat kaki si pemuda blondie.
"Hai' hai', aku menyiapkan cukup untuk ka- WOE LUFFY JANGAN MINUM JATAH ORANG LAIN!" Sembur si pemuda pitang, Sanji ketika melihat sebuah tangan melar mendekati nampan minuman lagi. Namun tangan tak kalah gesit, menangkis tangan nakal si Aho-Senchou hingga kembali ke asalnya. Menimbulkan mimik cemberut di wajah lucu si pemuda bercodet dengan topi jerami itu.
"Tapi di nampan masih sisa."
"Tentu saja! Satu untuk si robot hentai, satu untuk si Marimo kemudian Aku!"
"Franky kan lebih suka Cola."
"Dia juga minum selain cola!"
"Zoro sedang tidur."
"Kalau begitu bangunkan dia, Bodoh!"
"Kalau begitu buatkan satu lagi untukku! Eh, tidak. Mungkin dua, tiga... Atau lima!"
"Kau ini-"
Dan seperti biasa Sang Kapten akan merengek-rengek kepada Si Koki untuk membuatkannya minuman lagi. Tak ada penolakan, Si koki paham benar kalau Kaptennya bakal super duper menyebalkan jika sudah merengek begini. Akhirnya dengan bersungut-sungut tapi mau ia berikan satu teko penuh berisi minuman dingin yang memang sudah disiapkannya untuk si Aho-Senchou.
Brook- tengkorak hidup yang juga merupakan anggota di kapal Mugiwara kemudian terkikik melihat tingkah nakamanya, "Yohohoho~ Sudah lama kita tak merasakan damai seperti ini~" Ujarnya dengan mimik tak terjelaskan, sembari menatap bocah bertopi jerami yang tampak asik menikmati minuman segar buatan Koki handal kapal. "Ngomong-ngomong-" Sosok itu beralih pada dua perempuan cantik didepannya. Memandang sosok mereka yang terbalut pakaian minim seksi nan memperlihatkan segala lekuk menggoda. Ia mematri pada satu sosok, "Celana dalammu hari ini can-"
"JANGAN DITERUSKAN DASAR TENGKORAK MESUM!"
Sudah dapat diduga, Nami kick melayang dan tepat mengenai tengkorak itu. Membuat sosoknya yang begitu ringan melayang dan mendarat tak tanggung di pojokan. Menimbulkan gelak tawa bagi berpasang-pasang penonton di atas kapal.
"Oi Zoro! Kau tidak mau minumannya?" Luffy tiba-tiba memanggil salah satu nakama nya yang sedari tadi tak bergeming di tempatnya. Sosok lelaki bersurai hijau yang tengah duduk nyaman menyandar pada tepi haluan dek kapal. Matanya tampak terpejam, tangan bersedekap sembari mendekap tiga buah Katana yang menjadi senjata andalan. Pakaian serba hijau yang melekat di tubuhnya bergerak-gerak akibat embusan angin sedang. Tiga anting emas di telinga kiri tampak bergoyang juga, mengeluarkan gemerincing lembut yang hanya dapat didengar oleh sang empu.
Namun sosok itu tak menjawab. Dan Luffy juga Nakama lainnya sadar, mereka maklum.
Roronoa Zoro tengah tertidur, damai nian seperti biasanya. Seakan-akan kebisingan yang dilakukan kru lain di sekitarnya sama sekali tak mengusik ketentraman sang Pendekekar Pedang.
"Bahkan dengan segala kebisingan ini, dia masih tetap tertidur uh?" Celetuk Usop.
"Shishishishi~ Zoro kan memang selalu begitu!" Jawab Luffy enteng. "Kalau begitu jatah Zoro untukku juga ya Sanji!" Luffy bersorak gembira dan mulai memanjangkan tangannya lagi.
"MANA BISA BEGITU, AHO!"
Abaikan kekonyolan yang terjadi selanjutnya. Atau sosok Brook yang kembali melancarkan aksi menggoda Nami dan Robin. Fokus beralih pada sosok pemuda bermata satu yang tengah tertidur pulas.
Tidur? Tidak juga. Ia hanya terlalu acuh.
Buktinya pemuda berambut seperti ganggang hijau itu masih dapat mendengar percakapan teman-temannya di dek. Atau ketika mereka menyinggung tentang dirinya.
