"... Kenapa aku dari sekian banyak orang?
"Bukan hal khusus. Tapi aku yakin kau bisa melakukannya."
"... Lalu apa yang harus ku lakukan?"
"... Kau pasti akan menemukan jawabannya 'disana'. Ingatlah-"
"..."
...
[CHAPTER 2]
"...Ingat...?"
Dunia gelap luntur, suara sebelumnya menghilang. Samar-samar warna lain muncul ketika aku membuka mata. Sedikit berat terasa karena masih berada dalam mode 'belum sadar'. Mengerjap dua kali, namun kepala yang terasa berat membuat enggan untuk membuka mata.
'Ah, sudahlah. Mending tidur lagi aja.' Batinku. Kemudian memejamkan mata kembali.
Krieett~ Krieettt~
DHUAR! DHUAR! DHUARR!
"..."
Ini hanya perasaanku saja atau memang sejak tadi kasurku goyang-goyang? Lalu suara berisik apa yang sebenarnya kudengar sedari tadi? Kenapa dimana-mana terdengar suara ledakan seperti orang bermain kembang api?
Rasanya percuma memejamkan mata jika sudah begini. Suara berisik dan goyangan yang sejak tadi kurasakan membuatku merasa tak nyaman. Jadi aku memutuskan untuk membuka mata dan mengembalikan seluruh kesadaranku sepenuhnya.
Hal pertama yang dapat ku lihat adalah atap. Langit-langit berwarna coklat dan seperti terlapis kayu. Ku dudukkan diriku di atas ranjang berspray putih.
Hm... Aku nggak ingat sempat mengganti spray tempat tidur. Atau Nenekku yang menggantinya ya? Sejak kapan juga kasurku jadi bersih, rapih, terawat pasti begini?
"Eh? Bajuku?" Heranku ketika melihat bahwa tubuhku kini terbalut oleh kemeja putih kebesaran yang menjulang hampir setengah paha. Lengannya bahkan menutupi tanganku sepenuhnya. Dan bau pewangi atau parfum beraroma jeruk yang menempel di kemeja membuatku makin sibuk bertanya-tanya.
Ini kemeja siapa?
DHUARR!
"HIEE?!" Pekikku refleks. Kaget sekaligus takut dengan suara ledakan keras yang terdengar barusan. Suaranya dari luar. Aku jatuh menggelinding dari ranjang hingga membentur lantai ketika goyangan kuat menerpa. Duniaku bagai miring tiba-tiba. Hampir saja aku masuk ke kolong ranjang jika saja tak berpegangan dengan kuat pada meja kecil di dekatku.
Kepala mendadak pening. Isi perut melilit seperti di mix. Rasa mual naik ke ulu hati seperti ingin memuntahkan semua isinya. Ku tutup mulutku dengan sebelah tangan yang tak berpegangan.
"Duh... Sebenernya ada apa sih? Kenapa dari tadi gempa begini? Terus kenapa juga semuanya jadi miring? Kemana semua orang?" Gumamku.
Lalu... Ini bukanlah kamarku!
Aku baru saja menyadari bahwa aku tak berada di kamarku. Sudah jelas karena ruangan ini sangat jauh berbeda dengan kamar ataupun ruangan yang sering kujumpai. Dengan lantai dan atap berbahan dasar kayu, lalu segala macam peralatan dan perlengkapan seperti untuk melakukan penelitian kimia. Juga kursi putar di depan meja. Semua itu menunjukkan bahwa ruangan ini memamg bukan 'milikku.'
"Astaga... Ada di mana aku sebenarnya?" Tanyaku sendiri. Mulai waswas melihat suasana asing di sekitar. Di tambah background goyang-goyang bikin mual dan suara decitan, ledakan-ledakan beruntun, juga suara-suara berdesing sedari tadi membuat rasa penasaranku tergelitik.
Namun aku takut. Bahkan untuk melangkah dari tempatku rasanya begitu berat. Aku tahu kalau aku terlalu berpikir parno, tapi sedari tadi semuanya terasa sangaaaaattt aneh dan bahkan... Ngeri.
Apakah... Benar..?
Menatap pintu kayu yang berada di sisi seberang, aku meneguk ludah.
Aku harus mencoba melihat keluar...
Memantapkan hati, akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dan berjalan pelan mendekati pintu kayu di depan. Berhati-hati agar tak hilang keseimbangan karena goyangan yang masih tetap ada. Gagang pintu kuraih, namun tak juga ku tarik. Sejenak ku tempelkan daun telingaku pada pintu kayu.