Karena Roronoa Zoro tak sepenuhnya tertidur. Ia hanya memejamkan mata. Baginya, menutup mata dan mendengar desiran angin dan deru ombak seperti ini jauh bisa membuatnya merasa lebih nyaman. Ia hanya terlalu acuh dengan kebisingan lainnya. Tak ingin terlibat dengan hal yang menurutnya tak perlu. Mata mungkin terpejam, namun telinga lebih menajam. Mendengar segala sesuatu yang dapat ia dengar. Lebih jauh, lebih intens. Melatih indra pendengarannya agar menjadi lebih sensitif. Atau melatih 'Kenbonshoku no Haki' miliknya agar menjadi lebih peka dan meningkat.
Hingga tiba-tiba-
GYUTTT~
"?!"
Ia tersentak. Terkejut tatkala sesuatu tiba-tiba menempel-melekat di wajahnya dengan sangat erat. Dengan cepat ia tarik 'sesuatu' itu. Memegang makhluk berbulu dan berhidung biru, kemudian menatapnya dengan kesal,
"Woii Chopper! Apa yang kau lakukan?!" Semprotnya. Chopper yang baru saja 'nemplok' di wajah Sang Samurai tampak bergerak-gerak gelisah,
"Bu-Bukan aku! Luffy dan Sanji yang baru saja melemparku!" Bela nya. Melihat wajah setengah menangis Chopper tentu saja membuat Zoro tak tega dan memilih mengalihkan amarahnya pada dua sosok yang disebut oleh si rusa kutub kecil.
Sudah pasti Chopper tak berbohong. Lihat saja tawa tak berakhlak si Aho-Sechou dan Ero-Cock bersama teman-teman lainnya. Zoro bangkit, memasang wajah kecut,
"Woii kalian berdua! Apa-apaan maksudnya hah?! Ngajak berantem?!"
"Hahh?! Berantem?! Denganmu?! Kau pikir bisa menang melawanku?!" Sanji tampaknya mulai tersulut.
Zoro berjalan mendekat, mengabaikan Chopper yang menggelinding di bawahnya dan berlari kecil ketakutan ke arah Robin yang sudah siap mendekap rusa kecil lucu itu.
"Kemari kau biar ku potong-potong jadi delapan bagian!" Zoro mulai bersiap meraih ketiga pedangnya.
"Sebelum kau menebasku, akan ku tendang kau keluar dari dek kapal!" Sanji telah mengangkat kakinya yang mulai mengeluarkan api. Keduanya tersulut dengan cepat.
"Oi Luffy, tidak kau hentikan mereka berdua?" Tanya Usopp si hidung panjang pada sang kapten yang malah terkikik-kikik.
"Shishishishi~ biarkan saja mereka." Jawab Luffy enteng. Tak menyadari aura membunuh milik gadis cantik yang berdiri tepat di sebelahnya.
Perempat siku muncul di kening mulus Nami. Sebelumnya telah terganggu dengan kebisingan bocah-bocah, sekarang tambah dua orang dewasa di hadapannya yang hendak saling baku hantam karena masalah konyol. Tangan mengepal, siap mengeluarkan tinju 'cinta' untuk menghentikan dua manusia yang bagai air dan minyak itu,
"Kalian berdua-"
GLEGAARRRRR-
"HIEEE?!" Pekikan dilontarkan refleks oleh Nami, Usopp, dan Chopper. Suara barusan menghentikan segala aktifitas, termasuk adu kekuatan yang hendak terjadi dan membuat semuanya mengalihkan perhatian ke langit. Di sana awan-awan tampak saling menyatu, menggumpal, kemudian berubah semakin kelabu, pekat, dan hitam bagaikan malam. Sebuah lubang raksasa yang tampak seperti cerobong asap muncul di tengah-tengahnya, menganga mengerikan seperti kerongkongan monster laut yang siap menyedot habis kapal Thousand Sunny Go di bawahnya.
Nami, Sang Navigator membelalakkan iris karamelnya, "Pe-perubahan cuaca apa ini?! Kenapa lubang hitam bisa muncul di langit? Kenapa baru sekarang terja-"
CTASSS- DUARRR!
"KYAHH!"
WUSHH~
Luffy dan yang lainnya berjengit. Menutup mata dan telinga dengan panik. Melihat petir tiba-tiba menyambar ke arah lautan dan menimbulkan ledakan raksasa yang jauhnya beberapa ratus meter. Ombak datang, menerjang kapal Thousand Sunny Go dan membuatnya terdorong cukup jauh. Membuat para awak kapal secara refleks mencari pegangan agar tak terlempar keluar dari dek kapal.