Aku mendengar banyak suara. Ledakan dan decitan yang sama. Namun kali ini terdengar lebih jelas. Ditambah aku juga mendengar suara beberapa orang yang berteriak-teriak dengan begitu berisik, juga desingan benda yang saling beradu.
Apa demo RUUKUHP disambung lagi?
Oke. Itu jelas enggak. Demo udah dari tahun lalu mana mungkin baru disambung hari ini kan? Lagian sedang musim covid begini yakali mau demo? Tapi benakku tergelitik sedari tadi. Menatap pintu dengan rasa ragu pasti. Namun jika tetap berdiam diri, aku tak akan tahu ada di mana sebenarnya.
Mengesampingkan segala keanehan dan takut yang ada, aku memantapkan hati. Menarik gagang dan membuka pintu berbahan dasar kayu di depan mata. Hingga akhirnya aku melihat semuanya-
DHUARR!
ZING! TZING! CRASHH!
DUAKHH! DUAKHH! KBOOMM!
DHUARR! BLAMMM!
Angin kuat menerpa, membuat pakaian kedodoran bergerak liar. Aku terpaku terperangah- melongo lebih tepatnya melihat pemandangan 'Tak Masuk Akal', yang terjadi di depan mata.
Laut. Aku melihat Lautan. Membentang luas hingga ke ujung garis pandang. Bersatu dengan langit berwarna kelabu yang memunculkan rintik hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Aku baru sadar bahwa aku sedang berada di sebuah kapal. Kapal besar yang mengapung dan bergoyang kesana kemari tak tenang akibat gelombang yang tak tentu arah. Membuatku sedikit kesulitan berpijak dan menjaga keseimbangan hingga akhirnya memilih berpegangan pada pagar putih pembatas.
"A-apa-apaan ini?!"
Aku benar-benar tak paham dengan situasi saat ini dan memilih berjalan perlahan mengikuti pagar kayu putih yang membatasi tubuh kapal dengan laut. Berhati-hati agar tak melompat keliar dari pembatas dan berakhir tercebur ke laut lepas. Jantung berdebar tak karuan. Dan aku benar-benar dibuat terpaku setelahnya.
Bukan karena kapal-kapal yang mengepung, atau meriam-meriam yang berarak terlontar sehingga aku terperangah, tercekat, tak percaya selayaknya orang bodoh seperti sekarang ini. Melainkan penampakan beberapa sosok yang 'sangat kukenali' yang tertangkap oleh penglihatan. Di tengah-tengah cuaca kelabu nyaris badai, di antara kebisingan akibat 'pertempuran' yang tengah terjadi, dalam gempuran dan bombardir tiada henti-
"IKEHH! IKEEEHHH MINNAAAA! LINDUNGI SUNNY GO! SHISHISHISHI~"
"Woii Luffy! Jangan melar sembarangan, Kono-Aho! Bagaimana kalau aku salah bidik?!"
"Whoaa Usopp! Di depan! Di depan! Mereka semakin banyakk!"
"Hei, Kuso-Marimo! Atasi serangan yang mengarah keatas!"
"Sien Fleur~ Gigant's Mand~"
"Yohohoho, kalau sampai kena meriam, kita semua bisa mati~ Walaupun aku sudah mati sih, Yohohohoho~"
"MINNA! TETAPLAH FOKUS! Jangan sampai Sunny terkena serangan Angkatan Laut! Usopp, Chopper, cepat bidik Kapal mereka! Sanji-kun, awasi bagian belakang! Luffy, jangan bermain-main hei! Kita sedang dihujani meriam, Aho! Franky, bagaimana persiapan Coup de Burst nya?! Dan Brook, JANGAN MENCARI KESEMPATAN MENGINTIP ROBIN DASAR TENGKORAK MESUM!"
Aku benar-benar melongo. Seakan rahangku terjatuh melorot.
Mimpi.
Aku pasti sedang bermimpi atau ngehalu. Atau mungkin ini efek terlalu sering fangirlingan sama husbu 2D dan nontonin anime? Atau kini isi kepalaku hanya tentang manusia-manusia 2D ini?