"NAMI!" Luffy dengan sigap meraih pinggang Sang Navigator ketika gadis itu hampir terjatuh akibat gelombang yang baru saja terjadi. Melilitnya dan menariknya mendekat ke tubuhnya. Menahan tubuh Si Navigator Cantik agar tak terhempas.
"Semuanya! Kalian tidak apa-apa?!" Teriak Luffy, mengecek keadaan Nakama-nya satu per satu. Semua mengangguk. Kru mugiwara masih utuh. Nami yang berada di sebelahnya menunjuk ke arah langit,
"La-langitnya-"
Perhatian sang Senchou teralihkan,
"Eh? Hilang?"
Langit pekat di atas tiba-tiba saja memudar. Warna yang lebih terang perlahan menggusur kegelapan yang ada. Kemudian menghilang, langit kebiruan dengan semburat putih cantik kembali muncul disertai matahari yang menyorot dengan terik.
Chopper yang berada di gendongan Robin tampak masih ketakutan,
"Ku-kupikir bakal ada badai..."
"Nami-" Robin, Arkeolong Kru Mugiwara beralih pada sang Navigator yang masih didekap sang Kapten, "Apa yang baru saja terjadi sebenarnya?"
Nami menggeleng, "Tidak tahu. . . Tak ada tanda-tanda perubahan suhu, udara, gelombang, bahkan laju angin. Ini terlalu mendadak. Tak seperti biasanya..."
Orang-orang yang turut mendengar pun seketika tertegun.
"Sangat jarang Nami-swan salah prediksi atau tak menyadari perubahan cuaca seperti ini." Ujar Sanji.
"Walau begitu, kita berada di Greenland, Dunia Baru. Hal seperti ini bukan hanya pertama kalinya terjadi kupikir." Brook menimpali. Saling pandang dengan Sanji.
"Walau begitu-"
"Oiii Minna! Kalian baik-baik saja?!"
Sosok Manusia setengah robot- Cybrog Franky sebut saja- muncul tiba-tiba dari dalam. Badannya yang besar tampak mencolok sekali sehingga tanpa menoleh sepenuhnya pun semua kru dapat melihat sosoknya yang nyentrik itu.
"Woi Franky! Dari mana saja kau?! Apa kau tidak tahu barusan kita hampir kena masalah?!" Celetuk Nami, mengutarkan pertanyaan sama yang ada di benak nakama lainnya. Franky dengan model rambut kepang dua menunjuk ke dalam ruang kendali,
"Aku baru saja mengisi cola untuk perisipan jika saja kita perlu melarikan diri dari cuaca seperti barusan. Tapi badainya keburu hilang." Balasnya. Sang Cybrog tiba-tiba teringat sesuatu dan kembali panik, "Kesampingkan dulu hal itu! Barusan dari teropong ruang kendali aku melihat ada seseorang yang tenggelam di sisi Utara!"
Tanpa bertanya lebih lanjut, Luffy dan teman-temannya segera bergegas mendekat ke sisi dek kapal di mana Franky berada kemudian menatap ke arah lautan luas yang ditunjuk sang Cybrog. Mata menyipit, masing-masing menajamkan indera penglihatan. Usopp meraih teropong yang tergantung di lehernya,
"Whoaa benar! Ada seseorang yang tenggelam!"
"Kemarikan!" Nami tiba-tiba merebut teropong dari si pemilik, membuat si empu nya berjengit karena sempat tercekik. Gadis cantik penyuka mikan itu tertegun ketika melihat seseorang kelabakan di tengah-tengah lautan.
"Benar! Ada yang tenggelam disana!"
Luffy mengadu kedua tinjunya di depan dada. Wajahnya entah bagaimana telah bersih dari bermacam tinta warna, "Yosh! Kalau begitu kita tolong dia!"
DUAKK!
"ITTEE! NAMI?! APA-APAAN?! KENAPA MEMUKULKU?!" Teriak Luffy tak terima.
"Jangan seenaknya begitu Bodoh! Pikirkan lagi dulu sebelum bertindak! Apa kau tak merasa ada yang aneh?! Barusan petir aneh menyambar dari arah sana! Bagaimana kalau petir itu datang lagi?!
"Tapi dia tenggelam lho! Memangnya kau tidak kasihan?! Dan lagi aku kan kebal serangan petir!"
"Benar juga.. " Gumam Nami, kemudian kembali garang, "Tapi setidaknya jangan membuat keputusan sendirian seenaknya begitu!"
Luffy berkacak pinggang, mulai keras kepala, "Tapi aku kan Kapten!"
Nami juga turut melakukan hal yang sama, membalas Sang Kapten tak kalah keras kepalanya, "Dan aku Navigator sekaligus salah satu dari segelintir orang yang waras disini!"
"Oi Franky, siapkan Mini Merry untuk kami."
"ROGER!"
Nami menoleh cepat, "ZORO?!"
Si pendekar pedang yang telah bersiap dengan ketiga katana nya itu menoleh, "Tak perlu mendebatkan hal yang merepotkan. Luffy sudah berkata ingin menolongnya kan? Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menemani si Baka-Senchou kita. Dan kusarankan kita bergegas. Entah manusia atau bukan, kalaupun ia tak segera tenggelam, Monster laut pasti akan segera datang dan memakannya."
Nami tampak hendak mengatakan sesuatu sebelum akhirnya Sanji menepuk pundaknya, "Tenanglah Nami-swan. Aku akan bersama dua orang idiot itu. Jadi jika ada sebuah kecelakaan, aku akan langsung menyeret mereka kembali ke kapal. Bagaimana?"
Nami menatap Sanji, kemudian Kapten dan Wakil Kapten yang sama-sama bodoh + nekat + BODOH-. Kemudian kepada Nico robin, seakan meminta pendapat.
"Kupikir itu bukan ide yang buruk Nami."
Luffy, Sanji, dan Zoro kemudian bergegas menaiki Mini Merry- perahu kecil berkepala biri-biri yang mampu menampung empat orang dewasa diatasnya.
"Lakukan dengan cepat dan tanpa menimbulkan masalah, oke? Sanji, jangan sampai dua orang bodoh disana mengacau. Dan jangan sampai Aho-senchou kita tenggelam."
"OKEYY NAMI-SWAANNN~~"
"Shishishi tak perlu mengkhawatirkanku Nami!"
"Siapa yang kau panggil bodoh itu?!" Si kepala Marimo tampak tak terima, namun tak banyak membantah karena tak ingin memancing lebih jauh kesabaran Navigator Kapalnya yang terkenal akan kengeriannya ketika marah. Tak ingin berlama-lama dan membiarkan orang diseberang tenggelam, akhirnya tiga orang terkuat di kapal itu segera pergi dari Thousand Sunny Go. Perahu kecil itu melaju cukup cepat mendekati sosok yang tampak berkecipukan di tengah-tengah lautan biru Greenland. Memunculkan kepala lalu tenggelam lagi. Begitu terus.
"Dia benar-benar tenggelam ya?"
"Bisa-bisanya kau menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu." Komentar Sanji.
"Hoii kauuu! Apa kau tidak apa-apa?!" Luffy melambaikan ke arah sosok yang tenggelam, mengabaikan Sanji. Zoro memukulnya dengan sarung pedang, "Mana mungkin dia baik-baik saja kan? Kita harus mempercepat perahu nya sebelum dia benar-benar tenggelam."
Luffy kembali tenang, Sang kenshi berfokus pada sosok yang tenggelam.
"To-uphhh-tolonggh-pwahh-tolongg!-upphh!" Sosok itu berteriak dengan panik ketika melihat perahu yang dinaiki Luffy dan teman-temannya.
"Apa dia pemakan buah Iblis?" Celetuk Zoro. "Kalau begitu akan gawat jika sampai monster laut bermunculan-"
"Zoro! Sanji! Bersiaplah!"
Luffy yang semula duduk kini telah berdiri dan bersiap dengan kuda-kudanya. Dua orang di atas perahu yang juga merupakan pengguna Kenbonshoku no Haki mengerti benar apa maksudnya. Sanji turut berdiri sedangkan Roronoa Zoro bersiap dengan ketiga pedang yang terselip di ikat pinggangnya.
Suara gemuruh terdengar lebih seperti geraman hewan buas. Lautan yang semula mengombak tenang tiba-tiba bergoyang lebih ganas ketika beberapa sosok Monster laut berukuran super duper raksasa muncul di sekeliling mereka. Monster-monster berukuran puluhan kali lebih besar dari pada Kapal Thousand Sunny. Dengan bermacam bentuk aneh dan gigi-gigi runcing, membuat mereka terlihat makin ganas.