Karena kini yang ku lihat adalah penampakan dari TOKOH-TOKOH DALAM KOMIK DAN ANIME! Dan parahnya, mereka adalah KRU BAJAK LAUR TOPI JERAMI! Bajak Laut terkenal yang mejadi sorotan pada Anime dan Komik yang sangat terkenal di seluruh dunia,
ONE PIECE!
Dan kalau memang benar, kapal yang kunaiki saat ini tentulah THOUSAND SUNNY GO! Yang dimana posisinya saat ini tengah dikepung dan digempur habis-habisan oleh lima kapal Angkatan Laut! Lihat saja meriam yang terus meluncur dari lima kapal berukuran sepuluh kali lebih besar dari Sunny itu! Tanpa ampun menembaki Kapal Bajak Laut ini! Membuat kapal terus bergoyang tiada henti, apa lagi di tengah-tengah cuaca mendung berangin yang seperti akan memunculkan badai.
Dan semua Kru Mugiwara yang dapat ku lihat tengah sibuk meladeni perlawanan Angkatan Laut. Di depan sana, di atas kepala Sunny Go, aku melihat sosok Sang Kapten Mugiwara no Luffy. Tubuhnya yang seperti karet itu melar dan mengembang sehingga meriam-meriam yang semula mengarah ke kapal kembali lagi ke asal. Di dekatnya, di dalam kepala singa, dua sosok-satu manusia hidung panjang dan satu lagi rusa kutub berhidung biru- tampak asik membidik menggunakan meriam kendali. Sosok gadis cantik berambut oranye mengombak sibuk memberikan arahan, sesekali memarahi teman-temannya. Sosok perempuan lain juga ada di sana, membantu menangani serangan meriam dari samping kiri. Di dekatnya tampak tengkorak setinggi dua setengah meter yang membelah benda-benda bulat berterbangan seakan-akan tengah membelah roti. Dari arah belakang aku juga mendengar suara-suara tendangan.
Terdiam di tempat. Mematung.
Oi oi oi... Maji ka yo-
INI SERIUSAN MIMPI KAN?! YAKALI AKU ADA DI DUNIA ONE PIECE DAN BERTEMU LUFFY JUGA NAKAMA LAINNYA?! Ditambah PERTEMPURAN INI JUGA KENAPA TERASA NYATA SEKALI-
BLAARR!
"HIEEHHH?!" Aku memekik. Dua meriam baru saja melayang dan tepat mengenai badan Kapal. Kapal bergoyang lebih kuat, membuatnya oleng ke samping. Karena tak siap dengan posisiku, peganganku terlepas dan aku ikut melorot. Mataku melotot tatkala melihat tepi dek di depan mata ketika limbung ke arah luar-
"HEY-"
GREPP!
Namun tubuhku tak jadi terlempar keluar. Seseorang mencengkeram lenganku dengan kuat. Menahanku, menarikku dari posisi berbahaya. Seketika mataku membola sempurna ketika melihat sosok yang menolongku ini,
"Kenapa kau bisa ada di sini? Berbahaya bodoh!" Sosok itu bertanya. Ada sedikit rasa jengkel yang dapat ku tangkap dari kalimatnya. Dab aku seperti dilanda serangan jantung mendadak.
Ro-Roronoa-
SET-
"Eh-" Jantungku seakan mencelos dari tempatnya saat ia menarikku hingga menabrak tubuhnya yang jauh lebih besar. Kurasakan sebuah tangan melingkar di bahuku yang kecil dan membuatku tertahan pada tubuh kekar berotot itu.
ZRAT! ZRAT!
BLAR! BLARR! Suara ledakan keras terdengar amat dekat. Aku menahan pekikan.
Barusan ia menebas dua meriam yang mengarah pada kami dengan katana hitamnya.
"Tch, jangan bergerak dari tempatmu atau kau bisa terlempar seperti tadi." Suara berat itu menegurku, membuat tubuhku sesaat tersentak. Menahan gejolak dalam dada yang sudah tak karuan, aku mengangguk-angguk kaku. Mencengkeram serat pakaiannya dan tanpa bisa dihindari memeluk tubuhnya. Kulihat tangannya bergerak meraih dua katana lainnya-Wado Ichimonji dan Sandai Kitetsu yakinku. Menggigitnya, lalu menggenggam yang lainnya.
Kuda-kuda dipasang, aura dingin terasa meremangkan kulit. Bibir ku gigit, menahan rasa gemetar akibat tekanan yang ia keluarkan. Pedang diarahkan, tampak siap menebas kembali,
Oi oi oi... Ma-maji? Dia bakal ngeluarin salah satu jurusnya?!