Nami dan yang lainnya yang berada di atas kapal bergidik ngeri ketika melihat penampakan empat monster laut itu,
"Sudah kuduga mereka akan muncul!"
Sanji menyalakan rokok dengan korek yang tersimpan di saku celananya, "Berhati-hatilah Luffy, jangan sampai tercebur ke laut dan membuat Nami-swan cemas."
"Tentu saja! Kalian masing-masing tangani satu dari mereka ya! Aku akan menangani dua monster gurita dan ubur-ubur di depanku ini! Lalu sanji, bergegaslah dan tolong orang itu!"
Zoro menarik katana tanpa mengatakan apapun.
Mini going merry telah berhenti, tepat di tengah-tengah kepungan empat monster laut mengerikan. Ketiga orang pengguna Haki itu lantas bergerak ketika keempat monster laut secara serempak menyerang kearah perahu mereka.
"Rasakan ini! Gomu-Gomu no...Jet pistol!"
"Makan tendanganku ini monster jelek!"
"Nitoryuu-"
DUAGGHH!
DUASHH!
ZRASHH!
BYUUURRR~
Keempat monster laut limbung. Monster seperti singa laut yang dihadapi Sanji terpental akibat tendangan Sang Kuroashi. Roronoa Zoro berhasil membelah kepiting Raksasa bercangkang keras. Sedangkan Luffy meninju sekaligus monster Gurita dan Cumi-cumi.
Benar-benar tiada ampun. KO sekali pukul.
Kru Mugiwara memang jauh lebih mengerikan setelah berlatih selama dua tahun.
Akan tetapi masih terlalu cepat untuk merasa senang karena ternyata masih ada satu monster yang muncul secara tiba-tiba. Roronoa Zoro yang pertama kali menyadari adanya bahaya itu dan segera membalikkan tubuhnya,
"Tch!"
Dua orang lainnya tampak terkejut melihat penampakan seekor konster Megalodon yang berukuran sedikit lebih besar dari keempat monster sebelumnya. Muncul tepat di depan mereka bertiga sembari memamerkan gigi-gigi tajamnya.
Tidak. Bukan di depan ketiga bajak laut itu. Melainkan di depan sosok yang hendak diselamatkan oleh Luffy dan teman-temannya. Sosok yang tengah berusaha menyelamatkan diri dari aksi tenggelam itu memekik histeris dan memandang horor Megalodon raksasa yang tengah membuka mulut dipenuhi gigi-gigi tajam mengerikan.
ZRASHH-CRASHH!
"ROAARR!
Megalodon berteriak keras tatkala sebuah tebasan tak kasat mata mengenai tepat ke wajahnya. Menimbulkan luka melintang yang mengeluarkan darah pekat. Guncangan dari tubuh raksasa nya menimbulkan gelombang yang jauh lebih kuat. Luffy secara refleks berpegangan pada perahu, tak ingin tercebur ke dalam laut dan ikutan tenggelam, begitu pula dengan Sanji.
"KYAA-UPPHHhhh..." Sosok yang tenggelam tersapu oleh ombak yang lebih kuat dan membuatnya terdorong kedalam.
"Oi, Dia tengge-"
Roronoa Zoro dengan cepat menyarungkan katana putihnya-Wado Ichimonji dan ikut menceburkan diri ke laut.
"Oi Marimo!" Panggil Sanji, namun Zoro telah menghilang ke dalam laut.
"Kita sedikit lengah sehingga tak menyadari kedatangan satu monster laut lagi." Ujar Sanji sembari menatap di mana Zoro menceburkan diri tadi.
"Yah, yang tadi memang hampir saja. Tapi untung Zoro bisa menyadarinya. Kita tunggu saja sampai dia menyelamatkan orang itu dan membawakan kita daging Megalodon!" Balas Luffy semangat. Sanji menggeleng maklum, melihat tingkah Kaptennya yang seakan tak ada beban begitu,
"Dasar kau ini. Setidaknya khawatirlah sedikit kek..."
...
Manusia mungkin memang makhluk paling sempurna di dunia, namun manusia memiliki banyak batasan. Bahkan sekuat apapun sosok itu, jika sudah berada di dalam air, semua menjadi sangat terbatas.