"Oi Luffy, turun dari sana!" Teriaknya pada seseorang.
"OKE!" Timpal suara yang lebih cempreng
"Dari sembilan gunung dan delapan samudra, tak ada yang tak bisa kupotong-"
Kuda-kuda direndahkan. Aku dapat merasakan genggaman tangannya pada pedang juga turut menguat. Angin tiba-tiba berhembus lebih kuat dan seakan berputar-putar di sekitar kami.
"DAITETSU GIRI!"
ZRAATT! ZRAATTT!
Aku tak tahu seperti apa jurus yang ia keluarkan, namun di detik berikutnya aku dapat mendengar suara pekikan berjamaah. Diikuti bunyi sesuatu yang seberti rubuh dan bergemuruh. Melirik sedikit, mataku seperti nyaris melompat.
Tiang tiga kapal angkatan laut terpotong dan roboh menghantam dek. Menimbulkan kerusakan yang fatal hingga hampir menenggelamkan kapal. Secara otomatis mereka berhenti menembaki karena lebih fokus mempertahankan kapal yang nyaris tenggelam.
"OI MINNA BERPEGANGANLAH ! KITA AKAN MELUNCUR!" Seseorang berteriak dari dalam. Ku rasakan kapal bergoncang tak tenang diikutin suara gemuruh aneh. Semua orang segera bersiap di tempat dan mencari pegangan. Aku dan lelaki di dekatku sedikit terlambat menyadari ketika tiba-tiba Kapal kembali 'BERGERAK'
"COUP DE BURST!"
BLAAARR!
"HYAHH!"
"Ekkhh!"
DUAK!
Aku jatuh terduduk bersama sosok itu ketika Kapal meluncur dengan kecepatan super. Memejamkan mata, kurasakan tubuhku seperti terhimpit! Jika saja tak ada tangan yang memegangiku dengan erat, mungkin aku sudah turut membentur dinding atau paling tidak melayang terbawa angin. Karena takut dan terkejut dengan kemampuan sebenarnya dari "Coup de Burst", aku memejamkan mata dan menyurukkan kepalaku dalam-dalam. Berpegangan lebih kuat agar tak terlempar atau terhempas. Jantungku berdebar cepat tak karuan seakan sedang menaiki roller coster ekstream.
Goncangan kembali terasa, menghentak secara kuat beberapa kali. Isi perutku bagai ikut tergoncang juga, membuat rasa mual dan pening bertambah makin kuat. Bunyi benturan kapal dengan permukaan laut terdengar bagai seluncuran.
"Oi minna, kalian baik-baik saja?!"
Suara orang sebelumnya kembali terdengar dengan keras. Diikuti pekikan kesenangan cempreng dan beberapa protes tak terdefinisi lain. Perlahan aku turut membuka mataku.
Yang ku lihat adalah jahitan. Sebuah bekas luka yang di jahit lebih tepatnya, namun tampaknya bukanlah luka baru. Aku berkedip beberapa kali, sedikit mengernyit karena pening namun belum menyadari 'apa yang sebenarnya terjadi.'
Kusadari sebuah tangan berat yang melingkar di bahuku merenggang diikuti desisan kecil yang terdengar teramat dekat denganku
"Hei, kita sudah mendarat."
DEG!
Jantungku kembali terasa ingin melompat dari tempatnya ketika aku mengangkat kepala dan bertemu pandang dengannya.
Sosoknya. Sosok yang paling bisa membuatku terkena penyakit 'teriak' mendadak disetiap 'kemunculannya.' Rambut cepak hijaunya yang tampak kaku namun teratur, Tiga buah anting yang terpasang di satu sisi telinga, juga bekas luka di mata kirinya itu sudah cukup membuatku bisa MENGENALI sosok di hadapanku ini.
Aku masih menatapnya. Tak percaya dengan wajah yang terpampang di depanku. Begitu... Mirip. Tapi apakah benar? Tubuh hangat yang kusentuh ini, juga dada bidangnya yang menjadi tempatku 'nyusruk' secara tak sengaja. Atau tangan yang masih melingkar di bahuku sehingga membuat kami berdua berada begitu dekat-
Hyunggg-
Aku mengernyit, pandangan tiba-tiba putih. Kepalaku terlalu sakit hingga ke sekujur tubuh. Panas terasa menyiksa, seakan membuat isi perut makin bergejolak. Kudengar suara beberapa orang seperti mendekat dan berkerubung di dekat kami, namun hal itu justru membuatku makin merasa 'tak enak badan'.
Ku dorong sedikit tubuhku menjauh darinya. Namun kedua tanganku terasa lemas dan tubuhku seperti beban yang berkali lipat. Napas sesak, mual terasa makin menjadi.
"Hei-"
"Ma-maaf... Tolong... Menyingkir dariku..."
Pandangan berkabut. Gejolak di dalam perut makin tak tertahan. Lidah mengecap rasa pahit yang paling kubenci hingga akhirnya-
"HOEKKK-"
Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu karena pandanganku memburam...
...
[Normal Version]
"Hoekkkkhh!"
"Hekk?!"
Roronoa Zoro terkejut. Gadis yang berada di hadapannya tiba-tiba memuntahkan semua isi perutnya. Entah harus merasa beruntung atau tidak karena ia tak turut terkena muntahan. Namun tak dapat dipungkiri dirinya benar-benar nyaris 'DIMUNTAHI!'
"O-oi kau-"
"Hoekkhh!"
Zoro mengernyit. Jijik sudah pasti, namun rasa khawatir lebih mendominasi. Apa lagi ketika melihat gadis itu masih terus memuntahkan isi perut dengan tak biasa, lebih tampak seperti kesakitan,
"Oi Zoro, ada apa?" Mugiwara No Luffy, Sang Kapten tiba-tiba telah mejeng di pagar putih di hadapannya, diikuti oleh Kru lainnya yang berlari menaiki tangga.
"Marimo, kupikir kau- ehh?! Sejak kapan gadis kecil itu disana?! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA KUSO-MARIMO?!"
Perempat siku muncul di kening Zoro, "URUSE ERO-COOK! Apa kau tidak melihat bahwa aku berusaha menolongnya?!"
Sanji melongo, semua Kru terdiam. Menatap Roronoa Zoro yang sedang terduduk memegangi gadis kecil berambut hitam yang tengah muntah di sampingnya
"A-apa yang terjadi padanya?!" Nami bertanya dengan gagap. Mensejajarkan tingginya dengan dua orang yang terduduk itu,
"Aku juga tak tahu! Dia tiba-tiba muntah sampai seperti ini!" Timpal Zoro.
"Gawat! Teman-teman, tolong beri dia ruang untuk bernapas! Aku akan mengeceknya!" Sang Dokter rusa, Tony Tony Chopper segera melompat dan mendekati si gadis kecil. Gadis itu tampak makin pucat dan hampir rubuh setelah mengeluarkan suara muntahan yang terdengar amat menyakitkan. Untunglah Zoro sudah tidak terlalu jijik dan cukup berbaik hati memegangi gadis itu dan menjadikan bahu lebarnya sebagai tempat sandaran.
Oke. Abaikan liur yang menempel di baju kesayangannya. Disikat sedikit pasti hilang.
"Zoro, tetap pegangi dia!" Titah Sang Dokter kapal yang segera mengeluarkan peralatan medis dari tas biru kecil. Zoro tak berkomentar dan memperhatikan si rusa kutub ketika memeriksa gadis yang bersandar padanya. Nakama lain yang semula berkerubut juga menarik diri, memberi ruang seperti yang diperintahkan Chopper-dan untuk kali ini Nami harus memegangi kepala Senchou nya yang benar-benar kepo karena ingin mendekat.
Zoro dapat mendengar tarikan napas gadis itu yang terputus-putus, atau merasakan suhu yang lebih hangat mengarah ke panas dari tubuh kecil yang didekapnya itu. Wajah memucat dan keringat dingin tampak bercucuran dari dahinya. Remasan pada serat pakaiannya melemah. Rambut lepek menggelitik leher,
Gadis ini jelas tak baik-baik saja.
"Dia mengalami demam dan dehidrasi, ditambah sepertinya dia juga mabuk laut. Goncangan yang terjadi sedari tadi pasti membuat tubuhnya kaget." Terang Chopper.
"Ini gara-gara kau tak memberi kami perisiapan untuk Coup de Burst, Franky!" Sembur si hidung panjang Usopp, menyikut Cybrog berambut mohawk di dekatnya.
"Hah? Tapi tadi itu supeeerrr gawat! Kalau tidak segera kabur, Sunny Go bisa rusak!"