Roronoa Zoro sadar akan hal itu. Bahkan sebelum ia memutuskan untuk melompat ke dalam lautan yang terkenal ganas dan bercampur dengan monster-monster laut mengerikan.
Ayunan pedang akan menurun berkali-kali lipat. Gerakan kaki akan menjadi jauh lebih tak seimbang, lalu napas yang terbatas membuatnya tak dapat berlama-lama di sana.
Dan sungguh, Zoro sangatlah membenci pertarungan di dalam air seperti ini. Sudah berkali-kali ia harus berhadapan dengan 'monster' yang bahkan menjadi jauh lebih kuat ketika berada di dalam air. Dan Zoro selalu mengalami masalah walaupun akhirnya tetap saja ia selalu bisa mengatasi kekurangannya dan berhasil mengalahkan musuh yang ada.
Semua harus dilakukan secepat mungkin. Jika tidak, bukan hanya ia yang akan kehabisan napas tapi juga sosok yang hendak ditolongnya.
Zoro berenang lebih jauh, lebih dalam sembari mengamati keadaan sekitar. Mengaktifkan 'kenbonshoku no haki' sebagai pendeteksi bahaya paling ampuh untuk sekarang. Percuma jika hanya menggunakan penglihatannya. Di dalam laut semua tampak buram, apa lagi ia hanya bisa melihat menggunakan sebelah matanya saja. Sekaligus haki ini ia gunakan untuk mencari di mana sosok yang tenggelam itu berada. Mata yang hanya berfungsi sebelah itu akhirnya menangkap sesuatu. Sosok dengan surai gelap yang tampak bergerak-gerak lemah di dalam air. Seperti hendak menggapai sesuatu namun tak bisa. Zoro segera berenang mendekati sosok itu, namun sesuatu melesat cepat.
Dengan segera ia menarik salah satu pedangnya, menangkis serangan gigitan Megalodon yang datang tiba-tiba dari arah bawah. Zoro tampak meladeni monster yang hendak menggigitnya itu sebentar sebelum akhirnya monster itu mundur kembali akibat terkena tebasan di bagian mata. Menambah warna pada lautan yang tampak remang-remang.
"Monster menjengkelkan." Keluh Zoro dalam hati. Ia bergegas kembali mendekati sosok yang hendak diselamatkannya ketika seketika iris hitam itu membola.
Megalodon muncul dengan kecepatan luar biasa tepat di bawah sosok itu dan hendak memakannya langsung.
"Bushou kouka--" Kaki dalam lapisan boots hitam dibawah lutut itu berubah menjadi besi dan memberikan dorongan lebih kepada Zoro untuk melesat ke arah sosok yang tenggelam. Salah satu tangan yang tak memegang pedang terulur. Keduanya berpacu dengan waktu, saling berlomba untuk mendapatkan sosok yang bergerak lemah itu dalam dua artian berbeda.
"Masih sempat-"
Namun Roronoa Zoro ternyata jauh lebih cepat dari Monster Megalodon.
Tangan besar yang tak memegang pedang berhasil meraih tubuh itu dan mendekapnya tepat sebelum Megalodon mengatupkan rahang penuh gigi-gigi tajam. Roronoa Zoro mundur, memberi ruang untuknya dan monster laut. Perhatian teralihkan pada sosok dalam dekapan yang berhasil diselamatkan. Mengecek keadaan.
Sepertinya tak ada luka.
Namun Zoro dibuat sedikit keheranan setelahnya,
"Seorang bocah?"
GRAOORR!
Megalodon mengaum kembali. Marah sudah pasti. Setelah tertebas dua tiga kali, kini ia hendak kehilangan mangsa yang sudah ia incar sedari tadi. Roronoa Zoro yang melamun sesaat terdorong dan makin tenggelam ketika Megalodon menerjang ke arahnya dengan kekuatan luar biasa. Seakan luka yang sebelumnya diberikan sang Samurai sama-sekali tak berasa menyakitkan. Namun Zoro masih dapat menahannya dengan Wado Ichimonji yang melintang di depan tubuh.
"Blupphh-" Sosok dalam dekapan bergerak. Menutup mulut yang mulai melepas gelembung-gelembung udara. Zoro sadar,
Dia mulai kehabisan napas.
Dan dirinya juga tak dapat berlama-lama di dalam air lagi.