"Teman-teman tolong tenanglah sedikit. Chopper jadi tidak konsentrasi untuk memeriksanya lho!" Sembur nami, membuat yang lainnya secara otomatis bungkam karena tak mau kena bogem mentah.
"Kalian tak perlu khawatir." Chopper sedikit menarik diri, "Ini reaksi yang wajar untuk orang mabuk laut, di tambah dia juga agak demam. Untunglah dia tak mengalami kejang. Dengan obat anti mabuk dan penurun panas dia pasti akan sembuh."
Mendengar penjelasan Chopper, Anggota Bajak Laut Mugiwara menjadi lebih tenang. Namun tak dapat dipungkiri jika mereka masih merasa sedikit khawatir. Melihat sosok gadis berambut hitam dengan kemeja kebesaran yang tampak tak berdaya di bahu Sang Pendekar Pedang membuat mereka merasa iba.
Sanji memantik rokoknya, "Kalau begitu biar kumasakkan air hangat untuk kompres." Ujarnya. Chopper mengangguk,
"Hai', arigatou Sanji."
"Aku dan Nami akan mencarikan pakaian baru yang sekiranya cocok untuk anak itu." Nico Robin yang sejak tadi diam ikut berinisiatif. Chopper kembali mengangguk, "Yap! Tolong bawakan selimut tebal juga ya Robin!"
"Kalau begitu aku akan mengecek keadaan Sunny jika saja ada kerusakan fatal yang terjadi." Franky dengan gaya rambut mohawk dan dalaman biru itu lantas pergi setelah berteriak 'SUPER' dan segera meninggalkan teman-temannya.
Kini Usopp, Luffy, dan Brook saling pandang.
"A-anu ngomong-ngomong siapa yang akan membereskan kekacauan di sini...?" Tanya Soul King, Brook. Memperhatikan sekelilingnya dan halaman dek berumput hijau yang sudah berserakan dengan bekas-bekas pertempuran sebelumnya. Nami menaikkan sebelah alisnya,
"Tentu saja kalian bertiga yang membereskannya kan?"
Brook jawdrop, Usopp ikutan Jawdrop, sedangkan Sang Kapten merengut. Menyerukan penolakan atas titah Sang Navigator Kapal, "Kok kami?!"
Berkacak pinggang, gadis berambut oranye dengan bounty 16 juta belly itu menatap ketiga Nakama nya dan bicara dengan penuh penekanan,
"Lakukan. Saja. Mengerti."
Tak ada yang menolak lagi. Jika Navigator cantik namun sadis itu sudah berkata seperti itu, bahkan sang Kapten memilih bersimpuh dan berkata, "Hai'..." dengan lemas.
"Dan Luffy-" Nami memberikan tambahan khusus pada Sang Kapten, "Jangan membuat kegaduhan, mengerti?"
Mungkin karena titah dari calon ratu-uhuk- bajak lautnya- uhuk- Luffy mengangguk-angguk. Cemberut sebenarnya tapi itu lebih baik dari pada Sang Senchou teriak-teriak nggak jelas seperti biasanya.
Yah... Tapi entah nanti bagaimana.
Chopper yang melihat teman-temannya telah bergerak membantu akhirnya ikut bergerak. Menatap Sang Pendekar Pedang dihadapannya dan gadis kecil yang bersandar pada bahu Sang Kenshi, "Zoro, bisa tolong bawa dia ke ruang perawatan?"
Zoro mengangguk tanpa berkata apapun. Sang Pendekar pedang lantas berdiri setelah membenarkan posisi pedangnya. Gadis bertubuh kecil ia gendong di depan tubuh dengan gerakan lembut, takut membuatnya terguncang dan memuntahkan isi perut kembali. Kaki dalam balutan boots hitam bergerak mengikuti Rusa Kutub ke ruang perawatan.
Iris gelap melirik sosok dalam gendongan yang memejamkan mata. Tampak kacau, pucat, dan tak berdaya. Napas hangat yang sejak tadi menggelitik kulit membuatnya bungkam dengan segala pikiran yang terus membayang.
Ada rasa takut, namun juga sedikit kiasan senang yang sejak kemarin memenuhi relung dadanya.
Mengeratkan gendongan, membiarkan kepala hitam terkulai dan menyandar penuh pada dadanya. Roronoa Zoro berbisik sarat harapan,
"Ku harap kau baik-baik saja..."
...