Menggerakkan lengan kekar, Zoro mendorong Megalodon menjauh, namun Megalodon kembali menyerang dengan lebih beringas. Zoro berusaha menahannya dengan pedang. Gerakan Zoro yang terbatas di dalam air menjadi semakin terbatas karena pasokan udara yang semakin menipis. Di tambah satu tangannya masih mendekap sosok bertubuh mungil. Zoro terdorong ketika Megalodon menyerang dengan siripnya. Membuat sosok sang Kenshi berputar di dalam air. Untunglah ia masih dapat mengambang dengan seimbang tanpa melepas sosok dalam pelukan.
Mata yang hanya terbuka sebelah memicing. Pedang putih disarungkan kembali, kemudian berganti menarik pedang hitam berukir cantik. Pedang yang merupakan salah satu Meito, Shusui. Mimik menjadi lebih serius. Menatap sosok Monster laut yang seakan menantangnya itu dengan tajam. Mungkin karena merasakan keseriusan dari sang Samurai yang mulai melepas aura intimidasi, Megalodon tampak goyah. Mulai merasakan bahwa dirinya lah yang berada dalam bahaya dan menjadi incaran binatang buas.
Aura itu mencekam. Mengerikan. Intimidasi yang berbeda dengan 'Haoshoku no Haki', namun cukup untuk menggetarkan makhluk macam monster laut asin. Dapat ia tebak, monster itu kelabakan namun tak dapat menghindar dari tempatnya.
Tangan kanan yang menggenggam pedang mengerat. Pedang digerakkan, melepas teknik hebat yang sanggup mengguncang lautan,
"DAISEN-SEKAI!"
ZRAAATT!
"GRAOORR!"
ZYUURRRR-
Megalodon berteriak nyaring ketika tubuhnya terbelah sempurna karena tebasan Sang Samurai. Menimbulkan warna merah pekat di lautan yang kemudian memudar karena tercampur dengan air asin. Air laut bergerak tak tenang, menimbulkan goyangan tak beraturan ketika Megalodon tenggelam seperti sandwich daging. Roronoa Zoro menyarungkan kembali pedang Shusui miliknya. Pertarungan telah usai dengan kemenangan mutlak.
"Akhirnya selesai." Batinnya. Gerakan berontak terasa, Zoro menunduk, melihat sosok bertubuh kecil di dekapannya yang mulai meronta-ronta sembari memegangi mulut. Kepanikan tersampai padanya,
"Sial! Bocah ini sudah pada batasnya!"
Tanpa babibu lagi, Roronoa Zoro segera berenang ke atas bersama sosok bertubuh mungil. Akan tetapi gerakan memberontak yang terus saja dilakukan membuat Zoro tak fokus dan kesulitan berenang.
"Uphh! Uphh!" Sosok bertubuh kecil mencengkeram fabrik pakaian hijau Zoro. Memukul pelan dada bidang Sang Kenshi yang tergurat luka tebasan. Seakan mengatakan bahwa ia sudah tak kuat lagi. Zoro yang melihatnya jadi turut gelisah dan kebingungan. Ia mungkin sudah berulang kali menolong Luffy atau pemakan buah iblis lainnya ketika mereka tenggelam. Tapi mereka tak meronta-ronta seperti bocah ini.
Tangan kecil membekap mulut kembali, masih mencoba menahan napas yang tersisa. Zoro melepas pelukannya dan menatap bocah itu,
"Hei! Bertahanlah!" Itu yang berusaha ia katakan seandainya bisa terdengar. Namun suaranya jelas tak akan tersampai. Ia juga tak bisa menggunakan telepati. Ia tatap bocah itu yang masih menampakkan iris gelapnya, berusaha menenangkan,
"Tahan napasmu sampai kita keatas."
Bocah itu seakan mengerti apa yang hendak di katakan Zoro, akan tetapi ia menggeleng lemah. Zoro membelalakkan sebelah matanya ketika si bocah melepas tangan yang menutupi mulutnya,
"Bwaahhkk-"
Zoro terkejut. Si bocah melepas gelembung-gelembung udara terakhir yang dapat ditahannya. Tubuh itu lemas, hampir terbawa tekanan kebawah jika saja Zoro tak segera memegangi kedua lengannya.
"Hei! Kau-"
Namun sosok itu tak bergerak. Menatap Zoro dengan kesadaran terakhirnya sebelum akhirnya menutup kedua matanya. Sang Kenshi mendecak, kebingungan melihat bocah dihadapannya yang telah kehabisan napas.
Kalau sudah begini, hanya ada satu cara-
"Tch! Tak ada pilihan lain!"
Menarik tubuh kecil itu mendekat, Zoro meraih tengkuknya dan mendorong kepala bersurai hitam itu hingga kedua bibir mereka saling bertemu.
...
"Bwahhkk!"
Dua sosok muncul ke permukaan air. Menghirup oksigen rakus demi mengisi kekosongan oksigen dalam paru-paru. Melepas tegang ketika akhirnya dapat bernapas dengan bebas. Luffy yang melihat penampakan kepala hijau di tengah lautan lantas berteriak sembari melambai heboh,
"Oiii Zorooo~ Disiniii~"
Roronoa Zoro membalik tubuh tegapnya ketika Sang Senchou menghampiri bersama Kuroashi no Sanji menggunakan Mini Going Merry. Tangan Luffy terulur, diterima oleh Sang Pendekar pedang yang segera naik ke perahu kecil itu. Perahu bergoyang ketika dirinya telah sampai di atas, membasahi kursi belakang yang sebelumnya menjadi tempat duduknya.
"Tch, inilah kenapa aku benci bertarung di dalam air!" Gerutunya ketika melihat keadaan dirinya yang basah kuyup.
"Daging Megalodonnya mana?" Tanya Luffy. Sedetik setelahnya, sebuah gamparan tepat mengenai kepalanya,
"Kenapa kau malah menanyakan daging Megalodonnya bodoh!" Sembur Sanji.
"Ah, Maaf. Aku lupa mengambilnya sedikit tadi." Timpal Zoro. Sanji menoleh cepat kearahnya, "Kenapa kau malah ikutan menanggapinya juga?!" Kesalnya. Tak habis pikir dengan pemikiran dua orang pemuda yang jauh dari kata 'waras' dan 'normal'.
Yah. Normal tak ada di kamus Kru Mugiwara kan?
Mengabaikan sejenak ketololan dua orang tadi, Sang Kuroashi beralih pada sosok bertubuh kecil yang berada dalam dekapan Si Pendekar pedang.
"Oi marimo, bagaimana keadaannya?" Tanya Sanji.
"Dia pingsan." Jawab Zoro kemudian merenggangkan pelukannya. Mendudukkan si bocah di sebelahnya dan membiarkan sosok itu menyandar pada lengan kekarnya. Sanji yang penasaran menyingkap helaian gelap gadis kecil di lengan Roronoa Zoro, dan seketika ia memekik,
"Ohhh! Meroline~ gadis kecil yang kasihan sekaliii!" Pekiknya heboh. Melihat sosok gadis kecil yang berada di lengan kekar Sang Pendekar Pedang. Luffy juga turut memekik,
"Eh?! Dia anak perempuan?!"
"Ya. Begitula-"
DEG!
Kalimat tertahan di tenggorokan. Napas tercekat sesaat. Mata yang hanya dapat terbuka sebelah membola sempurna. Menatap sosok gadis kecil berambut hitam dengan pakaian basah di sebelahnya seakan melihat hantu.
Ya. Hantu bagi dirinya yang tiba-tiba merindu. Seketika ingatan itu memenuhi kepalanya. Mengenang, terkenang, terbayang. Syok tampak di wajah dengan bekas luka di mata kiri itu, seakan melihat penampakan yang sanggup menghantam benaknya dengan kenyataan tak masuk akal.
Bibir bergetar terlihat jelas. Luffy dan Sanji dibuat keheranan dengan bungkamnya sang Kenshi pengguna tiga pedang.
"Zoro?"
"Oi, Marimo?"
Tangan besar bergerak perlahan, tampak ragu, takut, namun penuh penasaran. Menyentuh wajah gadis kecil di sampingnya yang masih tak sadarkan diri dan membuat kepala lemah berhadapan dengannya.
Roronoa Zoro bagai dipukul menggunakan Haoshoku no Haki level atas.
"Tidak mungkin..."
"Oi Zoro, ada apa?" Tanya Luffy yan mulai mencemaskan sosok Pendekar pedang itu.
Bibir berusaha dibungkam. Rasa sesak mencekik leher hingga membuat dada sesak. Berusaha kuat ia tahan rasa syok yang menghantam, namun nama itu berhasil lolos dari celah bibirnya.
Nama yang sudah lama tak ia sebutkan.
"... Kuina...?"
[BERSAMBUNG]
